• SKACI

    Sekolah Komputer Anak Cinta Indonesia

    Bermain adalah hak anak. Membuatnya hebat dan berprestasi adalah kewajiban orangtua. Membimbing anak bermain agar jadi jago IT/Komputer adalah tugas kami

    Buton

  • Fahma-Hania

    Karya-karya Fahma-Hania

    Aplikasi-aplikasi buatan Fahma-Hania


    Buton

  • SiGokil

    Capture beautiful moments, interesting sights, something weird, accidents, crimes, or just yourself and share from your exact position. Sell or find stuff near you, and bid or offer using this app. Track your children, spouse, even your vehicles

    Buton

  • SiGokil Solutions

    Give implementable mobile solutions to accommodate the needs of mobile reporting, mobile surveying, mobile monitoring, mobile tracking, and back-end analyzing, to improve efficiency and effectiveness

    Buton

  • ACI Corporation

    Attentive Creations International is a mobile and web applications developer. We develop perfection in all applications we built. We have been the biggest part of industries solutions.

    Buton

1
Nov12

Ketika anak melakukan suatu kesalahan atau ketidaksengajaan, misalnya menumpahkan makanan hingga berceceran di lantai atau memecahkan gelas, sering kali orangtua langsung bereaksi menegur dan bahkan memarahinya. Lain halnya ketika anak melakukan sesuatu yang baik, seperti membuang sampah pada tempatnya, membereskan bekas makan, atau membantu menjaga adik,orangtua sering lupa memberikan apresiasi kepadanya.

 

Appreciation To Children : A woman watching her daughter eating a slice of orange.

Ilustrasi: www.123rf.com

Kebanyakan orangtua hanya ‘memperhatikan’ atau bereaksi ketika tahu anaknya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Sebaliknya, ketika anak melakukan hal-hal yang baik, orangtua seringkali tidak memperhatikannya. Mereka menganggap seolah-olah perilaku baik itu memang seharusnya dilakukan oleh anak. Padahal, perilaku baik merupakan sesuatu yang harus diajarkan, dirangsang dan dibiasakan, sehingga untuk dapat berperilaku baik, seorang anak perlu dimotivasi dan diapresiasi.

 

Bentuk apresiasi dapat diberikan dalam bentuk pujian, pelukan dan ciuman atau pemberian hadiah walau dalam bentuk yang sederhana. Sekecil apapun bentuk apresiasi yang diberikan orangtua kepada anak akan memberikan pengaruh yang luar biasa kepadanya. Anak akan merasa senang dan bangga, sehingga ia akan terus termotivasi dan mencoba hal baru untuk melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Selain itu, rasa percaya dirinya pun akan semakin berkembang dengan baik. Ia akan merasa bahwa ia mampu memberikan dan melakukan sesuatu dengan baik. Sebaliknya, jika orangtua pelit memberikan pujian atau apresiasi kepada anak, akan mengakibatkan sang anak putus asa dan membuatnya enggan berbuat dan berperilaku baik. Ia akan beranggapan semua itu sia-sia (Ali Hasan: 2012).

 

Semakin sering orangtua memberikan perhatian atas tindakan yang kurang baik (menegur, menasehati, memarahi), anak akan semakin sering melakukan hal-hal yang tidak orangtua inginkan. Ia akan beranggapan suapaya diperhatikan orangtuanya, ia harus melakukan hal-hal yang buruk yang tidak disukai orangtuanya. Oleh karena itu, suapaya anak semakin sering berusaha melakukan hal-hal yang baik, marilah kita perbanyak ‘memperhatikan’ perilaku baiknya dengan memberikan apresiasi kepadanya. (yer)

1 Komentar

  1. sumardiana udin says:

    sy sependapat dg apresiasi untuk anak,untuk menumbuhkan rasa percya diri.

continue
4
Apr16

Kewajiban orangtua mendidik anak bukan hanya ketika anak masih usia bayi hingga pra sekolah saja, sesungguhnya orangtua wajib mendidik anak sepanjang masa sesuai dengan kebutuhan anak tersebut.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab mendidik anak kepada pihak sekolah ketika anak mulai bersekolah tentu keputusan yang kurang bijak. Di sekolah pada umumnya guru akan lebih fokus mengajarkan ilmu-ilmu akademis daripada pendidikan akhlak atau  budi pekerti. Hanya sedikit saja waktu guru di kelas mengajarkan anak mengenai akhlah, itu pun mungkin hanya pada saat anak menerima pelajaran tentang agama.

 

Baik dan buruknya perilaku anak sangat tergantung pada bagaimana orangtuanya mendidik dan membesarkannya. Orangtua tidak dapat berharap anak-anaknya menjadi seseorang yang baik dan berbudi luhur hanya karena sudah menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal dan terkenal. Banyak sekali hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku dan emosi anak selama anak di sekolah. Pergaulan anak dengan teman-teman yang lainnya dapat berpengaruh terhadap perilakunya. Keterbatasan waktu dan banyaknya anak didik di sekolah menyebabkan guru tidak dapat fokus mendidik atau mengajarkan akhlak dan budi pekerti secara orang perorangan. Oleh karena itu, campur tangan orangtua dalam mendampingi, mengasuh dan mendidik anak sangatlah penting (Umi Munawaroh:2011). Orangtua harus peduli dan tanggap terhadap pendidikan anak terutama yang berhubungan dengan kebutuhan jiwanya, seperti menanamkan sifat jujur, disiplin, tanggung jawab, mengajarkan bagaimana mengelola emosi dan perasaannya, merasa dicintai dan disayangi. Dengan demikian anak akan faham mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Dengan pola asu yang baik, anak akan merasa tenang, senang dan percaya diri. Anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan penuh cinta, perhatian dan kasih sayang akan membuat anak mampu menyayangi dan mencintai orang-orang yang ada di sekitarnya.

 

Pada dasarnya, pengasuhan dan pengawasan orangtua pada anak seperti sebuah saringan yang dapat memisakan sesuatu yang bermanfaat dengan yang tidak. (yer).

4 Komentar

  1. Yusi Elsiano Rosmansyah Yusi Elsiano Rosmansyah says:

    Amin...silakan untuk menggunakan artikel ini sebagai referensi, nitip aja ya untuk mencantumkan nama pemilik web site ini. terima kasih.

  2. Pipin says:

    Semoga artikel ini bermanfaa sebagai referensi. Terimakasih,

continue
0
Feb9

Ketika kita memperhatikan dunia anak, tampaknya masa anak-anak itu adalah masa yang selalu indah dan menyenangkan. Mereka selalu bersenang-senang dengan bermain dan hidup seolah-olah tanpa memiliki beban atau masalah. Ketika ia ingin sesuatu, mereka tinggal minta pada orangtua. Ketika kita perhatikan lebih dekat, perjalanan hidup anak sebenarnya tidak selamanya senang dan bahagia. Kadang-kadang anak juga menghadapi perjalanan hidup yang dapat membuatnya merasa sedih, kecewa, resah, dan kesal. Saat seperti inilah biasanya anak sangat membutuhkan kehadiran orangtua. Kepada orangtualah mereka berharap dapat mencurahkan segala hal yang sedang dirasakannya.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Sayangnya, tidak semua orangtua tahu dan mau mendengarkan keluh kesah anak. Adanya keterbatasan orangtua, baik dari sisi pengetahuan maupun waktu sering menyebabkan orangtua tidak dapat memenuhi harapan anak tersebut. Kadang-kadang ada juga orangtua yang tidak mau mendengarkan keluh kesah anak karena menganggap anaknya tidak dewasa, kekanak-kanakan dan membuat orangtua kesal. Misalnya, anak menjadi tidak mau pergi ke sekolah karena mengeluh sering diolok-olok teman. Orangtua banyak yang tidak tanggap terhadap masalah seperti ini. Orangtua menganggap hal itu hanya sebagai alasan saja karena ia tidak mau sekolah. Orangtua seperti ini bukannya membantu menyelesaikan masalah anak tersebut tetapi sebaliknya malah memarahi anak. Orangtua bijak tentu akan mencari tahu terlebih dahulu cerita anak yang sesungguhnya. Mungkin saja apa yang dikatakan anak tersebut adalah benar. Orangtua harus membantu anak menyelesaikan masalah itu, misalnya dengan memberitahukan hal ini kepada pihak sekolah. Dengan tindakan orangtua seperti itu, anak akan merasa aman dan berharga di mata orangtuanya.

 

Sejatinya, mendengarkan keluh kesah anak adalah hal yang sangat penting. Dengan mendengarkan apa yang diungkapkan oleh anak berarti orangtua memberikan waktu kepadanya. Anakpun akan terhindar mencari tempat untuk curhat dan mengadu pada orang lain yang mungkin saja dapat menjerumuskan dirinya. Berbahagialah orangtua ketika anak mau menceritakan segala keluh kesahnya kepada mereka. Mendengarkan keluh kesah anak membuat orangtua dapat dengan segera memberikan solusi yang tepat bagaimana memecahkan masalah hidup yang sedang atau yang mungkin saja terjadi kepada sang anak. Semua tanggapan, arahan, bimbingan, nasehat, dan pemecahan masalah yang diberikan orangtua kepada anak akan membuatnya menjadi lebih dewasa dalam bersikap. Selain itu, sikap baik orangtua dalam menerima keluh kesah anak akan selalu menjadi kenangan indah bagi dirinya. Anakpun akan mengenang orangtuanya sepanjang masa (Ferdinan M. Fuad, 205). (yer)

continue
2
Jan13

Ketika seseorang berbicara tentang sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan atau fakta, seseorang tersebut sedang berbohong. Bohong itu ada beberapa macam, ada bohong yang dibuat-buat seperti bercerita tentang sesuatu yang seolah-olah terjadi, padahal cerita tersebut tidak pernah terjadi, ada juga bohong ‘putih’, yaitu bohong untuk menutupi sesuatu karena dianggap jika berkata jujur akan membahayakan, misalnya tidak menjawab dengan menceritakan pembicaraan seseorang yang kurang baik kepada orang yang bersangkutan, hal tersebut akan mengakibatkan orang yang bersangkutan membenci orang yang membicarakannya tersebut.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Berkata bohong kadang-kadang dapat membuat suasana menjadi lebih baik, misalnya dengan melakukan berbohong ’putih’, tetapi sekecil apapun berbohong sebaiknya tidak dilakukan, selain berbohong itu adalah dosa juga dapat mempersempit rezeki (Umar Abdul Kafi:2008).

 

Berbohong jika sering dilakukan akan menjadi kebiasaan. Jika anak terbiasa berbohong dengan hal-hal kecil, lama kelamaan akan menjadi terbiasa berbohong dengan hal-hal besar, akhirnya ia akan terbiasa berbohong untuk banyak hal pada banyak orang, hasilnya orang lain akan sulit mempercayainya.

 

Ketika kebiasaan berbohong terbawa sampai dewasa, ia akan mendapat kesulitan untuk dipercaya oleh orang lain, sehingga kesempatan mendapatkan rezeki (uang) akan terhambat. Misalnya, karena ia sering berbohong, sedikit sekali orang yang mau menggunakan jasanya atau mempekerjakannya, akhirnya kesempatan mendapatkan rezeki menjadi hilang.

 

Perlu ditekankan pada anak, berbohong itu selain merugikan juga mempersulit diri sendiri. Ketika satu kali seseorang itu berbohong, biasanya ia harus berbohong lagi. Ia harus berfikir keras untuk menyembunyikan sesuatu yang tidak benar dengan cara berkata bohong lagi, karena satu kebohongan biasanya harus ditutupi dengan kebohongan lain.

 

Oleh karena itu, penting bagi orangtua menanamkan sikap jujur kepada anak sejak kecil. Menanamkan sikap jujur pada anak dapat dilakukan dengan banyak cara, misalnya dengan memberikan contoh menghindarkan berkata bohong dalam kehidupan sehari-hari, memberikan nasihat dan pengertian bagaimana akibatnya jika seseorang tidak dipercaya karena suka berbohong. Dengan cara seperti itu, diharapkan anak akan mengerti dan memahami pentingnya bersikap jujur dalam menjalankan hidup ini. (yer)

 

2 Komentar

  1. Yusi Elsiano Rosmansyah Yusi Elsiano Rosmansyah says:

    Betul teh Decy..., oleh karena itu..marilah kita hindarkankan berkata bohong, supaya anak juga selalu bersikap jujur dan terbuka. Apabila seseorang ...

  2. decy says:

    dengan berkata bohong kepada anak/didepan anak berarti megajar anak berbohong

continue
0
Jan10

Setiap manusia, baik itu orang dewasa maupun anak-anak pasti memiliki perasaan yang sama, yaitu ingin dipahami dan dimengerti. Jika orang dewasa merasa tidak senang ketika dirinya tidak dipahami dan dimengerti dengan banyak kritik, anak-anak juga akan merasakan hal yang sama. Ini terbukti ketika orangtua sering memberikan kritik terhadap apa yang dilakukan anak, ia akan cenderung marah atau tidak mau menerima kritikan tersebut.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Ketika anak melakukan suatu kesalahan, berusahalah untuk tidak cepat memberikan kritik padanya. Bersikaplah mengerti dan empati terhadap apa yang dilakukan anak, tidak langsung mengkritik atau memarahinya. Kesalahan yang dilakukan anak tersebut mungkin saja karena ketidaksengajaan, ada sesuatu yang telah membuatnya panik sehingga ia lupa atau mungkin karena ia sedang mengalami banyak tekanan dan sedih.

 

Marilah kita mencoba untuk berempati pada kasus berikut ini:

Seorang ibu sedang sibuk memasak dan menyiapkan makan pagi, tiba-tiba sang anak menangis ingin dibuatkan susu. Pada waktu bersamaan, sang ayah meminta sang ibu mencarikan kunci mobil karena ia lupa menyimpannya padahal ia harus segera berangkat bekerja. Kondisi seperti ini akan membuat sang ibu menjadi tidak fokus, ia jadi lupa bahwa pada saat itu ia sedang memasak, akibatnya masakan menjadi gosong.

 

Pada kasus seperti di atas, sang ibu pasti akan sangat sedih dan bahkan kecewa apabila sang ayah malah mengomentari masakan yang sudah gosong dengan kritikan. Dalam kondisi seperti itu, ibu tentu berharap ayah bisa mengerti dan memahaminya, pagi itu ibu sangat sibuk, banyak hal yang harus dikerjakan dalam waktu yang bersamaan, sehingga masakan menjadi gosong.

 

Sedih dan kecewa yang dirasakan ibu akan sama dengan yang dirasakan anak ketika ia sedang tidak dimengerti dan dipahami oleh orangtuanya. Tentu akan berbeda situasinya jika dalam kasus di atas sang ayah mau memahami dan mengerti kondisi sang ibu, tidak langsung mengomentari atau mengkritik pekerjaan ibu yang sudah gagal. Dengan pengertian dan empati , ibu mungkin akan lebih mudah menerima kesalahan yang telah dilakukan. Begitu juga pada anak, selain ia akan mampu menerima nasehat dari orangtuanya, ia juga akan memiliki semangat untuk memperbaiki perilaku salahnya dengan senang hati.

 

Sebagai orangtua, kita perlu mengetahui bahwa di antara hak-hak anak yang paling penting dan harus dilaksanakan orangtua adalah memahaminya, berempati, dan menasehatinya dengan cara bijak, jika ia melakukan suatu kesalahan (Muhammad Rasyid Dimas:2005).(yer)

 

continue
0
Nov25

‘Duuuuh, gimana ya kok ngggak ngerti aja…’.

Disadari atau tidak, ungkapan seperti itu mungkin sering diucapkan orangtua ketika sedang  mengajarkan sesuatu pada anak. Misalnya, ketika orangtua mengajarkan anaknya membaca, menulis atau menghitung. Kondisi seperti ini kadang-kadang membuat orangtua merasa heran dan mengeluh mengapa anaknya sulit untuk ‘memahami’ apa yang diterangkannya. Padahal, boleh jadi cara mengajar dan bahkan buku yang digunakannya sama dengan yang digunakan temannya untuk mengajar anaknya. Namun sayang, anaknya tidak sehebat anak temannya, masih kecil sudah pintar membaca, menulis, dan menghitung. Apa yang salah ya…?

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Menanggapi kasus di atas, sejatinya orangtua tidak menuntut anak untuk dapat melakukan sesuatu yang sama persis dengan apa yang orang lain mampu melakukannya. Kemampuan anak yang satu dengan yang lainnya akan berbeda. Perlu orangtua ingat kembali, pada dasarnya setiap anak adalah unik dan hebat. Mereka memiliki kecerdasan masing-masing, anak yang satu hebat dalam bidang ilmu hitung, baca dan menulis, boleh jadi anak yang satunya lagi hebat dalam bidang seni dan teknologi.

 

Hal yang perlu orangtua perhatikan ketika mengajarkan sesuatu pada anak, selain perlu ditunjang dengan buku dan cara pengajaran yang tepat, suasana yang kondusif juga menjadi hal penting yang dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam menyerap materi. Suasana yang terkesan memaksa dan menegangkan karena disampaikan dengan cara emosional dapat membuat anak sulit untuk mengerti materi yang sedang diajarkan.

 

Mengajarkan sesuatu yang positif pada anak tentu sangat baik, yang paling penting adalah tidak dengan cara memaksa atau emosional. Selama orangtua mengajarkannya dengan cara yang baik, misalnya tidak dengan marah-marah atau membentak-bentak,  anak akan merasa senang dan nyaman, ia tidak akan merasa tertekan atau pun terpaksa. Dengan demikian, materi yang disampaikan orangtua akan lebih mudah dimengerti anak.

 

Sebaliknya, jika orangtua mengajar anak dengan cara emosional atau marah-marah, apalagi menghinanya, selain dapat melukai hati anak, juga dapat mengikis rasa percaya dirinya (merasa dirinya tidak mampu). Oleh karena itu, marilah kita ciptakan suasana yang kondusif dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Suasana yang menyenangkan dapat membantu anak lebih mudah dalam menerima pelajaran, ia akan merasa nyaman atas setiap tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya (Husain:2007).  yer

 

continue
0
Nov24

Memperhatikan sifat dasar orangtua, mereka cenderung selalu merasa khawatir pada anak. Kekhawatiran orangtua tidak hanya pada saat anak masih kecil saja, ketika anak sudah dewasa bahkan sudah menjadi orangtua pun mereka tetap memikirkan dan masih sering merasa khawatir.

 

Ketika anak masih kecil, orangtua khawatir ia disakiti temannya, tidak mempunyai teman atau khawatir ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anaknya . Begitu juga ketika anak sudah dewasa dan bahkan berkeluarga, mungkin kekhawatiran orangtua akan semakin bertambah. Orangtua khawatir ia tidak memiliki cukup uang, anaknya sakit, khawatir tidak dapat menafkahi keluarganya atau tidak dapat membimbing keluarga.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Sifat dasar orangtua di atas sering diungkapkannya dalam bentuk yang berbeda. Misalnya, dengan menanyakan langsung pada anak atau dengan cara menepon anak untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Orangtua melakukan hal tersebut selain untuk mengurangi kekhawatirannya, juga merupakan salah satu bentuk ungkapan perhatian pada anak.

 

Sayangnya, bentuk perhatian orangtua seperti itu      tidak selalu dapat diterima anak dengan senang hati, apalagi jika orangtua mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan dengan sering meneleponnya menanyakan hal yang sama.

 

Memperhatikan anak dengan cara meneleponnya atau mengirim SMS adalah lebih baik daripada tidak memperhatikannya sama sekali.  Tetapi ada cara yang lebih baik jika orangtua dapat melakukannya, yaitu dengan menyediakan waktu untuk bercengkrama dengannya. Pancinglah anak supaya ia mau bercerita tentang apa saja pada orangtua. Ketika anak sedang bercerita, dengarkan dan berikanlah respon padanya sehingga ia merasa nyaman. Pada saat anak bercerita dan bertatap muka dengan orangtua, ia akan merasakan perhatian orangtua yang sesungguhnya. Ia memiliki waktu yang cukup untuk mengeluarkan isi hatinya, tidak sefihak saja seperti percakapan pada telepon yang kadang waktunya sangat terbatas).

 

Oleh karena itu, berikan perhatian pada anak dengan meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengannya secara harmonis. Ketika orangtua sudah tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi secara harmonis dengan anak, karena sibuk dengan urusan pekerjaan atau urusan pribadinya, orangtua tersebut akan kehilangan sensitivitas serta kesadaran bahwa anak mereka sedang dalam ‘bahaya’ yang dapat merugikan, bukan saja pada dirinya sendiri, tetapi juga orangtua dan lingkungannya (Linda & Richard Eyre, 2006). Orangtua tidak tahu apa yang sedang diinginkan atau dibutuhkan anak, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh anak, tidak tahu apa yang sedang dilakukan anak, hingga akhirnya orangtua tersebut mendapatkan anak dalam kondisi ‘berbahaya’. Kurang perhatian orangtua sering membuat anak menjadi mudah terbawa arus negatif. (yer)

 

continue
4
Nov23

Setiap anak adalah unik, termasuk juga sikap atau perilakunya. Antara anak yang satu dengan yang lainnya selalu ada perbedaan. Ada yang cenderung pendiam, ada yang susah diatur dan ada juga yang suka membantah. Menghadapi perilaku anak seperti itu tentu bukan hal yang mudah, orangtua perlu lebih sabar.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Perilaku anak yang sulit diatur, suka membantah dan sulit dinasehati sering membuat orangtua merasa frustrasi. Mereka tidak tahu harus menggunakan cara seperti apa lagi untuk mendidik anak. Berbagai cara sudah mereka lakukan, mulai cara halus dengan menasehati dan memperingatkannya berulang-ulang, hingga cara kasar (menjewernya, mencubit, atau bahkan kadang-kadang orangtua memukulnya). Tetapi sayang, perilaku anak kadang sulit berubah. Ketika orangtua menasehatinya, anak tampak mendengarkan, tetapi kenyataannya banyak anak yang seolah-olah mendengarkan padahal sebenarnya tidak (apa yang dikatakan orangtuanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri).

 

Ketika anak tidak dapat diajak ‘kompromi’, selalu membantah jika diberi tahu. Misalnya harus menggosok gigi sebelum tidur, tidak boleh menahan-nahan pipis, atau selalu menolak jika diminta membereskan bekas mainnya, orangtua dapat memberikan suatu hukuman padanya.

 

Memberi hukuman kepada anak tentu perlu pertimbangan yang baik, hal ini supaya tidak meninggalkan efek negatif. Berikan hukuman sesuai dengan kemampuan anak dan tidak menimbulkan risiko fatal. Misalnya, menghindari menghukum anak dengan tidak memberi bekal uang jajan sekolah secara berlebihan, misalnya lebih dari satu hari. Hukuman seperti itu tidak bijaksana, sebab kondisi yang sulit sering mendorong anak melakukan suatu hal yang bukan saja dapat merugikan orang lain, tetapi juga dirinya dan orangtua. Pada kondisi terpaksa bukan hal yang tidak mungkin anak mengambil uang atau barang milik orang lain.

 

Menghukum anak dapat dilakukan dengan cara lain yang lebih bijaksana. Misalnya, orangtua dapat memberikan hukuman kepada anak dengan cara mengurangi hal-hal yang berhubungan dengan kesenangannya. Untuk anak yang suka menonton TV, orangtua dapat memberikan aturan sebagai hukuman dengan cara membolehkan anak menonton TV lagi apabila telah selesai merapikan bekas mainnya atau ketika ia sudah menyelesaikan makan malamnya.

 

Ada hal penting yang perlu orangtua ingat, tujuan memberikan hukuman kepada anak adalah supaya ia bisa merenungi dan tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah ia lakukan . Jika orangtua langsung marah-marah, membentak, memukul atau menghukum anak ketika ia melakukan suatu kesalahan atau tidak patuh pada orangtua, anak tidak memiliki kesempatan untuk merenung. Mungkin anak tidak mengerti mengapa ia dibentak- bentak dan dihukum.

 

Hukuman akan lebih efektif  jika diberikan secara proporsional dan bijaksana. Berikanlah hukuman sesekali saja hanya untuk masalah yang sangat serius. Hindarkanlah menghukum anak apalagi untuk masalah -masalah kecil, hal tersebut dapat menimbulkan rasa marah dan sikap tidak hormat pada orangtua. Jika orangtua sering memberikan hukuman pada anak, lambat laun tindakan orangtua tersebut dapat menimbulkan ikatan antara anak dengan orangtua akan menjadi terputus (Jacob Azerrad:2005). ( yer )

4 Komentar

  1. Yusi Elsiano Rosmansyah Yusi Elsiano Rosmansyah says:

    Terima kasih untuk apresiasinya.... Di blog ini saya sudah mengelompokkan artikel berdasarkan usia anak, Ibu/Bapak dapat memilihnya di kolom 'Kategori' yang ...

  2. prima says:

    artikel ok, bisakah dibahas lebih detail lagi per usia perkembangan? karena mengatasi anak pasti sesuai tahap perkembangannya. supaya kami bisa ...

continue
0
Nov21

Setiap manusia pernah mengalami emosi atau marah. Bukan saja orang dewasa yang bisa marah, anak kecilpun sesekali bisa marah. Banyak hal yang dapat membuat seseorang menjadi marah. Kemarahan setiap orang bisa berbeda, ada yang diam ‘seribu basa’ (ngambek), merusak barang-barang yang ada disekelilingnya (membanting, merobek), berteriak dan menangis histeris, pergi meninggalkan ruangan, mengeluarkan kata-kata kasar atau kotor, membentak, bahkan ada juga orang yang ketika marah ia memukul. Masalah yang memicu kemarahan seseorang juga beraneka ragam, mulai dari masalah sederhana hingga yang prinsip.

 

Ilustrasi: www.wonderful-family.web.id

Mengendalikan emosi seringkali tidak mudah, perlu latihan bersabar. Terlebih jika masalah tersebut dirasakan sangat prinsip. Bukan saja orang dewasa, anak kecilpun akan marah jika ada sesuatu yang dianggapnya penting tidak diindahkan oleh orang yang ada disekelilingnya. Anak akan marah jika ia dibohongi. Kasus ini sering terjadi ketika orangtua lupa akan janjinya, orangtua  berjanji akan membelikan sebuah mainan yang dipesan anaknya sepulang dari kantor. Selain itu, kadang-kadang anak marah, berontak dan menangis karena ia memaksa ingin dibelikan sesuatu padahal orangtua tidak sanggup membelikannya, karena harganya mahal atau barang tersebut dinilai kurang memberikan manfaat.

 

Ketika orangtua menghadapi kemarahan anak seperti di atas, sikap bijaksana yang dapat orangtua lakukan adalah tidak langsung membentak apalagi menyakiti fisik anak (memukul, mencubit, menjewer) dengan harapan ia akan diam atau berhenti marah. Tindakan tersebut boleh jadi tidak dapat meredakan kemarahan anak, sebaliknya semakin anak diperlakukan kasar oleh orangtua, anak akan semakin marah. Akhirnya, baik orangtua maupun anak mungkin akan sama-sama merasakan sedih dan ‘luka batin’.

 

Cobalah untuk lebih bersabar dalam menghadapi marah anak. Jika ketahuan sesekali anak marah dengan mengeluarkan kata-kata kasar, tidak sopan atau kotor, berilah pengertian kepadanya bahwa tindakannya tersebut adalah tidak baik. Mungkin ia belum tahu arti dari kata-kata tersebut, hanya meniru orang lain ketika sedang marah atau ia tidak tahu cara lain untuk membalas sakit hati atau mengungkapkan perasaan tidak senangnya. Katakan kepadanya, orangtua memahami bahwa ia sedang marah atau tidak suka, tetapi tidak baik ia mengucapkan kata-kata kotor kepada orangtua ataupun orang lain (Adil Fathi Abdullah, 2003).

 

Orangtua dapat mengajarkan pada anak bagaimana cara yang baik dalam mengungkapkan perasaannya ketika ia merasa tidak senang atau marah. Selain berbicara langsung, ia juga dapat menuliskan perasaannya tersebut melalui gambar atau tulisan, sesuai dengan kemampuannya. Biasanya, anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak sering mengekspresikan perasaannya dalam bentuk gambar. (yer)

continue
0
Nov15

Bahagia rasanya melihat anak-anak sehat, cerdas dan lucu. Tingkah laku dan sikapnya yang menggemaskan sering membuat orangtua merasa kagum, senang dan bahagia. Anak dengan semua kelebihan dan kekurangannya membuat kehidupan dalam sebuah keluarga menjadi berwarna. Kehadirannya dapat membuat orangtua menjadi lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Anak memberikan energi lebih pada orangtua dalam mencapai impian dan harapan, dapat hidup lebih bahagia dan lebih baik di masa yang akan datang.

 

Ilustrasi: www.123rf.com

Mewujudkan impian dan harapan melalui anak tentu perlu pendampingan yang baik. Tindakan menghormati anak sejak ia kecil merupakan salah satu upaya menciptakan kepribadian yang baik. Menghormati anak yang masih kecil seperti halnya orangtua menghormati orang dewasa dapat menumbuhkan sifat baik, rendah hati dan percaya diri. Sifat rendah hati pada anak akan tumbuh melalui perilaku yang dilakukan orangtuanya, sebagai orang yang lebih tua tetap menghormati walaupun kepada anak yang masih kecil. Anak menjadi percaya diri karena tindakan positifnya selalu diapresiasi orangtua.

 

Menghormati anak dapat dilakukan dengan cara membiasakan berbicara menggunakan bahasa yang baik dan sopan, memanggil anak dengan sebutan yang baik, mengucapkan terima kasih ketika anak membantu atau melakukan sesuatu kebaikan, mengucapkan maaf ketika orangtua melakukan kesalahan, tidak membentak, memarahi atau bahkan memukul ketika ia melakukan suatu kesalahan.

 

Anak yang mandiri,rendah hati, percaya diri, bertanggung jawab, berakhlak baik dan disiplin adalah harapan semua orangtua dan dambaan semua orang. Untuk mewujudkannya, Nabi saw menyarankan orangtua untuk selalu menghormati dan membantu anak. Caranya adalah dengan menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya (Quraish Shihab:2007).(yer)

continue
Dua Buku Fahma+Hania Bikin Animasi&Game Telah Terbit

Bagi Pembaca dan Putra-Putrinya yang jauh dari SKACI, silakan bisa belajar mandiri dengan menggunakan buku ini:
* Foto Dua Buku dan Lokasi SKACI Bandung Dago di Peta
* Informasi mengenai Buku dari Penerbit
rss
rss

Hak cipta semua artikel di web ini adalah milik Yusi Elsiano Rosmansyah, kecuali jika ada penulis lain, namanya akan ditulis secara eksplisit di artikel terkait. Jika Pembaca ingin menggunakan artikel-artikel ini untuk tujuan sosial atau nirlaba (misalnya, buletin yayasan, studi kasus), saya hanya mohon SATU etika akademis saja, yaitu: "CANTUMKAN NAMA PENULIS (Yusi Elsiano Rosmansyah) DAN ALAMAT WEB INI (www.PerkembanganAnak.com)". Mari kita sebarluaskan dan amalkan ilmu pengetahuan dengan bijaksana.