Setiap manusia, baik itu orang dewasa maupun anak-anak pasti memiliki perasaan yang sama, yaitu ingin dipahami dan dimengerti. Jika orang dewasa merasa tidak senang ketika dirinya tidak dipahami dan dimengerti dengan banyak kritik, anak-anak juga akan merasakan hal yang sama. Ini terbukti ketika orangtua sering memberikan kritik terhadap apa yang dilakukan anak, ia akan cenderung marah atau tidak mau menerima kritikan tersebut.
Ilustrasi: www.123rf.com
Ketika anak melakukan suatu kesalahan, berusahalah untuk tidak cepat memberikan kritik padanya. Bersikaplah mengerti dan empati terhadap apa yang dilakukan anak, tidak langsung mengkritik atau memarahinya. Kesalahan yang dilakukan anak tersebut mungkin saja karena ketidaksengajaan, ada sesuatu yang telah membuatnya panik sehingga ia lupa atau mungkin karena ia sedang mengalami banyak tekanan dan sedih.
Marilah kita mencoba untuk berempati pada kasus berikut ini:
Seorang ibu sedang sibuk memasak dan menyiapkan makan pagi, tiba-tiba sang anak menangis ingin dibuatkan susu. Pada waktu bersamaan, sang ayah meminta sang ibu mencarikan kunci mobil karena ia lupa menyimpannya padahal ia harus segera berangkat bekerja. Kondisi seperti ini akan membuat sang ibu menjadi tidak fokus, ia jadi lupa bahwa pada saat itu ia sedang memasak, akibatnya masakan menjadi gosong.
Pada kasus seperti di atas, sang ibu pasti akan sangat sedih dan bahkan kecewa apabila sang ayah malah mengomentari masakan yang sudah gosong dengan kritikan. Dalam kondisi seperti itu, ibu tentu berharap ayah bisa mengerti dan memahaminya, pagi itu ibu sangat sibuk, banyak hal yang harus dikerjakan dalam waktu yang bersamaan, sehingga masakan menjadi gosong.
Sedih dan kecewa yang dirasakan ibu akan sama dengan yang dirasakan anak ketika ia sedang tidak dimengerti dan dipahami oleh orangtuanya. Tentu akan berbeda situasinya jika dalam kasus di atas sang ayah mau memahami dan mengerti kondisi sang ibu, tidak langsung mengomentari atau mengkritik pekerjaan ibu yang sudah gagal. Dengan pengertian dan empati , ibu mungkin akan lebih mudah menerima kesalahan yang telah dilakukan. Begitu juga pada anak, selain ia akan mampu menerima nasehat dari orangtuanya, ia juga akan memiliki semangat untuk memperbaiki perilaku salahnya dengan senang hati.
Sebagai orangtua, kita perlu mengetahui bahwa di antara hak-hak anak yang paling penting dan harus dilaksanakan orangtua adalah memahaminya, berempati, dan menasehatinya dengan cara bijak, jika ia melakukan suatu kesalahan (Muhammad Rasyid Dimas:2005).(yer)


