Di antara hak-hak anak yang paling penting dan harus dilaksanakan orangtua adalah memahami, berempati, dan menasehati anak jika ia melakukan suatu kesalahan (Muhammad Rasyid Dimas, 2005).
Setiap manusia, baik tua maupun muda tentu memiliki perasaan yang sama. Yaitu, ingin dihargai dan diperlakukan sopan oleh orang lain. Maksudnya, jika orang dewasa tidak senang dirinya banyak dikritik orang lain, maka besar kemungkinan anak juga tidak ingin dirinya selalu dikritik. Hal itu terbukti ketika orangtua sering mengkritik apa yang dilakukan anak, maka anak tersebut akan cenderung marah atau tidak mau menerima kritikan tersebut.
Oleh karena itu, apabila anak melakukan suatu kesalahan berusahalah orangtua untuk tidak cepat mengkritik anak. Bersikaplah mengerti dan empati terhadap apa yang dilakukan anak. Jika anak melakukan suatu kesalahan, cobalah untuk memahami dan berempati pada apa yang dirasakan anak. Sebab, mungkin saja kesalahan yang dilakukan anak tersebut disebabkan oleh ketidaksengajaan, ada sesuatu yang telah membuatnya panik, lupa, atau mungkin karena ia sedang mengalami banyak tekanan dan sedih. Anak akan lebih senang dan bersemangat ketika orangtua menasehati tindakan salahnya tersebut dengan sikap yang bijaksana.
Contoh kasus, ketika kita sedang memasak dan membuatkan susu buat anak. Tiba-tiba suami minta dibuatkan air kopi. Terkadang, karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan, maka kita boleh jadi lupa bahwa saat itu sedang memasak. Akhirnya, apa yang kita masak sudah gosong. Jika suami mengomentari hasil memasak kita yang sudah gosong dengan kritikan. Pada umumnya kita akan merasa tidak nyaman dan marah, mogok mengerjakan hal lainnya dengan tulus. Karena, kita menganggap bahwa suami tidak pegertian dan empati. Dengan kondisi seperti itu, kita sebagai orang dewasa berharap suami bisa pengertian dengan kesibukan kita saat itu dan berempati dengan tidak memberikan kritikan yang tidak menyenangkan. Begitu juga dengan perasaan anak ketika ia dikritik karena telah melakukan suatu kesalahan.
Akan berbeda situasinya, jika pernyataan yang diucapkan suami dalam kasus di atas memberikan kesan bahwa suami memahami dan empati kepada kita. Misalnya, suami mengatakan ’mungkin ibu terlalu banyak pekerjaan dan sangat repot, bolehkah ayah bantu pekerjaan lain yang bisa aku lakukan...’. Dengan pengertian dan empati seperti itu, kita mungkin akan lebih mudah menerima kesalahan yang telah dilakukan. Begitu juga pada anak. Selain ia akan mampu menerima nasehat dari orangtuanya, ia juga akan memiliki semangat untuk memperbaiki perilaku salahnya dengan senang hati (yer).
Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010
Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Thursday, 27 March 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment