Sering kali anak kecil suka bersikap mau menang sendiri, suka memaksakan kehendak, dan menganggap bahwa segalanya adalah hanya miliknya sendiri sehingga orang lain tidak boleh meminjam atau bahkan menyentuhnya. Ketika keinginannya tidak dikabulkan maka ia akan menangis histeris. Itulah gambaran anak kecil.
Sebenarnya sikap anak seperti itu dapat dikatakan wajar. Orangtua tidak bisa menganggapnya egois seperti halnya jika orang dewasa melakukan hal yang sama seperti di atas. Anak kecil menjadi egois karena dia belum bisa memahami dengan baik sudut pandang orang lain. Sifat egois pada anak biasanya bertahan sampai usia anak sekitar tiga atau empat tahun (Dr. Richard Woolfson, 2007).
Oleh karena itu, janganlah orangtua merasa terlalu khawatir apabila anak berperilaku seperti di atas. Sedikit demi sedikit orangtua bisa mengajarkan kepada anak bagaimana senangnya berbagi dan saling membantu dengan orang lain. Dalam perakteknya, orangtua dapat memberikan contoh kepada anak melalui kegiatan sehari-hari atau melalui permainan drama sederhana bersama anak tentang bagaimana berperilaku baik terhadap teman atau orang lain. Sejalan dengan bertambah usia anak, iapun akan semakin mengerti bahwa berbagi dan saling menolong adalah menyenangkan dirinya dan juga orang lain (yer).
Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010
Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Saturday, 28 June 2008
Friday, 27 June 2008
Cara Orangtua Membuat Anak Bahagia
Semua orangtua tentu ingin anak mereka dapat hidup bahagia. Namun banyak di antara mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan supaya anak mereka hidup bahagia, apakah dengan membelikannya mainan dan makanan dalam jumlah yang banyak, atau dengan membelikannya berbagai model pakaian.
Sejatinya membuat anak bahagia tidak harus dalam bentuk materi saja. Membahagiakan anak dapat juga dilakukan dengan memberikan motivasi dan pujian atas perbuatan positif yang telah ia lakukan. Dalam kehidupan sehari-hari sesugguhnya banyak sekali tindakan anak yang bernilai positif. Misalnya, anak bersikap dewasa dengan berusaha membereskan tempat tidurnya sendiri, anak mampu bersikap baik kepada teman-temannya, bertanggung jawab membersihkan kembali bekas air minumnya yang tumpah, mengajak main adiknya, jujur, dan disiplin. Namun sayang, tindakan positif yang dilakukan anak tersebut biasanya sering terabaikan oleh orangtua. Tindakan positif tersebut sering dianggap sebagai tindakan biasa yang memang harus dilakukan anak. Dengan pemikiran seperti itu maka orangtua cenderung tidak peduli, tidak memberikan tanggapan apapun atas tindakan terpuji anak, tidak memberikan pujian, ciuman, pelukan kepada anak sebagai tanda bahwa orangtua setuju dan bangga atas tindakan positifnya).
Apabila kita perhatikan orangtua di lingkungan kita, pada umumnya mereka lebih banyak memerhatikan dan mengomentari perilaku negatif daripada perilaku positif yang dilakukan oleh anak. Padahal, banyak mengomentari kesalahan atau perilaku negatif anak sesungguhnya dapat membuat anak sedih, frustrasi, dan merasa diri tidak berguna. Sebaliknya, anak yang dirinya sering mendapatkan pujian dari orangtuanya maka ia akan merasa bahwa dirinya adalah berharga dan berguna. Dengan demikian, anak akan merasa bahagia.
Penting orangtua sadari bahwa perilaku baik atau buruk anak adalah bersumber dari rumah, orang yang paling dekat dengan anak yaitu orangtuanya. Anak akan mengulangi suatu perilaku yang paling sering mendapatkan perhatian dari orang yang paling dekat dan sering memberikan komentar kepadanya. Misalnya, orangtua selalu memerhatikan dan mengomentari perilaku negatif anak, maka boleh jadi anak akan menyimpulkan bahwa dengan ia berperilaku negatif maka ia akan diperhatikan orangtuanya. Pada dasarnya anak akan merasa senang apabila mendapatkan perhatian dari orang yang ia anggap paling dekat dan penting. Oleh karena itu, ketika ia melakukan tindakan positif dan orangtua tidak mempeduikannya, maka ia akan memilih berperilaku negatif supaya ia mendapatkan perhatian dari orangtuanya (yer).
Kesimpulannya, jika orangtua membuat perilaku baik menjadi berharga bagi anak, selalu memerhatikan dan memuji perilaku baik anak, maka ia akan berusaha untuk mengulangi perilaku baiknya tersebut supaya ia selalu mendapatkan perhatian dari orang yang dicintainya, orangtua.
Pada saat orangtua memberikan pujian kepada anak, berarti orangtua mendorong perasaan harga dirinya, dan anakpun akan mulai merasakan bahwa ia adalah anak yang berguna. Anak yang memiliki perasaan diri berguna dan peduli kepada dirinya, maka ia boleh dikatakan anak yang bahagia (Jacob Azzerad, Ph.D, 2005).
Sejatinya membuat anak bahagia tidak harus dalam bentuk materi saja. Membahagiakan anak dapat juga dilakukan dengan memberikan motivasi dan pujian atas perbuatan positif yang telah ia lakukan. Dalam kehidupan sehari-hari sesugguhnya banyak sekali tindakan anak yang bernilai positif. Misalnya, anak bersikap dewasa dengan berusaha membereskan tempat tidurnya sendiri, anak mampu bersikap baik kepada teman-temannya, bertanggung jawab membersihkan kembali bekas air minumnya yang tumpah, mengajak main adiknya, jujur, dan disiplin. Namun sayang, tindakan positif yang dilakukan anak tersebut biasanya sering terabaikan oleh orangtua. Tindakan positif tersebut sering dianggap sebagai tindakan biasa yang memang harus dilakukan anak. Dengan pemikiran seperti itu maka orangtua cenderung tidak peduli, tidak memberikan tanggapan apapun atas tindakan terpuji anak, tidak memberikan pujian, ciuman, pelukan kepada anak sebagai tanda bahwa orangtua setuju dan bangga atas tindakan positifnya).
Apabila kita perhatikan orangtua di lingkungan kita, pada umumnya mereka lebih banyak memerhatikan dan mengomentari perilaku negatif daripada perilaku positif yang dilakukan oleh anak. Padahal, banyak mengomentari kesalahan atau perilaku negatif anak sesungguhnya dapat membuat anak sedih, frustrasi, dan merasa diri tidak berguna. Sebaliknya, anak yang dirinya sering mendapatkan pujian dari orangtuanya maka ia akan merasa bahwa dirinya adalah berharga dan berguna. Dengan demikian, anak akan merasa bahagia.
Penting orangtua sadari bahwa perilaku baik atau buruk anak adalah bersumber dari rumah, orang yang paling dekat dengan anak yaitu orangtuanya. Anak akan mengulangi suatu perilaku yang paling sering mendapatkan perhatian dari orang yang paling dekat dan sering memberikan komentar kepadanya. Misalnya, orangtua selalu memerhatikan dan mengomentari perilaku negatif anak, maka boleh jadi anak akan menyimpulkan bahwa dengan ia berperilaku negatif maka ia akan diperhatikan orangtuanya. Pada dasarnya anak akan merasa senang apabila mendapatkan perhatian dari orang yang ia anggap paling dekat dan penting. Oleh karena itu, ketika ia melakukan tindakan positif dan orangtua tidak mempeduikannya, maka ia akan memilih berperilaku negatif supaya ia mendapatkan perhatian dari orangtuanya (yer).
Kesimpulannya, jika orangtua membuat perilaku baik menjadi berharga bagi anak, selalu memerhatikan dan memuji perilaku baik anak, maka ia akan berusaha untuk mengulangi perilaku baiknya tersebut supaya ia selalu mendapatkan perhatian dari orang yang dicintainya, orangtua.
Pada saat orangtua memberikan pujian kepada anak, berarti orangtua mendorong perasaan harga dirinya, dan anakpun akan mulai merasakan bahwa ia adalah anak yang berguna. Anak yang memiliki perasaan diri berguna dan peduli kepada dirinya, maka ia boleh dikatakan anak yang bahagia (Jacob Azzerad, Ph.D, 2005).
Sunday, 22 June 2008
Perbedaan Anak Laki-laki dengan Anak Perempuan
Mengasuh anak perempuan dengan anak laki-laki tentu berbeda. Oleh karena itu, supaya orangtua lebih mudah menyesuaikan dalam memenuhi kebutuhan yang diperlukan anak maka penting bagi orangtua mengetahui karakter dasar antara anak laki-laki dan anak perempuan (yer).
Di bawah ini adalah beberapa perbedaan sederhana yang dimiliki oleh anak laki-laki dan anak perempuan (John Gray, Ph.D., 2004), yaitu:
Anak laki-laki
Anak perempuan
Di bawah ini adalah beberapa perbedaan sederhana yang dimiliki oleh anak laki-laki dan anak perempuan (John Gray, Ph.D., 2004), yaitu:
Anak laki-laki
- Anak laki-laki butuh lebih banyak cinta, perhatian, dan penghargaan mengenai apa yang mereka lakukan, kemampuan mereka untuk melakukannya tanpa bantuan dan perbedaan yang mereka buat.
- Anak laki-laki butuh dikagumi atas apa yang mereka lakukan secara lebih baik. Akuilah apa yang mereka lakukan.
- Anak laki-laki lebih butuh dimotivasi dan diberi semangat.
- Anak laki-laki paling bahagia bila merasa dibutuhkan dan dapat memberikan dukungan yang dibutuhkan. Ia menjadi sedih kalau ia merasa tidak dibutuhkan atau tidak mampu menyelesaikan tugas yang dihadapinya.
- Anak laki-laki terutama butuh dipercaya, diterima, dan dihargai agar menjadi penuh kepedulian dan termotivasi.
Anak perempuan
- Anak perempuan butuh lebih banyak cinta, perhatian, dan pengakuan mengenai siapa mereka itu, apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka inginkan.
- Anak perempuan butuh lebih disayangi. Pujilah siapa dia itu.
- Anak perempuan lebih butuh bantuan dan diyakinkan kembali.
- Anak perempuan paling bahagia kalau ia merasa dapat memperoleh dukungan yang dibutuhkan. Ia sedih kalau ia merasa tidak dapat memperoleh dukungan itu dan terpaksa melakukan sendiri semuanya.
- Anak perempuan terutama butuh dipedulikan, dihormati, dan dimengerti agar menjadi penuh kepercayaan dan perhatian.
Thursday, 19 June 2008
Cara Bijak Memberi Hukuman dan Hadiah Kepada Anak
Mendidik dengan memberikan hukuman secara fisik karena anak telah melakukan suatu kesalahan dan memberikan hadiah berupa uang atau makanan karena anak telah melakukan suatu tindakan positif adalah tindakan yang kurang bijaksana. Hukuman fisik dianggap tidak efektif sebagai cara untuk mendidik anak karena dengan cara seperti itu sebenarnya anak tidak memahami di mana letak kesalahannya tersebut. Anak tidak melakukan lagi kesalahannya tersebut boleh jadi bukan karena ia memahami bahwa tindakannya tersebut adalah tidak baik tetapi ia tidak melakukan kesalahan tersebut karena ia takut akan mendapatkan hukuman lagi yang mungkin lebih berat. Maksudnya, anak mungkin tidak melakukan kesalahan tersebut ketika pengawas (orangtua) ada di sekitarnya, tetapi ketika pengawasnya tidak ada di dekatnya maka ia mungkin akan mengulangi kesalahannya tersebut, misalnya memukul lagi adiknya.
Begitu juga dengan memberikan hadiah berupa uang atau benda lainnya kepada anak. Ketika anak melakukan suatu perbuatan yang positif, maka lebih baik anak diberikan pujian. Dengan demikian anak akan merasa bangga pada kemampuan dirinya, bukan karena ingin mendapatkan kesenangan belaka (mendapatkan uang atau permen) (yer).
Kesimpulannya adalah berikanlah hukuman dan hadiah kepada anak sesuai dengan perilaku yang ditunjukkan anak. Hukuman yang paling efektif ketika anak melakukan tindakan negatif adalah dengan memperlihatkan ketidaksetujuan atau penolakan supaya ia merasa malu, sedangkan hadiah yang paling baik atas tindakan positif anak adalah memberikan pujian kepadanya. Pujian yang diberikan orangtua akan membuat anak bangga (Wiwien Dinar Pratisi, 2008).
Contoh kasus menolak atau memperlihatkan ketidaksetujuan kepada anak yang melakukan tindakan negatif (memukul adik). Orangtua dapat mengatakan kepadanya . bahwa orangtua tidak suka kepada anak yang mudah memukul orang lain, karena itu akan menyakitkan seperti halnya ia akan measa sakit ketika dipukul orang lain. Dengan demikian anak akan menjadi malu dan memahami bahwa memukul adalah tindakan yang tidak baik, semua orang termasuk dirinya akan merasakan sakit yang sama ketika dipukul.
Berikanlah hadiah atas tindakan positif anak berupa pujian, karena dengan pujian yang diberikan orangtua akan membuatnya merasa bangga atas kemampuan yang telah ia lakukan tersebut. Misalnya, memuji anak ketika ia sedang membereskan kamar tidurnya ‘ Waaah, Ade sudah besar dan pintar ya sudah bisa merapikan dan membersihkan kamarnya sendiri. Kamar Ade selalu rapi dan bersih, jadi Ade jauh dari debu dan kuman, tidak mudah sakit….’(yer).
Begitu juga dengan memberikan hadiah berupa uang atau benda lainnya kepada anak. Ketika anak melakukan suatu perbuatan yang positif, maka lebih baik anak diberikan pujian. Dengan demikian anak akan merasa bangga pada kemampuan dirinya, bukan karena ingin mendapatkan kesenangan belaka (mendapatkan uang atau permen) (yer).
Kesimpulannya adalah berikanlah hukuman dan hadiah kepada anak sesuai dengan perilaku yang ditunjukkan anak. Hukuman yang paling efektif ketika anak melakukan tindakan negatif adalah dengan memperlihatkan ketidaksetujuan atau penolakan supaya ia merasa malu, sedangkan hadiah yang paling baik atas tindakan positif anak adalah memberikan pujian kepadanya. Pujian yang diberikan orangtua akan membuat anak bangga (Wiwien Dinar Pratisi, 2008).
Contoh kasus menolak atau memperlihatkan ketidaksetujuan kepada anak yang melakukan tindakan negatif (memukul adik). Orangtua dapat mengatakan kepadanya . bahwa orangtua tidak suka kepada anak yang mudah memukul orang lain, karena itu akan menyakitkan seperti halnya ia akan measa sakit ketika dipukul orang lain. Dengan demikian anak akan menjadi malu dan memahami bahwa memukul adalah tindakan yang tidak baik, semua orang termasuk dirinya akan merasakan sakit yang sama ketika dipukul.
Berikanlah hadiah atas tindakan positif anak berupa pujian, karena dengan pujian yang diberikan orangtua akan membuatnya merasa bangga atas kemampuan yang telah ia lakukan tersebut. Misalnya, memuji anak ketika ia sedang membereskan kamar tidurnya ‘ Waaah, Ade sudah besar dan pintar ya sudah bisa merapikan dan membersihkan kamarnya sendiri. Kamar Ade selalu rapi dan bersih, jadi Ade jauh dari debu dan kuman, tidak mudah sakit….’(yer).
Wednesday, 18 June 2008
Beberapa Hal yang Dapat Mempengaruhi Janin
Menyaksikan buah hati terlahir dengan mulus dan dapat tumbuh dengan maksimal adalah kebahagiaan orangtua yang tak terhingga nilainya. Orangtua akan bahagia apabila menyaksikan buah hatinya bahagia, sehat dan cerdas. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua. Demikianlah kalimat yang sering dilontarkan para orang tua. Orangtua mana yang tidak bahagia apabila dititipi anak oleh Yang Maha Kuasa dengan kondisi yang sehat lahir batin, mulus, dan dapat tumbuh dengan maksimal.
Manusia memang tidak dapat menawar takdir yang telah diberikan oleh-Nya. Namun, adalah penting bagi para orangtua untuk selalu berusaha semaksimal mungkin mengupayakan supaya anak yang terlahir adalah sehat dan mulus. Misalnya untuk ibu yang hamil dan menyusui dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, menjaga kandungan dengan baik, dan tidak mengkonsumsi obat-obatan, rokok, dan alkohol.
Anak yang sehat dan cerdas adalah harapan semua orangtua. Supaya orangtua memiliki anak yang baik maka orangtua juga harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, yaitu merawat dan menjaga bayi sejak ia masih dalam kandungan. Oleh karena itu, bagi ibu yang sedang hamil dan menyusui, penting kiranya mengetahui hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi janin. Dengan demikian, ibu bisa mengetahui dan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merusak janin (yer).
Di bawah ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan janin (Wiwien Dinar Pratisi, 2008), di antaranya:
Manusia memang tidak dapat menawar takdir yang telah diberikan oleh-Nya. Namun, adalah penting bagi para orangtua untuk selalu berusaha semaksimal mungkin mengupayakan supaya anak yang terlahir adalah sehat dan mulus. Misalnya untuk ibu yang hamil dan menyusui dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, menjaga kandungan dengan baik, dan tidak mengkonsumsi obat-obatan, rokok, dan alkohol.
Anak yang sehat dan cerdas adalah harapan semua orangtua. Supaya orangtua memiliki anak yang baik maka orangtua juga harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, yaitu merawat dan menjaga bayi sejak ia masih dalam kandungan. Oleh karena itu, bagi ibu yang sedang hamil dan menyusui, penting kiranya mengetahui hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi janin. Dengan demikian, ibu bisa mengetahui dan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merusak janin (yer).
Di bawah ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan janin (Wiwien Dinar Pratisi, 2008), di antaranya:
- Usia ibu ketika hamil. Usia yang rentan terhadap kelainan kehamilan adalah usia remaja atau usia di atas 30 tahun. Kelahiran premature pada umumnya terjadi pada anak usia remaja. Hal tersebut dapat terjadi karena kurang matangnya organ reproduksi, gizi buruk, kurang perawatan selama periode prakelahiran, atau karena kondisi ekonomi-sosial yang rendah. Sedangkan pada ibu yang berusia di atas 30 tahun kadang-kadang dapat menimbulkan down syndrome, yaitu keterbelakangan mental.
- Status gizi. Kondisi gizi ibu yang sedang hamil dan menyusui dapat mempengaruhi kondisi bayi. Gizi buruk pada ibu dapat mengakibatkan berat badan bayi rendah, kurang vitalitas, lahir premature, atau mungkin meninggal.
- Keadaan dan ketegangan emosional ibu. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang cemas cenderung menangis lebih banyak sebelum diberi makan dan lebih aktif dibandingkan bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kurang cemas. Bayi yang lahir melalui proses kelahiran yang cukup lama akan mengalami kelambatan penyesuaian diri dengan lingkungan serta lebih mudah marah.
- Konsumsi obat-obatan. Obat-obatan, alkohol, rokok yang dikonsumsi oleh ibu yang sedang hamil dapat mempengaruhi kesempurnaan janin (cacat fisik janin, keterbelakangan mental, atau menyebabkan kematian janin dan bayi).
- Faktor lingkungan. Polusi udara akibat gas buang yang semakin pekat dari kendaraan bermotor, zat-zat yang terdapat pada cat dinding, atau zat-zat yang berasal dari limbah dapat menyebabkan keterbelakangan mental pada janin atau bayi, kelahiran prematur, mengalami gangguan visual serta memori jangka pendek.
Tuesday, 17 June 2008
Terdapat Perbedaan Dalam Memperlakukan Anak Laki-laki Dengan Anak Perempuan
Sering kali orangtua merasa frustrasi ketika menghadapi anak perempuan mereka yang selalu menentang apabila ia diminta untuk melakukan sesuatu. Begitu juga ketika orangtua menghadapi anak laki-laki yang cenderung suka lupa ketika ditugaskan untuk mengerjakan suatu pekerjaan.
Adalah tindakan yang bijaksana apabila orangtua mampu mengendalikan emosi atau marah pada saat anak bersikap seperti di atas (menentang dan mudah lupa). Ketahuilah terlebih dahulu perbedaan yang terdapat pada pribadi anak laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, orangtua dapat mengerti dan mendukung apa yang diinginkan oleh masing-masing anak (yer).
Pada umumnya, ketika anak perempuan menentang permintaan orangtua, sebenarnya ia sedang membutuhkan perhatian dan pengertian yang lebih banyak. Untuk itu, berbicara dan dengarkanlah keluhannya. Dengan cara seperti itu seorang anak perempuan akan merasa lebih lega dan merasa beban yang ada pada dirinya berkurang. Sedangkan anak laki-laki biasanya apabila kondisinya sedang tertekan maka ia akan cenderung pelupa. Ia akan melupakan segala pesan yang memberi tekanan kepadanya. Oleh karena itu, hindarkan bersikap marah kepada anak untuk menuntut supaya ia menjadi patuh dan menuruti permintaan orangtua. Tindakan negatif seperti itu akan memberikan suatu pesan yang penuh tekanan kepada anak. Ketika anak laki-laki merasa hidupnya penuh tekanan, maka ia akan cenderug melupakan permintaan yang diberikan kepadanya.
Kesimpulannya, untuk menghindarkan anak perempuan menentang permintaan orangtua, maka berikanlah perhatian dan pengertian terlebih dahulu kepadanya. Berikanlah kesempatan kepadanya untuk membicarakan sikap menentangnya tersebut. Dengan demikian lambat laun sikap menentang pada anak akan semakin memudar, iapun akan segera dapat bekerja sama lagi dengan orangtua. Sedangkan pada anak laki-laki, supaya anak laki-laki dapat mengingat dan melakukan apa yang orangtua minta kepadanya, maka orangtua perlu membimbingnya dengan cara positif. Hindarkanlah meminta anak untuk melakukan sesuatu dengan cara emosi atau marah-marah kepadanya. Lebih baik ajukanlah permintaan positif kepadanya, bukan menuntut misalnya jika orangtua ingin anak membereskan kamar tidurnya maka katakan kepadanya ’Ade, maukan menolong mama membereskan tempat tidurnya sekarang....’ bukan dengan kalimat seperti ini, ’Gimana sih.. kamar berantakan seperti kandang ayam, ayo cepat bereskan kasur, rapikan buku-bukunya, dan simpan semua mainan itu ke tempatnya!’ Perlu diingat apabila seorang anak laki-laki lupa, itu selalu bukan salahnya. Ia hendaklah dianggap sewajarnya lupa terutama pada waktu ia menerima pesan penuh tekanan yang mendorong-dorong dia untuk mengingat (John Gray, Ph.D., 2004) .
Adalah tindakan yang bijaksana apabila orangtua mampu mengendalikan emosi atau marah pada saat anak bersikap seperti di atas (menentang dan mudah lupa). Ketahuilah terlebih dahulu perbedaan yang terdapat pada pribadi anak laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, orangtua dapat mengerti dan mendukung apa yang diinginkan oleh masing-masing anak (yer).
Pada umumnya, ketika anak perempuan menentang permintaan orangtua, sebenarnya ia sedang membutuhkan perhatian dan pengertian yang lebih banyak. Untuk itu, berbicara dan dengarkanlah keluhannya. Dengan cara seperti itu seorang anak perempuan akan merasa lebih lega dan merasa beban yang ada pada dirinya berkurang. Sedangkan anak laki-laki biasanya apabila kondisinya sedang tertekan maka ia akan cenderung pelupa. Ia akan melupakan segala pesan yang memberi tekanan kepadanya. Oleh karena itu, hindarkan bersikap marah kepada anak untuk menuntut supaya ia menjadi patuh dan menuruti permintaan orangtua. Tindakan negatif seperti itu akan memberikan suatu pesan yang penuh tekanan kepada anak. Ketika anak laki-laki merasa hidupnya penuh tekanan, maka ia akan cenderug melupakan permintaan yang diberikan kepadanya.
Kesimpulannya, untuk menghindarkan anak perempuan menentang permintaan orangtua, maka berikanlah perhatian dan pengertian terlebih dahulu kepadanya. Berikanlah kesempatan kepadanya untuk membicarakan sikap menentangnya tersebut. Dengan demikian lambat laun sikap menentang pada anak akan semakin memudar, iapun akan segera dapat bekerja sama lagi dengan orangtua. Sedangkan pada anak laki-laki, supaya anak laki-laki dapat mengingat dan melakukan apa yang orangtua minta kepadanya, maka orangtua perlu membimbingnya dengan cara positif. Hindarkanlah meminta anak untuk melakukan sesuatu dengan cara emosi atau marah-marah kepadanya. Lebih baik ajukanlah permintaan positif kepadanya, bukan menuntut misalnya jika orangtua ingin anak membereskan kamar tidurnya maka katakan kepadanya ’Ade, maukan menolong mama membereskan tempat tidurnya sekarang....’ bukan dengan kalimat seperti ini, ’Gimana sih.. kamar berantakan seperti kandang ayam, ayo cepat bereskan kasur, rapikan buku-bukunya, dan simpan semua mainan itu ke tempatnya!’ Perlu diingat apabila seorang anak laki-laki lupa, itu selalu bukan salahnya. Ia hendaklah dianggap sewajarnya lupa terutama pada waktu ia menerima pesan penuh tekanan yang mendorong-dorong dia untuk mengingat (John Gray, Ph.D., 2004) .
Monday, 16 June 2008
Pentingnya Pengasuhan yang Baik Untuk Anak
Anak yang berbudi baik, cerdas, bertanggung jawab, dan disiplin bukan hanya karena faktor keturunan saja (diturunkan melalui gen orangtuanya), kecerdasan dan kepribadian anak tersebut dipengaruhi juga oleh lingkungan. Tanpa ada rangsangan dari lingkungan disekitarnya, maka anak tidak akan tumbuh dengan maksimal. Maksudnya, anak yang terlahir dari kalangan orang-orang terhormat dan cerdas belum tentu akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berkepribadian baik (terhormat) jika anak tersebut diasuh oleh orang yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Begitu juga anak yang terlahir dari kalangan orang yang suka mencuri belum tentu anak tersebut menjadi seorang pencuri jika ia diasuh oleh orang atau dibesarkan di dalam lingkungan yang orang-orangnya berkepribadian baik.
Sebagian orangtua yang ada di lingkungan kita ada yang mengharapkan dan menuntut anak dapat tumbuh dengan maksimal tetapi tanpa mau memberikan dukungan dan arahan kepada anak. Maksudnya, orangtua hanya mengharapkan anak dapat tumbuh maksimal tanpa mau memberikan atau mengajarkan apa yang mereka harapkan tersebut kepada anak. Misalnya, orangtua berharap anak mereka bisa menjadi juara pertama di kelasnya, tetapi orangtua tersebut tidak mau peduli dengan kegiatan sekolah anak, tidak pernah mau berkonsultasi dengan guru kelasnya, tidak memiliki waktu untuk membantu anak belajar di rumah, dan tidak mau menyempatkan diri untuk memenuhi undangan sekolah (mengambil rapor). Kondisi orangtua seperti ini boleh jadi hanya akan membuat anak menjadi frustrasi dan merasa tidak berguna (yer).
Pengasuhan anak yang kurang baik dapat menimbulkan masalah pada anak. Beberapa permasalahan yang timbul akibat dari pengasuhan anak diantaranya adalah:
Sebagian orangtua yang ada di lingkungan kita ada yang mengharapkan dan menuntut anak dapat tumbuh dengan maksimal tetapi tanpa mau memberikan dukungan dan arahan kepada anak. Maksudnya, orangtua hanya mengharapkan anak dapat tumbuh maksimal tanpa mau memberikan atau mengajarkan apa yang mereka harapkan tersebut kepada anak. Misalnya, orangtua berharap anak mereka bisa menjadi juara pertama di kelasnya, tetapi orangtua tersebut tidak mau peduli dengan kegiatan sekolah anak, tidak pernah mau berkonsultasi dengan guru kelasnya, tidak memiliki waktu untuk membantu anak belajar di rumah, dan tidak mau menyempatkan diri untuk memenuhi undangan sekolah (mengambil rapor). Kondisi orangtua seperti ini boleh jadi hanya akan membuat anak menjadi frustrasi dan merasa tidak berguna (yer).
Pengasuhan anak yang kurang baik dapat menimbulkan masalah pada anak. Beberapa permasalahan yang timbul akibat dari pengasuhan anak diantaranya adalah:
- Kadang-kadang orangtua terlalu menuntut pada anak untuk menjadi yang terbaik, sementara potensi yang dimiliki tidak memadai. Akibat yang timbul adalah anak menjadi malas belajar dan malas sekolah.
- Karena ingin melihat anak berprestasi lebih baik di sekolah, orangtua kemudian yang mengerjakan tugas-tugas sekolah anaknya. Akibatnya adalah anak belajar untuk tidak berusaha maksimal dengan daya upayanya sendiri.
- Timbul kekhawatiran yang berlebihan dari pihak orangtua tentang kondisi anaknya. Akibatnya muncul keragu-raguan dalam mendidik anak, sehingga anak mengembangkan sikap ragu-ragu serta rasa tidak percaya diri. (Wiwien Dinar Pratisti, 2008).
Tuesday, 10 June 2008
Melibatkan Diri Dalam Situasi Yang Menyenangkan Dapat Membuat Anak Lebih Sehat
Menunjukkan rasa sayang kepada anak tidak harus dengan materi atau memenuhi segala keinginan anak. Rasa sayang orangtua dapat ditumpahkan kepada anak dengan cara menyediakan situasi yang baik untuk anak, yaitu dengan cara melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan emosi anak. Misalnya bermain bersama anak yang masih kecil atau ikut serta dalam kegiatan anak yang lebih besar dengan cara yang tidak terlalu berbeda dari yang ia alami seperti berolah raga bersama (sepak bola, lari pagi). Ketika orangtua sedang memberikan waktu khusus kepada anak misalnya bermain, maka sebaiknya orangtua mampu menciptakan suasana yang menarik dan menyenangkan untuknya, yaitu menghindari sikap banyak menuntut, mengendalikan, memerintah, dan mengkritik dalam melakukan permainan tersebut (yer).
Ketika orangtua sedang bermain bersama anak atau menemani anak melakukan suatu aktivitas yang menyenangkan maka akan tercipta sebuah ikatan bathin yang baik, yaitu hubungan yang terbuka dan saling menyayangi di antara orangtua dan anak. Hubungan yang terjalin dengan baik seperti itu akan memberikan efek jangka panjang berupa meningkatnya citra diri, keterampilan menguasai situasi, dan meningkatkan kekebalan tubuh pada diri anak, maksudnya anak menjadi tidak mudah sakit atau lebih jarang menderita penyakit serius (Lawrence E. Shapiro, Ph.D., 2003).
Ketika orangtua sedang bermain bersama anak atau menemani anak melakukan suatu aktivitas yang menyenangkan maka akan tercipta sebuah ikatan bathin yang baik, yaitu hubungan yang terbuka dan saling menyayangi di antara orangtua dan anak. Hubungan yang terjalin dengan baik seperti itu akan memberikan efek jangka panjang berupa meningkatnya citra diri, keterampilan menguasai situasi, dan meningkatkan kekebalan tubuh pada diri anak, maksudnya anak menjadi tidak mudah sakit atau lebih jarang menderita penyakit serius (Lawrence E. Shapiro, Ph.D., 2003).
Wednesday, 4 June 2008
Memerhatikan Anak Merupakan Salah Satu Bukti Orangtua Menyayangi Anak
Anak adalah proyek orangtua seumur hidup. Orangtua yang berhasil ‘mengelola’ anak dengan baik maka cepat atau lambat akan merasakan hasilnya, tenang dan bahagia menjalani hidup ini baik ketika anak masih kecil maupun ketika anak sudah beranjak dewasa dan orangtua pun menjadi semakin tua. Anak akan tumbuh sesuai dengan harapan orangtuanya, berbakti kepada orangtua, bertanggung jawab, disiplin, dan dapat dipercaya.
Mengharapkan anak tumbuh menjadi seseorang yang baik tentu tidak bisa instan. Perlu ‘sentuhan’ orangtua. Supaya orangtua dapat mengarahkan anak menjadi lebih baik maka orangtua perlu berusaha untuk mengenali, merasakan, serta mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam benak dan hidup anak terlebih dahulu. Salah satu caranya adalah dengan cara 'memerhatikan' anak. Berikanlah anak perhatian misalnya dengan mengajak ia berbicara, mendengarkan apa yang ingin ia bicarakan, dan memujinya ketika ia melakukan suatu hal yang positif. Salah satu manfaat memberikan perhatian kepada anak adalah membuat anak merasa senang sehingga ia termotivasi untuk mengulanginya kembali tindakan positif tersebut, dan bahkan mengulangi tindakan positif tersebut kepada kita (orangtua).
Mendengarkan apa yang sedang diceritakan oleh anak dapat membuat anak merasa bahwa dirinya adalah penting dan layak mendapatkan perhatian. Ia akan merasa memiliki teman yang bisa diajak berbagi dengannya. Jika anak sudah percaya kepada orangtua maka anak akan bersikap terbuka dan tidak ada hal yang perlu disembunyikan lagi olehnya, ia akan menceritakan apa saja yang sedang ia rasakan dan inginkan.
Sebaliknya, apabila orangtua terlalu sibuk dengan urusan karir atau urusan pribadinya masing-masing sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk memerhatikan anak, tidak mau tahu apa yang sedang diinginkan atau dibutuhkan anak, tidak tahu apa yang sedang difikirkan dan dirasakan oleh anak, pada akhirnya orangtua tersebut mungkin akan mendapatkan anak dalam kondisi ‘berbahaya’. Kurang perhatian orangtua sering membuat anak menjadi mudah terbawa arus negatif.
Tanpa perhatian orangtua maka anak akan merasakan bahwa hidupnya hampa. Anak mungkin akan merasa bahwa dirinya tidak berarti dan tidak penting. Jika sudah demikian, anak akan mencari dan bergabung dengan orang-orang yang ia anggap bisa membahagiakan, mendengarkan, dan mengerti apa yang sedang ia butuhkan. Mungkin ia akan berkelompok dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, orang-orang yang biasa menggunakan obat-obatan terlarang atau sebuah geng yang brutal. Orangtua yang tidak punya waktu untuk memerhatikan anak, tidak akan tahu apa yang sedang terjadi pada diri anak. Orangtua tersebut akan mendapatkan kesulitan untuk bisa membantu anak menghindari atau mengatasi masalah. Orangtua yang terlalu sibuk denga kerja atau urusan pribadi akan kehilangan sensitivitas serta kesadaran bahwa anak mereka sedang dalam ‘bahaya’ yang dapat merugikan diri anak, orangtua, dan lingkungan (Linda & Richard Eyre, 2006).
Oleh karena itu, penting bagi orangtua menyediakan waktu yang berkualitas bersama anak(bermain, bercanda, ngobrol, jalan) untuk memerhatikan dan mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hidup anak, apa yang sedang dirasakan di dalam hati anak, dan apa yang sedang difikirkan oleh anak. Anak yang merasa dirinya diperhatikan orangtua pada umumnya akan tumbuh menjadi orang yang patuh kepada orangtua dan mau memerhatikan kembali apa yang diinginkan orangtua dari dirinya (yer).
Mengharapkan anak tumbuh menjadi seseorang yang baik tentu tidak bisa instan. Perlu ‘sentuhan’ orangtua. Supaya orangtua dapat mengarahkan anak menjadi lebih baik maka orangtua perlu berusaha untuk mengenali, merasakan, serta mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam benak dan hidup anak terlebih dahulu. Salah satu caranya adalah dengan cara 'memerhatikan' anak. Berikanlah anak perhatian misalnya dengan mengajak ia berbicara, mendengarkan apa yang ingin ia bicarakan, dan memujinya ketika ia melakukan suatu hal yang positif. Salah satu manfaat memberikan perhatian kepada anak adalah membuat anak merasa senang sehingga ia termotivasi untuk mengulanginya kembali tindakan positif tersebut, dan bahkan mengulangi tindakan positif tersebut kepada kita (orangtua).
Mendengarkan apa yang sedang diceritakan oleh anak dapat membuat anak merasa bahwa dirinya adalah penting dan layak mendapatkan perhatian. Ia akan merasa memiliki teman yang bisa diajak berbagi dengannya. Jika anak sudah percaya kepada orangtua maka anak akan bersikap terbuka dan tidak ada hal yang perlu disembunyikan lagi olehnya, ia akan menceritakan apa saja yang sedang ia rasakan dan inginkan.
Sebaliknya, apabila orangtua terlalu sibuk dengan urusan karir atau urusan pribadinya masing-masing sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk memerhatikan anak, tidak mau tahu apa yang sedang diinginkan atau dibutuhkan anak, tidak tahu apa yang sedang difikirkan dan dirasakan oleh anak, pada akhirnya orangtua tersebut mungkin akan mendapatkan anak dalam kondisi ‘berbahaya’. Kurang perhatian orangtua sering membuat anak menjadi mudah terbawa arus negatif.
Tanpa perhatian orangtua maka anak akan merasakan bahwa hidupnya hampa. Anak mungkin akan merasa bahwa dirinya tidak berarti dan tidak penting. Jika sudah demikian, anak akan mencari dan bergabung dengan orang-orang yang ia anggap bisa membahagiakan, mendengarkan, dan mengerti apa yang sedang ia butuhkan. Mungkin ia akan berkelompok dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, orang-orang yang biasa menggunakan obat-obatan terlarang atau sebuah geng yang brutal. Orangtua yang tidak punya waktu untuk memerhatikan anak, tidak akan tahu apa yang sedang terjadi pada diri anak. Orangtua tersebut akan mendapatkan kesulitan untuk bisa membantu anak menghindari atau mengatasi masalah. Orangtua yang terlalu sibuk denga kerja atau urusan pribadi akan kehilangan sensitivitas serta kesadaran bahwa anak mereka sedang dalam ‘bahaya’ yang dapat merugikan diri anak, orangtua, dan lingkungan (Linda & Richard Eyre, 2006).
Oleh karena itu, penting bagi orangtua menyediakan waktu yang berkualitas bersama anak(bermain, bercanda, ngobrol, jalan) untuk memerhatikan dan mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hidup anak, apa yang sedang dirasakan di dalam hati anak, dan apa yang sedang difikirkan oleh anak. Anak yang merasa dirinya diperhatikan orangtua pada umumnya akan tumbuh menjadi orang yang patuh kepada orangtua dan mau memerhatikan kembali apa yang diinginkan orangtua dari dirinya (yer).
Sunday, 1 June 2008
Pentingnya Mengajarkan Tanggung Jawab Kepada Anak
Memerhatikan sikap orangtua terhadap anak di lingkungan sekitar kita, ada di antara mereka yang membuktikan bahwa orangtua sangat menyayangi anak mereka dengan cara membiarkan anak melakukan apa saja yang ia inginkan dan tidak memberikan tanggung jawab apapun kepadanya.
Misalnya, dengan adanya pembantu rumah tangga maka orangtua membebaskan anak mereka lepas dari tanggung jawabnya. Orangtua membiarkan anak tidak membereskan mainan bekas ia bermain, meninggalkan tempat tidur dan buku-buku yang berantakan, menyimpan begitu saja piring atau gelas bekas ia pakai di meja makan atau di kamar tidurnya, dan tanpa kontrol anak bebas menggunakan uang.
Membebaskan anak lepas dari tanggung jawab seperti di atas adalah tindakan yang tidak bijaksana dan bukan bukti bahwa orangtua sangat sayang terhadap anak. Namun sebaliknya, dengan sikap orangtua yang tidak pernah mengajarkan anak bagaimana bersikap tanggung jawab terhadap pribadi dan lingkungannya berarti orangtua tidak sayang kepadanya. Orangtua yang tidak memberikan tanggung jawab kepada anak justru akan membuat anak menjadi kesulitan dalam hidup. Ia tidak akan pernah bisa hidup mandiri dan boleh jadi setiap kali ia mendapatkan kendala dalam hidupnya maka ia akan berusaha menghindar atau mencari jalan pintas yang mudah tetapi mungkin membahayakan terutama bagi dirinya sendiri ((Linda & Richard Eyre, 2006).
Misalnya, suatu hari orangtua minta tolong kepada anak untuk menyerahkan uang sekolah. Tetapi, karenak ia tidak terbiasa bertanggung jawab maka ia tidak membayarkan uang itu ke sekolah. Ia pergunakan uang sekolah tersebut untuk bermain dan membeli sesuatu yang ia inginkan. Akhirnya, karena uang tersebut telah habis dan ia takut dimarahi orangtuanya, maka iapun mencuri uang temannya. Ia ingin lepas dari tanggung jawab dengan melakukan jalan pintas yang tidak baik dan membahayakan (mencuri uang).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mengajarkan sikap tanggung jawab kepada anak sejak dini adalah sangat penting. Salah satu yang perlu orangtua sadari bahwa anak akan tumbuh sesuai dengan kebiasaannya. Oleh karena itu, supaya anak terbiasa bersikap tanggung jawab atas apa yang ia lakukan atau kerjakan, maka berikan dan ajarkanlah sikap tanggung jawab tersebut kepada anak sejak ia masih kecil. Mulailah dari hal yang paling sederhana sesuai dengan usia dan kematangan anak tersebut. Misalnya, anak usia empat tahun sudah bisa diajarkan untuk membuang sampah ke tempat sampah, menyimpan baju kotornya ke ember cucian, dan membereskan bekas mainnya. Dalam mengajarkan sikap tanggung jawab kepada anak, hindarkan menuntut anak melakukan sesuatu dengan sempurna. Mungkin ada sebagian anak yang perlu diingatkan berulang-ulang supaya ia terbiasa bertanggung jawab. Oleh karena itu, hal yang sangat penting dimiliki oleh pengajar (orangtua) adalah kesabaran dan kesungguhan.
Anak yang sejak kecil terbiasa bertanggung jawab, baik dalam bersikap maupun ketika berucap, maka kebiasaan tersebut akan terbawa sampai ia dewasa nanti. Anak yang mampu bertanggung jawab maka besar kemungkinan akan mampu hidup mandiri, bahagia, percaya diri, dan dapat dipercaya (yer).
Misalnya, dengan adanya pembantu rumah tangga maka orangtua membebaskan anak mereka lepas dari tanggung jawabnya. Orangtua membiarkan anak tidak membereskan mainan bekas ia bermain, meninggalkan tempat tidur dan buku-buku yang berantakan, menyimpan begitu saja piring atau gelas bekas ia pakai di meja makan atau di kamar tidurnya, dan tanpa kontrol anak bebas menggunakan uang.
Membebaskan anak lepas dari tanggung jawab seperti di atas adalah tindakan yang tidak bijaksana dan bukan bukti bahwa orangtua sangat sayang terhadap anak. Namun sebaliknya, dengan sikap orangtua yang tidak pernah mengajarkan anak bagaimana bersikap tanggung jawab terhadap pribadi dan lingkungannya berarti orangtua tidak sayang kepadanya. Orangtua yang tidak memberikan tanggung jawab kepada anak justru akan membuat anak menjadi kesulitan dalam hidup. Ia tidak akan pernah bisa hidup mandiri dan boleh jadi setiap kali ia mendapatkan kendala dalam hidupnya maka ia akan berusaha menghindar atau mencari jalan pintas yang mudah tetapi mungkin membahayakan terutama bagi dirinya sendiri ((Linda & Richard Eyre, 2006).
Misalnya, suatu hari orangtua minta tolong kepada anak untuk menyerahkan uang sekolah. Tetapi, karenak ia tidak terbiasa bertanggung jawab maka ia tidak membayarkan uang itu ke sekolah. Ia pergunakan uang sekolah tersebut untuk bermain dan membeli sesuatu yang ia inginkan. Akhirnya, karena uang tersebut telah habis dan ia takut dimarahi orangtuanya, maka iapun mencuri uang temannya. Ia ingin lepas dari tanggung jawab dengan melakukan jalan pintas yang tidak baik dan membahayakan (mencuri uang).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mengajarkan sikap tanggung jawab kepada anak sejak dini adalah sangat penting. Salah satu yang perlu orangtua sadari bahwa anak akan tumbuh sesuai dengan kebiasaannya. Oleh karena itu, supaya anak terbiasa bersikap tanggung jawab atas apa yang ia lakukan atau kerjakan, maka berikan dan ajarkanlah sikap tanggung jawab tersebut kepada anak sejak ia masih kecil. Mulailah dari hal yang paling sederhana sesuai dengan usia dan kematangan anak tersebut. Misalnya, anak usia empat tahun sudah bisa diajarkan untuk membuang sampah ke tempat sampah, menyimpan baju kotornya ke ember cucian, dan membereskan bekas mainnya. Dalam mengajarkan sikap tanggung jawab kepada anak, hindarkan menuntut anak melakukan sesuatu dengan sempurna. Mungkin ada sebagian anak yang perlu diingatkan berulang-ulang supaya ia terbiasa bertanggung jawab. Oleh karena itu, hal yang sangat penting dimiliki oleh pengajar (orangtua) adalah kesabaran dan kesungguhan.
Anak yang sejak kecil terbiasa bertanggung jawab, baik dalam bersikap maupun ketika berucap, maka kebiasaan tersebut akan terbawa sampai ia dewasa nanti. Anak yang mampu bertanggung jawab maka besar kemungkinan akan mampu hidup mandiri, bahagia, percaya diri, dan dapat dipercaya (yer).
Subscribe to:
Posts (Atom)
