• SKACI

    Sekolah Komputer Anak Cinta Indonesia

    Bermain adalah hak anak. Membuatnya hebat dan berprestasi adalah kewajiban orangtua. Membimbing anak bermain agar jadi jago IT/Komputer adalah tugas kami

    Buton

  • Fahma-Hania

    Karya-karya Fahma-Hania

    Aplikasi-aplikasi buatan Fahma-Hania


    Buton

  • SiGokil

    Capture beautiful moments, interesting sights, something weird, accidents, crimes, or just yourself and share from your exact position. Sell or find stuff near you, and bid or offer using this app. Track your children, spouse, even your vehicles

    Buton

  • SiGokil Solutions

    Give implementable mobile solutions to accommodate the needs of mobile reporting, mobile surveying, mobile monitoring, mobile tracking, and back-end analyzing, to improve efficiency and effectiveness

    Buton

  • ACI Corporation

    Attentive Creations International is a mobile and web applications developer. We develop perfection in all applications we built. We have been the biggest part of industries solutions.

    Buton

0
Feb14

Setiap anak memiliki kelebihan dan kecerdasan yang berbeda-beda. Namun sayang, tidak semua orangtua tahu bagaimana cara agar anak mampu menggali potensi yang ada dalam dirinya.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Banyak orangtua mengharapkan dan bahkan menuntut anaknya dapat berprestasi, tetapi tanpa didukung oleh sikap positif dari orangtua terhadap anak. Misalnya, orangtua lebih sering membanding-bandingkan antara kemampuan seseorang dengan sang anak yang dipandangnya kurang sukses dan selalu gagal, menyepelekan hasil karya anak dan bahkan melecehkannya walaupun kadang hanya berupa candaan. Sikap orangtua seperti itu tentu kurang bijak, tindakannya tersebut bukan saja dapat mematahkan semangat dan mematikan kemampuan anak, bahkan juga dapat melukai perasaannya.

 

Sebagai orangtua bijak, cobalah untuk mengubah cara pandang terhadap anak, yang asalnya negatif menjadi positif. Misalnya dengan cara menghindari memandang anak dari sisi negatifnya saja seperti mengomentari  anak dari sisi kegagalannya atau dari sisi kurang usahanya saja. Segeralah beralih, gantilah cara pandang tersebut menjadi cara pandang yang positif, lihatlah anak dari sisi kesuksesannya, bakat, kemampuan dan kemenangannya. Ungkapkanlah dengan penuh cinta dan semangat pada apa yang ia miliki sebagai kelebihannya. Dengan cara seperti itu, prestasi buruk anak akan berbalik menjadi lebih baik. Ketika orangtua mengubah cara pandangan mereka ke arah positif, mereka akan mulai tersadar pada potensi yang dimilikinya. Sebaliknya, ketika orangtua selalu meamandang anak dari sisi negatif, seperti selalu memfokuskan pada kegagalan, nilai-nilai yang rendah dan usaha yang kurang, maka masalahnya hanya akan membuat segala sesuatunya bertambah buruk (Bobbi:2011). yer

continue
0
Jan18

Takut atau khawatir adalah perasaan yang dapat membuat jantung seseorang yang merasakannya berdegup kencang. Perasaan takut atau khawatir kadang-kadang juga membuat seseorang mengeluarkan keringat dingin, tangan gemetar atau bulu kuduk berdiri.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Perlu kita sadari, tidak selamanya perasaan takut itu menganggu kita. Perasaan takut itu juga sangat penting dan merupakan anugrah dari Tuhan Yang Maha Penyayang yang harus kita syukuri. Tanpa perasaan takut, diri kita akan lemah dan mudah celaka. Coba bayangkan jika kita tidak memiliki perasaan takut, mungkin kita tidak akan melakukan apapun ketika seekor harimau buas menghampiri dan akan menerkam kita.

 

Perasaan takut adalah sangat penting untuk kita miliki. Setiap orang pasti pernah merasakan takut atau khawatir. Misalnya, takut nilai ujiannya kecil, khawatir tidak naik kelas, takut salah bicara ketika berpidato nanti, takut salah gerakan ketika sedang menari di atas panggung nanti, dan masih banyak lagi perasaan takut lainnya. Perasaan seperti itu jika terjadi terus menerus tentu akan membuat seseorang merasa tidak nyaman dan tersiksa.

 

Hal yang dapat kita lakukan agar perasaan takut itu tidak terus menerus ada di dalam pikiran kita, melakukan suatu tindakan positif yang dapat membuat perasaan kita bahagia atau sibuk adalah solusi yang sangat baik. Misalnya, membaca buku cerita, memasak, menonton film lucu, atau mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta (berdzikir). Selain itu, kita juga dapat mengubah pikiran negatif (perasaan takut) tersebut dengan pikiran positif, misalnya jika kita takut salah bicara ketika tampil di depan umum, janganlah berpikir takut salah berbicara, tetapi sebaliknya pengaruhilah pikiran kita dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa ini adalah kesempatan baik untuk menampilkan kemampuanku yang terbaik. Dengan cara memikirkan hal terbaik yang mungkin terjadi, merupakan langkah cerdas untuk mengatasi ketakutan.

 

Hindarkanlah berpikir takut melakukan kesalahan, percayalah bahwa semua orang juga pernah melakukan kesalahan atau mengalaminya. Hal yang paling penting adalah ketika kita melakukan suatu kesalahan, belajarlah dari kesalahan tersebut dan lakukanlah yang lebih baik di lain waktu (James:2004). (yer)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

continue
0
Jan6

Belakangan ini banyak sekali anak remaja yang lebih memilih menjalani hidup ini dengan cara ‘mengalir saja bagaikan air’. Mungkin maksud pernyataan tersebut hanya untuk menggambarkan atau mengungkapkan sebuah kondisi saja, bahwa dalam menjalani hidup ini tidak perlu dibuat susah atau rumit, tetapi santai dan jalani saja.

 

Menanggapi pernyataan remaja di atas, sejatinya orangtua perlu meluruskan pernyataan tersebut. Menjalani hidup dengan sikap tenang dan sabar seperti air yang mengalir adalah baik, tetapi tentu harus mengupayakan terlebih dahulu segala sesuatunya dengan optimal, tidak hanya santai tanpa usaha. Tetaplah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk setiap hal yang sedang kita jalani, supaya kita dapat menjalani hidup ini seperti air ledeng yang bersih, yaitu yang mengalir menuju pipa-pipa yang mengarah ke tempat yang baik dan menjadi air yang bermanfaat bagi banyak orang (Abdul:2011), bukan menjadi air hujan atau air selokan yang kotor, yang mengalir tanpa arah dan  suatu saat akan menjadi bencana untuk masyarakat banyak, yaitu banjir. (yer)

continue
0
Des26

Ilustrasi: www.123rf.com

Menanggapi pertanyaan bunda Ida mengenai topik kita yaitu ‘berkomunikasi dengan anak’, berikut saya sertakan beberapa tips dan tricks yang dapat orangtua lakukan agar anak remaja kita mau berbicara terbuka pada orangtua Bobbi (2011), di antaranya adalah:

 

  1. Berusahalah untuk dapat memahami sudut pandang anak, walaupun orangtua dan anak sering kali berbicara dengan sudut pandang yang berbeda.
  2. Dengarkanlah dengan penuh perhatian, tanpa meremehkan dan menghakimi, karena pada dasarnya remaja ingin didengar dan dipahami lebih dari segala-galanya.
  3. Berusahalah untuk selalu mengasah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan EAR, yaitu:
    • Expression (ekspresi)
    • Sttentiveness (perhatian)
    • Restatement (mengulangi)
  4. Ketika bertindak menjadi pendengar, hindarilah melakukan GABS, yaitu:
    • Grabbing the glory (ingin lebih unggul)
    • Advising (sok menggurui)
    • Belittling (menganggap remeh seseorang)
    • Sidestepping (menghindar dari menjawab)

 

Jika anak tidak meminta nasihat, hindarkanlah untu menasihatinya. Pada umumnya orang yang sedang bermasalah tidak ingin orang lain memperbaiki masalahnya, ia hanya ingin seseorang menunjukkan kepedulian kepadanya.

 

Selain hal di atas, agar anak remaja mau berbicara terbuka, penting bagi orangtua untuk menyediakan waktu santai dan berkualitas kepada anak. Diantaranya adalah dengan cara orangtua mengurangi kesibukannya terutama dalam hal memenuhi kepentingan pribadinya di depan anak. Ketika anak sedang ada di rumah, sebaiknya orangtua tidak sibuk dengan telepon seluler atau BBM nya, tidak sibuk membaca majalah, sibuk nonton sinetron, sibuk arisan, sibuk janjian belanja ke mall, sibuk beres-beres lemari baju atau sibuk dengan internet dan facebook tanpa peduli dengan anak. Banyak orangtua secara fisik ada di rumah, tetapi sebenarnya secara batin ia tidak di rumah, begitu juga yang dirasakan oleh anak remaja.

 

Kesibukan orangtua yang terlihat oleh anak remaja seringkali membuatnya merasa enggan untuk berbicara kepada mereka. Ia akan berasumsi bahwa berbicara pada orangtua yang sedang sibuk hanya akan mengganggunya saja dan bahkan mungkin akan membuat orangtuanya menjadi marah. Oleh karena itu, berusahalah untuk tenang dan duduk di dekatnya. Mulailah dengan pembicaraan ringan seperti tentang musik kesenangannya atau tentang apa saja yang dapat membuatnya tertarik. Dengan demikian, jika suasana berkomunikasi seperti ini terus terjaga dengan baik, perlahan-lahan anak remaja akan terbuka pada orangtuanya. (yer)

 

 

 

 

 

 

continue
0
Des15

‘Ya’ atau ‘boleh’ adalah jawaban yang sangat diharapkan setiap orang, tentunya jawaban tersebut adalah untuk hal-hal yang dapat memberikan kesenangan dan kebahagiaan pada dirinya. Begitu juga halnya dengan anak-anak, untuk hal-hal yang dapat memberikan kesenangan pada dirinya ia akan sangat berharap mendapatkan jawaban ya, walaupun itu adalah berbahaya, ia akan memaksa orangtuanya untuk berkata ‘ya’ atau ‘boleh’. Misalnya, anak meminta izin untuk mengendarai sepeda motor, padahal ia belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) dan belum memiliki cukup pengalaman atau anak meminta izin untuk menginap di rumah temannya.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

 

Sebagian keluarga ada yang orangtuanya kompak dalam memberikan keputusan dan ada juga yang tidak, ayahnya berkata ‘Ya’ tetapi ibunya ‘Tidak’. Tindakan orangtua seperti ini sering membuat anak menjadi bingung, harus mengikuti siapa, ikut ayah atau ibu ya..? Misalnya, ayah membolehkan anak mengendarai sepeda motor, tetapi ketika ibunya mengetahui anaknya mengendarai sepeda motor, ibu marah pada anak.

 

Menanggapi kasus di atas, ibu dan ayah sebaiknya kompak dalam memberikan keputusan, ‘Ya’ atau ‘Tidak’ terutama untuk hal-hal prinsip yang dapat membahayakan. Ketika orangtua kompak dalam memberikan keputusan kepada anak, tindakan ‘memanfaatkan situasi’ tidak akan terjadi, anak tidak akan lari kepada ibu ketika ia tahu ayahnya tidak memberikan izin kepadanya, begitu juga sebaliknya.

 

Anak bisa menjadi sangat pintar dalam hal mempertentangkan antara ayah dan ibunya. Bisa saja anak membela diri dengan mengatakan ‘tapi kata ayah boleh….., atau tapi kata ibu boleh kok’. Oleh karena itu, agar terhindar dari sikap anak seperti itu, berusalah untuk selalu memperlihatkan sebuah kesatuan sikap di hadapan anak (Janice Fixter, 2006). (yre).

continue
1
Des14

Perkembangan teknologi yang semakin cepat dan layanan internet yang semakin mudah diakses mendorong anak-anak lebih mudah mendapatkan situs-situs porno atau bacaan-bacaan untuk orang dewasa.  Kondisi seperti ini tentu sangat meresahkan para orangtua, khawatir anaknya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, melakukan perbuatan dosa yang dapat merusak masa depan dan mencemari nama baik dirinya dan keluarga.

 

Mudahnya mengakses fasilitas internet membuat banyak anak dewasa sebelum waktunya. Di lingkungan kita banyak sekali anak remaja yang lebih terbuka pada teman sebayanya untuk menanyakan masalah seks daripada kepada orangtuanya. Kebanyakan dari mereka merasa takut ketika bertanya kepada orangtuanya mengenai seks, takut dianggap bahwa mereka sudah melakukan atau ingin melakukan seks, padahal teman sebaya yang sering diajak diskusi oleh anak remaja boleh jadi tidak lebih mengetahui masalah seks daripadanya.

 

Ketika anak menginjak usia remaja, menjadi hal yang sangat penting bagi orangtua untuk mendidik anak remaja agar menjauhi perbuatan zina atau pergaulan bebas. Ajaklah bicara dan terangkan pada anak remaja bahwa melakukan perzinahan adalah perbuatan yang dapat membuatnya hina, anak harus menjauhi perbuatan tersebut. Terangkanlah pada anak remaja bagaimana hukuman bagi orang yang melakukan perzinahan dalam agama. Dengan demikian, mereka akan memahami dan akan menjauhi perbuatan keji tersebut.

 

 

Perlu orangtua sampaikan kepada anak remaja, ada beberapa cara untuk membantu anak remaja terhindar dari pergaulan bebas atau perzinahan, diantaranya adalah dengan menjaga pandangan mata secara berlebihan kepada lawan jenis, tidak berdua-duaan dengan bukan mahram, tidak bersentuhan kulit antara pria dan wanita yang bukan mahramnya, seperti berpegangan tangan, tidak berkumpul dan berbaur antara pria dan wanita dalam satu tempat, misalnya kosan-kosan satu rumah bercampur antara pria dan wanita.

 

 

Membimbing dan mengarahkan anak remaja adalah sangat penting bagi orangtua. Pada usia remaja anak mulai memiliki rasa ingin tahu yang besar dan ingin mencoba hal-hal baru, termasuk mencoba untuk mencintai teman lawan jenis. Hal tersebut adalah wajar, anak remaja bukan lagi anak kecil, mereka sudah mulai membutuhkan seseorang yang dapat diajaknya ‘curhat’, saling memberikan perhatian dan mencintai.  Satu hal yang sangat penting orangtua lakukan adalah jadilah orang pertama yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi seputar seks dan pergaulan dengan lawan jenis bagi anak remaja.

 

Hindarkan menyepelekan atau mempermalukan anak ketika ia bertanya masalah seks pada orangtua. Ketika pertama kali anak remaja merasa mendapat tanggapan yang tidak semestinya dari orangtua berkaitan dengan masalah seks, ia akan mencari informasi dari luar, biasanya dari teman sebayanya atau dari bacaan, tindakan tersebut sangat berbahaya. Mereka akan mencoba-coba sesuatu yang mungkin akan membahayakan, misalnya mencoba mencium pacarnya, mencoba membuka situs porno atau membaca bacaan dewasa.

 

Berikut adalah beberapa cara supaya orangtua dapat dijadikan rujukan pertama dan utama bagi anak remaja ketika ia ingin tahu masalah seks (Entin: 2011), yaitu:

 

  1. Menunjukkan penerimaan atas apa yang dirasakan dan terjadi pada anak. Dengarkan apa yang yang diceritakan anak, kemudian beri pendapat jika diminta. Tahan diri untuk memberi nasihat dan hindari mengolok-olok, sebab tindakan tersebut hanya akan mendorong anak tidak mau bertanya lagi mengenai masalah seks dan pergaulannya.
  2. Galilah lebih jauh tentang apa yang membuat anak merasa tertarik pada teman lawan jenisnya. Pahami hal tersebut dan terimalah. Ketika anak telah terbuka, masukkan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan tentang hubungan dengan lawan jenis. Lakukanlah dengan cara diskusi, lontarkan suatu isu, tanyakan tanggapannya dan berikan umpan balik.

 

Ketika anak remaja merasa nyaman berdiskusi dengan orangtua, ia akan merasa percaya, senang dan tenang hingga akhirnya akan semakin terbuka tentang segala hal yang sedang dirasakan dan dialaminya pada orangtua… (yer)

 

1 Komentar

  1. [...] Melalui internet kini anak lebih mudah mendapatkan gambar dan cerita untuk orang dewasa . Kondisi ini tentu sangat meresahkan ...

continue
0
Des8

Ilustrasi: www.123rf.com

Ketika usia anak menginjak remaja, banyak hal yang berubah pada dirinya. Salah satunya adalah perubahan pada minat belajar, asalnya rajin belajar dan nilainya selalu bagus, kini semangat belajarnya menjadi berkurang sehingga nilainya turun. Kondisi seperti ini membuat orangtua bingung dan khawatir. Sebagai solusi untuk memecahkan perasaan bingung dan khawatir ini akhirnya saya mendapatkan buku yang didalamnya terdapat pernyataan bahwa orangtua janganlah terlalu panik dengan kondisi seperti itu, percayalah bahwa setiap orang mampu belajar. Setiap orang belajar dengan cara yang berbeda-beda, yang pasti kegiatan belajar akan menjadi optimal jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, menarik dan penuh tantangan.

 

Buku ini sangat menarik, di dalamnya terdapat beberapa tips yang dapat membantu anak belajar dengan baik.  yaitu dengan menggunakan metode ABC (Bobbi:2011):

 

 A untuk Attitude (sikap): Apa yang kita pikirkan tentang sesuatu yang belum terjadi, akan memengaruhi hasil akhir. Jika anak remaja memandang pendidikan mereka dari pola pikir “inilah saatnya!” dan memiliki keingintahuan tak terbatas serta rasa haus akan ilmu pengetahuan, mereka bisa belajar hampir tentang segala hal.

 

B untuk Belief (Keyakinan): Orangtua harus memotivasi anak supaya ia percaya bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang menjadi harapannya. Tanamkan pada diri anak bahwa apa yang kita yakini tentang kemampuan kita akan memengaruhi performa kita. Jika kita mengatakan pada diri sendiri, “Aku mampu belajar dengan baik dan kemampuanku semakin baik dari waktu ke waktu,” kemampuan belajar kita akan semakin meningkat.

 

C untuk Commitment (komitmen): Ada kekuatan  luar biasa dalam membuat sebuah komitmen. Ketika seseorang terikat pada tujuan atau serangkaian kegiatan tertentu, dia akan menemukan sumber daya di dalam diri yang tidak pernah dia sadari sebelumnya. (yer)

 

continue
0
Nov24

Memperhatikan sifat dasar orangtua, mereka cenderung selalu merasa khawatir pada anak. Kekhawatiran orangtua tidak hanya pada saat anak masih kecil saja, ketika anak sudah dewasa bahkan sudah menjadi orangtua pun mereka tetap memikirkan dan masih sering merasa khawatir.

 

Ketika anak masih kecil, orangtua khawatir ia disakiti temannya, tidak mempunyai teman atau khawatir ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anaknya . Begitu juga ketika anak sudah dewasa dan bahkan berkeluarga, mungkin kekhawatiran orangtua akan semakin bertambah. Orangtua khawatir ia tidak memiliki cukup uang, anaknya sakit, khawatir tidak dapat menafkahi keluarganya atau tidak dapat membimbing keluarga.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Sifat dasar orangtua di atas sering diungkapkannya dalam bentuk yang berbeda. Misalnya, dengan menanyakan langsung pada anak atau dengan cara menepon anak untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Orangtua melakukan hal tersebut selain untuk mengurangi kekhawatirannya, juga merupakan salah satu bentuk ungkapan perhatian pada anak.

 

Sayangnya, bentuk perhatian orangtua seperti itu      tidak selalu dapat diterima anak dengan senang hati, apalagi jika orangtua mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan dengan sering meneleponnya menanyakan hal yang sama.

 

Memperhatikan anak dengan cara meneleponnya atau mengirim SMS adalah lebih baik daripada tidak memperhatikannya sama sekali.  Tetapi ada cara yang lebih baik jika orangtua dapat melakukannya, yaitu dengan menyediakan waktu untuk bercengkrama dengannya. Pancinglah anak supaya ia mau bercerita tentang apa saja pada orangtua. Ketika anak sedang bercerita, dengarkan dan berikanlah respon padanya sehingga ia merasa nyaman. Pada saat anak bercerita dan bertatap muka dengan orangtua, ia akan merasakan perhatian orangtua yang sesungguhnya. Ia memiliki waktu yang cukup untuk mengeluarkan isi hatinya, tidak sefihak saja seperti percakapan pada telepon yang kadang waktunya sangat terbatas).

 

Oleh karena itu, berikan perhatian pada anak dengan meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengannya secara harmonis. Ketika orangtua sudah tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi secara harmonis dengan anak, karena sibuk dengan urusan pekerjaan atau urusan pribadinya, orangtua tersebut akan kehilangan sensitivitas serta kesadaran bahwa anak mereka sedang dalam ‘bahaya’ yang dapat merugikan, bukan saja pada dirinya sendiri, tetapi juga orangtua dan lingkungannya (Linda & Richard Eyre, 2006). Orangtua tidak tahu apa yang sedang diinginkan atau dibutuhkan anak, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh anak, tidak tahu apa yang sedang dilakukan anak, hingga akhirnya orangtua tersebut mendapatkan anak dalam kondisi ‘berbahaya’. Kurang perhatian orangtua sering membuat anak menjadi mudah terbawa arus negatif. (yer)

 

continue
0
Nov17

Seiring bertambahnya usia anak menuju remaja, perlakuan orangtua terhadap anak terutama dalam hal mengungkapkan kasih sayang akan berbeda. Ketika anak masih kecil, orangtua dapat mengungkapkan kasih sayang dengan cara menciumnya, memeluknya atau mengelus kepalanya.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Penting orangtua ketahui, ketika anak menginjak usia remaja, ia dengan caranya akan mulai menolak ciuman, pelukan, atau elusan sebagai ungkapan kasih sayang orangtua. Kasih sayang yang diharapkan anak remaja bukan lagi berupa sentuhan fisik. Ada beberapa cara yang dapat orangtua lakukan untuk mengungkapkan kasih sayang kepada anak remaja, diantaranya adalah dengan memberikan waktu berkualitas pada anak, menyediakan waktu untuk berbincang- bincang dengannya atau mendengarkan curahan hatinya, membantu menyelesaikan