‘Ya’ atau ‘boleh’ adalah jawaban yang sangat diharapkan setiap orang, tentunya jawaban tersebut adalah untuk hal-hal yang dapat memberikan kesenangan dan kebahagiaan pada dirinya. Begitu juga halnya dengan anak-anak, untuk hal-hal yang dapat memberikan kesenangan pada dirinya ia akan sangat berharap mendapatkan jawaban ya, walaupun itu adalah berbahaya, ia akan memaksa orangtuanya untuk berkata ‘ya’ atau ‘boleh’. Misalnya, anak meminta izin untuk mengendarai sepeda motor, padahal ia belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) dan belum memiliki cukup pengalaman atau anak meminta izin untuk menginap di rumah temannya.
Ilustrasi: www.123rf.com
Sebagian keluarga ada yang orangtuanya kompak dalam memberikan keputusan dan ada juga yang tidak, ayahnya berkata ‘Ya’ tetapi ibunya ‘Tidak’. Tindakan orangtua seperti ini sering membuat anak menjadi bingung, harus mengikuti siapa, ikut ayah atau ibu ya..? Misalnya, ayah membolehkan anak mengendarai sepeda motor, tetapi ketika ibunya mengetahui anaknya mengendarai sepeda motor, ibu marah pada anak.
Menanggapi kasus di atas, ibu dan ayah sebaiknya kompak dalam memberikan keputusan, ‘Ya’ atau ‘Tidak’ terutama untuk hal-hal prinsip yang dapat membahayakan. Ketika orangtua kompak dalam memberikan keputusan kepada anak, tindakan ‘memanfaatkan situasi’ tidak akan terjadi, anak tidak akan lari kepada ibu ketika ia tahu ayahnya tidak memberikan izin kepadanya, begitu juga sebaliknya.
Anak bisa menjadi sangat pintar dalam hal mempertentangkan antara ayah dan ibunya. Bisa saja anak membela diri dengan mengatakan ‘tapi kata ayah boleh….., atau tapi kata ibu boleh kok’. Oleh karena itu, agar terhindar dari sikap anak seperti itu, berusalah untuk selalu memperlihatkan sebuah kesatuan sikap di hadapan anak (Janice Fixter, 2006). (yre).



