Anak menjadi sering membangkang, merusak, tidak bertanggung jawab, dan tidak patuh pada orangtua boleh jadi bukan murni kesalahan anak tersebut. Bagaimana pun juga, baik atau buruknya sikap atau karakter anak ada campur tangan orangtuanya. Artinya bukan saja perilaku baik, perilaku buruk yang timbul pada diri anak juga dapat disebabkan oleh orangtuanya.

Ilustrasi: www.123rf.com
Perilaku buruk pada anak sering kali menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh banyak pihak. Setidaknya pertanyaan mengarah pada apa yang menyebabkan anak sehingga ia berperilaku kurang baik?
Banyak hal yang dapat membuat anak memiliki perilaku kurang baik. Salah satunya adalah disebabkan oleh kesalahan pada pola asuh yang dilakukan orangtuanya. Menurut Ali Hasan (2011), terdapat beberapa kesalahan orangtua yang menyebabkan anak tidak shalih, diantaranya adalah:
- Membiarkan anak melakukan kesalahan
- Kurang apresiatif
- Selalu melarang anak
- Selalu menuntut anak
- Selalu mengabulkan permintaan anak
- Tidak mampu menjadi teladan bagi anak
- Melakukan kekerasan
- Tidak memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup
- Tidak sepaham antara ayah dan ibu
- Mengklaim buruk
- Terlalu memanjakan anak
- Terlalu berbaik sangka atau berburuk sangka terhadap anak
- Pilih kasih
- Mendo’akan buruk terhadap anak
- Bertengkar dan berbuat hal yang tidak layak di hadapan anak
- Susah memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
- Lalai pada bacaan, tontonan, dan pergaulan anak
- Membuat anak minder
- Tidak mendidik anak untuk bertanggung jawab
- Salah mengajarkan disiplin



Terimakasih sharingnya, Bu Yusi, sungguh sangat bermanfaat.
Biar tidak lupa, khilaf, dsb-nya, saya sempat berpikir ada baiknya kalo poin-poin di atas dijadikan checklist sbg alat bantu evaluasi berkala (mingguan / bulanan) dg memberikan skor penilaian pada masing-masing item.
Salam dari saya untuk Fahma dan Hania, 2 buku bikin animasi telah dilalap sama kedua putriku
Terima kasih kembali pak Iwan untuk apresiasinya, semoga Alloh SWT selalu memberikan kemudahan dan semangat kepada kita untuk tetap berbagi di blog ini. Amin.
Betul, saya juga sangat setuju dengan ide pak Iwan. Bagus sekali jika poin-poin tersebut dijadikan checklist sebagai alat bantu evaluasi kita sebagai orangtua.
Waaah senang sekali membaca berita ini. Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak, semoga kedua putri Bapak semakin pintar dan sukses ya..Amin. InsyaAlloh akan saya sampaikan salam Bapak pada Fahma dan Hania…
Bu Yusi, pada poin no.4 disebutkan: “Selalu menuntut anak”.
Bagaimana penjelasan detailnya sehingga kesalahan orang tua tsb bisa menyebabkan anak tidak shalih. Apakah ini juga termasuk dalam hal menuntut anak agar lebih giat belajar sehingga bisa ranking 1?
Selamat pagi pak Iwan.
Terima kasih sudah singgah di blog ini. Untuk penjelasan detailnya, silakan mampir di artikel yang berjudul ‘Dampak Orangtua Banyak Menuntut’ pada tanggal 5 Juli 2012. Semoga artikel tersebut memberikan manfaat.
Salam
Yusi
Bagaimana cara mengubah pola anak yg sudah terlanjur “salah asuh” oleh orang tuanya…
Ketika di sekolah dia jadi sulit dinasehati, berani melawan guru bahkan memaki di hadapan guru..
Pertama saya ucapkan terima kasih kepada bu Nining yang telah singgah di blog ini. Semoga kita selalu diberi semangat dan kemudahan oleh-Nya dalam mendampingi dan membimbing anak-anak. Amin
Menghadapi karakter anak yang sudah terlanjur ‘salah asuh’ oleh orangtuanya tentu tidak mudah, perlu kesabaran ekstra.
Sebelum kita ‘mengubah’ perilaku anak tersebut, ada baiknya Ibu membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada orangtuanya.
Ajaklah orangtuanya untuk dapat menyamakan peraturan dan pola asuh antara di rumah dan di sekolah, semua ini adalah untuk kebaikan anak tersebut.
Pada saat mendampingi anak tersebut, bersikaplah tegas, jelas dan konsisten, baik dalam bertindak, menerapkan peraturan, maupun dalam berbicara. Hal penting lainnya adalah lakukanlah pendekatan kepadanya dengan memperbaiki komunikasi. Semoga dengan cara ini anak dapat lebih terbuka, semakin saling memahami keinginan satu sama lain dan segera dapat melakukan kerja sama dengan baik.
Demikian masukan dari saya, semoga Ibu diberikan kemudahan oleh Alloh SWT dalam membimbing anak-anak dan diberikan pahala yang berlipat oleh-Nya. Amin
Mksh infonya Bu Yusi,..benar2 bermanfaat saya setuju dengan ide dr pak Iwan ya checklist sangat membantu dalam memonitor perkembangan anak,.. saya jg termasuk ibu baru yang punya putri berusia 23bln,..dan akan terus belajar dlm mendidik anak,..salam
terimakasih info yang sangat berharga ibu…
sya punya sedikit kesulitan dengan anak saya yang umurnya 2,5 thn…sebelum pindah ketempat baru ini…anak saya sangat mudah diberi pengertian untuk tidak melakukan hal2 yang tidak baik,bahkan rasa kasihnya yang tinggi, contoh nya seperti kasian kucingnya jangan dipukul…berdoa ketika mau sesuatu
tapi setelah saya pindah tempat tinggal (tepatnya kos-kosan shngga bercampur dngn bnyk orang n berbagai karakter)
ada tetannga ini bisa dibilng keluarga yang tidak harmonis,orng tua n nenek yang sering bicara kotor n kasar pada anak2, kekerasan fisik juga sehingga anak2 itu pun suka bertindak spt itu,,tidak jarang anak saya pun sering dipukul kalo mainannya tidk blh dipnjm,dll dampaknya sekarng anak saya susah diatur …saya yang dulunya tidak pernah bentak jadi harus membentak ketika dia tidak bisa dibilangi..anak saya jadi suka mukul, buang2 barang,pelit, n hal2 buruk yang tidak bisa diberi pengertian lagi saya cape hrs ngomel2 nanti malah terkesan crewet dan anak pun smakin tidak bisa diarahkan,sya juga tidak mau smpai main tangan..duh gimana bu..ini
mohon solusinya
ohya untuk game edukasi karya fahma n hania saya bisa download dimana ya bu…
Lingkungan dapat mempengaruhi perilaku anak. Ketika anak berada di lingkungan di mana orang-orang di sekitarnya selalu berbicara baik (tidak kasar), maka ia pun akan bertutur kata baik. Sebaliknya jika anak berada dan dibesarkan di lingkungan yang mayoritas orang-orang disekelilingnya suka berbicara kotor dan kasar, maka anak juga akan seperti itu.
Jika memang kondisinya tidak dapat ditawar lagi, artinya bunda dan keluarga tetap harus tinggal di lingkungan yang orang-orangnya kurang baik, seperti yang Bunda utarakan di atas, sebaiknya Bunda mengurangi akses anak dengan lingkungan luarnya tersebut. Lebih baik Bunda ajak anak bermain di rumah, atau dimasukkan ke kursus agama (TPA), atau mengajaknya jalan ke luar saja, sehingga akses dengan tetangga yang kurang sesuai dengan kebiasaan kita menjadi sangat minimal.
Berilah anak pengertian, dalam kondisi seperti ini, Bunda ‘terpaksa’ harus lebih intensif lagi dalam memberikan arahan dan bimbingan mengenai apa saja yang boleh dilakukan atau ditiru dan mana saja yang tidak. Komunikasikan semua hal yang diharapkan oleh Bunda dengan cara yang baik kepada anak (tidak sambil marah dan membentak) karena tindakan tersebut tidak akan efektif, yang ada anak akan meniru juga sikap buruk tersebut.
Dalam kasus ini, anak tidak salah. di manapun ia berada, anak akan selalu merekam dan meniru apa yang ia lihat dan ia dengar, ia masih dalam tahap belajar dan meniru. Orangtualah yang harus berusaha keras memfilter dan terus konsisten mengarahkan anak supaya ia tahu, faham dan melakukan hal-hal yang baik saja.
Demikian Bunda, semoga jawaban saya ini dapat membantu…Amin