Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010

Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.

Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.

Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.

ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna

Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!

Friday, 14 March 2008

Mengajarkan Tanggung Jawab Kepada Anak dengan Cara Bijak

Memberikan tugas kepada anak untuk melakukan suatu pekerjaan rumah adalah tidak salah. Dengan demikian, anak dapat belajar bagaimana hidup saling menolong, bertanggung jawab, dan bersikap empati. Namun, dalam praktiknya tentu tugas yang dibebankan kepada anak harus disesuaikan dengan kemampuan, kondisi, dan usia anak.


Membebani terlalu banyak pekerjaan kepada anak adalah tidak benar. Apalagi, jika pekerjaan tersebut sebenarnya adalah tugas dan tanggung jawab orangtua. Misalnya, sementara anak disuruh mengerjakan pekerjaan rumah atau menjaga toko di rumah, orangtua malah pergi bersama teman-teman ke tempat perbelanjaan, arisan, dan bahkan hanya sekedar kumpul-kumpul.


Anak yang terlalu sering dituntut dan dibebani banyak tugas atau pekerjaan rumah biasanya akan lebih suka berada di luar rumah. Anak akan lebih memilih untuk menghindarkan diri dari orangtuanya. Apabila situasi seperti itu terjadi, maka orangtua maupun anak akan sama-sama merasakan hal yang sama. Yaitu, merasa marah, jengkel, dan kesal. Orangtua marah karena anak tidak mau membantu atau menuruti permintaan mereka, sedangkan anak marah karena ia merasa lelah dan kesal karena selalu dibebani oleh banyak pekerjaan yang membuatnya tidak punya kebebasan dan waktu untuk menyenangkan dirinya sendiri.


Apabila orangtua ingin mengajarkan tanggung jawab kepada anak, maka dapat melakukaknnya dengan cara memberikan tugas atau pekerjaan itu setahap demi setahap. Yang paling penting adalah anak mengetahui mengapa pekerjaan itu perlu dikerjakan. Bukan sebaliknya, anak dipaksa melakukan pekerjaan tersebut hanya karena untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pribadi orangtua (yer).


Perlu orangtua sadari, anak bukanlah robot atau sebuah mesin yang bisa dipekerjakan kapan saja dan tanpa membutuhkan apresiasi. Sebelum orangtua menugaskan suatu pekerjaan kepada anak, penting memperhatikan waktu dan kesediaannya. Sebab, sikap saling menghargai juga perlu dilakukan kepada anak.


Jika anak bersedia membantu pekerjaan orangtua, maka janganlah lupa orangtua memberikan pujian, mengucapkan terima kasih, dan melakukan komunikasi yang bermanfaat kepadanya. Tindakan tersebut merupakan suatu bentuk dukungan kepada anak supaya ia menjadi terbiasa dengan sikap ‘dewasa’, seperti suka membantu dan bertanggung jawab.


Menanamkan suatu nilai-nilai positif kepada anak dengan mengajarkan sikap tanggung jawab melalui tugas mengerjakan suatu pekerjaan di rumah perlu adanya hubungan yang baik antara orangtua dengan anak. Yaitu, berupa kedekatan dan kepedulian orangtua yang dapat dicurahkan kepadanya dalam bentuk saling memberikan cinta dan kasih sayang (Jacob Azerrad, Ph,D, 2005). Jika perasaan anak bahagia, maka ia akan mampu melakukan suatu pekejaan dengan perasaan senang tanpa perlu melakukan perdebatan atau ’perang mulut’ di antara orangtua dengan dirinya.

0 comments:

Post a Comment