Sunday, 30 March 2008

Hal Yang Dianggap Baik Oleh Orangtua, Tidak Selamanya Baik Untuk Anak

Hal Yang Dianggap Baik Oleh Orangtua, Tidak Selamanya Diterima Baik Oleh Anak

Sebagian orangtua ada yang selalu ingin mencampuri urusan anak dan mengawasi setiap hal-hal kecil yang dilakukan anak . Salah satu alasannya adalah bahwa semua yang dilakukan mereka tersebut adalah untuk kebaikan anak di masa yang akan datang. Oleh karena itu, orangtua seperti itu selalu berusaha untuk ikut mengatur dan melibatkan diri dalam kehidupan anak mereka. Misalnya, orangtua mengatur anak bahwa pada jam tertentu anak harus belajar, pada hari tertentu anak harus mengikuti kursus sepak bola, setelah pulang dari sekolah anak tidak boleh main ke luar bersama teman-teman di lingkungannya, dan pada jam yang sudah ditentukan pula anak harus tidur siang. Bahkan, orangtua seperti ini biasanya akan mudah mengkritik anak apabila mereka mendapatkan anak melakukan suatu kesalahan. Hal tersebut mereka lakukan supaya hal-hal yang dianggap kurang baik di mata keluarga dapat segera ditinggalkannya.


Setiap orangtua tentu sangat sayang kepada anak. Orangtua sangat mengharapkan di masa depan nanti anak mereka dapat tumbuh dan hidup lebih baik. Namun, dalam upaya mewujudkan kasih sayang tersebut masih banyak orangtua yang menganggap bahwa pemikiran dan tindakan orangtua adalah selalu benar. Padahal pada kenyataannya tidak demikian. Banyak anak justru merasa terkekang, frustrasi, dan terjerumus ke dalam lingkungan yang salah karena ’sikap’ orangtua yang terlalu melindungi, mengatur, dan mengkritik anak.


Mengasuh dan membesarkan anak dengan cara bijaksana dapat membantu anak mampu hidup lebih baik di masa yang akan datang. Berikan kepercayaan kepada anak untuk dapat mengatur dirinya sendiri supaya kelak ia mampu hidup mandiri dan bertanggung jawab. Berusaha untuk mengerti dan empati terhadap tindakan salah yang mungkin sesekali terjadi pada diri anak dapat membuat anak menyadari dan memperbaiki kesalahannya dengan perasaan senang. Jalinlah komunikasi yang baik dengan anak karena dengan demikian ’pembatas’ yang menghalangi batin di antara orangtua dan anak akan hilang. Di antara orangtua dan anak akan tumbuh sikap saling terbuka, saling mengerti apa yang diinginkan oleh masing-masing, dan saling menjaga untuk tidak membuat satu sama lain kecewa atau ’terhianati’ (yes).


Satu hal lain yang juga sangat penting untuk mendukung keberhasilan anak adalah terciptanya kondisi ’pertemanan yang baik’ di antara orangtua dengan anak. Seperti kita ketahui bahwa pertemanan yang baik adalah jauh dari sikap mengekang, menjajah, dan mendikte. Hilangkan rasa khawatir apabila orangtua menjalin sikap ’pertemanan’ dengan anak maka anak akan menjadi tidak hormat dan tidak patuh kepada orangtua. Justru sebaliknya, banyak anak sangat menghargai orangtuanya karena ia merasakan betapa orangtuanya tidak terlalu menekankan jarak di antara mereka. Anak akan sangat santun kepada orangtuanya dengan penuh kesadaran demi melihat betapa orangtua dengan rela hati menanggalkan status mereka dan menyejajarkan diri dengannya (Dra. V. Dwiyani, 2004).

Saturday, 29 March 2008

Mengasuh Adalah Lebih Baik Daripada Membentuk

Terdapat suatu analogi semaian. Yaitu, anak-anak adalah ibarat pohon kecil hijau yang ditanam di taman. Sepintas semuanya tampak mirip, tetapi ternyata mereka itu terdiri dari beraneka jenis tanaman. Boleh jadi di antara tanaman itu ada pohon ek, pohon pinus, dan pohon apel (Linda & Richard Eyre2006). Begitu juga yang terjadi pada anak. Orangtua bijaksana tentu tidak akan memperlakukan atau meminta agar anak yang satu dengan lainnya memiliki karakter dan kemampuan yang sama. Misalnya, karena anak yang satu memiliki kecerdasan di bidang matematika, maka orangtua memaksakan anak yang lainnya agar menjadi orang yang pintar di bidang yang sama. Maka, orangtua tersebut mendaftarkan anak mereka ke tempat kursus matematika. Padahal, anak yang dikursuskan tersebut belum tentu berminat menjadi orang yang pintar atau ahli dalam bidang matematika.


Anak yang dipaksakan supaya dapat mengikuti apa yang diinginkan atau dicita-citakan orangtua akan khwatir menjadi orang yang tidak bahagia atau tidak optimal di bidang tersebut. Sebaiknya orangtua tidak membentuk karakter atau kemampuan anak menjadi seperti seseorang yang sesuai dengan keinginan orangtua. Anak akan tumbuh maksimal jika orangtuanya tidak membentuknya, melainkan mengasuhnya. Maksudnya, penting bagi orangtua mencari tahu karakter seperti apa yang dimiliki oleh masing-masing anak tersebut, kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh anak tersebut untuk menunjang kemampuan yang dimilikinya, serta, pendekatan seperti apa supaya anak tersebut dapat tumbuh optimal, percaya diri, disiplin, dan mampu mengembangkan kemampuan dirinya dengan baik.


Seperti halnya dalam suatu analogi semaian di atas. Bahwa, setiap tanaman adalah berbeda. Maka, supaya mendapatkan tanaman yang cantik, berbuah manis, dan tumbuh dengan baik. Pemilik tanaman tersebut harus merawatnya, bukan membentuknya. Yaitu, megetahui karakter tanaman tersebut, termasuk jenis tanaman apa, berapa pasokan air yang diperlukannya. Bukan sebaliknya, misalnya tanaman mawar dibentuk atau diperlakukan seperti memperlakukan tanaman pinus. Bila hal itu terjadi, maka boleh jadi tanaman tersebut rusak tidak sesuai harapan (yer).

Friday, 28 March 2008

Pelukan Ibu Memberikan Rasa Aman Kepada Bayi

Di minggu-minggu pertama setelah kelahiran, biasanya bayi selalu menunjukkan ingin selalu dekat dengan ibu. Oleh karena itu, tidak heran jika bayi sering menangis dan ingin selalu berada dipangkuan ibu. Ia butuh kehangatan dan ketenangan (yer).

Berada dalam pelukan ibu merupakan saat yang penting bagi bayi. Karena, hal itu mampu memberikan perasaan aman dan terjaga pada bayi. Cinta dan kasih sayang yang ibu berikan saat bayi merasa sedih dapat memperkuat hubungan psikologis di antara ibu dan anak. Kemampuan ibu untuk menenangkannya dengan sebuah pelukan saat dia merasa marah akan membantu meningkatkan perkembangannya (Dr. Richard Woolfson, 2007).

Thursday, 27 March 2008

Hak Anak Atas Orangtua Adalah Dipahami dan Dimengerti

Di antara hak-hak anak yang paling penting dan harus dilaksanakan orangtua adalah memahami, berempati, dan menasehati anak jika ia melakukan suatu kesalahan (Muhammad Rasyid Dimas, 2005).


Setiap manusia, baik tua maupun muda tentu memiliki perasaan yang sama. Yaitu, ingin dihargai dan diperlakukan sopan oleh orang lain. Maksudnya, jika orang dewasa tidak senang dirinya banyak dikritik orang lain, maka besar kemungkinan anak juga tidak ingin dirinya selalu dikritik. Hal itu terbukti ketika orangtua sering mengkritik apa yang dilakukan anak, maka anak tersebut akan cenderung marah atau tidak mau menerima kritikan tersebut.


Oleh karena itu, apabila anak melakukan suatu kesalahan berusahalah orangtua untuk tidak cepat mengkritik anak. Bersikaplah mengerti dan empati terhadap apa yang dilakukan anak. Jika anak melakukan suatu kesalahan, cobalah untuk memahami dan berempati pada apa yang dirasakan anak. Sebab, mungkin saja kesalahan yang dilakukan anak tersebut disebabkan oleh ketidaksengajaan, ada sesuatu yang telah membuatnya panik, lupa, atau mungkin karena ia sedang mengalami banyak tekanan dan sedih. Anak akan lebih senang dan bersemangat ketika orangtua menasehati tindakan salahnya tersebut dengan sikap yang bijaksana.


Contoh kasus, ketika kita sedang memasak dan membuatkan susu buat anak. Tiba-tiba suami minta dibuatkan air kopi. Terkadang, karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan, maka kita boleh jadi lupa bahwa saat itu sedang memasak. Akhirnya, apa yang kita masak sudah gosong. Jika suami mengomentari hasil memasak kita yang sudah gosong dengan kritikan. Pada umumnya kita akan merasa tidak nyaman dan marah, mogok mengerjakan hal lainnya dengan tulus. Karena, kita menganggap bahwa suami tidak pegertian dan empati. Dengan kondisi seperti itu, kita sebagai orang dewasa berharap suami bisa pengertian dengan kesibukan kita saat itu dan berempati dengan tidak memberikan kritikan yang tidak menyenangkan. Begitu juga dengan perasaan anak ketika ia dikritik karena telah melakukan suatu kesalahan.


Akan berbeda situasinya, jika pernyataan yang diucapkan suami dalam kasus di atas memberikan kesan bahwa suami memahami dan empati kepada kita. Misalnya, suami mengatakan ’mungkin ibu terlalu banyak pekerjaan dan sangat repot, bolehkah ayah bantu pekerjaan lain yang bisa aku lakukan...’. Dengan pengertian dan empati seperti itu, kita mungkin akan lebih mudah menerima kesalahan yang telah dilakukan. Begitu juga pada anak. Selain ia akan mampu menerima nasehat dari orangtuanya, ia juga akan memiliki semangat untuk memperbaiki perilaku salahnya dengan senang hati (yer).

Wednesday, 26 March 2008

Orangtua ‘Cerdas’ Pangkal Anak Cerdas

Menangis, manja, dan marah adalah beberapa sikap yang biasa terjadi pada anak. Namun, sikap anak yang patuh, tenang, disiplin, dan berbudi baik adalah beberapa sikap anak yang luar biasa. Sikap baik yang tumbuh dalam diri anak tentu bukan karena kebetulan atau secara tiba-tiba saja terjadi. Beberapa sikap baik yang ada pada diri anak merupakan hasil ’olahan’ orangtuanya. Yaitu, dari pengasuhan yang baik yang biasa mereka lakukan kepada anak tersebut.


Ada beberapa manfaat jika orangtua selalu memiliki kemauan untuk belajar, mencari ilmu dengan membaca buku, mencari informasi di internet, dan bertanya kepada orang yang lebih memahami tentang anak. Pada umumnya, orangtua tersebut akan lebih mudah mendapatkan jawaban atau solusi tentang masalah yang sering terjadi pada anak. Selain itu, orangtua seperti ini biasanya akan lebih mudah dalam mendidik anak. Sebab, di antara mereka sudah terjalin sebuah ikatan batin yang baik, mereka saling percaya, dan saling memahami satu dengan lainnya.


Orangtua ‘cerdas’ adalah orangtua yang selalu menjaga, membimbing, dan mampu menyediakan waktu untuk anak. Sehingga, anak tidak akan pernah merasa bahwa dirinya ditinggalkan dan diabaikan. Walaupun, orangtuanya sibuk atau secara fisik orangtua berada di tempat yang jauh darinya. Namun, anak tersebut akan selalu merasa bahwa orangtuanya selalu berada di dekatnya dan bersedia mendengarkan curahan hatinya (Inayati Ashriyah, 2007).


Orangtua yang ‘cerdas’ akan mampu menciptakan generasi yang pintar, berkualitas, dan berpotensi menjadi seseorang yang sukses. Orangtua yang cerdas dan pintar akan mampu mendidik anak menjadi orang yang cerdas dan pintar juga. Anak yang cerdas akan lebih mudah untuk mencapai sukses. Karena, orangtua dan anak yang cerdas akan lebih mudah melakukan komunikasi. Sehingga, masalah atau sesuatu yang ingin dicapai lebih mudah untuk diutarakan atau didiskusikan (yer).

Tuesday, 25 March 2008

Menyikapi Anak yang Jarang Provokatif

Anak yang biasa berperilaku baik biasanya akan jarang sekali melakukan perlawanan kepada orangtua. Ia akan cenderung selalu menurut pada apa yang dikatakan orangtuanya. Namun, anak seperti ini biasanya akan leih sensitif terutama ketika ia sedang mendapatkan teguran atau dimarahi. Apabila ia dimarahi maka ia akan lebih memilih untuk pergi dan menyendiri.


Oleh karena itu, berhati-hatilah ketika orangtua menanggapi perilaku anak yang tidak biasanya, diam tanda marah atau kecewa. Karena, mungkin saja ia memilih diam karena merasa kecewa oleh sikap atau ucapan orangtuanya. Misalnya, orangtua lupa memenuhi janji yang pernah mereka ucapkan kepada anak. Menyikapi perilaku anak seperti itu, maka bersikaplah orangtua sabar, tidak lekas marah. Tanyakanlah baik-baik karena biasanya anak tipe ini tidak akan diam tanpa sebab. Berikanlah dukungan kepadanya untuk mau menceritakan apa yang menyebabkan iamenjadi diam (yer).


Apabila orangtua sudah mengetahui apa yang menyebabkan anak menjadi diam dan ternyata semua itu akibat kesalahan atau kekhilapan orngtua. Maka, segeralah meminta maaf keadanya. Berikanlah penjelasan kepadanya dengan cara yang baik, bukan malah sebaliknya orangtua marah karena anak ’ngambek’ dengan cara diam. Anak yang merasa dirinya diterima dan dimengerti mungkin akan jauh lebih bisa mengendalikan keinginannya untuk berontak, membandel, dan melawan (provokatif) (Don Fleming & Mark Ritts, 2007).

Monday, 24 March 2008

Mengajarkan Sikap Empati Pada Anak

Mengajarkan perilaku empati kepada anak perlu contoh tindakan yang dilakukan oleh orang yang paling dekat dengan anak, yaitu orangtua. Misalnya, ketika orangtua melihat sebuah contoh kebaikan di depan mata, yaitu melihat anak yang sedang menyimpan sesuatu untuk menghalangi jalan yang berlubang supaya tidak membuat orang lain menjadi celaka atau terjatuh. Maka, segeralah beritahu anak bahwa tindakan orang tersebut adalah sangat baik. Karena, dengan cara seperti itu berarti orang tersebut telah membantu banyak orang terhindar dari bahaya atau kecelakaan di jalan. Contoh lain, ketika orangtua dan anak sedang berbelanja dan menerima pelayanan yang baik dari seorang karyawan. Maka, ingatkanlah kembali pada anak bahwa karyawan atau kasir tadi sangat baik dan ramah.


Sesederhana apapun suatu kebaikan terjadi, penting bagi orangtua untuk menunjukkan dan meminta perhatian kepada anak supaya memahami dan mencontoh kebaikan atau sikap empati tersebut. Sebab, semakin sering anak mendapatkan pelajaran dari suatu tindakan kebaikan, maka akan semakin terpupuk sikap empati anak tersebut .


Mengajarkan anak bagaimana bersikap empati kepada orang lain mungkin tidak akan langsung memberikan efek dalam satu malam. Tetapi, dengan memupuk contoh kebaikan secara terus-menerus akan mempunyai dampak kebaikan yang besar dalam diri seorang anak (Do Fleming & Mark Ritts, 2007).

Sunday, 23 March 2008

Tanggung jawab Orangtua Terhadap Anak

Oleh. Yusi Elsiano

Anak akan tumbuh sesuai dengan kebiasaannya. Apabila anak dibimbing dan diajarkan tentang kebaikan, maka ia akan tumbuh menjadi orang yang berakhlak baik dan menjadi orang yang berguna bagi siapa saja yang ada di dekatnya. Namun sebaliknya, jika anak tumbuh tanpa ada orang yang membimbing pada kebaikan, tidak mendapatkan pendidikan, dan pengajaran yang layak, maka ia besar kemungkinan akan tumbuh menjadi orang yang berakhlak buruk dan menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.


Oleh karena itu, supaya anak dapat tumbuh menjadi orang yang berakhlak baik maka orangtua wajib mendidik dan membimbingnya dengan baik. Adalah penting orangtua mengajarkan kepada anak tentang apa saja yang termasuk perilaku baik dan mana saja yang buruk. Dengan demikian, anak akan memahami dan dapat membedakan antara yang baik dan buruk. Sehingga, ia tidak akan tertarik untuk melakukan tindakan buruk yang dapat merugikan dirinya dan juga lingkungannya.


Baik dan buruknya akhlak anak adalah tanggung jawab orangtua. Sebab, pada mulanya anak terlahir dalam kondisi fitrah. Jadi, apabila anak tersebut menjadi orang yang memiliki akhlak buruk, meresahkan dan merugikan orang yang ada di sekelilingnya maka orangtua harus ikut menanggung dosanya. Karena, mereka berarti tidak melaksanakan tugas mereka sebagai orangtuanya mengajarkan dan membimbing anak supaya menjadi orang yang baik. Dan, di hadapan Alloh SWT kelak, mereka akan dimintai pertanggungjawabannya tentang tugas dan tanggung jawab mereka dalam mengurus dan mendidik anak atau keturunan mereka. (Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh, 2007).

Saturday, 22 March 2008

Berpikir Positif Mampu Mengurangi Beban Seseorang

Liku-liku kehidupan setiap keluarga akan berbeda. Namun, biasanya masing-masing keluarga tersebut saling menyangka satu sama lainnya. Misalnya, keluarga A menganggap bahwa keluarga B adalah keluarga yang berkecukupan dan tampak bahagia. Begitu juga dengan keluarga B, boleh jadi mereka juga menganggap bahwa keluarga A adalah keluarga kaya yang hidup harmonis.


Di dunia ini setiap manusia atau keluarga tidak ada yang sempurna, semua memiliki masalah masing-masing yang berbeda. Untuk itu, ketika ada keluarga yang sedang dicoba dengan berbagai masalah. Maka, cobalah untuk selalu melihat sisi terangnya. Maksudnya, tidak selalu mengingat-ingat beban dan penderitaan yang selama ini dirasakan. Berpikirlah selalu positif tentang masa depan. Yakinlah pada diri, pasti akan ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai sebuah kekuatan yang mampu membuat hidup bisa bersemangat kembali. Misalnya, bersyukur walaupun di dalam keluarga terdapat banyak masalah tetapi keluarga masih tetap utuh dan memiliki semangat untuk berjuang memperbaiki hidup.


Hampir semua keluarga memiliki masalah. Maka, janganlah cepat menyerah. Sebab, menyerah adalah keputusan yang paling merugikan. Ingatlah selalu, walaupun ingin memutuskan untuk menyerah. Tetapi, masalah itu tetap terjadi dan penderitaan itu tetap harus dilalui dan dirasakan. Misalnya, keluarga punya masalah hutang atau memiliki anak yang sulit dikendalikan sehingga membuat susah keluarga. Jalan yang terbaik ketika mengahdapi suatu masalah tersebut adalah cobalah terus untuk memperbaiki masalah yang ada dan teruslah berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Bangunlah setiap harinya dengan mensyukuri hari itu (David Niven, Ph.D, 2005).


Jadi, besyukurlah selalu pada apa yang dapat kita rasakan senang atau bahagia hari ini. Janganlah selalu menganggap semua yang kita anggap masalah sebagai beban yang hanya dirasakan oleh diri kita sendiri. Setiap manusia hidup memiliki masalah masing-masing. Yang paling penting adalah berjuanglah terus untuk mendapatkan kebaikan dan bersyukurlah selalu (yer).

Friday, 21 March 2008

Pentingnya Sebuah Nama

Anak adalah harapan orangtua. Oleh karena itu, sebelum orangtua menentukan sebuah nama untuk anak, sebaiknya yakinkanlah terlebih dahulu bahwa nama yang akan diberikan tersebut memiliki arti atau maksud yang baik dan dengan penulisan yang benar. Berhati-hatilah dalam memberikan nama untuk anak. Janganlah memberikan nama kepada anak dengan nama sembarang, misalnya asal kedengaran ‘keren’ jika diucapkan. Ada kalanya seseorang terpaksa harus mengganti lagi namanya karena ternyata cara penulisan nama tersebut salah sehingga mengandung arti yang salah juga.


Kita percaya bahwa nama adalah do’a. Untuk itu berikanlah nama yang baik kepada anak. Supaya setiap kali orangtua atau orang lain memanggil atau menyapanya berarti mereka mendo’akan anak tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan orangtu kepadanya. Misalnya, nama anak perempuan itu adalah aminah, artinya adalah dapat dipercaya. Dengan memberikan nama tersebut berarti orangtuanya berharap agar ia dapat tumbuh menjadi wanita yang dapat dipercaya (yer).


Kesimpulannya, berikanlah nama yang terbaik kepada anak. Yaitu, nama yang memiliki arti yang sangat bagus dan terpuji. Sebab, nama terpilih itu merupakan do’a dan cerminan harapan orangtua untuk sang anak (Nayati Ashriyah, 2007).

Thursday, 20 March 2008

'Pengorbanan' Orangtua Membuat Hidup Anak Lebih Baik

Anak adalah sosok yang bisa memberikan energi kepada orangtuanya untuk dapat bertahan hidup. Anak adalah harapan orangtua. Keberhasilan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh anak adalah dirasakan juga oleh orangtuanya. Senyum anak yang terpancar dari wajahnya adalah senyum orangtuanya juga.


Pada umumnya, semua orangtua tentu akan sangat mencintai anak mereka. Orangtua ingin selalu dapat membahagiakan anak. Apa saja yang dapat mereka lakukan untuk bisa membahagiakan anak, akan mereka lakukan. Demi membahagiakan anak, orangtua akan rela mengorbankan materi, jiwa, dan juga raga.


Orangtua yang selalu memberikan yang terbaik kepada anak, cepat atau lambat akan segera merasakan suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Yaitu, keberhasilan yang dicapai oleh anak. Anak yang merasa dirinya selalu dicintai, diperhatikan, dan diberi dukungan oleh orangtuanya akan lebih mudah mencapai sukses dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Anak tersebut akan selalu memiliki energi untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik sesuai dengan apa yang ingin dicapainya (yer).


Untuk itu, keberhasilan yang diraih oleh anak adalah buah dari pengorbanan orangtuanya dalam memberikan yang terbaik kepada anak. Orangtua yang memiliki harta, mereka akan memberikannya untuk kebutuhan anak. Jika orangtua tidak memiliki harta, orangtua dapat memberikan tenaga, pikiran, dan perhatian kepada anak (Nayati Ashriyah, 2007).

Wednesday, 19 March 2008

Mengapa Anak Selalu Ingin ‘Nempel’ Terus?

Mungkin kita sering melihat anak yang selalu ingin ‘nempel’ kepada orangtuanya. Ke mana saja orangtua bergerak ia akan terus mengikuti mereka. Sekalipun orangtuanya hanya pergi ke toilet, ia selalu ingin ikut. Perilaku anak seperti ini tentu akan membuat anak dan orangtua merasa tidak nyaman. Dengan sikapnya seperti itu, lama-lama orangtua mungkin akan merasa sangat terikat dan tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Begitu juga dengan anak, ia akan sangat ketergantungan kepada orangtuanya, ia tidak percaya kepada orang lain sehingga ia akan sangat sedih dan merasa ketakutan ketika ia menyadari bahwa ia terpisah dengan orangtuanya.


Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan anak menjadi penakut dan ketergantungan seperti di atas. Di antaranya adalah akibat dari pengasuhan orangtua yang terlalu melindungi anak. Orangtua seperti ini biasanya sulit memberikan kebebasan kepada anak untuk bereksplorasi dengan lingkungannya. Mereka akan selalu merasa khawatir anak menjadi terluka baik fisik atau pun perasaannya. Dengan demikian, orangtua akan selalu berusaha untuk melarang anak melakukan ini dan itu. Selain itu, anak menjadi penakut karena orangtua selalu mengatur anak mereka dalam segala hal. Sehingga dengan sikapnya tersebut, orangtua tidak bisa mempercayakan anak kepada orang lain dan anakpun menjadi tidak bisa tinggal bersama orang lain.


Perlu orangtua ketahui bahwa pengasuhan kepada anak dengan cara memberikan perlindungan secara berlebihan adalah tidak baik. Ketika ia tumbuh besar nanti khawatir sifat penakutnya tersebut akan terbawa, misalnya pada saat ia menginjak usia sekolah, ia tidak mau sekolah atau selalu ingin didampingi orangtuanya (Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, S. Psi, 2007).

Oleh karena itu, supaya anak dapat tumbuh dengan percaya diri dan mandiri, maka berilah anak kepercayaan dan kebebasan untuk mencoba dan bereksplorasi dengan lingkungannya. Janganlah orangtua terlalu khawatir secara berlebihan dan banyak melarang anak, terutama jika ia benar-benar tidak sedang melakukan sesuatu yang membahayakan (yer).

Tuesday, 18 March 2008

Memahami Perilaku Anak Remaja

Oleh: Yusi E Rosmansyah

Masa remaja dapat dikatakan sebagai masa yang 'tanggung'. Maksudnya, anak tersebut adalah bukan lagi anak yang masih kecil, tetapi juga bukan orang yang sudah dewasa. Oleh karena itu, adalah wajar apabila sesekali anak remaja melakukan suatu tindakan yang kekanak-kanakan. Hal yang paling penting orangtua lakukan untuk mendukung anak tumbuh menjadi orang dewasa adalah bersikap bijaksana. Yaitu, tidak menghina atau melecehkan anak ketika ia melakukan tindakan yang kekanak-kanakan.


Sebaliknya, ketika anak melakukan suatu tindakan salah atau kekanak-kanakan tetapi ia masih mau bertanggug jawab atas tindakannya tersebut. Maka, berikanlah dukungan dan pujian kepadanya. Biarkan anak mengetahui bahwa orangtua sangat bangga atas sikap tanggung jawab yang dilakukannya tersebut. Semakin sering orangtua memperlakukan anak remaja sebagai orang dewasa. Maka, semakin banyak dukungan yang orangtua berikan kepadanya untuk bertindak demikian, tanggung jawab.


Kuncinya, perlakukanlah selalu anak remaja seperti orang dewasa, tetapi mengertilah jika ia berperilaku seperti kanak-kanak (Steve Chalke, 2007)

Monday, 17 March 2008

Mendukung Akan Lebih Baik Daripada Harus Kehilangan Anak

Semua orangtua tentu ingin calon pendamping yang dikenalkan oleh anak mereka adalah sesuai dengan harapan semua fihak. Maksudnya, antara harapan anak dengan orangtua terhadap calon pendampingnya tersebut adalah sama. Misalnya, tidak hanya menilai calonnya tersebut dari sisi fisiknya saja atau dari sisi materinya saja, tetapi idealnya adalah penting menilai diri seseorang tersebut berdasarkan hasil akhir secara keseluruhan untuk jangka panjang.


Seperti yang sering dikatakan oleh orangtua pada umumnya, bahwa tidak ada yang dapat melebihi rasa bahagia orangtua kecuali menyaksikan anak mereka hidup senang, tenang, dan bahagia. Oleh karena itu, dalam mendukung pernikahan anak, orangtua hanya ingin yakin bahwa calon pendamping anak mereka dapat membahagiakan anak mereka selamanya. Karena, kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua juga.


Namun, pada kenyataannya tidak semua anak selalu mendengarkan pendapat orangtua tentang calon pendamping tersebut. Ada sebagian anak yang tetap ingin melangsungkan pernikahannya dengan orang yang sebenarnya tidak cocok dengan apa yang diharapkan orangtuanya.


Menyikapi situasi seperti di atas, mendukung boleh jadi merupakan solusi yang tidak dapat ditawar lagi daripada menolaknya. Sebab, jika orangtua tetap menolak dan terus berusaha memisahkan mereka, maka mungkin ia akan tetap menikah dengan calon suami pilihannya tersebut. Akhirnya, orangtua akan sulit bertemu atau bahkan kehilangan anak beserta cucu-cucu mereka.


Untuk itu, apabila anak datang dengan seseorang yang tidak orangtua sukai. Dan, anak tetap pada pendiriannya, yaitu ingin menikah dengan calonnya tersebut. Maka, cobalah untuk mencari sisi baik dari diri calon pasangan anak tersebut. Apabila ternyata orangtua sulit menemukan sesuatu itu, maka berfikirlah positif. Dengan mendukung anak setidaknya orangtua masih bisa berhubungan baik dengan sang buah hati sampai ia menyadari sendiri kekeliruannya tersebut ( Steve Chalke, 2007).


Mendukung akan lebih baik daripada harus kehilangan anak selamanya.....

Sunday, 16 March 2008

Beberapa Cara Merangsang Indra Pendengaran Bayi

Oleh: Yusi E Rosmansyah

Hal-hal di bawah ini adalah beberapa alternatif untuk merangsang indra pendengaran bayi menurut Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, S. Psi (2007). Di antaranya adalah:

  1. Bernyanyi. Ketika orangtua sedang bersama bayi maka berusahalah selalu untuk bersenandung. Misalnya, ketika sedang menina bobokan bayi, memandikan, dan mengganti popok bayi. Hal ini baik untuk merangsang kemampuan berhitung pada anak kelak. Sebab, irama musik berhubungan dengan kemampuan matematika.
  2. Berbicara sepanjang perjalanan. Ketika orangtua berada di dalam kendaraan, cobalah untuk selalu menyebutkan benda-benda yang kita temukan di sepanjang jalan. Dengan cara seperti itu, anak akan semakin banyak merekam banyak nama-nama benda.
  3. Berbicara kepada bayi sebanyak dan sesering mungkin. Tindakan seperti ini merupakan salah satu cara orangtua mengajarkan berbicara kepada anak. Lakukanlah dalam segala kesempatan. Misalnya, ketika orangtua akan memandikan bayi katakan kepadanya ’ sekarang Ade mandi dulu ya..pake sabun biar badannya menjadi bersih dan wangi’.

Saturday, 15 March 2008

Melatih Anak Bersikap Tanggung Jawab

Oleh: Yusi E Rosmansyah

Mengajarkan anak untuk meminta maaf ketika ia melakukan suatu kesalahan adalah tindakan yang sangat penting. Dengan demikian berarti orangtua telah mendidik anak untuk bersikap tanggung jawab terhadap apa yang telah ia lakukan. Misalnya, ketika anak melakukan suatu kesalahan memukul adiknya atau menyenggol makanan milik teman hingga jatuh. Maka, sebaiknya orangtua berusaha supaya anak segera meminta maaf kepada adik atau temannya tersebut.


Bagi sebagian anak, meminta maaf adalah bukan tindakan yang mudah. Terkadang anak akan merasa enggan meminta maaf apalagi kepada teman atau adiknya. Namun demikian, orangtua harus tetap mendorong anak supaya ia tetap mau melakukannya. Apabila orangtua tidak melihat anak meminta maaf dengan tulus, anak meminta maaf dengan kesan malas atau ‘ogah-ogahan’. Maka, biarkanlah hal itu terjadi. Hal yang paling penting adalah anak tetap melaksanakan apa yang seharusnya ia lakukan jika ia berbuat suatu kesalahan, yaitu meminta maaf (yer).


Berikan motivasi kepada anak untuk selalu meminta maaf apabila ia terbukti melakukan suatu kesalahan. Tanamkan kepadanya bahwa meminta maaf atas suatu kesalahan adalah tindakan yang bertanggung jawab dan baik. Dengan demikian, anak akan semakin memahami bagaimana cara menanggapi pelanggaran atau kesalahan dengan tepat. Suatu saat, apabila anak menyakiti perasaan orang lain, ia akan berusaha untuk memperbaikinya. Pada saat itu, anak tidak hanya tahu apa yang seharusnya ia lakukan, tetapi ia juga akan mempraktikkan permintaan maaf tersebut dengan hati yang tulus (Dr. Scott Turansky & Joanne Miller, RN, BSN, 2007).

Friday, 14 March 2008

Mengajarkan Tanggung Jawab Kepada Anak dengan Cara Bijak

Memberikan tugas kepada anak untuk melakukan suatu pekerjaan rumah adalah tidak salah. Dengan demikian, anak dapat belajar bagaimana hidup saling menolong, bertanggung jawab, dan bersikap empati. Namun, dalam praktiknya tentu tugas yang dibebankan kepada anak harus disesuaikan dengan kemampuan, kondisi, dan usia anak.


Membebani terlalu banyak pekerjaan kepada anak adalah tidak benar. Apalagi, jika pekerjaan tersebut sebenarnya adalah tugas dan tanggung jawab orangtua. Misalnya, sementara anak disuruh mengerjakan pekerjaan rumah atau menjaga toko di rumah, orangtua malah pergi bersama teman-teman ke tempat perbelanjaan, arisan, dan bahkan hanya sekedar kumpul-kumpul.


Anak yang terlalu sering dituntut dan dibebani banyak tugas atau pekerjaan rumah biasanya akan lebih suka berada di luar rumah. Anak akan lebih memilih untuk menghindarkan diri dari orangtuanya. Apabila situasi seperti itu terjadi, maka orangtua maupun anak akan sama-sama merasakan hal yang sama. Yaitu, merasa marah, jengkel, dan kesal. Orangtua marah karena anak tidak mau membantu atau menuruti permintaan mereka, sedangkan anak marah karena ia merasa lelah dan kesal karena selalu dibebani oleh banyak pekerjaan yang membuatnya tidak punya kebebasan dan waktu untuk menyenangkan dirinya sendiri.


Apabila orangtua ingin mengajarkan tanggung jawab kepada anak, maka dapat melakukaknnya dengan cara memberikan tugas atau pekerjaan itu setahap demi setahap. Yang paling penting adalah anak mengetahui mengapa pekerjaan itu perlu dikerjakan. Bukan sebaliknya, anak dipaksa melakukan pekerjaan tersebut hanya karena untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pribadi orangtua (yer).


Perlu orangtua sadari, anak bukanlah robot atau sebuah mesin yang bisa dipekerjakan kapan saja dan tanpa membutuhkan apresiasi. Sebelum orangtua menugaskan suatu pekerjaan kepada anak, penting memperhatikan waktu dan kesediaannya. Sebab, sikap saling menghargai juga perlu dilakukan kepada anak.


Jika anak bersedia membantu pekerjaan orangtua, maka janganlah lupa orangtua memberikan pujian, mengucapkan terima kasih, dan melakukan komunikasi yang bermanfaat kepadanya. Tindakan tersebut merupakan suatu bentuk dukungan kepada anak supaya ia menjadi terbiasa dengan sikap ‘dewasa’, seperti suka membantu dan bertanggung jawab.


Menanamkan suatu nilai-nilai positif kepada anak dengan mengajarkan sikap tanggung jawab melalui tugas mengerjakan suatu pekerjaan di rumah perlu adanya hubungan yang baik antara orangtua dengan anak. Yaitu, berupa kedekatan dan kepedulian orangtua yang dapat dicurahkan kepadanya dalam bentuk saling memberikan cinta dan kasih sayang (Jacob Azerrad, Ph,D, 2005). Jika perasaan anak bahagia, maka ia akan mampu melakukan suatu pekejaan dengan perasaan senang tanpa perlu melakukan perdebatan atau ’perang mulut’ di antara orangtua dengan dirinya.

Thursday, 13 March 2008

Cara Membahagiakan Anak

Oleh: Yusi Elsiano Rosmansyah

Banyak orangtua yang mengatakan bahwa tidak ada keinginan lain atas anak mereka kecuali melihat dan membuatnya hidup bahagia. Namun untuk mewujudkan satu keinginan tersebut beberapa orangtua tidak tahu bagaimana seharusnya mereka bertindak kepada anak.


Memberikan kepuasan materi kepada anak secara berlebihan adalah bukan cara yang baik untuk mewujudkan keinginan orangtua tersebut. Sebab, banyak anak yang diasuh dan dibesarkan oleh materi pada akhirnya membuat diri anak dan orangtua menjadi tidak bahagia. Anak boleh jadi membeli kebahagiaan tersebut dengan cara negatif. Misalnya, membeli dan menggunakan minum-minuman dan obat-obatan terlarang.


Begitu juga kalau orangtua membahagiakan anak dengan cara selalu memanjakannya. Membantu dan menyediakan kebutuhannya. Tindakan orangtua seperti itu bisa jadi malah membuat anak menjadi tidak bahagia. Sebab, apabila ia sedang tidak berada di dekat orangtuanya maka ia akan menjadi sangat ketergantungan kepada orang-orang yang berada di dekatnya. Hal seperti itu akan membuat teman atau orang-orang di dekatnya merasa tidak senang dan menjauhinya. Akhirnya, anak menjadi sedih dan tidak bahagia.


Cara yang paling penting untuk membuat anak bahagia adalah dengan mengajarkan kepadanya perilaku yang akan mendatangkan kebahagiaan dan membuat perasaan anak menjadi berharga yang akan berlangsung selama hidupnya. Yaitu, mengajarkan kepadanya untuk bisa menjadi teman yang baik, merasa puas karena menjadi orang yang bertanggung jawab, mempunyai rasa haus untuk belajar, dan memiliki kepedulian yang tinggi (Jacob Azerrad, Ph.D, 2005).

Wednesday, 12 March 2008

Manfaat Memberikan Kesempatan Bermain Kepada Anak

Bermain dengan mainan adalah aktivitas yang disukai oleh anak. Dengan bermain biasanya anak akan merasa terbebas dari perasaan jenuh dan lelah. Oleh karena itu, untuk menciptakan kembali energi atau semangat baru kepada anak yang mungkin telah menurun akibat kesibukan belajarnya atau mengerjakan sesuatu hal lainnya. Maka memberikan kesempatan kepadanya untuk bermain adalah tindakan yang baik.


Adalah penting orangtua memilihkan dan menyediakan mainan yang mendidik untuk anak. Sehingga, mainan tersebut bukan hanya sekedar memberikan kesenangan atau memuaskan hati anak saja. Tetapi, juga dapat memberikan banyak pengalaman dan ilmu pengetahuan kepadanya. Misalnya, dengan mainan tersebut anak dapat juga belajar tentang warna, mengenal suara berbagai macam binatang, belajar huruf, angka, atau belajar mengelompokkan dan membedakan jenis benda (yer).


Bermain dengan mainan dapat memberikan banyak manfaat kepada anak. Dengan bermain, anak akan mampu mengembangkan akalnya, meluaskan pengetahuannya, dan melatih alat indra serta perasaannya. Namun, walaupun demikian orangtua harus tetap memberikan pengawasan dan pengendalian waktu kepada anak untuk bermain. Hal ini supaya anak tidak terlalu lelah karena bermain dan mengajarkan kepada anak untuk dapat bertindak disiplin terhadap waktu (Jamaal Abdur Rahman, 2005).

Tuesday, 11 March 2008

Tiga Pilihan Sulit Akibat Perbuatan Seks Babas

Sudah menjadi kewajiban orangtua membuat anak remaja mereka tahu tentang seks dan akibatnya apabila melakukan seks tidak pada waktu dan tempat yang seharusnya. Ayah-Bunda, memberitahu anak tentang seks sesuai dengan kematangan usia anak berarti orangtua telah membekali anak supaya ia mampu bersikap dan menjaga diri dari tindakan seks yang dapat merugikan masa depannya.


Risiko yang paling besar dari perbuatan seks di luar nikah adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Setidaknya hanya ada tiga pilihan bagi anak remaja yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Di antaranya adalah melakukan aborsi, adopsi, atau merawat sendiri anak tersebut. Untuk menjalankan semua pilihan itu akan terasa sulit dan berat apalagi jika ditambah dengan beban ekonomi dan mental diri yang tidak siap (Steve Chalke, 2007).


Pilihan pertama adalah aborsi, tindakan seperti ini dapat menimbulkan akibat jangka panjang, termasuk merasa kehilangan, merasa bersalah, dan penyesalan yang mendalam pada diri remaja tersebut. Selain itu, adanya kemungkinan terjadi efek samping yang bersifat fisik. Misalnya, pendarahan bagian dalam atau bahkan menjadi tidak bisa hamil lagi.


Pilihan kedua adalah adopsi, sebagian anak remaja yang hamil di luar nikah ada yang tidak berniat untuk menggugurkan bayinya. Namun, karena ia mempunyai kendala dalam hal ekonomi atau tidak mampu mengurus bayi tersebut. Maka, ia bisa jadi memberikan bayinya untuk diasuh oleh orang lain. Pada praktiknya, tindakan seperti ini adalah tidak mudah. Biasanya, setelah menyerahkan bayinya kepada orang lain, anak remaja tersebut akan merasa sangat bersedih dan penyesalan yang mendalam selama bertahun-tahun. Bagaimana tidak, ia akan selalu dihantui rasa bersalah dan selalu ingat kepada bayi yang diberikannya tersebut.


Pilihan ketig aadalah membesarkan bayinya sendiri. Melakukan keputusan ini bukan tidak mungkin ia akan menyesali kehilangan kebebasan dan kehidupan sosialnya. Sebab, ia harus bertanggung jawab mengurus dan mengasuh bayinya tersebut. Besar kemungkinan seluruh waktu anak remaja tersebut habis karena harus mengurus anak kecil yang segala sesuatunya masih sangat tergantung pada bantuan ibu atau ayahnya.


Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa betapa penting menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan seks dan kehamilan yang tidak diinginkan kepada anak remaja kita. Dengan demikian, diharapkan ia akan mampu menjaga diri dan kehormatannya dengan baik. Menjelaskan beberapa akibat dari perbuatan seks dini kepada anak remaja berarti membatu anak supaya terhindar dari keharusan memilih salah satu dari ketiga pilihan di atas. Semua pilihan di atas adalah sangat sulit, baik bagi anak remaja tersebut maupun bagi kita sebagai orangtuanya (yes).

Monday, 10 March 2008

Kenalkan Masalah Seks Kepada Anak Remaja

Merupakan tanggung jawab orangtua memastikan anak remaja mereka menyadari bahwa kehamilan yang tidak diinginkan akibat perbuatan seks di luar nikah adalah sangat membahayakan, merugikan, dan membuat sulit dirinya sendiri (anak) dan semua pihak, orangtua, bayi yang dikandungnya, dan juga masyarakat.


Bagi anak remaja, mendapatkan pengetahuan tentang seks langsung dari orangtuanya adalah penting. Hal ini adalah supaya anak mendapatkan pengetahuan yang cukup dan terhindar dari keinginannya melakukan seks bebas yang dapat merugikan masa depan dirinya. Dengan membimbing dan mengajarkan masalah seks kepada anak yang sudah remaja, maka anak akan memahami akibat yang sangat besar dari perbuatan seks bebas tersebut. Yaitu, selain adanya kemungkinan tertular penyakit yang mematikan (AIDS) juga terjadinya kehamilan yang tidak dinginkan.


Pada dasarnya hanya ada tiga pilihan bagi anak remaja yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan atau hamil sebelum menikah. Pilihan tersebut di antaranya adalah menggugurkan, mengadopsi, atau merawat anak itu. Ketiga pilihat tersebut semuanya akan membuat sulit semua pihak, terutama diri anak sendiri yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan tersebut (Steve Chalke, 2007).


Anak wanita ataupun laki-laki remaja, keduanya perlu dibekali ilmu tentang seks, caranya tentu harus disesuaikan dengan kematangan jiwa anak. Dengan demikian, ia akan memiliki keyakinan dan kemampuan untuk menghindarkan dirinya dari sikap ‘coba-coba’ terhadap seks sebelum menikah. Ia akan tahu dan faham tentang bahaya buruk dan risiko yang akan dijalani apabila ‘bermain’ dengan seks tidak pada waktu dan tempat yang tepat (yer).

Sunday, 9 March 2008

Pentingnya Orangtua Selalu Melibatkan Diri dalam Kehidupan Anak

Oleh: Yusi elsiano Rosmansyah

Pada umumnya orangtua akan lebih memerhatikan perkembangan dan kebutuhan rohani anak ketika ia masih kecil saja. Pada saat ia mulai meginjak remaja, biasanya perhatian orangtua semakin memudar. Hal itu terjadi mungkin karena mereka menganggap anak sudah dapat mandiri dan sudah tidak terlalu banyak lagi membutuhkan perhatian atau bantuan orangtua.


Anggapan orangtua seperti di atas itu adalah tidak benar. Anak remaja justru sangat membutuhkan dukungan, bimbingan, kehadiran, dan perhatian orangtua. Dikala anak mendapatkan kendala dalam hidupnya tentu akan sangat baik bila ia dapat mencurahkan dan mendapatkan masukkan, saran, dan nasehat dari orangtuanya sendiri ketimbang dari teman-temannya.


Jika orangtua selalu memberikan perhatian secara aktif. Selalu berusaha melibatkan diri dalam hidup anak, misalnya mendengarkan apa yang ingin ia bicarakan, memotivasi kegiatan sekolahnya, dan membantu anak ketika ia sedang mendapatkan masalah dalam hidupnya. Maka, ketika ia mengetahui hal ini di masa depan nanti, ia akan siap pula memberikan yang terbaik kepada orangtuanya. Ia akan siap mendampingi dan memerhatikan orangtua seperti halnya orangtua telah melakukan semua itu kepadanya.


Apabila orangtua mampu menunjukkan kepada anak betapa orangtua sangat mencintai dan menyayanginya, dengan selalu mengekspresikan perhatian secara mendetail terhadap kehidupan anak sejak ia masih kecil, maka hal ini akan menciptakan suatu kebiasaan intim seumur hidup yang memberikan manfaat bagi orangtua (Laura M. Ramirez, 2006).

Kunci
Anak akan mampu megingat segala kejadian yang pernah ia alami dalam hidupnya. Termasuk perlakuan orangtua kepadanya. Oleh karena itu, walaupun dalam hal yang kita anggap sepele, tetapi penting bagi orangtua menciptakan tindakan yang mencerminkan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus itu kepada anak. Misalnya, menghadiri kegiatan ektrakurikuler anak (karate, kursus musik), mendampingi anak melakukan hobinya (berenang, membantu memilihkan buku bacaan), dan bahkan merawat anak ketika ia sedang sakit. Perlakuan orangtua seperti itu besar kemungkinan akan terbawa oleh anak sampai ia dewasa atau tua nanti. Ikatan batin, kebiasaan yang penuh dengan kehangatan, dan persahabatan yang 'melebihi segalanya' ini akan dibawanya kembali oleh anak kepada orangtua. Segala tindakan dan ucapan baik orangtua yang dulu pernah mereka tanam, cepat atau lambat mereka akan merasakan hasilnya. Di masa tua nanti, orangtua maupun anak akan hidup dalam jalinan keluarga yang penuh dengan sikap saling memberi cinta (yer).

Saturday, 8 March 2008

Bagaimana Orangtua Bersikap Terhadap Pertemanan Anak

Mengajarkan dan mengarahkan anak supaya berteman dengan orang yang berkarakter baik adalah penting. Namun, memaksa anak untuk berteman dengan seseorang hasil pilihan orangtua adalah tindakan yang tidak bijaksana.


Mungkin kita pernah memerhatikan orangtua memaksa anak untuk berkenalan dengan anak lain lalu memaksanya untuk saling berpelukan atau mencium anak tersebut. Anak dipaksa untuk menyenangkan orang lain dan orangtuanya. Jika anak tidak mau melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, maka mereka akan memperlihatkan sikap tidak senang atau bahkan mempermalukannya. Orangtua seperti ini ingin memberikan kesan kepada orang lain bahwa anak mereka adalah ramah (yer).


Janganlah orangtua memaksa anak untuk selalu dapat menyenangkan orang lain. Memaksakan kehendak dengan mengorbankan perasaan anak dapat membuatnya menjadi putus asa, bingung mengenai dirinya sendiri, mengenai hal-hal yang dirasakannya, dan hal-hal yang diinginkannya.
Berikanlah kebebasan kepada anak untuk memilih dan menentukan temannya sendiri. Kecuali, kalau orangtua merasa pasti bahwa temannya tersebut benar-benar sangat membahayakan anak. Tetapi, jika temannya tersebut memiliki karakter ‘buruk’ yang masih dianggap wajar. Maka, sebaiknya orangtua tidak langsung memisahkan anak dengan temannya tersebut. Sebab, dengan cara berteman dengan orang yang memiliki karakter yang berbeda akan memberikan kesempatan yang berharga bagi anak untuk bersikap terhadap tekanan teman sebayanya kelak. Cepat atau lambat anak akan dipaksa untuk hidup dan bekerja dengan orang-orang yang menganut nilai-nilai yang berbeda ( Laura M. Ramirez, 2006).

Friday, 7 March 2008

Membantu Anak Mengatasi Perasaan Takut

Ada beberapa hal yang dapat membuat anak merasa ketakutan. Di antaranya adalah takut akan kegelapan, suara keras halilintar, dan binatang seperti kecoa, laba-laba, atau tikus. Perasaan takut sepeti itu biasanya terjadi akibat dari proses belajar. Anak yang asalnya tidak masalah dengan kecoa bisa berubah menjadi penakut karena ia melihat perilaku orangtua yang suka menjerit histeris dan meloncat ketakutan ketika menemukan kecoa.


Ketakutan pada anak bisa juga terjadi karena kesalahan orangtua dalam mendisiplinkan anak. Masih banyak orangtua yang menakut-nakuti anak supaya ia mau melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Misalnya dengan mengatakan kepada anak ’kalau ia tetap tidak mau tidur, maka akan datang hantu dan menculiknya’. Tindakan itu tentu tidak baik, karena akan selain dapat mempengaruhi aktivitas anak juga dapat merusak pikiran, dan jiwa anak (yer).


Orangtua bijaksana tentu tidak akan membiarkan anak terus-menerus merasakan ketakutan pada suatu hal. Untuk membantu anak mengatasi rasa takut tersebut maka orangtua dapat melakukan sikap empati dan mendukung. Sikap empati dapat ditunjukkan orangtua dengan cara memahami dan memandang hal tersebut dari sudut pandang anak. Bantulah anak memahami apa yang sedang ia alami atau rasakan saat itu. Berikanlah kesempatan kepada anak untuk membicarakan apa yang sedang ia rasakan atau yang sedang ia alami tersebut. Berikanlah penjelasan dan yakinkanlah dengan bijak kepadanya bahwa apa yang ditakutkannya tersebut adalah tidak benar.


Selain hal di atas, bantulah anak supaya tidak terbiasa merasa takut kepada hal-hal yang tidak perlu ditakuti. Misalnya, ada sebagian anak yang takut kepada dokter. Untuk membantunya, orangtua dapat mengajak anak berkunjung ke tempat praktek dokter. Berikanlah pengalaman yang dapat membuatnya merasa senang di tempat itu. Misalnya, dengan memerikan informasi tentang apa yang ingin ia ketahui, seputar peralatan dokter atau pekerjaan dokter. Begitu juga dengan hal lainnya, seperti pada saat anak selalu merasa takut akan kegelapan. Orangtua dapat mengajarkannya secara bertahap tidur tanpa listrik (Indra Kusumah, S.Psi & Vindhy Fitrianti W, S. Psi, 2007).

Thursday, 6 March 2008

Semua Orangtua Pernah Melakukan Kesalahan

Oleh: Yusi Elsiano Rosmansyah

Sebagai orangtua yang memiliki segudang pekerjaan dan tanggung jawab di luar rumah, tentu akan lebih sering merasakan lelah dan penat setelah seharian berhadapan dengan orang lain (konsumen, bos, karyawan). Oleh sebab itu, kondisi seperti itu seringkali membuat orangtua tidak mampu berhadapan dengan anak dalam suasana yang penuh dengan kehangatan dan keceriaan lagi. Sebaliknya, boleh jadi sambutan dari anak terhadap orangtuanya tersebut dibalas dengan kemarahan atau emosional.


Orangtua yang terlalu sibuk di luar rumah sering kali tidak memiliki energi positif ketika sampai di rumah. Mungkin hal ini diakibatkan oleh beberapa hal, di antaranya perasaan tertekan karena seharian mereka dituntut untuk bersikap baik, berwibawa, ramah, dan menawan dihadapan orang lain. Atau, mungkin selama seharian mereka banyak sekali menghadapi kejadian yang menguras tenaga dan pikiran, di tempat mereka bekerja terlalu banyak mendapatkan masalah.


Namun demikian, setibanya orangtua di rumah hendaklah berperilaku baik kepada anak. Sebab, yang diketahui anak adalah orangtua merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan. Yaitu, merasa kangen dan rindu setelah seharian ia tidak berada di dekat orangtuanya. Anak mungkin belum mengerti dan tidak tahu dengan apa yang sebenarnya sedang dirasakan oleh orangtuanya.


Jadi, ketika orangtua menyuruh anak untuk menjauhi mereka karena khawatir ia terkena marah. Anak sebenarnya tidak dapat memahami maksud baik orangtua tersebut. Anak hanya mampu memahami perasaan orangtuanya dari sikap dan perilaku mereka kepadanya, kasar dan tidak merindukannya. Dengan memperlihatkan perilaku dan perkataan buruk orangtua kepada anak, berarti orangtua memberikan kesan kepadanya bahwa ia adalah tidak cukup penting untuk menerima perlakukan yang lebih baik dari orangtuanya.


Oleh sebab itu, perlu orangtua berhati-hati dalam berperilaku kepada anak. Pisahkanlah antara suasana di tempat kerja dengan di rumah. Anak akan terluka perasaannya apabila penantian dan kerinduannya dibalas dengan kemarahan dan hardikan dari orangtua. Orangtua perlu menyadari apabila kondisi seperti ini dalam waktu yang lama terus terjadi maka dikhawatirkan akan timbul banyak masalah, ketegangan, tidak harmonis, dan perpecahan dalam keluarga.


Untuk menetralkan perasaan anak karena perlakuan buruk orangtua. Maka, sangat baik orangtua meminta maaf kepada anak atas kesalahan dalam bertindak dan berucap. Percayalah, dengan sikap orangtua seperti itu akan mampu menghapus luka yang mungkin telah tergores di hati anak. Perlu kita ingat kembali bahwa tidak ada orang yang sempurna. Semua orangtua pernah melakukan kesalahan (Steve Chalke, 2007).

Wednesday, 5 March 2008

Semua anak adalah istimewa.

Oleh: Yusi Elsiano Rosmansyah

Setiap anak terlahir dengan kelebihannya masing-masing. Orangtua yang mengatakan bahwa anak mereka adalah tidak memiliki keistimewaan, itu tentu tidak benar. Orangtua seperti itu berarti belum mampu melihatnya. Sebab, keistimewaan anak bukan hanya dilihat dari sisi kemampuan akademiknya saja. Tidak selamanya anak istimewa itu harus pintar matematika, bahasa inggris, atau ilmu kimia. Anak yang senang menyayangi binatang, anak yang patuh, atau anak yang selalu menebar senyum sehingga mampu menyejukkan setiap orang yang memandangnya juga adalah termasuk istimewa.


Oleh karena itu, apabila orangtua belum menemukan keistimewaan dari diri anak maka cobalah untuk membuka mata lebih lebar, memasang telinga lebih tajam, dan merasakan dengan hati supaya orangtua dapat dengan segera menemukan keistimewaan yang terdapat dalam diri anak tersebut. Sebagai upaya orangtua menemukan sesuatu yang istimewa dari diri setiap anak, maka cobalah perhatikan masing-masing anak tersebut dari sisi lainnya. Misalnya, dari kemampuannya bersosialisasi, dari keramah-tamahannya, dari sikapnya yang rajin dan selalu ceria, atau dari kepribadiannya yang selalu bertanggung jawab dan penuh disiplin


Jika orangtua telah menemukan keistimewaan tersebut. Maka, berbagilah dengan anak. Katakan dengn tulus kepada anak bahwa ia adalah memang istimewa dan sangat berarti bagi orangtua. Selain itu, orangtua juga dapat mengungkapkan perasaan bangga kepada anak dengan memujinya sesuai dengan apa yang telah ia lakukan. Misalnya, ’Kamu memang anak yang rajin, setiap hari selalu membereskan dan membersihkan kamar tidurmu’. Setelah memuji dengan cara verbal, orangtua dapat mengungkapkan rasa bangga tersebut kepada anak dengan cara lain. Yaitu, memberikan senyuman, pelukan hangat, atau kecupan di kepalanya (Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, S. Psi, 2007). Semoga dengan cara seperti itu, orangtua akan mampu melihat keistimewaan lain yang ada dalam diri anak tersebut (yer).

Tuesday, 4 March 2008

Cara Mencintai Bayi

Oleh: Yusi Elsiano Rosmansyah

Ada banyak bayi yang tidak mau digendong atau dipeluk oleh orangtuanya, ia lebih memilih bersama pengasuh pengganti atau saudara (nenek, tantenya). Hal itu terjadi mungkin karena anak kurang mendapatkan waktu bersama orangtuanya. Sebab, biasanya anak akan lebih dekat dan mau berbagi cintanya dengan orang yang lebih banyak memberikan kehangatan kepadanya, lebih sering berada di dekatnya, dan selalu memberikan apa yang dibutuhkannya.


Oleh karena itu, sesibuk apapun orangtua bekerja adalah penting memberikan perhatian, pelukan, dan melakukan komunikasi dengan anak. Tindakan orangtua seperti itu akan membawa kedekatan anak kepada orangtuanya. Melalui pelukan, orangtua dapat menyampaikan pesan bahwa mereka sangat menyanginya. Melalui ciuman, bayi akan tahu bahwa orangtuanya sangat perhatian kepadanya. Dan, dengan membawanya berbicara berarti orangtua menunjukkan bahwa orangtua peduli terhadapnya (Shelly Herold, MS, Ed, 2006).

Monday, 3 March 2008

Hubungan Orangtua dan Anak Mempengaruhi Perilaku Anak

Perkembangan karakter dan perilaku sosial anak di masa yang akan datang dapat dipengaruhi oleh hubungan antara orangtua dengan anak tersebut. Oleh karena itu cobalah orangtua memahami perasaan dan kebutuhan anak sejak dini. Sebab, hubungan yang terikat dengan baik, penuh pengertian, kehangatan di antara orangtua dan anak akan mampu membuat anak hidup percaya diri dan merasa aman ketika sedang 'menyelami dunia'.


Ada tiga pola yang berbeda mengenai perilaku anak yang merupakan hasil hubungan antara ibu dengan anak yang dibangun sejak dini. Pertama, ketika ibu mencintai, memedulikan anak, dan meresponsnya dengan cepat terhadap kebutuhan makanan dan kenyamanan anak. Maka, anak akan merasa aman, penuh rasa percaya, tidak takut mengekplorasi dunia, dan tumbuh menjadi anak yang sehat, utuh, dan mandiri.


Kedua, jika ibu sesekali menenangkan, tetapi lebih sering membiarkan tangisan atau tanda-tanda kebutuhan anak. Maka, ia akan merasa gelisah, terasing, dan lengket pada orangtua yang sering menolaknya tersebut. Sebab, anak akan merasa ragu apakah orangtuanya akan datang ketika ia membutuhkan mereka. Oleh karena itu, anak memilih untuk 'lebih lengket' kepada orangtuanya. Anak seperti ini biasanya tidak merasa aman ketika akan 'menggali dunia' dan akhirnya ia akan memiliki keterlambatan untuk menjadi seseorang yang mandiri. Ketiga, jika orangtua selalu menolak tangisan dan apa yang dibutuhkan oleh anak, maka anak akan mengalami kekerasan emosional dan kesepian. Perasaan takut dan merasa tidak dicintai akan mempengaruhi hubungan yang normal di masa depan nanti (Shelly Herold, MS, Ed, 2006).

Sunday, 2 March 2008

Tips Memberikan Pemahaman Tentang Seks Kepada Anak

Para orangtua mungkin pernah merasa terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan anak seputar seks. Adakalanya anak ingin tahu tentang dari mana dirinya berasal? Mengapa di perut ibu ada bayi? Darimana keluarnya bayi? Banyak sekali pertanyaan yang sebagian orangta merasa kesulitan untuk menjawabnya. Salah satu penyebabnya adalah karena banyak orangtua yang merasa malu untuk menceritakan masalah seks ini kepada anak.


Seks adalah masalah pribadi yang sangat intim. Anak perlu tahu dan mendengar langsung untuk petama kalinya dari orangtua. Hindarkan anak mengetahui masalah seks dari teman, sekolah, majalah, film, syair lagu, atau TV. Sebab, belum tentu informasi yang disampaikan oleh semua sumber tersebut sesuai dengan harapan dan nilai moral orangtua. Misalnya, teman dari anak bisa saja berpendapat bahwa ‘ciuman ketika pacaran’ adalah hal yang wajar. Padahal menurut kita sebagai orangtua tindakan seperti itu adalah buruk atau berdosa.


Memberikan informasi tentang seks kepada anak sejak dini adalah baik. Tentu dalam pelaksanaanya harus disesuaikan dengan usia, kebutuhan, dan pemaham anak. Anak yang sudah mendapatkan informasi, mempunyai dasar ilmu, pengetahuan, dan nilai-nilai yang benar dari orangtuanya. Maka, ia akan mampu mempersiapkan dirinya dalam menghadapi beberapa perbedaan pandangan dan pendapat yang mungkin akan ia temui nanti. Ketika anak memahami tentang baik dan buruknya seks maka ia pun tidak akan membiarkan dirinya terjerumus pada tindakan yang membahayakan dirinya akibat seks itu (yer).


Tips.
Mengetahui pendapat orangtua mengenai seks akan membantu anak dalam memahami pendapat orang lain, jadi biarlah ia mengetahui pendapat orangtuanya ( Steve Chalke, 2007).

Saturday, 1 March 2008

Membantu Anak Belajar Menerima Rasa Kecewa

Banyak orangtua yang tidak siap menyaksikan anak mereka merasa sedih karena mengalami kegagalan. Oleh karena itu, tidak sedikit di antara mereka berusaha melindungi anak dari bentuk kompetisi. Karena, orangtua seperti ini tidak dapat menerima kegagagalan yang terjadi pada anak mereka. Tindakan orangtua seperti itu adalah tidak bijaksana. Sebab, di dalam hidup ini, kapanpun dan dimanapun anak akan menghadapi berbagai macam kompetisi. Karena, hidup adalah penuh dengan kompetisi.


Membantu anak belajar menghadapi kekecewaan hidup adalah penting. Anak yang sudah terbiasa berkompetisi, bekerja keras, dan mampu menerima kondisi apapun, kalah maupun menang. Maka, ia akan menjadi orang yang berhasil (yer).


Ketika anak mengalami suatu kegagalan dalam hidup, maka sebagai orangtua yang bijaksana sebaiknya janganlah berpura-pura dengan menganggap bahwa kegagalan yang terjadi itu adalah tidak nyata. Misalnya, sudah jelas anak merasa bersedih karena nilai ujiannya mendapatkan nilai buruk. Tetapi, orangtua malah mencoba menghiburnya dengan mengatakan bahwa nilainya baik-baik saja. Hal seperti itu selain memberikan kesan ’menghina dan mengejek’ anak juga orangtua telah memberikan contoh yang tidak baik kepada anak. Yaitu, berbohong dengan mengatakan nilai anak baik-baik saja. Sikap berbohong yang dilakukan orangtua seperti itu akan membuat anak menjadi tidak percaya lagi pada perkataan orangtuanya.


Mengatakan jujur sesuai dengan kenyataan kepada anak adalah tindakan yang bijaksana. Jika pada kenyataannya anak mengalami suatu kegagalan dan ia merasa kecewa. Maka, orangtua sebaiknya tidak baik berpura-pura mengatakan bahwa semuanya adalah baik-baik saja. Mengakui kekecewaan anak akan jauh lebih baik, tetapi pelan-pelan bantulah ia memandang bahwa masa depan tidaklah suram, sekalipun ia mungkin harus mengulanginya dan berusaha lebih keras lagi. Tunjukkan kepadanya bahwa kegagalan yang ia terima saat ini bukanlah akhir dari segalanya (Steve Chalke, 2007).