Wednesday, 30 July 2008

Tips Menghadapi Ledakan Anak

Seorang anak pasti mengalami ledakan-ledakan emosional. Ia memiliki dorongan yang kuat untuk merusak barang. Para psikolog menyarankan kita agar memenuhi keinginan anak itu dan membiarkannya melepaskan kemauannya selama tidak membahayakan dirinya atau orang lain. Kita juga sebaiknya berupaya untuk mengarahkan perilaku anak ini ke dalam suatu aktivitas yang bermanfaat dan tidak mengekang dorongan jiwanya secara berlebihan (Adil Fathi Abdullah, 2003).

Friday, 25 July 2008

Tips Menanggapi Pertanyaan Anak

Sebagian anak ada yang memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi terhadap sesuatu yang ada disekelilingnya. Anak banyak bertanya tentang ini dan itu. Bahkan terkadang anak bertanya tentang sesuatu yang sulit orangtua untuk menjawabnya. Misalnya, ‘Bu, kok bisa ada ade bayi di dalam perut ibu, dari mana asalanya ade bayi itu, Bu?’.


Dari rasa ingin tahu anak tersebut maka tak salah bila ia banyak bertanya. Sebagian ada orangtua yang tidak senang dengan sikap anak yang banyak bertanya. Orangtua seperti itu biasanya menghindar atau bahkan melarang anak banyak bertanya. Orangtua tersebut menganggap bahwa pertanyaannya tidak penting untuk dijawab.


Sikap orangtua di atas tentu akan membuat anak merasa bertambah bingung. Mungkin saja anak tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi dari orangtuanya. Tetapi, rasa ingin tahu yang membuatnya bingung bisa saja mendorong anak bertanya kepada orang lain selain orangtuanya. Keadaan ini akan membahayakan anak jika ia ternyata bertanya kepada orang yang tidak tepat. Boleh jadi jawaban yang ia terima adalah jawaban yang dapat merusak fikirannya (yer).


Oleh karena itu, adalah orangtua bijak apabila dapat meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan anak. Ada beberapa hal yang perlu orangtua perhatikan ketika menanggapi pertanyaan anak ( Adil Fathi Abdullah, 2003), yaitu:

  1. Berusahalah untuk tidak mengelak pada pertanyaan anak dengan cara apa pun karena hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya justru menambah rumit. Anak akan terus berusaha menanyakan masalah yang membingungkannya tersebut jika ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan yang sesuai dengan tingkat berfikirnya.
  2. Hindarkan berkata kepada anak, Kamu masih kecil, kalau sudah besar nanti kamu akan tahu jawaban pertanyaanmu itu’. Pertanyaan seperti ini tidak menenangkan anak, namun justru membuat ia semakin bingung. Hal yang difahami dari ucapan itu adalah bahwa orangtuanya tidak mau menjawab pertanyaannya karena suatu hal. Tindakan seperti itu akan menambah kebingungan dalam benak sang anak.
  3. Ketika menjawab pertanyaan anak, jawablah dengan terang dan jelas sesuai dengan taraf berfikirnya, tidak menjawab suatu pertanyaan anak dengan jawaban yang terlalu luas sehingga anak tidak faham. Hindarkan memberi jawaban yang jauh dari kenyataan agar ia tidak merekam pemahaman yang salah.

Thursday, 24 July 2008

Memukul Bukan Solusi Baik Meredakan Kemarahan Anak

Kadang-kadang anak marah kepada orangtua karena sesuatu hal. Misalnya, orangtua lupa melaksanakan janji mereka kepada anak, anak memaksa untuk dibelikan sesuatu, atau orangtua yang terlalu bersikap membela adiknya daripada dia. Apabila orangtua menghadapi anak yang sedang marah shingga mengeluarkan kata-kata kasar dan lancang, janganlah orangtua langsung memukul atau menghinanya. Tindakan tersebut tidak akan meredakan kemarahannya. Bahkan sebaliknya, suasana akan semakin buruk, orangtua dan anak mungkin pada akhirnya akan sama-sama merasakan luka bathin.


Pada umumnya, anak bersikap marah, mengeluarkan kata-kata kotor, atau bersikap tidak sopan boleh jadi karena ia belum tahu bagaimana mengendalikan emosinya dengan baik. Ia belum tahu cara lain untuk membalas sakit hatinya atau rasa tidak senang pada seseorang kecuali dengan mengatakan kata-kata kotor.


Oleh karena itu, janganah orangtua langsung memukul apabila anak marah dan terpaksa harus mengeluarkan kata-kata kotor. Solusi yang baik adalah berikanlah pemahaman kepadanya bahwa apa yang dikatakannya tadi adalah tidak benar dan tidak sopan. Katakan kepadanya, orangtua memahami bahwa ia sedang emosi. Akan tetapi, tidak pantas ia mengucapkan kata-kata kotor kepada orangtua (Adil Fathi Abdullah, 2003).


Kesimpulannya, ketika anak sedang marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, maka hindarkan menghukum secara fisik (memukul) atau pun melukai bathin anak dengan menghina dan membentak. Lebih baik berikanlah pengertian kepadanya dengan saran atau nasehat. Selain itu, ajarkanlah kepadanya bahwa ada cara lain untuk menyelesaikan masalah yang sedang ia alami, misalnya dengan bicara yang baik kepada orangtua, atau mungkin menuliskannya dalam sebuah surat. Dengan demikian, sedikit demi sedikit dengan semakin bertambah usia anak, maka sikap anakpun akan berubah menjadi baik. Semakin ia diingatkan bahwa sikap kasar dan tidak sopan adalah sikap yang salah, maka iapun akan semakin menyadari bahwa perbuatan itu adalah tidak baik. Semakin dewasa, anak pun tidak akan melakukannya lagi (yer).

Wednesday, 23 July 2008

Pengaruh Cinta dan Kasih Sayang Orangtua Terhadap Bayi

Bayi terlahir dengan kondisi yang sangat lemah dan tidak berdaya. Untuk bisa hidup normal ia sangat tergantung kepada orangtuanya. Selain ia sangat membutuhkan air susu ia juga sangat membutuhkan cinta, kasih-sayang, pemeliharaan, dan perlindungan dari orangtuanya.


Kekuatan cinta, perhatian, dan kasih-sayang yang diberikan orangtua kepada bayi seringkali menjadi penangguh atau obat bagi rasa sedih dan sakit yang ia rasakan. Ketika bayi sedang sedih, cemas, takut, atau sakit karena terjatuh, ia akan menjadi lebih tenang jika diberikan kasih sayang, belaian, dan pelukan oleh orangtuanya. Perhatian dan pengertian orangtua pada apa yang dibutuhkan bayi dapat membuat rasa sedih dan sakitnya berkurang atau bahkan menjadi tidak terasa lagi.


Dengan berlalunya waktu, kontak penuh kasih-sayang dengan orangtua itu bukan hanya merupakan sumber kepuasan dan kebahagiaan saja bagi sang bayi, akan tetapi juga bisa memperkuat kepribadiannya dalam menanggung semua bentuk duka derita, luka dan kememaran sebagai akibat dari macam-macam deraan hidup. Selain itu, cinta dan kasih sayang orangtua juga penting sekali bagi perkembangan karakter/watak dan kehidupan emosional bayi, yang kelak akan mampu mewarnai sikap hidup serta relasinya dengan individu lain. Cinta, kasih sayang, belaian, dukungan, dan perhatian orangtua dapat membuat anak hidup senang dan bahagia (DR. Kartini Kartono, 2007).

Tuesday, 22 July 2008

Jawaban Untuk Bapak Syahidian....

Assalamu'alaikum,
Saya ucapkan terimakasih atas kunjungan Bapak Syahidian di blog ini. Saya akan mencoba memberikan informasi yang saya tahu untuk pertanyaan Bapak tentang apakah bayi yang masih berumur sekitar 40 hari sudah bisa diajak bepergian jauh?


Menanggapi pertanyaan Bapak di atas, sepengetahuan saya bahwa bayi yang sudah berusia sekitar 40 hari sudah bisa diajak bepergian. Seandainya perjalanan yang akan Bapak lakukan adalah memakai pesawat, supaya bayi tetap nyaman ketika berada di dalam pesawat tersebut maka sebaiknya istri Bapak sering-sering memberi ASI pada bayi. Hal tersebut supaya tekanan udara di dalam dan di luar tubuh bayi tetap seimbang. Sekedar informasi juga bahwa saudara saya pernah membawa bayinya yang baru berusia sekitar satu bulan naik pesawat terbang dan Alhamdulillah bayinya baik-baik saja.


Untuk informasi lebih akuratnya tentu Bapak/Ibu perlu menanyakan langsung ke ahli kesehatan, misalnya dokter. Biasanya dokter akan memberikan saran dan tips yang harus dilakukan orangtua pada bayinya selama perjalanan jauh tersebut. Demikian saran saya. Terimakasih. Saya mohon juga kepada pembaca setia yang lain barangkali ada yang ingin berbagi informasi dan pengalaman tentang pertanyaan ini, silakan bergabung bersama kami.......

Wassalam,
Yusi

Saturday, 19 July 2008

Melatih Anak Bersikap Cerdas Dengan Uang

Cerita ini adalah nyata dari keluarga saya pribadi. Ketika anak saya yang pertama Fahma minta dibelikan sesuatu, maka suami akan memintanya membuat sesuatu terlebih dahulu sesuai dengan kemampuannya. Suami tahu bahwa Fahma memiliki kemampuan dalam membuat artikel, game, atau gambar dengan menggunakan komputernya.


Sebelum Fahma membuat karyanya, biasanya di antara mereka berdua melakukan suatu kesepakatan terlebih dahulu tentang harga yang akan ditawarkan oleh suami dengan jenis karya yang akan dibuat oleh Fahma. Setelah pekerjaan Fahma selesai, suamipun selalu bersedia mengantar Fahma membelanjakan uang hasil karyanya tersebut.

Melihat kondis seperti itu, pada awalnya saya sungguh tidak tega. Saya tahu Fahma sangat ingin memiliki benda tersebut dengan segera. Padahal untuk membuat artikel atau game yang cantik tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ia mungkin akan sulit membagi waktunya. Setiap hari Fahma sangat sibuk. Selain sekolah dari pagi hingga sore, iapun mempunyai beberapa jadwal kursus dan pekerjaan rumah lainnya.


Terkadang saya protes dengan sikap suami seperti itu, ingin rasanya saya langsung membelikan benda yang diinginkannya tanpa kompromi dulu dengan suami. Namun, itu adalah tidak baik tentunya. Suami ingin mengajarkan Fahma terbiasa dengan ‘kerja keras’ dan bertanggung jawab. Suami tidak meminta anak mengerjakan suatu pekerjaan di luar kemampuannya.


Setelah saya perhatikan, ternyata tindakan suami membuahkan hasil yang positif. Fahma menjadi terbiasa dan semakin terlatih menggunakan komputer dan nalarnya. Selain itu, iapun selalu mempertimbangkan terlebih dahulu apabila ia akan menggunakan uang. Ia tidak mau memboros-boroskan uang untuk benda yang tidak bermanfaat.


Ternyata apa yang dilakukan suami selama ini adalah menghasilkan sikap positif untuk Fahma. Ada hal yang semakin membuat saya menjadi membenarkan tindakan suami di atas. Terutama ketika saya selesai membaca sebuah buku karya Cary Chapman, 2007. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa mendorong anak mengerjakan sesuatu sesuai dengan kemampuannya dan memberikan sejumlah uang sebagai upahnya dapat membuat anak mampu menghargai uang. Anak akan merasakan jerih payah memperoleh suatu barang dengan hasil kerjanya. Dengan demikian, anak tidak akan menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli hal-hal yang tidak berguna atau sia-sia. Anak akan terbiasa menjadi konsumen yang cerdas. Hal tersebut juga menyiapkan anak menghadapi dunia nyata kehidupan orang dewas.

Friday, 18 July 2008

Mengapa Anak Menjadi ‘Berantakan'?

Sebagian orangtua ada yang merasa tidak percaya bahwa anak yang ketika kecil mereka kenal baik dan cukup pintar sekarang tumbuh menjadi remaja yang ’berantakan’. Mereka sering mempertanyakan apa yang menyebabkan anak mereka menjadi remaja yang tidak bertanggung jawab, tidak disiplin, dan suka melakukan banyak kebohongan sehingga tidak sedikit orang yang ada disekelilingnya menjadi korbannya.


Selain hal di atas, ada juga orangtua yang mempertanyakan tentang sikap anak mereka yang menjadi pembangkang di usia remajanya. Orangtua tersebut mengaku bahwa mereka sebagai orangtua telah mendidik dan menyekolahkan anak ke sekolah yang terkenal. Namun, entah apa penyebabnya anak mereka sampai dengan saat ini menjadi remaja yang suka membangkang dan tidak hormat kepada kedua orangtuanya.


Baik dan buruknya perilaku anak adalah bukan terjadi secara tiba-tiba, tentu melalui proses. Supaya anak dapat tumbuh dengan perilaku baik, sebaiknya orangtua mendidik dan mengarahkan anak sejak ia masih kecil. Dengan demikian, perilaku baik yang sering dijaga dan dipupuk sejak kecil akan menjadi kebiasaan dan terbawa sampai anak dewasa nanti (yer).


Ada beberapa hak yang dapat membuat anak menjadi ’berantakan’, diantaranya adalah karena pengaruh lingkungan negatif yang ada di sekeliling anak dan sikap orangtua kepada anak. Orangtua yang sering mengabaikan anak, orangtua yang tidak berusaha melakukan sesuatu dengan benar untuk anak, orangtua yang meninggalkan anak menjaga dirinya sendiri, dan orangtua yang selalu menghindar ketika secara terang-terangan anak membutuhkan dorongan untuk menuju ke arah yang lebih baik merupakan beberapa hal yang dapat memicu anak menjadi ’berantakan’ ( Glenda Hatchett, 2005).

Thursday, 17 July 2008

Anak Tumbuh Sesuai Dengan Apa Yang Dipercayakan Orangtua Kepadanya

‘Anak kecil tahu apa….?’ Itulah kira-kira sepenggal kalimat yang sering terlontar dari mulut sebagian orangtua yang tidak mau anak mereka mengkritik atau memberikan ide kepada mereka. Orangtua seperti itu menganggap bahwa anak kecil tidak perlu didengar ucapannya karena ia belum punya pikiran. Anggapan tersebut adalah tidak tepat, karena terkadang sejak usia dini anak telah memiliki kepribadian dan pandangan tentang banyak hal, bahkan sebagian anak ada yang sudah mampu menyimpulkan suatu ide daripada orang dewasa.


Anak yang sering diajak berdiskusi dan didengar pendapatnya akan tumbuh di dalam diri anak tersebut rasa percaya diri, anak akan merasa bahwa dirinya telah dewasa, dan dapat dipercaya (yer). Jika orangtua memberikan kepercayaan kepada anak dan memperlakukan anak sebagaimana orangtua memperlakukan orang dewasa lainnya yaitu mendengarkan pendapat dan idenya, maka orangtua akan melihat bahwa ia sesuai dengan kepercayaan yang diberikan orangtua kepadanya (Adil Fathi Abdullah, 2003).

Wednesday, 16 July 2008

Beberapa Perbedaan Watak Pada Anak

Setiap anak adalah unik. Salah satunya adalah jika dilihat dari wataknya. Terdapat beberapa watak pada anak yang berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Watak tersebut di antaranya (John Gray, Ph.D., 2004);

  1. Anak sensitif, anak ini mempunyai perasaan lebih kuat, lebih mendalam, dan lebih serius.
  2. Anak aktif, biasanya anak yang memiliki watak aktif akan memiliki kemauan kuat, berani mengambil resiko, dan ingin menjadi pusat perhatian.
  3. Anak responsif cerah, ceria, dan membutuhkan lebih banyak stimulasi; ia berpindah-pindah dari hal yang satu ke hal yang lainnya.
  4. Anak reseptif sopan dan bersikap kooperatif, mengikuti instruksi dengan baik tetapi menentang perubahan.
Apabila orangtua mengetahui watak setiap anak, maka suatu pertengkaran atau kesalahfahaman dalam melakukan aktivitas sehari-hari dapat diperkecil kemungkinannya terjadi. Biasanya, orangua yang memahami setiap watak anak akan mampu memenuhi kebutuhan anak, dengan demikian anakpun akan berusaha untuk memenuhi 'kebutuhan' orangtuanya. Misalnya, jika orangtua mengetahui bahwa anaknya suka diperhatikan dan mereka melakukannya, maka pada situasi lain ketika orangtuanya membutuhkan/menginginkan anak untuk dapat bersikap sopan dan manis di depan tamu yang sedang berkunjung ke rumah, maka iapun akan mudah melakukannya (ia akan memenuhi kebutuhan orangtuanya tersebut).


Pada dasarnyaa, setiap anak ingin selalu dapat menyenangkan orangtuanya yang selalu memberikan perhatian dan pengertian kepadanya. Apabila orangtua mengerti pada apa yang dibutuhkan anak, maka anakpun akan melakukan hal yang sama, patuh kepada orangtuanya (anak memiliki kemampuan meniru yang baik) (yer).

Sunday, 13 July 2008

Tiga Tahap Pertumbuhan Anak Laki-Laki

Kepada pembaca setia yang memiliki anak laki-laki..., saya ingin menginformasikan bahwa ada tiga tahap masa pertumbuhan anak laki-laki yang penting orangtua ketahui. Hal itu supaya orangtua lebih mudah dalam memahami tahap demi tahap pertumbuhan anak dan kebutuhan apa saja yang perlu dibantu oleh orangtua supaya anak dapat tumbuh sesuai dengan harapan orangtua. Tahap-tahap pertumbuhan itu di antaranya adalah (Steve Biddulph, 2005);
  1. Tahap pertama (pada saat kelahiran sampai usia enam tahun) adalah tahap di mana anak laki-laki adalah anak yang keberadaannya seakan-akan hanya milik mama atau ’anak mama’, walaupun mungkin peran ayah saat itu sangat besar untuknya. Sasaran dari tahap ini adalah meberikan cinta dan rasa aman yang kuat, dan menghidupkan anak untuk menghadapi kehidupan sebagai pengalaman yang hangat dan diterima baik.
  2. Tahap kedua mencakup umur antara enam sampai empat belas tahun. Pada saat ini anak laki-laki sudah mulai ingin belajar untuk menjadi seorang laki-laki dewasa, dan semakin memandang pada ayahnya untuk bertingkah laku, walaupun ibunya masih terlibat. Tujuan dari tahap ini adalah mengembangkan kompetensi dan keterampilan sambil mengembangkan kebaikan hati dan kesenangan bermain menjadi orang yang seimbang. Tahap ini adalah usia ketika seorang laki-laki menjadi berbahagia dan aman dengan sifat kelaki-lakiannya.
  3. Tahap ketiga adalah tahap terakhir ketika anak laki-laki berusia empat belas tahun sampai dewasa. Dalam usia ini anak laki-laki sudah memerlukan seseorang yang mampu memberikan masukan jika ia ingin menyelesaikan perjalanannya menjadi seorang laki-laki dewasa yang utuh. Pada saat ini ayah dan ibu bisa membantunya mencarikan seseorang yang bisa dipercaya dan memiliki pemikiran yang ‘dewasa’ sesuai dengan harapan orangtua. Apabila anak tidak memiliki seseorang selain orangtua untuk bisa diajak berbagi perasaan dan memecahkan masalah yang mungkin timbul dalam dirinya, maka khawatir anak akan bergantung pada teman-teman sepergaulannya yang tidak siap untuk membentuk dirinya. Sasarannya adalah mempelajari keterampilan, tanggung jawab, dan harga diri dengan semakin banyak bergabung dengan masyarakat dewasa.

Tips, ketika anak tumbuh menjadi orang dewasa biasanya sedikit demi sedikit ia akan mulai melepaskan ketergantungannya kepada orangtua. Namun, walau demikian peran orangtua untuk tetap terlibat dalam memberikan saran, masukan, dan arahan kepada anak adalah tetap sangat penting untuk anak supaya anak tetap dapat tumbuh sesuai dengan apa yang diharapkan. Selain itu, bagaimanapun orangtua adalah orang yang bisa dipercaya, penuh kasih sayang, dan selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak mereka baik di masa sekarang maupun untuk masa depan nanti. Kecil kemungkinan orangtua ingin 'menjerumuskan' anak sendiri. Sebaliknya, orangtua tentu akan selalu berusaha memberikan pemikiran dan nasehat yang terbaik untuk anak (yer). Oleh karena itu, janganlah orangtua melepaskan anak apalagi yang sudah menginjak remaja mencari informasi dan mencurahkan semua perasaannya kepada pihak lain yang tidak bertanggung jawab. Berikanlah waktu dan kesempatan untuk anak bisa berbicara dan mencurahkan apa yang ia rasakan dan sedang ia fikirkan. Dengan demikian anak tidak akan mencari tempat bergantung kepada orang lain (yer).

Thursday, 10 July 2008

Kesalahan Orangtua Ketika Memberi Makan Bayi

Pembaca yang setia pasti pernah melihat orangtua yang sedang memberi makan bayi dengan meniup-niup makanannya tersebut supaya tidak panas. Perlu orangtua ketahui bahwa tindakan tersebut adalah tidak baik terutama untuk kesehatan bayi. Di dalam mulut orang dewasa tidak dijamin tanpa kuman penyakit. Oleh karena itu, besar kemungkinan ketika meniup-niup makanan tersebut, udara dan cipratan air liur orang dewasa yang ke luar dari mulut akan ikut menyerap ke dalam makanan yang akan diberikan kepada bayi. Akibatnya, kuman tersebut akan ikut termakan oleh bayi sehingga dapat mengakibatkan bayi menjadi sakit (yer).


Selain hal di atas, ada beberapa kesalahan lain yang sering dilakukan orangtua ketika memberikan makan bayi, yaitu;

  1. Bayi disuapi tanpa jeda, sebagian orangtua melakukan tindakan tersebut mungkin supaya makanan yang akan diberikan kepada bayi cepat habis. Selain itu mungkin karena bayi tidak menunjukkan tanda-tanda sudah kenyang. Padahal tindakan orangtua tersebut adalah tidak baik karena perilaku itu dapat membuat bayi tersedak. Sebaiknya, suapilah si kecil ketika makanan yang di mulutnya sudah habis.
  2. Di loloh di mulut, kadang orangtua meloloh makanan yang hendak disantap si kecil. Tujuannya untuk mengetahui apakah makanan itu masih panas atau sudah hangat dan siap dimakan si kecil. Padahal, perilaku tersebut adalah tidak baik. Ingatlah kembali bahwa di dalam mulut terdapat banyak kuman penyakit. Alih-alih si kecil sehat, malah bisa saja ia jadi sakit lantaran kuman di dalam mulut orang dewasa ‘pindah’ tempat ke mulut si kecil (Nakita 398/VIII/18/ November 2006)

Wednesday, 9 July 2008

Perhatian Orangtua Menghindarkan Anak Dari Tekanan Negatif Teman Sebayanya

Ada kala orangtua merasa tidak percaya ketika menyadari bahwa anak mereka tumbuh menjadi orang yang sangat memprihatinkan. Ia menjadi pembangkang, ikut kelompok sebuah geng, minum obat-obatan terlarang, ugal-ugalan, dan bergaul dengan anak-anak lain yang perilakunya sungguh mengerikan, kasar, pemaksa, dan suka berbohong/menipu.


Situasi orangtua seperti di atas adalah sering kita temukan di lingkungan sekitar kita. Orangtua banyak yang terlena dengan kesibukannya masing-masing sehingga mereka lupa pada kewajibannya yaitu mendidik dan membesarkan anak dengan baik. Akibatnya, anak menjadi korban, ia tumbuh menjadi dewasa tanpa merasakan adanya kedekatan dengan orangtuanya, anak tidak pernah mendapatkan arahan positif, dan ketegasan dari orangtuanya sehingga tumbuhlah pada diri anak perasaan bahwa keberadaannya tidak ada yang peduli, tidak ada orang yang mau memperhatikan dirinya, dan merasa bahwa dirinya tidak berharga.


Apabila di dalam diri anak sudah timbul perasaan seperti di atas maka kondisi anak menjadi sangat rentan. Besar kemungkinan anak akan mencari lingkungan yang dapat menerimanya, yang dapat memberikan perhatian kepadanya, dan lingkungan yang orang-orang di dalamnya selalu memberikan dukungan kepadanya, walaupun seringkali lingkungan tersebut adalah negatif/buruk (yer).


Oleh karena itu, supaya anak tidak mudah terpengaruh oleh tekanan negatif dari teman sebayanya, maka anak harus memliki citra diri yang baik dan juga hubungan keluarga yang kuat. Semakin banyak orangtua melibatka diri dengan anak, semakin anak ingin menyenangkan orangtua. Apabila identitas anak relatif baik, maka anak tidak akan tergantung pada temannya. Berikanlah selalu arahan, perhatian, dan dukungan kepada anak. Dengan demikian, orangtua dapat segera mengantisipasi apabila anak mendapatkan tekanan negatif dari teman-temannya (Ronald C. Heagy MSW, 2006).

Tuesday, 8 July 2008

Metode Hukuman Yang Efektif

Menghadapi anak yang sering membuat ulah, susah diatur, dan banyak menyusahkan orangtua adalah menjengkelkan. Terkadang ketika menghadapi perilaku negatif anak seperti itu banyak orangtua yang merasa tidak sabar lagi ingin mencerca, membentak, dan bahkan ingin memukulnya. Namun, tindakan orangtua seperti itu tentu tidak akan efektif, malah boleh jadi sebaliknya anak akan semakin bertingkah dan membangkang.


Ada hal yang penting orangtua ingat kembali bahwa salah satu tujuan dari memberikan hukuman kepada anak adalah supaya anak bisa merenungi kesalahannya dan tidak mengulangi lagi kesalahannya tersebut. Oleh karena itu, apabila orangtua langsung marah-marah, membentak, dan memukul anak ketika ia melakukan suatu kesalahan, maka tentu saja bagi anak tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan kesalahannya tersebut. Anak bahkan mungkin tidak mengerti mengapa ia dipukul atau dibentak-bentak seperti itu. Apabila tindakan orangtua tersebut sering dirasakan oleh anak, maka perasaan benci dan dendam anak kepada orangtua akan timbul dalam dirinya (yer).


Kesimpulannya, metode hukuman akan leih efektif jika digunakan sekali-kali, tidak sering, dan hanya untuk perilaku yang sangat serius. Bentuk hukuman apapun yang sering diterapkan dan diberikan karena hanya masalah kecil akan menimbulkan rasa marah dan dendam kepada orangtuanya. Lambat laun tindakan orangtua tersebut dapat menimbulkan ikatan antara anak dengan orangtua akan menjadi terputus (Jacob Azerrad, Ph.D., 2005).


Daripada memberikan cercaan, omelan, atau pukulan atas tindakan salah yang dilakukan oleh anak, lebih baik berikanlah hukuman lain seperti tidak boleh menikmati hiburan TV, meminta anak duduk di pojok ruangan, atau tidak memberikan perhatian kepadanya dengan mengatakan bahwa orangtua tidak suka pada perilakunya.

Monday, 7 July 2008

‘Kami Sangat Menyayangimu, Nak’

Mungkin di antara kita pernah mendengar anak mengatakan bahwa ‘orangtua tidak menyanginya’. Hal tersebut ia ucapkan karena ia merasa cemburu kepada saudara kandungnya yang dianggap selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang lebih dari orangtua. Mendengar perkataan anak seperti itu orangtua tentu merasa sedih, kecewa, dan ingin berdebat dengannya. Orangtua ingin meyakinkan kepada anak bahwa mereka sangat menyayangi dirinya. Namun, memperdebatkan masalah sayang atau tidak sayang dengan anak dalam situasi seperti itu adalah tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan, mungkin akan semakin menambah buruk suasana. Orangtua boleh jadi marah dan menyalahkan anak karena telah mengatakan yang tidak sesuai dengan apa yang telah orangtua lakukan kepadanya, ingin selalu memberikan yang terbaik kepada semua anak. Begitu juga anak, ia mungkin akan semakin merasa sedih karena orangtuanya ternyata memang tidak memahami perasaannya dan tidak menyayanginya, karena marah-marah.


Ada cara yang cukup efektif untuk menunjukkan kepada anak bahwa orangtua benar-benar menyanginya, yaitu dengan mengatakan bahwa ‘ kamu tahu Nak, ibu/ayah benar-benar menyangimu’. Katakan pernyataan sayang tersebut sesering mungkin pada saat anak tidak menanyakan kepastiannya lagi. Jika anak terus menerus mengatakan bahwa orangtua tidak sayang kepadanya, maka katakan kepadanya bahwa ’itu adalah bukan suatu pernyataan yang perlu didiskusikan, tentu saja ibu/ayah sayang kepadamu Nak, dan kamu juga tahu tentang itu’ (Jacob Azzerad, Ph.D, 2005).


Anak biasanya ingin kepastian dari orang yang sangat ia cintai, yaitu orangtua. Oleh karena itu, berikanlah keyakinan kepadanya bahwa setiap saat orangtua sangat menyanginya. Ucapkanlah kalimat tersebut tidak hanya ketika anak sangat menginginkan jawaban tersebut, tetapi juga pada saat anak sedang tidak mengharapkan keyakinan tersebut. Dengan demikian, anak akan merasa bangga, bahagia dan merasa bahwa dirinya sangat berharga terutama bagi orang yang paling ia cintai, orangtuanya (yer).

Sunday, 6 July 2008

Untuk Teman-temanku ...

Pembaca yang setia….,


Kali ini saya ingin berbagi kebahagiaan kepada teman-teman semua, di antaranya adalah bahwa Alhamdulillah sekarang saya sudah mendapat pekerjaan baru sebagai direktur operasional di PT Falcon Winner Mobile di Bandung. Selain itu, mulai tahun ini juga Alhamdulillah saya diterima menjadi mahasiswi untuk melanjutkan sekolah S2.


Pembaca yang saya cintai…
Walaupun kegiatan saya bertambah, namun saya akan bertekad untuk tetap menulis dan berbagi pengalaman di blog ini. Saya terlanjur mencintai para pembaca dan juga anak-anak semua. Oleh karena itu, sayapun akan berusaha melunasi beberapa artikel yang sempat tidak saya cantumkan di blog ini....


Saya mohon do’a dari teman-teman....semoga dengan bertambahnya dua hal yang sangat berharga di atas, saya dapat membagikan kembali tambahan ilmu dan pengalaman yang saya peroleh nanti kepada pembaca semua di blog ini….. Demikian ungkapan bahagia saya….sampai jumpa di artikel selanjutnya ya….


Salam hangat selalu,
Yusi