Cerita ini adalah nyata dari keluarga saya pribadi. Ketika anak saya yang pertama Fahma minta dibelikan sesuatu, maka suami akan memintanya membuat sesuatu terlebih dahulu sesuai dengan kemampuannya. Suami tahu bahwa Fahma memiliki kemampuan dalam membuat artikel, game, atau gambar dengan menggunakan komputernya.
Sebelum Fahma membuat karyanya, biasanya di antara mereka berdua melakukan suatu kesepakatan terlebih dahulu tentang harga yang akan ditawarkan oleh suami dengan jenis karya yang akan dibuat oleh Fahma. Setelah pekerjaan Fahma selesai, suamipun selalu bersedia mengantar Fahma membelanjakan uang hasil karyanya tersebut.
Melihat kondis seperti itu, pada awalnya saya sungguh tidak tega. Saya tahu Fahma sangat ingin memiliki benda tersebut dengan segera. Padahal untuk membuat artikel atau game yang cantik tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ia mungkin akan sulit membagi waktunya. Setiap hari Fahma sangat sibuk. Selain sekolah dari pagi hingga sore, iapun mempunyai beberapa jadwal kursus dan pekerjaan rumah lainnya.
Terkadang saya protes dengan sikap suami seperti itu, ingin rasanya saya langsung membelikan benda yang diinginkannya tanpa kompromi dulu dengan suami. Namun, itu adalah tidak baik tentunya. Suami ingin mengajarkan Fahma terbiasa dengan ‘kerja keras’ dan bertanggung jawab. Suami tidak meminta anak mengerjakan suatu pekerjaan di luar kemampuannya.
Setelah saya perhatikan, ternyata tindakan suami membuahkan hasil yang positif. Fahma menjadi terbiasa dan semakin terlatih menggunakan komputer dan nalarnya. Selain itu, iapun selalu mempertimbangkan terlebih dahulu apabila ia akan menggunakan uang. Ia tidak mau memboros-boroskan uang untuk benda yang tidak bermanfaat.
Ternyata apa yang dilakukan suami selama ini adalah menghasilkan sikap positif untuk Fahma. Ada hal yang semakin membuat saya menjadi membenarkan tindakan suami di atas. Terutama ketika saya selesai membaca sebuah buku karya Cary Chapman, 2007. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa mendorong anak mengerjakan sesuatu sesuai dengan kemampuannya dan memberikan sejumlah uang sebagai upahnya dapat membuat anak mampu menghargai uang. Anak akan merasakan jerih payah memperoleh suatu barang dengan hasil kerjanya. Dengan demikian, anak tidak akan menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli hal-hal yang tidak berguna atau sia-sia. Anak akan terbiasa menjadi konsumen yang cerdas. Hal tersebut juga menyiapkan anak menghadapi dunia nyata kehidupan orang dewas.
Saturday, 19 July 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment