- Boleh saja berbeda.
Seperti kita ketahui bahwa setiap anak adalah unik. Oleh karena itu, orangtua perlu menyadari hal tersebut dari setiap kelebihan dan kekurangan yang anak miliki. Dengan demikian orangtua tidak akan membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan lainnya. Mengetahui perbedaan pada setiap anak akan membantu orangtua untuk lebih berhasil dalam mengasuh anak. - Boleh saja membuat kesalahan.
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Untuk itu, apabila sesekali anak melakukan kesalahan maka maafkanlah dia. Dengan demikian, ia akan belajar memaafkan dirinya sendiri dan juga orang lain. - Boleh saja mempunyai emosi negatif. Anak perlu mengetahui berbagai emosi yang terdapat pada dirinya, seperti halnya emosi negatif. Dengan demikian, ia akan mampu meningkatkan kesadarannya tentang apa yang ia rasakan.
- Boleh saja anak menginginkan sesuatu lebih banyak.
Apabila anak ingin memperoleh sesuatu lebih banyak maka berikanlah kesempatan tersebut kepadanya. Sebab, dengan demikian anak akan semakin mengembangkan kemahirannya dalam bernegosiasi. Ia akan berusaha keras untuk memotivasi seseorang agar memberikan apa yang ia inginkan. - Boleh saja berkata tidak.
Memperbolehkan anak berkata tidak akan membuka pintu baginya untuk mengeksprsikan perasaan dan menemukan apa yang ia inginkan. Orangtua yang mau mendengarkan keinginan dan perasaan anak akan membuat anak dapat bersikap kooperatif.
Thursday, 31 January 2008
5 Pesan Untuk Mengasuh Anak Secara Positif
Para pembaca yang setia, hari ini saya akan berbagi tips penting dari John Gray Ph.D (2004) tentang lima pesan untuk mengasuh anak secara positif. Di antaranya adalah:
Wednesday, 30 January 2008
Tidak Permisif dan Tidak Menghukum
Di masa lalu, memberikan hukuman kepada anak dengan cara memukul, menyiksa, dan mempermalukannya di depan orang lain dapat membuat anak menjadi takut dan mau menurut pada apa yang dikatakan oleh orangtua. Tetapi, di masa sekarang sikap anak sudah berbeda. Anak yang diperlakukan kasar oleh orangtuanya akan balik berbuat kasar kepada orangtuanya. Ia akan bersikap memberontak dan melawan jika ia diperlakukan dengan kasar.
Karena sikap anak telah berubah, perlahan gaya kasar mendidik yang biasa mereka lakukan mulai ditinggalkan. Namun, setelah mereka tahu bahwa mendidik anak dengan cara kekerasan adalah tidak baik. Sekarang mereka bingung, harus menggunakan cara yang seperti apa agar anak tetap terkendali tetapi tidak menggunakan hukuman atau kekerasan.
Salah satu akibat dari keterbatasan ilmu yang dimiliki orangtua, sebagian dari mereka ada yang menggunakan sikap permisif sebagai cara untuk mendidik anak. Orangtua seperti itu akan menghindarkan memberikan hukuman kepada anak walaupun sang anak melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya (tidak sesuai dengan nilai sosial).
Padahal, sikap permisif yang dilakukan oleh orangtua seperti di atas adalah juga tidak baik. Sebab, tindakan orangtua seperti itu dapat membuat anak menjadi manja dan sulit dikendalikan. Dengan demikian maka anak akan memegang kendali atas orangtua. Jika anak menginginkan sesuatu maka orangtua menjadi tidak berdaya menghadapi amukan dan pemberontakan yang dilakukannya. Apabila, hal seperti itu dilakukan anak terus menerus, anak mengendalikan orangtua. Maka, anak akan mendapatkan kesulitan dalam menjalankan hidup.
Bagaimanapun kebutuhan anak telah berubah, tetapi ia tetap memerlukan orang yang dapat mengendalikan dirinya. Anak adalah tetap anak. Ia adalah orang yang belum banyak mendapatkan pengalaman hidup. Oleh karena itu, ia masih banyak membutuhkan arahan serta nasehat dari orangtuanya. Supaya kelak ia menjadi orang yang dapat diterima oleh lingkungannya.
Memberikan kebebasan atau kekuasaan kepada anak adalah tidak salah. Misalnya, membebaskan anak meminta lebih apa yang ia inginkan, memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan suatu kesalahan, membebaskan anak untuk berkata ’tidak’, dan membiarkan anak memiliki emosi negatif. Tetapi, orangtua harus tetap memegang perinsip bahwa kendali selalu ada di pihak mereka.
Dalam menjalankan tugas mendidik anak, hindarilah orangtua bersikap permisif dan terlalu keras dalam menghukum anak. Sebab, sikap permisif yang dilakukan orangtua kepada anak hanya akan membuatnya menjadi manja dan mengambil kendali dari orangtua. Sedangkan membesarkan anak dengan hukuman atau kekerasan akan menghambat perkembangan wajar anak. Selain itu, kekerasan akan membuat pekerjaan orangtua dalam menjalankan tugas membesarkan anak menjadi kurang memberi kebahagiaan (John Gray Ph.D, 2004).
Kesimpulannya, perlakukanlah anak dengan baik dan hormat sebagaimana orangtua memperlakukan orang dewasa. Hindarilah sikap permisif dan melakukan tindakan kekerasan kepada anak. Gunakanlah cara mengasuh anak secara positif. Seperti, memberikan waktu menyendiri untuk anak yang sulit diatur atau suka mengamuk, memberikan pujian dan hadiah atas tindakan positif anak, mengganti kalimat menyuruh dan menuntut dengan kalimat 'meminta'. Dengan pendekatan seperti itu, biasanya anak akan lebih mudah memahami perasaan dan keinginan orangtua. Ia akan mudah diarahkan dan diajak bekerja sama (yer).
Karena sikap anak telah berubah, perlahan gaya kasar mendidik yang biasa mereka lakukan mulai ditinggalkan. Namun, setelah mereka tahu bahwa mendidik anak dengan cara kekerasan adalah tidak baik. Sekarang mereka bingung, harus menggunakan cara yang seperti apa agar anak tetap terkendali tetapi tidak menggunakan hukuman atau kekerasan.
Salah satu akibat dari keterbatasan ilmu yang dimiliki orangtua, sebagian dari mereka ada yang menggunakan sikap permisif sebagai cara untuk mendidik anak. Orangtua seperti itu akan menghindarkan memberikan hukuman kepada anak walaupun sang anak melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya (tidak sesuai dengan nilai sosial).
Padahal, sikap permisif yang dilakukan oleh orangtua seperti di atas adalah juga tidak baik. Sebab, tindakan orangtua seperti itu dapat membuat anak menjadi manja dan sulit dikendalikan. Dengan demikian maka anak akan memegang kendali atas orangtua. Jika anak menginginkan sesuatu maka orangtua menjadi tidak berdaya menghadapi amukan dan pemberontakan yang dilakukannya. Apabila, hal seperti itu dilakukan anak terus menerus, anak mengendalikan orangtua. Maka, anak akan mendapatkan kesulitan dalam menjalankan hidup.
Bagaimanapun kebutuhan anak telah berubah, tetapi ia tetap memerlukan orang yang dapat mengendalikan dirinya. Anak adalah tetap anak. Ia adalah orang yang belum banyak mendapatkan pengalaman hidup. Oleh karena itu, ia masih banyak membutuhkan arahan serta nasehat dari orangtuanya. Supaya kelak ia menjadi orang yang dapat diterima oleh lingkungannya.
Memberikan kebebasan atau kekuasaan kepada anak adalah tidak salah. Misalnya, membebaskan anak meminta lebih apa yang ia inginkan, memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan suatu kesalahan, membebaskan anak untuk berkata ’tidak’, dan membiarkan anak memiliki emosi negatif. Tetapi, orangtua harus tetap memegang perinsip bahwa kendali selalu ada di pihak mereka.
Dalam menjalankan tugas mendidik anak, hindarilah orangtua bersikap permisif dan terlalu keras dalam menghukum anak. Sebab, sikap permisif yang dilakukan orangtua kepada anak hanya akan membuatnya menjadi manja dan mengambil kendali dari orangtua. Sedangkan membesarkan anak dengan hukuman atau kekerasan akan menghambat perkembangan wajar anak. Selain itu, kekerasan akan membuat pekerjaan orangtua dalam menjalankan tugas membesarkan anak menjadi kurang memberi kebahagiaan (John Gray Ph.D, 2004).
Kesimpulannya, perlakukanlah anak dengan baik dan hormat sebagaimana orangtua memperlakukan orang dewasa. Hindarilah sikap permisif dan melakukan tindakan kekerasan kepada anak. Gunakanlah cara mengasuh anak secara positif. Seperti, memberikan waktu menyendiri untuk anak yang sulit diatur atau suka mengamuk, memberikan pujian dan hadiah atas tindakan positif anak, mengganti kalimat menyuruh dan menuntut dengan kalimat 'meminta'. Dengan pendekatan seperti itu, biasanya anak akan lebih mudah memahami perasaan dan keinginan orangtua. Ia akan mudah diarahkan dan diajak bekerja sama (yer).
Tuesday, 29 January 2008
Mengetahui Kebutuhan Anak, Memotivasi Orangtua Menciptakan Lebih Banyak Waktu Bersama Anak
Di zaman sekarang, kebanyakan orangtua tidak memiliki cukup waktu untuk anak. Sebagian mereka ada yang sulit menyediakan waktu untuk anak karena sibuk dengan pekerjaan di kantor. Selain itu, ada juga orangtua yang sibuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan diri sendiri sehingga waktu untuk anak menjadi tersita.
Padahal, perlu orangtua sadari bahwa memberikan waktu kepada anak adalah sangat penting. Semakin banyak orangtua memberikan waktu bersama anak, semakin erat ikatan bathin anak kepada orangtua. Anak yang bathinnya sudah menyatu dengan orangtua biasanya akan lebih mudah mengerti dan memahami perasaan orang tuanya. Ia akan cenderung lebih patuh. Dengan demikian, tugas orangtua mengasuh dan mengarahkan anak akan menjadi terasa lebih ringan.
Salah satu cara agar orangtua dapat lebih banyak menciptakan waktu untuk anak adalah mengetahui terlebih dahulu kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh anak. Sebab, apabila seorang ayah tidak tahu apa yang dapat ia lakukan untuk membantu anak. Maka, ia sering tidak berbuat apa-apa. Dan, apabila seorang ibu tidak sadar akan apa yang dibutuhkan anak. Maka, ia akan semakin sering membuat hal-hal lain menjadi lebih penting (John Gray Ph.D, 2004). Sehingga, orangtua yang tidak mengetahui kebutuhan anak seperti itu akan menempatkan waktu untuk anak menjadi prioritas yang paling rendah.
Sejatinya, perlu orangtua ketahui bahwa anak tidak hanya membutuhkan materi saja. Tetapi, hal lain yang sangat penting bagi anak adalah terpenuhinya kebutuhan rohani. Misalnya, kebutuhan akan perhatian, nasehat, pengertian, kasih sayang, dan cinta dari orangtuanya.
Kesimpulannya, orangtua yang mengetahui banyak tentang kebutuhan anak tentu akan lebih termotivasi untuk menciptakan lebih banyak waktu bersama anak. Sebab, dengan menyediakan lebih banyak waktu bersama anak. Maka, orangtua akan merasakan lebih ringan dalam menjalankan tugas mengasuh dan mendidik anak. Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa anak yang telah terpenuhi dengan baik kebutuhannya maka akan cenderung membuat anak tersebut menjadi lebih patuh terhadap orangtuanya. Ia akan lebih mudah bersikap kooperatif dan memahami perasaan orang lain, terutama orangtuanya (yer).
Padahal, perlu orangtua sadari bahwa memberikan waktu kepada anak adalah sangat penting. Semakin banyak orangtua memberikan waktu bersama anak, semakin erat ikatan bathin anak kepada orangtua. Anak yang bathinnya sudah menyatu dengan orangtua biasanya akan lebih mudah mengerti dan memahami perasaan orang tuanya. Ia akan cenderung lebih patuh. Dengan demikian, tugas orangtua mengasuh dan mengarahkan anak akan menjadi terasa lebih ringan.
Salah satu cara agar orangtua dapat lebih banyak menciptakan waktu untuk anak adalah mengetahui terlebih dahulu kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh anak. Sebab, apabila seorang ayah tidak tahu apa yang dapat ia lakukan untuk membantu anak. Maka, ia sering tidak berbuat apa-apa. Dan, apabila seorang ibu tidak sadar akan apa yang dibutuhkan anak. Maka, ia akan semakin sering membuat hal-hal lain menjadi lebih penting (John Gray Ph.D, 2004). Sehingga, orangtua yang tidak mengetahui kebutuhan anak seperti itu akan menempatkan waktu untuk anak menjadi prioritas yang paling rendah.
Sejatinya, perlu orangtua ketahui bahwa anak tidak hanya membutuhkan materi saja. Tetapi, hal lain yang sangat penting bagi anak adalah terpenuhinya kebutuhan rohani. Misalnya, kebutuhan akan perhatian, nasehat, pengertian, kasih sayang, dan cinta dari orangtuanya.
Kesimpulannya, orangtua yang mengetahui banyak tentang kebutuhan anak tentu akan lebih termotivasi untuk menciptakan lebih banyak waktu bersama anak. Sebab, dengan menyediakan lebih banyak waktu bersama anak. Maka, orangtua akan merasakan lebih ringan dalam menjalankan tugas mengasuh dan mendidik anak. Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa anak yang telah terpenuhi dengan baik kebutuhannya maka akan cenderung membuat anak tersebut menjadi lebih patuh terhadap orangtuanya. Ia akan lebih mudah bersikap kooperatif dan memahami perasaan orang lain, terutama orangtuanya (yer).
Monday, 28 January 2008
Tips meciptakan Anak 'Penurut'
Jika di rumah anak terlalu banyak dirangsang oleh agresi atau ancaman dan hukuman. Maka, akan terciptalah sifat hiperaktif pada anak laki-laki atau apa yang sekarang didiagnosis sebagai ‘gangguan karena kurang mendapat perhatian’. Sedangkan pada anak perempuan, kecenderungan agresif akan diwujudkan terhadap diri sendiri berupa perasaan kurang harga diri dan gangguan makan (John Gray, P.hd, 2004).
Pada zaman dulu, kebanyakan orangtua mendidik anak dengan cara memberikan ancaman, pukulan, dan hukuman. Tindakan tersebut dilakukan untuk memegang kendali agar anak tetap menurut pada apa yang diperintahkan oleh orangtuanya. Pada saat itu, anak menurut karena takut.
Namun, di zaman sekarang banyak anak telah berubah. Ia akan semakin menolak dan berontak apabila diperlakukan kasar dan diancam oleh orangtuanya. Tetapi, jika anak diperlakukan dengan pola asuh positif. Misalnya, dengan memberikan pengertian, perhatian, dan tidak menyuruh anak dengan ancaman melainkan dengan cara 'meminta. Maka, iapun akan menjadi anak yang cenderung penurut. Ia mengikuti apa yang diinginkan orangtua atas dasar mengerti dan memahami bukan karena rasa takut pada orangtua.
Contoh kasus, jika orangtua ingin menyuruh anak agar tidak bermain bola di dalam rumah. Maka, cobalah untuk tidak memberikan ancaman kepadanya. Seperti mengatakan 'awas ya, kalau ade melakukannya lagi nanti mama akan bilangin ke papa. Ade nanti bakal dipukul'.
Tindakan orangtua seperti di atas boleh jadi membuat anak merasa penasaran dengan perkataan yang diucapkan oleh orangtuanya tersebut. Oleh karena itu, anak mungkin bukannya berhenti dari tindakannya. Tetapi, mungkin ia malah akan semakin sengaja melakukan tindakan negatif tersebut sampai ia mendapatkan jawaban dari reaksi orangtua yang sebenarnya. Yaitu, apakah hanya menakut-nakuti atau memang benar-benar mereka akan memukulnya.
Menyikapi tindakan anak seperti di atas, orangtua sebaiknya melakukan pendekatan positif. Misalnya, mengganti kalimat mengancam di atas dengan kalimat meminta. Contohnya, 'mau kan ade berhenti bermain bola di dalam rumah? Atau 'biar lebih asyik, ayo kita bermain bola dengan mama di halaman rumah sekarang!’.
Beberapa hal yang juga penting dilakukan orangtua ketika sedang mengajarkan anak tentang mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak. Adalah, selain perlu dilakukan secara berulang-ulang dengan penuh kesabaran juga orangtuapun harus berusaha mengganti setiap kalimat yang bernada mengancam dengan kalimat ‘meminta’. Sehingga, dengan demikian secara perlahan kepakaan anakpun untuk dapat membedakan hal yang baik dan tidak akan semakin terasah, anak akan cenderung menjadi ’penurut’. Anak akan 'menurut' tetapi bukan karena takut. Melainkan karena ia 'mengerti' (yer).
Pada zaman dulu, kebanyakan orangtua mendidik anak dengan cara memberikan ancaman, pukulan, dan hukuman. Tindakan tersebut dilakukan untuk memegang kendali agar anak tetap menurut pada apa yang diperintahkan oleh orangtuanya. Pada saat itu, anak menurut karena takut.
Namun, di zaman sekarang banyak anak telah berubah. Ia akan semakin menolak dan berontak apabila diperlakukan kasar dan diancam oleh orangtuanya. Tetapi, jika anak diperlakukan dengan pola asuh positif. Misalnya, dengan memberikan pengertian, perhatian, dan tidak menyuruh anak dengan ancaman melainkan dengan cara 'meminta. Maka, iapun akan menjadi anak yang cenderung penurut. Ia mengikuti apa yang diinginkan orangtua atas dasar mengerti dan memahami bukan karena rasa takut pada orangtua.
Contoh kasus, jika orangtua ingin menyuruh anak agar tidak bermain bola di dalam rumah. Maka, cobalah untuk tidak memberikan ancaman kepadanya. Seperti mengatakan 'awas ya, kalau ade melakukannya lagi nanti mama akan bilangin ke papa. Ade nanti bakal dipukul'.
Tindakan orangtua seperti di atas boleh jadi membuat anak merasa penasaran dengan perkataan yang diucapkan oleh orangtuanya tersebut. Oleh karena itu, anak mungkin bukannya berhenti dari tindakannya. Tetapi, mungkin ia malah akan semakin sengaja melakukan tindakan negatif tersebut sampai ia mendapatkan jawaban dari reaksi orangtua yang sebenarnya. Yaitu, apakah hanya menakut-nakuti atau memang benar-benar mereka akan memukulnya.
Menyikapi tindakan anak seperti di atas, orangtua sebaiknya melakukan pendekatan positif. Misalnya, mengganti kalimat mengancam di atas dengan kalimat meminta. Contohnya, 'mau kan ade berhenti bermain bola di dalam rumah? Atau 'biar lebih asyik, ayo kita bermain bola dengan mama di halaman rumah sekarang!’.
Beberapa hal yang juga penting dilakukan orangtua ketika sedang mengajarkan anak tentang mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak. Adalah, selain perlu dilakukan secara berulang-ulang dengan penuh kesabaran juga orangtuapun harus berusaha mengganti setiap kalimat yang bernada mengancam dengan kalimat ‘meminta’. Sehingga, dengan demikian secara perlahan kepakaan anakpun untuk dapat membedakan hal yang baik dan tidak akan semakin terasah, anak akan cenderung menjadi ’penurut’. Anak akan 'menurut' tetapi bukan karena takut. Melainkan karena ia 'mengerti' (yer).
Sunday, 27 January 2008
'Meminta' Merupakan Cara Efektif Untuk 'Menyuruh' Anak
Kita percaya bahwa setiap orang tentu akan merasa lebih senang jika dimintai tolong untuk melakukan sesuatu daripada diperintah atau dituntut. Demikian juga anak. Pada umumnya, anak tidak akan tanggap atau akan cenderung menolak apabila orangtua mengatakan sesuatu kepadanya dengan kalimat memerintah. Sebaliknya, anak akan sulit untuk menolak apa yang dikatakan orangtua apabila mereka mengatakannya dengan kalimat ‘meminta’.
Di bawah ini adalah beberapa alternatif kalimat meminta yang dapat disampaikan orangtua agar anak dapat bersikap kooperatif (John Gray, Ph.D, 2004). Di antaranya,
Memerintah
Singkirkan itu.
Meminta
Ayo kita rapikan kamar ini.
Kamu mau kan menyingkirkan itu?
Memerintah
Jangan memukul adikmu.
Meminta
Tolong, mulai sekarang, jangan lagi memukul adikmu.
Ayo kita berusahan hidup rukun.
Memerintah
Jangan berbicara.
Meminta
Mari kita tenang sebentar dan mendengarkan kata ibu.
Tolong, jangan bicara.
Memerintah
Ikat tali sepatumu.
Meminta
Ayo kita siap-siap.
Tolong, ikatkan tali sepatumu.
Dengan cara meminta seperti di atas, biasanya anak akan mau menuruti atau melakukan apa yang diperintahkan dan diinginkan orangtua tanpa merasa bahwa ia disuruh atau diperintah (yer).
Di bawah ini adalah beberapa alternatif kalimat meminta yang dapat disampaikan orangtua agar anak dapat bersikap kooperatif (John Gray, Ph.D, 2004). Di antaranya,
Memerintah
Singkirkan itu.
Meminta
Ayo kita rapikan kamar ini.
Kamu mau kan menyingkirkan itu?
Memerintah
Jangan memukul adikmu.
Meminta
Tolong, mulai sekarang, jangan lagi memukul adikmu.
Ayo kita berusahan hidup rukun.
Memerintah
Jangan berbicara.
Meminta
Mari kita tenang sebentar dan mendengarkan kata ibu.
Tolong, jangan bicara.
Memerintah
Ikat tali sepatumu.
Meminta
Ayo kita siap-siap.
Tolong, ikatkan tali sepatumu.
Dengan cara meminta seperti di atas, biasanya anak akan mau menuruti atau melakukan apa yang diperintahkan dan diinginkan orangtua tanpa merasa bahwa ia disuruh atau diperintah (yer).
Saturday, 26 January 2008
Tantangan dan Masalah Hidup Membuat Anak Lebih 'Kuat'
Dalam menjalankan kehidupan ini, setiap manusia tentu pernah menghadapi berbagai macam kesulitan dan tantangan hidup. Situasi sulit tersebut terjadi tidak hanya pada orangtua dan orang dewasa saja, tetapi juga pada anak-anak. Misalnya, sulit belajar, gagal dalam mencapai suatu tujuan, dan tidak dapat hidup mandiri.
Adalah tidak baik jika orangtua selalu memberikan perlindungan kepada anak supaya terhindar dari berbagai masalah dan tantangan hidup. Tidakan orangtua tersebut hanya akan membuat anak menjadi orang yang tidak berdaya, tidak mampu bertahan hidup untuk menjadi orang yang kuat dan berhasil.
Sesungguhnya, tugas yang paling penting bagi orangtua ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup yang sedang dialami oleh anak adalah memberikan bantuan kepadanya. Sebab, pada dasarnya anak tidak dapat tumbuh dan mengembangkan kemampuannya untuk dapat hidup berhasil tanpa bantuan dari orangtua.
Bagi setiap anak, proses tumbuh dengan sehat berarti akan ada waktu-waktu penuh tantangan (John Gray Ph.D, 2004). Di bawah ini adalah beberapa tantangan dan kesulitan hidup yang sering dialami oleh anak. Di antaranya:
Kesimpulannya, Janganlah orangtua merasa terlalu khawatir dengan tantangan dan kesulitan hidup yang dialami anak. Sebab, hal seperti itu dapat membuat anak menjadi lebih memiliki kekuatan dalam menjalankan hidup ini. Lihatlah selalu sisi positif dari kesulitan dan tantangan hidup yang dialami oleh anak. Sejatinya, dari berbagai masalah dan tantangan hidup ini terdapat banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh anak untuk mencapai hidupnya menjadi orang yang mandiri dan percaya diri. Yang paling penting perlu orangtua lakukan apabila anak sedang mengalami kesulitan hidup adalah memberikan bantuan, dukungan, dan cinta kepadanya (yer).
Adalah tidak baik jika orangtua selalu memberikan perlindungan kepada anak supaya terhindar dari berbagai masalah dan tantangan hidup. Tidakan orangtua tersebut hanya akan membuat anak menjadi orang yang tidak berdaya, tidak mampu bertahan hidup untuk menjadi orang yang kuat dan berhasil.
Sesungguhnya, tugas yang paling penting bagi orangtua ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup yang sedang dialami oleh anak adalah memberikan bantuan kepadanya. Sebab, pada dasarnya anak tidak dapat tumbuh dan mengembangkan kemampuannya untuk dapat hidup berhasil tanpa bantuan dari orangtua.
Bagi setiap anak, proses tumbuh dengan sehat berarti akan ada waktu-waktu penuh tantangan (John Gray Ph.D, 2004). Di bawah ini adalah beberapa tantangan dan kesulitan hidup yang sering dialami oleh anak. Di antaranya:
- Anak-anak tidak dapat mengembangkan ketekunan dan keteguhan kalau segala sesuatunya berjalan mudah
- Anak-anak tidak akan belajar kreatif kalau segala sesuatunya telah diselesaikan bagi mereka
- Anak-anak tidak dapat belajar mengoreksi diri kalau mereka tidak pernah mengalami kesulitan, kegagalan, dan kekeliruan
- Anak-anak tidak dapat mengembangkan sikap mandiri kalau mereka tidak pernah mengalami terpencil dan dijauhi orang lain
Kesimpulannya, Janganlah orangtua merasa terlalu khawatir dengan tantangan dan kesulitan hidup yang dialami anak. Sebab, hal seperti itu dapat membuat anak menjadi lebih memiliki kekuatan dalam menjalankan hidup ini. Lihatlah selalu sisi positif dari kesulitan dan tantangan hidup yang dialami oleh anak. Sejatinya, dari berbagai masalah dan tantangan hidup ini terdapat banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh anak untuk mencapai hidupnya menjadi orang yang mandiri dan percaya diri. Yang paling penting perlu orangtua lakukan apabila anak sedang mengalami kesulitan hidup adalah memberikan bantuan, dukungan, dan cinta kepadanya (yer).
Friday, 25 January 2008
Orangtua Bijak Menghadapi Kesalahan Anak
Anak berbuat suatu kesalahan adalah wajar. Hal seperti itu termasuk manusiawi. Seyogyanya, setiap anak tentu tidak ingin melakukan dan mengecewakan orangtuanya dengan melakukan kesalahan. Oleh karena itu, terimalah dan maafkanlah ia apabila sesekali anak melakukan kesalahan. Karena, boleh jadi kesalahan tersebut adalah faktor ketidaksengajaan atau keingintahuan anak terhadap sesuatu hal.
Memberitahu, memperingatkan, dan mengajarkan anak supaya lebih berhati-hati dalam bertindak adalah penting. Hal ini perlu orangtua lakukan supaya anak dapat lebih pasti dalam bertindak. Iapun akan semakin mahir membedakan tindakan mana yang benar dan mana yang salah.
Mengajarkan anak untuk bersikap waspada sebagai upaya mengurangi kesalahan dalam bertindak tidak perlu menggunakan hukuman dengan kekerasan. Sebab, menghukum dan mempermalukan anak karena kesalahannya hanya akan membuat anak tidak mencintai dirinya sendiri. Ia akan memandang dirinya rendah. Ia berpendapat bahwa dirinya tidak mampu melakukan hal yang baik, selalu mengecewakan dan bahkan ia akan selalu menganggap bahwa dirinya sudah tidak lagi berharga di mata orangtuanya. Dengan demikian, kondisi tersebut bisa saja mendorong anak untuk melakukan tindakan negatif. Misalnya, narkoba, frustrasi, dan bahkan bunuh diri.
Sejatinya, anak belajar dari apa yang diperlihatkan orangtuanya. Apabila orangtua sesekali melakukan kesalahan dan mereka mau meminta maaf atas kesalahannya tersebut maka anak bukan saja akan belajar bertanggung jawab. Tetapi, dengan berulang-ulang memaafkan orangtua setiap kali orangtua melakukan kesalahan. Maka, lambat laun anak akan semkin menyadari pentingnya kemauan memberi maaf (John Gray, Ph.D,2004)
Kesimpulannya, supaya anak mampu mencintai dirinya sendiri, dapat bertindak dengan penuh tanggung jawab, dan mampu memaafkan diri serta orang lain. Maka, ketika anak melakukan suatu kesalahan hindarilah orangtua memarahi, menghukum, dan mempermalukan anak. Sebaliknya, berikanlah maaf kepadanya. Tetaplah memperlakukan anak dengan penuh cinta. Luruskanlah kesalahan anak dengan cara yang bijaksana dan penuh dengan kelembutan. Janganlah orangtua melakukan kekerasan, ancaman, dan hukuman sebagai cara untuk mendidik supaya anak tidak bersikap salah.
Selain hal di atas, adalah penting bagi orangtua untuk tidak merasa ’rendah’ atau gengsi jika meminta maaf kepada anak atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, apabila anak melakukan suatu kesalahan maka iapun tidak akan sulit meminta maaf. Bahkan, mungkin saja contoh baik yang telah dilakukan orangtua tersebut dapat mendukung anak menjadi orang yang terbiasa memaafkan kesalahan orang lain (yer).
Memberitahu, memperingatkan, dan mengajarkan anak supaya lebih berhati-hati dalam bertindak adalah penting. Hal ini perlu orangtua lakukan supaya anak dapat lebih pasti dalam bertindak. Iapun akan semakin mahir membedakan tindakan mana yang benar dan mana yang salah.
Mengajarkan anak untuk bersikap waspada sebagai upaya mengurangi kesalahan dalam bertindak tidak perlu menggunakan hukuman dengan kekerasan. Sebab, menghukum dan mempermalukan anak karena kesalahannya hanya akan membuat anak tidak mencintai dirinya sendiri. Ia akan memandang dirinya rendah. Ia berpendapat bahwa dirinya tidak mampu melakukan hal yang baik, selalu mengecewakan dan bahkan ia akan selalu menganggap bahwa dirinya sudah tidak lagi berharga di mata orangtuanya. Dengan demikian, kondisi tersebut bisa saja mendorong anak untuk melakukan tindakan negatif. Misalnya, narkoba, frustrasi, dan bahkan bunuh diri.
Sejatinya, anak belajar dari apa yang diperlihatkan orangtuanya. Apabila orangtua sesekali melakukan kesalahan dan mereka mau meminta maaf atas kesalahannya tersebut maka anak bukan saja akan belajar bertanggung jawab. Tetapi, dengan berulang-ulang memaafkan orangtua setiap kali orangtua melakukan kesalahan. Maka, lambat laun anak akan semkin menyadari pentingnya kemauan memberi maaf (John Gray, Ph.D,2004)
Kesimpulannya, supaya anak mampu mencintai dirinya sendiri, dapat bertindak dengan penuh tanggung jawab, dan mampu memaafkan diri serta orang lain. Maka, ketika anak melakukan suatu kesalahan hindarilah orangtua memarahi, menghukum, dan mempermalukan anak. Sebaliknya, berikanlah maaf kepadanya. Tetaplah memperlakukan anak dengan penuh cinta. Luruskanlah kesalahan anak dengan cara yang bijaksana dan penuh dengan kelembutan. Janganlah orangtua melakukan kekerasan, ancaman, dan hukuman sebagai cara untuk mendidik supaya anak tidak bersikap salah.
Selain hal di atas, adalah penting bagi orangtua untuk tidak merasa ’rendah’ atau gengsi jika meminta maaf kepada anak atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, apabila anak melakukan suatu kesalahan maka iapun tidak akan sulit meminta maaf. Bahkan, mungkin saja contoh baik yang telah dilakukan orangtua tersebut dapat mendukung anak menjadi orang yang terbiasa memaafkan kesalahan orang lain (yer).
Thursday, 24 January 2008
Anak Boleh Berkata Tidak, Namun Orangtua Tetap Memegang Kendali
Di lingkungan kita, sebagian besar orangtua masih merasa khawatir apabila mereka terlalu banyak memberikan kekuasaan kepada anak. Misalnya, memberikan kekuasaan kepada anak untuk boleh berkata tidak. Mereka takut kekuasaan tersebut akan membuat anak menjadi orang yang manja dan selalu menuntut. Oleh karena itu, masih banyak orangtua di sekeliling kita yang selalu menuntut anak agar menuruti setiap hal yang mereka perintahkan dan inginkan. Bahkan, orangtua seperti ini akan marah apabila anak tidak patuh dan menuruti perkataan mereka.
Seyogyanya perlu orangtua pahami bahwa memberikan izin kepada anak untuk dapat berkata tidak, bukan berarti anak bebas melakukan apa saja yang ia inginkan. Sehingga orangtua harus selalu memenuhi segala keinginannya dan anak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Anak boleh berkata tidak tetapi kendali harus tetap ada di pihak orangtua. Maksudnya, orangtua harus tetap memegang kendali terhadap anak. Apabila anak tidak mau menyesuaikan dengan apa yang diinginkan orangtua (anak sering lepas kendali). Maka, orangtua perlu segera mengendalikannya. Contohnya, dengan cara mengajarkan kepada anak agar dapat bersikap kooperatif. Salah satu caranya adalah meberikan waktu sendiri kepada anak yang disesuaikan dengan usia anak. Apabila anak berusia empat tahun maka berikan waktu sendiri untuk merenung selama maksimal empat menit. Biarkan ia merasakan hidup sendiri dalam beberapa menit. Dengan demikian, ia akan merasakan kembali bahwa ia membutuhkan orangtua. Iapun akan berusaha untuk menyenangkan orangtuanya.
Apabila di dalam keluarganya ia sudah terbiasa memperoleh kesempatan untuk berkata tidak. Maka, ketika dewasa kelak ia akan sangat kecil kemungkinannya menjadi orang yang pemberontak dan melakukan apa saja yang bertentangan dengan keinginan orangtua. Sebaliknya, ia akan menjadi orang yang bersikap kooperatif dan selalu kembali kepada orangtua untuk mendapatkan cinta dan dukungan.
Orangtua bijak biasanya akan selalu memberikan kesempatan kepada anak untuk berkata tidak. Mereka akan mendengarkan apa yang diiginkan dan dirasakan oleh anak. Dengan memperbolehkan anak mereka berkata tidak berarti orangtua telah membuka pintu bagi anak untuk mengekspresikan perasaan dan menemukan apa yang ia inginkan. Hal seperti itu akan membuat anak bersikap kooperatif (John Gray, Ph.D, 2004).
Anak yang selalu dituntut untuk menuruti keinginan dan permintaan orangtua tetapi tidak diberikan kesempatan untuknya berkata tidak. Maka, hanya akan membuat anak menjadi orang yang penurut namun hanya menuruti perintah saja. Ia tidak berpikir, berpartisipasi, maupun berperasaan terhadap apa yang ia kerjakan (yer).
Seyogyanya perlu orangtua pahami bahwa memberikan izin kepada anak untuk dapat berkata tidak, bukan berarti anak bebas melakukan apa saja yang ia inginkan. Sehingga orangtua harus selalu memenuhi segala keinginannya dan anak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Anak boleh berkata tidak tetapi kendali harus tetap ada di pihak orangtua. Maksudnya, orangtua harus tetap memegang kendali terhadap anak. Apabila anak tidak mau menyesuaikan dengan apa yang diinginkan orangtua (anak sering lepas kendali). Maka, orangtua perlu segera mengendalikannya. Contohnya, dengan cara mengajarkan kepada anak agar dapat bersikap kooperatif. Salah satu caranya adalah meberikan waktu sendiri kepada anak yang disesuaikan dengan usia anak. Apabila anak berusia empat tahun maka berikan waktu sendiri untuk merenung selama maksimal empat menit. Biarkan ia merasakan hidup sendiri dalam beberapa menit. Dengan demikian, ia akan merasakan kembali bahwa ia membutuhkan orangtua. Iapun akan berusaha untuk menyenangkan orangtuanya.
Apabila di dalam keluarganya ia sudah terbiasa memperoleh kesempatan untuk berkata tidak. Maka, ketika dewasa kelak ia akan sangat kecil kemungkinannya menjadi orang yang pemberontak dan melakukan apa saja yang bertentangan dengan keinginan orangtua. Sebaliknya, ia akan menjadi orang yang bersikap kooperatif dan selalu kembali kepada orangtua untuk mendapatkan cinta dan dukungan.
Orangtua bijak biasanya akan selalu memberikan kesempatan kepada anak untuk berkata tidak. Mereka akan mendengarkan apa yang diiginkan dan dirasakan oleh anak. Dengan memperbolehkan anak mereka berkata tidak berarti orangtua telah membuka pintu bagi anak untuk mengekspresikan perasaan dan menemukan apa yang ia inginkan. Hal seperti itu akan membuat anak bersikap kooperatif (John Gray, Ph.D, 2004).
Anak yang selalu dituntut untuk menuruti keinginan dan permintaan orangtua tetapi tidak diberikan kesempatan untuknya berkata tidak. Maka, hanya akan membuat anak menjadi orang yang penurut namun hanya menuruti perintah saja. Ia tidak berpikir, berpartisipasi, maupun berperasaan terhadap apa yang ia kerjakan (yer).
Wednesday, 23 January 2008
Boleh Meminta Lebih, Membuat Anak Mahir Bernegosiasi
Ada suatu kebiasaan orangtua di masyarakat kita yang selalu akan melarang apabila anak meminta lebih terhadap apa yang diinginkan olehnya. Misalnya, ingin makanan, mainan, atau perhatian. Pada umumnya, orangtua akan melarang anak mereka untuk meminta sesuatu lebih karena khawatir bahwa kebiasaannya tersebut akan terbawa sampai ia dewasa kelak. Selain itu, merekapun takut kalau anak mereka nanti akan menjadi orang yang serakah dan tidak dapat bersyukur pada apa yang ia miliki.
Kekhawatiran orangtua seperti di atas memang tidak sepenuhnya benar. Sebab, perlu orangtua pahami bahwa memberikan kebebasan meminta lebih terhadap apa yang ia inginkan adalah penting. Sebab, dengan demikian maka kekuasaan bathin anak untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan mempunyai kesempatan untuk berkembang. Setelah dewasa nanti ia tidak akan begitu saja menerima jawaban tidak. Karena, ketika masih anak ia belajar bernegosiasi dan sering memotivasi orangtua untuk memberikan apa yang ia inginkan (John Gray, Ph.D, 2004).
Memberikan kebebasan kepada anak untuk boleh meminta lebih berarti orangtua telah mengajarkan kepadanya tentang kepemimpinan dan kekuasaan dalam kehidupan. Dengan diperbolehkannya ia meminta lebih terhadap apa yang diinginkannya maka iapun mempunyai kesempatan untuk lebih mengembangkan kemampuan dirinya dalam bernegosiasi.
Membebaskan anak dalam hal meminta lebih adalah perlu cara yang tepat. Maksudnya, orangtua harus dapat mengajarkan kepada anak bahwa meminta lebih adalah boleh ia lakukan. Tetapi, pada saat memintanya ia harus tetap menghargai orang lain. Yaitu, tidak dengan cara memaksa melainkan dengan cara negosiasi yang baik. Selain itu, apabila orangtua ingin mengatakan tidak pada apa yang ia minta maka berusahalah menolak tanpa membuatnya menjadi marah. Misalnya, dengan cara memberikan alternatif lain yang anak sukai.
Contoh kasus, anak tetap meminta orangtua membelikannya sebungkus permen. Namun, orangtua tetap tidak setuju karena makan permen secara berlebihan tidak baik untuk gigi. Maka, orangtua dapat memberikan alternatif lain misalnya menawarkan anak membeli atau menyewa film yang ia sukai.
Dengan memberikan kebebasan kepada anak untuk meminta lebih maka ia akan tahu tentang hal-hal apa saja yang dapat ia peroleh secara lebih, dan apa saja yang tidak. Secara perlahan, anakpun akan semakin mahir dalam bernegosiasi. Ia semakin tahu dan hanya meminta lebih pada apa yang ia percaya akan mendapatkan jawaban ya. Apabila ia mendapatkan jawaban tidak setelah bernegosiasi maka biasanya iapun akan mampu menerimanya (yer).
Kekhawatiran orangtua seperti di atas memang tidak sepenuhnya benar. Sebab, perlu orangtua pahami bahwa memberikan kebebasan meminta lebih terhadap apa yang ia inginkan adalah penting. Sebab, dengan demikian maka kekuasaan bathin anak untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan mempunyai kesempatan untuk berkembang. Setelah dewasa nanti ia tidak akan begitu saja menerima jawaban tidak. Karena, ketika masih anak ia belajar bernegosiasi dan sering memotivasi orangtua untuk memberikan apa yang ia inginkan (John Gray, Ph.D, 2004).
Memberikan kebebasan kepada anak untuk boleh meminta lebih berarti orangtua telah mengajarkan kepadanya tentang kepemimpinan dan kekuasaan dalam kehidupan. Dengan diperbolehkannya ia meminta lebih terhadap apa yang diinginkannya maka iapun mempunyai kesempatan untuk lebih mengembangkan kemampuan dirinya dalam bernegosiasi.
Membebaskan anak dalam hal meminta lebih adalah perlu cara yang tepat. Maksudnya, orangtua harus dapat mengajarkan kepada anak bahwa meminta lebih adalah boleh ia lakukan. Tetapi, pada saat memintanya ia harus tetap menghargai orang lain. Yaitu, tidak dengan cara memaksa melainkan dengan cara negosiasi yang baik. Selain itu, apabila orangtua ingin mengatakan tidak pada apa yang ia minta maka berusahalah menolak tanpa membuatnya menjadi marah. Misalnya, dengan cara memberikan alternatif lain yang anak sukai.
Contoh kasus, anak tetap meminta orangtua membelikannya sebungkus permen. Namun, orangtua tetap tidak setuju karena makan permen secara berlebihan tidak baik untuk gigi. Maka, orangtua dapat memberikan alternatif lain misalnya menawarkan anak membeli atau menyewa film yang ia sukai.
Dengan memberikan kebebasan kepada anak untuk meminta lebih maka ia akan tahu tentang hal-hal apa saja yang dapat ia peroleh secara lebih, dan apa saja yang tidak. Secara perlahan, anakpun akan semakin mahir dalam bernegosiasi. Ia semakin tahu dan hanya meminta lebih pada apa yang ia percaya akan mendapatkan jawaban ya. Apabila ia mendapatkan jawaban tidak setelah bernegosiasi maka biasanya iapun akan mampu menerimanya (yer).
Tuesday, 22 January 2008
Beberapa Alternatif 'Menyentuh' Anak
Sebagian anak ada yang lebih suka meminta maaf duluan apabila ia telah melakukan suatu tindakan yang membuat kesal dan marah orangtuanya. Ia biasanya akan berusaha melakukan perdamaian dengan cara mendekatkan diri kepada orangtua. Misalnya, mencium, memeluk, dan merangkul orangtuanya. Orangtua bijak tentu akan membalas ‘sentuhan’ anak tersebut sebagai tanda bahwa mereka memaafkan dan tetap mencintai dirinya.
Namun, apabila sesekali orangtua melakukan kesalahan kepada anak sehingga membuatnya marah maka sebaiknya orangtua segera melakukan perdamaian kepadanya. Salah satu cara perdamaian yang disenangi anak adalah dengan ‘menyentuhnya’. Setiap anak tentu senang apabila ‘disentuh’. Pada umumnya, ‘sentuhan’ dapat mengobati luka bathin dan rasa sakit anak.
Menurut Deborah K. Parker M.Ed (2006) ‘sentuhan’ dapat terbagi menjadi dua macam. Yaitu, sentuhan dua arah seperti berangkulan, berpegangan tangan, berjalan bergandengan tangan, dan berjabat tangan. Dan, sentuhan satu arah yang dapat dilakukan orangtua dengan cara sebagai berikut:
Namun, apabila sesekali orangtua melakukan kesalahan kepada anak sehingga membuatnya marah maka sebaiknya orangtua segera melakukan perdamaian kepadanya. Salah satu cara perdamaian yang disenangi anak adalah dengan ‘menyentuhnya’. Setiap anak tentu senang apabila ‘disentuh’. Pada umumnya, ‘sentuhan’ dapat mengobati luka bathin dan rasa sakit anak.
Menurut Deborah K. Parker M.Ed (2006) ‘sentuhan’ dapat terbagi menjadi dua macam. Yaitu, sentuhan dua arah seperti berangkulan, berpegangan tangan, berjalan bergandengan tangan, dan berjabat tangan. Dan, sentuhan satu arah yang dapat dilakukan orangtua dengan cara sebagai berikut:
- Duduk di sampingnya ketika anak sedang menonton TV
- Belaian lembut sebagai bentuk sambutan ketika orangtua melihatnya setelah tidak betemu untuk beberapa saat, misalnya sepulang sekolah
- Duduk atau berbaring di kamar tidurnya pada jam-jam tidur
Monday, 21 January 2008
Tips Meredakan Pertengkaran Orangtua dan Anak
Adalah wajar apabila sesekali di antara orangtua dan anak terjadi salah paham atau khilap sehingga membuat salah satu di antara mereka atau bahkan kedua belah pihak menjadi marah dan mungkin ‘bertengkar’ atau ‘ngambek’. Supaya pertengkaran di antara orangtua dan anak tidak sampai berkepanjangan maka diperlukan keterampilan dan kesabaran dari orangtua.
Apabila terjadi pertengkaran, Deborah K. Parker M.Ed (2006) menyarankan kepada orangtua sebagai pihak orang dewasa yang biasanya lebih mengerti perilaku anak untuk melakukan hal-hal di bawah ini, yaitu:
Beberapa tindakan di atas adalah penting dilakukan orangtua kepada anak sebagai upaya untuk memperbaiki sebuah hubungan keluarga agar kembali harmonis dan bahagia (yer).
Apabila terjadi pertengkaran, Deborah K. Parker M.Ed (2006) menyarankan kepada orangtua sebagai pihak orang dewasa yang biasanya lebih mengerti perilaku anak untuk melakukan hal-hal di bawah ini, yaitu:
- ’Menyentuh’ anak
- Meluangkan waktu bersamanya dan menikmati kebersamaan itu
- Tegas dan jelas, tetapi bersahabat dan penuh kasih
- Memberikan pujian dan dukungan kepadanya dan apa yang dia lakukan serta tidak mengkritiknya
- Menghindari penggunaan pertanyaan
Beberapa tindakan di atas adalah penting dilakukan orangtua kepada anak sebagai upaya untuk memperbaiki sebuah hubungan keluarga agar kembali harmonis dan bahagia (yer).
Sunday, 20 January 2008
Berdamai Ditengah-tengah Kekuasaan Orangtua dan Anak
Sebagian orangtua ada yang bersikap otoriter kepada anak. Tipe orangtua seperti itu biasanya selalu memegang kendali dan memerintah anak agar selalu patuh dan melakukan apa yang mereka kehendaki. Supaya anak tetap dapat dikontrol dan diperintah maka orangtua tipe ini cenderung melakukan kekuasaan kepada anak baik secara fisik, verbal, maupun emosional (Deborah K Parker M.Ed, 2006). Misalnya, memukul (fisik), mengancam, mengkritik secara kasar (verbal), dan tidak memberi makan atau kebebasan (emosional). Tindakan orangtua seperti itu dilakukan supaya orangtua tetap dalam kondisi ‘menang’.
Pada praktiknya, ternyata bukan hanya orangtua saja yang dapat menggunakan kekuasaan untuk menundukkan sang anak. Begitupun dengan anak, banyak anak yang berperilaku kasar dan bahkan membuat malu orangtua di depan umum dengan cara menggunakan kekuasaannya. Seperti, dengan membuat kekacauan, merusak barang, menangis, dan membangkang. Apabila orangtua dan anak sama-sama sering menggunakan kekuasaan masing-masing maka tidak heran bila pertengkaran di antara merekapun akan mudah terjadi. Situasi tersebut tentu tidak baik apabila sering terjadi dan dibiarkan semakin memanas. Sehingga di antara keduanya saling tidak mau menyapa (saling diam) dan tidak mau peduli dalam waktu lama.
Sebagai salah satu cara untuk meredakan situasi di atas maka sebagai orangtua bijak janganlah menunggu anak membuat suasana menjadi lebih baik. Lakukanlah oleh orangtua terlebih dahulu untuk membuat perubahan menjadi baik. Di antaranya dengan cara terbuka untuk membicarakan saat-saat sulit yang sering terjadi. Dan, hindarilah sikap saling menyalahkan. Lebih baik ciptakanlah suasana penuh dengan saling memaafkan supaya suasana keluarga menjadi bahagia dan menyenangkan kembali (yer).
Pada praktiknya, ternyata bukan hanya orangtua saja yang dapat menggunakan kekuasaan untuk menundukkan sang anak. Begitupun dengan anak, banyak anak yang berperilaku kasar dan bahkan membuat malu orangtua di depan umum dengan cara menggunakan kekuasaannya. Seperti, dengan membuat kekacauan, merusak barang, menangis, dan membangkang. Apabila orangtua dan anak sama-sama sering menggunakan kekuasaan masing-masing maka tidak heran bila pertengkaran di antara merekapun akan mudah terjadi. Situasi tersebut tentu tidak baik apabila sering terjadi dan dibiarkan semakin memanas. Sehingga di antara keduanya saling tidak mau menyapa (saling diam) dan tidak mau peduli dalam waktu lama.
Sebagai salah satu cara untuk meredakan situasi di atas maka sebagai orangtua bijak janganlah menunggu anak membuat suasana menjadi lebih baik. Lakukanlah oleh orangtua terlebih dahulu untuk membuat perubahan menjadi baik. Di antaranya dengan cara terbuka untuk membicarakan saat-saat sulit yang sering terjadi. Dan, hindarilah sikap saling menyalahkan. Lebih baik ciptakanlah suasana penuh dengan saling memaafkan supaya suasana keluarga menjadi bahagia dan menyenangkan kembali (yer).
Saturday, 19 January 2008
Pengaruh Orangtua yang Asyik dengan Dirinya Sendiri Terhadap Perilaku Anak
Tipe orangtua bermacam-macam, salah satunya adalah tipe orangtua yang terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Orangtua tipe ini menurut Don Fleming dan Mark Ritts (2007) biasanya akan cenderung mau mendengarkan anak hanya ketika ada sesuatu yang tidak beres. Dalam segala hal yang terlihat baik-baik saja, pikiran mereka berada di tempat lain. Orangtua tipe ini cenderung mengacuhkan kebutuhan anak akan nasehat, perhatian, dan empati. Sebaliknya, orangtua seperti ini akan lebih menyenangkan dirinya sendiri. Misalnya, sibuk dengan perhiasan, membaca berbagai media cetak, dan menonton sinetron.
Sejatinya, anak menginginkan keberadaan orangtua adalah untuk mereka. Sikap orangtua yang terlalu asyik dengan dirinya sendiri terkadang membuat anak akan bersikap sama seperti yang dilakukan oleh orangtuanya. Dengan sikapnya seperti itu akan membuat anak menjadi sulit beradaptasi dengan orang yang ada di lingkungannya. Sebab, iapun akan cenderung asyik dengan dirinya sendiri. Ia menjadi anak yang tidak peduli dan tidak empati terhadap orang lain.
Salah satu faktor yang dapat mendukung anak agar dapat belajar berhubungan dengan orang lain adalah orangtua. Apabila orangtua sering merasa asyik dengan diri sendiri maka segeralah mencoba untuk selalu menyisihkan waktu untuk anak minimal lima belas menit atau setengah jam setiap hari. Bersikaplah fokus ketika sedang berinteraksi dengan anak. Hal ini baik untuk memberi kesempatan kepada anak mengungkapkan perasaan dan masalah yang penting untuk didiskusikan. Dengan cara seperti itu, anak akan merasakan keberadaan orangtua adalah untuknya (yer).
Sejatinya, anak menginginkan keberadaan orangtua adalah untuk mereka. Sikap orangtua yang terlalu asyik dengan dirinya sendiri terkadang membuat anak akan bersikap sama seperti yang dilakukan oleh orangtuanya. Dengan sikapnya seperti itu akan membuat anak menjadi sulit beradaptasi dengan orang yang ada di lingkungannya. Sebab, iapun akan cenderung asyik dengan dirinya sendiri. Ia menjadi anak yang tidak peduli dan tidak empati terhadap orang lain.
Salah satu faktor yang dapat mendukung anak agar dapat belajar berhubungan dengan orang lain adalah orangtua. Apabila orangtua sering merasa asyik dengan diri sendiri maka segeralah mencoba untuk selalu menyisihkan waktu untuk anak minimal lima belas menit atau setengah jam setiap hari. Bersikaplah fokus ketika sedang berinteraksi dengan anak. Hal ini baik untuk memberi kesempatan kepada anak mengungkapkan perasaan dan masalah yang penting untuk didiskusikan. Dengan cara seperti itu, anak akan merasakan keberadaan orangtua adalah untuknya (yer).
Friday, 18 January 2008
Orangtua dan Anak yang Aktif
Sebagian anak ada yang memiliki perilaku yang sangat aktif. Biasanya anak seperti itu akan cenderung selalu bergerak dari satu titik ke titik lain dengan berbagai macam kegiatan. Ia akan mendapatkan kesulitan jika diminta untuk tetap duduk dalam waktu yang cukup lama. Apabila seseorang bertanya kepadanya, adakalanya ia tidak memberikan perhatian kepada pertanyaan tersebut. Namun, menurut Don Fleming dan Mark Ritts (2007) mengatakan bahwa sikap anak seperti itu biasanya bukan berarti ia suka membantah, itu karena ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Bagi orangtua, ada situasi di mana mereka akan merasa sangat pusing, lelah, dan jengkel ketika menghadapi anak yang aktif. Di antaranya adalah ketika mereka sedang membawanya ke supermarket atau ke tempat umum. Anak itu biasanya akan sulit untuk diam dan tetap berada di dekat orangtua. Ia akan lebih senang berlari-lari dan kadang-kadang bersembunyi sehingga membuat orangtuanya merasa panik. Bagi orangtua yang memiliki anak aktif seperti itu, sebaiknya memberitahu apa yang diharapkan mereka dari dirinya sebelum berangkat bersama ke tempat umum. Misanya, katakan kepadanya secara spesifik bahwa ia harus selalu berada di dekat orangtua. Apabila ia pergi berlari dan meninggalkan orangtua maka mereka tidak akan memenuhi janji untuk membelikannya ice cream. Dengan cara seperti itu maka anak diharapkan dapat belajar mengontrol dirinya.
Orangtua yang memiliki anak yang aktif sebaiknya mengantarkan anak mereka ke tempat yang dapat menyalurkan energinya. Misalnya, mendaftarkan anak ke sekolah sepak bola atau karate. Biasanya anak seperti ini tidak akan banyak mengeluh, ia bahkan akan bersemangat dan merasa senang dengan kegiatan fisik tersebut (yer).
Bagi orangtua, ada situasi di mana mereka akan merasa sangat pusing, lelah, dan jengkel ketika menghadapi anak yang aktif. Di antaranya adalah ketika mereka sedang membawanya ke supermarket atau ke tempat umum. Anak itu biasanya akan sulit untuk diam dan tetap berada di dekat orangtua. Ia akan lebih senang berlari-lari dan kadang-kadang bersembunyi sehingga membuat orangtuanya merasa panik. Bagi orangtua yang memiliki anak aktif seperti itu, sebaiknya memberitahu apa yang diharapkan mereka dari dirinya sebelum berangkat bersama ke tempat umum. Misanya, katakan kepadanya secara spesifik bahwa ia harus selalu berada di dekat orangtua. Apabila ia pergi berlari dan meninggalkan orangtua maka mereka tidak akan memenuhi janji untuk membelikannya ice cream. Dengan cara seperti itu maka anak diharapkan dapat belajar mengontrol dirinya.
Orangtua yang memiliki anak yang aktif sebaiknya mengantarkan anak mereka ke tempat yang dapat menyalurkan energinya. Misalnya, mendaftarkan anak ke sekolah sepak bola atau karate. Biasanya anak seperti ini tidak akan banyak mengeluh, ia bahkan akan bersemangat dan merasa senang dengan kegiatan fisik tersebut (yer).
Thursday, 17 January 2008
Memberi Toleransi Waktu Kepada Anak dengan 'Pemberitahuan'
Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar orangtua sering tidak menyadari bahwa permintaan yang dilakukan oleh mereka kepada anak untuk segera menghentikan apa yang sedang ia lakukan (menonton, bermain, membaca) dan memintanya untuk segera melakukan suatu tugas lain telah membuat anak merasa kesal, marah, dan jengkel. Anak yang diinterupsi ketika ia sedang asyik mengerjakan sesuatu kemungkinan besar akan marah dan bahkan menolak apa yang dikatakan oleh orangtuanya.
Situasi seperti di atas adalah wajar. Sebab siapapun orangnya, baik orangtua, remaja, maupun anak-anak tidak akan merasa senang jika secara tiba-tiba ia disuruh menghentikan aktifitasnya dan segera melakukan tugas yang lain. Oleh karena itu, agar anak terhindar dari perasaan negatif seperti di atas dan iapun merasa senang untuk melakukan apa yang diminta orangtuanya. Maka, sebelum waktunya tiba untuk melakukan tugas yang lain, orangtua perlu memberitahu anak tentang waktu dan kegiatan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Contoh kasus, orangtua ingin anak segera melakukan salah satu tugasnya yaitu membereskan tempat tidur. Tetapi, tampaknya sang anak sedang asyik menonton TV. Maka, tindakan orangtua yang baik adalah mengingatkan anak bahwa ia belum melaksanakan tugasnya. Apabila anak masih tetap belum membereskan tempat tidurnya maka berikanlah waktu toleransi kepadanya. Misalnya, dengan cara mengatakan kepadanya bahwa waktu menonton tinggal lima belas menit lagi dan setelah itu ia harus membereskan tempat tidur. Apabila anak melakukan tugasnya sesuai dengan batas toleransi tersebut maka janganlah orangtua lupa mengucapkan terimakasih kepadanya. Yaitu, sebagai salah satu bukti bahwa orangtua sangat mengapresiasi komitmennya.
Untuk itu, dari artikel di atas dapat kita pahami bahwa pemberitahuan merupakan pernyataan yang memberitahu anak bahwa ia harus segera menghentikan kegiatannya dan melakukan hal lain. Pada umumnya, pemberitahuan kepada anak dilakukan selama lima, sepuluh, atau lima belas menit sebelum orangtua ingin anak menghentikan permainannya. Jika waktu toleransi telah tiba, panggilah ia untuk melakukan tugasnya. Dan, jangan lupa berilah pujian jika anak memenuhi panggilan atau permintaan orangtua (Cynthia Whitham, MSW, 2003). (yer)
Situasi seperti di atas adalah wajar. Sebab siapapun orangnya, baik orangtua, remaja, maupun anak-anak tidak akan merasa senang jika secara tiba-tiba ia disuruh menghentikan aktifitasnya dan segera melakukan tugas yang lain. Oleh karena itu, agar anak terhindar dari perasaan negatif seperti di atas dan iapun merasa senang untuk melakukan apa yang diminta orangtuanya. Maka, sebelum waktunya tiba untuk melakukan tugas yang lain, orangtua perlu memberitahu anak tentang waktu dan kegiatan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Contoh kasus, orangtua ingin anak segera melakukan salah satu tugasnya yaitu membereskan tempat tidur. Tetapi, tampaknya sang anak sedang asyik menonton TV. Maka, tindakan orangtua yang baik adalah mengingatkan anak bahwa ia belum melaksanakan tugasnya. Apabila anak masih tetap belum membereskan tempat tidurnya maka berikanlah waktu toleransi kepadanya. Misalnya, dengan cara mengatakan kepadanya bahwa waktu menonton tinggal lima belas menit lagi dan setelah itu ia harus membereskan tempat tidur. Apabila anak melakukan tugasnya sesuai dengan batas toleransi tersebut maka janganlah orangtua lupa mengucapkan terimakasih kepadanya. Yaitu, sebagai salah satu bukti bahwa orangtua sangat mengapresiasi komitmennya.
Untuk itu, dari artikel di atas dapat kita pahami bahwa pemberitahuan merupakan pernyataan yang memberitahu anak bahwa ia harus segera menghentikan kegiatannya dan melakukan hal lain. Pada umumnya, pemberitahuan kepada anak dilakukan selama lima, sepuluh, atau lima belas menit sebelum orangtua ingin anak menghentikan permainannya. Jika waktu toleransi telah tiba, panggilah ia untuk melakukan tugasnya. Dan, jangan lupa berilah pujian jika anak memenuhi panggilan atau permintaan orangtua (Cynthia Whitham, MSW, 2003). (yer)
Wednesday, 16 January 2008
Menyikapi Anak yang Lebih Lengket Kepada Babysitter
Oleh: Yusi Elsiano Rosmansyah
Pembaca yang budiman, seyogyanya perlu orangtua sadari bahwa kehadiran babysitter di dalam keluarga ada nilai positif dan negatifnya. Sisi positifnya, tentu ibu atau orangtua akan merasa sangat terbantu dalam pengasuhan bayi (anak). Apalagi, bagi ibu rumah tangga yang bekerja, keberadaan babysitter boleh jadi merupakan suatu keharusan.
Sedangkan sisi negatifnya, terutama dari sisi perkembangan anak, kehadiran babysitter akan sedikit-banyak menggangu keharmonisan hubungan antara anak dan orangtua. Terlebih lagi jika orangtua terlalu mempercayakan pengasuhan anaknya kepada babysitter dan meluangkan waktu sangat sedikit untuk anaknya.
Jika babysitter baik, anak akan lebih “dekat” kepada babysitter dibanding kepada orangtuanya. Sebab, secara alamiah anak akan merasa lebih bahagia bersama seseorang yang lebih banyak memberikan waktu dan kasih sayang. Sebaliknya, jika babysitter buruk, misalnya pemarah, kondisi psikologis anak akan banyak terganggu. Kita semua sudah mengetahui bahwa anak akan belajar secara efektif dari apa yang dia lihat, dengar, dan alami, termasuk sifat buruk babysitter ini.
Oleh karena itu, apabila orangtua mempercayakan kepengasuhan anak kepada pihak lain (babysitter) maka ada beberapa hal yang perlu orangtua perhatikan dan lakukan. Di antaranya adalah:
Intinya, orangtua perlu mengatur waktu sebaik-baiknya agar waktu bersama anak dan keluarga tetap terjaga. Jangan sampai untuk urusan kantor dan arisan orangtua bisa meluangkan waktu berjam-jam. Sedangkan, meluangkan waktu bersama anak dan keluarga sedetikpun orangtua tidak bisa (Maya & Wido, 2006).
Pembaca yang budiman, seyogyanya perlu orangtua sadari bahwa kehadiran babysitter di dalam keluarga ada nilai positif dan negatifnya. Sisi positifnya, tentu ibu atau orangtua akan merasa sangat terbantu dalam pengasuhan bayi (anak). Apalagi, bagi ibu rumah tangga yang bekerja, keberadaan babysitter boleh jadi merupakan suatu keharusan.
Sedangkan sisi negatifnya, terutama dari sisi perkembangan anak, kehadiran babysitter akan sedikit-banyak menggangu keharmonisan hubungan antara anak dan orangtua. Terlebih lagi jika orangtua terlalu mempercayakan pengasuhan anaknya kepada babysitter dan meluangkan waktu sangat sedikit untuk anaknya.
Jika babysitter baik, anak akan lebih “dekat” kepada babysitter dibanding kepada orangtuanya. Sebab, secara alamiah anak akan merasa lebih bahagia bersama seseorang yang lebih banyak memberikan waktu dan kasih sayang. Sebaliknya, jika babysitter buruk, misalnya pemarah, kondisi psikologis anak akan banyak terganggu. Kita semua sudah mengetahui bahwa anak akan belajar secara efektif dari apa yang dia lihat, dengar, dan alami, termasuk sifat buruk babysitter ini.
Oleh karena itu, apabila orangtua mempercayakan kepengasuhan anak kepada pihak lain (babysitter) maka ada beberapa hal yang perlu orangtua perhatikan dan lakukan. Di antaranya adalah:
- Orangtua harus dapat menyeimbangkan waktu pengasuhan kepada anak (ibu, ayah, baby sitter memiliki waktu yang seimbang dalam mengasuh anak). Maksudnya, pengasuhan bayi oleh babysitter hanya pada saat orangtua bekerja. Apabila orangtua di rumah maka perbanyaklah memberikan waktu bersama kepada anak. Penuhilah semua kebutuhan anak.
Sejatinya, di dalam kehidupannya, anak bukan hanya membutuhkan makan, mainan, dan tempat untuk berteduh saja. Namun, ada kebutuhan lain yang boleh jadi tidak dapat diberikan oleh pihak lain (babysitter) kecuali orangtuanya sendiri. Yaitu, cinta yang tulus, kehangatan, ‘sentuhan’ yang menenangkan dan membuat jiwa sang anak merasa aman, kasih sayang, dan perhatian. - Sediakanlah waktu bersama anak sebanyak mungkin. Isilah waktu bersama anak tersebut dengan berbagai kegiatan yang dapat membuatnya merasa senang dan bahagia. Misalnya, berbicara dengan anak (bayi) atau menyapanya dengan kata-kata dan irama suara yang bersahabat, bercanda bersama, menimangnya, bermain bersama (cilukbak, kelikitik, berguling-guling, bernyanyi sambil menatap dan mengusap-usap tubuh anak).
- Ada baiknya, ketika orangtua sedang berada di rumah maka kegiatan memandikan, menyuapi, dan mengganti popok dilakukan oleh orangtua. Pada situasi seperti itu biasanya ikatan bathin antara orangtua dengan anak akan semakin terjalin erat.
- Tunjukkanlah rasa cinta dan sayang orangtua kepada anak dengan cara memberikan perhatian. Misalnya, ninabobokan dan senandungkanlah lagu untuk anak ketika ia menunjukkan tanda ingin tidur.
- Perlihatkanlah kepada anak bahwa orangtua bahagia bersamanya. Salah satunya adalah dengan memperlihatkan wajah orangtua yang penuh dengan kehangatan kepada anak. Misalnya, dengan selalu memperlihatkan wajah tersenyum bahagia kepada anak.
Intinya, orangtua perlu mengatur waktu sebaik-baiknya agar waktu bersama anak dan keluarga tetap terjaga. Jangan sampai untuk urusan kantor dan arisan orangtua bisa meluangkan waktu berjam-jam. Sedangkan, meluangkan waktu bersama anak dan keluarga sedetikpun orangtua tidak bisa (Maya & Wido, 2006).
Tuesday, 15 January 2008
Ketika Orangtua Meminta Anak Melakukan Suatu Tugas, Berikanlah Ia Pilihan
Kadangkala sulit bagi anak menuruti suatu tugas yang diminta orangtua. Misalnya, membuang sampah, memakai sepatu, atau mengganti pakaian sepulang sekolah. Hal tersebut akan semakin sulit terutama jika ia sedang asyik bermain atau melakukan suatu kegiatan yang ia senangi. Pada saat seperti itulah biasanya sang anak menolak permintaan orangtua dengan cara mengeluarkan banyak sekali alasan. Sampai orangtuapun harus berulang-ulang meminta dan memperingatkan dirinya untuk segera melakukan tugasnya.
Menyikapi tindakan anak seperti di atas tentu perlu kesabaran dan kesungguhan orangtua. Janganlah orangtua menyerah begitu saja apabila anak berusaha untuk melalaikan dan menolak permintaan orangtua. Dalam kondisi seperti ini, orangtua perlu memberikan pilihan kepada anak. Misalnya, waktu untuk mandi sore telah tiba namun anak terlihat sedang asyik bermain. Salah satu cara efektif meminta anak untuk segera mandi adalah dengan memberikan pilihan kepadanya. Katakan kepada anak ‘kapan akan mandi, sekarang atau lima menit lagi ke depan?’. Apabila anak memutuskan salah satu pilihannya maka dukunglah pilihannya dengan cara memuji. Namun, apabila ia menolak semua pilihan orangtua maka tanyakanlah kepadanya kapan waktu yang ia inginkan untuk pergi mandi. Jika tawaran anak itu cukup baik maka laksanakanlah.
Tetapi, apabila anak menolak semua pilihan yang diajukan orangtua dan iapun tidak mengajukan pilihan lain maka cobalah untuk mengulangi lagi pilihan pertama tadi sebagai penegasan. Jika ia tetap tidak mau memilih, katakanlah kepadanya bahwa orangtua yang akan memilihkan untuknya. Yang paling penting dalam suasana ‘tawar menawar’ ini adalah lakukanlah dengan sikap tenang dan netral. Janganlah lupa orangtua memberikan pujian kepada anak apabila telah tercapai kata sepakat.
Orangtua yang selalu melatih anak menghadapi berbagai macam pilihan dan sekaligus memberikan kesempatan kepadanya untuk memilih atau memutuskan pilihannya sendiri berarti telah mengajarkan anak hidup disiplin, bertanggung jawab, dan konsekuen terhadap keputusan.
Oleh karena itu, apabila orangtua menginginkan anak melakukan suatu tugas, berilah ia pilihan. Ketika ia memilih, berilah ia pujian. Kalau ia memberikan pilihan ke tiga, terimalah jika hal itu bisa dilakukan. Yang mendasari suatu pilihan adalah pengertian bahwa ia harus memilih untuk bekerja sama. Terakhir, pastikan untuk memujinya jika ia memilih dan melakukan tugasnya (Cynthia Whitham, MSW, 2003).
Kunci, hindarilah memaksakan kehendak kepada anak untuk melakukan suatu tugas dengan cara emosi ataupun kekerasan. Apabila orangtua meminta atau menginginkan anak melakukan suatu tugas berikanlah pilihan kepadanya. Perlu orangtua sadari bahwa sebagian besar anak merasa lebih senang memenuhi permintaan jika mereka diberi kesempatan untuk memilih. Dengan cara diberikan kesempatan untuk memilih maka ia merasa dihargai dan diberikan kebebasan dalam bertindak sesuai dengan pilihannya (yer).
Menyikapi tindakan anak seperti di atas tentu perlu kesabaran dan kesungguhan orangtua. Janganlah orangtua menyerah begitu saja apabila anak berusaha untuk melalaikan dan menolak permintaan orangtua. Dalam kondisi seperti ini, orangtua perlu memberikan pilihan kepada anak. Misalnya, waktu untuk mandi sore telah tiba namun anak terlihat sedang asyik bermain. Salah satu cara efektif meminta anak untuk segera mandi adalah dengan memberikan pilihan kepadanya. Katakan kepada anak ‘kapan akan mandi, sekarang atau lima menit lagi ke depan?’. Apabila anak memutuskan salah satu pilihannya maka dukunglah pilihannya dengan cara memuji. Namun, apabila ia menolak semua pilihan orangtua maka tanyakanlah kepadanya kapan waktu yang ia inginkan untuk pergi mandi. Jika tawaran anak itu cukup baik maka laksanakanlah.
Tetapi, apabila anak menolak semua pilihan yang diajukan orangtua dan iapun tidak mengajukan pilihan lain maka cobalah untuk mengulangi lagi pilihan pertama tadi sebagai penegasan. Jika ia tetap tidak mau memilih, katakanlah kepadanya bahwa orangtua yang akan memilihkan untuknya. Yang paling penting dalam suasana ‘tawar menawar’ ini adalah lakukanlah dengan sikap tenang dan netral. Janganlah lupa orangtua memberikan pujian kepada anak apabila telah tercapai kata sepakat.
Orangtua yang selalu melatih anak menghadapi berbagai macam pilihan dan sekaligus memberikan kesempatan kepadanya untuk memilih atau memutuskan pilihannya sendiri berarti telah mengajarkan anak hidup disiplin, bertanggung jawab, dan konsekuen terhadap keputusan.
Oleh karena itu, apabila orangtua menginginkan anak melakukan suatu tugas, berilah ia pilihan. Ketika ia memilih, berilah ia pujian. Kalau ia memberikan pilihan ke tiga, terimalah jika hal itu bisa dilakukan. Yang mendasari suatu pilihan adalah pengertian bahwa ia harus memilih untuk bekerja sama. Terakhir, pastikan untuk memujinya jika ia memilih dan melakukan tugasnya (Cynthia Whitham, MSW, 2003).
Kunci, hindarilah memaksakan kehendak kepada anak untuk melakukan suatu tugas dengan cara emosi ataupun kekerasan. Apabila orangtua meminta atau menginginkan anak melakukan suatu tugas berikanlah pilihan kepadanya. Perlu orangtua sadari bahwa sebagian besar anak merasa lebih senang memenuhi permintaan jika mereka diberi kesempatan untuk memilih. Dengan cara diberikan kesempatan untuk memilih maka ia merasa dihargai dan diberikan kebebasan dalam bertindak sesuai dengan pilihannya (yer).
Monday, 14 January 2008
Mengajak Anak ’Bekerja sama’
Oleh: Yusi elsiano Rosmansyah
Bagi sebagian orangtua yang memiliki anak lebih dari satu biasanya mengalami kesulitan ketika mereka mengajak anak untuk ’bekerja sama’. Contohnya, ketika orangtua meminta anak-anak untuk memakai sabuk pengaman di dalam mobil. Ada kemungkinan di antara anak ada salah satu yang menolak permintaan orangtua tersebut.
Menyikapi perilaku anak seperti di atas, tetaplah orangtua bersikap tenang dan tidak marah-marah kepadanya. Ada cara jitu menghadapi anak yang suka menolak tersebut yaitu dengan cara memuji anak lain yang mau mendengarkan dan melakukan pemintaan orangtua (memakai sabuk pengaman).
Berikanlah pujian kepada anak yang menuruti permintaan orangtua. Tetapi dengan catatan tidak membandingkan dan tidak menyakiti hati anak lain yang tidak menuruti permintaan orangtua. Misalnya, sebut saja anak yang memakai sabuk pengaman adalah bernama Rudi. Katakan kepadanya ’wah, hebat ya Rudi sudah memakai sabuk pengaman jadi nanti tidak akan jatuh apabila tiba-tiba saja mobil berhenti mendadak ya...’. Terlihat dari pernyataan tersebut orangtua tidak membandingkan antara anak yang satu dengan anak lainnya. Mereka hanya memuji perilaku Rudi supaya dapat mempengaruhi anak lain yang menolak untuk diajak ’bekerja sama’ menjadi tertarik dan mau melakukan permintaan orangtua. Pada umumnya, anak-anak akan merasa senang apabila mendapatkan pujian. Oleh sebab itu, dengan memuji anak yang lain boleh jadi anak yang menolak (tidak mau bekerja sama) mengubah sikapnya menjadi positif (mau melakukan apa yang diharapkan orangtua).
Salah satu tujuan memuji anak yang mau 'bekerja sama' adalah agar anak yang menolak dapat mendengar pujian tersebut. Sehingga ia dapat mengubah penolakkannya tersebut dengan melakukan apa yang orangtua inginkan. Salah satu hal yang penting orangtua ingat apabila anak sudah mengubah sikapnya menjadi positif yaitu menyegerakan memberikan perhatian positif. Yaitu, dengan memuji atau mengucapkan terima kasih kepadanya.
Sejatinya, ada lima langkah yang perlu dilakukan orangtua ketika menghadapi salah satu anak yang tidak dapat diajak ’bekerja sama’ atau menolak keinginan orangtua (Cynthia Whitham, MSW, 2003), di antaranya adalah:
Bagi sebagian orangtua yang memiliki anak lebih dari satu biasanya mengalami kesulitan ketika mereka mengajak anak untuk ’bekerja sama’. Contohnya, ketika orangtua meminta anak-anak untuk memakai sabuk pengaman di dalam mobil. Ada kemungkinan di antara anak ada salah satu yang menolak permintaan orangtua tersebut.
Menyikapi perilaku anak seperti di atas, tetaplah orangtua bersikap tenang dan tidak marah-marah kepadanya. Ada cara jitu menghadapi anak yang suka menolak tersebut yaitu dengan cara memuji anak lain yang mau mendengarkan dan melakukan pemintaan orangtua (memakai sabuk pengaman).
Berikanlah pujian kepada anak yang menuruti permintaan orangtua. Tetapi dengan catatan tidak membandingkan dan tidak menyakiti hati anak lain yang tidak menuruti permintaan orangtua. Misalnya, sebut saja anak yang memakai sabuk pengaman adalah bernama Rudi. Katakan kepadanya ’wah, hebat ya Rudi sudah memakai sabuk pengaman jadi nanti tidak akan jatuh apabila tiba-tiba saja mobil berhenti mendadak ya...’. Terlihat dari pernyataan tersebut orangtua tidak membandingkan antara anak yang satu dengan anak lainnya. Mereka hanya memuji perilaku Rudi supaya dapat mempengaruhi anak lain yang menolak untuk diajak ’bekerja sama’ menjadi tertarik dan mau melakukan permintaan orangtua. Pada umumnya, anak-anak akan merasa senang apabila mendapatkan pujian. Oleh sebab itu, dengan memuji anak yang lain boleh jadi anak yang menolak (tidak mau bekerja sama) mengubah sikapnya menjadi positif (mau melakukan apa yang diharapkan orangtua).
Salah satu tujuan memuji anak yang mau 'bekerja sama' adalah agar anak yang menolak dapat mendengar pujian tersebut. Sehingga ia dapat mengubah penolakkannya tersebut dengan melakukan apa yang orangtua inginkan. Salah satu hal yang penting orangtua ingat apabila anak sudah mengubah sikapnya menjadi positif yaitu menyegerakan memberikan perhatian positif. Yaitu, dengan memuji atau mengucapkan terima kasih kepadanya.
Sejatinya, ada lima langkah yang perlu dilakukan orangtua ketika menghadapi salah satu anak yang tidak dapat diajak ’bekerja sama’ atau menolak keinginan orangtua (Cynthia Whitham, MSW, 2003), di antaranya adalah:
- Ketika orangtua melihat satu anak melakukan sesuatu yang kita sukai maka pujilah dia.
- Jika anak berbuat sesuatu yang tidak kita sukai tetapi tidak terlalu mengganggu maka abaikanlah perilaku itu.
- Carilah dan temukan seorang anak yang melakukan sesuatu yang kita inginkan (bekerja sama), kemudian,
- Pujilah anak yang dapat diajak bekerjasama tersebut, sambil masih mengabaikan perilaku buruk anak tadi.
- Tunggu dan pujilah segera setelah anak yang menolak tadi mengubah perilakunya.
Sunday, 13 January 2008
Cara efektif memuji perilaku anak
Bagi sebagian orangtua, memuji anak terkadang akan dirasakan sangat sulit. Hal seperti ini sering terjadi terutama pada orangtua yang lebih sering mencela, memarahi, dan menghina perilaku anak.
Padahal, perlu orangtua sadari bahwa dengan cara memuji maka perilaku anak akan dengan mudah berubah menjadi lebih baik. Misalnya, anak yang menerima pujian karena telah membereskan tempat tidurnya tentu akan merasa senang hatinya. Ia boleh jadi akan terus mengulangi perilaku positif tersebut hingga menjadi suatu kebiasaan.
Satu hal yang perlu orangtua perhatikan ketika memuji adalah janganlah memuji anak karena pribadinya. Tetapi, pujilah ia karena perilakunya. Contohnya, apabila orangtua melihat anak rajin mebereskan tempat tidur maka katakanlah kepadanya bahwa kamarnya bersih dan rapih karena ia bertanggung jawab. Hindarilah mengatakan kepadanya bahwa ia adalah orang yang hebat dan paling rajin dibandingkan saudara yang lainnya. Hal tersebut hanya akan membuat diri anak menjadi sombong. Selain itu, sikap orangtua yang suka membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lainnya seperti itu akan menimbulkan sikap bersaing tidak sehat dan kebencian di antara anak.
Untuk itu, agar pujian yang dilakukan orangtua menjadi lebih efektif maka ada beberapa unsur memuji yang harus diperhatikan. Yaitu, pujilah perilakunya (bukan si anak), lakukan kontak mata ketika memuji anak, berlutut atau membungkuklah ketika memuji anak agar tinggi orangtua sama dengan anak, tersenyumlah atau tunjukkan raut wajah menyenangkan, gunakan nada suara yang hangat, pilihlah pesan singkat yang meyebutkan perilaku yang orangtua sukai, pujilah dengan cara yang paling berarti bagi anak. Selain itu, pujilah sesegera mungkin apabila anak melakukan tindakan positif. Dan, hindarilah sarkasme atau pujian yang mengandung nada sinis, seperti ’sudah kubilang...’. Tindakan seperti itu hanya akan merusak usaha orangtua dalam memuji (Cynthia Whitham, MSW, 2003). (yer).
Padahal, perlu orangtua sadari bahwa dengan cara memuji maka perilaku anak akan dengan mudah berubah menjadi lebih baik. Misalnya, anak yang menerima pujian karena telah membereskan tempat tidurnya tentu akan merasa senang hatinya. Ia boleh jadi akan terus mengulangi perilaku positif tersebut hingga menjadi suatu kebiasaan.
Satu hal yang perlu orangtua perhatikan ketika memuji adalah janganlah memuji anak karena pribadinya. Tetapi, pujilah ia karena perilakunya. Contohnya, apabila orangtua melihat anak rajin mebereskan tempat tidur maka katakanlah kepadanya bahwa kamarnya bersih dan rapih karena ia bertanggung jawab. Hindarilah mengatakan kepadanya bahwa ia adalah orang yang hebat dan paling rajin dibandingkan saudara yang lainnya. Hal tersebut hanya akan membuat diri anak menjadi sombong. Selain itu, sikap orangtua yang suka membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lainnya seperti itu akan menimbulkan sikap bersaing tidak sehat dan kebencian di antara anak.
Untuk itu, agar pujian yang dilakukan orangtua menjadi lebih efektif maka ada beberapa unsur memuji yang harus diperhatikan. Yaitu, pujilah perilakunya (bukan si anak), lakukan kontak mata ketika memuji anak, berlutut atau membungkuklah ketika memuji anak agar tinggi orangtua sama dengan anak, tersenyumlah atau tunjukkan raut wajah menyenangkan, gunakan nada suara yang hangat, pilihlah pesan singkat yang meyebutkan perilaku yang orangtua sukai, pujilah dengan cara yang paling berarti bagi anak. Selain itu, pujilah sesegera mungkin apabila anak melakukan tindakan positif. Dan, hindarilah sarkasme atau pujian yang mengandung nada sinis, seperti ’sudah kubilang...’. Tindakan seperti itu hanya akan merusak usaha orangtua dalam memuji (Cynthia Whitham, MSW, 2003). (yer).
Saturday, 12 January 2008
Unsur-unsur efektif 'mengabaikan' perilaku negatif pada anak
Mengamuk, rewel, mengeluh, merengek, menangis, dan menjerit-jerit adalah beberapa di antara perilaku anak yang tidak disukai orangtua. Salah satu hal yang dapat menyebabkan anak berperilaku seperti itu adalah apabila ia menginginkan sesuatu tetapi tidak dikabulkan orangtua.
Contoh kasus, anak menginginkan permen atau es tetapi orangtua tidak membelikannya karena ia baru saja sembuh dari sakit. Pada situasi seperti itulah biasanya anak akan berperilaku negatif (menangis dan mengamuk). Menyikapi hal demikian, janganlah orangtua cepat merasa jengkel dan marah kepadanya. Cobalah untuk ’mengabaikan’ perlaku negatifnya tersebut. Biasanya, anak yang sedang menangis atau mengamuk perlahan akan berhenti apabila ’diabaikan’. Seperti halnya yang sering terjadi pada seseorang yang sedang menunggu taxi di malam hari. Ia akan melakukan sesuatu apabila dalam waktu yang lama taxi tidak kunjung tiba. Orang itu tentu tidak akan terus menerus berdiri di situ dan menunggu. Setidaknya ia akan mengalihkan pikirannya untuk mencoba cara lain. Misalnya berjalan kaki atau menelepon minta tolong teman untuk menjemputnya. Begitupun proses ’pengabaian’ pada perilaku anak.
Supaya metode mengabaikan efektif untuk mengurangi perilaku anak yang tidak disukai orangtua, pastikan orangtua menggunakan unsur-unsur mengabaikan. Di antaranya adalah dengan tidak melakukan kontak mata dengan anak sebagai tanda bahwa orangtua tidak menanggapi perilakunya, berpalinglah untuk menunjukkan bahwa orangtua tidak tertarik pada perilakunya, pusatkanlah pehatian pada hal lain, raut wajah netral (tidak ada tanda kemarahan), tidak mengeluarkan suara (tanpa desah kejengkelan), tetap tenang tanpa emosi, abaikan seketika, namun apabila anak telah berhenti dari perilaku yang orangtua tidak sukai maka segeralah berikan pujian kepadanya (Cynthia Whitham, MSW, 2003). (yer)
Kesimpulannya, apabila orangtua ingin anaknya segera meninggalkan perilaku yang tidak mereka sukai maka cobalah 'abaikan' perilaku tersebut dengan melakukan unsur-unsur seperti di atas. Dengan kesabaran dan tindakan orangtua yang konsisten perlahan perilaku anakpun akan berubah. Bila demikian, janganlah orangtua lupa memberikan apresiasi atas perubahan positifnya tersebut. Berikanlah kepadanya pujian, ciuman, ucapan terimakasih karena ia telah kembali menjadi anak baik (yer).
Contoh kasus, anak menginginkan permen atau es tetapi orangtua tidak membelikannya karena ia baru saja sembuh dari sakit. Pada situasi seperti itulah biasanya anak akan berperilaku negatif (menangis dan mengamuk). Menyikapi hal demikian, janganlah orangtua cepat merasa jengkel dan marah kepadanya. Cobalah untuk ’mengabaikan’ perlaku negatifnya tersebut. Biasanya, anak yang sedang menangis atau mengamuk perlahan akan berhenti apabila ’diabaikan’. Seperti halnya yang sering terjadi pada seseorang yang sedang menunggu taxi di malam hari. Ia akan melakukan sesuatu apabila dalam waktu yang lama taxi tidak kunjung tiba. Orang itu tentu tidak akan terus menerus berdiri di situ dan menunggu. Setidaknya ia akan mengalihkan pikirannya untuk mencoba cara lain. Misalnya berjalan kaki atau menelepon minta tolong teman untuk menjemputnya. Begitupun proses ’pengabaian’ pada perilaku anak.
Supaya metode mengabaikan efektif untuk mengurangi perilaku anak yang tidak disukai orangtua, pastikan orangtua menggunakan unsur-unsur mengabaikan. Di antaranya adalah dengan tidak melakukan kontak mata dengan anak sebagai tanda bahwa orangtua tidak menanggapi perilakunya, berpalinglah untuk menunjukkan bahwa orangtua tidak tertarik pada perilakunya, pusatkanlah pehatian pada hal lain, raut wajah netral (tidak ada tanda kemarahan), tidak mengeluarkan suara (tanpa desah kejengkelan), tetap tenang tanpa emosi, abaikan seketika, namun apabila anak telah berhenti dari perilaku yang orangtua tidak sukai maka segeralah berikan pujian kepadanya (Cynthia Whitham, MSW, 2003). (yer)
Kesimpulannya, apabila orangtua ingin anaknya segera meninggalkan perilaku yang tidak mereka sukai maka cobalah 'abaikan' perilaku tersebut dengan melakukan unsur-unsur seperti di atas. Dengan kesabaran dan tindakan orangtua yang konsisten perlahan perilaku anakpun akan berubah. Bila demikian, janganlah orangtua lupa memberikan apresiasi atas perubahan positifnya tersebut. Berikanlah kepadanya pujian, ciuman, ucapan terimakasih karena ia telah kembali menjadi anak baik (yer).
Friday, 11 January 2008
Perhatian Orangtua Dapat Mengubah Perilaku Anak
Salah satu kebutuhan dasar anak adalah mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Beberapa bentuk perhatian yang dapat dilakukan orangtua kepada anak di antaranya adalah dengan cara memberikan pujian, menepuk bahu anak, memberikan senyuman kepada anak, memberikan pelukan, dan memberikan hadiah sebagai tanda bahwa orangtua setuju dan bangga terhadap apa yang dilakukan olehnya.
Perlu orangtua sadari bahwa memberikan perhatian kepada anak adalah tindakan yang sangat penting. Dengan cara seperti ini orangtua dapat mengubah perilaku anak sesuai dengan apa yang diinginkan atau diharapkan. Pada umumnya, anak akan terus mengulangi suatu perilaku yang dapat menarik perhatian orangtuanya. Jadi, apabila orangtua suka anak melakukan tindakan positif seperti membantu dan berbagi (mainan, makanan) dengan adik atau teman lainnya maka berikanlah perhatian kepadanya. Misalnya, dengan cara memuji atau memberikan pelukan kepadanya. Dan, apabila orangtua menginginkan anak mengurangi dan menghentikan perilaku negatifnya (misalnya, suka berteriak, menangis, dan menjerit-jerit) maka abaikanlah ia. Janganlah memberikan perhatian kepada perilaku negatif anak tersebut. Sebab, boleh jadi ia merasa diperhatikan dan akan terus mengulangi perilaku negatif tersebut.
Oleh karena itu, berhati-hatilah orangtua dalam memberikan perhatian kepada anak. Semakin orangtua memberikan respon atau perhatian terhadap perilaku negatif anak dengan cara menegur atau memarahinya maka boleh jadi ia akan semakin terus melakukan perilaku negatifnya tersebut. Perbanyaklah memberikan perhatian kepada hal-hal atau perilaku anak yang positif. Sehingga, untuk mendapatkan perhatian orangtua maka iapun akan terus mengulangi perilaku positifnya tersebut, bukan dengan cara melakukan tindakan negatif.
Kesimpulannya, memberikan perhatian terhadap perilaku positif pada anak berarti orangtua memperkuat dan menginginkan agar anak lebih sering melakukan hal tersebut. Sedangkan, menghilangkan perhatian terhadap perilaku negatif yang dilakukan anak berarti orangtua ingin anak dapat mengurangi atau menghilangkan sikap negatifnya tersebut. Sikap negatif anak yang diabaikan oleh orangtua secara perlahan akan berkurang dan boleh jadi menghilang. Anak akan meninggalkan perilaku negatif karena perilakunya tersebut tidak dapat menarik perhatian orangtuanya (Cynthia Whitham, MSW, 2003). (yer).
Perlu orangtua sadari bahwa memberikan perhatian kepada anak adalah tindakan yang sangat penting. Dengan cara seperti ini orangtua dapat mengubah perilaku anak sesuai dengan apa yang diinginkan atau diharapkan. Pada umumnya, anak akan terus mengulangi suatu perilaku yang dapat menarik perhatian orangtuanya. Jadi, apabila orangtua suka anak melakukan tindakan positif seperti membantu dan berbagi (mainan, makanan) dengan adik atau teman lainnya maka berikanlah perhatian kepadanya. Misalnya, dengan cara memuji atau memberikan pelukan kepadanya. Dan, apabila orangtua menginginkan anak mengurangi dan menghentikan perilaku negatifnya (misalnya, suka berteriak, menangis, dan menjerit-jerit) maka abaikanlah ia. Janganlah memberikan perhatian kepada perilaku negatif anak tersebut. Sebab, boleh jadi ia merasa diperhatikan dan akan terus mengulangi perilaku negatif tersebut.
Oleh karena itu, berhati-hatilah orangtua dalam memberikan perhatian kepada anak. Semakin orangtua memberikan respon atau perhatian terhadap perilaku negatif anak dengan cara menegur atau memarahinya maka boleh jadi ia akan semakin terus melakukan perilaku negatifnya tersebut. Perbanyaklah memberikan perhatian kepada hal-hal atau perilaku anak yang positif. Sehingga, untuk mendapatkan perhatian orangtua maka iapun akan terus mengulangi perilaku positifnya tersebut, bukan dengan cara melakukan tindakan negatif.
Kesimpulannya, memberikan perhatian terhadap perilaku positif pada anak berarti orangtua memperkuat dan menginginkan agar anak lebih sering melakukan hal tersebut. Sedangkan, menghilangkan perhatian terhadap perilaku negatif yang dilakukan anak berarti orangtua ingin anak dapat mengurangi atau menghilangkan sikap negatifnya tersebut. Sikap negatif anak yang diabaikan oleh orangtua secara perlahan akan berkurang dan boleh jadi menghilang. Anak akan meninggalkan perilaku negatif karena perilakunya tersebut tidak dapat menarik perhatian orangtuanya (Cynthia Whitham, MSW, 2003). (yer).
Thursday, 10 January 2008
Agar Anak Menghormati dan Menghargai Ucapan Orangtua
Setiap orangtua tentu ingin anak dapat menghormati dan menghargai perintah atau ucapan yang disampaikan kepadanya. Hal tersebut sejatinya akan mudah didapatkan apabila orangtua mampu bersikap tegas dan dapat dipercaya. Bersikaplah konsisten dan jujur kepada anak agar ia tidak kebingungan dalam menentukan suatu tindakan. Selain itu, sesuaikanlah apa yang diucapkan orangtua dengan perbuatan. Dengan deikian, anak dapat melihat kebenaran yang diucapkan oleh orangtuanya dan iapun akan menghargai orangtuanya.
Contoh kasus, apabila orangtua menetapkan aturan A kepada anak maka sedapat mungkin orangtua harus tetap konsisten dengan peraturan tersebut, yaitu A. Misalnya, ketika orangtua menekankan kepada anak supaya tidak pernah mengambil barang milik orang lain sebelum ada izin dari yang punyanya. Maka, janganlah sekali-kali mereka membiarkan atau bahkan menyuruh anak memakan makanan di toko yang belum dibayar. Hal demikian akan membuat anak merasa bingung dan sulit memilah mana yang boleh dan mana yang tidak boleh untuk dilakukan. Dalam kasus ini berarti orangtua telah bersikap tidak konsisten dengan perkataan mereka. Sikap orangtua seperti itu juga dikhawatirkan akan memicu anak untuk bersikap 'melecehkan' perkataan orangtuanya. Anak akan menyadari bahwa orangtuanya tidak tegas dalam menentukan aturan, sehingga iapun tidak akan serius dalam melakukan suatu aturan yang ditetapkan oleh orangtuanya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua dalam bertindak agar anak dapat menghormati dan menghargai mereka. Di antaranya adalah bersikaplah terus terang kepada anak, jadilah orangtua yang konsisten dan jujur baik dalam bersikap maupun dalam berkata-kata. Dan, janganlah orangtua berdusta kepada anak atau memperdayainya. Sebab, tindakan orangtua seperti itu dapat mendorong anak untuk tidak menghargai orangtua beserta aturannya (Shelly Herold, MS, Ed, 2006). (yer)
Contoh kasus, apabila orangtua menetapkan aturan A kepada anak maka sedapat mungkin orangtua harus tetap konsisten dengan peraturan tersebut, yaitu A. Misalnya, ketika orangtua menekankan kepada anak supaya tidak pernah mengambil barang milik orang lain sebelum ada izin dari yang punyanya. Maka, janganlah sekali-kali mereka membiarkan atau bahkan menyuruh anak memakan makanan di toko yang belum dibayar. Hal demikian akan membuat anak merasa bingung dan sulit memilah mana yang boleh dan mana yang tidak boleh untuk dilakukan. Dalam kasus ini berarti orangtua telah bersikap tidak konsisten dengan perkataan mereka. Sikap orangtua seperti itu juga dikhawatirkan akan memicu anak untuk bersikap 'melecehkan' perkataan orangtuanya. Anak akan menyadari bahwa orangtuanya tidak tegas dalam menentukan aturan, sehingga iapun tidak akan serius dalam melakukan suatu aturan yang ditetapkan oleh orangtuanya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua dalam bertindak agar anak dapat menghormati dan menghargai mereka. Di antaranya adalah bersikaplah terus terang kepada anak, jadilah orangtua yang konsisten dan jujur baik dalam bersikap maupun dalam berkata-kata. Dan, janganlah orangtua berdusta kepada anak atau memperdayainya. Sebab, tindakan orangtua seperti itu dapat mendorong anak untuk tidak menghargai orangtua beserta aturannya (Shelly Herold, MS, Ed, 2006). (yer)
Wednesday, 9 January 2008
Cara Mendekatkan Diri Kepada Anak
Banyak orangtua baru yang belum berpengalaman merasa bingung dan sulit ketika menghadapi bayi pertamanya. Mereka terkadang tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi bayinya yang sedang menangis, berceloteh, atau bergerak-gerak.
Sebab, bisa jadi bayi menangis bukan karena lapar ingin minum susu atau minta makan. Tetapi, boleh jadi ia menangis karena sesuatu telah membuat dirinya sakit atau tidak nyaman. Selain itu, ada juga bayi yang bergerak-gerak tetapi bukan karena ia ingin di gendong melainkan ia ingin diajak bermain dan berbicara.
Memahami bahasa tubuh bayi memang tidak mudah. Perlu pendekatan yang baik dari orangtua terhadap diri sang bayi. Biasanya, orangtua yang merawat dan mengasuh bayinya dengan ’tangan sendiri’ akan lebih mudah memahami bahasa tubuh bayi. Mereka dengan mudah dapat menerjemahkan apa yang dibutuhkan bayi melalui suara, gerakan, dan kerutan dahinya.
Ada beberapa hal yang dapat memudahkan orangtua melakukan pendekatan kepada anak. Yaitu melalui pandangan, pendengaran, sentuhan, dan ciuman kepada sang bayi (Shelly Herold, MS, Ed, 2006).
Pandanglah setiap anggota tubuh bayi (mata, hidung, bibir) dan perhatikanlah ekspresi wajah dan gerak tubuhnya yang menawan. Tersenyumlah kepadanya dan berbahagialah
atas kehadirannya. Sebab ia adalah harapan dan masa depan kita sebagai orangtuanya.
Dengarkanlah setiap keunikan suaranya. Ketika bayi sedang berceloteh maka cobalah untuk membalas celotehannya tersebut. Berikanlah respon yang penuh dengan empati dan kasih sayang ketika bayi menangis.
Sentuhlah bayi dengan kelembutan. Peluklah dan belailah ia dengan cinta dan kasih sayang. Dengan demikian maka sebagai orangtua akan merasakan suasana kehangatan yang penuh dengan cinta.
Berikanlah ciuman kepada anak dengan penuh kasih sayang. Tunjukkanlah kepadanya bahwa orangtua sangat mencintainya. Dengan cara seperti itu maka di antara orangtua dan anak akan terjalin suatu ikatan bathin yang erat. Mereka akan saling 'menyatu', tercipta suatu kedekatan dan sikap saling memahami yang penuh dengan cinta (yer).
Sebab, bisa jadi bayi menangis bukan karena lapar ingin minum susu atau minta makan. Tetapi, boleh jadi ia menangis karena sesuatu telah membuat dirinya sakit atau tidak nyaman. Selain itu, ada juga bayi yang bergerak-gerak tetapi bukan karena ia ingin di gendong melainkan ia ingin diajak bermain dan berbicara.
Memahami bahasa tubuh bayi memang tidak mudah. Perlu pendekatan yang baik dari orangtua terhadap diri sang bayi. Biasanya, orangtua yang merawat dan mengasuh bayinya dengan ’tangan sendiri’ akan lebih mudah memahami bahasa tubuh bayi. Mereka dengan mudah dapat menerjemahkan apa yang dibutuhkan bayi melalui suara, gerakan, dan kerutan dahinya.
Ada beberapa hal yang dapat memudahkan orangtua melakukan pendekatan kepada anak. Yaitu melalui pandangan, pendengaran, sentuhan, dan ciuman kepada sang bayi (Shelly Herold, MS, Ed, 2006).
Pandanglah setiap anggota tubuh bayi (mata, hidung, bibir) dan perhatikanlah ekspresi wajah dan gerak tubuhnya yang menawan. Tersenyumlah kepadanya dan berbahagialah
atas kehadirannya. Sebab ia adalah harapan dan masa depan kita sebagai orangtuanya.
Dengarkanlah setiap keunikan suaranya. Ketika bayi sedang berceloteh maka cobalah untuk membalas celotehannya tersebut. Berikanlah respon yang penuh dengan empati dan kasih sayang ketika bayi menangis.
Sentuhlah bayi dengan kelembutan. Peluklah dan belailah ia dengan cinta dan kasih sayang. Dengan demikian maka sebagai orangtua akan merasakan suasana kehangatan yang penuh dengan cinta.
Berikanlah ciuman kepada anak dengan penuh kasih sayang. Tunjukkanlah kepadanya bahwa orangtua sangat mencintainya. Dengan cara seperti itu maka di antara orangtua dan anak akan terjalin suatu ikatan bathin yang erat. Mereka akan saling 'menyatu', tercipta suatu kedekatan dan sikap saling memahami yang penuh dengan cinta (yer).
Tuesday, 8 January 2008
Menyikapi Anak yang Suka Mengamuk
Menghadapi anak yang suka mengamuk di depan umum memang sangat merepotkan dan menjengkelkan. Bahkan, karena merasa kesal dan malu tidak jarang orangtua kehilangan kesabaran. Sebagian orangtua ada yang melakukan kekerasan fisik seperti mencubit, memukul, dan menarik atau mendorong anak.
Pada umumnya, anak akan mengamuk apabila ada sesuatu yang ia inginkan atau butuhkan tetapi tidak segera dipenuhi oleh orangtuanya. Misalnya, ingin diperhatikan oleh orangtuanya, ingin tidur karena terlalu lelah, ingin mainan, atau bahkan ia ingin sesuatu untuk dimakan. Apabila orangtua tidak segera mengerti dan memenuhi apa yang diinginkannya maka ia akan mengamuk dengan cara menangis dan menjerit-jerit. Oleh karena itu, supaya anak terhindar dari mengamuk di depan umum maka pastikan kebutuhan anak terpenuhi lebih dulu dan janganlah menundanya terlalu lama (Jenny Gichara, 2006).
Menghadapi anak yang suka mengamuk di depan umum tentu perlu pengertian dan kesabaran orangtua. Melakukan suatu tindakan untuk menghentikan anak dari mengamuk tidak perlu dengan cara kekerasan fisik. Tenangkanlah anak dengan pelukan. Tanyakan kepadanya apa yang ia inginkan dan pastikan kepadanya bahwa orangtua akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya.
Apabila orangtua memiliki acara untuk pergi ke luar rumah bersama anak seperti berbelanja atau menghadiri suatu undangan. Maka, ada baiknya sebelum berangkat orangtua membuat perjanjian dulu dengannya. Hal ini perlu dilakukan supaya anak mengerti dan dapat menjaga sikap ketika ia sedang berada di depan umum. Bicarakanlah konsekuensinya apabila anak melanggar janji. Namun, jika anak mampu menjaga sikapnya dengan baik di depan umum maka tidak ada salahnya orangtua memberikan pujian, pelukan, ciuman, atau mungkin memberikan hadiah kecil yang ia sukai (yer).
Pada umumnya, anak akan mengamuk apabila ada sesuatu yang ia inginkan atau butuhkan tetapi tidak segera dipenuhi oleh orangtuanya. Misalnya, ingin diperhatikan oleh orangtuanya, ingin tidur karena terlalu lelah, ingin mainan, atau bahkan ia ingin sesuatu untuk dimakan. Apabila orangtua tidak segera mengerti dan memenuhi apa yang diinginkannya maka ia akan mengamuk dengan cara menangis dan menjerit-jerit. Oleh karena itu, supaya anak terhindar dari mengamuk di depan umum maka pastikan kebutuhan anak terpenuhi lebih dulu dan janganlah menundanya terlalu lama (Jenny Gichara, 2006).
Menghadapi anak yang suka mengamuk di depan umum tentu perlu pengertian dan kesabaran orangtua. Melakukan suatu tindakan untuk menghentikan anak dari mengamuk tidak perlu dengan cara kekerasan fisik. Tenangkanlah anak dengan pelukan. Tanyakan kepadanya apa yang ia inginkan dan pastikan kepadanya bahwa orangtua akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya.
Apabila orangtua memiliki acara untuk pergi ke luar rumah bersama anak seperti berbelanja atau menghadiri suatu undangan. Maka, ada baiknya sebelum berangkat orangtua membuat perjanjian dulu dengannya. Hal ini perlu dilakukan supaya anak mengerti dan dapat menjaga sikap ketika ia sedang berada di depan umum. Bicarakanlah konsekuensinya apabila anak melanggar janji. Namun, jika anak mampu menjaga sikapnya dengan baik di depan umum maka tidak ada salahnya orangtua memberikan pujian, pelukan, ciuman, atau mungkin memberikan hadiah kecil yang ia sukai (yer).
Monday, 7 January 2008
Membantu Anak Agar Terhindar Dari Sikap Malas
Dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya terkadang anakpun mengalami situasi malas seperti halnya orang dewasa. Namun, sikap bermalas-malasan ini tentu tidak baik apabila dibiarkan terus-menerus. Sebab, khawatir akan membuatnya menjadi terbiasa bersikap malas dalam segala hal.
Salah satu hal yang sering terjadi pada anak adalah perasaan malas untuk pergi ke sekolah. Terkadang, walaupun jarak antara rumah dan sekolah adalah dekat namun anak sesekali menolak untuk berangkat ke sekolah. Ia malah memilih untuk bermalas-malasan di rumah. Apabila orangtua menemukan sikap anak seperti ini maka segeralah untuk mencari penyebabnya. Karena, boleh jadi anak malas pergi ke sekolah karena takut oleh guru yang terlalu galak dan kejam terhadapnya. Atau, mungkin saja ia mendapatkan beberapa teman yang sering nakal dan mengganggunya selama ia di sekolah. Selain itu, boleh jadi anak malas pergi ke sekolah karena ia mendapatkan banyak kesulian dalam menyelesaikan soal-soal pelajaran, terlalu banyak PR (pekerjaan rumah) yang belum selesai sehingga ia merasa stres.
Apabila penyebab anak malas karena hal-hal di atas maka orangtua dapat membantunya dengan cara membicarakan apa yang menjadi beban anak tersebut kepada pihak sekolah. Biasanya, situasi sekolah yang menyenangkan dan memberikan rasa aman serta nyaman kepada anak dapat menciptakan semangat belajar yang baik kepada anak. Anakpun akan merasa betah, senang, dan bahagia melewatkan hari-harinya di sekolah.
Namun, selain hal di atas ada kemungkinan lain yang dapat menyebabkan anak bersikap malas. Yaitu, meniru kebiasaan orangtua yang suka bermalas-malasan dalam menjalankan kegiatan hidup. Menyikapi sikap anak seperti itu, orangtua harus segera introspeksi diri dan tidak memperlihatkan sikap malas di hadapan anak. Janganlah menjadi orangtua pemalas sebab anak akan meniru tindakan tersebut. Sebaliknya, orangtua harus mendorong anak agar tidak bersikap malas (Jenny Gichara, 2006). Misalnya, dengan cara membiasakan hidup teratur, disiplin, dan tepat waktu (yer).
Salah satu hal yang sering terjadi pada anak adalah perasaan malas untuk pergi ke sekolah. Terkadang, walaupun jarak antara rumah dan sekolah adalah dekat namun anak sesekali menolak untuk berangkat ke sekolah. Ia malah memilih untuk bermalas-malasan di rumah. Apabila orangtua menemukan sikap anak seperti ini maka segeralah untuk mencari penyebabnya. Karena, boleh jadi anak malas pergi ke sekolah karena takut oleh guru yang terlalu galak dan kejam terhadapnya. Atau, mungkin saja ia mendapatkan beberapa teman yang sering nakal dan mengganggunya selama ia di sekolah. Selain itu, boleh jadi anak malas pergi ke sekolah karena ia mendapatkan banyak kesulian dalam menyelesaikan soal-soal pelajaran, terlalu banyak PR (pekerjaan rumah) yang belum selesai sehingga ia merasa stres.
Apabila penyebab anak malas karena hal-hal di atas maka orangtua dapat membantunya dengan cara membicarakan apa yang menjadi beban anak tersebut kepada pihak sekolah. Biasanya, situasi sekolah yang menyenangkan dan memberikan rasa aman serta nyaman kepada anak dapat menciptakan semangat belajar yang baik kepada anak. Anakpun akan merasa betah, senang, dan bahagia melewatkan hari-harinya di sekolah.
Namun, selain hal di atas ada kemungkinan lain yang dapat menyebabkan anak bersikap malas. Yaitu, meniru kebiasaan orangtua yang suka bermalas-malasan dalam menjalankan kegiatan hidup. Menyikapi sikap anak seperti itu, orangtua harus segera introspeksi diri dan tidak memperlihatkan sikap malas di hadapan anak. Janganlah menjadi orangtua pemalas sebab anak akan meniru tindakan tersebut. Sebaliknya, orangtua harus mendorong anak agar tidak bersikap malas (Jenny Gichara, 2006). Misalnya, dengan cara membiasakan hidup teratur, disiplin, dan tepat waktu (yer).
Saturday, 5 January 2008
Orangtua yang juga Sahabat Anak (bag. 3 dari 3)
Oleh: Yusi Elsiano dan Yusep Rosmansyah
B. 'Hormat' dalam sikap atau tindakan
Setiap manusia tentu memiliki dasar perasaan dan keinginan yang sama dalam menerima perlakuan dari orang lain. Mereka sama-sama ingin dihargai, dicintai dan disayangi, terlepas apakah ia adalah orangtua, orang dewasa atau anak-anak. Untuk itu, kita sebagai orangtua sebaiknya membiasakan diri untuk bersikap 'hormat' walaupun kepada anak yang masih kecil ketika kita bertindak maupun dalam bertutur kata. Misalnya, pada saat Anda tidak sengaja menyenggol hasil karyanya, katakanlah 'maaf ya..', pada saat kita akan memakai barang milik anak, maka alangkah baiknya jika kita meminta izin terlebih dahulu dan selalu mengucapkan terimakasih atas perbuatan baik yang telah anak lakukan.
Sikap dan perkataan orangtua yang lemah lembut, jelas dan sopan bisa memberikan dua manfaat sekaligus pada diri anak, yaitu:
Kondisi lingkungan yang ada di sekitar kita adalah sebuah cermin dari diri kita sendiri. Segala sesuatu yang kita lakukan maka akan terrefleksi pada lingkungan yang ada di sekitar kita, terutama pada diri anak, misalnya bila kita terbiasa memukul ketika anak berbuat suatu kesalahan, maka cepat atau lambat iapun akan menirukan hal yang sama yaitu memukul orang lain akan dianggapnya hal biasa. Anak bagaikan alat perekam yang luar biasa. Segala sikap, perkataan dan akhlak yang mereka lihat dari lingkungannya akan ia tiru, seperti yang dikatakan oleh Dorothy Law Nolte (dari banyak sumber, 2007) sebagai berikut:
Anak belajar dari kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia akan belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia akan belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia akan belajar menahan diri
. . .
Dari tulisan singkat ini, jelaslah sudah bahwa kita sebagai orangtua harus ekstra hati-hati dalam bersikap dan berucap. Segala hal yang kita lakukan dan tanamakan kepada anak pada akhirnya kita juga yang akan ikut menuainya. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtuanya juga. Jika ingin anak -- dan kita sendiri orangtuanya -- bahagia, jadilah orangtua sahabat anak!
B. 'Hormat' dalam sikap atau tindakan
Setiap manusia tentu memiliki dasar perasaan dan keinginan yang sama dalam menerima perlakuan dari orang lain. Mereka sama-sama ingin dihargai, dicintai dan disayangi, terlepas apakah ia adalah orangtua, orang dewasa atau anak-anak. Untuk itu, kita sebagai orangtua sebaiknya membiasakan diri untuk bersikap 'hormat' walaupun kepada anak yang masih kecil ketika kita bertindak maupun dalam bertutur kata. Misalnya, pada saat Anda tidak sengaja menyenggol hasil karyanya, katakanlah 'maaf ya..', pada saat kita akan memakai barang milik anak, maka alangkah baiknya jika kita meminta izin terlebih dahulu dan selalu mengucapkan terimakasih atas perbuatan baik yang telah anak lakukan.
Sikap dan perkataan orangtua yang lemah lembut, jelas dan sopan bisa memberikan dua manfaat sekaligus pada diri anak, yaitu:
- Memberikan rasa percaya diri pada anak, sebab ia merasa bahwa dirinya telah dianggap sebagai orang dewasa karena telah dihargai atas pengakuan kepemilikannya serta merasa mampu melakukan sesuatu yang berguna bagi orang disekelilingnya.
- Memberikan contoh yang baik kepada anak sehingga pada kesempatan yang sama suatu saat nanti anak bisa bersikap baik dan sopan terhadap orangtua dan lingkungannya.
Kondisi lingkungan yang ada di sekitar kita adalah sebuah cermin dari diri kita sendiri. Segala sesuatu yang kita lakukan maka akan terrefleksi pada lingkungan yang ada di sekitar kita, terutama pada diri anak, misalnya bila kita terbiasa memukul ketika anak berbuat suatu kesalahan, maka cepat atau lambat iapun akan menirukan hal yang sama yaitu memukul orang lain akan dianggapnya hal biasa. Anak bagaikan alat perekam yang luar biasa. Segala sikap, perkataan dan akhlak yang mereka lihat dari lingkungannya akan ia tiru, seperti yang dikatakan oleh Dorothy Law Nolte (dari banyak sumber, 2007) sebagai berikut:
Anak belajar dari kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia akan belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia akan belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia akan belajar menahan diri
. . .
Dari tulisan singkat ini, jelaslah sudah bahwa kita sebagai orangtua harus ekstra hati-hati dalam bersikap dan berucap. Segala hal yang kita lakukan dan tanamakan kepada anak pada akhirnya kita juga yang akan ikut menuainya. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtuanya juga. Jika ingin anak -- dan kita sendiri orangtuanya -- bahagia, jadilah orangtua sahabat anak!
Friday, 4 January 2008
Orangtua yang juga Sahabat Anak (bag. 2 dari 3)
Oleh: Yusi Elsiano dan Yusep Rosmansyah
A. Hormat ketika berkomunikasi
Menjaga komunikasi agar tetap lancar dan bersikap terbuka sejak dini antara orangtua dengan anak dapat mempengaruhi keberhasilan anak di masa mendatang. Kepercayaan dan ikatan batin di antara mereka akan semakin terjalin dan menyatu, sehingga segala sesuatu yang terjadi tidak ada yang perlu disembunyikan dengan cara berbohong atau metutup-nutupi. Hal ini akan mempermudah orangtua dalam penyampaian nasehat, ide atau saran. Sebaliknya, anak bisa dengan lebih leluasa mengutarakan segala hal yang menjadi beban dan kendala dalam hidupnya kepada orangtua tanpa ada rasa curiga, takut disalahkan, takut tidak ditanggapi atau bahkan takut akan membuat orangtua marah. Jadi, komunikasi yang terbuka dapat menghindarkan hal-hal buruk yang sering terjadi pada anak, misalnya kebiasaan berbohong, mencuri, kekerasan antar teman, terlibat dengan barang-barang terlarang dan pelecehan seksual.
Biasakanlah mengajak berbicara anak walaupun hanya beberapa menit dalam sehari. Janganlah menganggap bahwa anak kecil tidak perlu berkomunikasi. Buruknya komunikasi akan berdampak negatif bagi perkembagan anak. Ia akan tertutup, dan bahkan akan dengan mudah terpengaruh dan memutuskan sesuatu berdasarkan saran atau bujukan lingkungan luar yang belum terjamin kualitas kebaikannya. Berikut ini ada beberapa cara belajar 'mendengarkan' menurut Philip Jackson, Dorothy Stegal dan Audrey Ashner (2006), yaitu:
Hubungan yang hangat, terbuka dan harmonis antara orangtua dengan anak sebaiknya dilakukan sejak bayi berada dalam kandungan. Sang ibu dapat mulai bercakap-cakap dengan menyapa, membacakan buku dan mengusap bayi dalam kandungan.
Pada saat anak berusia balita, kesabaran orangtua diuji. Pada masa ini, anak sering membuat orangtua habis kesabarannya karena tingkah laku mereka yang masih suka merusak, mengotori ruangan, rewel dan susah diatur. Semua ini adalah hal yang wajar karena anak biasanya akan stabil kondisinya jika orang yang terdekatnya mampu memahami akan kebutuhan dan keinginannya yang biasanya terlihat dari bahasa tubuh atau lisannya. Bersikaplah bijaksana ketika menghadapi anak yang ternyata telah berbuat suatu kesalahan. Hindarilah membentak, memarahi apalagi melakukan kekerasan fisik seperti memukul, mencubit atau menampar anak. Tindakan itu hanya akan membuat anak merasa bingung akan tindakannya, sedih yang mendalam, tidak ada harga diri bahkan dendam. Katakanlah dengan baik akan kesalahan yang telah ia perbuat dengan memberikan petunjuk yang sebaiknya dilakukan agar mereka tahu mana yang salah dan yang benar. Suatu saat nanti ia akan mengerti dan dapat memutuskan hal yang terbaik dengan contoh yang telah ia terima dari tindakan orangtua kepadanya. Fahamilah bahwa kita semua adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Anak adalah manusia pemula, sehingga dia masih memerlukan banyak bimbingan, saran dan arahan yang benar dari yang sudah berpengalaman dalam menjalankan kehidupannya.
A. Hormat ketika berkomunikasi
Menjaga komunikasi agar tetap lancar dan bersikap terbuka sejak dini antara orangtua dengan anak dapat mempengaruhi keberhasilan anak di masa mendatang. Kepercayaan dan ikatan batin di antara mereka akan semakin terjalin dan menyatu, sehingga segala sesuatu yang terjadi tidak ada yang perlu disembunyikan dengan cara berbohong atau metutup-nutupi. Hal ini akan mempermudah orangtua dalam penyampaian nasehat, ide atau saran. Sebaliknya, anak bisa dengan lebih leluasa mengutarakan segala hal yang menjadi beban dan kendala dalam hidupnya kepada orangtua tanpa ada rasa curiga, takut disalahkan, takut tidak ditanggapi atau bahkan takut akan membuat orangtua marah. Jadi, komunikasi yang terbuka dapat menghindarkan hal-hal buruk yang sering terjadi pada anak, misalnya kebiasaan berbohong, mencuri, kekerasan antar teman, terlibat dengan barang-barang terlarang dan pelecehan seksual.
Biasakanlah mengajak berbicara anak walaupun hanya beberapa menit dalam sehari. Janganlah menganggap bahwa anak kecil tidak perlu berkomunikasi. Buruknya komunikasi akan berdampak negatif bagi perkembagan anak. Ia akan tertutup, dan bahkan akan dengan mudah terpengaruh dan memutuskan sesuatu berdasarkan saran atau bujukan lingkungan luar yang belum terjamin kualitas kebaikannya. Berikut ini ada beberapa cara belajar 'mendengarkan' menurut Philip Jackson, Dorothy Stegal dan Audrey Ashner (2006), yaitu:
- Berikan perhatian yang tidak terpecah.
- Masuklah ke pesan inti.
- Tunggulah hingga diminta sebelum menawarkan solusi.
- Jangan bercanda atau meremehkan masalah anak-anak Anda.
- Tanggapi dengan penuh hormat.
Hubungan yang hangat, terbuka dan harmonis antara orangtua dengan anak sebaiknya dilakukan sejak bayi berada dalam kandungan. Sang ibu dapat mulai bercakap-cakap dengan menyapa, membacakan buku dan mengusap bayi dalam kandungan.
Pada saat anak berusia balita, kesabaran orangtua diuji. Pada masa ini, anak sering membuat orangtua habis kesabarannya karena tingkah laku mereka yang masih suka merusak, mengotori ruangan, rewel dan susah diatur. Semua ini adalah hal yang wajar karena anak biasanya akan stabil kondisinya jika orang yang terdekatnya mampu memahami akan kebutuhan dan keinginannya yang biasanya terlihat dari bahasa tubuh atau lisannya. Bersikaplah bijaksana ketika menghadapi anak yang ternyata telah berbuat suatu kesalahan. Hindarilah membentak, memarahi apalagi melakukan kekerasan fisik seperti memukul, mencubit atau menampar anak. Tindakan itu hanya akan membuat anak merasa bingung akan tindakannya, sedih yang mendalam, tidak ada harga diri bahkan dendam. Katakanlah dengan baik akan kesalahan yang telah ia perbuat dengan memberikan petunjuk yang sebaiknya dilakukan agar mereka tahu mana yang salah dan yang benar. Suatu saat nanti ia akan mengerti dan dapat memutuskan hal yang terbaik dengan contoh yang telah ia terima dari tindakan orangtua kepadanya. Fahamilah bahwa kita semua adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Anak adalah manusia pemula, sehingga dia masih memerlukan banyak bimbingan, saran dan arahan yang benar dari yang sudah berpengalaman dalam menjalankan kehidupannya.
Thursday, 3 January 2008
Orangtua yang juga Sahabat Anak (bag. 1 dari 3)
Oleh: Yusi Elsiano dan Yusep Rosmansyah
Sahabat adalah rekan kita yang dapat menerima keadaan kita apa adanya. Ia dapat berbagi dalam suka maupun duka. Ia selalu berusaha untuk mengerti dan memberikan solusi saat kita mendapatkan suatu masalah. Ia bisa memberikan rasa tenang dan bahagia. Sahabat membuat hidup seseorang bahagia, menenangkan dan menyenangkan.
Begitu berarti dan pentingnya persahabatan dalam kehidupan, alangkah baiknya kita sebagai orangtua untuk mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam lingkungan keluarga, hal ini bisa kita awali mulai dari hubungan 'persahabatan' antara suami dan istri sebagai orangtua, dan tentunya antara orangtua itu sendiri dengan anak.
Salah satu hal utama yang sering terlupakan dalam menjalin persahabatan dengan anak adalah menetapkan dalam hati kita betapa penting memperlakukan anak dengan 'hormat' (respect), terutama pada saat berkomunikasi dan bersikap. Orangtua biasanya menganggap bahwa anak tidak memerlukan perlakuan 'hormat' karena menganggap anak belum begitu mengerti. Bahkan, seringkali hal ini diakibatkan karena keegoisan orangtua yang hanya menuntut anaknya saja untuk bersikap 'hormat' kepada orangtua. Padahal seharusnya tidak demikian. Anak adalah manusia juga yang perlu diperlakukan sama seperti halnya orang dewasa pada umumnya. Ia akan tumbuh dewasa dan perlu pembelajaran yang baik dari orangtua dan lingkungannya sehingga kelak menjadi manusia yang bijaksana.
Sahabat adalah rekan kita yang dapat menerima keadaan kita apa adanya. Ia dapat berbagi dalam suka maupun duka. Ia selalu berusaha untuk mengerti dan memberikan solusi saat kita mendapatkan suatu masalah. Ia bisa memberikan rasa tenang dan bahagia. Sahabat membuat hidup seseorang bahagia, menenangkan dan menyenangkan.
Begitu berarti dan pentingnya persahabatan dalam kehidupan, alangkah baiknya kita sebagai orangtua untuk mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam lingkungan keluarga, hal ini bisa kita awali mulai dari hubungan 'persahabatan' antara suami dan istri sebagai orangtua, dan tentunya antara orangtua itu sendiri dengan anak.
Salah satu hal utama yang sering terlupakan dalam menjalin persahabatan dengan anak adalah menetapkan dalam hati kita betapa penting memperlakukan anak dengan 'hormat' (respect), terutama pada saat berkomunikasi dan bersikap. Orangtua biasanya menganggap bahwa anak tidak memerlukan perlakuan 'hormat' karena menganggap anak belum begitu mengerti. Bahkan, seringkali hal ini diakibatkan karena keegoisan orangtua yang hanya menuntut anaknya saja untuk bersikap 'hormat' kepada orangtua. Padahal seharusnya tidak demikian. Anak adalah manusia juga yang perlu diperlakukan sama seperti halnya orang dewasa pada umumnya. Ia akan tumbuh dewasa dan perlu pembelajaran yang baik dari orangtua dan lingkungannya sehingga kelak menjadi manusia yang bijaksana.
Wednesday, 2 January 2008
Orangtua Bersikap Kepada Anak yang Sudah Menikah
Di kalangan orangtua, sebagian dari mereka ada yang merasa khawatir, takut, sedih, dan bahkan merasa kehilangan ketika anak mereka mulai hidup baru dengan pasangannya. Orangtua seperti ini mungkin saja akan merasa bahwa pasangan anak (menantu) telah mengambil anak mereka. Orangtuapun merasa bahwa mereka tidak bisa memiliki anaknya lagi. Dengan demikian, orangtuapun terkadang merasa bahwa anak mereka sudah tidak mungkin lagi dapat diajak ‘bicara’ seperti sebelumnya.
Sebagai orangtua bijaksana ada baiknya menghilangkan semua perasaan dan prasangka negatif seperti di atas. Jadikanlah pernikahan anak sebagai upaya untuk menambah saudara, kerabat, perasaan cinta, dan kasih sayang satu dengan lainnya. Ciptakanlah sikap saling membantu dan empati di antara orangtua, anak, menantu, dan besan sehingga suasana hidup semakin hangat dan bahagia.
Sejatinya, ada beberapa langkah yang mungkin dapat membantu orangtua dalam menjaga hubungan dengan anak yang sudah menikah agar tetap harmonis. Di antaranya adalah dengan menciptakan ‘kebersamaan’, seperti mengundang anak dan keluarganya untuk makan malam bersama atau mungkin mengadakan liburan bersama ke suatu tempat. Apabila oragtua merasakan sesuatu yang kurang berkenan karena anak atau menantu maka bicarakanlah kepada mereka dengan bijaksana. Bersikaplah orangtua seperti halnya ‘teman’ bagi sang anak. Maksudnya, di antara orangtua dengan anak tercipta interaksi yang hangat, penuh kasih sayang dan penuh perhatian (Phillip Jackson M.Ed, Dorothy Stegal M. Ed, Audrey Ashner M.Ed, 2007).
Dengan sikap orangtua seperti di atas maka besar kemungkinan keharmonisan keluarga akan selalu tetap terjaga. Pernikahan anak tidak akan lagi menjadi ‘pintu pembatas’ antara orangtua dengan anak. Orangtua akan tetap dapat ‘berkomunikasi’ dengan penuh kehangatan dan terbuka kepada anak. Begitupun sebaliknya, anak akan tetap merasa ‘dekat’ dengan orangtuanya. Akhirnya, di antara merekapun tidak akan ada yang merasa kehilangan (yer).
Sebagai orangtua bijaksana ada baiknya menghilangkan semua perasaan dan prasangka negatif seperti di atas. Jadikanlah pernikahan anak sebagai upaya untuk menambah saudara, kerabat, perasaan cinta, dan kasih sayang satu dengan lainnya. Ciptakanlah sikap saling membantu dan empati di antara orangtua, anak, menantu, dan besan sehingga suasana hidup semakin hangat dan bahagia.
Sejatinya, ada beberapa langkah yang mungkin dapat membantu orangtua dalam menjaga hubungan dengan anak yang sudah menikah agar tetap harmonis. Di antaranya adalah dengan menciptakan ‘kebersamaan’, seperti mengundang anak dan keluarganya untuk makan malam bersama atau mungkin mengadakan liburan bersama ke suatu tempat. Apabila oragtua merasakan sesuatu yang kurang berkenan karena anak atau menantu maka bicarakanlah kepada mereka dengan bijaksana. Bersikaplah orangtua seperti halnya ‘teman’ bagi sang anak. Maksudnya, di antara orangtua dengan anak tercipta interaksi yang hangat, penuh kasih sayang dan penuh perhatian (Phillip Jackson M.Ed, Dorothy Stegal M. Ed, Audrey Ashner M.Ed, 2007).
Dengan sikap orangtua seperti di atas maka besar kemungkinan keharmonisan keluarga akan selalu tetap terjaga. Pernikahan anak tidak akan lagi menjadi ‘pintu pembatas’ antara orangtua dengan anak. Orangtua akan tetap dapat ‘berkomunikasi’ dengan penuh kehangatan dan terbuka kepada anak. Begitupun sebaliknya, anak akan tetap merasa ‘dekat’ dengan orangtuanya. Akhirnya, di antara merekapun tidak akan ada yang merasa kehilangan (yer).
Tuesday, 1 January 2008
Hal Utama Bagi Orangtua Adalah Anak Bahagia
Di kalangan orangtua, sebagian dari mereka ada yang selalu merasa kecewa, tidak suka, cemburu, dan khwatir ketika anak mereka mulai menjalani kehidupan rumah tangganya. Penyebabnya bermacam-macam, di antaranya mungkin karena orangtua merasa khawatir dengan prospek masa depan pasangan anak (menantu), orangtua merasa tidak nyaman dengan hubungan yang terjalin erat antara anak dengan keluarga baru anak mereka (pihak besan), atau bahkan mungkin saja orangtua merasa takut jika anak mereka menjadi tidak terlalu dekat dengan orangtuanya. Sebaliknya, anak menjadi lebih dekat dan setia kepada keluarga barunya.
Seyogyanya, orangtua harus menyadari bahwa semua perasaan di atas adalah tidak memberikan manfaat sedikitpun baik bagi diri orangtua pribadi maupun bagi anak. Yang jelas malah sebaliknya, perasaan negatif orangtua tersebut dapat merusak perasaan dan hubungan orangtua terhadap anak, menantu, dan pihak besan.
Ada baiknya orangtua mulai mengubah sikap dan perasaan negatif yang selama ini boleh jadi sangat menyiksa perasaan. Bersikaplah orangtua positif dalam menghadapi kehidupan baru anak. Utamakan tujuan dipikiran bahwa yang paling penting adalah kebahagiaan anak. Jika anak diterima, disambut, dan dihargai oleh pasangan dan keluarga barunya maka orangtua seharusnya ikut berbahagia. Sebaliknya, jika pasangan dan keluarga baru tidak menyambut anak sesuai dengan apa yang diharapkan maka cobalah tawarkan hubungan sebagus mungkin kepada mereka, tanpa mengkritik keluarga lain (Philip Jackson M.Ed, Dorothy Stegal M. Ed, Audrey Ashner M. Ed, 2007). Misalnya, dengan cara mengundang makan malam, menelepon, atau melakukan kunjungan kepada mereka (bersilaturahmi). (yer)
Seyogyanya, orangtua harus menyadari bahwa semua perasaan di atas adalah tidak memberikan manfaat sedikitpun baik bagi diri orangtua pribadi maupun bagi anak. Yang jelas malah sebaliknya, perasaan negatif orangtua tersebut dapat merusak perasaan dan hubungan orangtua terhadap anak, menantu, dan pihak besan.
Ada baiknya orangtua mulai mengubah sikap dan perasaan negatif yang selama ini boleh jadi sangat menyiksa perasaan. Bersikaplah orangtua positif dalam menghadapi kehidupan baru anak. Utamakan tujuan dipikiran bahwa yang paling penting adalah kebahagiaan anak. Jika anak diterima, disambut, dan dihargai oleh pasangan dan keluarga barunya maka orangtua seharusnya ikut berbahagia. Sebaliknya, jika pasangan dan keluarga baru tidak menyambut anak sesuai dengan apa yang diharapkan maka cobalah tawarkan hubungan sebagus mungkin kepada mereka, tanpa mengkritik keluarga lain (Philip Jackson M.Ed, Dorothy Stegal M. Ed, Audrey Ashner M. Ed, 2007). Misalnya, dengan cara mengundang makan malam, menelepon, atau melakukan kunjungan kepada mereka (bersilaturahmi). (yer)
Subscribe to:
Posts (Atom)
