Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010

Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.

Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.

Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.

ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna

Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!

Saturday, 10 May 2008

Menangani Anak yang Pemalu

Ada sebagian anak apabila bertemu dengan banyak orang dan baru saja ia kenal maka ia akan merasa sangat tersiksa. Anak seperti ini tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap dan berucap kepada orang-orang 'baru' tersebut. Biasanya, ia akan lebih memilih untuk diam dan sedikit beraktivitas.

Anak yang pemalu pada umumnya lebih bergantung kepada orangtua. Apabila ada orang yang ingin bertanya kepadanya maka ia akan mengalami kesulitan dalam menjawab. Ia cenderung mengandalkan orangtua yang menjawab semua pertanyaan yang sebenarnya untuk dirinya. Semakin banyak orang yang tidak ia kenal berada di dekatnya maka anak akan semakin merasa takut dan bingung.

Membiarkan anak terus-menerus menjadi orang yang pemalu tentu tidak baik. Orangtua perlu mendukung anak menumbuhkan sikap percaya dirinya dan mengajarkannya bagaimana cara bersosialisasi dengan benar. Anak yang pandai beradaptasi dengan lingkungan biasanya akan mudah mendapatkan teman. Ia akan menjadi orang yang senang dan menyenangkan bagi siapa saja yang berada di dekatnya.

Sejatinya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua agar anak yang pemalu menjadi lebih menyenangkan. Yaitu, apabila anak masih sulit menjawab pertanyaan dari orang-orang yang baru ia kenal maka janganlah memaksanya, biarkan saja dulu. Hindari kesan mendukung sifat malu anak dengan mengatakan ’dia seorang anak pemalu’, sebab dengan demikian boleh jadi mengajarkan anak seolah-olah orangtua mengharapkan perilaku yang demikian. Selain itu, penting orangtua mengajarkan anak tentang keramahtamahan sosial. Misalnya, ketika di restoran ajarkan anak bagaimana memesan makanan, apabila sedang di supermarket ajarkanlah anak bagaimana membayar barang-barang yang kita beli. Dan, satu hal lain yang juga sangat penting adalah pujilah anak ketika ia melakukan sesuatu yang baik. Janganlah orangtua mengoreksi anak yang pemalu di depan umum (Ronald, 2006). Sebab, apabila anak dikoreksi di depan umum, dikhawatirkan ia merasa sangat malu dan akan menjadi orang yang semakin pemalu (yer).

Friday, 2 May 2008

Menyikapi Masalah Ejekan Anak

Setidaknya ada dua hal yang dapat membuat orangtua akan merasakan kesedihan yang sama, yaitu memiliki anak yang suka diejek dan yang suka mengejek. Memiliki anak yang suka diejek, orangtua manapun pasti akan merasa sedih bila tahu bahwa kekurangan yang ada pada diri anak mereka sering diejek oleh orang lain.


Memberikan nasehat atau kritik kepadanya adalah bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Sebagai salah satu upaya untuk meringankan kesedihan yang dirasakan oleh anak, orangtua dapat menghiburnya dengan meyakinkan kepada anak bahwa mereka akan tetap mencintai dirinya apapun adanya. Selain itu, orangtua juga dapat membantu mengatasi masalah ejekan ini dengan cara ikut memikirkan respon apa yang perlu dilakukan atau diucapkan oleh anak apabila suatu saat ia diejek kembali oleh temannya. Dengan demikian, anak akan merasa tenang, bahagia, dan tetap percaya diri.


Memiliki anak yang suka mengejek, orangtuapun akan merasakan kesedihan yang sama. Sebab, boleh jadi sesekali ada orangtua lain yang akan menegur dan bahkan memarahi mereka karena perilaku buruk anak yang suka mengejek.


Menyikapi anak yang suka mengejek, orangtua harus segera menjelaskan kepadanya bahwa tindakannya itu adalah tidak baik dan akan menyakiti perasaan orang yang diejeknya. Selain itu, orangtua juga dapat mengingatkan kembali tentang perasaan malu dan sedih yang pernah ia rasakan ketika diperlakukan sama oleh orang lain, yaitu diejek atas kekurangan yang ada pada dirinya. Jelaskan juga kepadanya, jika ia terus menerus mengejek orang lain maka ia akan segera kehilangan teman-teman bermainnya (Mathew Huge M.Ed).


Pada umumnya, setiap anak pasti pernah mengalami masalah ejekan. Sikap saling mengejek biasanya sering terjadi pada anak usia lima tahun dan terus akan berlanjut sampai ia memasuki usia sepuluh tahun. Oleh karena itu, orangtua perlu memberitahu anak sejak dini bahwa perbedaan yang terdapat pada diri setiap manusia adalah hal yang wajar. Anak perlu tahu bagaimana seharusnya bersikap ketika ia menemukan sesuatu yang berbeda dalam diri orang lain.


Selain itu, berikan penjelasan kepada anak bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan kesempurnaan itu hanyalah milik Alloh SWT (Sang Maha Pencipta).


Dengan memahami hal di atas, sejalan dengan bertambahnya usia anak, iapun akan segera meninggalkan perilaku buruknya (suka mengejek). Ia akan berubah menjadi anak yang dapat menghargai perbedaan dan bijaksana dalam bertindak. Amin.... (yre)