Ilustrasi: www.123rf.com
- Maksimalkan peran orangtua dalam memberikan bimbingan, arahan, teladan, dan pendampingan. Tanamkan nilai-nilai luhur agama agar menjadi tameng abadi bagi anak dalam menyikapi berbagai hal dalam kehidupan ini, termasuk dalam menyikapi game. Dampingi anak saat mereka bermain game, sesekali ikut juga bermain agar orangtua memiliki sedikit pengetahuan mengenai apa yang anak mainkan.
- Tanamkan disiplin kepada anak. Buatkan jadwal kegiatan, dalam hal ini untuk mengatur waktu anak bermain game dan kegiatan lain. Libatkan anak untuk aktif di kegiatan lain selain bermain game, yang dapat berupa kegiatan sosial, olah raga, kesenian, dan sebagainya. Khusus untuk kegiatan bermain komputer, arahkan agar anak melakukan hal-hal yang kreatif (mencipta, menghasilkan karya), bukan hanya yang konsumtif (menggunakan karya orang lain, termasuk bermain game). Tantang dan bimbing anak agar dapat membuat game, tidak hanya bermain game. Jika orangtua tidak mampu melakukan ini, atau tidak punya waktu yang cukup, delegasikan kepada guru les atau tempat kursus yang cocok. Dengan didasari kebijakan dan kasih sayang, lakukan metode “carrot and stick”: apresiasi saat anak kreatif, ingatkan, atau bahkan beri “sanksi yang bijak” saat mereka konsumtif, apalagi berlebihan.
- Tempatkan komputer atau perangkat game di ruang keluarga, dan tidak di kamar pribadi anak. Tujuan utamanya adalah agar selalu ada keterbukaan di antara sesame anggota keluarga dan terciptanya situasi saling mengawasi secara positif.
- Berikan pengertian kepada anak agar bergaul dengan teman-teman yang baik. Hindarkan anak dari pergaulan dengan rekan-rekannya yang pecandu game. [yr&yer]


