Anak berbuat suatu kesalahan adalah wajar. Hal seperti itu termasuk manusiawi. Seyogyanya, setiap anak tentu tidak ingin melakukan dan mengecewakan orangtuanya dengan melakukan kesalahan. Oleh karena itu, terimalah dan maafkanlah ia apabila sesekali anak melakukan kesalahan. Karena, boleh jadi kesalahan tersebut adalah faktor ketidaksengajaan atau keingintahuan anak terhadap sesuatu hal.
Memberitahu, memperingatkan, dan mengajarkan anak supaya lebih berhati-hati dalam bertindak adalah penting. Hal ini perlu orangtua lakukan supaya anak dapat lebih pasti dalam bertindak. Iapun akan semakin mahir membedakan tindakan mana yang benar dan mana yang salah.
Mengajarkan anak untuk bersikap waspada sebagai upaya mengurangi kesalahan dalam bertindak tidak perlu menggunakan hukuman dengan kekerasan. Sebab, menghukum dan mempermalukan anak karena kesalahannya hanya akan membuat anak tidak mencintai dirinya sendiri. Ia akan memandang dirinya rendah. Ia berpendapat bahwa dirinya tidak mampu melakukan hal yang baik, selalu mengecewakan dan bahkan ia akan selalu menganggap bahwa dirinya sudah tidak lagi berharga di mata orangtuanya. Dengan demikian, kondisi tersebut bisa saja mendorong anak untuk melakukan tindakan negatif. Misalnya, narkoba, frustrasi, dan bahkan bunuh diri.
Sejatinya, anak belajar dari apa yang diperlihatkan orangtuanya. Apabila orangtua sesekali melakukan kesalahan dan mereka mau meminta maaf atas kesalahannya tersebut maka anak bukan saja akan belajar bertanggung jawab. Tetapi, dengan berulang-ulang memaafkan orangtua setiap kali orangtua melakukan kesalahan. Maka, lambat laun anak akan semkin menyadari pentingnya kemauan memberi maaf (John Gray, Ph.D,2004)
Kesimpulannya, supaya anak mampu mencintai dirinya sendiri, dapat bertindak dengan penuh tanggung jawab, dan mampu memaafkan diri serta orang lain. Maka, ketika anak melakukan suatu kesalahan hindarilah orangtua memarahi, menghukum, dan mempermalukan anak. Sebaliknya, berikanlah maaf kepadanya. Tetaplah memperlakukan anak dengan penuh cinta. Luruskanlah kesalahan anak dengan cara yang bijaksana dan penuh dengan kelembutan. Janganlah orangtua melakukan kekerasan, ancaman, dan hukuman sebagai cara untuk mendidik supaya anak tidak bersikap salah.
Selain hal di atas, adalah penting bagi orangtua untuk tidak merasa ’rendah’ atau gengsi jika meminta maaf kepada anak atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, apabila anak melakukan suatu kesalahan maka iapun tidak akan sulit meminta maaf. Bahkan, mungkin saja contoh baik yang telah dilakukan orangtua tersebut dapat mendukung anak menjadi orang yang terbiasa memaafkan kesalahan orang lain (yer).
Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010
Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Friday, 25 January 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
Tu dia... sosok ortu yang slama ini aku harapkan...
Post a Comment