Waktu 24 jam sehari rasanya tidak cukup, terutama bagi ibu yang baru saja memiliki sang buah hati. Mulai bangun pagi sampai larut malam ibu sibuk mengurusnya. Memandikan, memberi makan, mengganti popok, dan memberi ASI menjadi pekerjaan rutin yang harus ia lakukan.
Kelahiran sang buah hati sering membuat ibu lebih terfokus padanya, sehingga sering kali ibu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang juga harus diperhatikan, yaitu ayah dari sang buah hati (suami).
Ilustrasi: www.123rf.com
Bagi pasangan suami-istri yang tidak memiliki baby sitter, melibatkan sang ayah untuk bersama-sama mengurus buah hati merupakan kesempatan yang sangat baik. Selama mengurus sang buah hati, ibu dan ayah bisa saling bercerita, mencurahkan kasih sayang, memberikan cinta dan perhatian. Misalnya, ayah dan ibu bersama-sama mengajak sang buah hati jalan-jalan di taman atau ketika ibu memandikan, ayah menyediakan pakaiannya. Dengan bekerja sama seperti itu, diharapkan komunikasi antara ibu dan ayah akan selalu terjalin dengan harmonis. Ayah akan merasa diperhatikan oleh ibu, begitu juga sebaliknya.
Beruntung bagi keluarga yang memiliki baby sitter, untuk sementara waktu ibu dapat menitipkan sang buah hati padanya. Pada kesempatan seperti ini, ibu dapat membuat sebuah rencana yang dapat menciptakan suasana bersama ayah menjadi lebih dekat dan harmonis. Misalnya, ibu menemani ayah makan malam, berbincang atau bercanda berdua. Kondisi seperti ini perlu terus dipertahankan supaya keharmonisan berumah tangga tetap terjaga. Sesibuk apapun ibu mengurus sang buah hati atau sesulit apapun ibu membagi waktu, ibu tetap harus dapat menyediakan waktu berkualitas berdua dengan sang ayah. Ciptakanlah selalu kebiasaan untuk saling bercanda, bercengkrama, berbagi kebahagiaan, saling memberikan cinta, dan mencurahkan kasih sayang di antara ibu dan ayah.
Bagaimanapun juga, hubungan suami-istri (ibu dan ayah) merupakan sebuah titik pusat tumpuan keluarga. Jangan sampai hubungan antara ibu dan anak menghalangi apa yang seharusnya menjadi titik tumpuan yang diatasnyalah keutuhan keluarga akan bergerak. Sebagaimana sang buah hati akan tumbuh menjadi besar, hubungan suami-istripun sebagai ayah dan ibu harus terus berkembang dengan baik (Janice Fixter, 2006). Jadikanlah kehadiran sang buah hati sebagai pengikat tali batin antara suami dan istri, kehadirannya semakin menambah rasa saling menyayangi, mencintai, menghargai, dan empati. (yer)



Setuju..
Saya ingin sekali keluarga saya bisa seperti itu. Semoga yaa:-)
Amiiiin…, semoga keluarga mBak Uchy selalu bahagia ya… yakinlah bahwa segala hal kalau diupayakan dengan sungguh-sungguh Insyaalloh hasilnya akan maksimal…. begitu juga upaya mBak Uchy dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan bahagia…untuk itu, terus semangat ya mBak Uchy…