-
SKACI
Sekolah Komputer Anak Cinta Indonesia
Bermain adalah hak anak. Membuatnya hebat dan berprestasi adalah kewajiban orangtua. Membimbing anak bermain agar jadi jago IT/Komputer adalah tugas kami

-
Fahma-Hania
Karya-karya Fahma-Hania
Aplikasi-aplikasi buatan Fahma-Hania

-
SiGokil
Capture beautiful moments, interesting sights, something weird, accidents, crimes, or just yourself and share from your exact position. Sell or find stuff near you, and bid or offer using this app. Track your children, spouse, even your vehicles

-
SiGokil Solutions
Give implementable mobile solutions to accommodate the needs of mobile reporting, mobile surveying, mobile monitoring, mobile tracking, and back-end analyzing, to improve efficiency and effectiveness

-
ACI Corporation
Attentive Creations International is a mobile and web applications developer. We develop perfection in all applications we built. We have been the biggest part of industries solutions.

|
Nov29
Waktu 24 jam sehari rasanya tidak cukup, terutama bagi ibu yang baru saja memiliki sang buah hati. Mulai bangun pagi sampai larut malam ibu sibuk mengurusnya. Memandikan, memberi makan, mengganti popok, dan memberi ASI menjadi pekerjaan rutin yang harus ia lakukan.
Kelahiran sang buah hati sering membuat ibu lebih terfokus padanya, sehingga sering kali ibu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang juga harus diperhatikan, yaitu ayah dari sang buah hati (suami).
 Ilustrasi: www.123rf.com
Bagi pasangan suami-istri yang tidak memiliki baby sitter, melibatkan sang ayah untuk bersama-sama mengurus buah hati merupakan kesempatan yang sangat baik. Selama mengurus sang buah hati, ibu dan ayah bisa saling bercerita, mencurahkan kasih sayang, memberikan cinta dan perhatian. Misalnya, ayah dan ibu bersama-sama mengajak sang buah hati jalan-jalan di taman atau ketika ibu memandikan, ayah menyediakan pakaiannya. Dengan bekerja sama seperti itu, diharapkan komunikasi antara ibu dan ayah akan selalu terjalin dengan harmonis. Ayah akan merasa diperhatikan oleh ibu, begitu juga sebaliknya.
Beruntung bagi keluarga yang memiliki baby sitter, untuk sementara waktu ibu dapat menitipkan sang buah hati padanya. Pada kesempatan seperti ini, ibu dapat membuat sebuah rencana yang dapat menciptakan suasana bersama ayah menjadi lebih dekat dan harmonis. Misalnya, ibu menemani ayah makan malam, berbincang atau bercanda berdua. Kondisi seperti ini perlu terus dipertahankan supaya keharmonisan berumah tangga tetap terjaga. Sesibuk apapun ibu mengurus sang buah hati atau sesulit apapun ibu membagi waktu, ibu tetap harus dapat menyediakan waktu berkualitas berdua dengan sang ayah. Ciptakanlah selalu kebiasaan untuk saling bercanda, bercengkrama, berbagi kebahagiaan, saling memberikan cinta, dan mencurahkan kasih sayang di antara ibu dan ayah.
Bagaimanapun juga, hubungan suami-istri (ibu dan ayah) merupakan sebuah titik pusat tumpuan keluarga. Jangan sampai hubungan antara ibu dan anak menghalangi apa yang seharusnya menjadi titik tumpuan yang diatasnyalah keutuhan keluarga akan bergerak. Sebagaimana sang buah hati akan tumbuh menjadi besar, hubungan suami-istripun sebagai ayah dan ibu harus terus berkembang dengan baik (Janice Fixter, 2006). Jadikanlah kehadiran sang buah hati sebagai pengikat tali batin antara suami dan istri, kehadirannya semakin menambah rasa saling menyayangi, mencintai, menghargai, dan empati. (yer)

Nov28
 Ilustrasi: www.123rf.com
Berikut adalah beberapa cara untuk merangsang indra pendengaran bayi (Indra & Vindhy:2007), di antaranya adalah:
- Bernyanyi atau bersenandung. Ketika orangtua sedang bersama bayi, berusahalah untuk selalu bersenandung. Misalnya, ketika sedang menimang atau menina bobokan bayi, memandikan atau ketika sedang mengganti popok bayi. Dengan demikian, sedikit demi sedikit bayi akan merekam apa yang diucapkan orangtuanya.
- Berbicara sepanjang perjalanan. Walaupun bayi belum bisa diajak bicara, namun tentu sangat baik jika orangtua selalu mengajaknya berbicara. Misalnya, sepanjang perjalanan orangtua memperkenalkan benda-benda yang ada di sekitarnya. Dengan cara seperti itu, anak akan semakin banyak merekam nama-nama benda.
- Berbicara kepada bayi sebanyak dan sesering mungkin. Tindakan seperti ini merupakan salah satu cara orangtua mengajarkan berbicara kepada anak. Lakukanlah dalam segala kesempatan, misalnya pada saat orangtua memandikan bayi, katakanlah kepadanya’ sekarang Ade mandi dulu ya.., lalu pakai sabun supaya badannya menjadi bersih dan wangi’. (yer)

Nov25
‘Duuuuh, gimana ya kok ngggak ngerti aja…’.
Disadari atau tidak, ungkapan seperti itu mungkin sering diucapkan orangtua ketika sedang mengajarkan sesuatu pada anak. Misalnya, ketika orangtua mengajarkan anaknya membaca, menulis atau menghitung. Kondisi seperti ini kadang-kadang membuat orangtua merasa heran dan mengeluh mengapa anaknya sulit untuk ‘memahami’ apa yang diterangkannya. Padahal, boleh jadi cara mengajar dan bahkan buku yang digunakannya sama dengan yang digunakan temannya untuk mengajar anaknya. Namun sayang, anaknya tidak sehebat anak temannya, masih kecil sudah pintar membaca, menulis, dan menghitung. Apa yang salah ya…?
 Ilustrasi: www.123rf.com
Menanggapi kasus di atas, sejatinya orangtua tidak menuntut anak untuk dapat melakukan sesuatu yang sama persis dengan apa yang orang lain mampu melakukannya. Kemampuan anak yang satu dengan yang lainnya akan berbeda. Perlu orangtua ingat kembali, pada dasarnya setiap anak adalah unik dan hebat. Mereka memiliki kecerdasan masing-masing, anak yang satu hebat dalam bidang ilmu hitung, baca dan menulis, boleh jadi anak yang satunya lagi hebat dalam bidang seni dan teknologi.
Hal yang perlu orangtua perhatikan ketika mengajarkan sesuatu pada anak, selain perlu ditunjang dengan buku dan cara pengajaran yang tepat, suasana yang kondusif juga menjadi hal penting yang dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam menyerap materi. Suasana yang terkesan memaksa dan menegangkan karena disampaikan dengan cara emosional dapat membuat anak sulit untuk mengerti materi yang sedang diajarkan.
Mengajarkan sesuatu yang positif pada anak tentu sangat baik, yang paling penting adalah tidak dengan cara memaksa atau emosional. Selama orangtua mengajarkannya dengan cara yang baik, misalnya tidak dengan marah-marah atau membentak-bentak, anak akan merasa senang dan nyaman, ia tidak akan merasa tertekan atau pun terpaksa. Dengan demikian, materi yang disampaikan orangtua akan lebih mudah dimengerti anak.
Sebaliknya, jika orangtua mengajar anak dengan cara emosional atau marah-marah, apalagi menghinanya, selain dapat melukai hati anak, juga dapat mengikis rasa percaya dirinya (merasa dirinya tidak mampu). Oleh karena itu, marilah kita ciptakan suasana yang kondusif dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Suasana yang menyenangkan dapat membantu anak lebih mudah dalam menerima pelajaran, ia akan merasa nyaman atas setiap tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya (Husain:2007). yer

Nov24
Memperhatikan sifat dasar orangtua, mereka cenderung selalu merasa khawatir pada anak. Kekhawatiran orangtua tidak hanya pada saat anak masih kecil saja, ketika anak sudah dewasa bahkan sudah menjadi orangtua pun mereka tetap memikirkan dan masih sering merasa khawatir.
Ketika anak masih kecil, orangtua khawatir ia disakiti temannya, tidak mempunyai teman atau khawatir ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anaknya . Begitu juga ketika anak sudah dewasa dan bahkan berkeluarga, mungkin kekhawatiran orangtua akan semakin bertambah. Orangtua khawatir ia tidak memiliki cukup uang, anaknya sakit, khawatir tidak dapat menafkahi keluarganya atau tidak dapat membimbing keluarga.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Sifat dasar orangtua di atas sering diungkapkannya dalam bentuk yang berbeda. Misalnya, dengan menanyakan langsung pada anak atau dengan cara menepon anak untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Orangtua melakukan hal tersebut selain untuk mengurangi kekhawatirannya, juga merupakan salah satu bentuk ungkapan perhatian pada anak.
Sayangnya, bentuk perhatian orangtua seperti itu tidak selalu dapat diterima anak dengan senang hati, apalagi jika orangtua mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan dengan sering meneleponnya menanyakan hal yang sama.
Memperhatikan anak dengan cara meneleponnya atau mengirim SMS adalah lebih baik daripada tidak memperhatikannya sama sekali. Tetapi ada cara yang lebih baik jika orangtua dapat melakukannya, yaitu dengan menyediakan waktu untuk bercengkrama dengannya. Pancinglah anak supaya ia mau bercerita tentang apa saja pada orangtua. Ketika anak sedang bercerita, dengarkan dan berikanlah respon padanya sehingga ia merasa nyaman. Pada saat anak bercerita dan bertatap muka dengan orangtua, ia akan merasakan perhatian orangtua yang sesungguhnya. Ia memiliki waktu yang cukup untuk mengeluarkan isi hatinya, tidak sefihak saja seperti percakapan pada telepon yang kadang waktunya sangat terbatas).
Oleh karena itu, berikan perhatian pada anak dengan meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengannya secara harmonis. Ketika orangtua sudah tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi secara harmonis dengan anak, karena sibuk dengan urusan pekerjaan atau urusan pribadinya, orangtua tersebut akan kehilangan sensitivitas serta kesadaran bahwa anak mereka sedang dalam ‘bahaya’ yang dapat merugikan, bukan saja pada dirinya sendiri, tetapi juga orangtua dan lingkungannya (Linda & Richard Eyre, 2006). Orangtua tidak tahu apa yang sedang diinginkan atau dibutuhkan anak, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh anak, tidak tahu apa yang sedang dilakukan anak, hingga akhirnya orangtua tersebut mendapatkan anak dalam kondisi ‘berbahaya’. Kurang perhatian orangtua sering membuat anak menjadi mudah terbawa arus negatif. (yer)

Nov23
Setiap anak adalah unik, termasuk juga sikap atau perilakunya. Antara anak yang satu dengan yang lainnya selalu ada perbedaan. Ada yang cenderung pendiam, ada yang susah diatur dan ada juga yang suka membantah. Menghadapi perilaku anak seperti itu tentu bukan hal yang mudah, orangtua perlu lebih sabar.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Perilaku anak yang sulit diatur, suka membantah dan sulit dinasehati sering membuat orangtua merasa frustrasi. Mereka tidak tahu harus menggunakan cara seperti apa lagi untuk mendidik anak. Berbagai cara sudah mereka lakukan, mulai cara halus dengan menasehati dan memperingatkannya berulang-ulang, hingga cara kasar (menjewernya, mencubit, atau bahkan kadang-kadang orangtua memukulnya). Tetapi sayang, perilaku anak kadang sulit berubah. Ketika orangtua menasehatinya, anak tampak mendengarkan, tetapi kenyataannya banyak anak yang seolah-olah mendengarkan padahal sebenarnya tidak (apa yang dikatakan orangtuanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri).
Ketika anak tidak dapat diajak ‘kompromi’, selalu membantah jika diberi tahu. Misalnya harus menggosok gigi sebelum tidur, tidak boleh menahan-nahan pipis, atau selalu menolak jika diminta membereskan bekas mainnya, orangtua dapat memberikan suatu hukuman padanya.
Memberi hukuman kepada anak tentu perlu pertimbangan yang baik, hal ini supaya tidak meninggalkan efek negatif. Berikan hukuman sesuai dengan kemampuan anak dan tidak menimbulkan risiko fatal. Misalnya, menghindari menghukum anak dengan tidak memberi bekal uang jajan sekolah secara berlebihan, misalnya lebih dari satu hari. Hukuman seperti itu tidak bijaksana, sebab kondisi yang sulit sering mendorong anak melakukan suatu hal yang bukan saja dapat merugikan orang lain, tetapi juga dirinya dan orangtua. Pada kondisi terpaksa bukan hal yang tidak mungkin anak mengambil uang atau barang milik orang lain.
Menghukum anak dapat dilakukan dengan cara lain yang lebih bijaksana. Misalnya, orangtua dapat memberikan hukuman kepada anak dengan cara mengurangi hal-hal yang berhubungan dengan kesenangannya. Untuk anak yang suka menonton TV, orangtua dapat memberikan aturan sebagai hukuman dengan cara membolehkan anak menonton TV lagi apabila telah selesai merapikan bekas mainnya atau ketika ia sudah menyelesaikan makan malamnya.
Ada hal penting yang perlu orangtua ingat, tujuan memberikan hukuman kepada anak adalah supaya ia bisa merenungi dan tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah ia lakukan . Jika orangtua langsung marah-marah, membentak, memukul atau menghukum anak ketika ia melakukan suatu kesalahan atau tidak patuh pada orangtua, anak tidak memiliki kesempatan untuk merenung. Mungkin anak tidak mengerti mengapa ia dibentak- bentak dan dihukum.
Hukuman akan lebih efektif jika diberikan secara proporsional dan bijaksana. Berikanlah hukuman sesekali saja, hanya untuk masalah yang sangat serius. Sering menghukum anak apalagi untuk masalah -masalah kecil dapat menimbulkan rasa marah dan sikap tidak hormat pada orangtua. Jika orangtua sering memberikan hukuman pada anak, lambat laun tindakan orangtua tersebut dapat menimbulkan ikatan antara anak dengan orangtua akan menjadi terputus (Jacob Azerrad:2005). ( yer )
[ilustrasi:www.123rf.com]

Nov22
Disengaja ataupun tidak, banyak orangtua atau bahkan diri kita sendiri sebagai orangtua pernah melakukan tindakan ini, yaitu meniup-niup makanan sebelum diberikan kepada bayi. Tujuannya adalah supaya makanan tersebut tidak terlalu panas saat dimakan bayi.
Niatnya sudah baik, tetapi perlu kita ketahui bahwa tindakan ters
ebut tidak sehat untuk bayi. Di dalam mulut orang dewasa kemungkinan besar banyak terdapat bakteri atau kuman. Mulut orang dewasa tidak dijamin tanpa bakteri atau penyakit. Ketika orangtua meniup-niupkan udara dari mulutnya, bakteri atau kuman akan ikut tertiup bersama cipratan air liur dan menempel atau meresap pada makanan yang akan diberikan pada bayi. Akibatnya, kuman tersebut akan ikut termakan oleh bayi.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Selain meniup-niup makanan bayi, ada juga orangtua yang menyuapi bayi tanpa jeda. Ada beberapa kemungkinan hal ini terjadi. Pertama, boleh jadi karena ketidaktahuan orangtua bahwa memberi makan bayi tanpa jeda adalah berbahaya. Ketika bayi tersedak oleh makanan, pernafasan bayi akan terganggu. Kedua, mungkin karakter orangtua yang tidak sabar, ia ingin makanannya tersebut dapat segera habis. Ketiga, mungkin juga karena bayi tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda sudah kenyang, sehingga orangtua terus menyuapinya tanpa jeda.
Apapun alasannya, sebagai orangtua bijak sejatinya harus tetap memperhatikan cara yang baik dan sehat ketika menyuapi bayi. Suapi bayi setelah makanan yang ada di dalam mulutnya habis. Hindarkan meniup-niup makanan atau bahkan meloloh makanan yang akan diberikan pada bayi. Ingatlah bahwa di dalam mulut orang dewasa terdapat banyak kuman penyakit. Alih-alih si kecil sehat, malah bisa saja ia jadi sakit lantaran kuman di dalam mulut orang dewasa ‘pindah tempat’ ke mulut bayi (Nakita 398/VIII/18/ November 2006). (yer)

Nov21
Setiap manusia pernah mengalami emosi atau marah. Bukan saja orang dewasa yang bisa marah, anak kecilpun sesekali bisa marah. Banyak hal yang dapat membuat seseorang menjadi marah. Kemarahan setiap orang bisa berbeda, ada yang diam ‘seribu basa’ (ngambek), merusak barang-barang yang ada disekelilingnya (membanting, merobek), berteriak dan menangis histeris, pergi meninggalkan ruangan, mengeluarkan kata-kata kasar atau kotor, membentak, bahkan ada juga orang yang ketika marah ia memukul. Masalah yang memicu kemarahan seseorang juga beraneka ragam, mulai dari masalah sederhana hingga yang prinsip.
 Ilustrasi: www.wonderful-family.web.id
Mengendalikan emosi seringkali tidak mudah, perlu latihan bersabar. Terlebih jika masalah tersebut dirasakan sangat prinsip. Bukan saja orang dewasa, anak kecilpun akan marah jika ada sesuatu yang dianggapnya penting tidak diindahkan oleh orang yang ada disekelilingnya. Anak akan marah jika ia dibohongi. Kasus ini sering terjadi ketika orangtua lupa akan janjinya, orangtua berjanji akan membelikan sebuah mainan yang dipesan anaknya sepulang dari kantor. Selain itu, kadang-kadang anak marah, berontak dan menangis karena ia memaksa ingin dibelikan sesuatu padahal orangtua tidak sanggup membelikannya, karena harganya mahal atau barang tersebut dinilai kurang memberikan manfaat.
Ketika orangtua menghadapi kemarahan anak seperti di atas, sikap bijaksana yang dapat orangtua lakukan adalah tidak langsung membentak apalagi menyakiti fisik anak (memukul, mencubit, menjewer) dengan harapan ia akan diam atau berhenti marah. Tindakan tersebut boleh jadi tidak dapat meredakan kemarahan anak, sebaliknya semakin anak diperlakukan kasar oleh orangtua, anak akan semakin marah. Akhirnya, baik orangtua maupun anak mungkin akan sama-sama merasakan sedih dan ‘luka batin’.
Cobalah untuk lebih bersabar dalam menghadapi marah anak. Jika ketahuan sesekali anak marah dengan mengeluarkan kata-kata kasar, tidak sopan atau kotor, berilah pengertian kepadanya bahwa tindakannya tersebut adalah tidak baik. Mungkin ia belum tahu arti dari kata-kata tersebut, hanya meniru orang lain ketika sedang marah atau ia tidak tahu cara lain untuk membalas sakit hati atau mengungkapkan perasaan tidak senangnya. Katakan kepadanya, orangtua memahami bahwa ia sedang marah atau tidak suka, tetapi tidak baik ia mengucapkan kata-kata kotor kepada orangtua ataupun orang lain (Adil Fathi Abdullah, 2003).
Orangtua dapat mengajarkan pada anak bagaimana cara yang baik dalam mengungkapkan perasaannya ketika ia merasa tidak senang atau marah. Selain berbicara langsung, ia juga dapat menuliskan perasaannya tersebut melalui gambar atau tulisan, sesuai dengan kemampuannya. Biasanya, anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak sering mengekspresikan perasaannya dalam bentuk gambar. (yer)

Nov18
Mendampingi anak sukses tidak cukup dengan kesabaran, kasih sayang dan sikap lembut saja. Orangtua yang sukses harus memiliki ilmu dan wawasan yang cukup (Syamsuddin Noor:2009). Hal ini untuk menghindari terjadinya kesenjangan yang terlalu jauh antara pengetahuan yang dimiliki orangtua dengan anak.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Banyak orangtua merasa heran dengan dirinya, mengapa semakin bertambah usia anak, semakin banyak hal yang dirasakan ‘tidak nyambung’, terutama ketika berbicara dengan anaknya. Hal yang sama juga dirasakan oleh anak, ia merasa tidak nyambung jika ‘ngobrol’ dengan orangtuanya, sehingga ia lebih memilih berbicara pada temannya. Anak menganggap orangtuanya ‘tidak akan mengerti’ dengan urusan atau masalah yang sedang dihadapinya. Kondisi seperti ini sebaiknya tidak dibiarkan berlangsung dalam waktu yang lama. Orangtua yang kurang wawasan dan kurang berkembang pola berpikirnya dapat mempengaruhi minat diskusi anak. Ia akan merasa enggan dan mungkin memutuskan tidak perlu menceritakan hal tertentu kepada orangtua karena dianggap akan ‘tidak nyambung’ dan hanya sia-sia saja.
Ketika wawasan dan pengetahuan orangtua tertinggal jauh dari apa yang diketahui anak, ia akan berbicara dengan orangtuanya terbatas pada hal-hal yang sederhana dan mendasar saja, misalnya berbicara mengenai menu makanan, pakaian atau cerita sederhana lainnya.
Perbedaan cara berpikir yang terlalu jauh antara anak dan orangtua sering kali menimbulkan konflik atau perbedaan pendapat. Di sinilah pentingnya orangtua memiliki wawasan dan cara berpikir yang luas. Kematangan berpikir bukan berarti orangtua dituntut harus memiliki pengetahuan dan wawasan seperti yang dimiliki oleh anaknya yang sudah lulus S3 atau sekolah tinggi, tetapi setidaknya orangtua dapat mengimbangi pola pikir anak sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara anak dengan orangtuanya.
Meninngkatkan wawasan tidak harus melalui jalur pendidikan formal, orangtua bisa mengikuti seminar, pelatihan, atau yang paling mudah adalah dengan memperbanyak membaca, baik buku, majalah, atau tabloid. Semakin luas wawasan atau ilmu yang dimiliki orangtua, akan semakin bijaksana dalam menyikapi segala perkembangan yang terjadi pada anak. Percayalah, setinggi apapun gelar anak, ia tetap mengharapkan pandangan dan wawasan orangtua untuk membantu memecahkan masalahnya. (yer)

Nov17
Seiring bertambahnya usia anak menuju remaja, perlakuan orangtua terhadap anak terutama dalam hal mengungkapkan kasih sayang akan berbeda. Ketika anak masih kecil, orangtua dapat mengungkapkan kasih sayang dengan cara menciumnya, memeluknya atau mengelus kepalanya.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Penting orangtua ketahui, ketika anak menginjak usia remaja, ia dengan caranya akan mulai menolak ciuman, pelukan, atau elusan sebagai ungkapan kasih sayang orangtua. Kasih sayang yang diharapkan anak remaja bukan lagi berupa sentuhan fisik. Ada beberapa cara yang dapat orangtua lakukan untuk mengungkapkan kasih sayang kepada anak remaja, diantaranya adalah dengan memberikan waktu berkualitas pada anak, menyediakan waktu untuk berbincang- bincang dengannya atau mendengarkan curahan hatinya, membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, membantu memperbaiki motornya, menemani belanja kebutuhannya atau mengajarkan apa yang ia ingin orangtua ajarkan kepadanya (belajar mengendarai motor atau mobil) (Chapman:2007). (yer)

Nov15
Bahagia rasanya melihat anak-anak sehat, cerdas dan lucu. Tingkah laku dan sikapnya yang menggemaskan sering membuat orangtua merasa kagum, senang dan bahagia. Anak dengan semua kelebihan dan kekurangannya membuat kehidupan dalam sebuah keluarga menjadi berwarna. Kehadirannya dapat membuat orangtua menjadi lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Anak memberikan energi lebih pada orangtua dalam mencapai impian dan harapan, dapat hidup lebih bahagia dan lebih baik di masa yang akan datang.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Mewujudkan impian dan harapan melalui anak tentu perlu pendampingan yang baik. Tindakan menghormati anak sejak ia kecil merupakan salah satu upaya menciptakan kepribadian yang baik. Menghormati anak yang masih kecil seperti halnya orangtua menghormati orang dewasa dapat menumbuhkan sifat baik, rendah hati dan percaya diri. Sifat rendah hati pada anak akan tumbuh melalui perilaku yang dilakukan orangtuanya, sebagai orang yang lebih tua tetap menghormati walaupun kepada anak yang masih kecil. Anak menjadi percaya diri karena tindakan positifnya selalu diapresiasi orangtua.
Menghormati anak dapat dilakukan dengan cara membiasakan berbicara menggunakan bahasa yang baik dan sopan, memanggil anak dengan sebutan yang baik, mengucapkan terima kasih ketika anak membantu atau melakukan sesuatu kebaikan, mengucapkan maaf ketika orangtua melakukan kesalahan, tidak membentak, memarahi atau bahkan memukul ketika ia melakukan suatu kesalahan.
Anak yang mandiri,rendah hati, percaya diri, bertanggung jawab, berakhlak baik dan disiplin adalah harapan semua orangtua dan dambaan semua orang. Untuk mewujudkannya, Nabi saw menyarankan orangtua untuk selalu menghormati dan membantu anak. Caranya adalah dengan menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya (Quraish Shihab:2007).(yer)

|
Amiiiin..., semoga keluarga mBak Uchy selalu bahagia ya... yakinlah bahwa segala hal kalau diupayakan dengan sungguh-sungguh Insyaalloh hasilnya akan maksimal.... ...
Setuju.. Saya ingin sekali keluarga saya bisa seperti itu. Semoga yaa:-)