Okt24
Bermalam di luar rumah dengan mendirikan tenda sering memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan, terutama untuk anak-anak. Ada suasana berbeda ketika sedang berkemah. Suasana kebersamaan dan keceriaan seringkali dapat dirasakan ketika sedang berkemah.
Kegiatan berkemah tidak hanya dilakukan oleh lembaga atau sekolah, keluargapun dapat merencanakan hal serupa, berkemah bersama anak-anak. Bedanya, orangtua sering merasa khawatir ketika sekolah meminta izin supaya anak dapat ikut berkemah. Memang serba salah, jika diizinkan khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tetapi jika tidak diizinkan orangtua merasa bersalah karena anak tidak dapat pengalaman baru bersama teman-temannya. Selain itu, kadang-kadang anak kecewa jika orangtua tidak mengizinkannya ikut dalam kegiatan tersebut. Anak beranggapan orangtuanya tidak pengertian dan tidak mau memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa bersenang-senang bersama teman.
Memberikan izin kepada anak untuk ikut berkemah memang tidak mudah, terutama jika orangtua tersebut tidak pernah melepas anak tinggal dengan orang lain. Kondisi seperti ini akan cenderung membuat orangtua ingin melarang anak agar tidak jadi ikut berkemah. Membiarkan anak pergi berkemah boleh jadi akan membuat perasaan orangtua menjadi terasa sangat tersiksa. Bayangan-bayangan negatif yang mungkin terjadi pada diri anak selama di perkemahan akan terasa sulit sekali untuk dihapuskan.
Menyikapi hal di atas, orangtua seyogyanya meyakinkan terlebih dahulu bahwa anak akan mengikuti acara berkemah bersama orang-orang yang dapat dipercaya dan di lokasi yang tidak membahayakan (aman). Bila semuanya sudah jelas, janganlah orangtua lupa untuk memberikan penjelasan kepada anak tentang apa saja yang harus dilakukan apabila ia mendapatkan kendala saat berkemah. Selain itu, pesankan kepada anak dengan cara bijak agar ia selalu menjaga diri dengan baik (yer).
Sejatinya, banyak nilai positif yang dapat diambil oleh anak melalui kegiatan berkemah ini. Beberapa di antaranya adalah mengajarkan anak bagaimana bertahan hidup, belajar bekerja sama dengan orang lain, belajar perencanaan, belajar bagaimana cara membuat tempat untuk beristirahat yang nyaman dan aman. Selain itu, berkemah juga baik untuk merangsang kecerdasan natural (naturalist intelligence). Senada dengan Maya & Wido (2006) menyatakan bahwa memberikan kesempatan berada di ruang terbuka kepada anak dapat mendorong anak mengetahui banyak informasi dan pengetahuan tentang bentuk-bentuk alam yang ada di sekitarnya.

Okt17
Memberikan hukuman kepada anak apalagi dengan cara kekerasan karena suatu kesalahan atau sebaliknya memberikan hadiah berupa sesuatu yang tidak diperlukan anak karena dianggap telah bersikap baik adalah tindakan yang kurang bijaksana.
Memberi hukuman secara fisik seperti memukul, mencubit atau menjewer tidak baik dilakukan walaupun dengan alasan untuk mendidik anak. Dengan memberikan hukuman seperti itu belum tentu anak mengerti apa kesalahannya. Apalagi kalau orangtua tanpa membicarakannya terlebih dahulu. Suatu saat anak bisa saja tidak melakukan kesalahan yang pernah ia lakukan, tetapi boleh jadi bukan karena ia memahami bahwa tindakannya tersebut adalah tidak baik. Ia tidak melakukan tindakan tersebut karena takut akan mendapatkan hukuman yang mungkin lebih berat lagi. Ada kasus, anak tidak memukul temannya ketika sedang bermain bersama karena ada orangtua atau orang lain di sekitarnya, tetapi ketika tidak ada yang lain di dekatnya maka ia akan mengulangi perbuatannya tersebut.
Ketika orangtua melihat anak melakukan tindakan tidak baik, sebaiknya orangtua tidak menegurnya dengan kekerasan fisik. Ajaklah anak untuk berbicara, cobalah untuk mendengarkan apa yang menjadikan ia melakukan hal yang tidak baik tersebut. Selanjutnya, berikanlah arahan bagaimana sebaiknya ia berperilaku baik. Selain itu ajaklah anak supaya belajar berempati atau merasakan apa yang orang lain rasakan akan sama dengan apa yang kita rasakan. Misalnya, kalau kita mencubit maka orang tersebut akan merasa sakit, begitu juga sebaliknya jika kita dicubit maka kitapun akan merasakan hal yang sama, sakit. Dengan mengajarkan anak untuk berempati, sebelum bertindak anak akan terbiasa berfikir.
Sama halnya dengan memberikan hadiah kepada anak. Ketika anak melakukan sesuatu perbuatan yang baik, ada baiknya orangtua memberikan apresiasi kepada anak berupa pujian yang sewajarnya tentunya, tidak langsung menjanjikan akan dibelikan mainan atau makanan yang sebenarnya anak tidak memikirkan hal tersebut. Akan lebih baik pujilah anak karena perbuatan atau perilaku baiknya. Misalnya, karena anak sudah mau bermain dan berbagi dengan temannya, berikan apresiasi kepadanya dengan mengatakan “ waaah, anak mama hebat ya punya banyak teman…atau Kakak memang anak yang baik ya, mau berbagi dengan adik…”. Dengan demikian anak akan merasa bangga pada kemampuan dirinya. Ketika orangtua terus memperhatikan dan memotivasi perilaku baiknya, anak akan terus berupaya mengembangkan perilaku baiknya. Anak akan merasa bahagia karena dirinya diperhatikan, dimotivasi, dan dibanggakan orangtuanya. Anak melakukan hal-hal yang baik (berperilaku baik) bukan karena ingin mendapatkan hadiah semata misalnya mendapatkan uang atau permen tetapi karena rasa senang dapat membuat orangtuanya bahagia (yer). Wiwien Dinar Pratisi (2008) mengatakan bahwa hadiah yang paling baik atas tindakan positif anak adalah memberikan pujian kepadanya. Pujian yang diberikan orangtua akan membuat anak merasa bangga.
