• SKACI

    Sekolah Komputer Anak Cinta Indonesia

    Bermain adalah hak anak. Membuatnya hebat dan berprestasi adalah kewajiban orangtua. Membimbing anak bermain agar jadi jago IT/Komputer adalah tugas kami

    Buton

  • Fahma-Hania

    Karya-karya Fahma-Hania

    Aplikasi-aplikasi buatan Fahma-Hania


    Buton

  • SiGokil

    Capture beautiful moments, interesting sights, something weird, accidents, crimes, or just yourself and share from your exact position. Sell or find stuff near you, and bid or offer using this app. Track your children, spouse, even your vehicles

    Buton

  • SiGokil Solutions

    Give implementable mobile solutions to accommodate the needs of mobile reporting, mobile surveying, mobile monitoring, mobile tracking, and back-end analyzing, to improve efficiency and effectiveness

    Buton

  • ACI Corporation

    Attentive Creations International is a mobile and web applications developer. We develop perfection in all applications we built. We have been the biggest part of industries solutions.

    Buton

1
Okt3

Negosiasi merupakan sebuah upaya untuk mencapai kesepakatan bersama yang dapat memberikan keadilan bagi semua pihak. Kegiatan negosiasi ini bukan saja diberlakukan kepada orang dewasa saja, tetapi juga kepada anak-anak.

 

Discuss With Kid : Happy mother having conversation with her daughter and give advices isolated on white background

Ilustrasi: www.123rf.com

Ketika sebuah peraturan di dalam keluarga akan diberlakukan, sebaiknya orangtua membicarakannya terlebih dahulu kepada anak.  Berilah anak kesempatan untuk melakukan negosiasi terhadap peraturan tersebut. Mungkin ada hal-hal yang dirasakan memberatkan anak sehingga anak perlu melakukan negosiasi kepada orangtuanya.

 

Di lingkungan kita, banyak sekali orangtua yang tidak peduli dengan pendapat atau keinginan anak. Mereka menetapkan suatu aturan hanya berdasarkan pendapat mereka saja. Sifat egois orangtua yang menganggap diri selalu benar dan cenderung menganggap remeh pendapat anak merupakan sifat buruk yang perlu dihindarkan. Misalnya, orangtua tidak mau mendengarkan pendapat anak, mereka tidak memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan negosiasi dengan mengucapkan ‘Tidak’ atau ‘Sudahlah, pokoknya….’ dengan nada yang tegas.

Sesungguhnya, setiap anak berhak untuk ‘bersuara’, menyampaikan pendapatnya dan melakukan negosiasi (Mathew:2007), karena anak adalah mitra dalam keluarga, ia perlu diikutsertakan dalam pembuatan keputusan terutama yang memiliki dampak terhadapnya.

Anak-anak maupun orang dewasa apabila terlalu dikontrol atau tidak didengar ‘suaranya’, biasanya akan melawan dengan berbagai cara. Bagi anak mungkin ia akan melawan dengan melakukan sikap tidak peduli, melupakan, membantah atau tidak mematuhi peraturan yang dibuat oleh orangtuanya.

Perlu orangtua ketahui, ketika seseorang sudah menyetujui sebuah peraturan melalui negosiasi, biasanya ia akan mematuhinya. Oleh karena itu, apabila orangtua menginginkan anaknya melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diharapkan, negosiasi dengan anak merupakan solusi yang lebih baik (yer).

1 Komentar

  1. Saya sependapat sekali dengan postingan Bu Yusi ini. Menutup pintu negosiasi adalah salah satu jalan masuknya pengingkaran sang anak terhadap ...

continue
1
Jan9

Jika kita sadari, orangtua adalah orang yang sepanjang hidupnya akan selalu mencintai kita dengan sepenuh hati. Bagaimanapun kondisi fisik dan sifat buah hatinya, mereka akan tetap menyayangi dan mencintainya. Hanyalah orangtua yang selalu mampu mencintai buah hatinya tanpa pamrih. Orangtualah yang pertama kali akan merasa sangat sedih dan khawatir ketika buah hatinya sakit atau menderita. Cinta, kasih dan sayang orangtua terhadap buah hatinya tak akan pernah tergantikan. Dalam segala keterbatasannya, orangtua selalu ingin dapat memberikan yang terbaik untuknya. Tetapi mungkin tidak semua anak mampu mengerti dan memahami apa yang dirasakan orangtua sehingga mereka berani dan rela melakukan segalanya untuk membahagiakan sang buah hati.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Dalam perjalanan membesarkan buah hatinya, tidak sedikit orangtua yang akhirnya menerima keluhan, kritik dan bahkan mungkin sikap yang kurang baik dari anak yang dibesarkannya. Keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya menjadi sesuatu hal yang seolah-olah tidak dapat ia terima.

 

Ketika kita selalu merasa kurang pada apa yang telah orangtua berikan dan lakukan pada kita sebagai anak, marilah kita ingat kembali dan bayangkan kehidupan ayah dan ibu sebelum kita lahir. Bayangkan bagaimana wajah mereka ketika baru memulai semua ini: bahagia, penuh semangat, saling berusaha mengenal satu sama lain. Kemudian, mereka tahu kita sebagai anak akan hadir. Hati mereka sangat senang. Mereka membelikan kita pakaian, merancangkan kamar tidurnya. Mereka ingin melakukan segala sesuatunya dengan baik dan benar untuk buah hati tercintanya. Kemudian, bayi itu lahir. Mereka menggendongnya, membawanya pulang dan memamerkannya pada setiap orang. Ketika kitamasih bayi, kita sangat tidak berdaya, merekalah yang merawat dan menjaganya dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Mereka melepaskan tangan kita di hari pertama sekolah. Mereka menjawab semua pertanyaan yang kita ajukan. Mereka mengantar kita ke tempat-tempat latihan.

 

Tetapi, kemudian sesuatu terjadi: Kita berubah menjadi seorang remaja. Sekarang dorongan dan nasihat mereka terdengar seperti omelan, kehadiran mereka membuat kita tidak leluasa. Mereka bingung. Mereka melakukan hal yang sama seperti yang dulu biasa mereka lakukan, tapi kini kita tidak menyukainya lagi. Sekarang, tolong bayangkan orangtua kita sebagaimana adanya hari ini. Mereka tetap ingin berbuat yang terbaik untuk kita (anak-anaknya), karena mereka mencintaimu.

 

Seandainya ada ucap atau sikap salah yang mungkin orantua tidak sengaja melakukannya sehingga melukai perasaan kita, dapatkah kita memaafkannya? bagaimanapun juga orangtua adalah orang yang selalu ingin memberikan yang terbaik dan melihat buah hatinya bahagia (Bobbi:2011). (yer)

 

1 Komentar

  1. memang anak harus di negoisasi tetapi jangan telalu banyak menegoisasi

continue
0
Des1

Setiap manusia tidak luput dari salah, disengaja ataupun tidak, orangtua maupun anak pasti pernah melakukan kesalahan. Jangankan anak-anak, orangtua juga masih sering melakukan kesalahan.

 

Kesalahan yang dilakukan anak banyak ragamnya, ada kesalahan yang memang serius dan ada juga yang karena ketidaktahuannya ia melakukan suatu kesalahan. Anak yang melakukan suatu kesalahan karena ketidaktahuannya sering dianggap konyol, oleh karena itu masih banyak orangtua yang senang mentertawakan dan melecehkan anak ketika mengetahui anaknya melakukan suatu kesalahan yang dianggap konyol. Misalnya, anak membuka tutup kaleng, lalu karena tidak pakai alat yang sesuai, makanan yang ada di dalam kaleng tersebut nyiprat ke wajah dan bajunya, pada saat seperti itu orangtua mengomentarinya seperti ini, ‘Aaaah, dasar ‘Si Oon (bodoh)’, membuka kaleng saja gak bisa!”. Walaupun dengan nada bercanda, namun hal tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh anak. Boleh jadi tindakan orangtua seperti itu dapat membuat anak merasa malu atau bahkan jadi tidak percaya diri.

 

Hal yang sangat dikhawatirkan jika orangtua selalu menyebut anak dengan panggilan yang ‘buruk’ ketika ia melakukan suatu kesalahan, akan membuat anak menjadi tidak kreatif. Ia akan selalu merasa takut diolok-olok dengan panggilan ‘Si Oon’ ketika ia melakukan suatu kesalahan, sehingga ia tidak mau mencoba hal yang baru.

 

Orangtua bijak tentu tidak akan mengolok-olok anak dengan panggilan yang tidak menyenangkan ketika ia tahu anaknya melakukan suatu kesalahan. Tindakan tersebut selain dapat menghambat kreativitas anak, menghilangkan rasa percaya dirinya, juga dapat meninggalkan luka batin pada diri anak (sedih, kecewa, dan malu).

 

Hindarkanlah sikap memperolok-olok anak dengan panggilan yang tidak menyenangkan, selain tidak baik, kita juga sebagai orangtua belum tentu selalu benar dan lebih baik darinya.

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (pnggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Al-Hujurat:11)

 

Bersikaplah bijaksana ketika mengetahui anak melakukan suatu kesalahan, berikanlah arahan, bimbingan dan motivasi kepadanya agar ia mampu ’belajar hidup lebih baik’ dari kesalahan yang pernah ia lakukan. Janganlah orangtua memperolok-olokkan anak dengan memanggilnya dengan sebutan yang tidak baik, seperti si oon, si bego, si ablahu atau panggilan buruk lainnya. Walaupun ia melakukan kesalahan, panggilah ia dengan sebutan yang baik, misalnya si pinter, si ganteng…,panggilan tersebut boleh jadi adalah do’a. (yer)

 

continue
2
Nov29

Waktu 24 jam sehari rasanya tidak cukup, terutama bagi ibu yang baru saja memiliki sang buah hati. Mulai bangun pagi sampai larut malam ibu sibuk mengurusnya. Memandikan, memberi makan, mengganti popok, dan memberi ASI menjadi pekerjaan rutin yang harus ia lakukan.

 

Kelahiran sang buah hati sering membuat ibu lebih terfokus padanya, sehingga sering kali ibu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang juga harus diperhatikan, yaitu ayah dari sang buah hati (suami).

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Bagi pasangan suami-istri yang tidak memiliki baby sitter, melibatkan sang ayah untuk bersama-sama mengurus buah hati merupakan kesempatan yang sangat baik. Selama mengurus sang buah hati, ibu dan ayah bisa saling bercerita, mencurahkan kasih sayang, memberikan cinta dan perhatian. Misalnya,  ayah dan ibu bersama-sama mengajak sang buah hati jalan-jalan di taman atau ketika ibu memandikan, ayah menyediakan pakaiannya. Dengan bekerja sama seperti itu, diharapkan komunikasi antara ibu dan ayah akan selalu terjalin dengan harmonis. Ayah akan merasa diperhatikan oleh ibu, begitu juga sebaliknya.

 

Beruntung bagi keluarga yang memiliki baby sitter, untuk sementara waktu ibu dapat menitipkan sang buah hati padanya. Pada kesempatan seperti ini, ibu dapat membuat sebuah rencana yang dapat menciptakan suasana bersama ayah menjadi lebih dekat dan harmonis. Misalnya, ibu menemani ayah makan malam, berbincang atau bercanda berdua. Kondisi seperti ini perlu terus dipertahankan supaya keharmonisan berumah tangga tetap terjaga. Sesibuk apapun ibu mengurus sang buah hati atau sesulit apapun ibu membagi waktu, ibu tetap harus dapat menyediakan waktu berkualitas berdua dengan sang ayah. Ciptakanlah selalu kebiasaan untuk saling bercanda, bercengkrama, berbagi kebahagiaan, saling memberikan cinta, dan mencurahkan kasih sayang di antara ibu dan ayah.

 

Bagaimanapun juga, hubungan suami-istri (ibu dan ayah) merupakan sebuah titik pusat tumpuan keluarga. Jangan sampai hubungan antara ibu dan anak menghalangi apa yang seharusnya menjadi titik tumpuan yang diatasnyalah keutuhan keluarga akan bergerak. Sebagaimana sang buah hati akan tumbuh menjadi besar, hubungan suami-istripun sebagai ayah dan ibu harus terus berkembang dengan baik  (Janice Fixter, 2006). Jadikanlah kehadiran sang buah hati sebagai pengikat tali batin antara suami dan istri, kehadirannya semakin menambah rasa saling menyayangi, mencintai, menghargai, dan empati. (yer)

 

2 Komentar

  1. Error: Unable to create directory /var/www/html/anakhebat/wp-content/uploads/2014/12. Is its parent directory writable by the server? Yusi Elsiano Rosmansyah says:

    Amiiiin..., semoga keluarga mBak Uchy selalu bahagia ya... yakinlah bahwa segala hal kalau diupayakan dengan sungguh-sungguh Insyaalloh hasilnya akan maksimal.... ...

  2. Uchy says:

    Setuju.. Saya ingin sekali keluarga saya bisa seperti itu. Semoga yaa:-)

continue
0
Okt1

Hai sahabatku yang setia….

 

Selamat datang dan bergabung kembali di blog ini…

Setelah beberapa tahun saya tidak mengisi blog ini rasanya rindu sekali ingin segera bisa menulis dan bertegur sapa dengan sahabat semua. Banyak sekali hal yang ingin saya sharing dengan sahabat semua, terutama mengenai perkembangan anak dan segala pengalaman sebagai orangtua.

 

Senang sekali rasanya saya bisa bertemu sahabat semua dan mengisi blog kesayangan ini lagi. Oh iya sahabat.., supaya lebih bersemangat lagi, tampilan blog Perkembangan Anak kini diganti dengan versi baru yang lebih segar…

 

Dalam rangka meningkatkan kualitas blog dan tulisan yang ditampilkan nanti, saya mohon kiranya sahabat-sahabat berkenan memberikan masukan. Hal-hal apa saja yang perlu ditambahkan atau dirubah dalam blog ini sehingga sahabat-sahabat bisa lebih senang dan nyaman berkunjung ke blog ini.. Terima kasih atas kunjungannya ya….InsyaAlloh saya akan berusaha seperti dulu, menampilkan tulisan baru setiap hari, do’ain ya semoga saya bisa …

 

Satu hal yang sangat penting bangeeeet hehe…. Kutunggu masukannya ya…. Terima kasih….

 

Salam bahagia selalu,

 

Yusi

continue
Dua Buku Fahma+Hania Bikin Animasi&Game Telah Terbit

Bagi Pembaca dan Putra-Putrinya yang jauh dari SKACI, silakan bisa belajar mandiri dengan menggunakan buku ini:
* Foto Dua Buku dan Lokasi SKACI Bandung Dago di Peta
* Informasi mengenai Buku dari Penerbit
rss
rss

Hak cipta semua artikel di web ini adalah milik Yusi Elsiano Rosmansyah, kecuali jika ada penulis lain, namanya akan ditulis secara eksplisit di artikel terkait. Jika Pembaca ingin menggunakan artikel-artikel ini untuk tujuan sosial atau nirlaba (misalnya, buletin yayasan, studi kasus), saya hanya mohon SATU etika akademis saja, yaitu: "CANTUMKAN NAMA PENULIS (Yusi Elsiano Rosmansyah) DAN ALAMAT WEB INI (www.PerkembanganAnak.com)". Mari kita sebarluaskan dan amalkan ilmu pengetahuan dengan bijaksana.