• SKACI

    Sekolah Komputer Anak Cinta Indonesia

    Bermain adalah hak anak. Membuatnya hebat dan berprestasi adalah kewajiban orangtua. Membimbing anak bermain agar jadi jago IT/Komputer adalah tugas kami

    Buton

  • Fahma-Hania

    Karya-karya Fahma-Hania

    Aplikasi-aplikasi buatan Fahma-Hania


    Buton

  • SiGokil

    Capture beautiful moments, interesting sights, something weird, accidents, crimes, or just yourself and share from your exact position. Sell or find stuff near you, and bid or offer using this app. Track your children, spouse, even your vehicles

    Buton

  • SiGokil Solutions

    Give implementable mobile solutions to accommodate the needs of mobile reporting, mobile surveying, mobile monitoring, mobile tracking, and back-end analyzing, to improve efficiency and effectiveness

    Buton

  • ACI Corporation

    Attentive Creations International is a mobile and web applications developer. We develop perfection in all applications we built. We have been the biggest part of industries solutions.

    Buton

0
Feb17

Di dalam sebuah keluarga, sosok ayah biasanya lebih ditakuti oleh anak dibandingkan sosok ibu. Walaupun pada kenyataannya seringkali ibu tampak lebih galak dan cerewet dibandingkan dengan ayah, namun anak tetap saja merasa lebih takut pada ayah.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Timbulnya perasaan takut pada ayah seringkali dikesankan oleh orang disekitarnya bahwa ayah akan marah atau mungkin mukul kalau anak tidak nurut atau nakal. Oleh karena itulah, banyak anak yang akan merasa ketakutan apabila perilaku buruknya dilaporkan kepada sang ayah.

Sebagai orang dewasa, perlu kita sadari bahwa memengaruhi anak supaya takut pada sang ayah adalah tindakan yang kurang bijaksana. Hal tersebut dapat merusak ikatan batin antara anak dengan ayah. Anak akan menjauh dan tidak mau dekat dengan ayahnya, padahal untuk menjadi orang yang sukses, seorang anak bukan saja memerlukan peran dan figur dari ibu saja, tetapi juga dari ayah.

 

Banyak hal dapat memengaruhi kesuksesan anak yang berasal dari peran ayah. Misalnya, dalam membangun jiwa kepemimpinannya, sikap disiplin, tegas, dan tanggung jawab. Semua itu umumnya berasal dari karakter sang ayah.

Oleh sebab itu, agar kesan negatif ayah seperti di atas tidak terus melekat di benak anak, ayah perlu melakukan beberapa pendekatan positif kepada anak, diantaranya adalah dengan cara selalu menjaga komunikasi, menjadi sahabat, menghargai pendapat anak, memenuhi kebutuhan anak, dan bermain bersama anak (dr. Maya & Wido, 2006).

Ayah yang selalu melakukan tindakan positif terhadap anak, seperti memperhatikan, memberikan apa yang dibutuhkan anak, meluangkan waktu untuk bermain bersama anak, dan menghargai pendapat anak, akan mampu membuat diri anak mencintai sosok ayah. Ia akan menjadikan sosok ayah sebagai idola dan teladan dalam hidupnya. Dengan demikian, sikap positif yang ada pada diri ayah tanpa sadar akan tertular pada anak. Ia akan menjadi orang yang sukses, bijaksana dan dapat mengharagai orang lain. (yer).

continue
2
Jan26

Setiap keluarga memiliki gaya pengasuhan yang berbeda pada anak-anaknya. Ada orangtua yang terbiasa menerapkan disiplin dan peraturan secara ketat dan keras, sehingga tidak ada toleransi dalam memberikan hukuman pada anak yang melakukan kesalahan. Ada orangtua yang selalu memanjakan anaknya secara berlebihan, sehingga ketika anak melakukan suatu kesalahan mereka membiarkannya dengan alasan ‘sayang’. Ada juga orangtua yang tidak peduli pada anak, apapun yang dilakukan oleh anaknya, mereka tidak ambil pusing. Selain itu, ada juga orangtua yang selalu membimbing, memperhatikan dan selalu mendiskusikan bersama anak ketika akan menggunakan suatu aturan dalam keluarganya.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Dari beberapa contoh kasus di atas, secara garis besar kita dapat membedakan orangtua berdasarkan gaya kepengasuhannya ke dalam empat kelompok (Aprilina:2011), yaitu:

 

  1. Orangtua otoriter. Orangtua seperti ini sering menerapkan peraturan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, kaku. Misalnya, orangtua menetapkan aturan bahwa pada jam 4 sore anak sudah harus ada di rumah, tanpa ada kompromi atau penjelasan apapun mengapa peraturan itu dibuat.  Ketika anak pada jam yang telah ditentukan tersebut belum datang, hukuman pasti sudah menanti. Hukuman yang mereka lakukan boleh jadi bukan hanya omelan atau bentakan saja, tetapi boleh jadi disertai hukuman fisik seperti memukul, menjewer atau menampar.
  2. Orangtua permisif. Orangtua tipe ini sebaliknya dari gaya pengasuhan otoriter. Biasanya orangtua dengan pengasuhan permisif selalu mengikuti kemauan anak, sering melupakan hukuman yang seharusnya anak terima. Mereka lebih memilih memanjakan anak.
  3. Orangtua otoritatif. Tipe gaya pengasuhan ini adalah tipe ideal. Orangtua seperti ini cenderung memberikan bimbingan kepada anak-anaknya. Peraturan dibuat dan ditegakkan disertai dengan penjelasan dan terbuka untuk didiskusikan bersama anak-anak. Orantua tipe ini tetap tegas dan konsisten dalam menerapkan disiplin. Mereka lebih terbuka dalam mengungkapkan rasa sayangnya pada anak. Selain itu, mereka juga selalu memuji ketika anak mendapatkan prestasi atau melakukan sesuatu yang baik atau positif.
  4. Orangtua tak acuh. Orangtua dengan tipe ini biasanya tidak peduli pada anak, tidak memberikan bimbingan maupun rasa sayang pada anaknya. Anaknya mau berbuat apa saja, mereka tidak peduli. (yer)

 

2 Komentar

  1. Yusi Elsiano Rosmansyah Yusi Elsiano Rosmansyah says:

    Terima kasih telah singgah di blog ini. Menjawab pertanyaan Bapak/Ibu di atas, tentu boleh dan silakan jika ingin meng- copy ...

  2. riiztan says:

    boleh kah sya mengcopy+paste,buat pengetahuan semua?

continue
1
Jan16

Perilaku tidak menepati janji yang dilakukan sebagian orangtua kepada anak seringkali dianggap hal yang biasa-biasa saja. Banyak orangtua yang berjanji kepada anak misalnya akan memberikan atau membelikan sesuatu tetapi pada akhirnya janji tersebut tidak pernah ditepatinya. Mereka menganggap bahwa tidak menepati janji kepada anak tidak akan menjadi sebuah masalah yang besar, tidak seperti ketika mereka tidak menepati janji kepada temannya, klien atau bosnya, efeknya mungkin akan langsung terasa yaitu akan kehilangan kesempatan, tidak dipercaya lagi dan bahkan mungkin akan kehilangan pekerjaannya.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Perlu orangtua ketahui, tidak menepati janji kepada anak akan sama buruknya dengan tidak menepati janji pada orang dewasa lainnya. Ketika orangtua tidak menepati janji pada anak, perasaan anak akan terluka dan kecewa. Jika orangtua seringkali tidak dapat menepati janji kepada anak, cepat atau lambat anak tidak akan hormat dan tidak percaya lagi kepada orangtuanya.

 

Tepatilah janji walaupun pada seorang anak yang masih kecil. Walaupun anak kita masih kecil, seringkali daya ingatnya lebih panjang, ia akan selalu mengingat akan janji yang telah diucapkan orangtua kepadanya. Orangtua adalah panutan bagi anak-anaknya. Apabila orangtua berjanji pada anak, misalnya akan membelikan oleh-oleh makanan atau mainan sepulang dari kantornya nanti, orangtua harus menepatinya, karena hal tersebut akan membekas dalam diri anak, selain itu ia juga akan mencontoh atau mengikuti jejak orangtuanya, baik ataupun salah (Umar:2008). (yer)

 

1 Komentar

  1. itu benar. mungkin sebagai orang tua kita sering meremehkan janji kepada anak. dan mungkin ini pula yang membuat anak meniru ...

continue
0
Des28

Ulangan sejarah… ulangan geografi… “Buat apa sih aku harus belajar sejarah atau geografi?” itulah  pertanyaan yang sering dilontarkan anak remaja setiapkali diminta untuk belajar dan menghafal.

 

Memang, terkadang orangtua juga suka kebingungan ketika harus menjawab pertanyaan seperti itu. Seringkali para orangtua menjawabnya bahwa belajar dan menghafal itu adalah untuk membuatnya menjadi orang sukses di masa depan. Jawaban seperti itu tentu tidak mudah untuk difahami oleh anak remaja.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

 

Motivasi belajar anak remaja seringkali menurun, apalagi ditambah dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada dirinya. Ia sering menyimpulkan bahwa belajar dan menghafal suatu mata pelajaran adalah hanya untuk mendapatkan nilai atau tanda lulus. Dalam kondisi seperti ini, peran orangtua untuk meningkatkan motivasi belajar anak adalah sangat penting. Merangsang motivasi belajar anak dari dalam dirinya lebih baik daripada hanya menyuruhnya supaya ia rajin belajar.

 

Adalah penting menerapkan prinsip AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) pada anak (Bobbi:2011) ketika akan mengerjakan sesuatu. Dengan prinsip tersebut ia akan faham dan semakin terpacu untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Ia akan tahu manfaat apa saja yang akan ia peroleh dan rasakan ketika ia belajar dengan sungguh-sungguh.

 

Untuk memotivasi semangat belajarnya, ingatkan kembali kepadanya bagaimana perasaannya ketika ia mendapatkan sebuah prestasi dalam hidup. Kita percaya bahwa setiap orang pasti pernah mencapai sebuah prestasi dalam hidupnya dan kejadian tersebut tentu sangat membahagiakan dirinya. Misalnya, anak merasa bahagia ketika ia dapat membeli sepeda dari hasil menanbung selama tiga bulan, bahagia karena mendapat juara satu di kelas atau merasa bahagia karena mendapat juara lomba bulu tangkis.

 

Perasaan bahagia biasanya akan tersimpan baik dalam ingatan seseorang, oleh karena itu ajaklah dan pengaruhilah anak supaya ia mampu mendapatkan lagi kebahagiaan tersebut. Dengan memberikan motivasi, mengajak anak untuk dapat mencapai sebuah prestasi dapat membuat anak lebih bersemangat lagi dalam belajar. Kita percaya bahwa setiap orang pasti ingin kebahagiaan yang pernah diraskannya dapat terulang kembali dalam hidupnya.

 

Contoh: Ketika orangtua ingin memotivasi anak supaya mau belajar, mintalah ia untuk selalu belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga suatu saat nanti ia dapat diterima di sekolah yang terbaik sesuai dengan yang diinginkannya. Terangkan juga padanya bahwa peluang sukses dari sekolah yang terbaik akan lebih banyak dibandingkan dari sekolah lainnya. Aajaklah anak untuk merasakan betapa bahagianya jika ia dapat diterima di sekolah favoritnya tersebut. (yer)

continue
0
Des27

Khawatir…., banyak orangtua merasa khawatir secara berlebihan terhadap anak. Rasa sayang dan cinta orangtua terhadap anak seringkali membuat mereka merasa khawatir, terlebih ketika sang buah hatinya sedang tidak berada di dekatnya, misalnya pada saat sang buah hati sedang pergi main dengan teman-temannya atau sedang mengikuti acara bermalam di sekolah. Orangtua merasa khawatir sesuatu terjadi padanya sehingga membuatnya sedih, luka, sakit atau kecewa.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Banyak sekali hal yang sering membuat orangtua merasa khawatir, beberapa diantaranya adalah khawatir anaknya tidak lulus ujian, khawatir anaknya sulit mendapatkan pekerjaan, khawatir anaknya ada yang menyakiti, khawatir memikirkan masa depan anak, khawatir anak kekurangan uang jajan, khawatir anak tidak mempunyai teman bermain di sekolah dan bahkan ada juga orangtua yang selalu merasa khawatir bila cuaca di luar sedang hujan lebat, mereka khawatir anaknya kehujanan.

 

Kondisi di atas sangat berbeda jika dibandingkan dengan perasaan orangtua zaman dulu. Umumnya para orangtua zaman dulu merasa khawatir terhadap kelangsungan hidup anaknya. Apakah anak mereka mampu bertahan hidup atau tidak, bukan cemas karena takut anak tidak memiliki teman, khawatir anak kehujanan atau khwatir bila sudah besar nanti anaknya sulit mendapatkan pekerjaan.

 

Merasa khawatir pada sesuatu yang mungkin terjadi pada anak adalah wajar, tetapi jika perasaan khawatir tersebut tidak disertai dengan tindakan, tidak akan memberikan manfaat apapun. Khawatir saja tanda tindakan tidak dapat memecahkan persoalan. Oleh karena itu, cobalah untuk tidak merasa khawatir berlebihan kalau memang tidak perlu. Alihkanlah kekhawatiran tersebut dengan cara melakukan sesuatu yang bernilai positif (Janice Fixter, 2006).

 

Daripada perasaan khawatir tersebut terus menerus membuat resah orangtua, lebih baik lakukanlah sesuatu yang positif sebelum perasaan khawatir tersebut terjadi. Misalnya, jika orangtua khawatir anak kehujanan, bekalilah ia payung atau jas hujan, pesankan padanya untuk memakainya jika turun hujan. Apabila orangtua khawatir anak tidak lulus ujian, doronglah ia untuk lebih giat lagi belajar. Begitupun bila orangtua sering merasa khawatir anak tidak memiliki teman di sekolah, ajarkanlah ia tentang bagaimana berakhlak baik (berperilaku sesuai dengan nilai-nilai sosial). Dengan demikian, orangtua tidak perlu lagi merasa khawatir yang berlebihan, karena mereka telah memaksimalkan segala kemampuan untuk menghindarkan hal-hal yang mungkin membuatnya khawatir. Selanjutnya, berdo’a dan bersikaplah tawakal kepada-Nya dan percayalah bahwa Alloh SWT selalu memberikan yang terbaik kepada umat-Nya. (yer).

continue
2
Des23

Menghadapi kondisi yang berubah-ubah pada anak remaja memang tidak mudah, terutama jika komunikasi antara orangtua dengan anak kurang terjalin dengan baik. Orangtua selalu sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga jarang sekali memiliki waktu untuk ‘mendengarkan isi hati’ anak. Orangtua tidak tahu apa yang sedang terjadi dan yang sedang dirasakan anak, begitu juga anak kadang-kadang ia merasa segan untuk berbicara pada orangtua.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Perubahan emosional pada anak remaja tidak jarang membuat orangtua merasa frustrasi, tidak tahu harus dengan cara apa mereka mengarahkan dan mengatur anak remajanya, terlebih ketika ia sudah menjawab pertanyaan orangtua dengan jawaban yang pendek-pendek, misalnya:

 

“Bagaimana tadi di sekolah Nak, apakah menyenangkan?”

“ Ya, gitulah”

“Apakah tugas matematikanya sudah diserahkan?”

“Sudah”

 

Dalam benak remaja, boleh jadi ia tidak bermaksud untuk bersikap egoistis dengan bersikap seolah-olah dialah yang selalu harus dimengerti dan dipahami, tetapi itu karena ia sedang mencoba untuk mencari situasi mana yang dirasa tepat baginya.

 

Ketika terjadi suatu pembicaraan antara orangtua dengan remaja, seringkali menimbulkan dua sudut pandang yang berbeda, di mana orangtua terpaku pada perspektif mereka sebagai orangtua dan remaja pada perspektif mereka sebagai remaja. Ketika salah satu pihak menganggap posisinya tertantang, ia akan bertahan lebih kuat pada sudut pandangnya sendiri (Bobbi2011).

 

Pada saat anak remaja merasa dirinya serba salah dan tidak berdaya dengan semua perubahan yang terjadi pada dirinya, ia kerap berpikir bahwa orangtuanya tidak memahami dan tidak mau mengerti dirinya.

 

Sesungguhnya anak remaja sangat membutuhkan orangtua yang selalu siap untuk ‘mendengarkan’nya. Anak remaja ingin didengar dan dipahami lebih dari segalanya. Ketika orangtua mampu ‘mendengarkan dan memahami’ remaja, iapun akan terinspirasi untuk mendengar dan memahami orang lain termasuk kita sebagai orangtuanya. Oleh karena itu, temukanlah cara yang paling nyaman untuk dapat mendekati dan berbicara dengan anak remaja, sebab dengan demikian akan mempermudah orangtua berinteraksi dengannya. (yer)

2 Komentar

  1. Yusi Elsiano Rosmansyah Yusi Elsiano Rosmansyah says:

    Wa'alaikum salam. Salam kenal kembali bunda Ida...selamat datang di blog ini. Terima kasih untuk kunjungan dan partisipasinya...saya sangat senang ...

  2. ida nurlaila says:

    assalamu'alaikum. salam kenal.... artikel yang menarik. bagaimana membuat para remaja mau 'berbicara' pada orang tua. lantaran seringkali mereka menarik diri dari ...

continue
0
Nov25

‘Duuuuh, gimana ya kok ngggak ngerti aja…’.

Disadari atau tidak, ungkapan seperti itu mungkin sering diucapkan orangtua ketika sedang  mengajarkan sesuatu pada anak. Misalnya, ketika orangtua mengajarkan anaknya membaca, menulis atau menghitung. Kondisi seperti ini kadang-kadang membuat orangtua merasa heran dan mengeluh mengapa anaknya sulit untuk ‘memahami’ apa yang diterangkannya. Padahal, boleh jadi cara mengajar dan bahkan buku yang digunakannya sama dengan yang digunakan temannya untuk mengajar anaknya. Namun sayang, anaknya tidak sehebat anak temannya, masih kecil sudah pintar membaca, menulis, dan menghitung. Apa yang salah ya…?

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Menanggapi kasus di atas, sejatinya orangtua tidak menuntut anak untuk dapat melakukan sesuatu yang sama persis dengan apa yang orang lain mampu melakukannya. Kemampuan anak yang satu dengan yang lainnya akan berbeda. Perlu orangtua ingat kembali, pada dasarnya setiap anak adalah unik dan hebat. Mereka memiliki kecerdasan masing-masing, anak yang satu hebat dalam bidang ilmu hitung, baca dan menulis, boleh jadi anak yang satunya lagi hebat dalam bidang seni dan teknologi.

 

Hal yang perlu orangtua perhatikan ketika mengajarkan sesuatu pada anak, selain perlu ditunjang dengan buku dan cara pengajaran yang tepat, suasana yang kondusif juga menjadi hal penting yang dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam menyerap materi. Suasana yang terkesan memaksa dan menegangkan karena disampaikan dengan cara emosional dapat membuat anak sulit untuk mengerti materi yang sedang diajarkan.

 

Mengajarkan sesuatu yang positif pada anak tentu sangat baik, yang paling penting adalah tidak dengan cara memaksa atau emosional. Selama orangtua mengajarkannya dengan cara yang baik, misalnya tidak dengan marah-marah atau membentak-bentak,  anak akan merasa senang dan nyaman, ia tidak akan merasa tertekan atau pun terpaksa. Dengan demikian, materi yang disampaikan orangtua akan lebih mudah dimengerti anak.

 

Sebaliknya, jika orangtua mengajar anak dengan cara emosional atau marah-marah, apalagi menghinanya, selain dapat melukai hati anak, juga dapat mengikis rasa percaya dirinya (merasa dirinya tidak mampu). Oleh karena itu, marilah kita ciptakan suasana yang kondusif dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Suasana yang menyenangkan dapat membantu anak lebih mudah dalam menerima pelajaran, ia akan merasa nyaman atas setiap tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya (Husain:2007).  yer

 

continue
0
Nov18

Mendampingi anak sukses tidak cukup dengan kesabaran, kasih sayang dan sikap lembut saja. Orangtua yang sukses harus memiliki ilmu dan wawasan yang cukup (Syamsuddin Noor:2009). Hal ini untuk menghindari terjadinya kesenjangan yang terlalu jauh antara pengetahuan yang dimiliki orangtua dengan anak.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Banyak orangtua merasa heran dengan dirinya, mengapa semakin bertambah usia anak, semakin banyak hal yang dirasakan ‘tidak nyambung’, terutama ketika berbicara dengan anaknya. Hal yang sama juga dirasakan oleh anak, ia merasa tidak nyambung jika ‘ngobrol’ dengan orangtuanya, sehingga ia lebih memilih berbicara pada temannya. Anak menganggap orangtuanya ‘tidak akan mengerti’ dengan urusan atau masalah yang sedang dihadapinya. Kondisi seperti ini sebaiknya tidak dibiarkan berlangsung dalam waktu yang lama. Orangtua yang kurang wawasan dan kurang berkembang pola berpikirnya dapat mempengaruhi minat diskusi anak. Ia akan merasa enggan dan mungkin memutuskan tidak perlu menceritakan hal tertentu kepada orangtua karena dianggap akan ‘tidak nyambung’ dan hanya sia-sia saja.

 

Ketika wawasan dan pengetahuan orangtua tertinggal jauh dari apa yang diketahui  anak, ia akan berbicara dengan orangtuanya terbatas pada hal-hal yang sederhana dan mendasar saja, misalnya berbicara mengenai menu makanan, pakaian atau cerita sederhana lainnya.

 

Perbedaan cara berpikir yang terlalu jauh antara anak dan orangtua sering kali menimbulkan konflik atau perbedaan pendapat. Di sinilah pentingnya orangtua memiliki wawasan dan cara berpikir yang luas. Kematangan berpikir bukan berarti orangtua dituntut harus memiliki pengetahuan dan wawasan seperti yang dimiliki oleh anaknya yang sudah lulus S3 atau sekolah tinggi, tetapi setidaknya orangtua dapat mengimbangi pola pikir anak sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara anak dengan orangtuanya.

 

Meninngkatkan wawasan tidak harus melalui jalur pendidikan formal, orangtua bisa mengikuti seminar, pelatihan, atau yang paling mudah adalah dengan memperbanyak membaca, baik buku, majalah, atau tabloid. Semakin luas wawasan atau ilmu yang dimiliki orangtua, akan semakin bijaksana dalam menyikapi segala perkembangan yang terjadi pada anak. Percayalah, setinggi apapun gelar anak, ia tetap mengharapkan pandangan dan wawasan orangtua untuk membantu memecahkan masalahnya. (yer)

 

continue
0
Nov9

Ibu adalah seseorang yang memegang peranan penting dalam keluarga, seperti halnya bapak. Banyak hal yang karenanya menjadi lebih baik. Misalnya saja, rumah menjadi rapi dan bersih karena ibu yang rajin merawatnya, makanan yang selalu tersedia karena ibu memasak atau menyediakannya setiap hari, begitu juga dengan terbentuknya anak-anak yang berperilaku baik, cerdas dan bertanggung jawab karena ibu yang senantiasa membimbing, mendo’akan dan mengarahkannya.