• SKACI

    Sekolah Komputer Anak Cinta Indonesia

    Bermain adalah hak anak. Membuatnya hebat dan berprestasi adalah kewajiban orangtua. Membimbing anak bermain agar jadi jago IT/Komputer adalah tugas kami

    Buton

  • Fahma-Hania

    Karya-karya Fahma-Hania

    Aplikasi-aplikasi buatan Fahma-Hania


    Buton

  • SiGokil

    Capture beautiful moments, interesting sights, something weird, accidents, crimes, or just yourself and share from your exact position. Sell or find stuff near you, and bid or offer using this app. Track your children, spouse, even your vehicles

    Buton

  • SiGokil Solutions

    Give implementable mobile solutions to accommodate the needs of mobile reporting, mobile surveying, mobile monitoring, mobile tracking, and back-end analyzing, to improve efficiency and effectiveness

    Buton

  • ACI Corporation

    Attentive Creations International is a mobile and web applications developer. We develop perfection in all applications we built. We have been the biggest part of industries solutions.

    Buton

0
Des28

Ulangan sejarah… ulangan geografi… “Buat apa sih aku harus belajar sejarah atau geografi?” itulah  pertanyaan yang sering dilontarkan anak remaja setiapkali diminta untuk belajar dan menghafal.

 

Memang, terkadang orangtua juga suka kebingungan ketika harus menjawab pertanyaan seperti itu. Seringkali para orangtua menjawabnya bahwa belajar dan menghafal itu adalah untuk membuatnya menjadi orang sukses di masa depan. Jawaban seperti itu tentu tidak mudah untuk difahami oleh anak remaja.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

 

Motivasi belajar anak remaja seringkali menurun, apalagi ditambah dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada dirinya. Ia sering menyimpulkan bahwa belajar dan menghafal suatu mata pelajaran adalah hanya untuk mendapatkan nilai atau tanda lulus. Dalam kondisi seperti ini, peran orangtua untuk meningkatkan motivasi belajar anak adalah sangat penting. Merangsang motivasi belajar anak dari dalam dirinya lebih baik daripada hanya menyuruhnya supaya ia rajin belajar.

 

Adalah penting menerapkan prinsip AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) pada anak (Bobbi:2011) ketika akan mengerjakan sesuatu. Dengan prinsip tersebut ia akan faham dan semakin terpacu untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Ia akan tahu manfaat apa saja yang akan ia peroleh dan rasakan ketika ia belajar dengan sungguh-sungguh.

 

Untuk memotivasi semangat belajarnya, ingatkan kembali kepadanya bagaimana perasaannya ketika ia mendapatkan sebuah prestasi dalam hidup. Kita percaya bahwa setiap orang pasti pernah mencapai sebuah prestasi dalam hidupnya dan kejadian tersebut tentu sangat membahagiakan dirinya. Misalnya, anak merasa bahagia ketika ia dapat membeli sepeda dari hasil menanbung selama tiga bulan, bahagia karena mendapat juara satu di kelas atau merasa bahagia karena mendapat juara lomba bulu tangkis.

 

Perasaan bahagia biasanya akan tersimpan baik dalam ingatan seseorang, oleh karena itu ajaklah dan pengaruhilah anak supaya ia mampu mendapatkan lagi kebahagiaan tersebut. Dengan memberikan motivasi, mengajak anak untuk dapat mencapai sebuah prestasi dapat membuat anak lebih bersemangat lagi dalam belajar. Kita percaya bahwa setiap orang pasti ingin kebahagiaan yang pernah diraskannya dapat terulang kembali dalam hidupnya.

 

Contoh: Ketika orangtua ingin memotivasi anak supaya mau belajar, mintalah ia untuk selalu belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga suatu saat nanti ia dapat diterima di sekolah yang terbaik sesuai dengan yang diinginkannya. Terangkan juga padanya bahwa peluang sukses dari sekolah yang terbaik akan lebih banyak dibandingkan dari sekolah lainnya. Aajaklah anak untuk merasakan betapa bahagianya jika ia dapat diterima di sekolah favoritnya tersebut. (yer)

continue
0
Des27

Khawatir…., banyak orangtua merasa khawatir secara berlebihan terhadap anak. Rasa sayang dan cinta orangtua terhadap anak seringkali membuat mereka merasa khawatir, terlebih ketika sang buah hatinya sedang tidak berada di dekatnya, misalnya pada saat sang buah hati sedang pergi main dengan teman-temannya atau sedang mengikuti acara bermalam di sekolah. Orangtua merasa khawatir sesuatu terjadi padanya sehingga membuatnya sedih, luka, sakit atau kecewa.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Banyak sekali hal yang sering membuat orangtua merasa khawatir, beberapa diantaranya adalah khawatir anaknya tidak lulus ujian, khawatir anaknya sulit mendapatkan pekerjaan, khawatir anaknya ada yang menyakiti, khawatir memikirkan masa depan anak, khawatir anak kekurangan uang jajan, khawatir anak tidak mempunyai teman bermain di sekolah dan bahkan ada juga orangtua yang selalu merasa khawatir bila cuaca di luar sedang hujan lebat, mereka khawatir anaknya kehujanan.

 

Kondisi di atas sangat berbeda jika dibandingkan dengan perasaan orangtua zaman dulu. Umumnya para orangtua zaman dulu merasa khawatir terhadap kelangsungan hidup anaknya. Apakah anak mereka mampu bertahan hidup atau tidak, bukan cemas karena takut anak tidak memiliki teman, khawatir anak kehujanan atau khwatir bila sudah besar nanti anaknya sulit mendapatkan pekerjaan.

 

Merasa khawatir pada sesuatu yang mungkin terjadi pada anak adalah wajar, tetapi jika perasaan khawatir tersebut tidak disertai dengan tindakan, tidak akan memberikan manfaat apapun. Khawatir saja tanda tindakan tidak dapat memecahkan persoalan. Oleh karena itu, cobalah untuk tidak merasa khawatir berlebihan kalau memang tidak perlu. Alihkanlah kekhawatiran tersebut dengan cara melakukan sesuatu yang bernilai positif (Janice Fixter, 2006).

 

Daripada perasaan khawatir tersebut terus menerus membuat resah orangtua, lebih baik lakukanlah sesuatu yang positif sebelum perasaan khawatir tersebut terjadi. Misalnya, jika orangtua khawatir anak kehujanan, bekalilah ia payung atau jas hujan, pesankan padanya untuk memakainya jika turun hujan. Apabila orangtua khawatir anak tidak lulus ujian, doronglah ia untuk lebih giat lagi belajar. Begitupun bila orangtua sering merasa khawatir anak tidak memiliki teman di sekolah, ajarkanlah ia tentang bagaimana berakhlak baik (berperilaku sesuai dengan nilai-nilai sosial). Dengan demikian, orangtua tidak perlu lagi merasa khawatir yang berlebihan, karena mereka telah memaksimalkan segala kemampuan untuk menghindarkan hal-hal yang mungkin membuatnya khawatir. Selanjutnya, berdo’a dan bersikaplah tawakal kepada-Nya dan percayalah bahwa Alloh SWT selalu memberikan yang terbaik kepada umat-Nya. (yer).

continue
0
Des26

Ilustrasi: www.123rf.com

Menanggapi pertanyaan bunda Ida mengenai topik kita yaitu ‘berkomunikasi dengan anak’, berikut saya sertakan beberapa tips dan tricks yang dapat orangtua lakukan agar anak remaja kita mau berbicara terbuka pada orangtua Bobbi (2011), di antaranya adalah:

 

  1. Berusahalah untuk dapat memahami sudut pandang anak, walaupun orangtua dan anak sering kali berbicara dengan sudut pandang yang berbeda.
  2. Dengarkanlah dengan penuh perhatian, tanpa meremehkan dan menghakimi, karena pada dasarnya remaja ingin didengar dan dipahami lebih dari segala-galanya.
  3. Berusahalah untuk selalu mengasah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan EAR, yaitu:
    • Expression (ekspresi)
    • Sttentiveness (perhatian)
    • Restatement (mengulangi)
  4. Ketika bertindak menjadi pendengar, hindarilah melakukan GABS, yaitu:
    • Grabbing the glory (ingin lebih unggul)
    • Advising (sok menggurui)
    • Belittling (menganggap remeh seseorang)
    • Sidestepping (menghindar dari menjawab)

 

Jika anak tidak meminta nasihat, hindarkanlah untu menasihatinya. Pada umumnya orang yang sedang bermasalah tidak ingin orang lain memperbaiki masalahnya, ia hanya ingin seseorang menunjukkan kepedulian kepadanya.

 

Selain hal di atas, agar anak remaja mau berbicara terbuka, penting bagi orangtua untuk menyediakan waktu santai dan berkualitas kepada anak. Diantaranya adalah dengan cara orangtua mengurangi kesibukannya terutama dalam hal memenuhi kepentingan pribadinya di depan anak. Ketika anak sedang ada di rumah, sebaiknya orangtua tidak sibuk dengan telepon seluler atau BBM nya, tidak sibuk membaca majalah, sibuk nonton sinetron, sibuk arisan, sibuk janjian belanja ke mall, sibuk beres-beres lemari baju atau sibuk dengan internet dan facebook tanpa peduli dengan anak. Banyak orangtua secara fisik ada di rumah, tetapi sebenarnya secara batin ia tidak di rumah, begitu juga yang dirasakan oleh anak remaja.

 

Kesibukan orangtua yang terlihat oleh anak remaja seringkali membuatnya merasa enggan untuk berbicara kepada mereka. Ia akan berasumsi bahwa berbicara pada orangtua yang sedang sibuk hanya akan mengganggunya saja dan bahkan mungkin akan membuat orangtuanya menjadi marah. Oleh karena itu, berusahalah untuk tenang dan duduk di dekatnya. Mulailah dengan pembicaraan ringan seperti tentang musik kesenangannya atau tentang apa saja yang dapat membuatnya tertarik. Dengan demikian, jika suasana berkomunikasi seperti ini terus terjaga dengan baik, perlahan-lahan anak remaja akan terbuka pada orangtuanya. (yer)

 

 

 

 

 

 

continue
2
Des23

Menghadapi kondisi yang berubah-ubah pada anak remaja memang tidak mudah, terutama jika komunikasi antara orangtua dengan anak kurang terjalin dengan baik. Orangtua selalu sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga jarang sekali memiliki waktu untuk ‘mendengarkan isi hati’ anak. Orangtua tidak tahu apa yang sedang terjadi dan yang sedang dirasakan anak, begitu juga anak kadang-kadang ia merasa segan untuk berbicara pada orangtua.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Perubahan emosional pada anak remaja tidak jarang membuat orangtua merasa frustrasi, tidak tahu harus dengan cara apa mereka mengarahkan dan mengatur anak remajanya, terlebih ketika ia sudah menjawab pertanyaan orangtua dengan jawaban yang pendek-pendek, misalnya:

 

“Bagaimana tadi di sekolah Nak, apakah menyenangkan?”

“ Ya, gitulah”

“Apakah tugas matematikanya sudah diserahkan?”

“Sudah”

 

Dalam benak remaja, boleh jadi ia tidak bermaksud untuk bersikap egoistis dengan bersikap seolah-olah dialah yang selalu harus dimengerti dan dipahami, tetapi itu karena ia sedang mencoba untuk mencari situasi mana yang dirasa tepat baginya.

 

Ketika terjadi suatu pembicaraan antara orangtua dengan remaja, seringkali menimbulkan dua sudut pandang yang berbeda, di mana orangtua terpaku pada perspektif mereka sebagai orangtua dan remaja pada perspektif mereka sebagai remaja. Ketika salah satu pihak menganggap posisinya tertantang, ia akan bertahan lebih kuat pada sudut pandangnya sendiri (Bobbi2011).

 

Pada saat anak remaja merasa dirinya serba salah dan tidak berdaya dengan semua perubahan yang terjadi pada dirinya, ia kerap berpikir bahwa orangtuanya tidak memahami dan tidak mau mengerti dirinya.

 

Sesungguhnya anak remaja sangat membutuhkan orangtua yang selalu siap untuk ‘mendengarkan’nya. Anak remaja ingin didengar dan dipahami lebih dari segalanya. Ketika orangtua mampu ‘mendengarkan dan memahami’ remaja, iapun akan terinspirasi untuk mendengar dan memahami orang lain termasuk kita sebagai orangtuanya. Oleh karena itu, temukanlah cara yang paling nyaman untuk dapat mendekati dan berbicara dengan anak remaja, sebab dengan demikian akan mempermudah orangtua berinteraksi dengannya. (yer)

2 Komentar

  1. Yusi Elsiano Rosmansyah Yusi Elsiano Rosmansyah says:

    Wa'alaikum salam. Salam kenal kembali bunda Ida...selamat datang di blog ini. Terima kasih untuk kunjungan dan partisipasinya...saya sangat senang ...

  2. ida nurlaila says:

    assalamu'alaikum. salam kenal.... artikel yang menarik. bagaimana membuat para remaja mau 'berbicara' pada orang tua. lantaran seringkali mereka menarik diri dari ...

continue
0
Des21

Kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki cara belajar masing-masing yang berbeda, tentu cara tersebut merupakan cara yang dirasakan sangat optimal untuk dirinya. Sebagian anak ada yang merasa lebih optimal ketika belajar dalam suasana yang minimal suara (sepi), tetapi bagi sebagian anak lainnya justru belajar sambil mendengarkan lagu-lagu atau musik dapat membuatnya lebih mudah menyerap apa yang sedang dipelajarinya.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Belajar dengan cara diporsir atau menggunakan sistem kebut semalam (SKS) tanpa diselingi dengan istirahat sejenak merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Biasanya, ketika otak dipaksa untuk menampung banyak informasi dalam satu waktu yang sama, otak manusia akan lebih sulit menyerap informasi tersebut, otak akan lebih mudah merasa lelah dan jenuh. Berbeda ketika seseorang belajar dalam banyak kesempatan, maksudnya membagi-bagi waktu belajar menjadi beberapa sesi yang diselingi dengan waktu rehat, hasilnya akan lebih optimal. Seperti yang diungkapkan oleh Bobbi DePorter (2011), melakukan rehat pada interval waktu yang tepat dapat membantu seseorang belajar dengan lebih baik. Ketika seseorang sedang belajar, biasanya lebih baik pada awal dan akhir sesi belajar. Semakin seseorang memecah-mecah waktu belajar menjadi beberapa bagian, semakin banyak momen belajar optimal yang dapat diciptakan untuk dirinya. (yer)

 

 

continue
0
Des16

Waktu makan telah tiba. Inilah waktu di mana orangtua dan anak terkadang merasa tidak nyaman, di antara mereka terjadi adu argumentasi, anak bersikeras tidak mau makan atau tidak mau menghabiskan makanannya, sedangkan orangtua tetap meminta anak menghabiskan makanannya. Pada situasi seperti inilah biasanya orangtua dan anak menjadi sama-sama tidak sabar dan marah.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Ketika orangtua meminta anak menghabiskan makanannya, sebagai bentuk penolakan dari anak, berbagai alasan akan ia lakukan, misalnya dengan cara mengeluh bahwa ia tidak suka makanan tersebut, makanannya tidak enak sehingga ia mengunyah makanannya dengan sangat lambat, bahkan diemut atau makanan tersebut dijadikan mainan sehingga berceceran di lantai. Jika situasinya seperti ini, orangtua biasanya merasa tegang dan jadi tidak sabar. Untuk mensiasati supaya hal ini tidak terjadi terus menerus, ada beberapa tips (Jacob Azerrad:2005) yang dapat dilakukan orangtua, yaitu

 

  1. Anak dibolehkan makan hanya pada jam makan. Tidak membiarkan anak makan makanan ringan sebelum waktu makan tiba. Ini membuatnya memilih antara dua pilihan, yaitu ia menjadi lapar (dan ini tidak mungkin), atau ia akan makan bersama dengan keluarganya.
  2. Jika anak tidak menghabiskan makanannya, jangan memaksanya untuk menghabiskan. Ia diperbolehkan meninggalkan meja tanpa makanan penutup (kue, juice, dll). Simpanlah sisa makanannya di kulkas. Hindari membujuknya untuk kembali ke meja makan. Jika nanti ia menanyakan makanannya yang tidak habis dan ia akhirnya menghabiskannya, tawari ia makanan ringan kesukaannya, pujilah ia sesuai apa yang ia lakukan. Segeralah ikuti pujian tersebut dengan menghabiskan beberapa menit melakukan sesuatu yang ia sukai. Misalnya main bola, main petak upet, main boneka, atau membacakan buku cerita.
  3. Jika ada makanan yang berceceran (mungkin anak mencari perhatian), hindari mengomentarinya. Orangtua tidak dapat mengharapkan perilaku sempurna di meja makan dari anak berusia 5 tahun. Mengatakan secara berulang –ulang kesalahan-kesalahan di meja makan, mungkin akan sedikit sulit bagi anak untuk bengubah secara langsung perilakunya tersebut. Tindakan orangtua tersebut hanya akan mendatangkan kesan pada anak bahwa waktu makan adalah waktu yang tidak menyenangkan. Sebaiknya, anak diberi pengertian sesuai dengan usia dan kedewasaan anak ketika ia waktu makan sudah selesai. Berilah pengertian dan arahan tentang kebiasaan-kebiasaan makan yang baik dan sangat penting untuk dilakukannya. (yer)

continue
0
Des15

‘Ya’ atau ‘boleh’ adalah jawaban yang sangat diharapkan setiap orang, tentunya jawaban tersebut adalah untuk hal-hal yang dapat memberikan kesenangan dan kebahagiaan pada dirinya. Begitu juga halnya dengan anak-anak, untuk hal-hal yang dapat memberikan kesenangan pada dirinya ia akan sangat berharap mendapatkan jawaban ya, walaupun itu adalah berbahaya, ia akan memaksa orangtuanya untuk berkata ‘ya’ atau ‘boleh’. Misalnya, anak meminta izin untuk mengendarai sepeda motor, padahal ia belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) dan belum memiliki cukup pengalaman atau anak meminta izin untuk menginap di rumah temannya.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

 

Sebagian keluarga ada yang orangtuanya kompak dalam memberikan keputusan dan ada juga yang tidak, ayahnya berkata ‘Ya’ tetapi ibunya ‘Tidak’. Tindakan orangtua seperti ini sering membuat anak menjadi bingung, harus mengikuti siapa, ikut ayah atau ibu ya..? Misalnya, ayah membolehkan anak mengendarai sepeda motor, tetapi ketika ibunya mengetahui anaknya mengendarai sepeda motor, ibu marah pada anak.

 

Menanggapi kasus di atas, ibu dan ayah sebaiknya kompak dalam memberikan keputusan, ‘Ya’ atau ‘Tidak’ terutama untuk hal-hal prinsip yang dapat membahayakan. Ketika orangtua kompak dalam memberikan keputusan kepada anak, tindakan ‘memanfaatkan situasi’ tidak akan terjadi, anak tidak akan lari kepada ibu ketika ia tahu ayahnya tidak memberikan izin kepadanya, begitu juga sebaliknya.

 

Anak bisa menjadi sangat pintar dalam hal mempertentangkan antara ayah dan ibunya. Bisa saja anak membela diri dengan mengatakan ‘tapi kata ayah boleh….., atau tapi kata ibu boleh kok’. Oleh karena itu, agar terhindar dari sikap anak seperti itu, berusalah untuk selalu memperlihatkan sebuah kesatuan sikap di hadapan anak (Janice Fixter, 2006). (yre).

continue
1
Des14

Perkembangan teknologi yang semakin cepat dan layanan internet yang semakin mudah diakses mendorong anak-anak lebih mudah mendapatkan situs-situs porno atau bacaan-bacaan untuk orang dewasa.  Kondisi seperti ini tentu sangat meresahkan para orangtua, khawatir anaknya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, melakukan perbuatan dosa yang dapat merusak masa depan dan mencemari nama baik dirinya dan keluarga.

 

Mudahnya mengakses fasilitas internet membuat banyak anak dewasa sebelum waktunya. Di lingkungan kita banyak sekali anak remaja yang lebih terbuka pada teman sebayanya untuk menanyakan masalah seks daripada kepada orangtuanya. Kebanyakan dari mereka merasa takut ketika bertanya kepada orangtuanya mengenai seks, takut dianggap bahwa mereka sudah melakukan atau ingin melakukan seks, padahal teman sebaya yang sering diajak diskusi oleh anak remaja boleh jadi tidak lebih mengetahui masalah seks daripadanya.

 

Ketika anak menginjak usia remaja, menjadi hal yang sangat penting bagi orangtua untuk mendidik anak remaja agar menjauhi perbuatan zina atau pergaulan bebas. Ajaklah bicara dan terangkan pada anak remaja bahwa melakukan perzinahan adalah perbuatan yang dapat membuatnya hina, anak harus menjauhi perbuatan tersebut. Terangkanlah pada anak remaja bagaimana hukuman bagi orang yang melakukan perzinahan dalam agama. Dengan demikian, mereka akan memahami dan akan menjauhi perbuatan keji tersebut.

 

 

Perlu orangtua sampaikan kepada anak remaja, ada beberapa cara untuk membantu anak remaja terhindar dari pergaulan bebas atau perzinahan, diantaranya adalah dengan menjaga pandangan mata secara berlebihan kepada lawan jenis, tidak berdua-duaan dengan bukan mahram, tidak bersentuhan kulit antara pria dan wanita yang bukan mahramnya, seperti berpegangan tangan, tidak berkumpul dan berbaur antara pria dan wanita dalam satu tempat, misalnya kosan-kosan satu rumah bercampur antara pria dan wanita.

 

 

Membimbing dan mengarahkan anak remaja adalah sangat penting bagi orangtua. Pada usia remaja anak mulai memiliki rasa ingin tahu yang besar dan ingin mencoba hal-hal baru, termasuk mencoba untuk mencintai teman lawan jenis. Hal tersebut adalah wajar, anak remaja bukan lagi anak kecil, mereka sudah mulai membutuhkan seseorang yang dapat diajaknya ‘curhat’, saling memberikan perhatian dan mencintai.  Satu hal yang sangat penting orangtua lakukan adalah jadilah orang pertama yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi seputar seks dan pergaulan dengan lawan jenis bagi anak remaja.

 

Hindarkan menyepelekan atau mempermalukan anak ketika ia bertanya masalah seks pada orangtua. Ketika pertama kali anak remaja merasa mendapat tanggapan yang tidak semestinya dari orangtua berkaitan dengan masalah seks, ia akan mencari informasi dari luar, biasanya dari teman sebayanya atau dari bacaan, tindakan tersebut sangat berbahaya. Mereka akan mencoba-coba sesuatu yang mungkin akan membahayakan, misalnya mencoba mencium pacarnya, mencoba membuka situs porno atau membaca bacaan dewasa.

 

Berikut adalah beberapa cara supaya orangtua dapat dijadikan rujukan pertama dan utama bagi anak remaja ketika ia ingin tahu masalah seks (Entin: 2011), yaitu:

 

  1. Menunjukkan penerimaan atas apa yang dirasakan dan terjadi pada anak. Dengarkan apa yang yang diceritakan anak, kemudian beri pendapat jika diminta. Tahan diri untuk memberi nasihat dan hindari mengolok-olok, sebab tindakan tersebut hanya akan mendorong anak tidak mau bertanya lagi mengenai masalah seks dan pergaulannya.
  2. Galilah lebih jauh tentang apa yang membuat anak merasa tertarik pada teman lawan jenisnya. Pahami hal tersebut dan terimalah. Ketika anak telah terbuka, masukkan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan tentang hubungan dengan lawan jenis. Lakukanlah dengan cara diskusi, lontarkan suatu isu, tanyakan tanggapannya dan berikan umpan balik.

 

Ketika anak remaja merasa nyaman berdiskusi dengan orangtua, ia akan merasa percaya, senang dan tenang hingga akhirnya akan semakin terbuka tentang segala hal yang sedang dirasakan dan dialaminya pada orangtua… (yer)

 

1 Komentar

  1. [...] Melalui internet kini anak lebih mudah mendapatkan gambar dan cerita untuk orang dewasa . Kondisi ini tentu sangat meresahkan ...

continue
0
Des8