Terima kasih banyak kepada pak Iwan yang telah singgah di blog ini. Terima kasih juga untuk pertanyaannya.
Maksud ‘menuntut’ di sini adalah memaksa anak untuk dapat melakukan sesuatu yang diinginkan orangtua tanpa melihat bakat, minat, dan kemampuan anak tersebut, selain itu orangtua juga tidak memberikan dukungan dan bimbingan terhadap apa yang dituntutkannya tersebut kepada anak.

Ilustrasi: www.123rf.com
Kita ambil contoh dari pertanyaan pak Iwan, misalnya, orangtua menuntut anak supaya ia lebih giat belajar sehingga ia dapat ranking I di kelas atau di sekolahnya, padahal orangtua tersebut tidak pernah membimbing anaknya belajar, tidak pernah ikut membantu anak belajar menyelesaikan pekerjaan rumahnya, tidak membimbing anak dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian, tidak mengantarkan anak untuk ikut serta dalam program bimbingan belajar dan bahkan orangtua tidak pernah mau tahu bagaimana kondisi anak tersebut di sekolahnya (tidak pernah meluangkan waktu menanyakan tentang anaknya kepada wali kelasnya). Hal seperti inilah yang seringkali terjadi pada para orangtua di lingkungan kita ini.
Perlu kita ketahui, pada dasarnya semua anak lebih suka bermain daripada belajar. Oleh sebab itu, sebagai orangtua sebaiknya kita tidak hanya menuntut anak supaya ia lebih giat belajar sehingga ia dapat meraih ranking I di sekolahnya. Kita sebagai orangtua juga dituntut supaya dapat lebih fokus dan menyediakan waktu untuk anak. Orangtua sebaiknya turun tangan untuk membimbing dan mengarahkan anak supaya anak semangat dalam belajar. Misalnya, dengan cara membuat suasana rumah menjadi nyaman untuk anak belajar, orangtua membantu anak belajar dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Tuntutan orangtua terhadap anak mungkin dapat berdampak postif jika ada kecocokan dengan bakat, minat, dan kemampuan anak tersebut. Tetapi sebaliknya, jika tidak cocok dan orangtua tetap menuntut anak, hal tersebut akan membebani pengembangan dirinya. Hal yang lebih buruk mungkin terjadi dari tuntutan orangtua tersebut adalah membuat anak menjadi berontak, melawan orangtua atau bahkan mungkin membuat anak melakukan tindakan nekat yang tidak baik. Oleh karena itu, ketika orangtua menginginkan anaknya dapat melakukan sesuatu atau meraih sesuatu sesuai dengan yang diharapkan, orangtua tersebut perlu memperhatikan dan mempertimbangkan kemampuan, minat dan bakat anak tersebut. Selain itu, orangtua juga perlu memberikan dukungan, bimbingan, dan arahan kepada anak dengan cara turun tangan melakukannya atau membantu anak melakukan hal tersebut dengan konsisten, sabar dan ikhlas. (yer)
Demikian diskusi kita mengenai kesalahan orangtua ‘menuntut anak’. Semoga jawaban ini dapat bermanfaat.
Salam bahagia,
Yusi



Masya Allah… saya senang sekali mendapat penjelasan yang detail.
Saya jadi sependapat dengan uraian Bu Yusi di atas tentang Menuntut Anak, karena kamipun juga melakukan hal yang demikian sesuai uraian Bu Yusi. Karena sebelumnya kuatir salah arah, maka perlu masukan dari Bu Yusi, dan ternyata sejalan.
Kalo toh orang tua ingin anaknya berprestasi, maka sebaiknya keinginan tersebut dikemas yang rapi dalam sebuah challenge program; yang meliputi goal, komitmen dan affirmasi. Kemudian orang tua juga melibatkan diri di dalamnya (dalam program tersebut), sehingga sang anak akan merasa tidak berjuang dengan sendirian untuk mencapai keberhasilan. Ketika challenge program itu berhasil, dengan indikator keberhasilannya adalah (misalnya) sang anak masuk tiga besar di kelasnya, maka sudah sepantasnya orangtua memberikan reward kepada sang anak sebagai penyemangat. Bila goal-nya tidak berhasil, maka orangtua dan anak mereview-nya bersama-sama, menganalisa/mengevaluasi mengapa goal-nya tidak tercapai. Artinya, bila gagalpun tidak masalah, yang penting sang anak bisa belajar dari kegagalan tersebut, dan belajar bertanggung jawab atas komitmen yang telah diambilnya.
Sekali lagi terimakasih, tulisan – tulisannya Bu Yusi menginspirasi kami sebagai orangtua. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalasnya dengan kebaikan.
Alhamdulillah…segala puji bagi Alloh…Amin, terima kasih do’anya Pak…
Betul sekali pendapat Bapak tersebut, orangtua dan anak-anak harus sama-sama berjuang dan saling mendukung dalam membantu meraih prestasi untuk anak. Dengan do’a dan kerja sama yang baik antara orangtua dan anak, insyaAlloh Alloh pasti memberikan yang terbaik.
Terima kasih juga untuk masukannya Pak…senang sekali bisa diskusi dan saling berbagi di sini dengan Bapak. Semoga semakin banyak orangtua yang terus menambah keilmuannya, terutama dalam hal meningkatkan kualitas pola asuh yang baik dan benar kepada sang buah hatinya. Amin…
Wassalam,
Yusi
Subhanalloh….
Ternyata Bu Yusi luar biasa…
Pantaslah anaknya berprestasi luar biasa juga.
Saya benar2 tidak menyangka. Dulu saya sempat ngobrol sekilas dengan Ibu Yusi waktu Ibu Seminar UP di Magister Ilmu Ekonomi Unpad…
Subhanalloh….Alhamdulillah kita dapat bertemu lagi di sini ya Bu…waduuh, yang luar biasa itu Alloh SWT…saya biasa saja Bu, seorang ibu yang masih belajar membesarkan anak-anaknya…ibu sekarang di mana? Kangen sekali, lama tdk jumpa ya…
Kok Ibu sih? sy laki-laki tulen lho Bu…, kwkwkwk….
Sy masih di sini (Bdg), kuliah sy juga belum beres bu.
Bimbingan tesis mandek, SUP juga belum…
Duuuh maaf ya, saya kira ‘ibu’ ….
Semoga Mas dilancarkan bimbingannya ya sehingga bisa segera menyelesaikan kuliahnya….amin…
3 orang ibu hamil sedang ngboorl -ibu Nani : ntar kalau anakku lahir,aku kasih nma VANNI..karena nama bapaknya IRVAN dan saya NANI -ibu Evi : kalau nanti anakku lahir,aku kasih nama DEVI.sebab nama ayahnya DEDE dan aku namanya EVI – ibu kokom diam saja .) terus .- ibu nani dan ibu evi bertanya : kenapa kamu diam saja,ntar siapa nama anakmu bu kokom !?- ibu kokom : aku bingung, nama ayahnya ABBAS dan aku KOKOM..masa anakku namanya BASKOM
Waaah, boleh juga isi comment nya…sangat menghibur, lucu…saya jadi ketawa sendiri niiiih…terima kasih ya…