Dalam kesehariannya kadang-kadang anak suka mengajak kita (orangtua) menemaninya untuk bermain peran, bermain drama. Ia akan senang jika orangtua dapat memainkan peran sesuai dengan peran yang diinginkannya, contoh orangtua memainkan peran sebagai anak dan ia sendiri menjadi orangtua (bertukar posisi). Pada kesempatan seperti ini secara tidak langsung sebenarnya anak sedang belajar. Ia sedang belajar menirukan perilaku orangtua yang pernah ia terima, baik melalui pendengarannya maupun penglihatannya. Ucapan dan perbuatan orangtua biasanya ditirunya dengan sempurna.
Janganlah merasa heran ketika anak memerankan peran sebagai orangtua yang sedang marah ucapan dan perilakunya mirip dengan apa yang pernah orangtua lakukan kepadanya. Hindari menilai buruk permainan yang satu ini. Perlu orangtua ketahui bahwa bermain peran memberikan banyak nilai positif, baik kepada anak maupun orangtua. Melalui peran sebagai orangtua yang dilakukan oleh anak dapat memberikan banyak masukan kepada orangtua tentang hal-hal yang sebenarnya kurang baik atau tidak disukai anak. Selai itu, melalui bermain peran seperti ini kecerdasan interpersonal yang terdapat pada diri anak akan semakin terasah. Pada saat anak bermain peran melalui drama yang ia ciptakan, ia belajar mengamati dan menirukan peran lain. Dengan cara berusaha menjadi orang lain, ia juga belajar hidup bersama dengan orang lain. Oleh karena itu, janganlah orangtua merasa bosan atau bahkan menolak bermain peran bersama anak. Dengan bermain peran, kemampuan anak dalan berinteraksi dengan orang lain akan semakin mahir (Maya & Wido, 2006). Anak akan semakin memahami dan mudah beradaptasi dalam menghadapi berbagai macam karakter orang-orang yang ada di dekatnya (yer).



ada permainan lain ga yg bisa meningkatkan kecerdasan interpersonal anak? klo bs permainan yg berdasarkan teori ahli y..
trmksh