Sering kali tanpa disengaja tiba-tiba anak menyenggol gelas atau piring yang ada disekitarnya hingga pecah. Menyaksikan kejadian seperti itu mungkin ada sebagian orangtua yang langsung memarahinya. Mereka seolah-olah tidak mau tahu bahwa kejadian itu adalah karena ketidaksengajaan, mereka berharap anak tahu pada apa yang akan terjadi ketika sedang melakukan sesuatu.
Merasa kecewa dan marah karena barang kesayangan rusak atau pecah adalah wajar. Namun, meluapkan kemarahan itu kepada anak yang masih kecil dan belum memahami artinya mahal atau murah adalah tidak bijaksana. Anak belum bisa membedakan antara tindakan yang disengaja atau yang disengaja. Oleh karena itu, orangtua sebaiknya bersikap tidak emosional. Perlu diingat kembali bahwa manusia apalagi seorang anak pasti pernah berbuat salah. Oleh karena itu, orangtua bijak pasti akan menanggapi kesalahan yang dilakukan anak dengan penuh maaf. Yakinlah bahwa sesungguhnya kejadian tesebut adalah karena ketidaksengajaan anak.
Dalam kehidupan sehari-hari ada baiknya justru orangtua dapat memberikan contoh kepada anak bahwa suatu kesalahan itu adalah wajar, sesekali mungkin saja terjadi. Dengan demikian, anak tidak akan merasa takut untuk mencoba sesuatu, takut dimarahi atau dihukum apabila ia melakukan suatu kesalahan. Memarahi dan menghukum setiap kesalahan anak dapat menghambat kreativitas anak. Daripada harus sering menghukum anak, lebih baik orangtua bersikap lebih bijaksana misalnya selalu menyimpan barang pada tempat yang lebih aman dan selalu berusaha membimbing anak supaya ia dapat bersikap hati-hati dan bertanggung jawab. Contoh kasus, tidak memajang barang pecah belah di rumah secara berlebihan ketika anak-anak masih kecil, karena kemungkinan pecah tersenggol atau tertendang akan besar peluangnya. Selain itu, untuk mengajarkan anak supaya ia belajar memisahkan antara tempat bermain dan tempat untuk beristirahat, maka orangtua dapat mengajak anak untuk melanjutkan bermain sepak bola di halaman rumah (yer).
Hindarkan memarahi atau menghukum anak karena kesalahannya. Menghukum atau memarahi anak merupakan cara komunikasi yang sudah ketinggalan zaman. Reaksi yang paling baik terhadap kesalahan anak adalah pandangan bosan atau netral. Jangan mencurahkan banyak perhatian pada kesalahan anak, tetapi arahkan anak kembali dengan memintanya melakukan sesuatu. Misalnya, pada kasus anak memecahkan gelas, maka mintalah anak untuk membantu orangtua membersihkan pecahan gelas tersebut, tidak lantas anak dimarah dan disuruh menggantinya (John Gray, Ph.D, 2004).
Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010
Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Friday, 4 April 2008
Wednesday, 2 April 2008
Peran Orangtua dalam Mengembangkan Potensi Anak
Di bawah ini adalah beberapa peran orangtua dalam rangka membantu anak mengembangkan potensinya, di antaranya (Wiwien Dinar Pratisti, 2008):
- Saat yang paling tepat untuk mengembangkan potensi anak adalah ketika ia berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun.
- Anak yang paling kompeten memiliki hubungan yang dekat dengan orang-orang di sekitarnya, terutama pada bulan-bulan awal setelah kelahiran.
- Kualitas waktu kebersamaan antara anak dan orang tua lebih penting dibandingkan dengan kuantitas; peran pengganti orang tua dibutuhkan untuk memberikan pengalaman sosial.
- Memberikan bantuan di saat yang tepat.
- Memberikan kesempatan untuk memperoleh perhatian.
- Memberi pengarahan dan dukungan terhadap aktivitas anak.
- Sering mengajak berkomunikasi untuk mengembangkan kemampuan bahasa pada anak.
- Memberikan keleluasaan bagi anak untuk bergerak secara bebas.
- Memberi kesempatan pada anak untuk melihat secara luas berbagai informasi yang berasal dari lingkungan.
Tuesday, 1 April 2008
Pentingnya Memberikan Informasi yang Benar Tentang Seks Kepada Anak
Masih banyak orangtua di lingkungan kita yang merasa sulit menjawab apabila anak mereka bertanya tentang sesuatu hal yang ada hubungannya dengan seks. Dalam menanggapi pertanyaan terbut ada sebagian orangtua yang lebih memilih diam, mengalihkan pembicaraan tersebut pada hal lain, atau bahkan melarang anak bertanya tentang seks. Banyak alasan yang melatarbelakangi orangtua sehingga mereka tidak mampu menjawab pertanyaan anak seputar seks. Di anataranya, adanya perasaan tabu apabila berbicara seks dengan anak. Ada juga sebagian orangtua yang merasa khawatir apabila anak mereka banyak mengetahui tentang seks, maka ia akan bereksperimen melakukan seks secara tidak tepat.
Sejatinya, perlu orangtua sadari bahwa memberikan informasi tentang seks kepada anak adalah penting dan bermanfaat. Hal tersebut terutama untuk kehidupan anak di masa yang akan datang. Ketika anak mengetahui seks berdasarkan ilmu pengetahuan yang diterangi oleh nilai moral. Maka, anak akan megetahui bagaimana sebaiknya ia bereaksi terhadap lingkungannya. Selain itu, pendidikan seks juga akan ikut menentukan bagaimana ia menjadi orangtua di kemudian hari dan bagaimana ia kelak menjadi suami atau istri yang dapat membina keluarganya dengan harmonis dalam sebuah keluarga yang utuh (Esti Wuryani Djiwandono, 2004).
Dalam peraktiknya, membimbing dan memberikan informasi tentang seks kepada anak tentu harus disampaikan dengan cara yang baik dan pada waktu yang tepat. Yaitu, sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan kematangan usia anak. Misalnya, terkadang anak usia empat tahun dengan polosnya ia bertanya ‘Kok nenen Ibu lebih besar dari Ade?’. Maka, orangtua bisa menjelaskan kepadanya bahwa setiap perempuan ketika dewasa nanti maka nenennya akan tumbuh menjadi lebih besar, begitu juga dengan nenen Ade. Tetapi, Ade tidak usah takut, karena itu akan terjadi pada semua perempuan, dan itu adalah tidak akan apa-apa (biasa).
Hindarkanlah perasaan tabu untuk menjawab pertanyaan anak seputar seks. Rasa ingin tahu anak terhadap seks boleh jadi sangat kuat. Sehingga dikhawatirkan apabila rasa ingin tahu anak tersebut tidak terpenuhi dengan baik. Dikhawatirkan ia akan mencari informasi tersebut dari buku-buku, media, atau orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Anak yang mengetahui iformasi tentang seks dengan baik dan benar diharapkan akan mampu menjaga, merawat, dan memperlakukan dirinya dengan baik. Selain itu, orangtua yang mampu membimbing dan memberikan informasi tentang seks kepada anak secara tepat. Maka, akan menghindarkan anak dari perilaku coba-coba terhadap seks. Anak akan memahami bahwa dengan melakukan seks tidak pada waktu dan tempat yang baik, maka akan merugikan dirinya dan menghancurkan masa depan dirinya sendiri dan juga orangtua (semua fihak) (yer).
Sejatinya, perlu orangtua sadari bahwa memberikan informasi tentang seks kepada anak adalah penting dan bermanfaat. Hal tersebut terutama untuk kehidupan anak di masa yang akan datang. Ketika anak mengetahui seks berdasarkan ilmu pengetahuan yang diterangi oleh nilai moral. Maka, anak akan megetahui bagaimana sebaiknya ia bereaksi terhadap lingkungannya. Selain itu, pendidikan seks juga akan ikut menentukan bagaimana ia menjadi orangtua di kemudian hari dan bagaimana ia kelak menjadi suami atau istri yang dapat membina keluarganya dengan harmonis dalam sebuah keluarga yang utuh (Esti Wuryani Djiwandono, 2004).
Dalam peraktiknya, membimbing dan memberikan informasi tentang seks kepada anak tentu harus disampaikan dengan cara yang baik dan pada waktu yang tepat. Yaitu, sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan kematangan usia anak. Misalnya, terkadang anak usia empat tahun dengan polosnya ia bertanya ‘Kok nenen Ibu lebih besar dari Ade?’. Maka, orangtua bisa menjelaskan kepadanya bahwa setiap perempuan ketika dewasa nanti maka nenennya akan tumbuh menjadi lebih besar, begitu juga dengan nenen Ade. Tetapi, Ade tidak usah takut, karena itu akan terjadi pada semua perempuan, dan itu adalah tidak akan apa-apa (biasa).
Hindarkanlah perasaan tabu untuk menjawab pertanyaan anak seputar seks. Rasa ingin tahu anak terhadap seks boleh jadi sangat kuat. Sehingga dikhawatirkan apabila rasa ingin tahu anak tersebut tidak terpenuhi dengan baik. Dikhawatirkan ia akan mencari informasi tersebut dari buku-buku, media, atau orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Anak yang mengetahui iformasi tentang seks dengan baik dan benar diharapkan akan mampu menjaga, merawat, dan memperlakukan dirinya dengan baik. Selain itu, orangtua yang mampu membimbing dan memberikan informasi tentang seks kepada anak secara tepat. Maka, akan menghindarkan anak dari perilaku coba-coba terhadap seks. Anak akan memahami bahwa dengan melakukan seks tidak pada waktu dan tempat yang baik, maka akan merugikan dirinya dan menghancurkan masa depan dirinya sendiri dan juga orangtua (semua fihak) (yer).
Subscribe to:
Posts (Atom)
