Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010

Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.

Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.

Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.

ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna

Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!

Thursday, 24 January 2008

Anak Boleh Berkata Tidak, Namun Orangtua Tetap Memegang Kendali

Di lingkungan kita, sebagian besar orangtua masih merasa khawatir apabila mereka terlalu banyak memberikan kekuasaan kepada anak. Misalnya, memberikan kekuasaan kepada anak untuk boleh berkata tidak. Mereka takut kekuasaan tersebut akan membuat anak menjadi orang yang manja dan selalu menuntut. Oleh karena itu, masih banyak orangtua di sekeliling kita yang selalu menuntut anak agar menuruti setiap hal yang mereka perintahkan dan inginkan. Bahkan, orangtua seperti ini akan marah apabila anak tidak patuh dan menuruti perkataan mereka.


Seyogyanya perlu orangtua pahami bahwa memberikan izin kepada anak untuk dapat berkata tidak, bukan berarti anak bebas melakukan apa saja yang ia inginkan. Sehingga orangtua harus selalu memenuhi segala keinginannya dan anak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Anak boleh berkata tidak tetapi kendali harus tetap ada di pihak orangtua. Maksudnya, orangtua harus tetap memegang kendali terhadap anak. Apabila anak tidak mau menyesuaikan dengan apa yang diinginkan orangtua (anak sering lepas kendali). Maka, orangtua perlu segera mengendalikannya. Contohnya, dengan cara mengajarkan kepada anak agar dapat bersikap kooperatif. Salah satu caranya adalah meberikan waktu sendiri kepada anak yang disesuaikan dengan usia anak. Apabila anak berusia empat tahun maka berikan waktu sendiri untuk merenung selama maksimal empat menit. Biarkan ia merasakan hidup sendiri dalam beberapa menit. Dengan demikian, ia akan merasakan kembali bahwa ia membutuhkan orangtua. Iapun akan berusaha untuk menyenangkan orangtuanya.


Apabila di dalam keluarganya ia sudah terbiasa memperoleh kesempatan untuk berkata tidak. Maka, ketika dewasa kelak ia akan sangat kecil kemungkinannya menjadi orang yang pemberontak dan melakukan apa saja yang bertentangan dengan keinginan orangtua. Sebaliknya, ia akan menjadi orang yang bersikap kooperatif dan selalu kembali kepada orangtua untuk mendapatkan cinta dan dukungan.


Orangtua bijak biasanya akan selalu memberikan kesempatan kepada anak untuk berkata tidak. Mereka akan mendengarkan apa yang diiginkan dan dirasakan oleh anak. Dengan memperbolehkan anak mereka berkata tidak berarti orangtua telah membuka pintu bagi anak untuk mengekspresikan perasaan dan menemukan apa yang ia inginkan. Hal seperti itu akan membuat anak bersikap kooperatif (John Gray, Ph.D, 2004).


Anak yang selalu dituntut untuk menuruti keinginan dan permintaan orangtua tetapi tidak diberikan kesempatan untuknya berkata tidak. Maka, hanya akan membuat anak menjadi orang yang penurut namun hanya menuruti perintah saja. Ia tidak berpikir, berpartisipasi, maupun berperasaan terhadap apa yang ia kerjakan (yer).

0 comments:

Post a Comment