Para pembaca yang setia, saya mohon maaf beberapa hari ini saya tidak dapat memberikan artikel tepat pada waktunya. Karena, saya memiliki pekerjaan lain yang harus segera diselesaikan. Namun demkian, saya akan berusaha selalu untuk membayar semua tulisan yang beberapa hari ini belum saya kirimkan… Terimakasih ya atas kesetiaannya..
Bagi orangtua yang telah memiliki anak remaja, sudah waktunya membicarakan masalah seks kepadanya. Janganlah orangtua merasa malu atau tabu untuk memperkenalkan masalah seks kepada anak. Orangtua dapat melakukannya dengan cara bertahap dan bijaksana.
Bahkan, kepada anak yang masih kecil, orangtua dapat memperkenalkan masalah seks ini. Misalnya, Orangtua boleh memberitahukan kepada anak bahwa alat kelamin milik perempuan dengan laki-laki adalah berbeda. Katakan juga kepadanya, bahwa ia harus menjaga alat kelamin tersebut supaya tidak disentuh oleh sembarang orang. Tentu menyampaikan hal semacam ini kepada anak perlu menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti olehnya. Diusahakan supaya informasi yang orangtua maksudkan dapat diterimanya dengan baik.
Memberikan penjelasan dan pemahaman tentang seks kepada anak remaja adalah penting. Sebab, jangan sampai anak mengetahui tentang seks dari pihak luar. Seperti, majalah, film, teman, buku, iklan, dan TV. Karena, jika anak mendapatkan informasi dari semua sumber tersebut, maka orangtua akan sulit mengontrolnya. Anak yang tidak memiliki ilmu atau pengetahuan tentang seks yang benar maka akan cenderung terlena dan terbawa kepada hal-hal yang tidak diinginkan. Tentunya hal tersebut dapat membahayakan dan merusak masa depan anak juga keluarga.
Jika anak dibebaskan mengetahui seks dari sumber yang tidak jelas, tidak ada kontrol, nasehat, dan pengawasan dari orangtua maka perasaan ingin tahu, penasaran, dan ingin mencoba boleh jadi akan terjadi dan benar-benar ia lakukan. Sebagai orangtua tentu kita semua tidak mengharapkan semua itu terjadi (yer).
Oleh karena itu, cobalah pengaruhi cara berpikir anak dengan positif. Tindakan seperti itu bukan sebuah tindakan ‘campur tangan’ orangtua ingin menguasai anak. Tetapi, tindakan tersebut justru adalah tindakan bertanggung jawab dan bijaksana. Masukan dan pengaruh yang diberikan orangtua kepada anak tentang seks akan membantunya memahami cara pandang dan opini lain yang menghujaninya setiap saat. Penting orangtua ingat bahwa tanpa pengaruh orangtua, anak pasti akan berada dalam pengaruh orang lain (Steve Chalke, 2007).
Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010
Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Friday, 29 February 2008
Thursday, 28 February 2008
Mengapa Anak yang Sedang Mengalami Masa Puber Sering Emosional
Oleh: Yusi Elsiano
Banyak orangtua merasa bingung ketika menghadapi perilaku anak remaja mereka yang tiba-tiba sering bersikap kasar. Ia cenderung emosional dan menjadi sangat sensitif. Misalnya, jika ada orang yang bercanda mengomentari penampilannya. Maka, boleh jadi ia tersinggung dan marah atau pergi membanting pintu. Ketika ia mengalami tekanan atau masalah maka ia menendang atau melempar barang-barang yang ada di sekitarnya.
Perlu orangtua sadari bahwa tidak semua anak remaja mampu menerima perubahan pada dirinya. Banyak di antara mereka yang merasa tidak siap dengan perubahan fisiknya sehingga ia menjadi tidak percaya diri. Oleh karena itu, sebagian anak ada yang marah ketika ia dikomentari tentang penampilannya. Misalnya, ’wah...kamu sekarang sudah besar ya, tuh lihat dagunya juga sudah berbulu....’. Rasa tidak percaya diri pada anak remaja adalah salah satu penyebab munculnya emosi.
Sejatinya, perubahan perilaku buruk yang kini sering terjadi pada dirinya merupakan suatu pertanda bahwa ia sedang mengalami masa puber. Orangtua dapat membantu anak supaya ia tidak berperilaku buruk seperti di atas. Salah satu caranya adalah dengan memenuhi kebutuhannya. Yaitu, memberikan perasaan cinta kepadanya. Anak remaja yang sedang puber apabila perasaan cintanya terpenuhi maka ia akan mudah lunak hatinya dan lebih halus tempramennya. Selain itu, perasaan cinta yang diberikan orangtua dapat menumbuhkan perasaan percaya diri pada anak remaja (Akram Ridha, 2006).
Banyak orangtua merasa bingung ketika menghadapi perilaku anak remaja mereka yang tiba-tiba sering bersikap kasar. Ia cenderung emosional dan menjadi sangat sensitif. Misalnya, jika ada orang yang bercanda mengomentari penampilannya. Maka, boleh jadi ia tersinggung dan marah atau pergi membanting pintu. Ketika ia mengalami tekanan atau masalah maka ia menendang atau melempar barang-barang yang ada di sekitarnya.
Perlu orangtua sadari bahwa tidak semua anak remaja mampu menerima perubahan pada dirinya. Banyak di antara mereka yang merasa tidak siap dengan perubahan fisiknya sehingga ia menjadi tidak percaya diri. Oleh karena itu, sebagian anak ada yang marah ketika ia dikomentari tentang penampilannya. Misalnya, ’wah...kamu sekarang sudah besar ya, tuh lihat dagunya juga sudah berbulu....’. Rasa tidak percaya diri pada anak remaja adalah salah satu penyebab munculnya emosi.
Sejatinya, perubahan perilaku buruk yang kini sering terjadi pada dirinya merupakan suatu pertanda bahwa ia sedang mengalami masa puber. Orangtua dapat membantu anak supaya ia tidak berperilaku buruk seperti di atas. Salah satu caranya adalah dengan memenuhi kebutuhannya. Yaitu, memberikan perasaan cinta kepadanya. Anak remaja yang sedang puber apabila perasaan cintanya terpenuhi maka ia akan mudah lunak hatinya dan lebih halus tempramennya. Selain itu, perasaan cinta yang diberikan orangtua dapat menumbuhkan perasaan percaya diri pada anak remaja (Akram Ridha, 2006).
Wednesday, 27 February 2008
Tips Membesarkan Anak Usia 9-12 Tahun
Pada umumnya, anak yang berusia 9-12 tahun akan mengalami pubertas. Pada diri anak tersebut akan terjadi beberapa perubahan baik secara fisik maupun biologis. Misalnya, anak perempuan masa pubertas biasanya diawali oleh terjadinya menstruasi. Sedangkan pada anak laki-laki biasanya dimulai dengan 'mimpi basah. Secara fisik, bagian dada (payudara) pada anak perempuan akan tampak membesar dan pada anak laki-laki biasanya diawali oleh adanya perubahan suara yang menjadi berat atau tumbuhnya bulu-bulu di sekitar wajah (kumis, janggut).
Pada masa ini, biasanya anak akan memperlihatkan perilaku yang tidak biasanya. Ada perilaku positif yang mungkin muncul karena pengaruh masa puber ini, yaitu anak akan semakin mahir dalam mengatur waktu untuk belajar dan beraktivitas. Dalam mengambil keputusan, ia akan semakin mampu dan baik. Sedangkan sisi negatif dari hadirnya masa puber ini, biasanya anak cenderung lebih sensitif. Ia akan mudah tersinggung, egois, dan bahkan menentang. Menyikapi sikap negatif seperti itu, orangtua bijak tentu tidak akan balik menyerang. Sebab, tindakan balik menyerang tersebut hanya akan menambah keruh situasi.
Ada beberapa sikap yang perlu orangtua lakukan lebih intensif ketika menghadapi anak usia ini. Yaitu, jadilah orangtua sebagai sahabat anak. Hal ini penting, supaya anak dengan bebas dapat mencurahkan apa yang dirasakan olehnya. Ia tidak akan mencari sahabat lain di luar rumah yang seringkali nilai positifnya banyak diragukan. Berikanlah pemahaman kepada anak tentang tanggung jawab orang yang telah memasuki masa puber. Misalnya, bagaimana merawat dan menjaga kebersihan tubuh, memberitahukan kepada anak bahwa perempuan suatu saat akan mengalami menstruasi dan anak laki-laki akan mengalami ‘mimpi basah’. Selain itu, hal lain yang juga penting adalah mengajarkan anak bagaimana cara mandi besar (Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, S.Psi, 2007).
Para orangtua yang baik, seperti kita tahu bahwa anak yang sedang mengalami pubertas biasanya ia akan memiliki energi yang cukup besar. Oleh karena itu, orangtua hendaknya memahami kondisi ini dan dapat membantu anak untuk menyalurkan energinya itu ke arah yang bernilai positif. Misalnya, memotivasi anak untuk ikut kegiatan positif seperti berolah raga, beladiri, atau bermain musik. Hal seperti ini penting untuk meredam sifar negati akibat pubertas, suka menonton tayangan yang tidak layak atau masturbasi (yer).
Pada masa ini, biasanya anak akan memperlihatkan perilaku yang tidak biasanya. Ada perilaku positif yang mungkin muncul karena pengaruh masa puber ini, yaitu anak akan semakin mahir dalam mengatur waktu untuk belajar dan beraktivitas. Dalam mengambil keputusan, ia akan semakin mampu dan baik. Sedangkan sisi negatif dari hadirnya masa puber ini, biasanya anak cenderung lebih sensitif. Ia akan mudah tersinggung, egois, dan bahkan menentang. Menyikapi sikap negatif seperti itu, orangtua bijak tentu tidak akan balik menyerang. Sebab, tindakan balik menyerang tersebut hanya akan menambah keruh situasi.
Ada beberapa sikap yang perlu orangtua lakukan lebih intensif ketika menghadapi anak usia ini. Yaitu, jadilah orangtua sebagai sahabat anak. Hal ini penting, supaya anak dengan bebas dapat mencurahkan apa yang dirasakan olehnya. Ia tidak akan mencari sahabat lain di luar rumah yang seringkali nilai positifnya banyak diragukan. Berikanlah pemahaman kepada anak tentang tanggung jawab orang yang telah memasuki masa puber. Misalnya, bagaimana merawat dan menjaga kebersihan tubuh, memberitahukan kepada anak bahwa perempuan suatu saat akan mengalami menstruasi dan anak laki-laki akan mengalami ‘mimpi basah’. Selain itu, hal lain yang juga penting adalah mengajarkan anak bagaimana cara mandi besar (Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, S.Psi, 2007).
Para orangtua yang baik, seperti kita tahu bahwa anak yang sedang mengalami pubertas biasanya ia akan memiliki energi yang cukup besar. Oleh karena itu, orangtua hendaknya memahami kondisi ini dan dapat membantu anak untuk menyalurkan energinya itu ke arah yang bernilai positif. Misalnya, memotivasi anak untuk ikut kegiatan positif seperti berolah raga, beladiri, atau bermain musik. Hal seperti ini penting untuk meredam sifar negati akibat pubertas, suka menonton tayangan yang tidak layak atau masturbasi (yer).
Tuesday, 26 February 2008
Makanan & Minuman yang Berbahaya bagi Ibu Hamil
Sebagian ibu hamil percaya bahwa makan yang baik bagi orang hamil adalah harus dua kali lebih banyak dari orang yang tidak hamil. Pendapat itu perlu diluruskan. Sebenarnya, cara makan yang baik bagi ibu hamil adalah benar harus dua kali lebih banyak. Namun, dalam hal ini tentu bukan jumlah makannya yang diperbanyak, tetapi kualitas makanannya yang harus diperbanyak menjadi dua kali lebih banyak. Yaitu nilai kandungan gizi yang terkandung di dalam makanan tersebut. Di antaranya, karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan susu (yer).
Untuk ibu hamil dianjurkan tidak terlalu banyak memakan makanan yang berkalori tinggi seperti es krim dan coklat. Sebab, boleh jadi ibu hamil akan kelebihan berat badan. Selain itu, menurut Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, Psi (2007) terdapat beberapa makanan dan minuman yang harus dihindarkan oleh ibu hamil sebab dapat membahayakan janin. Di antaranya adalah,
Untuk ibu hamil dianjurkan tidak terlalu banyak memakan makanan yang berkalori tinggi seperti es krim dan coklat. Sebab, boleh jadi ibu hamil akan kelebihan berat badan. Selain itu, menurut Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, Psi (2007) terdapat beberapa makanan dan minuman yang harus dihindarkan oleh ibu hamil sebab dapat membahayakan janin. Di antaranya adalah,
- Daging mentah atau yang diolah setengah matang dapat menyebabkan infeksi serius pada janin.
- Produk unggas (hati, telur, daging) yang diolah setengah matang bisa menyebabkan keguguran, bayi lahir dalam keadaan mati, dan keracunan darah).
- Minuman yang mengandung alkohol dapat menyebabkan kelainan perkembangan pada janin.
- Minuman yang mengandung cafein seperti kopi dan teh sebaik dihindari atau dibatasi karena dapat mengakibatkan berat badan rendah pada bayi dan keguguran.
Monday, 25 February 2008
Mengapa Anak Menghisap Jempol?
Menghisap jempol merupakan salah satu tindakan yang kerap dilakukan oleh anak. Tindakan seperti ini masih dapat dikatakan wajar apabila terjadi pada anak usia di bawah dua tahun. Namun, apabila anak usia di atas dua tahun masih saja menghisap jempol maka ada kemungkinan anak tersebut mengalami gangguan psikologis. Seperti, perasaan cemas, takut, kurang perhatian, atau tidak percaya diri (Indra Kusumah, S. Psi & Vindhy Fitrianti W, S. Psi, 2007).
Menyadari tindakan anak seperti di atas, orangtua bijak tentu akan segera mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya. Membantu mengurangi perasaan negatif pada anak yang berusia di bawah dua tahun dapat dilakukan dengan cara memeluk dan bersenandung. Cara seperti itu, dapat membuat anak menjadi tenang.
Sedangkan untuk membantu anak yang berusia di atas dua tahun, maka orangtua dapat mengalihkan perhatiannya pada kegiatan yang bersifat positif. Seperti mengajak nonton film kesayangannya, mewarnai, atau membaca cerita (yer).
Menyadari tindakan anak seperti di atas, orangtua bijak tentu akan segera mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya. Membantu mengurangi perasaan negatif pada anak yang berusia di bawah dua tahun dapat dilakukan dengan cara memeluk dan bersenandung. Cara seperti itu, dapat membuat anak menjadi tenang.
Sedangkan untuk membantu anak yang berusia di atas dua tahun, maka orangtua dapat mengalihkan perhatiannya pada kegiatan yang bersifat positif. Seperti mengajak nonton film kesayangannya, mewarnai, atau membaca cerita (yer).
Sunday, 24 February 2008
Menyikapi Sikap Anak yang Suka Bertanya
Sebagian anak ada yang memiliki karakter suka sekali berbicara. Ia akan banyak sekali berceloteh tentang banyak hal, bertanya tentang ini dan itu. Sehingga, apa saja yang terlintas dipikirannya maka ia akan mencoba mengutarakan dan menanyakannya.
Anak 'cerewet' atau anak yang suka sekali berbicara biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal. Maka, tidak heran jika anak seperti ini sering melontarkan banyak sekali pertanyaan. Mulai dari pertanyaan yang ringan hingga yang sulit untuk dijawab. Misalnya, anak bertanya tentang apa gunanya payung? Mengapa orang harus memakai baju? mengapa makhluk hidup perlu makan dan minum? sampai masalah tentang darimana asalnya ade bayi? mengapa orang yang sudah menikah bisa punya anak? Atau mengapa orangtua harus tidur bersama? Atau mengapa alat untuk pipis laki-laki dan perempuan berbeda?
Pada saat menyikapi banyak pertanyaan dari anak, seringkali orangtua merasa kewalahan. Orangtua merasa bingung, jawaban seperti apa yang sebaiknya harus mereka ucapkan? dari mana mereka harus memulai membahasnya?.
Sejatinya, menjawab pertanyaan anak tidak perlu detil dan panjang lebar. Anak akan lebih measa senang jika orangtuanya dapat menerangkan atau menjelaskan tentang apa yang ia ingin ketahui tersebut dalam kalimat yang sederhana dan tidak berbelit-belit. Sebab, perlu orangtua sadari bahwa kemampuan berpikir dan perbendaharaan kata yang dimiliki anak masih terbatas. Jika orangtua terlalu panjang dan berbelit-belit dalam membahas suatu pertanyaan. Maka, dikhawatirkan anak malah tidak dapat memahaminya. Justru sebaliknya, boleh jadi ia akan cepat merasa bosan dan perlahan ia akan menghindari berbicara dengan orangtua (yer).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua ketika menyikapi pertanyaan anak. Yaitu, janganlah orangtua menolak atau menghindar dari pertanyaan yang disampaikan oleh anak, apalagi membentak atau menyuruhnya untuk pergi atau diam. Tindakan seperti itu, bukan hanya mematahkan kreativitas anak, tetapi bahkan akan melukai perasaannya. Ketika menjawab pertanyaan anak, jawablah dengan terang dan jelas sesuai dengan taraf berpikirnya. Ketika anak bertanya, berilah jawaban yang sederhana sesuai dengan taraf akalnya (Adil Fathi Abdullah, 2003).
Anak 'cerewet' atau anak yang suka sekali berbicara biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal. Maka, tidak heran jika anak seperti ini sering melontarkan banyak sekali pertanyaan. Mulai dari pertanyaan yang ringan hingga yang sulit untuk dijawab. Misalnya, anak bertanya tentang apa gunanya payung? Mengapa orang harus memakai baju? mengapa makhluk hidup perlu makan dan minum? sampai masalah tentang darimana asalnya ade bayi? mengapa orang yang sudah menikah bisa punya anak? Atau mengapa orangtua harus tidur bersama? Atau mengapa alat untuk pipis laki-laki dan perempuan berbeda?
Pada saat menyikapi banyak pertanyaan dari anak, seringkali orangtua merasa kewalahan. Orangtua merasa bingung, jawaban seperti apa yang sebaiknya harus mereka ucapkan? dari mana mereka harus memulai membahasnya?.
Sejatinya, menjawab pertanyaan anak tidak perlu detil dan panjang lebar. Anak akan lebih measa senang jika orangtuanya dapat menerangkan atau menjelaskan tentang apa yang ia ingin ketahui tersebut dalam kalimat yang sederhana dan tidak berbelit-belit. Sebab, perlu orangtua sadari bahwa kemampuan berpikir dan perbendaharaan kata yang dimiliki anak masih terbatas. Jika orangtua terlalu panjang dan berbelit-belit dalam membahas suatu pertanyaan. Maka, dikhawatirkan anak malah tidak dapat memahaminya. Justru sebaliknya, boleh jadi ia akan cepat merasa bosan dan perlahan ia akan menghindari berbicara dengan orangtua (yer).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua ketika menyikapi pertanyaan anak. Yaitu, janganlah orangtua menolak atau menghindar dari pertanyaan yang disampaikan oleh anak, apalagi membentak atau menyuruhnya untuk pergi atau diam. Tindakan seperti itu, bukan hanya mematahkan kreativitas anak, tetapi bahkan akan melukai perasaannya. Ketika menjawab pertanyaan anak, jawablah dengan terang dan jelas sesuai dengan taraf berpikirnya. Ketika anak bertanya, berilah jawaban yang sederhana sesuai dengan taraf akalnya (Adil Fathi Abdullah, 2003).
Saturday, 23 February 2008
Marah Boleh Saja, Tetapi Tetap Harus Berakhir positif
Tidak bisa dipungkiri, orangtua seringkali merasa sedih dan menyesal ketika memarahi anak. Walaupun, mungkin saja kesalahan ada di diri anak. Begitulah sifat kebanyakan orangtua adanya. Misalnya, ibu memarahi anak karena tidak disiplin waktu. Anak bermalas-malasan pada saat seharusnya ia segera mempersiapkan segala sesuatu untuk sekolah. Situasi seperti itu seringkali tidak bisa diterima anak. Ia bahkan akan balik marah, menggerutu, dan berakhir dengan tangisan. Disaat situasi seperti itulah biasanya akan timbul perasaan negatif pada hati orangtua. Perasaan menyesal karena sudah memarahinya, sedih karena orangtua tidak dapat menahan nafsu, merasa berdosa kepada anak karena orangtua merasa telah melukai perasaan anak.
Sedih, menyesal, dan merasa berdosa karena telah memarahi anak adalah bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Jika kemarahan itu terjadi, maka lebih baik perbaikilah dengan segera. Supaya hari-hari terasa selalu menyenangkan seperti biasanya. Janganlah orangtua menyimpan marah dalam waktu yang lama. Setidaknya, tindakan orangtua seperti itu akan membuat anak menjadi frustrasi dan merasa tidak berharga.
Orangtua dan anak akan kembali merasa diterima dan bahagia apabila di antara mereka telah tercipta saling memaafkan. Caranya, apabila kemarahan orangtua terjadi di saat anak akan berangkat sekolah, maka orangtua dapat memperbaiki situasi buruk tadi pagi ketika anak pulang dari sekolah nanti. Siapkanlah makanan kesukaannya. Ajaklah anak berbicara dengan baik. Tanyakan kepadanya dengan cinta dan kasih sayang, apa yang telah dilakukannya tadi pagi hingga ibu marah kepadanya. Biasanya anak akan mengatakan dengan jujur bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan. Jika ia telah mengakui kesalahannya tersebut, tanyakan lagi kepadanya apa yang seharusnya ia lakukan. Dengan pertanyaan terakhir itu, berarti orangtua mengajak anak supaya berpikir tindakan apa yang sebaiknya ia lakukan. Dengan begitu, iapun akan bertanggung jawab atas ucapannya (Dr. Scott Turansky & Joanne Miller, RN, BSN, 2007).
Berikanlah pelukan untuknya, katakan juga maaf kepada anak bahwa orangtua telah memarahinya dan mungkin melukai perasaannya. Cara seperti itu, akan membuat anak merasa lebih baik dan diterima kembali sebagai anak yang paling disayangi oleh orangtuanya. (yer).
Sedih, menyesal, dan merasa berdosa karena telah memarahi anak adalah bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Jika kemarahan itu terjadi, maka lebih baik perbaikilah dengan segera. Supaya hari-hari terasa selalu menyenangkan seperti biasanya. Janganlah orangtua menyimpan marah dalam waktu yang lama. Setidaknya, tindakan orangtua seperti itu akan membuat anak menjadi frustrasi dan merasa tidak berharga.
Orangtua dan anak akan kembali merasa diterima dan bahagia apabila di antara mereka telah tercipta saling memaafkan. Caranya, apabila kemarahan orangtua terjadi di saat anak akan berangkat sekolah, maka orangtua dapat memperbaiki situasi buruk tadi pagi ketika anak pulang dari sekolah nanti. Siapkanlah makanan kesukaannya. Ajaklah anak berbicara dengan baik. Tanyakan kepadanya dengan cinta dan kasih sayang, apa yang telah dilakukannya tadi pagi hingga ibu marah kepadanya. Biasanya anak akan mengatakan dengan jujur bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan. Jika ia telah mengakui kesalahannya tersebut, tanyakan lagi kepadanya apa yang seharusnya ia lakukan. Dengan pertanyaan terakhir itu, berarti orangtua mengajak anak supaya berpikir tindakan apa yang sebaiknya ia lakukan. Dengan begitu, iapun akan bertanggung jawab atas ucapannya (Dr. Scott Turansky & Joanne Miller, RN, BSN, 2007).
Berikanlah pelukan untuknya, katakan juga maaf kepada anak bahwa orangtua telah memarahinya dan mungkin melukai perasaannya. Cara seperti itu, akan membuat anak merasa lebih baik dan diterima kembali sebagai anak yang paling disayangi oleh orangtuanya. (yer).
Friday, 22 February 2008
Memperketat Batas Tindakan Membuat Anak Mampu Bersikap Patuh
Apabila kita perhatikan, banyak sekali kasus tentang anak yang apabila diminta oleh orangtuanya untuk melakukan sesuatu maka ia enggan menuruti perkataan orangtuanya tersebut. Ia akan bertindak seolah-olah tidak tahu atau tidak mendengar mereka. Ia tidak mau peduli dan bahkan tidak mau sedikitpun ia beranjak dari aktivitas yang sedang dilakukannya.
Memperhatikan sikap anak seperti di atas, tidak heran jika orangtua menjadi terpancing untuk berteriak dan mengulangi perintah tersebut dengan berulang-ulang. Sikap anak yang tidak mau peduli dan tidak patuh seperti itu seringkali membuat orangtua menjadi naik pitam. Orangtua menjadi marah dan jengkel karena mereka menganggap bahwa ia telah bersikap membangkang, tidak mau mendengarkan dan tidak mau patuh terhadap ucapan orangtua.
Menanggapi sikap anak yang tidak patuh seperti di atas, hindarilah orangtua mencap anak sebagai 'si pembangkang'. Lebih baik, lakukanlah terlebih dahulu introspeksi terhadap diri sendiri. Sebab, boleh jadi anak bersikap seperti itu akibat meniru tingkah laku orangtua. Cobalah bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita sebagai orangtua bersikap baik kepadanya? Misalnya, tidak berkata kasar ketika menghadapi suatu masalah, tidak mudah marah, dan tidak menyepelekan anak ketika ia memerlukan bantuan orangtua.
Perlu orangtua sadari, bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan orangtua sangat mempengaruhi perilaku anak. Ia akan merekam dan mencontoh apa saja yang dilakukan atau diucapkan orangtua kepadanya. Apabila orangtua telah mengubah cara pengasuhan kepada anak menjadi lebih baik. Yaitu, memperlakukan anak dengan hormat dan mau mendengarkan curahan hati anak, apa yang sedang dirasakan anak. Maka, langkah selanjutnya adalah orangtua harus memperketat batas tindakan (Dr. Scott Turansky & Joanne Miller, RN, BSN, 2007).
Cara memperketat batas tindakan tersebut, di antaranya dengan menekankan kepada anak bahwa mulai saat ini orangtua hanya akan mengucapkan permintaan atau saran kepadanya hanya satu kali saja, tidak diulang-ulang. Sebab, tindakan pengulangan tersebut seringkali diartikan oleh anak seperti permintaan yang belum serius. Bahkan, sering membuat anak merasa bingung, ucapan yang ke berapa yang artinya serius harus segera ia lakukan. Sampaikanlah kepadanya bahwa ketika ia diminta untuk melakukan sesuatu maka bersegeralah untuk melaksanakannya. Atau, setidaknya ia harus merespon ucapan orangtuanya terlebih dahulu sebagai tanda bahwa ia mendengarkan ucapan orangtua. Misalnya, katakan ‘ya’ atau ‘ tunggu, lima menit lagi ya...’ Dengan cara mengkomunikasikan aturan seperti itu maka anak akan belajar bersikap patuh kepada orangtuanya.
Cara seperti ini mampu membuat orangtua tidak perlu lagi berteriak dan mengulang-ulang ucapan atau permintaan kepada anak. Apabila sudah terjadi seperti itu, di antara orangtua dan anak akan tercipta sikap saling menghormati. Kedua belah pihak sama-sama belajar untuk menjadi yang terbaik. Maksudnya, orangtua belajar menjadi orangtua yang terbaik, begitu juga anak belajar menjadi anak yang terbaik. (yer).
Memperhatikan sikap anak seperti di atas, tidak heran jika orangtua menjadi terpancing untuk berteriak dan mengulangi perintah tersebut dengan berulang-ulang. Sikap anak yang tidak mau peduli dan tidak patuh seperti itu seringkali membuat orangtua menjadi naik pitam. Orangtua menjadi marah dan jengkel karena mereka menganggap bahwa ia telah bersikap membangkang, tidak mau mendengarkan dan tidak mau patuh terhadap ucapan orangtua.
Menanggapi sikap anak yang tidak patuh seperti di atas, hindarilah orangtua mencap anak sebagai 'si pembangkang'. Lebih baik, lakukanlah terlebih dahulu introspeksi terhadap diri sendiri. Sebab, boleh jadi anak bersikap seperti itu akibat meniru tingkah laku orangtua. Cobalah bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita sebagai orangtua bersikap baik kepadanya? Misalnya, tidak berkata kasar ketika menghadapi suatu masalah, tidak mudah marah, dan tidak menyepelekan anak ketika ia memerlukan bantuan orangtua.
Perlu orangtua sadari, bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan orangtua sangat mempengaruhi perilaku anak. Ia akan merekam dan mencontoh apa saja yang dilakukan atau diucapkan orangtua kepadanya. Apabila orangtua telah mengubah cara pengasuhan kepada anak menjadi lebih baik. Yaitu, memperlakukan anak dengan hormat dan mau mendengarkan curahan hati anak, apa yang sedang dirasakan anak. Maka, langkah selanjutnya adalah orangtua harus memperketat batas tindakan (Dr. Scott Turansky & Joanne Miller, RN, BSN, 2007).
Cara memperketat batas tindakan tersebut, di antaranya dengan menekankan kepada anak bahwa mulai saat ini orangtua hanya akan mengucapkan permintaan atau saran kepadanya hanya satu kali saja, tidak diulang-ulang. Sebab, tindakan pengulangan tersebut seringkali diartikan oleh anak seperti permintaan yang belum serius. Bahkan, sering membuat anak merasa bingung, ucapan yang ke berapa yang artinya serius harus segera ia lakukan. Sampaikanlah kepadanya bahwa ketika ia diminta untuk melakukan sesuatu maka bersegeralah untuk melaksanakannya. Atau, setidaknya ia harus merespon ucapan orangtuanya terlebih dahulu sebagai tanda bahwa ia mendengarkan ucapan orangtua. Misalnya, katakan ‘ya’ atau ‘ tunggu, lima menit lagi ya...’ Dengan cara mengkomunikasikan aturan seperti itu maka anak akan belajar bersikap patuh kepada orangtuanya.
Cara seperti ini mampu membuat orangtua tidak perlu lagi berteriak dan mengulang-ulang ucapan atau permintaan kepada anak. Apabila sudah terjadi seperti itu, di antara orangtua dan anak akan tercipta sikap saling menghormati. Kedua belah pihak sama-sama belajar untuk menjadi yang terbaik. Maksudnya, orangtua belajar menjadi orangtua yang terbaik, begitu juga anak belajar menjadi anak yang terbaik. (yer).
Thursday, 21 February 2008
Bagaimana Jika Orangtua Ingin Bersikap Adil?
Bagi orangtua yang memiliki anak lebih dari satu. Bersikap adil kepada anak mungkin bukan hal yang mudah. Terutama jika orangtua tidak mengetahui apa yang disukai dan yang tidak disukai oleh masing-masing anak. Bisa jadi usaha keras orangtua untuk dapat bersikap adil kepada anak tidak dapat dirasakan dengan optimal oleh mereka.
Berawal dari pengetahuan dasar, kita sebagai orangtua telah mengetahui bahwa setiap anak adalah unik. Setiap anak memiliki kesukaan, kebiasaan, dan perilaku yang berbeda-beda. Misalnya, ada anak yang lebih suka mengoleksi mainan miniatur, ada anak yang cenderung senang diperhatikan, dan ada juga anak yang lebih suka melakukan banyak percobaan terhadap benda-benda elektronik.
Oleh karena itu, sebelum orangtua memaksimalkan bersikap adil kepada semua anak maka orangtua perlu mengetahui terlebih dahulu semua perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing anak tersebut. Hal ini adalah penting orangtua ketahui, supaya anak dapat merasakan bahwa orangtua mampu bersikap adil kepada mereka dengan cara selalu berusaha memenuhi apa yang disukai oleh setiap anak.
Bersikap adil dengan selalu memberikan sesuatu dalam bentuk dan jumlah yang sama tentu akan terasa sulit dan boleh jadi tidak baik bagi anak dan juga orangtua. Dari segi materi, mungkin tidak selamanya orangtua memiliki materi yang cukup untuk membelikan sesuatu yang sama kepada semua anak. Bagi anak juga, boleh jadi sesuatu yang dibelikan orangtua tersebut tidak memberikan banyak manfaat kepadanya. Sebab, mungkin saja saat itu ia belum begitu membutuhkan benda tersebut, tidak seperti halnya saudaranya yang lain misalnya sangat membutuhkan sepatu baru karena sepatu lama sudah rusak dan terasa sangat sempit.
Begitu juga halnya dalam memberikan perhatian kepada anak. Tidak semua anak membutuhkan terlalu banyak perhatian dari orangtuanya. Misalnya, anak perempuan mungkin akan lebih merasa senang jika ia banyak mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Tetapi sebaliknya, bagi anak laki-laki bisa jadi akan merasa tidak senang jika orangtuanya terlalu banyak memberikan perhatian kepadanya. Sebab, dengan mendapatkan banyak perhatian dari orangtuanya maka ia akan merasa bahwa dirinya belum dapat dipercaya (yer).
Menanggapi salah satu contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa anak laki-laki mungkin tidak merasakan keadilan yang dilakukan orangtuanya. Ia boleh jadi salah mengerti bahwa orangtuanya telah bersikap tidak adil kepadanya. Orangtua tidak dapat membahagiakan dirinya karena tidak mengetahui apa yang menjadi kebahagiaan atau kesukaannya. Sebaliknya, orangtua malah melakukan apa yang ia tidak sukai (terlalu banyak memberikan perhatian dan tidak memberikan kepercayaan kepadanya). Anak laki-laki merasa bahwa orangtuanya hanya ingin membahagiakan dan menyenangkan anak perempuan saja. Anak laki-laki tahu bahwa kesenangan saudara perempuannya adalah diperhatikan.
Kesimpulannya.
Anak akan mampu merasakan suatu keadilan ketika orangtua mereka dapat mengetahui dan memenuhi apa yang tidak disukai dan apa yang disukai oleh masing-masing anak (Laura M. Ramirez, 2006).
Berawal dari pengetahuan dasar, kita sebagai orangtua telah mengetahui bahwa setiap anak adalah unik. Setiap anak memiliki kesukaan, kebiasaan, dan perilaku yang berbeda-beda. Misalnya, ada anak yang lebih suka mengoleksi mainan miniatur, ada anak yang cenderung senang diperhatikan, dan ada juga anak yang lebih suka melakukan banyak percobaan terhadap benda-benda elektronik.
Oleh karena itu, sebelum orangtua memaksimalkan bersikap adil kepada semua anak maka orangtua perlu mengetahui terlebih dahulu semua perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing anak tersebut. Hal ini adalah penting orangtua ketahui, supaya anak dapat merasakan bahwa orangtua mampu bersikap adil kepada mereka dengan cara selalu berusaha memenuhi apa yang disukai oleh setiap anak.
Bersikap adil dengan selalu memberikan sesuatu dalam bentuk dan jumlah yang sama tentu akan terasa sulit dan boleh jadi tidak baik bagi anak dan juga orangtua. Dari segi materi, mungkin tidak selamanya orangtua memiliki materi yang cukup untuk membelikan sesuatu yang sama kepada semua anak. Bagi anak juga, boleh jadi sesuatu yang dibelikan orangtua tersebut tidak memberikan banyak manfaat kepadanya. Sebab, mungkin saja saat itu ia belum begitu membutuhkan benda tersebut, tidak seperti halnya saudaranya yang lain misalnya sangat membutuhkan sepatu baru karena sepatu lama sudah rusak dan terasa sangat sempit.
Begitu juga halnya dalam memberikan perhatian kepada anak. Tidak semua anak membutuhkan terlalu banyak perhatian dari orangtuanya. Misalnya, anak perempuan mungkin akan lebih merasa senang jika ia banyak mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Tetapi sebaliknya, bagi anak laki-laki bisa jadi akan merasa tidak senang jika orangtuanya terlalu banyak memberikan perhatian kepadanya. Sebab, dengan mendapatkan banyak perhatian dari orangtuanya maka ia akan merasa bahwa dirinya belum dapat dipercaya (yer).
Menanggapi salah satu contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa anak laki-laki mungkin tidak merasakan keadilan yang dilakukan orangtuanya. Ia boleh jadi salah mengerti bahwa orangtuanya telah bersikap tidak adil kepadanya. Orangtua tidak dapat membahagiakan dirinya karena tidak mengetahui apa yang menjadi kebahagiaan atau kesukaannya. Sebaliknya, orangtua malah melakukan apa yang ia tidak sukai (terlalu banyak memberikan perhatian dan tidak memberikan kepercayaan kepadanya). Anak laki-laki merasa bahwa orangtuanya hanya ingin membahagiakan dan menyenangkan anak perempuan saja. Anak laki-laki tahu bahwa kesenangan saudara perempuannya adalah diperhatikan.
Kesimpulannya.
Anak akan mampu merasakan suatu keadilan ketika orangtua mereka dapat mengetahui dan memenuhi apa yang tidak disukai dan apa yang disukai oleh masing-masing anak (Laura M. Ramirez, 2006).
Wednesday, 20 February 2008
Mengajak Anak ke Undangan adalah Baik
Mengajak anak ke tempat pesta, menghadiri undangan syukuran, dan berkunjung ke rumah teman atau saudara merupakan tindakan orangtua yang bijaksana. Dengan melibatkan anak ke tempat perkumpulan berarti orangtua mengajarkan kepadanya bagaimana bersosialisasi dengan baik. Sebab, ketika orangtua berkumpul biasanya anak akan memperhatikan dan meniru bagaimana orangtuanya menjaga persahabatan dengan baik, bersikap sopan santun, dan bekomunikasi dengan baik terhadap orang lain.
Selain hal di atas, mengajak anak ke tempat perkumpulan berarti juga menyambungkan ikatan silaturahmi. Sebab, saudara dan teman yang lainnya akan mengenal diri anak tersebut. Bahkan, boleh jadi akan terjalin silaturahmi baru yaitu antara anak dengan keturunan lainnya. Dengan cara seperti ini, diharapkan generasi baru juga dapat menjalin tali silaturahmi dengan baik sampai mereka dewasa kelak.
Sebaliknya, jika orangtua tidak pernah melibatkan anak dalam kegiatan yang bersifat sosial. Maka, dikhawatirkan anak akan menjadi orang yang pemalu dan suka mengasingkan diri. Bahkan, akan lebih berbahaya lagi jika anak menjadi orang yang tidak pandai bergaul. Ia akan merasa bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan. Akhirnya, ia akan menjadi orang yang merasa rendah diri (Syaikhah binti Abdillah, 2007).
Kesimpulannya.
Janganlah orangtua merasa malu atau gengsi membawa anak ke tempat perkumpulan. Sebab, tindakan orangtua seperti itu akan memberikan banyak manfaat kepada anak. Di antaranya, menumbuhkan sikap percaya diri, mengajarkan anak untuk berbudi baik, dan membantu anak mengembangkan kemampuan bersosialisasi supaya menjadi lebih baik lagi (yer).
Selain hal di atas, mengajak anak ke tempat perkumpulan berarti juga menyambungkan ikatan silaturahmi. Sebab, saudara dan teman yang lainnya akan mengenal diri anak tersebut. Bahkan, boleh jadi akan terjalin silaturahmi baru yaitu antara anak dengan keturunan lainnya. Dengan cara seperti ini, diharapkan generasi baru juga dapat menjalin tali silaturahmi dengan baik sampai mereka dewasa kelak.
Sebaliknya, jika orangtua tidak pernah melibatkan anak dalam kegiatan yang bersifat sosial. Maka, dikhawatirkan anak akan menjadi orang yang pemalu dan suka mengasingkan diri. Bahkan, akan lebih berbahaya lagi jika anak menjadi orang yang tidak pandai bergaul. Ia akan merasa bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan. Akhirnya, ia akan menjadi orang yang merasa rendah diri (Syaikhah binti Abdillah, 2007).
Kesimpulannya.
Janganlah orangtua merasa malu atau gengsi membawa anak ke tempat perkumpulan. Sebab, tindakan orangtua seperti itu akan memberikan banyak manfaat kepada anak. Di antaranya, menumbuhkan sikap percaya diri, mengajarkan anak untuk berbudi baik, dan membantu anak mengembangkan kemampuan bersosialisasi supaya menjadi lebih baik lagi (yer).
Tuesday, 19 February 2008
Anak Mengamuk Tanda Ingin Dimengerti
Kadang-kadang para orangtua merasa heran, jengkel, lelah, dan putus asa ketika menghadapi anak yang biasanya selalu bersikap baik dan tenang tiba-tiba saja ia berubah menjadi sering menangis dan sangat sensitif. Misalnya, sedikit saja ada kesalahan, ia akan meledak menangis. Apabila keinginannya tidak terpenuhi maka ia akan langsung mengamuk dan menjerit-jerit. Sehingga, kondisi anak seperti ini seringkali membuat orangtua merasa stress. Karena, semuanya menjadi serba salah. Tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan olehnya.
Ketika menghadapi anak yang sedang sensitif seperti di atas, tentu perlu kesabaran ekstra dari orangtua. Cobalah berusaha untuk lebih tenang dalam menghadapi perubahan sikapnya tersebut. Orangtua bisa mengingat-ingat kembali apakah selama seharian penuh orangtua telah memenuhi kebutuhannya. Seperti menyediakan waktu bercengkrama dengan anak?
Jika anak yang seharian tidak mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Terutama mendapatkan waktu bercengkrama dengan orangtua. Maka, biasanya anak akan bersikap aneh. Ia mungkin akan mencari perhatian dengan cara menangis, mengamuk, dan rewel. Anak akan lebih memilih untuk mendapatkan perhatian negatif daripada merasa diabaikan (Tim Jordan, 2006).
Oleh karena itu, segeralah orangtua menyadarinya bahwa anak membutuhkan perhatian. Hindarkanlah merespon amukan anak dengan kemarahan. Sebab, tindakan tersebut hanya akan menambah keruh situasi dan membuat anak semakin memberontak. Lebih baik rangkulah ia kembali, berikan pesan kepadanya bahwa orangtua mengerti apa yang ia butuhkan. Dekatilah dan peluklah dia. Mulailah berbicara kepadanya dengan cinta dan kasih sayang.
Jika orangtua mampu memberikan perhatian kembali kepada anak dengan mengajaknya berbicara, mendengarkan apa yang disampaikannya, dan mengikuti apa yang diinginkannya. Misalnya, anak mungkin saja mengajak orangtua bermain bersama atau membacakan cerita. Maka, besar kemungkinan anak akan bersikap ’manis’ seperti biasanya. Selain itu, ia pun akan mudah untuk diajak bekerja sama kembali (yer).
Ketika menghadapi anak yang sedang sensitif seperti di atas, tentu perlu kesabaran ekstra dari orangtua. Cobalah berusaha untuk lebih tenang dalam menghadapi perubahan sikapnya tersebut. Orangtua bisa mengingat-ingat kembali apakah selama seharian penuh orangtua telah memenuhi kebutuhannya. Seperti menyediakan waktu bercengkrama dengan anak?
Jika anak yang seharian tidak mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Terutama mendapatkan waktu bercengkrama dengan orangtua. Maka, biasanya anak akan bersikap aneh. Ia mungkin akan mencari perhatian dengan cara menangis, mengamuk, dan rewel. Anak akan lebih memilih untuk mendapatkan perhatian negatif daripada merasa diabaikan (Tim Jordan, 2006).
Oleh karena itu, segeralah orangtua menyadarinya bahwa anak membutuhkan perhatian. Hindarkanlah merespon amukan anak dengan kemarahan. Sebab, tindakan tersebut hanya akan menambah keruh situasi dan membuat anak semakin memberontak. Lebih baik rangkulah ia kembali, berikan pesan kepadanya bahwa orangtua mengerti apa yang ia butuhkan. Dekatilah dan peluklah dia. Mulailah berbicara kepadanya dengan cinta dan kasih sayang.
Jika orangtua mampu memberikan perhatian kembali kepada anak dengan mengajaknya berbicara, mendengarkan apa yang disampaikannya, dan mengikuti apa yang diinginkannya. Misalnya, anak mungkin saja mengajak orangtua bermain bersama atau membacakan cerita. Maka, besar kemungkinan anak akan bersikap ’manis’ seperti biasanya. Selain itu, ia pun akan mudah untuk diajak bekerja sama kembali (yer).
Monday, 18 February 2008
Membantu Anak Menghindari Tindakan Seks Dini
Oleh. Yusi Elsiano Rosmansyah
Banyak anak remaja di lingkungan kita yang aktif secara seksual tanpa dibekali ilmu yang cukup oleh orangtuanya. Oleh karena itu, anak remaja banyak yang melakukan aborsi, hamil di luar nikah, dan bahkan terkena penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks.
Banyak sebab yang dapat menyeret anak ke dalam kegiatan seks. Di antaranya, kurangnya pengetahuan tentang betapa berbahayanya melakukan seks di usia dini atau sebelum menikah. Mereka tidak tahu resiko yang akan menimpa jika melakukan seks tidak tepat pada waktunya. Banyak anak remaja yang hanya mengetahui organ tubuh mereka namun tidak tahu fungsinya. Selain itu, kecenderungan anak remaja lebih memilih dan mempercayai informasi tentang seks dari teman-temannya ketimbang dari orangtuanya sendiri.
Sebagai orangtua yang peduli dan bertanggung jawab kepada anak. Ada beberapa cara yang dapat orangtua lakukan untuk menghindarkan anak dari kegiatan seks dini. Yaitu, membicarakan masalah seks kepada anak remaja dengan cara yang ’wajar’, jadilah orangtua yang mudah diajak diskusi, janganlah terlalu mengekang anak remaja. Sebab, dengan tindakan mengekang maka dikhawatirkan akan menimbulkan pemberontakan pada jiwa anak. Selain itu, cara terbaik untuk mencegah anak melakukan seks dini atau di luar nikah adalah dengan membantu mereka memahami bahwa mereka memiliki masa depan yang cerah. Tekankan kepada anak bahwa dengan uji coba seks maka masa depan mereka akan rusak (Tim Jordan, 2006).
Banyak anak remaja di lingkungan kita yang aktif secara seksual tanpa dibekali ilmu yang cukup oleh orangtuanya. Oleh karena itu, anak remaja banyak yang melakukan aborsi, hamil di luar nikah, dan bahkan terkena penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks.
Banyak sebab yang dapat menyeret anak ke dalam kegiatan seks. Di antaranya, kurangnya pengetahuan tentang betapa berbahayanya melakukan seks di usia dini atau sebelum menikah. Mereka tidak tahu resiko yang akan menimpa jika melakukan seks tidak tepat pada waktunya. Banyak anak remaja yang hanya mengetahui organ tubuh mereka namun tidak tahu fungsinya. Selain itu, kecenderungan anak remaja lebih memilih dan mempercayai informasi tentang seks dari teman-temannya ketimbang dari orangtuanya sendiri.
Sebagai orangtua yang peduli dan bertanggung jawab kepada anak. Ada beberapa cara yang dapat orangtua lakukan untuk menghindarkan anak dari kegiatan seks dini. Yaitu, membicarakan masalah seks kepada anak remaja dengan cara yang ’wajar’, jadilah orangtua yang mudah diajak diskusi, janganlah terlalu mengekang anak remaja. Sebab, dengan tindakan mengekang maka dikhawatirkan akan menimbulkan pemberontakan pada jiwa anak. Selain itu, cara terbaik untuk mencegah anak melakukan seks dini atau di luar nikah adalah dengan membantu mereka memahami bahwa mereka memiliki masa depan yang cerah. Tekankan kepada anak bahwa dengan uji coba seks maka masa depan mereka akan rusak (Tim Jordan, 2006).
Sunday, 17 February 2008
Menyikapi pertengkaran di antara anak
Pertengkaran di antara kakak beradik, seperti saling menghina, memukul, dan mencubit sering kali dianggap sebagai hal yang biasa terjadi. Bahkan, banyak orangtua yang tidak peduli atau membiarkan hal seperti itu terjadi pada anak-anak mereka. Orangtua seperti itu akan menganggap bahwa dengan dibiarkan maka pertengkaran tersebut akan segera selesai dengan sendirinya.
Menanggapi sikap orangtua di atas, mungkin boleh jadi jawabannya adalah benar bahwa pada akhirnya pertengkaran di antara anak akan selesai. Namun, jika sikap saling menyakiti seperti di atas terus dibiarkan terjadi tentu akan berdampak buruk pada anak. Orangtua yang bijaksana harus segera menghentikan pertengkaran tersebut. Sebab, jika anak terbiasa melakukan penghinaan dan saling memukul atau saling menyakiti maka sangat dikhawatirkan nuraninya akan menjadi semakin tumpul. Ia tidak akan memiliki lagi perasaan bersalah apabila melakukan sesuatu yang dapat menyakiti orang lain.
Menghentikan pertengkaran di antara kakak beradik seperti ini tentu perlu cara yang tepat. Tidak baik jika orangtua menghentikannya dengan cara kasar. Sebab, tindakan kasar hanya akan memicu anak menjadi semakin bersikap agresif dan menyakiti. Ia menganggap bahwa kekerasan merupakan cara yang boleh dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah (yer).
Cara yang baik membantu anak menghindarkan diri dari sikap suka menyakiti orang lain adalah dengan mengajarkannya bersikap empati. Jika sikap empati sudah tertanam dalam diri anak, maka ia akan mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain ketika ia menyakitinya. Oleh karena itu, anak yang memiliki sikap empati, pada umumnya tidak mau menyakiti atau melukai orang lain. Ia tahu dan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (Barbara Coloroso, 2006).
Menanggapi sikap orangtua di atas, mungkin boleh jadi jawabannya adalah benar bahwa pada akhirnya pertengkaran di antara anak akan selesai. Namun, jika sikap saling menyakiti seperti di atas terus dibiarkan terjadi tentu akan berdampak buruk pada anak. Orangtua yang bijaksana harus segera menghentikan pertengkaran tersebut. Sebab, jika anak terbiasa melakukan penghinaan dan saling memukul atau saling menyakiti maka sangat dikhawatirkan nuraninya akan menjadi semakin tumpul. Ia tidak akan memiliki lagi perasaan bersalah apabila melakukan sesuatu yang dapat menyakiti orang lain.
Menghentikan pertengkaran di antara kakak beradik seperti ini tentu perlu cara yang tepat. Tidak baik jika orangtua menghentikannya dengan cara kasar. Sebab, tindakan kasar hanya akan memicu anak menjadi semakin bersikap agresif dan menyakiti. Ia menganggap bahwa kekerasan merupakan cara yang boleh dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah (yer).
Cara yang baik membantu anak menghindarkan diri dari sikap suka menyakiti orang lain adalah dengan mengajarkannya bersikap empati. Jika sikap empati sudah tertanam dalam diri anak, maka ia akan mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain ketika ia menyakitinya. Oleh karena itu, anak yang memiliki sikap empati, pada umumnya tidak mau menyakiti atau melukai orang lain. Ia tahu dan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (Barbara Coloroso, 2006).
Saturday, 16 February 2008
Kebebasan Selektif Adalah Cara Mengasuh Anak yang Baik
Cara pengasuhan anak yang digunakan orangtua di masa lampau cenderung menggunakan cara ‘tangan besi’. Orangtua selalu berusaha mengendalikan anak dengan caranya sendiri. Mereka tidak jarang memaksakan kehendak kepada anak. Anak harus menuruti apa yang diperintahkan mereka kepadanya. Jika orangtua berbuat salah, mereka seringkali melarang anak berkeluh kesah. Cara pengasuhan anak seperti itu tentu tidak baik dan akan menjadikan anak sebagai korban. Ia akan tumbuh menjadi orang yang penakut dan tidak percaya diri.
Seiring dengan waktu, secara perlahan pengasuhan anak seperti di atas mulai ditinggalkan para orangtua. Mereka tidak lagi memaksakan kehendak dan menuntut anak untuk selalu menuruti apa yang dikatakan orangtua. Artinya, orangtua memberikan kebebasan penuh kepada anak. Tetapi, cara pengasuhan seperti itu juga ternyata tidak efektif. Sebaliknya, malah menimbulkan kepribadian yang buruk pada anak. Selain itu, orangtua telah memberikan kesan kepada anak bahwa mereka adalah ‘lemah’. Sebab, orangtua menjadi selalu mengalah, membiarkan anak melakukan apa saja yang ia inginkan, dan tidak pernah menuntut anak untuk melakukan ini dan itu.
Maka, akibatnya anak tersebut besar kemungkinan akan menjadi orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Ia ingin orang-orang yang ada di sekelilingnya selalu tunduk dan menurut kepadanya. Anak seperti ini apabila mendapat penolakan atas apa yang diinginkannya maka ia boleh jadi melakukan tindakan yang berbahaya. Dan, jika ia ternyata tidak mampu melakukan apa yang ia inginkan maka ia akan cepat putus asa.
Mengasuh anak dengan cara terlalu mengekang dan terlalu memberikan kebebasan adalah sama-sama memberikan dampak negatif kepada anak. Ada cara yang baik dapat orangtua lakukan kepada anak selain kedua cara tersebut. Yaitu, dengan cara memberikan kebebasan selektif (Ibrahim Amini, 2006). Maksudnya, orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya tetapi tetap dengan batasan-batasan tertentu.
Contoh, orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk bermain bersama di rumah temannya. Tetapi, ia harus tetap dapat bersikap baik dan berhati-hati supaya tidak memecahkan atau merusak barang yang ada di rumah temannya tersebut. Atau, orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk mengundang temannya bermain dan bermalam di rumahnya. Tetapi, orangtua tetap harus memberikan batasan kepadanya. Minimal, sang anak harus bisa mengatur dan memimpin teman-temannya supaya mau ikut peraturan yang ada di rumah ini. Contohnya, membereskan bekas main, tempat tidur, dan piring-piring bekas makan). (yer).
Seiring dengan waktu, secara perlahan pengasuhan anak seperti di atas mulai ditinggalkan para orangtua. Mereka tidak lagi memaksakan kehendak dan menuntut anak untuk selalu menuruti apa yang dikatakan orangtua. Artinya, orangtua memberikan kebebasan penuh kepada anak. Tetapi, cara pengasuhan seperti itu juga ternyata tidak efektif. Sebaliknya, malah menimbulkan kepribadian yang buruk pada anak. Selain itu, orangtua telah memberikan kesan kepada anak bahwa mereka adalah ‘lemah’. Sebab, orangtua menjadi selalu mengalah, membiarkan anak melakukan apa saja yang ia inginkan, dan tidak pernah menuntut anak untuk melakukan ini dan itu.
Maka, akibatnya anak tersebut besar kemungkinan akan menjadi orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Ia ingin orang-orang yang ada di sekelilingnya selalu tunduk dan menurut kepadanya. Anak seperti ini apabila mendapat penolakan atas apa yang diinginkannya maka ia boleh jadi melakukan tindakan yang berbahaya. Dan, jika ia ternyata tidak mampu melakukan apa yang ia inginkan maka ia akan cepat putus asa.
Mengasuh anak dengan cara terlalu mengekang dan terlalu memberikan kebebasan adalah sama-sama memberikan dampak negatif kepada anak. Ada cara yang baik dapat orangtua lakukan kepada anak selain kedua cara tersebut. Yaitu, dengan cara memberikan kebebasan selektif (Ibrahim Amini, 2006). Maksudnya, orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya tetapi tetap dengan batasan-batasan tertentu.
Contoh, orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk bermain bersama di rumah temannya. Tetapi, ia harus tetap dapat bersikap baik dan berhati-hati supaya tidak memecahkan atau merusak barang yang ada di rumah temannya tersebut. Atau, orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk mengundang temannya bermain dan bermalam di rumahnya. Tetapi, orangtua tetap harus memberikan batasan kepadanya. Minimal, sang anak harus bisa mengatur dan memimpin teman-temannya supaya mau ikut peraturan yang ada di rumah ini. Contohnya, membereskan bekas main, tempat tidur, dan piring-piring bekas makan). (yer).
Friday, 15 February 2008
Tips Menyikapi Anak yang Berwatak Keras Kepala
Setiap anak memiliki watak yang berbeda. Salah satunya adalah watak keras kepala. Anak yang berwatak keras kepala biasanya suka memaksakan kehendak, apa yang ia inginkan harus selalu dikabulkan. Apabila keinginannya ditolak, maka ia akan menangis, menjerit-jerit, berguling-guling. Bahkan, bisa jadi anak itu akan mengamuk dengan memukul dan melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Untuk mengendalikan anak yang berwatak seperti itu tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Boleh jadi orangtua akan kesulitan dan kewalahan dibuatnya.
Ketika menghadapi amukan anak yang berwatak keras kepala, hindarkanlah meresponnya dengan sikap keras. Seperti, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan dan memukulnya. Tindakan orangtua seperti itu hanya akan melukai perasaan dan menghilangkan rasa percaya diri pada anak (yer).
Ada beberapa cara positif yang dapat orangtua lakukan ketika menghadapi anak yang berwatak keras kepala. Pertama, berikanlah kebebasan kepadanya untuk melakukan sesuatu yang tidak berbahaya. Janganlah terlalu ikut campur dengan keinginan anak, jika hal itu tidak membahayakan maka hindarkanlah banyak memberi larangan kepadanya. Kedua, apabila ternyata tindakan yang dilakukan anak tersebut adalah berbahaya. Maka, segeralah orangtua membawa atau mengalihkan perhatiannya kepada sesuatu yang bermanfaat. Misalnya, mengajaknya nonton film kesukaannya atau bermain di kebun. Hindarilah melarang anak dengan cara keras, memukul atau membentak dengan kalimat kasar. Ketiga, jika anak tetap melakukan tindakan berbahaya dan ia tidak bisa dilarang atau dinasehati. Maka, cegahlah anak dengan sikap tegas. Jangan khawatir dengan tangisannya. Karena, percayalah setelah beberapa saat iapun akan kembali tenang (Ibrahim Amini, 2006).
Pesan penting.
Janganlah menjadi orangtua yang selalu membiarkan, mengabulkan, dan membolehkan semua tindakan, keinginan, dan permintaan anak. Sebab, tindakan orangtua seperti itu akan membuat anak tumbuh mejadi orang yang egois dan sombong. Ia tidak terbiasa mendapatkan penolakan apapun dari orangtuanya. Oleh karena itu, ketika dewasa nanti ia akan cenderung bersikap memaksa orang lain agar dapat bersikap seperti halnya orangtua kepadanya. Yaitu, selalu mengabulkan dan membolehkan apa saja yang ia inginkan.
Ketika menghadapi amukan anak yang berwatak keras kepala, hindarkanlah meresponnya dengan sikap keras. Seperti, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan dan memukulnya. Tindakan orangtua seperti itu hanya akan melukai perasaan dan menghilangkan rasa percaya diri pada anak (yer).
Ada beberapa cara positif yang dapat orangtua lakukan ketika menghadapi anak yang berwatak keras kepala. Pertama, berikanlah kebebasan kepadanya untuk melakukan sesuatu yang tidak berbahaya. Janganlah terlalu ikut campur dengan keinginan anak, jika hal itu tidak membahayakan maka hindarkanlah banyak memberi larangan kepadanya. Kedua, apabila ternyata tindakan yang dilakukan anak tersebut adalah berbahaya. Maka, segeralah orangtua membawa atau mengalihkan perhatiannya kepada sesuatu yang bermanfaat. Misalnya, mengajaknya nonton film kesukaannya atau bermain di kebun. Hindarilah melarang anak dengan cara keras, memukul atau membentak dengan kalimat kasar. Ketiga, jika anak tetap melakukan tindakan berbahaya dan ia tidak bisa dilarang atau dinasehati. Maka, cegahlah anak dengan sikap tegas. Jangan khawatir dengan tangisannya. Karena, percayalah setelah beberapa saat iapun akan kembali tenang (Ibrahim Amini, 2006).
Pesan penting.
Janganlah menjadi orangtua yang selalu membiarkan, mengabulkan, dan membolehkan semua tindakan, keinginan, dan permintaan anak. Sebab, tindakan orangtua seperti itu akan membuat anak tumbuh mejadi orang yang egois dan sombong. Ia tidak terbiasa mendapatkan penolakan apapun dari orangtuanya. Oleh karena itu, ketika dewasa nanti ia akan cenderung bersikap memaksa orang lain agar dapat bersikap seperti halnya orangtua kepadanya. Yaitu, selalu mengabulkan dan membolehkan apa saja yang ia inginkan.
Thursday, 14 February 2008
Mengajarkan Anak Bersikap Bijaksana Terhadap Uang
Pembaca yang setia, kali ini saya akan mencoba berbagi pengetahuan hasil dari membaca sebuah buku karya Glenda Hatchett (2005). Yaitu, tentang pentingnya orangtua mengajarkan anak bersikap bijaksana terhadap uang.
Dalam buku tersebut banyak sekali dibahas tentang anak yang terlibat masalah sosial karena menggunakan uang tidak dengan cara yang bijaksana. Anak bisa saja terseret ke dalam kasus hukum karena uang. Banyak di antara mereka yang terpaksa harus berurusan dengan aparat hukum karena ia salah dalam mendapatkan dan menggunakan uang tersebut. Misalnya, melakukan perdagangan obat-obatan terlarang, membeli minuman keras, dan berjudi.
Menyikapi hal di atas, sebagai orangtua bijak tentu tidak ingin menyaksikan kehidupan anak menjadi hancur karena uang. Oleh karena itu, penting orangtua memberikan perinsip kepada anak bahwa untuk mendapatkan uang harus dengan bekerja keras dan dengan cara yang baik. Selain itu, tanamkan kepada anak tentang pemahaman manfaat uang untuk hidup. Misalnya, menegaskan kepada anak bahwa salah satu tujuan mencari uang adalah untuk memenuhi keinginkan dan kebutuhannya supaya ia dapat hidup tenang dan bahagia. Oleh karena itu, supaya ia dapat hidup tenang dan bahagia maka ia harus selalu bekerja keras mencari uang dan tentunya dengan cara yang baik. Sehingga, ketika ia menikmati uang tersebut, tidak berujung pada suatu masalah yang dapat membuatnya menjadi merasa sulit, tidak tenang, dan tidak bahagia.
Dalam buku ini, ada peringatan penting bagi orangtua. Yaitu, supaya jangan pernah menjadikan uang sebagai pengganti kehadiran orangtua untuk menemani anak. Selain itu, jangan pernah menjadi orangtua yang membiarkan anaknya berbelanja dengan kartu kredit tanpa memberikan batasan kepadanya. Hal seperti ini akan menghancurkan kehidupan dirinya dan kita sebagai orangtua.
Kucinya, orangtua perlu menekankan kepada anak bahwa mendapatkan uang harus dengan cara bekerja keras dan cara yang baik. Setelah itu, ajarkan kepada anak bagaimana bersikap tanggung jawab terhadap uang, bagaimana mengatur uang dengan baik, dan bagaimana cara menginvestasikan uang supaya dapat memberikan manfaat yang lebih banyak lagi untuk dirinya dan juga orang lain (yer).
Dalam buku tersebut banyak sekali dibahas tentang anak yang terlibat masalah sosial karena menggunakan uang tidak dengan cara yang bijaksana. Anak bisa saja terseret ke dalam kasus hukum karena uang. Banyak di antara mereka yang terpaksa harus berurusan dengan aparat hukum karena ia salah dalam mendapatkan dan menggunakan uang tersebut. Misalnya, melakukan perdagangan obat-obatan terlarang, membeli minuman keras, dan berjudi.
Menyikapi hal di atas, sebagai orangtua bijak tentu tidak ingin menyaksikan kehidupan anak menjadi hancur karena uang. Oleh karena itu, penting orangtua memberikan perinsip kepada anak bahwa untuk mendapatkan uang harus dengan bekerja keras dan dengan cara yang baik. Selain itu, tanamkan kepada anak tentang pemahaman manfaat uang untuk hidup. Misalnya, menegaskan kepada anak bahwa salah satu tujuan mencari uang adalah untuk memenuhi keinginkan dan kebutuhannya supaya ia dapat hidup tenang dan bahagia. Oleh karena itu, supaya ia dapat hidup tenang dan bahagia maka ia harus selalu bekerja keras mencari uang dan tentunya dengan cara yang baik. Sehingga, ketika ia menikmati uang tersebut, tidak berujung pada suatu masalah yang dapat membuatnya menjadi merasa sulit, tidak tenang, dan tidak bahagia.
Dalam buku ini, ada peringatan penting bagi orangtua. Yaitu, supaya jangan pernah menjadikan uang sebagai pengganti kehadiran orangtua untuk menemani anak. Selain itu, jangan pernah menjadi orangtua yang membiarkan anaknya berbelanja dengan kartu kredit tanpa memberikan batasan kepadanya. Hal seperti ini akan menghancurkan kehidupan dirinya dan kita sebagai orangtua.
Kucinya, orangtua perlu menekankan kepada anak bahwa mendapatkan uang harus dengan cara bekerja keras dan cara yang baik. Setelah itu, ajarkan kepada anak bagaimana bersikap tanggung jawab terhadap uang, bagaimana mengatur uang dengan baik, dan bagaimana cara menginvestasikan uang supaya dapat memberikan manfaat yang lebih banyak lagi untuk dirinya dan juga orang lain (yer).
Wednesday, 13 February 2008
Nasehat Memotivasi Anak Menghindarkan Diri dari Tindakan Salah
Menasehati anak adalah tindakan yang sangat penting dilakukan oleh orangtua. Dalam melakukannya diperlukan kesabaran. Sebab, tugas ini perlu dilakukan berulang-ulang. Walaupun nasehat itu sudah sering orangtua sampaikan kepada anak. Tetapi, kadang-kadang ia masih tetap saja melakukan hal yang sama dan salah.
Nasehat yang diberikan orangtua merupakan salah satu bukti bahwa orangtua sayang dan peduli terhadap anak. Dengan memberikan nasehat kepada anak mereka berharap ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga ia bisa menghindarkan dirinya dari hal-hal yang bernilai salah. Misalnya, anak tidak berteman dengan orang yang berkepribadian buruk (minum minuman keras, gank motor). Sebab, orangtuanya telah menasehatinya bahwa jika ia berteman dengan orang yang 'buruk' kepribadiannya maka ia tidak akan terhindar dari akibat buruk. Seperti berurusan dengan polisi, harus mengeluarkan uang denda yang cukup banyak, atau dipenjara (yer).
Menasehati anak terkadang memang sangat melelahkan dan membuat orangtua merasa frustrasi. Namun, itulah salah satu cara yang harus orangtua lakukan jika mereka ingin anak dapat terhindar dari tindakan salah. Ketika memberikan nasehat kepada anak, janganlah orangtua lupa memberitahukannya untuk selalu berhati-hati dalam memilih teman. Sebab, sedikit atau banyak teman dapat mempengaruhi dirinya. Selain itu, janganlah orangtua membiarkan anak membuat keputusan yang salah. Jelaskanlah kepadanya tentang hal-hal yang dapat membawa bahaya baginya. Misalnya, bahaya ikut mobil teman yang suka menggunakan narkoba dan bahaya ikut balap motor liar.(Glenda Hatchett, 2005).
Nasehat yang diberikan orangtua merupakan salah satu bukti bahwa orangtua sayang dan peduli terhadap anak. Dengan memberikan nasehat kepada anak mereka berharap ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga ia bisa menghindarkan dirinya dari hal-hal yang bernilai salah. Misalnya, anak tidak berteman dengan orang yang berkepribadian buruk (minum minuman keras, gank motor). Sebab, orangtuanya telah menasehatinya bahwa jika ia berteman dengan orang yang 'buruk' kepribadiannya maka ia tidak akan terhindar dari akibat buruk. Seperti berurusan dengan polisi, harus mengeluarkan uang denda yang cukup banyak, atau dipenjara (yer).
Menasehati anak terkadang memang sangat melelahkan dan membuat orangtua merasa frustrasi. Namun, itulah salah satu cara yang harus orangtua lakukan jika mereka ingin anak dapat terhindar dari tindakan salah. Ketika memberikan nasehat kepada anak, janganlah orangtua lupa memberitahukannya untuk selalu berhati-hati dalam memilih teman. Sebab, sedikit atau banyak teman dapat mempengaruhi dirinya. Selain itu, janganlah orangtua membiarkan anak membuat keputusan yang salah. Jelaskanlah kepadanya tentang hal-hal yang dapat membawa bahaya baginya. Misalnya, bahaya ikut mobil teman yang suka menggunakan narkoba dan bahaya ikut balap motor liar.(Glenda Hatchett, 2005).
Tuesday, 12 February 2008
Dukungan Orangtua Menghindarkan Sikap Kriminalitas
Banyak pasangan suami-istri disekeliling kita yang tidak menjalankan tugas mereka sebagai orangtua dengan baik. Mereka sering menganggap bahwa pengasuhan anak adalah tidak begitu penting. Oleh karena itu, orangtua seperti itu cenderung mengabaikan apa yang menjadi kebutuhan dasar anak, terutama kebutuhan rohaninya. Orangtua seperti itu boleh jadi tidak pernah memberikan perhatian, tidak mau mendidik anak, dan tidak pernah mau memberikan dukungan kepada anak mereka. Mereka tidak mau melibatkan diri dalam pengasuhan dan pendidikan anak.
Dengan kondisi orangtua seperti di atas, maka tidak heran jika banyak anak terjerumus pada tindakan kriminalitas yang dapat merugikan banyak pihak. Anak tersebut bukan saja merugikan dirinya sendiri, tetapi juga merugikan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Beberapa tindakan negatif yang sering dilakukan oleh anak karena ia kurang dukungan orangtua di antaranya adalah tindakan pencurian, penggunaan obat-obatan terlarang, seks bebas, pemerkosaan, hamil diluar nikah, penipuan, dan tindakan bunuh diri.
Seyogyanya, perlu orangtua sadari bahwa pada dasarnya setiap saat, dalam keadaan apapun anak sangat memerlukan dukungan, perhatian, dan cinta dari orangtuanya. Kebutuhan tersebut perlu orangtua berikan kepada anak sepanjang hidupnya. Mulai dari mendukung untuk hal-hal kecil seperti ketika ia mulai belajar jalan, bermain sepeda, mengancingkan baju hingga hal-hal besar yang sangat penting bagi hidupnya di masa mendatang. Seperti, belajar hidup disiplin dan bertanggung jawab.
Orangtua yang tidak mau memberikan dukungan kepada anak dengan baik maka besar kemungkinan akan menemukan masalah yang cukup besar kelak. Anak yang tidak dipedulikan oleh orangtuanya akan berusaha mencari dukungan dari luar rumah. Yang sangat dikhawatirkan, anak akan ikut terbawa arus negatif yang dilakukan oleh teman-teman atau ‘keluarga barunya’.
Kesimpulannya, kriminalitas yang dilakukan anak sebenarnya lebih merupakan ekspresi kebutuhan dukungan hidup yang tidak pernah ia dapatkan dirumahnya sendiri (Glenda Hatchett, 2005). Karena ia tidak mendapatkan dukungan dari keluarga, maka ia akan mencari hingga ia menemukan orang-orang yang ia anggap dapat memberikan dukungan, cinta, dan perhatian kepadanya. Satu hal yang sagat membahayakan anak adalah bahwa ia tidak akan peduli apakah orang-orang tersebut memiliki kepribadian baik atau buruk. Sebab, yang paling penting baginya adalah bahwa dukungan yang selama ini ia dambakan kini telah ia temukan dan rasakan dalam hidupnya.
Oleh karena itu, sangat penting orangtua untuk selalu memberikan dukungan berupa perhatian, pengertian, dan rasa cinta kepada anak. Sikap orangtua seperti itu dapat menghindarkan anak terjerumus kepada tindakan kriminalitas yang akan merugikan kita sebagai orangtuanya dan juga masyarakat umum (yer).
Dengan kondisi orangtua seperti di atas, maka tidak heran jika banyak anak terjerumus pada tindakan kriminalitas yang dapat merugikan banyak pihak. Anak tersebut bukan saja merugikan dirinya sendiri, tetapi juga merugikan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Beberapa tindakan negatif yang sering dilakukan oleh anak karena ia kurang dukungan orangtua di antaranya adalah tindakan pencurian, penggunaan obat-obatan terlarang, seks bebas, pemerkosaan, hamil diluar nikah, penipuan, dan tindakan bunuh diri.
Seyogyanya, perlu orangtua sadari bahwa pada dasarnya setiap saat, dalam keadaan apapun anak sangat memerlukan dukungan, perhatian, dan cinta dari orangtuanya. Kebutuhan tersebut perlu orangtua berikan kepada anak sepanjang hidupnya. Mulai dari mendukung untuk hal-hal kecil seperti ketika ia mulai belajar jalan, bermain sepeda, mengancingkan baju hingga hal-hal besar yang sangat penting bagi hidupnya di masa mendatang. Seperti, belajar hidup disiplin dan bertanggung jawab.
Orangtua yang tidak mau memberikan dukungan kepada anak dengan baik maka besar kemungkinan akan menemukan masalah yang cukup besar kelak. Anak yang tidak dipedulikan oleh orangtuanya akan berusaha mencari dukungan dari luar rumah. Yang sangat dikhawatirkan, anak akan ikut terbawa arus negatif yang dilakukan oleh teman-teman atau ‘keluarga barunya’.
Kesimpulannya, kriminalitas yang dilakukan anak sebenarnya lebih merupakan ekspresi kebutuhan dukungan hidup yang tidak pernah ia dapatkan dirumahnya sendiri (Glenda Hatchett, 2005). Karena ia tidak mendapatkan dukungan dari keluarga, maka ia akan mencari hingga ia menemukan orang-orang yang ia anggap dapat memberikan dukungan, cinta, dan perhatian kepadanya. Satu hal yang sagat membahayakan anak adalah bahwa ia tidak akan peduli apakah orang-orang tersebut memiliki kepribadian baik atau buruk. Sebab, yang paling penting baginya adalah bahwa dukungan yang selama ini ia dambakan kini telah ia temukan dan rasakan dalam hidupnya.
Oleh karena itu, sangat penting orangtua untuk selalu memberikan dukungan berupa perhatian, pengertian, dan rasa cinta kepada anak. Sikap orangtua seperti itu dapat menghindarkan anak terjerumus kepada tindakan kriminalitas yang akan merugikan kita sebagai orangtuanya dan juga masyarakat umum (yer).
Monday, 11 February 2008
Hadiah Alternatif Untuk Anak Remaja
Apabila sesekali anak menolak pernyataan orangtua adalah wajar. Anak berkata tidak tentu boleh-boleh saja. Hanya, kalau anak sering berkata tidak maka orangtua harus segera menyadarinya mengapa ia bersikap seperti itu. Mencari penyebabnya merupakan salah satu cara untuk memudahkan orangtua menghilangkan sikap penolakan anak.
Memotivasi anak agar mau bekerja sama mengikuti apa yang dikatakan orangtua tentu memerlukan suatu keterampilan. Sebab, memperlakukan atau memotivasi anak yang masih kecil dengan anak yang sudah remaja adalah berbeda. Anak yang masih kecil mungkin masih mau menerima hadiah berupa jalan-jalan keliling perumahan, dibacakan tiga dongeng sebelum tidur, dan bermain kejar-kejaran. Tetapi, bagi anak remaja boleh jadi hadiah seperti itu tidak memberikan pengaruh kepadanya untuk mau mengubah dirinya menjadi bersikap kooperatif.
Oleh karena itu, sebelum menjanjikan suatu hadiah ada baiknya orangtua mamastikan terebih dahulu tentang hadiah apa yang efektif dapat membuat ia kembali bersikap positif. Jika anak sudah remaja dan ia sudah bisa menggunakan uang untuk belanja kebutuhannya. Maka, orangtua dapat menjadikan situasi ini sebagai hadiah supaya ia mau menggunakan waktunya dalam suatu situasi.
Idealnya, tidaklah baik menggunakan uang sebagai hadiah terlalu sering, tetapi bila digunakan sekali-kali, hasilnya sangat baik (John Gray, Ph.D, 2004). Memberikan hadiah kepada anak remaja sebagai upaya memotivasi kembali sikap positif anak adalah tidak selalu harus berupa uang. Orantua bisa menggunakan cara lain misalnya membantu salah satu pekerjaannya atau menawarkan diri untuk mengajaknya pergi ke suatu tempat. Orangtua bisa mengantarnya dengan mobil ke rumah temannya, atau ke tempat kursusnya (yer).
Memotivasi anak agar mau bekerja sama mengikuti apa yang dikatakan orangtua tentu memerlukan suatu keterampilan. Sebab, memperlakukan atau memotivasi anak yang masih kecil dengan anak yang sudah remaja adalah berbeda. Anak yang masih kecil mungkin masih mau menerima hadiah berupa jalan-jalan keliling perumahan, dibacakan tiga dongeng sebelum tidur, dan bermain kejar-kejaran. Tetapi, bagi anak remaja boleh jadi hadiah seperti itu tidak memberikan pengaruh kepadanya untuk mau mengubah dirinya menjadi bersikap kooperatif.
Oleh karena itu, sebelum menjanjikan suatu hadiah ada baiknya orangtua mamastikan terebih dahulu tentang hadiah apa yang efektif dapat membuat ia kembali bersikap positif. Jika anak sudah remaja dan ia sudah bisa menggunakan uang untuk belanja kebutuhannya. Maka, orangtua dapat menjadikan situasi ini sebagai hadiah supaya ia mau menggunakan waktunya dalam suatu situasi.
Idealnya, tidaklah baik menggunakan uang sebagai hadiah terlalu sering, tetapi bila digunakan sekali-kali, hasilnya sangat baik (John Gray, Ph.D, 2004). Memberikan hadiah kepada anak remaja sebagai upaya memotivasi kembali sikap positif anak adalah tidak selalu harus berupa uang. Orantua bisa menggunakan cara lain misalnya membantu salah satu pekerjaannya atau menawarkan diri untuk mengajaknya pergi ke suatu tempat. Orangtua bisa mengantarnya dengan mobil ke rumah temannya, atau ke tempat kursusnya (yer).
Sunday, 10 February 2008
Pentingnya Memberikan Perhatian Kepada Sikap Positif Anak
Anak menentang atau tidak menurut pada apa yang diminta orangtua tentu bukan karena ia jahat. Menurut John Gray, Ph.D (2004) sedikitnya ada dua penyebab yang dapat memicu anak bersikap menentang orangtua. Yang pertama, anak menentang boleh jadi karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Dan kedua, karena sikap orangtua yang kurang tepat dalam menangani kelakuan buruk anak.
Anak yang melakukan perbuatan positif namun ia tidak pernah mendapatkan apresiasi atau pengakuan dari orangtuanya. Maka, ia akan meninggalkan dan melupakan sikap positifnya tersebut. Sebaliknya, apabila orangtua selalu memberikan perhatian terhadap sikap negatif anak walaupun itu dalam bentuk pernyataan atau sikap orangtua negatif (marah atau melarang). Maka, anak akan semakin berperilaku negatif. Ia mungkin akan berkesimpulan bahwa untuk mendapatkan perhatian orangtua, ia harus melakukan sikap negatif. Maksudnya, jika ia ingin diperhatikan orangtuanya, ia akan rela dirinya dimarahi. Sebab, ia melakukan tindakan negatif yang dapat menarik perhatian orangtuanya.
Mengoreksi sikap negatif anak tentu penting . Namun, apabila orangtua tidak dapat bersikap atau mengarahkan anak dengan cara positif, malah memarahinya dengan ucapan buruk atau memperlakukannya dengan sikap buruk. Maka, lebih baik orangtua tidak perlu mengatakan atau melakukan apa-apa terhadap sikap negatifnya tersebut. Orangtua dapat memberikan arahan yang baik kepada anak ketika kondisi anak dan orangtua telah menjadi tenang. Dengan cara demikian, orangtua akan lebih mampu mengontrol emosi dan begitu juga anak akan lebih mampu menerima nasehat atau apa yang diinginkan oleh orangtuanya.
Kesimpulannya, orangtua perlu lebih memperhatikan dan mengakui sikap positif anak. Tindakan tersebut perlu dilakukan orangtua sebagai salah satu upaya untuk memotivasi supaya anak menjadi terbiasa melakukan tindakan positif. Jadi, apabila ia sedang membutuhkan perhatian dari orangtuanya. Maka, ia akan melakukan tindakan positif yang dapat menarik perhatian orangtuanya. Misalnya, dengan cara membantu membereskan tempat tidur atau membuat gambar yang cantik untuk orangtuanya (yer).
Anak yang melakukan perbuatan positif namun ia tidak pernah mendapatkan apresiasi atau pengakuan dari orangtuanya. Maka, ia akan meninggalkan dan melupakan sikap positifnya tersebut. Sebaliknya, apabila orangtua selalu memberikan perhatian terhadap sikap negatif anak walaupun itu dalam bentuk pernyataan atau sikap orangtua negatif (marah atau melarang). Maka, anak akan semakin berperilaku negatif. Ia mungkin akan berkesimpulan bahwa untuk mendapatkan perhatian orangtua, ia harus melakukan sikap negatif. Maksudnya, jika ia ingin diperhatikan orangtuanya, ia akan rela dirinya dimarahi. Sebab, ia melakukan tindakan negatif yang dapat menarik perhatian orangtuanya.
Mengoreksi sikap negatif anak tentu penting . Namun, apabila orangtua tidak dapat bersikap atau mengarahkan anak dengan cara positif, malah memarahinya dengan ucapan buruk atau memperlakukannya dengan sikap buruk. Maka, lebih baik orangtua tidak perlu mengatakan atau melakukan apa-apa terhadap sikap negatifnya tersebut. Orangtua dapat memberikan arahan yang baik kepada anak ketika kondisi anak dan orangtua telah menjadi tenang. Dengan cara demikian, orangtua akan lebih mampu mengontrol emosi dan begitu juga anak akan lebih mampu menerima nasehat atau apa yang diinginkan oleh orangtuanya.
Kesimpulannya, orangtua perlu lebih memperhatikan dan mengakui sikap positif anak. Tindakan tersebut perlu dilakukan orangtua sebagai salah satu upaya untuk memotivasi supaya anak menjadi terbiasa melakukan tindakan positif. Jadi, apabila ia sedang membutuhkan perhatian dari orangtuanya. Maka, ia akan melakukan tindakan positif yang dapat menarik perhatian orangtuanya. Misalnya, dengan cara membantu membereskan tempat tidur atau membuat gambar yang cantik untuk orangtuanya (yer).
Saturday, 9 February 2008
Anak Akan Bersikap Kooperatif Apabila Kebutuhannya Terpenuhi
Boleh dipastikan setiap orangtua menginginkan atau mengharapkan anak dapat bersikap patuh kepada mereka. Orangtua ingin anak dapat mendengar dan melakukan apa yang dikatakan atau diinginkan oleh mereka. Namun, untuk mewujudkan semua itu, banyak orangtua tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada anak. Sebab, pada kenyataannya banyak anak yang sering menolak pernyataan orangtua.
Menyikapi sikap anak seperti di atas, orangtua bijak tentu tidak akan menyalahkan atau memvonis buruk anak begitu saja. Dengan perubahan anak seperti itu orangtua perlu memahami bahwa pada dasarnya anak akan mudah diajak bekerja sama apabila kebutuhannya terpenuhi.
Oleh sebab itu, jika anak mulai sering menentang terhadap apa yang dikatakan orangtuanya maka orangtua perlu menyadari dan mencari tahu tentang apa yang sedang ia butuhkan pada saat itu. Mungkin saja anak tidak mau bekerja sama dengan orangtua karena dalam waktu lama ia kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian dari orangtuanya.
Di bawah ini adalah beberapa contoh umum menurut John Gray, Ph.D (2004) tentang situasi yang dapat mendorong anak menjadi tidak kooperatif. Di antaranya:
Kesimpulannya, jika orangtua sering menerima penolakan dari anak maka ketahuilah kebutuhan apa yang sedang ia perlukan. Setelah itu, segeralah orangtua penuhi kebutuhannya tersebut. Sebab, pada umumnya anak yang terpenuhi kebutuhannya akan mudah diajak bekerja sama (yer)
Menyikapi sikap anak seperti di atas, orangtua bijak tentu tidak akan menyalahkan atau memvonis buruk anak begitu saja. Dengan perubahan anak seperti itu orangtua perlu memahami bahwa pada dasarnya anak akan mudah diajak bekerja sama apabila kebutuhannya terpenuhi.
Oleh sebab itu, jika anak mulai sering menentang terhadap apa yang dikatakan orangtuanya maka orangtua perlu menyadari dan mencari tahu tentang apa yang sedang ia butuhkan pada saat itu. Mungkin saja anak tidak mau bekerja sama dengan orangtua karena dalam waktu lama ia kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian dari orangtuanya.
Di bawah ini adalah beberapa contoh umum menurut John Gray, Ph.D (2004) tentang situasi yang dapat mendorong anak menjadi tidak kooperatif. Di antaranya:
- Anak merasa kecewa karena ia butuh bicara sebentar dan dimengerti oleh orangtuanya, namun mereka tidak punya waktu untuk mendengarkan.
- Anak merasa lelah dan perlu tidur sebentar, irama alaminya terganggu.
- Ia merasa lapar dan perlu diberi makan.
- Anak tidak tahu apa yang menurut perkiraan akan terjadi dan memerlukan lebih banyak persiapan.
- Anak terlalu terstimulasi karena terlalu banyak nonton TV, terlalu banyak bersenang-senang, terlalu banyak orang, atau terlalu banyak kegiatan.
- Sesuatu yang lain mungkin menganggunya. Misalnya, sakit telinga atau ia merasa kecewa karena orang lain telah bersikap tidak baik kepadanya.
Kesimpulannya, jika orangtua sering menerima penolakan dari anak maka ketahuilah kebutuhan apa yang sedang ia perlukan. Setelah itu, segeralah orangtua penuhi kebutuhannya tersebut. Sebab, pada umumnya anak yang terpenuhi kebutuhannya akan mudah diajak bekerja sama (yer)
Friday, 8 February 2008
Mengajarkan Anak Menangguhkan Kepuasan
Adakalanya orangtua tidak selalu mampu memenuhi apa yang diinginkan anak. Dalam kondisi seperti ini anak biasanya akan berusaha terus untuk mendapatkan apa yang ia sedang inginkan saat itu. Bisa saja ia mengamuk, menangis, dan memberontak. Menghadapi sikap anak seperti itu, janganlah orangtua merasa bersalah. Sebab, dibalik keterbatasan orangtua tersebut ada manfaat lain yang sangat berharga bagi anak. Kondisi seperti ini dapat membantu anak belajar menangguhkan kepuasan dan menerima dengan baik apa yang memang harus terjadi.
Banyak orang sukses karena mampu menahan nafsu (menangguhkan kepuasan). Misalnya, anak yang dapat menangguhkan kepuasan untuk menghabiskan waktu bermain di waktu ujian. Maka, ia akan mampu meraih sukses. Sebaliknya, anak yang tidak mampu menangguhkan kepuasan boleh jadi ia akan merasakan banyak masalah dalam hidupnya. Selain itu, anak yang terlalu sering mendapatkan apa yang ia inginkan, mungkin tidak akan pernah merasa puas atau cukup pada apa yang ia dapatkan.
Apabila anak menentang karena ia tidak memperoleh apa yang ia inginkan maka tanggapilah ia dengan sikap positif. Sebab, dibalik sikap menentangnya, biasanya ada sesuatu yang lebih mendalam dan perlu orangtua pahami. Anak yang banyak menuntut boleh jadi karena sebenarnya ia tidak memperoleh apa yang sesungguhnya ia butuhkan. Misalnya, sikap kasih sayang dan perhatian dari orangtua.
Oleh karena itu, apabila orangtua menghadapi anak yang bersikap menentang karena menginginkan sesuatu. Maka, kenalilah perasaannya, setelah itu komunikasikan dan berikanlah pengertian kepadanya dengan penuh kasih dan cinta. Sedikit demi sedikit ia pun akan mulai melepaskan sikap menentangnya. Anakpun secara perlahan akan mampu menerima apa yang harus terjadi. Walaupun ia tidak menerima apa yang ia inginkan saat itu, dengan pengertian dan cinta yang diberikan orangtua dapat membuat anak merasa bahagia (yer).
Kunci: Bila orangtua mendengarkan sikap menentang anak dan secara semestinya membantu anak mengenali perasaan, keinginan, kemauan, dan kebutuhannya. Maka, anak akan lebih mengetahui apa yang paling penting baginya. Yaitu, kasih sayang, perhatian, dan pengertian (John Gray, Ph.D, 2004).
Banyak orang sukses karena mampu menahan nafsu (menangguhkan kepuasan). Misalnya, anak yang dapat menangguhkan kepuasan untuk menghabiskan waktu bermain di waktu ujian. Maka, ia akan mampu meraih sukses. Sebaliknya, anak yang tidak mampu menangguhkan kepuasan boleh jadi ia akan merasakan banyak masalah dalam hidupnya. Selain itu, anak yang terlalu sering mendapatkan apa yang ia inginkan, mungkin tidak akan pernah merasa puas atau cukup pada apa yang ia dapatkan.
Apabila anak menentang karena ia tidak memperoleh apa yang ia inginkan maka tanggapilah ia dengan sikap positif. Sebab, dibalik sikap menentangnya, biasanya ada sesuatu yang lebih mendalam dan perlu orangtua pahami. Anak yang banyak menuntut boleh jadi karena sebenarnya ia tidak memperoleh apa yang sesungguhnya ia butuhkan. Misalnya, sikap kasih sayang dan perhatian dari orangtua.
Oleh karena itu, apabila orangtua menghadapi anak yang bersikap menentang karena menginginkan sesuatu. Maka, kenalilah perasaannya, setelah itu komunikasikan dan berikanlah pengertian kepadanya dengan penuh kasih dan cinta. Sedikit demi sedikit ia pun akan mulai melepaskan sikap menentangnya. Anakpun secara perlahan akan mampu menerima apa yang harus terjadi. Walaupun ia tidak menerima apa yang ia inginkan saat itu, dengan pengertian dan cinta yang diberikan orangtua dapat membuat anak merasa bahagia (yer).
Kunci: Bila orangtua mendengarkan sikap menentang anak dan secara semestinya membantu anak mengenali perasaan, keinginan, kemauan, dan kebutuhannya. Maka, anak akan lebih mengetahui apa yang paling penting baginya. Yaitu, kasih sayang, perhatian, dan pengertian (John Gray, Ph.D, 2004).
Thursday, 7 February 2008
Tips Mengasuh Anak dengan Cara Bijaksana
Kini, di lingkungan kita banyak orangtua yang sudah mulai meninggalkan gaya mendidik anak dengan cara kekerasan seperti dulu. Mereka sudah semakin memahami bahwa mendidik dengan cara memukul, menghukum, dan mempermalukan anak tidak lagi dapat menyelesaikan masalah. Mengasuh dengan cara keras hanya akan memicu anak untuk bersikap memberontak. Sikap anak seperti itu tentu akan membuat tugas mengasuh anak bukan menjadi mudah. Tetapi sebaliknya, justru akan lebih menghabiskan waktu, lebih sulit, dan menyakitkan.
Namun sayang, di balik semua perubahan di atas ada masalah lain telah terjadi. Banyak orangtua yang meninggalkan gaya keras mendidik anak, tetapi selanjutnya mereka tidak tahu cara lain yang lebih efektif dan baik untuk mengasuh dan mendidik anak. Akhirnya, orangtua seperti ini mengasuh anak dengan cara lembut. Ketika anak berbuat salah, orangtua seperti ini akan lebih memilih untuk membiarkan anak melakukan kesalahan dan menghidarinya supaya mereka tidak lagi melakukan tindakan kekerasan terhadapnya.
Ketika orangtua tidak lagi menghukum anak atas kesalahan yang telah ia lakukan, sesungguhnya orangtua telah memberikan sinyal kepada anak bahwa mereka tidak berdaya. Orangtua seperti ini cenderung menyerah terhadap sikap negatif anak, seperti menantang, mengamuk, dan manja. Apabila orangtua terus menerus mengasuh anak dengan cara seperti itu, anak secara perlahan akan menjadi orang yang selalu banyak menuntut, tidak hormat, dan selalu menentang orangtuanya.
Oleh karena itu, mengasuh anak sebaiknya tidak dengan cara terlalu lembut dan juga tidak terlalu keras. Apabila sesekali anak melakukan tindakan salah, didiklah ia namun tidak dengan cara kekerasan dan juga tidak dengan cara terlalu lembut. Misalnya, dengan cara memberikan konsekuensi (mengurangi jam main, uang jajan, atau menghilangkan untuk sementara acara jalan-jalan). Dalam hal ini, orangtua tidak membiarkan anak dapat melakukan tindakan salah begitu saja dan tidak juga menghukum anak dengan kekerasan (memukul). Orangtua tetap mendidik anak tetapi dengan cara yang lebih baik.
Seandainya saja anak menentang pada apa yang dikatakan orangtua, ada baiknya orangtua tidak selalu menghukumnya (memarahi, membentak, memukul, dan melecehkan). Sebab, memberikan kesempatan kepadanya untuk mengekspresikan perasaan tentang apa yang ia inginkan dapat membuat anak semakin mahir dalam melakukan negosiasi. Hal yang paling penting perlu orangtua tegaskan kepada anak adalah boleh saja ia menentang, tetapi ayah dan ibu tetap sebagai bosnya. Anak tetap harus bersikap hormat kepada orangtua (yer).
Orangtua yang mampu menangani sikap menentang anak dengan sikap tenang dan bijaksana. Berarti telah mengajarkan anak bagaimana cara menghadapi sikap menentang yang mungkin akan ia alami dalam kehidupannya kelak. Bila suatu saat ia dihadapkan dengan orang yang sulit diajak bekerja sama. Ia akan tahu bagaimana menghadapi situasi itu tanpa menyerah secara membuta atau menuntut orang lain menyerah (John Gray, Ph.D, 2004).
Namun sayang, di balik semua perubahan di atas ada masalah lain telah terjadi. Banyak orangtua yang meninggalkan gaya keras mendidik anak, tetapi selanjutnya mereka tidak tahu cara lain yang lebih efektif dan baik untuk mengasuh dan mendidik anak. Akhirnya, orangtua seperti ini mengasuh anak dengan cara lembut. Ketika anak berbuat salah, orangtua seperti ini akan lebih memilih untuk membiarkan anak melakukan kesalahan dan menghidarinya supaya mereka tidak lagi melakukan tindakan kekerasan terhadapnya.
Ketika orangtua tidak lagi menghukum anak atas kesalahan yang telah ia lakukan, sesungguhnya orangtua telah memberikan sinyal kepada anak bahwa mereka tidak berdaya. Orangtua seperti ini cenderung menyerah terhadap sikap negatif anak, seperti menantang, mengamuk, dan manja. Apabila orangtua terus menerus mengasuh anak dengan cara seperti itu, anak secara perlahan akan menjadi orang yang selalu banyak menuntut, tidak hormat, dan selalu menentang orangtuanya.
Oleh karena itu, mengasuh anak sebaiknya tidak dengan cara terlalu lembut dan juga tidak terlalu keras. Apabila sesekali anak melakukan tindakan salah, didiklah ia namun tidak dengan cara kekerasan dan juga tidak dengan cara terlalu lembut. Misalnya, dengan cara memberikan konsekuensi (mengurangi jam main, uang jajan, atau menghilangkan untuk sementara acara jalan-jalan). Dalam hal ini, orangtua tidak membiarkan anak dapat melakukan tindakan salah begitu saja dan tidak juga menghukum anak dengan kekerasan (memukul). Orangtua tetap mendidik anak tetapi dengan cara yang lebih baik.
Seandainya saja anak menentang pada apa yang dikatakan orangtua, ada baiknya orangtua tidak selalu menghukumnya (memarahi, membentak, memukul, dan melecehkan). Sebab, memberikan kesempatan kepadanya untuk mengekspresikan perasaan tentang apa yang ia inginkan dapat membuat anak semakin mahir dalam melakukan negosiasi. Hal yang paling penting perlu orangtua tegaskan kepada anak adalah boleh saja ia menentang, tetapi ayah dan ibu tetap sebagai bosnya. Anak tetap harus bersikap hormat kepada orangtua (yer).
Orangtua yang mampu menangani sikap menentang anak dengan sikap tenang dan bijaksana. Berarti telah mengajarkan anak bagaimana cara menghadapi sikap menentang yang mungkin akan ia alami dalam kehidupannya kelak. Bila suatu saat ia dihadapkan dengan orang yang sulit diajak bekerja sama. Ia akan tahu bagaimana menghadapi situasi itu tanpa menyerah secara membuta atau menuntut orang lain menyerah (John Gray, Ph.D, 2004).
Wednesday, 6 February 2008
Hadiah Memotivasi Anak Bersikap Positif
Sebagian orangtua ada yang berpendapat memberikan hadiah supaya anak bersikap positif adalah kurang baik. Sebab, mereka menganggap tindakan seperti itu sama dengan tindakan menyuap yang sangat buruk dan dapat merusak kepribadian anak. Mereka percaya bahwa dengan memberikan hadiah maka akan membuat anak menjadi terbiasa dan senang ‘disuap’.
Bagi orangtua bijaksana yang biasa mengasuh anak secara positif dan telah mampu memenuhi kebutuhan anak. Tindakan memberikan hadiah kepada anak hanya sebagai alat untuk memotivasi saja. Sebab, seyogyanya anak yang mendapatkan pengasuhan positif dan kebutuhannya selalu terpenuhi oleh orangtuanya akan tumbuh terkendali dan mudah diajak untuk bekerja sama (patuh) (John Gray, Ph. D, 2004).
Adalah wajar apabila sesekali anak bersikap menentang karena mempertahankan apa yang diinginkannya. Pada saat seperti itulah tindakan memberikan hadiah kepada anak akan terasa efektif. Anak akan segera melakukan apa yang telah menjadi kebiasaanya dengan segera. Misalnya, ketika anak tidak mau mandi. Maka, orangtua dapat menjanjikan hadiah kepadanya. Apabila ia melakukan mandi sekarang maka sebelum tidur nanti ia akan mendapatkan tiga cerita. Dengan cara seperti itu, biasanya anak akan termotivasi untuk segera pergi melakukan kebiasaanya, yaitu mandi.
Perlu orangtua ketahui, pada dasarnya anak yang dibesarkan dengan pola asuh positif dan kebutuhannya selalu terpenuhi akan tumbuh menjadi anak yang disiplin, percaya diri, berbudi baik, dan mudah diajak bekerja sama. Selain itu, ia juga sejatinya telah terbiasa melakukan tindakan positif. Oleh karena itu, apabila orangtua memintanya untuk melakukan sesuatu, sesungguhnya ia tidak perlu dijanjikan suatu hadiah. Dengan pengertian, cinta, dan perhatian ia akan dengan mudah melakukan apa yang diminta orangtuanya tersebut.
Kesimpulannya, hadiah yang diberikan orangtua yang selalu mengasuh anak dengan cara positif adalah bukan untuk ‘menyuap’. Karena, tindakan menyuap lebih cocok dilakukan kepada anak yang sulit dikendalikan. Sedangkan anak yang diasuh dengan cara positif biasanya lebih terkendali dan bersikap kooperatif. Oleh karena itu, memberikan hadiah kepada anak yang terkendali lebih cenderung untuk memotivasi. Sebab, dengan hadiah ia akan kembali melakukan apa yang menjadi kebiasaannya dengan segera. Hadiah yang diberikan kepada anak tidak harus berupa barang yang mahal dan sulit didapat. Berikanlah hadiah kepada anak sesuai dengan kebutuhan dan sifatnya. Misalnya, anak yang aktif cocok diberikan hadiah berupa permainan. Orangtua bisa mengajak anak bermain kejar-kejaran atau bermain sepeda sebagai hadiahnya (yer).
Bagi orangtua bijaksana yang biasa mengasuh anak secara positif dan telah mampu memenuhi kebutuhan anak. Tindakan memberikan hadiah kepada anak hanya sebagai alat untuk memotivasi saja. Sebab, seyogyanya anak yang mendapatkan pengasuhan positif dan kebutuhannya selalu terpenuhi oleh orangtuanya akan tumbuh terkendali dan mudah diajak untuk bekerja sama (patuh) (John Gray, Ph. D, 2004).
Adalah wajar apabila sesekali anak bersikap menentang karena mempertahankan apa yang diinginkannya. Pada saat seperti itulah tindakan memberikan hadiah kepada anak akan terasa efektif. Anak akan segera melakukan apa yang telah menjadi kebiasaanya dengan segera. Misalnya, ketika anak tidak mau mandi. Maka, orangtua dapat menjanjikan hadiah kepadanya. Apabila ia melakukan mandi sekarang maka sebelum tidur nanti ia akan mendapatkan tiga cerita. Dengan cara seperti itu, biasanya anak akan termotivasi untuk segera pergi melakukan kebiasaanya, yaitu mandi.
Perlu orangtua ketahui, pada dasarnya anak yang dibesarkan dengan pola asuh positif dan kebutuhannya selalu terpenuhi akan tumbuh menjadi anak yang disiplin, percaya diri, berbudi baik, dan mudah diajak bekerja sama. Selain itu, ia juga sejatinya telah terbiasa melakukan tindakan positif. Oleh karena itu, apabila orangtua memintanya untuk melakukan sesuatu, sesungguhnya ia tidak perlu dijanjikan suatu hadiah. Dengan pengertian, cinta, dan perhatian ia akan dengan mudah melakukan apa yang diminta orangtuanya tersebut.
Kesimpulannya, hadiah yang diberikan orangtua yang selalu mengasuh anak dengan cara positif adalah bukan untuk ‘menyuap’. Karena, tindakan menyuap lebih cocok dilakukan kepada anak yang sulit dikendalikan. Sedangkan anak yang diasuh dengan cara positif biasanya lebih terkendali dan bersikap kooperatif. Oleh karena itu, memberikan hadiah kepada anak yang terkendali lebih cenderung untuk memotivasi. Sebab, dengan hadiah ia akan kembali melakukan apa yang menjadi kebiasaannya dengan segera. Hadiah yang diberikan kepada anak tidak harus berupa barang yang mahal dan sulit didapat. Berikanlah hadiah kepada anak sesuai dengan kebutuhan dan sifatnya. Misalnya, anak yang aktif cocok diberikan hadiah berupa permainan. Orangtua bisa mengajak anak bermain kejar-kejaran atau bermain sepeda sebagai hadiahnya (yer).
Tuesday, 5 February 2008
Cinta, Keyakinan, dan Sekecup Ciuman Dapat Meluluhkan Sikap Menentang Pada Anak
Ada kalanya orangtua tidak mengerti apa yang menyebabkan anak menentang terhadap permintaan mereka. Ia tidak mau melakukan apa yang dikatakan orangtua. Sebaliknya, boleh jadi ia malah menolak, mengamuk, dan menangis.
Menghadapi sikap anak seperti di atas, orangtua perlu memahami bahwa sesuatu telah terjadi pada dirinya. Ada beberapa kemungkinan yang dapat mendorong anak bersikap menentang terhadap pemintaan orangtua. Salah satunya adalah karena ia memiliki keinginan dan harapan terhadap sesuatu.
Biasanya, anak yang menginginkan sesuatu lalu tidak dimengerti oleh orangtuanya. Maka, ia akan cenderung menentang apa yang dikatakan orangtua. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang ia sukai, tetapi orangtua tidak memahami atau tidak saja mengerti pada apa yang diharapkannya. Misalnya, anak menginginkan sebatang coklat, tetapi orangtua tetap menyuruhnya untuk menunggu sampai ia selesai makan siang. Dalam situasi seperti itu, biasanya anak akan terus menentang orangtua. Ia tetap pada keinginannya mendapatkan sebatang coklat dengan segera.
Menyikapi situasi di atas, maka segeralah orangtua memahami keinginannya. Dengan mengenali keinginan dan kebutuhannya maka dapat mengurangi sikap menentang pada anak. Contoh kasus, jika anak menentang karena ia menginginkan sebatang coklat. Maka, katakanlah kepadanya bahwa orangtua mengetahui apa yang diinginkannya tersebut. Namun, jika ia tetap saja menentang atau mengamuk, cobalah sekali lagi dengan mengatakan bahwa orangtua mengerti pada apa yang dirasakannya saat ini, ia takut keinginannya tidak dipenuhi oleh orangtua.
Dalam kondisi seperti di atas, kecenderungan anak adalah merasa takut. Ia butuh sesuatu yang dapat meyakinkannya. Oleh karena itu, orangtua perlu membuat janji kepada anak bahwa mereka akan membelikan sebatang coklat jika ia selesai makan siang. Tentu, jika anak telah melaksanakan harapan orangtua maka orangtuapun harus memenuhi janji mereka kepada anak.
Pada umumnya, sikap mau mengerti yang dilakukan orangtua dengan memberikan keyakinan dan diakhiri dengan ciuman dapat melemahkan sikap menentang pada anak. Sejatinya, sesuatu yang paling dibutuhkan oleh anak ketika ia sedang bersikap menentang adalah cinta, keyakinan, dan dukungan dari orangtuanya. Ketika anak menentang untuk bersikap kooperatif berikanlah ia sesuatu yang sedikit lebih dalam. Ia butuh untuk dimengerti dan dicintai. Kemudian ia juga butuh sekecup ciuman (John Gray, Ph.D, 2004).
Kesimpulannya,
jika orangtua ingin sikap menentang pada anak segera memudar, bersikaplah orangtua mau mengerti, mau memberikan cinta, memberikan keyakinan, dan memberikan sekecup ciuman kepadanya. Dengan cara seperti itu, biasanya anak akan 'menyerah' dan lambat laun iapun akan mau diajak untuk bekerja sama kembali (yer).
Menghadapi sikap anak seperti di atas, orangtua perlu memahami bahwa sesuatu telah terjadi pada dirinya. Ada beberapa kemungkinan yang dapat mendorong anak bersikap menentang terhadap pemintaan orangtua. Salah satunya adalah karena ia memiliki keinginan dan harapan terhadap sesuatu.
Biasanya, anak yang menginginkan sesuatu lalu tidak dimengerti oleh orangtuanya. Maka, ia akan cenderung menentang apa yang dikatakan orangtua. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang ia sukai, tetapi orangtua tidak memahami atau tidak saja mengerti pada apa yang diharapkannya. Misalnya, anak menginginkan sebatang coklat, tetapi orangtua tetap menyuruhnya untuk menunggu sampai ia selesai makan siang. Dalam situasi seperti itu, biasanya anak akan terus menentang orangtua. Ia tetap pada keinginannya mendapatkan sebatang coklat dengan segera.
Menyikapi situasi di atas, maka segeralah orangtua memahami keinginannya. Dengan mengenali keinginan dan kebutuhannya maka dapat mengurangi sikap menentang pada anak. Contoh kasus, jika anak menentang karena ia menginginkan sebatang coklat. Maka, katakanlah kepadanya bahwa orangtua mengetahui apa yang diinginkannya tersebut. Namun, jika ia tetap saja menentang atau mengamuk, cobalah sekali lagi dengan mengatakan bahwa orangtua mengerti pada apa yang dirasakannya saat ini, ia takut keinginannya tidak dipenuhi oleh orangtua.
Dalam kondisi seperti di atas, kecenderungan anak adalah merasa takut. Ia butuh sesuatu yang dapat meyakinkannya. Oleh karena itu, orangtua perlu membuat janji kepada anak bahwa mereka akan membelikan sebatang coklat jika ia selesai makan siang. Tentu, jika anak telah melaksanakan harapan orangtua maka orangtuapun harus memenuhi janji mereka kepada anak.
Pada umumnya, sikap mau mengerti yang dilakukan orangtua dengan memberikan keyakinan dan diakhiri dengan ciuman dapat melemahkan sikap menentang pada anak. Sejatinya, sesuatu yang paling dibutuhkan oleh anak ketika ia sedang bersikap menentang adalah cinta, keyakinan, dan dukungan dari orangtuanya. Ketika anak menentang untuk bersikap kooperatif berikanlah ia sesuatu yang sedikit lebih dalam. Ia butuh untuk dimengerti dan dicintai. Kemudian ia juga butuh sekecup ciuman (John Gray, Ph.D, 2004).
Kesimpulannya,
jika orangtua ingin sikap menentang pada anak segera memudar, bersikaplah orangtua mau mengerti, mau memberikan cinta, memberikan keyakinan, dan memberikan sekecup ciuman kepadanya. Dengan cara seperti itu, biasanya anak akan 'menyerah' dan lambat laun iapun akan mau diajak untuk bekerja sama kembali (yer).
Monday, 4 February 2008
Pentingnya Melakukan 'Ritual' Kasih Sayang Kepada Anak
Banyak orang dewasa yang merasa sulit apabila ia harus mengingat kembali masa indah ketika masih kanak-kanak bersama orangtuanya dulu. Hal ini terjadi karena mungkin ketika ia masih kecil dulu kurang mendapatkan ’ritual kasih sayang’ dari orangtuanya. Seperti, melakukan makan malam bersama, mendapatkan pelukan dan ciuman sebelum tidur, pergi jalan-jalan ke suatu tempat untuk menghabiskan masa liburan sekolah. Atau, mendapatkan hadiah kejutan di hari ulang tahun.
Menciptakan ritual kasih sayang kepada anak adalah sangat penting. Hal tersebut perlu dilakukan supaya anak merasa bahwa dirinya adalah istimewa. Ia merasa bahwa dirinya layak dicintai, diperhatikan, dan disayangi oleh orangtuanya. Melakukan ritual kasih sayang tidak perlu menghabiskan banyak waktu. Yang paling penting dalam melakukan ritual kasih sayang ini adalah bentuk pengulangannya. Contohnya, mengucapkan ‘Mama sayang kamu, Nak….’. Ritual kasih sayang dalam ucapan atau pun perbuatan orangtua yang berulang mencerminkan bukti atau pengakuan bahwa cinta orangtua selalu hadir untuknya selamanya.
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa melakukan upacara yang menyenangkan dan penuh kasih sayang adalah penting dilakukan secara berulang. Sebab, dengan pengulangan maka akan memudahkan anak untuk mengenang masa indah tersebut. Ritual kasih sayang yang sering diterima anak akan mampu menciptakan kenangan khusus dan memberikan rasa aman sangat besar kepada anak selama hidupnya (John Gray, Ph.D, 2004).
Menciptakan ritual kasih sayang kepada anak adalah sangat penting. Hal tersebut perlu dilakukan supaya anak merasa bahwa dirinya adalah istimewa. Ia merasa bahwa dirinya layak dicintai, diperhatikan, dan disayangi oleh orangtuanya. Melakukan ritual kasih sayang tidak perlu menghabiskan banyak waktu. Yang paling penting dalam melakukan ritual kasih sayang ini adalah bentuk pengulangannya. Contohnya, mengucapkan ‘Mama sayang kamu, Nak….’. Ritual kasih sayang dalam ucapan atau pun perbuatan orangtua yang berulang mencerminkan bukti atau pengakuan bahwa cinta orangtua selalu hadir untuknya selamanya.
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa melakukan upacara yang menyenangkan dan penuh kasih sayang adalah penting dilakukan secara berulang. Sebab, dengan pengulangan maka akan memudahkan anak untuk mengenang masa indah tersebut. Ritual kasih sayang yang sering diterima anak akan mampu menciptakan kenangan khusus dan memberikan rasa aman sangat besar kepada anak selama hidupnya (John Gray, Ph.D, 2004).
Sunday, 3 February 2008
Tips Menangani Anak Aktif
Anak aktif cenderung memiliki lebih banyak energi. Anak aktif akan merasa sulit dan frustrasi jika ia harus duduk lama tanpa melakukan aktivitas apapun. Oleh karena itu, ia memerlukan suatu kegiatan beserta aturan permainan yang jelas. Sebab, apabila kegiatan yang ia lakukan tanpa ada rencana dan aturan terlebih dahulu. Maka, ia akan lepas kendali dan tanpa pikir panjang ia melakukan apa saja yang ia sukai. Dan, mungkin akan terjadi suatu masalah.
Ada beberapa upaya memotivasi anak aktif agar bersikap kooperatif. Yaitu, tempatkanlah dia paling depan atau mintalah ia untuk memimpin sesuatu. Buatlah rencana kerangka kegiatan beserta aturannya sebelum suatu kegiatan dimulai. Dengan demikian, energi yang berlimpah dapat mengalir dengan leluasa tanpa membawanya ke suatu masalah (John Gray, Ph.D, 2004).
Hal lain yang perlu orangtua ketahui dari anak aktif adalah ia sangat perlu merasakan bahwa dirinya dibutuhkan dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, untuk menyalurkan energinya maka orangtua dapat memberikannya suatu tugas seperti membersihkan tempat tidur atau mencuci sepedanya. Katakan kepadanya bahwa orangtua percaya bahwa ia dapat melakukannya dengan baik. Pada umumnya, anak aktif jika diberi kepercayaan ia akan mampu melakukannya dengan baik dan bertanggung jawab. Sebab, anak aktif senang mendapatkan prestasi dan memecahkan rekornya sendiri.
Jika anak berhasil menjalankan suatu kegiatan dengan baik maka janganlah lupa orangtua memberikan pengakuan atas prestasi atau kesuksesannya tersebut. Namun, apabila ia berbuat salah maka maafkanlah ia. Sebab, anak aktif sangat membutuhkan maaf atas kesalahannya. Orangtua perlu memahami dan mempersiapkan ’mental’ bahwa anak aktif biasanya mempunyai kecenderungan lebih banyak melakukan kesalahan. Anak aktif pada umumnya belajar tentang dirinya dari kesalahan (yer).
Ada beberapa upaya memotivasi anak aktif agar bersikap kooperatif. Yaitu, tempatkanlah dia paling depan atau mintalah ia untuk memimpin sesuatu. Buatlah rencana kerangka kegiatan beserta aturannya sebelum suatu kegiatan dimulai. Dengan demikian, energi yang berlimpah dapat mengalir dengan leluasa tanpa membawanya ke suatu masalah (John Gray, Ph.D, 2004).
Hal lain yang perlu orangtua ketahui dari anak aktif adalah ia sangat perlu merasakan bahwa dirinya dibutuhkan dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, untuk menyalurkan energinya maka orangtua dapat memberikannya suatu tugas seperti membersihkan tempat tidur atau mencuci sepedanya. Katakan kepadanya bahwa orangtua percaya bahwa ia dapat melakukannya dengan baik. Pada umumnya, anak aktif jika diberi kepercayaan ia akan mampu melakukannya dengan baik dan bertanggung jawab. Sebab, anak aktif senang mendapatkan prestasi dan memecahkan rekornya sendiri.
Jika anak berhasil menjalankan suatu kegiatan dengan baik maka janganlah lupa orangtua memberikan pengakuan atas prestasi atau kesuksesannya tersebut. Namun, apabila ia berbuat salah maka maafkanlah ia. Sebab, anak aktif sangat membutuhkan maaf atas kesalahannya. Orangtua perlu memahami dan mempersiapkan ’mental’ bahwa anak aktif biasanya mempunyai kecenderungan lebih banyak melakukan kesalahan. Anak aktif pada umumnya belajar tentang dirinya dari kesalahan (yer).
Saturday, 2 February 2008
Membentak Bukan Solusi Baik Memecahkan Masalah Anak
Di dalam keluarga, pertengkaran dan keributan antar anak terkadang sulit untuk dihindarkan. Mereka akan saling berteriak dan bahkan sering berakhir dengan tangisan. Menghadapi situasi seperti itu, tidak jarang orangtua juga ikut membuat situasi bertambah ribut. Orangtua sering merasa tidak tahan dengan keributan yang dilakukan anak-anak. Sehingga merekapun akhirnya marah dan membentak anak dengan kalimat-kalimat yang mungkin dapat membuat anak menjadi bersedih dan merasa tersisihkan. Misalnya, ’Sudah sana kamu pergi ke kamar! Hentikan! bikin ribut saja kamu. Tidak tahu malu, sana menjauh!’.
Perlu orangtua sadari, membentak anak adalah bukan cara yang tepat untuk memecahkan suatu masalah atau mengajarkan pelajaran kepada anak. Sebaliknya, membentak hanya menggantikan masalahnya dengan masalah yang lebih besar lagi. Yaitu, anak yang secara emosional akan merasa terisolasikan dari orangtuanya. Untuk menghindari orangtua membentak anak maka bersikaplah tenang, renungkanlah dulu jawabannya sebelum bicara. Selanjutnya, biarkanlah pikiran-pikiran tenang itu membimbing kita. Boleh dikata tidak ada konflik keluarga yang akan dipecahkan lebih baik dengan ledakan emosional daripada respons yang tenang (David Niven, Ph.D, 2005).
Perlu orangtua sadari, membentak anak adalah bukan cara yang tepat untuk memecahkan suatu masalah atau mengajarkan pelajaran kepada anak. Sebaliknya, membentak hanya menggantikan masalahnya dengan masalah yang lebih besar lagi. Yaitu, anak yang secara emosional akan merasa terisolasikan dari orangtuanya. Untuk menghindari orangtua membentak anak maka bersikaplah tenang, renungkanlah dulu jawabannya sebelum bicara. Selanjutnya, biarkanlah pikiran-pikiran tenang itu membimbing kita. Boleh dikata tidak ada konflik keluarga yang akan dipecahkan lebih baik dengan ledakan emosional daripada respons yang tenang (David Niven, Ph.D, 2005).
Friday, 1 February 2008
Wariskanlah Kasih dan Sayang , Bukan Saja Materi dan Harta Benda
Banyak orangtua beralasan bahwa seringnya mereka tidak ada di rumah sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk ‘bersenang-senang’ bersama anak adalah demi membahagiakan sang anak. Mengumpulkan materi hingga lupa waktu telah membuat mereka sering mengabaikan perinsip, tujuan, dan tanggung jawab utama pada keluarga, terutama anak.
Orangtua seperti di atas mengira bahwa kebahagiaan anak terletak pada materi yang ia miliki. Seperti, memiliki mainan dalam jumlah yang cukup banyak, baby sitter yang berpengalaman, pakaian yang selalu berganti model, memiliki banyak uang untuk membeli apa saja yang diinginkannya, dan persediaan makanan yang beraneka ragam.
Sejatinya, mencari materi supaya dapat memenuhi keinginan anak adalah baik. Namun, mereka harus tetap menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab utama sebagai orangtua. Yaitu, mendidik, mengasuh, dan membesarkan anak dengan cinta, perhatian, dan curahan kasih sayang yang sejati. Anak yang dibesarkan hanya dengan materi saja biasanya akan merasakan hampa hidupnya. Pada umumnya, anak yang kurang perhatian dan kasih sayang orangtua akan menemukan banyak masalah dalam hidupnya. Misalnya, masalah kepercayaan diri, budi pekerti, tanggung jawab, dan masalah disiplin diri.Bahkan, anak kecil sesungguhnya belum memahami arti pentingnya materi untuk dirinya.
Sebagai orangtua tentu ingin memberikan nafkah yang baik bagi keluarga. Dan, meninggalkan sesuatu bagi anak ketika kita berpulang. Tetapi hal terpenting yang dapat orangtua tinggalkan baginya bukanlah uang atau harta benda. Warisan orangtua sebagai keluarga yang mengasihi akan jauh lebih berarti bagi masa depan anak dan keluarga daripada warisan apa pun yang bisa orangtua tinggalkan baginya (David Niven, Ph.D, 2005).
Bagi anak, keberadaan materi dan harta benda adalah sesuatu yang belum ia mengerti dan pahami manfaatnya bagi dirinya. Tetapi, cinta, kasih sayang, perhatian, dan sentuhan yang dapat menenangkan jiwanya adalah sesuatu yang sangat pokok dan selalu ia dambakan dari sosok orangtuanya. Kita semua percaya bahwa ketulusan cinta dan kasih sayang pada anak tidak ada yang dapat menggantikan, kecuali orangtuanya. (yer).
Orangtua seperti di atas mengira bahwa kebahagiaan anak terletak pada materi yang ia miliki. Seperti, memiliki mainan dalam jumlah yang cukup banyak, baby sitter yang berpengalaman, pakaian yang selalu berganti model, memiliki banyak uang untuk membeli apa saja yang diinginkannya, dan persediaan makanan yang beraneka ragam.
Sejatinya, mencari materi supaya dapat memenuhi keinginan anak adalah baik. Namun, mereka harus tetap menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab utama sebagai orangtua. Yaitu, mendidik, mengasuh, dan membesarkan anak dengan cinta, perhatian, dan curahan kasih sayang yang sejati. Anak yang dibesarkan hanya dengan materi saja biasanya akan merasakan hampa hidupnya. Pada umumnya, anak yang kurang perhatian dan kasih sayang orangtua akan menemukan banyak masalah dalam hidupnya. Misalnya, masalah kepercayaan diri, budi pekerti, tanggung jawab, dan masalah disiplin diri.Bahkan, anak kecil sesungguhnya belum memahami arti pentingnya materi untuk dirinya.
Sebagai orangtua tentu ingin memberikan nafkah yang baik bagi keluarga. Dan, meninggalkan sesuatu bagi anak ketika kita berpulang. Tetapi hal terpenting yang dapat orangtua tinggalkan baginya bukanlah uang atau harta benda. Warisan orangtua sebagai keluarga yang mengasihi akan jauh lebih berarti bagi masa depan anak dan keluarga daripada warisan apa pun yang bisa orangtua tinggalkan baginya (David Niven, Ph.D, 2005).
Bagi anak, keberadaan materi dan harta benda adalah sesuatu yang belum ia mengerti dan pahami manfaatnya bagi dirinya. Tetapi, cinta, kasih sayang, perhatian, dan sentuhan yang dapat menenangkan jiwanya adalah sesuatu yang sangat pokok dan selalu ia dambakan dari sosok orangtuanya. Kita semua percaya bahwa ketulusan cinta dan kasih sayang pada anak tidak ada yang dapat menggantikan, kecuali orangtuanya. (yer).
Subscribe to:
Posts (Atom)
