(Bagian 6 dari 6 tulisan, bagian akhir dari tulisan mengenai Indahnya Keadilan Orangtua)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Apresiatif
Salah satu karakteristik dasar orangtua yang bijaksana adalah selalu menghargai dan memberikan pengakuan yang positif terhadap hasil usaha atau tindakan yang dilakukan oleh anaknya.
Kebiasaan selalu membanding-bandingkan kemampuan salah satu anak dengan anak lainnya serta banyak mengkritik daripada memujinya adalah hal yang tidak baik untuk perkembangan jiwa anak. Tindakan orangtua tersebut dapat mematahkan semangat dan menimbulkan perasaan tidak berguna pada diri anak, sebab mereka akan beranggapan bahwa kemampuan yang ia miliki tidak pernah memberikan arti atau kebanggan bagi orangtuanya.
Sekecil apapun sebuah usaha, kebaikan atau prestasi yang dilakukan oleh anak sebaiknya orangtua memberikan apresiasi kepadanya, walau hanya dengan pelukan, ucapan kata terimakasih, memuji atau tepukan di bahu sebagai tanda bahwa orangtua sangat bangga dan senang akan tindakannya.
Apresiasi yang diterima oleh anak mampu menambah semangat pada dirinya untuk melakukan suatu tindakan yang lebih baik lagi. Sang anak akan merasa bahwa tindakannya dihargai dan memberikan kebahagiaan kepada kedua orangtuanya. Jika orangtua selalu mengapresiasi sesuatu yang bernilai baik kepada setiap anaknya, maka mereka akan terus mencoba untuk saling membantu agar selalu dapat memberikan yang terbaik pada orangtuanya.
Kondisi seperti ini akan membuat semakin kecil lagi kemungkinan orangtua melihat kekurangan pada diri anak-anaknya sehingga tidak akan ada lagi sikap selalu memuji dan membanding-bandingkan antara satu anak dengan yang lainnya.
Toleran
Orangtua adalah lautan maaf bagi anak-anaknya. Orangtua juga seyogyanya menjadi individu yang paling bijak dan toleran bagi anak-anaknya. Bukannya sebaliknya, seperti selalu ingin selalu dimaklum, sensitif dan mudah tersinggung.
Pada dasarnya, orangtua yang membesarkan dan mendidik anak-anak dengan ‘tangannya sendiri’ akan mudah mengenal karakter dan kepribadian mereka dengan pasti. Sifat dan sikap yang terdapat pada diri anak-anak tidak akan jauh dari sifat dan sikap orangtuanya.
Fahamilah setiap sifat, sikap dan kepribadian masing-masing anak, sehingga dengan keadaan anak apa adanya sebagai orangtua tidak akan mudah sensitif (tersinggung) dan justru dapat segera memaafkan jika suatu saat mereka melakukan sesuatu hal yang kurang berkenan.
Hal yang sama terjadi pada anak-anak yang sudah mengenal orangtuanya dengan baik, mereka akan berperilaku apa adanya pada saat bertutur kata maupun dalam bersikap. Anak-anak akan merasa percaya bahwa tanpa perilaku yang dibuat-buat, orangtuanya tidak akan merasa sakit hati ataupun tersinggung.
Menunjukkan sifat toleran kepada semua anak adalah sangat penting, supaya orangtua terhindar dari pengaruh negatif yang dilakukan sebagian anak yang hanya menginginkan orangtuanya berpihak kepadanya.
Kesimpulan
Keadilan orangtua di sebuah keluarga adalah sesuatu yang sangat indah. Semua anak di keluarga tersebut merasakan kebahagiaan, ketenangan dan curahan cinta yang tulus dari orangtuanya. Anak-anak akan tumbuh menjadi individu-individu dewasa yang lebih berkualitas. Ikatan batin yang terjalin antar anggota keluarga itu sedemikian erat, sehingga kebersamaan di antara mereka bukanlah sesuatu yang klise dan dibuat-buat, tetapi benar-benar merupakan sebuah kebersamaan yang hakiki.
Dua hal penting yang berpengaruh atas terjadinya keadilan orangtua adalah latar belakang orangtua dan ilmu berkeluarga yang dimiliki oleh mereka. Keduanya dapat diperbaiki dengan selalu belejar dan berusaha keras untuk menjadi yang lebih baik.
Dari sejumlah contoh kasus positif yang dipaparkan, beberapa sifat dasar orangtua adil telah diekstrak. Sifat-sifat dasar ini dapat juga dijadikan acuan untuk mengukur pencapaian kita dalam upaya menjadi orangtua yang adil.
Marilah kita berusaha yang terbaik untuk menjadi orangtua yang adil agar dunia anak-anak kita menjadi lebih indah dan sekaligus menjadikan mereka generasi yang lebih baik dari kita semua! (yer, yr)
Monday, 31 December 2007
Sunday, 30 December 2007
Indahnya Keadilan Orangtua: Sifat-sifat Dasar Orangtua Adil (3)
(Bagian 5 dari 6 tulisan)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Komunikatif
Komunikatif dalam konteks ini adalah sikap yang mengutarakan, menyampaikan dan mendiskusikan ide, pemikiran, situasi atau kondisi.
Melibatkan anak-anak dalam situasi komunikatif dapat memberikan banyak manfaat, di antaranya:
1. meningkatkan rasa percaya diri pada anak karena dianggap telah mampu memberikan kontribusi yang bermanfaat untuk keluarga
2. memberikan contoh serta motivasi kepada anak-anak untuk selalu berfikir sebelum berkata sesuatu agar pendapatnya selalu berkualitas
3. menumbuhkan sikap saling menghargai terhadap pendapat orang lain
4. melatih diri dalam bermasyarakat praktis dan ilmiah dan menanamkan kesadaran bahwa perbedaan pendapat itu adalah sesuatu yang lazim terjadi
Jika terjadi suatu kesalahan atau keburukan yang dilakukan oleh anak, sebagai orangtua perlu segera mengkomunikasikannya langsung dengan anak yang bersangkutan secara pribadi (tidak dipermalukan di depan anak-anak lain), sebab bila masalah ini didiamkan berlarut-larut justru akan menjadi lebih rumit dan dapat menimbulkan ketidakadilan dalam memperlakukan anak.
Kebiasaan mengambil sikap diam dan membisu ketika menghadapi suatu masalah adalah tindakan yang tidak bijaksana. Suatu masalah tidak akan ada jalan keluar, jika di antara orangtua dan anak atau sebaliknya tidak saling faham pada pokok permasalahan yang terjadi. Hubungan antara orangtua dan anak akan semakin renggang, mereka tidak saling mengetahui maksud, alasan dan pemikiran masing-masing.
Jauhkan kebiasaan orangtua membicarakan ketidaksetujuan atau hal-hal negatif yang ada pada diri anak yang satu kepada anak-anak lainnya. Tindakan tersebut dapat memancing anak untuk bersaing tidak sehat dan menjatuhkan satu sama lain, agar ia tampak lebih baik di mata orangtuanya.
Sangat penting menciptakan sikap komunikatif pada diri orangtua dan anak sehingga di antara anggota keluarga dapat hidup saling terbuka dan terhindar dari kebiasaan menutup diri, buruk sangka, curiga dan merasa diabaikan.
Ajaklah anak-anak untuk mengkomunikasikan segala hal yang dianggap sebagai kendala atau masalah keluarga, agar memudahkan dalam pengambilan tindakan dan keputusan yang tepat sehingga masalah yang terjadi dapat segera diselesaikan dengan baik.
Sebuah komunikasi yang tercipta dengan baik dapat menghindarkan seseorang dari kesalahpahaman dan prasangka buruk akibat berita yang datang dari pihak lain.
Amanah
Amanah adalah menyampaikan sesuatu kepada yang berhak menerimanya. Segala hal yang menjadi amanah, baik dalam bentuk material (uang, barang) ataupun lisan (pesan), harus disampaikan tepat pada waktunya dan dalam kondisi yang utuh (tidak dikurangi atau dilebih-lebihkan).
Dalam sebuah keluarga, anak adalah amanah Tuhan yang harus dijaga, dirawat dan diperlakukan secara adil oleh kedua orangtuanya. Orangtua harus memberikan hak material dan spiritual yang sama kepada semua anak-anaknya, misalnya berupa kasih sayang, perhatian, pemenuhan kebutuhan kesehatan dan pendidikan.
Sebuah contoh amanah dalam hal meyekolahkan anak (kebutuhan pendidikan) adalah dengan memberikan peluang atau kesempatan untuk menimba ilmu dengan kualitas yang sama kepada semua anak. Maksimalkan misi, visi, motivasi dan upaya orangtua terhadap semua pemenuhan kebutuhan anak-anak agar terbebas dari sikap membeda-bedakan mereka. Orangtua yang merasa cukup dengan menyekolahkan anak alakadarnya tanpa memberikan pendidikan lainnya, padahal mereka mampu, pastilah sulit untuk disebut orangtua yang amanah.
Tidak amanah jika orangtua menentukan prioritas anak berdasarkan perbedaan jenis kelamin dan posisi anak dalam keluarga. Sebagai pengingat pokok pembicaraan kita, sifat amanah adalah salah satu syarat terciptanya keadilan orangtua. Jadi, bukanlah orangtua yang amanah dan adil jika mereka memutuskan bahwa hanya anak laki-laki atau anak yang tertua saja yang perlu mendapatkan pendidikan maksimal dari keluarga, tidak untuk anak perempuan atau anak lainnya.Tindakan ini dapat menimbulkan sifat iri, permusuhan antar saudara dan sikap tidak mau peduli diantara mereka.
Jadilah orangtua yang adil dengan selalu berusaha menyampaikan segala bentuk amanah yang diembannya. Sampaikanlah pesan dan informasi kepada semua anak dengan bijaksana sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Janganlah melewatkan salah satu anak karena kurang disukai atau alasan negatif lainnya.
Jika orangtua selalu menjaga amanah kepada anak-anaknya dengan baik, maka anak-anakpun akan semakin mempercayai, menyayangi dan menghargai kedua orangtua dan saudara yang lainnya. Setidaknya ada dua konsekuensi positif jika hal ini dilakukan, orangtua telah:
1. melakukan salah satu karakteristik dasar keadilan kepada semua anggota keluarganya
2. memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya untuk selalu menjaga amanah di antara mereka sehingga terjalin saling kepercayaan yang tinggi.
Sinergis
Secara ringkas, sinergis dalam tulisan ini dapat diartikan sebagai seiring, sejalan, sinkron, saling mendukung dan menguatkan. Sinergi yang menjadi pokok pembicaraan adalah sinergi antara kedua orangtua, yaitu ayah dan ibu. Sinergi antara ‘orangtua lain’ (seperti kakek, nenek, pengasuh) di keluarga memang diperlukan juga, tetapi tidak akan didiskusikan dalam tulisan ini.
Kedua orangtua yang bertujuan menciptakan keadilan dalam keluarga akan selalu menjaga agar selalu sinergis dalam bersikap terhadap anak-anaknya. Esensi keputusan, sikap, tindakan dan perilaku ayah dan ibu selalu sama di mata anak-anaknya. Jika ayah bersikap A terhadap anak-anak, maka ibupun akan melakukan hal yang sama, meskipun mungkin dengan pendekatan dan penyampaian yang berbeda, misalnya lebih lembut dan persuasif.
Sebaliknya, apabila di antara ibu dan ayah terdapat perbedaan dalam bersikap atau menentukan sebuah keputusan, anak akan merasa kebingungan dalam menentukan pilihan. Anak-anak tidak tahu ucapan siapa yang harus mereka dengarkan dan lakukan, pada akhirnya tindakan tersebut dapat menimbulkan perasaan kecewa, kecil hati, iri, frustrasi dan anakpun tidak dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Apalagi, jika ketidaksinergisan itu menyangkut ketidakadilan (perbedaan perlakuan) kepada salah satu atau lebih anak, dampak yang ditimbulkan akan lebih parah lagi.
Perbedaan pendapat dan perlakuan terhadap anak, bukan tidak mungkin akan menimbulkan terjadinya grup-grup kecil dalam keluarga tersebut. Sebagian anak mengikuti kebijakan ibu dan yang lainnya mengikuti kebijakan ayah. Ketidakharmonisan dalam keluarga pun terjadi.
Oleh sebab itu, jadilah orangtua yang selalu sinergis antara yang satu dengan lainnya. Dengan demikian, ketenangan dan kepercayaan diri anak akan tercipta. Anak-anak akan yakin bahwa orangtuanya pasti memberikan cinta sejati pada semua anak-anaknya dan hasil keputusan kedua orangtuanya adalah yang terbaik bagi semua. (yer, yr)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Komunikatif
Komunikatif dalam konteks ini adalah sikap yang mengutarakan, menyampaikan dan mendiskusikan ide, pemikiran, situasi atau kondisi.
Melibatkan anak-anak dalam situasi komunikatif dapat memberikan banyak manfaat, di antaranya:
1. meningkatkan rasa percaya diri pada anak karena dianggap telah mampu memberikan kontribusi yang bermanfaat untuk keluarga
2. memberikan contoh serta motivasi kepada anak-anak untuk selalu berfikir sebelum berkata sesuatu agar pendapatnya selalu berkualitas
3. menumbuhkan sikap saling menghargai terhadap pendapat orang lain
4. melatih diri dalam bermasyarakat praktis dan ilmiah dan menanamkan kesadaran bahwa perbedaan pendapat itu adalah sesuatu yang lazim terjadi
Jika terjadi suatu kesalahan atau keburukan yang dilakukan oleh anak, sebagai orangtua perlu segera mengkomunikasikannya langsung dengan anak yang bersangkutan secara pribadi (tidak dipermalukan di depan anak-anak lain), sebab bila masalah ini didiamkan berlarut-larut justru akan menjadi lebih rumit dan dapat menimbulkan ketidakadilan dalam memperlakukan anak.
Kebiasaan mengambil sikap diam dan membisu ketika menghadapi suatu masalah adalah tindakan yang tidak bijaksana. Suatu masalah tidak akan ada jalan keluar, jika di antara orangtua dan anak atau sebaliknya tidak saling faham pada pokok permasalahan yang terjadi. Hubungan antara orangtua dan anak akan semakin renggang, mereka tidak saling mengetahui maksud, alasan dan pemikiran masing-masing.
Jauhkan kebiasaan orangtua membicarakan ketidaksetujuan atau hal-hal negatif yang ada pada diri anak yang satu kepada anak-anak lainnya. Tindakan tersebut dapat memancing anak untuk bersaing tidak sehat dan menjatuhkan satu sama lain, agar ia tampak lebih baik di mata orangtuanya.
Sangat penting menciptakan sikap komunikatif pada diri orangtua dan anak sehingga di antara anggota keluarga dapat hidup saling terbuka dan terhindar dari kebiasaan menutup diri, buruk sangka, curiga dan merasa diabaikan.
Ajaklah anak-anak untuk mengkomunikasikan segala hal yang dianggap sebagai kendala atau masalah keluarga, agar memudahkan dalam pengambilan tindakan dan keputusan yang tepat sehingga masalah yang terjadi dapat segera diselesaikan dengan baik.
Sebuah komunikasi yang tercipta dengan baik dapat menghindarkan seseorang dari kesalahpahaman dan prasangka buruk akibat berita yang datang dari pihak lain.
Amanah
Amanah adalah menyampaikan sesuatu kepada yang berhak menerimanya. Segala hal yang menjadi amanah, baik dalam bentuk material (uang, barang) ataupun lisan (pesan), harus disampaikan tepat pada waktunya dan dalam kondisi yang utuh (tidak dikurangi atau dilebih-lebihkan).
Dalam sebuah keluarga, anak adalah amanah Tuhan yang harus dijaga, dirawat dan diperlakukan secara adil oleh kedua orangtuanya. Orangtua harus memberikan hak material dan spiritual yang sama kepada semua anak-anaknya, misalnya berupa kasih sayang, perhatian, pemenuhan kebutuhan kesehatan dan pendidikan.
Sebuah contoh amanah dalam hal meyekolahkan anak (kebutuhan pendidikan) adalah dengan memberikan peluang atau kesempatan untuk menimba ilmu dengan kualitas yang sama kepada semua anak. Maksimalkan misi, visi, motivasi dan upaya orangtua terhadap semua pemenuhan kebutuhan anak-anak agar terbebas dari sikap membeda-bedakan mereka. Orangtua yang merasa cukup dengan menyekolahkan anak alakadarnya tanpa memberikan pendidikan lainnya, padahal mereka mampu, pastilah sulit untuk disebut orangtua yang amanah.
Tidak amanah jika orangtua menentukan prioritas anak berdasarkan perbedaan jenis kelamin dan posisi anak dalam keluarga. Sebagai pengingat pokok pembicaraan kita, sifat amanah adalah salah satu syarat terciptanya keadilan orangtua. Jadi, bukanlah orangtua yang amanah dan adil jika mereka memutuskan bahwa hanya anak laki-laki atau anak yang tertua saja yang perlu mendapatkan pendidikan maksimal dari keluarga, tidak untuk anak perempuan atau anak lainnya.Tindakan ini dapat menimbulkan sifat iri, permusuhan antar saudara dan sikap tidak mau peduli diantara mereka.
Jadilah orangtua yang adil dengan selalu berusaha menyampaikan segala bentuk amanah yang diembannya. Sampaikanlah pesan dan informasi kepada semua anak dengan bijaksana sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Janganlah melewatkan salah satu anak karena kurang disukai atau alasan negatif lainnya.
Jika orangtua selalu menjaga amanah kepada anak-anaknya dengan baik, maka anak-anakpun akan semakin mempercayai, menyayangi dan menghargai kedua orangtua dan saudara yang lainnya. Setidaknya ada dua konsekuensi positif jika hal ini dilakukan, orangtua telah:
1. melakukan salah satu karakteristik dasar keadilan kepada semua anggota keluarganya
2. memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya untuk selalu menjaga amanah di antara mereka sehingga terjalin saling kepercayaan yang tinggi.
Sinergis
Secara ringkas, sinergis dalam tulisan ini dapat diartikan sebagai seiring, sejalan, sinkron, saling mendukung dan menguatkan. Sinergi yang menjadi pokok pembicaraan adalah sinergi antara kedua orangtua, yaitu ayah dan ibu. Sinergi antara ‘orangtua lain’ (seperti kakek, nenek, pengasuh) di keluarga memang diperlukan juga, tetapi tidak akan didiskusikan dalam tulisan ini.
Kedua orangtua yang bertujuan menciptakan keadilan dalam keluarga akan selalu menjaga agar selalu sinergis dalam bersikap terhadap anak-anaknya. Esensi keputusan, sikap, tindakan dan perilaku ayah dan ibu selalu sama di mata anak-anaknya. Jika ayah bersikap A terhadap anak-anak, maka ibupun akan melakukan hal yang sama, meskipun mungkin dengan pendekatan dan penyampaian yang berbeda, misalnya lebih lembut dan persuasif.
Sebaliknya, apabila di antara ibu dan ayah terdapat perbedaan dalam bersikap atau menentukan sebuah keputusan, anak akan merasa kebingungan dalam menentukan pilihan. Anak-anak tidak tahu ucapan siapa yang harus mereka dengarkan dan lakukan, pada akhirnya tindakan tersebut dapat menimbulkan perasaan kecewa, kecil hati, iri, frustrasi dan anakpun tidak dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Apalagi, jika ketidaksinergisan itu menyangkut ketidakadilan (perbedaan perlakuan) kepada salah satu atau lebih anak, dampak yang ditimbulkan akan lebih parah lagi.
Perbedaan pendapat dan perlakuan terhadap anak, bukan tidak mungkin akan menimbulkan terjadinya grup-grup kecil dalam keluarga tersebut. Sebagian anak mengikuti kebijakan ibu dan yang lainnya mengikuti kebijakan ayah. Ketidakharmonisan dalam keluarga pun terjadi.
Oleh sebab itu, jadilah orangtua yang selalu sinergis antara yang satu dengan lainnya. Dengan demikian, ketenangan dan kepercayaan diri anak akan tercipta. Anak-anak akan yakin bahwa orangtuanya pasti memberikan cinta sejati pada semua anak-anaknya dan hasil keputusan kedua orangtuanya adalah yang terbaik bagi semua. (yer, yr)
Saturday, 29 December 2007
Indahnya Keadilan Orangtua: Sifat-sifat Dasar Orangtua Adil (2)
(Bagian 4 dari 6 tulisan)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Transparan
Dalam tulisan ini, transparan diartikan sebagai terbuka, apa adanya, tidak disembunyikan, tidak ditutup-tutupi atau tidak dirahasiakan. Transparan di sini lebih terkait dengan informasi. Transparansi informasi merupakan syarat berikutnya dalam menciptakan keadilan dalam keluarga. Dengan adanya transparansi dalam keluarga, peluang terjadinya masalah menjadi lebih kecil. Bahkan, dengan transparansi, masalah dalam keluarga dapat lebih mudah diselesaikan. Sebaliknya, jika tidak ada transparansi dalam keluarga, sebuah ketertutupan atau kebohongan tentu harus ditutup dengan ketertutupan atau kebohongan lain, dan menjadi sebuah lingkaran setan kebohongan.
Masalah datang menghampiri seseorang tanpa pandang bulu. Setiap individu di dunia ini tidak ada yang luput dari masalah. Dalam sebuah keluarga, masing-masing individu memiliki masalah yang berbeda. Tidak setiap hal yang terjadi pada diri seseorang perlu diketahui oleh anggota keluarga lainnya. Ada hal-hal yang bersifat pribadi dan ada juga yang perlu diketahui bersama. Misalnya, masalah suami istri hanya perlu diketahui oleh orangtua saja, sedangkan masalah ekonomi keluarga dan pemenuhan kebutuhan anak-anak justru perlu diketahui oleh semua. Dengan demikian, orangtua terhindar dari sikap membeda-bedakan antara anak yang satu dengan lainnya.
Jika setiap anggota keluarga mengetahui kondisi dan pendistribusian keuangan keluarga, akan kecil kemungkinan timbul rasa iri dan mempertanyakan keadilan orangtua terhadap mereka.
Bagi sebagian orangtua, bersikap adil secara material pada waktu yang sama mungkin akan sulit. Misalnya, dalam waktu yang sama orangtua harus membelikan tas dengan harga dan model yang sama kepada semua anak-anaknya. Tetapi, dengan sikap transparan ini, minimal orangtua mampu bersikap adil secara moral kepada anak-anaknya. Artinya, pada saat orangtua akan membelikan atau memberikan sesuatu kepada salah satu anak, hal ini selalu dilakukan atas sepengetahuan anak-anak lainnya. Dengan demikian, semua anak percaya bahwa orangtuanya bersikap adil.
Sebagai orangtua, marilah kita bersikap transparan kepada semua anak-anak mengenai situasi dan kondisi ekonomi keluarga. Tindakan tersebut perlu dilakukan agar memberikan contoh positif kepada anak-anak, yaitu:
· Semua anak akan berusaha untuk ikut andil dalam pengaturan ekonomi keluarga, dengan hidup hemat dan memprioritaskan belanja untuk hal-hal yang dianggap penting saja.
· Anak-anak akan memahami bahwa untuk mendapatkan sejumlah uang perlu pengorbanan, sehingga memancing anak-anak untuk selalu membelanjakan uangnya dengan bijaksana.
· Anak-anak akan belajar menghargai dan empati terhadap kerja keras orangtuanya, sehingga diantara mereka tumbuh sikap saling membantu untuk saling meringankan beban ekonomi yang dihadapinya. Bukan hal yang mustahil jika anak-anak mau berbagi dengan saudaranya yang memerlukan biaya.
Jika sikap transparan di antara anggota keluarga telah terbangun, tindakan saling memberi dan menolong di antara mereka akan menjadi suatu hal yang biasa. Kecurigaan, kekhawatiran akan dipilihkasihkan, atau buruk sangka lain dari anak-anak terhadap orangtuanya tidak akan terjadi. Yang justru terjadi, semua anak akan merasa diperhatikan dan dicintai secara maksimal oleh orangtuanya. (yer, yr)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Transparan
Dalam tulisan ini, transparan diartikan sebagai terbuka, apa adanya, tidak disembunyikan, tidak ditutup-tutupi atau tidak dirahasiakan. Transparan di sini lebih terkait dengan informasi. Transparansi informasi merupakan syarat berikutnya dalam menciptakan keadilan dalam keluarga. Dengan adanya transparansi dalam keluarga, peluang terjadinya masalah menjadi lebih kecil. Bahkan, dengan transparansi, masalah dalam keluarga dapat lebih mudah diselesaikan. Sebaliknya, jika tidak ada transparansi dalam keluarga, sebuah ketertutupan atau kebohongan tentu harus ditutup dengan ketertutupan atau kebohongan lain, dan menjadi sebuah lingkaran setan kebohongan.
Masalah datang menghampiri seseorang tanpa pandang bulu. Setiap individu di dunia ini tidak ada yang luput dari masalah. Dalam sebuah keluarga, masing-masing individu memiliki masalah yang berbeda. Tidak setiap hal yang terjadi pada diri seseorang perlu diketahui oleh anggota keluarga lainnya. Ada hal-hal yang bersifat pribadi dan ada juga yang perlu diketahui bersama. Misalnya, masalah suami istri hanya perlu diketahui oleh orangtua saja, sedangkan masalah ekonomi keluarga dan pemenuhan kebutuhan anak-anak justru perlu diketahui oleh semua. Dengan demikian, orangtua terhindar dari sikap membeda-bedakan antara anak yang satu dengan lainnya.
Jika setiap anggota keluarga mengetahui kondisi dan pendistribusian keuangan keluarga, akan kecil kemungkinan timbul rasa iri dan mempertanyakan keadilan orangtua terhadap mereka.
Bagi sebagian orangtua, bersikap adil secara material pada waktu yang sama mungkin akan sulit. Misalnya, dalam waktu yang sama orangtua harus membelikan tas dengan harga dan model yang sama kepada semua anak-anaknya. Tetapi, dengan sikap transparan ini, minimal orangtua mampu bersikap adil secara moral kepada anak-anaknya. Artinya, pada saat orangtua akan membelikan atau memberikan sesuatu kepada salah satu anak, hal ini selalu dilakukan atas sepengetahuan anak-anak lainnya. Dengan demikian, semua anak percaya bahwa orangtuanya bersikap adil.
Sebagai orangtua, marilah kita bersikap transparan kepada semua anak-anak mengenai situasi dan kondisi ekonomi keluarga. Tindakan tersebut perlu dilakukan agar memberikan contoh positif kepada anak-anak, yaitu:
· Semua anak akan berusaha untuk ikut andil dalam pengaturan ekonomi keluarga, dengan hidup hemat dan memprioritaskan belanja untuk hal-hal yang dianggap penting saja.
· Anak-anak akan memahami bahwa untuk mendapatkan sejumlah uang perlu pengorbanan, sehingga memancing anak-anak untuk selalu membelanjakan uangnya dengan bijaksana.
· Anak-anak akan belajar menghargai dan empati terhadap kerja keras orangtuanya, sehingga diantara mereka tumbuh sikap saling membantu untuk saling meringankan beban ekonomi yang dihadapinya. Bukan hal yang mustahil jika anak-anak mau berbagi dengan saudaranya yang memerlukan biaya.
Jika sikap transparan di antara anggota keluarga telah terbangun, tindakan saling memberi dan menolong di antara mereka akan menjadi suatu hal yang biasa. Kecurigaan, kekhawatiran akan dipilihkasihkan, atau buruk sangka lain dari anak-anak terhadap orangtuanya tidak akan terjadi. Yang justru terjadi, semua anak akan merasa diperhatikan dan dicintai secara maksimal oleh orangtuanya. (yer, yr)
Friday, 28 December 2007
Indahnya Keadilan Orangtua: Sifat-sifat Dasar Orangtua Adil (1)
(Bagian 3 dari 6 tulisan)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Pembahasan di artikel sebelumnya lebih banyak menyoroti contoh kasus positif sikap dan tindakan orangtua yang adil kepada semua anaknya. Pada bagian ini, sifat-sifat dasar dari contoh-contoh kasus tersebut akan didekomposisi menjadi beberapa karakteristik penting, di antaranya: jujur, tanggap (responsif), transparan, komunikatif, penyabar (tidak emosional), toleran (tidak sensitif), amanah, dan apresiatif.
Jujur
Jujur adalah salah satu sifat utama yang acapkali membedakan kualitas pribadi seseorang. Secara umum, saat ini bangsa kita sedang terpuruk, salah satunya adalah karena sifat jujur ini telah menjadi ‘barang langka’. Bagi seorang Muslim, kejujuran merupakan sebuah sifat dasar yang harus dimiliki. Rasulullah mensyaratkan kepada seseorang yang ingin menjadi Muslim untuk memulainya dengan bersikap jujur, alias tidak berbohong. Baginda Rasulullah sendiri menunjukkan kualitas pribadi yang sangat tinggi sejak masih kecil dengan sifat kejujurannya, dengan gelar ‘al-Amin’, yang berarti orang yang jujur dan dapat dipercaya.
Kejujuran sangat penting ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin. Namun, mengharapkan anak-anak untuk bersikap jujur perlu sebuah tauladan dari orangtua dan lingkungan di sekelilingnya. Tunjukkanlah selalu sikap jujur dari orangtua ketika sedang berinteraksi antar mereka, dengan anak, dan orang lain. Anak belajar lebih efektif dari apa yang mereka lihat dan mereka alami, dibanding dengan dari apa yang mereka dengar.
Sehubungan dengan sifat keadilan orangtua terhadap anak, komit terhadap kejujuran bukan berarti orangtua harus mengatakan segala sesuatu kepada anak-anaknya. Namun, hendaklah orangtua selalu berkata jujur kepada semua anak tentang hal yang dianggap perlu untuk diketahui oleh mereka, tidak hanya kepada sebagian anak saja.
Jika orangtua berkata jujur hanya kepada sebagian anak saja, hal ini akan berpengaruh buruk pada kekompakan dan kepercayaan mereka, baik pada antar anak satu dan lainnya maupun anak-anak terhadap orangtua itu sendiri.
Bersikaplah jujur dengan mengatakan hal yang sama kepada semua anak. Kejujuran yang dicontohkan oleh orangtua terhadap anak- anaknya akan membangun sikap kebersamaan (ikatan batin) yang erat dan kepercayaan yang tinggi di antara mereka. Semua anak pun akan respect (menghargai) kepada kedua orangtuanya.
Tanggap
Laura M. Ramirez (2004) mendefiniskan orangtua yang tanggap sebagai orangtua yang “menanggapi lagi dengan minat dan antusiasme yang murni demi anak-anaknya”. Definisi ini dapat diartikan secara lebih praktis sebagai “orangtua yang tidak mengenal lelah dalam menindaklanjuti sikap dan perbuatan anak-anaknya agar selalu berujung pada pembentukan karakter yang baik”.
Orangtua yang bersikap tanggap akan segera menanggapi situasi dan kondisi anak-anaknya, baik yang berupa prestasi atau masalah. Pada saat anak-anaknya mendapatkan prestasi atau hal positif lainnya, orangtua segera mengapresiasinya. Sebaliknya, pada saat anak-anak mendapatkan masalah, atau hal negatif lainnya, orangtua segera merangkul, berempati, bersimpati dan membantu agar masalah anak-anaknya itu segera diatasi.
Dalam hubungan keluarga, terutama hubungan antar anak, kadang-kadang terjadi masalah yang memerlukan tanggapan secara adil dari orangtua.
Dalam sebuah keluarga yang memiliki anak lebih dari satu, orangtua sering menghadapi kendala dalam memperlakukan anak-anaknya secara adil. Anak tertua (sulung) dalam keluarga biasanya memiliki sifat egois (mau menang sendiri) dan ingin selalu memiliki hak yang lebih, sedangkan anak termuda (bungsu) biasanya mendapatkan perhatian, kasih sayang dan perlindungan yang lebih dari orangtuanya dibandingkan dengan anak-anak lainnya.
Adakalanya, sebagian anak juga memiliki karakteristik dasar yang kurang baik, seperti serakah, licik, kasar, senang memaksakan kehendak, dan selalu ingin menguasai hak-hak anak yang lainnya. Sebagai orangtua yang tanggap, mereka tentu tidak akan membiarkan kondisi tersebut tumbuh dan berkembang dalam keluarganya. Mereka akan segera meluruskan semua tindakan negatif tersebut dan segera menumbuhkan kembali sikap kebersamaan sehingga tujuan keluarga bahagia tetap tercapai. (yer, yr)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Pembahasan di artikel sebelumnya lebih banyak menyoroti contoh kasus positif sikap dan tindakan orangtua yang adil kepada semua anaknya. Pada bagian ini, sifat-sifat dasar dari contoh-contoh kasus tersebut akan didekomposisi menjadi beberapa karakteristik penting, di antaranya: jujur, tanggap (responsif), transparan, komunikatif, penyabar (tidak emosional), toleran (tidak sensitif), amanah, dan apresiatif.
Jujur
Jujur adalah salah satu sifat utama yang acapkali membedakan kualitas pribadi seseorang. Secara umum, saat ini bangsa kita sedang terpuruk, salah satunya adalah karena sifat jujur ini telah menjadi ‘barang langka’. Bagi seorang Muslim, kejujuran merupakan sebuah sifat dasar yang harus dimiliki. Rasulullah mensyaratkan kepada seseorang yang ingin menjadi Muslim untuk memulainya dengan bersikap jujur, alias tidak berbohong. Baginda Rasulullah sendiri menunjukkan kualitas pribadi yang sangat tinggi sejak masih kecil dengan sifat kejujurannya, dengan gelar ‘al-Amin’, yang berarti orang yang jujur dan dapat dipercaya.
Kejujuran sangat penting ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin. Namun, mengharapkan anak-anak untuk bersikap jujur perlu sebuah tauladan dari orangtua dan lingkungan di sekelilingnya. Tunjukkanlah selalu sikap jujur dari orangtua ketika sedang berinteraksi antar mereka, dengan anak, dan orang lain. Anak belajar lebih efektif dari apa yang mereka lihat dan mereka alami, dibanding dengan dari apa yang mereka dengar.
Sehubungan dengan sifat keadilan orangtua terhadap anak, komit terhadap kejujuran bukan berarti orangtua harus mengatakan segala sesuatu kepada anak-anaknya. Namun, hendaklah orangtua selalu berkata jujur kepada semua anak tentang hal yang dianggap perlu untuk diketahui oleh mereka, tidak hanya kepada sebagian anak saja.
Jika orangtua berkata jujur hanya kepada sebagian anak saja, hal ini akan berpengaruh buruk pada kekompakan dan kepercayaan mereka, baik pada antar anak satu dan lainnya maupun anak-anak terhadap orangtua itu sendiri.
Bersikaplah jujur dengan mengatakan hal yang sama kepada semua anak. Kejujuran yang dicontohkan oleh orangtua terhadap anak- anaknya akan membangun sikap kebersamaan (ikatan batin) yang erat dan kepercayaan yang tinggi di antara mereka. Semua anak pun akan respect (menghargai) kepada kedua orangtuanya.
Tanggap
Laura M. Ramirez (2004) mendefiniskan orangtua yang tanggap sebagai orangtua yang “menanggapi lagi dengan minat dan antusiasme yang murni demi anak-anaknya”. Definisi ini dapat diartikan secara lebih praktis sebagai “orangtua yang tidak mengenal lelah dalam menindaklanjuti sikap dan perbuatan anak-anaknya agar selalu berujung pada pembentukan karakter yang baik”.
Orangtua yang bersikap tanggap akan segera menanggapi situasi dan kondisi anak-anaknya, baik yang berupa prestasi atau masalah. Pada saat anak-anaknya mendapatkan prestasi atau hal positif lainnya, orangtua segera mengapresiasinya. Sebaliknya, pada saat anak-anak mendapatkan masalah, atau hal negatif lainnya, orangtua segera merangkul, berempati, bersimpati dan membantu agar masalah anak-anaknya itu segera diatasi.
Dalam hubungan keluarga, terutama hubungan antar anak, kadang-kadang terjadi masalah yang memerlukan tanggapan secara adil dari orangtua.
Dalam sebuah keluarga yang memiliki anak lebih dari satu, orangtua sering menghadapi kendala dalam memperlakukan anak-anaknya secara adil. Anak tertua (sulung) dalam keluarga biasanya memiliki sifat egois (mau menang sendiri) dan ingin selalu memiliki hak yang lebih, sedangkan anak termuda (bungsu) biasanya mendapatkan perhatian, kasih sayang dan perlindungan yang lebih dari orangtuanya dibandingkan dengan anak-anak lainnya.
Adakalanya, sebagian anak juga memiliki karakteristik dasar yang kurang baik, seperti serakah, licik, kasar, senang memaksakan kehendak, dan selalu ingin menguasai hak-hak anak yang lainnya. Sebagai orangtua yang tanggap, mereka tentu tidak akan membiarkan kondisi tersebut tumbuh dan berkembang dalam keluarganya. Mereka akan segera meluruskan semua tindakan negatif tersebut dan segera menumbuhkan kembali sikap kebersamaan sehingga tujuan keluarga bahagia tetap tercapai. (yer, yr)
Thursday, 27 December 2007
Indahnya Keadilan Orangtua: Beberapa Contoh Kasus
(Bagian 2 dari 6 tulisan)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Berikut ini, akan diuraikan beberapa contoh kasus positif yang mencerminkan sikap adil orangtua terhadap anak-anaknya. Contoh kasus negatif beserta solusinya sebenarnya lebih mudah dibahas, tetapi akan menjadi cukup panjang untuk dimuat dalam bentuk artikel seperti ini.
Dalam paparan contoh kasus ini, beberapa sikap penting orangtua akan didiskusikan, yaitu: pemberian cinta tanpa syarat, komunikasi yang harmonis, penanaman sikap disiplin dan tanggung jawab kepada anak, penjalinan ikatan batin yang erat, perbantuan kepada anak untuk boleh berkata ’tidak’, dan pengajaran budi baik dengan pendekatan agama.
Cinta Tanpa Syarat
Anak adalah makhluk unik yang diamanatkan Tuhan kepada orangtua. Setiap anak yang dilahirkan tentu memiliki perbedaan masing-masing, baik dari segi fisik (jasmani), karakteristik dasar (rohani), maupun kemampuannya.
Kendati demikian, orangtua memiliki kewajiban untuk menerima dan memberikan kasih sayang, perhatian, perlakuan dan perlindungan dengan kualitas yang sama kepada seluruh anak-anaknya, sekalipun si anak berkarakter jasmani atau rohani yang tidak diinginkan.
Sebuah contoh kasus di sebuah keluarga dengan empat anak, salah satu di antara mereka ada yang belum mampu menjadi juara kelas. Meskipun demikian, anak tersebut tetap mendapatkan perlakuan, motivasi, dukungan dan cinta yang tak kurang sedikitpun dari orangtuanya.
Orangtua perlu menyadari bahwa kegagalan adalah salah satu pilihan kondisi yang sifatnya sementara (bisa diperbaiki dengan suatu usaha maksimal), dan bukan merupakan cacat kepribadian. Orangtua yang adil akan menghindari sikap membenci anak karena keterbatasan atau ketidakmampuan mereka dalam melakukan suatu hal.
Mencintai anak tanpa syarat dapat meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak di lingkungannya. Anak-anak akan memiliki keyakinan bahwa di mata orangtuanya keberadaan mereka adalah sama yaitu sebagai darah dagingnya, harta yang tak ternilai harganya dan harapan masa depannya.
Komunikasi yang Harmonis
Komunikasi merupakan sarana untuk menyampaikan informasi, ide, gagasan dan ajang curahan hati (curhat) yang baik antara satu orang dengan yang lainnya. Proses komunikasi yang baik antar orangtua dan anak dapat mempererat hubungan ikatan batin (tali cinta), perhatian, dan kasih sayang di antara mereka.
Phillip Jackson, Dorothy Stegal, Audrey Ashner (2006) menyebutkan beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari komunikasi yang baik, di antaranya: berita atau informasi, ekspresi perhatian, saran, berbagi ide, pendapat dan kepentingan.
Melibatkan semua anak dalam memilih, memahami dan mengambil keputusan suatu masalah (tentu saja, bukan semua masalah) keluarga dapat menghindarkan timbulnya perasaan negatif pada diri anak, seperti perasaan sedih karena diabaikan, curiga dan ragu akibat sikap orangtua yang tidak terbuka dalam komunikasi.
Sebuah komunikasi yang terjalin dengan baik antara orangtua dan anak dapat menghilangkan kebiasaan negatif orangtua yang selalu menyembunyikan dan menutup-nutupi suatu kejadian, masalah atau kondisi keluarga dari satu anak ke anak lainnya.
Sikap Disiplin dan Tanggung Jawab
Menerapkan sikap disiplin dan tanggung jawab kepada anak merupakan salah satu upaya menciptakan generasi yang berbudi baik dalam keluarga dan lingkungan di sekitarnya.
Dalam praktiknya, orangtua perlu menetapkan secara terbuka sebuah aturan atau batasan-batasan dalam berperilaku beserta konsekuensi yang harus dilaksanakan oleh semua anak secara tegas dan konsisten.
Karin Ireland (2003) berpendapat bahwa cara terbaik membantu anak belajar disiplin diri adalah dengan membiarkan dia bertanggungjawab di setiap bidang dalam hidupnya, bahkan ketika dia memilih untuk tidak melakukannya.
Pendisiplinan pada anak agar mereka dapat hidup bertanggungjawab perlu diterapkan dengan tepat, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kedewasaan anak, dan bukan dengan cara kekerasan, pemaksaan atau ancaman.
Bentuk pendisiplinan kepada anak bermacam-macam, yaitu pendisiplinan melalui belajar dari konsekuensi, pemberian hadiah (reward), atau belajar berempati terhadap orang lain. Namun semua bentuk pendisiplinan tersebut perlu diterapkan dengan waktu dan kesabaran orangtua, sebab manusia belajar dari sebuah proses yang berulang.
Membiasakan hidup disiplin dan tanggung jawab kepada anak diharapkan dapat meningkatkan kemampuan anak-anak dalam membedakan tindakan yang baik atau buruk.
Manfaat menanamkam sikap disipin dan tanggungjawab pada anak adalah untuk menghindarkan sikap orangtua yang selalu berusaha menyelamatkan anak dari konsekuensi atas kesalahan atau keputusan yang dia buat. Parahnya lagi, jika kebiasaan buruk tersebut terbawa oleh anak sampai dewasa, tindakan ini akan menyulitkan bukan hanya orang lain, tetapi juga dirinya sendiri, bahkan orangtua dan saudaranya.
Menjalin Ikatan Batin
Sebuah keluarga ideal bagaikan badan beserta anggota badan lainnya. Artinya, jika salah satu anggota keluarga mendapatkan kesulitan ataupun kebahagiaan, anggota keluarga yang lain pun akan merasakan hal yang sama.
Anak-anak yang dibesarkan dengan curahan kasih sayang, empati, saling membatu, dan menghargai oleh orangtuanya sejak kecil akan membawa karakter dasar yang sama sampai mereka dewasa nanti. Dengan kata lain, ikatan batin di antara mereka dan orangtuanya sudah terjalin dengan erat. Sikap kebersamaan, saling menyayangi dan saling menolong akan merupakan sebuah kebiasaan di keluarga tersebut. Sebaliknya, sifat iri, cemburu atau persaingan tidak sehat akan merupakan sifat-sifat yang asing bagi mereka.
Dengan demikian, tindakan sembu-sembunyi orangtua dalam menyelesaikan suatu masalah tidak perlu lagi terjadi. Justru sebaliknya, sekalipun tanpa pemberitahuan dan permintaan dari sang orangtua, anak-anak akan langsung tahu (dari bahasa tubuh orang tua) dan segera membantu.
Membantu Anak untuk Boleh Berkata ’Tidak’
Kebiasaan anak kecil sering berkata ‘tidak’ dalam berbagai situasi adalah hal yang biasa. Dia belum mengerti arti dan maksud dari apa yang diucapkannya itu. John Gray (2004) membolehkan anak untuk berkata ‘tidak’, tetapi orangtua tetap mengarahkan. Pada berbagai kondisi tertentu, seiring dengan bertambahnya kedewasaan seorang anak, orangtua perlu mengajarkan kepada semua anak untuk boleh berkata ‘tidak’ sesuai dengan alasan, waktu dan situasi yang tepat. Jika ketiga persyaratan tersebut terpenuhi pada saat salah satu anak manapun berkata ‘tidak’, orangtua yang adil akan konsekuen dalam menyikapinya.
Tindakan orangtua tersebut dapat memberikan banyak manfaat bagi anaknya di masa depan, di antaranya:
· Menumbuhkan jiwa kepemimpinan
· Meningkatkan kemampuan dalam menentukan pilihan atau keputusan
· Membantu anak untuk mengatakan kebenaran
· Mengajarkan anak untuk selalu berpikir sebelum bertindak
Orangtua yang adil akan menghindari sikap memaksakan kehendak kepada semua anaknya. Seorang anak yang dibesarkan oleh orangtua yang tidak menghargai pendapat anak akan membuat kondisi jiwa yang lemah dan sangat penurut dalam berbagai situasi, sehingga mudah dimanfaatkan oleh orang di sekelilingnya.
Anak yang sudah memiliki keterampilan dalam berkata ’tidak’ akan terhindar dari sikap pemaksaan dan ’penjajahan’ dari pihak yang lebih kuat tetapi cenderung bersifat buruk. Akan tetapi, karena dikombinasikan dengan ajaran sifat baik yang lain dari orangtuanya, anak akan dapat menentukan situasi yang tepat kapan dia berkata ’tidak’. Dengan demikian, anak akan memiliki keseimbangan yang baik dan selalu berfikir sebelum bertindak, termasuk dalam berkata ’ya’ atau ’tidak’. (yer, yr)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Berikut ini, akan diuraikan beberapa contoh kasus positif yang mencerminkan sikap adil orangtua terhadap anak-anaknya. Contoh kasus negatif beserta solusinya sebenarnya lebih mudah dibahas, tetapi akan menjadi cukup panjang untuk dimuat dalam bentuk artikel seperti ini.
Dalam paparan contoh kasus ini, beberapa sikap penting orangtua akan didiskusikan, yaitu: pemberian cinta tanpa syarat, komunikasi yang harmonis, penanaman sikap disiplin dan tanggung jawab kepada anak, penjalinan ikatan batin yang erat, perbantuan kepada anak untuk boleh berkata ’tidak’, dan pengajaran budi baik dengan pendekatan agama.
Cinta Tanpa Syarat
Anak adalah makhluk unik yang diamanatkan Tuhan kepada orangtua. Setiap anak yang dilahirkan tentu memiliki perbedaan masing-masing, baik dari segi fisik (jasmani), karakteristik dasar (rohani), maupun kemampuannya.
Kendati demikian, orangtua memiliki kewajiban untuk menerima dan memberikan kasih sayang, perhatian, perlakuan dan perlindungan dengan kualitas yang sama kepada seluruh anak-anaknya, sekalipun si anak berkarakter jasmani atau rohani yang tidak diinginkan.
Sebuah contoh kasus di sebuah keluarga dengan empat anak, salah satu di antara mereka ada yang belum mampu menjadi juara kelas. Meskipun demikian, anak tersebut tetap mendapatkan perlakuan, motivasi, dukungan dan cinta yang tak kurang sedikitpun dari orangtuanya.
Orangtua perlu menyadari bahwa kegagalan adalah salah satu pilihan kondisi yang sifatnya sementara (bisa diperbaiki dengan suatu usaha maksimal), dan bukan merupakan cacat kepribadian. Orangtua yang adil akan menghindari sikap membenci anak karena keterbatasan atau ketidakmampuan mereka dalam melakukan suatu hal.
Mencintai anak tanpa syarat dapat meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak di lingkungannya. Anak-anak akan memiliki keyakinan bahwa di mata orangtuanya keberadaan mereka adalah sama yaitu sebagai darah dagingnya, harta yang tak ternilai harganya dan harapan masa depannya.
Komunikasi yang Harmonis
Komunikasi merupakan sarana untuk menyampaikan informasi, ide, gagasan dan ajang curahan hati (curhat) yang baik antara satu orang dengan yang lainnya. Proses komunikasi yang baik antar orangtua dan anak dapat mempererat hubungan ikatan batin (tali cinta), perhatian, dan kasih sayang di antara mereka.
Phillip Jackson, Dorothy Stegal, Audrey Ashner (2006) menyebutkan beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari komunikasi yang baik, di antaranya: berita atau informasi, ekspresi perhatian, saran, berbagi ide, pendapat dan kepentingan.
Melibatkan semua anak dalam memilih, memahami dan mengambil keputusan suatu masalah (tentu saja, bukan semua masalah) keluarga dapat menghindarkan timbulnya perasaan negatif pada diri anak, seperti perasaan sedih karena diabaikan, curiga dan ragu akibat sikap orangtua yang tidak terbuka dalam komunikasi.
Sebuah komunikasi yang terjalin dengan baik antara orangtua dan anak dapat menghilangkan kebiasaan negatif orangtua yang selalu menyembunyikan dan menutup-nutupi suatu kejadian, masalah atau kondisi keluarga dari satu anak ke anak lainnya.
Sikap Disiplin dan Tanggung Jawab
Menerapkan sikap disiplin dan tanggung jawab kepada anak merupakan salah satu upaya menciptakan generasi yang berbudi baik dalam keluarga dan lingkungan di sekitarnya.
Dalam praktiknya, orangtua perlu menetapkan secara terbuka sebuah aturan atau batasan-batasan dalam berperilaku beserta konsekuensi yang harus dilaksanakan oleh semua anak secara tegas dan konsisten.
Karin Ireland (2003) berpendapat bahwa cara terbaik membantu anak belajar disiplin diri adalah dengan membiarkan dia bertanggungjawab di setiap bidang dalam hidupnya, bahkan ketika dia memilih untuk tidak melakukannya.
Pendisiplinan pada anak agar mereka dapat hidup bertanggungjawab perlu diterapkan dengan tepat, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kedewasaan anak, dan bukan dengan cara kekerasan, pemaksaan atau ancaman.
Bentuk pendisiplinan kepada anak bermacam-macam, yaitu pendisiplinan melalui belajar dari konsekuensi, pemberian hadiah (reward), atau belajar berempati terhadap orang lain. Namun semua bentuk pendisiplinan tersebut perlu diterapkan dengan waktu dan kesabaran orangtua, sebab manusia belajar dari sebuah proses yang berulang.
Membiasakan hidup disiplin dan tanggung jawab kepada anak diharapkan dapat meningkatkan kemampuan anak-anak dalam membedakan tindakan yang baik atau buruk.
Manfaat menanamkam sikap disipin dan tanggungjawab pada anak adalah untuk menghindarkan sikap orangtua yang selalu berusaha menyelamatkan anak dari konsekuensi atas kesalahan atau keputusan yang dia buat. Parahnya lagi, jika kebiasaan buruk tersebut terbawa oleh anak sampai dewasa, tindakan ini akan menyulitkan bukan hanya orang lain, tetapi juga dirinya sendiri, bahkan orangtua dan saudaranya.
Menjalin Ikatan Batin
Sebuah keluarga ideal bagaikan badan beserta anggota badan lainnya. Artinya, jika salah satu anggota keluarga mendapatkan kesulitan ataupun kebahagiaan, anggota keluarga yang lain pun akan merasakan hal yang sama.
Anak-anak yang dibesarkan dengan curahan kasih sayang, empati, saling membatu, dan menghargai oleh orangtuanya sejak kecil akan membawa karakter dasar yang sama sampai mereka dewasa nanti. Dengan kata lain, ikatan batin di antara mereka dan orangtuanya sudah terjalin dengan erat. Sikap kebersamaan, saling menyayangi dan saling menolong akan merupakan sebuah kebiasaan di keluarga tersebut. Sebaliknya, sifat iri, cemburu atau persaingan tidak sehat akan merupakan sifat-sifat yang asing bagi mereka.
Dengan demikian, tindakan sembu-sembunyi orangtua dalam menyelesaikan suatu masalah tidak perlu lagi terjadi. Justru sebaliknya, sekalipun tanpa pemberitahuan dan permintaan dari sang orangtua, anak-anak akan langsung tahu (dari bahasa tubuh orang tua) dan segera membantu.
Membantu Anak untuk Boleh Berkata ’Tidak’
Kebiasaan anak kecil sering berkata ‘tidak’ dalam berbagai situasi adalah hal yang biasa. Dia belum mengerti arti dan maksud dari apa yang diucapkannya itu. John Gray (2004) membolehkan anak untuk berkata ‘tidak’, tetapi orangtua tetap mengarahkan. Pada berbagai kondisi tertentu, seiring dengan bertambahnya kedewasaan seorang anak, orangtua perlu mengajarkan kepada semua anak untuk boleh berkata ‘tidak’ sesuai dengan alasan, waktu dan situasi yang tepat. Jika ketiga persyaratan tersebut terpenuhi pada saat salah satu anak manapun berkata ‘tidak’, orangtua yang adil akan konsekuen dalam menyikapinya.
Tindakan orangtua tersebut dapat memberikan banyak manfaat bagi anaknya di masa depan, di antaranya:
· Menumbuhkan jiwa kepemimpinan
· Meningkatkan kemampuan dalam menentukan pilihan atau keputusan
· Membantu anak untuk mengatakan kebenaran
· Mengajarkan anak untuk selalu berpikir sebelum bertindak
Orangtua yang adil akan menghindari sikap memaksakan kehendak kepada semua anaknya. Seorang anak yang dibesarkan oleh orangtua yang tidak menghargai pendapat anak akan membuat kondisi jiwa yang lemah dan sangat penurut dalam berbagai situasi, sehingga mudah dimanfaatkan oleh orang di sekelilingnya.
Anak yang sudah memiliki keterampilan dalam berkata ’tidak’ akan terhindar dari sikap pemaksaan dan ’penjajahan’ dari pihak yang lebih kuat tetapi cenderung bersifat buruk. Akan tetapi, karena dikombinasikan dengan ajaran sifat baik yang lain dari orangtuanya, anak akan dapat menentukan situasi yang tepat kapan dia berkata ’tidak’. Dengan demikian, anak akan memiliki keseimbangan yang baik dan selalu berfikir sebelum bertindak, termasuk dalam berkata ’ya’ atau ’tidak’. (yer, yr)
Wednesday, 26 December 2007
Indahnya Keadilan Orangtua: Hal-hal yang Berpengaruh
(Bagian 1 dari 6 tulisan)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Pengantar
Proses berkeluarga dimulai sejak nabi Adam dan istrinya Hawa menempati dunia. Jadi, proses ini sebetulnya sudah berlangsung sangat lama dan berulang-ulang setiap generasi. Mestinya, semakin lama ”ilmu berkeluarga” itu semakin lengkap dan sempurna. Generasi berikutnya seyogyanya lebih ”berilmu” daripada generasi sebelumnya. Ada sedikitnya dua penyebab pernyataan ini: (1) generasi berikutnya merupakan hasil didikan generasi sebelumnya, yang mestinya lebih baik dari sebelumnya, (2) ”ilmu berkeluarga” semakin lengkap dan sempurna dengan beralihnya generasi.
Sayang, pada kenyataannya, kecenderungan bahwa ”generasi berikutnya lebih baik dari generasi sebelumnya” tidaklah mudah terlihat keberadaannya di masyarakat kita. Bahkan sebaliknya, cukup banyak ditemukan bahwa generasi berikutnya justru lebih buruk dari generasi sebelumnya, apalagi dengan semakin banyaknya informasi, terutama yang negatif, yang bebas diakses.
Hal lain yang disayangkan adalah tidak adanya pendidikan ”berkeluarga” secara formal. Proses berkeluarga merupakan sebuah keniscayaan bagi hampir semua orang, tetapi tampaknya tidak banyak yang memandang ini sebagai sebuah hal yang penting. Salah satu akibatnya adalah bahwa meskipun ”ilmu berkeluarga” cenderung semakin lengkap dan sempurna, tetapi sangat sedikit yang mencoba mempelajari dan menerapkan ilmu tersebut. Selebihnya, sebagian besar orang mengandalkan pengetahuan informal dari lingkungan, atau bahkan hanya berdasarkan naluri saja.
Membatasi permasalahan dari ”generasi sebelumnya” menjadi ”orangtua”, dan ”generasi berikutnya” menjadi ”anak”, permasalahan di alinea-alinea sebelumnya menjadi lebih terpusat ke masalah ”anak menjadi lebih baik dari orangtuanya”. Menitikberatkan pada peran orangtua, permasalahan menjadi: bagaimana orangtua menjalankan keluarganya (baca: menerapkan ”ilmu berkeluarga”) agar anaknya lebih baik dari mereka.
Orangtua yang peduli selalu berusaha memberikan anak-anaknya kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan dirinya sendiri, sehingga mereka dapat tumbuh dengan baik, mampu menciptakan kehidupan yang lebih bermakna, serta memberikan kontribusi positif di masa yang akan datang.
Kondisi keluarga di masyarakat kita pada umumnya belum mampu menciptakan generasi berikutnya yang unggul. Selain faktor tidak adanya sebuah lembaga yang khusus memberikan pelajaran tentang bagaimana mempersiapkan dan menciptakan sebuah keluarga yang bahagia, juga didorong oleh sifat orangtua yang kurang kerja keras untuk menciptakan kondisi keluarga yang lebih baik.
Meningkatnya angka kriminalitas yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur seperti tawuran, pencurian, pencabulan, seks bebas, bunuh diri dan menggunakan barang terlarang (narkoba), memberikan bukti bahwa peranan orangtua dalam menjalankan kewajibannya belum dilaksanakan dengan baik. Orangtua di lingkungan kita cenderung belum memahami betapa pentingnya memberikan pengasuhan dan pendidikan yang baik bagi anak sejak dini.
Predikat sebagai orangtua dalam sebuah keluarga terkadang hanya sekedar status belaka. Keberadaan orangtua bagi anak-anak sering dirasakan semu, dengan berbagai alasan sibuk berkarir, sulit mengatur waktu, atau bahkan malas menjalankan kewajibannya untuk mengasuh, membesarkan dan mendidik anak-anaknya.
Sangat menyedihkan lagi, ketika anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua seperti tersebut di atas pada akhirnya akan diasuh oleh masyarakat atau lingkungan yang buruk. Tidak adanya kontrol dan sentuhan dari orangtua, bukan hal yang mustahil akhirnya anak-anak akan diasuh oleh sistem peradilan, seperti halnya di Lembaga Pemasyarakatan.
Salah satu kunci utama yang dapat mempengaruhi sukses atau tidaknya generasi berikutnya dalam sebuah keluarga adalah faktor keadilan yang dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anaknya. Pada bagian berikutnya, faktor keadilan ini akan dibahas lebih rinci.
Pengertian Adil
Menurut pandangan umum, keadilan berarti menjaga hak-hak orang lain. Keadilan merupakan lawan kezaliman, yang berarti merampas hak-hak orang lain. Atas dasar ini, keadilan dapat diartikan sebagai memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Pengertian lainnya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya atau mengerjakan segala sesuatu dengan baik. Kata lain yang dekat dengan adil adalah bijaksana.
Setiap manusia berhak mendapatkan keadilan atas dirinya. Demikian pula dengan seorang anak, ia berhak mendapatkan keadilan dari orangtuanya.
Keadilan dapat menciptakan sebuah keluarga yang harmonis sebab setiap anak akan memperoleh perlakuan yang sama baiknya, sehingga mereka dapat menjalani hidup dengan tenang, pasti, aman dan bahagia. Secara garis besar, keadilan orangtua terhadap anak dalam sebuah keluarga dipengaruhi oleh sedikitnya dua hal, yaitu:
- latar belakang orangtua
- ilmu berkeluarga yang dimiliki oleh orangtua
Ada beberapa hal lain yang berpengaruh terhadap sikap keadilan orangtua, seperti: (1) motivasi diri dan kebiasaan berusaha keras untuk selalu lebih baik, dan (2) perenungan, pembelajaran, dan refleksi atas perilaku diri, masyarakat dan lingkungan sekitar. Meskipun demikian, dalam tulisan ini pembahasan akan lebih dititikberatkan pada dua pengaruh pertama.
Latar Belakang Orangtua
Anak belajar dari lingkungannya, dan keluarga merupakan lingkungannya yang paling intensif. Ia mampu melakukan sesuatu berdasarkan sebuah proses atau kegiatan yang berlangsung secara konsisten sehingga terekam sempurna di dalam pikirannya dan menjadi suatu kebiasaan yang akan terbawa hingga dewasa. Dalam istilah Prof. Gede Raka ITB (2007), meme-nya sudah terbentuk oleh lingkungannya. (Keterangan: jika elemen fisiologis seseorang ada gene, dalam elemen psikologisnya ada meme.)
Sungguh memprihatinkan, banyak orangtua di masyarakat kita yang membesarkan anak-anaknya berdasarkan naluri dan pengalaman yang diperolehnya sejak mereka kecil dari orangtuanya dulu. Jika anak-anaknya kurang setuju dengan pendapat mereka, seringkali mereka berlindung dengan kata-kata: ”ceuk kolot baheula oge” (kata orangtua dulu juga). Padahal, pendapat orangtua dulu itu belum pernah dianalisis, apakah memang merupakan metode terbaik, dan apakah sang orangtua dulu itu berilmu pengetahuan dan berilmu agama yang memadai. Tentu saja, boleh jadi pendapat orangtua dulu itu memang merupakan metode terbaik, tetapi tidak diterima secara membabi buta tanpa dianalisis dan dikritisi.
Meskipun demikian, banyak juga orangtua yang berasal dari lingkungan keluarga harmonis. Mereka diperlakukan secara adil oleh orangtuanya dulu. Saat menjadi orangtua, mereka selalu hidup sinergis dengan saudara yang lainnya. Besar kemungkinannya, merekapun akan membawa contoh tauladan yang secara sadar atau tidak mereka terapkan juga pada generasi berikutnya.
Ilmu Berkeluarga yang Dimiliki oleh Orangtua
Ketidakfahaman dan ketidakmampuan orangtua menjalankan kewajibannya dalam mendidik, membesarkan, dan memperlakukan anak dengan adil dapat menimbulkan masalah yang berkepanjangan dalam keluarga.
Anak-anak yang memiliki masalah dapat terlihat dari perilaku sehari-harinya. Perilaku mereka akan cenderung negatif dan mengusik perhatian orang yang ada di sekitarnya, seperti mengganggu, merusak, meresahkan, dan bahkan merugikan orang lain.
Salah satu upaya untuk menciptakan generasi berikutnya yang lebih baik, orangtua hendaknya selalu berusaha untuk belajar dan menimba ilmu, baik ilmu pengetahuan (seperti sosial, manajemen, psikologi, filsafat, dan motivasi, termasuk ESQ) maupun ilmu agama. Semakin banyak ilmu yang diperoleh, orangtua semakin sadar akan segala kekurangan diri. Dengan serta merta, akan timbul pula sebuah tekad untuk segera memperbaiki kesalahan yang diperbuat dan berusaha menjadi lebih baik. Dengan demikian, orangtua bukan hanya tua usianya, tetapi yang paling penting adalah luas keilmuannya dan dewasa tingkat kebijakannya. Dengan bertambahnya usia, bertambah pula sikap bijak dan tolerannya, bukan sebaliknya: semakin mudah tersinggung dan ingin selalu dimaklum.
Tidak adanya pendidikan formal untuk menuntut ”ilmu berkeluarga”, ilmu ini dapat diperoleh melalui jalur informal. Orangtua yang selalu mencari ilmu, baik melalui bacaan (buku, surat kabar, majalah, Internet), mendengarkan/menonton dialog/diskusi para pakar, atau mengikuti seminar, akan mengetahui tindakan yang paling ideal dalam membina sebuah keluarga. Ilmu ini mencakup hubungan inter-orangtua, orangtua dengan anak-anak, dan antar-anak.
Tepatlah intisari pepatah yang disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Thalib: ”Jika kita ingin bahagia di dunia, carilah ilmu. Jika kita ingin bahagia di akhirat, carilah ilmu. Jika kita ingin bahagia di dunia dan di akhirat, carilah ilmu”.
Sebagai ringkasan dari dua hal penting yang sangat mempengaruhi keadilan orangtua terhadap anak, yaitu latar belakang dan ilmu yang dimiliki orangtua, hal yang kedualah yang paling penting. Ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang terus dicari dan diterapkan akan memperbaiki dan menyempurnakan ilmu yang diperoleh dari latar belakang orangtua. Alhasil, sebuah keluarga bahagia akan tercipta, dan generasi berikutnya yang lebih baik dari generasi sebelumnya akan terwujud. (yer, yr)
Oleh:
Yusi Elsiano Rosmansyah, S.E.
Yusep Rosmansyah, Ph.D.
Pengantar
Proses berkeluarga dimulai sejak nabi Adam dan istrinya Hawa menempati dunia. Jadi, proses ini sebetulnya sudah berlangsung sangat lama dan berulang-ulang setiap generasi. Mestinya, semakin lama ”ilmu berkeluarga” itu semakin lengkap dan sempurna. Generasi berikutnya seyogyanya lebih ”berilmu” daripada generasi sebelumnya. Ada sedikitnya dua penyebab pernyataan ini: (1) generasi berikutnya merupakan hasil didikan generasi sebelumnya, yang mestinya lebih baik dari sebelumnya, (2) ”ilmu berkeluarga” semakin lengkap dan sempurna dengan beralihnya generasi.
Sayang, pada kenyataannya, kecenderungan bahwa ”generasi berikutnya lebih baik dari generasi sebelumnya” tidaklah mudah terlihat keberadaannya di masyarakat kita. Bahkan sebaliknya, cukup banyak ditemukan bahwa generasi berikutnya justru lebih buruk dari generasi sebelumnya, apalagi dengan semakin banyaknya informasi, terutama yang negatif, yang bebas diakses.
Hal lain yang disayangkan adalah tidak adanya pendidikan ”berkeluarga” secara formal. Proses berkeluarga merupakan sebuah keniscayaan bagi hampir semua orang, tetapi tampaknya tidak banyak yang memandang ini sebagai sebuah hal yang penting. Salah satu akibatnya adalah bahwa meskipun ”ilmu berkeluarga” cenderung semakin lengkap dan sempurna, tetapi sangat sedikit yang mencoba mempelajari dan menerapkan ilmu tersebut. Selebihnya, sebagian besar orang mengandalkan pengetahuan informal dari lingkungan, atau bahkan hanya berdasarkan naluri saja.
Membatasi permasalahan dari ”generasi sebelumnya” menjadi ”orangtua”, dan ”generasi berikutnya” menjadi ”anak”, permasalahan di alinea-alinea sebelumnya menjadi lebih terpusat ke masalah ”anak menjadi lebih baik dari orangtuanya”. Menitikberatkan pada peran orangtua, permasalahan menjadi: bagaimana orangtua menjalankan keluarganya (baca: menerapkan ”ilmu berkeluarga”) agar anaknya lebih baik dari mereka.
Orangtua yang peduli selalu berusaha memberikan anak-anaknya kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan dirinya sendiri, sehingga mereka dapat tumbuh dengan baik, mampu menciptakan kehidupan yang lebih bermakna, serta memberikan kontribusi positif di masa yang akan datang.
Kondisi keluarga di masyarakat kita pada umumnya belum mampu menciptakan generasi berikutnya yang unggul. Selain faktor tidak adanya sebuah lembaga yang khusus memberikan pelajaran tentang bagaimana mempersiapkan dan menciptakan sebuah keluarga yang bahagia, juga didorong oleh sifat orangtua yang kurang kerja keras untuk menciptakan kondisi keluarga yang lebih baik.
Meningkatnya angka kriminalitas yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur seperti tawuran, pencurian, pencabulan, seks bebas, bunuh diri dan menggunakan barang terlarang (narkoba), memberikan bukti bahwa peranan orangtua dalam menjalankan kewajibannya belum dilaksanakan dengan baik. Orangtua di lingkungan kita cenderung belum memahami betapa pentingnya memberikan pengasuhan dan pendidikan yang baik bagi anak sejak dini.
Predikat sebagai orangtua dalam sebuah keluarga terkadang hanya sekedar status belaka. Keberadaan orangtua bagi anak-anak sering dirasakan semu, dengan berbagai alasan sibuk berkarir, sulit mengatur waktu, atau bahkan malas menjalankan kewajibannya untuk mengasuh, membesarkan dan mendidik anak-anaknya.
Sangat menyedihkan lagi, ketika anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua seperti tersebut di atas pada akhirnya akan diasuh oleh masyarakat atau lingkungan yang buruk. Tidak adanya kontrol dan sentuhan dari orangtua, bukan hal yang mustahil akhirnya anak-anak akan diasuh oleh sistem peradilan, seperti halnya di Lembaga Pemasyarakatan.
Salah satu kunci utama yang dapat mempengaruhi sukses atau tidaknya generasi berikutnya dalam sebuah keluarga adalah faktor keadilan yang dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anaknya. Pada bagian berikutnya, faktor keadilan ini akan dibahas lebih rinci.
Pengertian Adil
Menurut pandangan umum, keadilan berarti menjaga hak-hak orang lain. Keadilan merupakan lawan kezaliman, yang berarti merampas hak-hak orang lain. Atas dasar ini, keadilan dapat diartikan sebagai memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Pengertian lainnya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya atau mengerjakan segala sesuatu dengan baik. Kata lain yang dekat dengan adil adalah bijaksana.
Setiap manusia berhak mendapatkan keadilan atas dirinya. Demikian pula dengan seorang anak, ia berhak mendapatkan keadilan dari orangtuanya.
Keadilan dapat menciptakan sebuah keluarga yang harmonis sebab setiap anak akan memperoleh perlakuan yang sama baiknya, sehingga mereka dapat menjalani hidup dengan tenang, pasti, aman dan bahagia. Secara garis besar, keadilan orangtua terhadap anak dalam sebuah keluarga dipengaruhi oleh sedikitnya dua hal, yaitu:
- latar belakang orangtua
- ilmu berkeluarga yang dimiliki oleh orangtua
Ada beberapa hal lain yang berpengaruh terhadap sikap keadilan orangtua, seperti: (1) motivasi diri dan kebiasaan berusaha keras untuk selalu lebih baik, dan (2) perenungan, pembelajaran, dan refleksi atas perilaku diri, masyarakat dan lingkungan sekitar. Meskipun demikian, dalam tulisan ini pembahasan akan lebih dititikberatkan pada dua pengaruh pertama.
Latar Belakang Orangtua
Anak belajar dari lingkungannya, dan keluarga merupakan lingkungannya yang paling intensif. Ia mampu melakukan sesuatu berdasarkan sebuah proses atau kegiatan yang berlangsung secara konsisten sehingga terekam sempurna di dalam pikirannya dan menjadi suatu kebiasaan yang akan terbawa hingga dewasa. Dalam istilah Prof. Gede Raka ITB (2007), meme-nya sudah terbentuk oleh lingkungannya. (Keterangan: jika elemen fisiologis seseorang ada gene, dalam elemen psikologisnya ada meme.)
Sungguh memprihatinkan, banyak orangtua di masyarakat kita yang membesarkan anak-anaknya berdasarkan naluri dan pengalaman yang diperolehnya sejak mereka kecil dari orangtuanya dulu. Jika anak-anaknya kurang setuju dengan pendapat mereka, seringkali mereka berlindung dengan kata-kata: ”ceuk kolot baheula oge” (kata orangtua dulu juga). Padahal, pendapat orangtua dulu itu belum pernah dianalisis, apakah memang merupakan metode terbaik, dan apakah sang orangtua dulu itu berilmu pengetahuan dan berilmu agama yang memadai. Tentu saja, boleh jadi pendapat orangtua dulu itu memang merupakan metode terbaik, tetapi tidak diterima secara membabi buta tanpa dianalisis dan dikritisi.
Meskipun demikian, banyak juga orangtua yang berasal dari lingkungan keluarga harmonis. Mereka diperlakukan secara adil oleh orangtuanya dulu. Saat menjadi orangtua, mereka selalu hidup sinergis dengan saudara yang lainnya. Besar kemungkinannya, merekapun akan membawa contoh tauladan yang secara sadar atau tidak mereka terapkan juga pada generasi berikutnya.
Ilmu Berkeluarga yang Dimiliki oleh Orangtua
Ketidakfahaman dan ketidakmampuan orangtua menjalankan kewajibannya dalam mendidik, membesarkan, dan memperlakukan anak dengan adil dapat menimbulkan masalah yang berkepanjangan dalam keluarga.
Anak-anak yang memiliki masalah dapat terlihat dari perilaku sehari-harinya. Perilaku mereka akan cenderung negatif dan mengusik perhatian orang yang ada di sekitarnya, seperti mengganggu, merusak, meresahkan, dan bahkan merugikan orang lain.
Salah satu upaya untuk menciptakan generasi berikutnya yang lebih baik, orangtua hendaknya selalu berusaha untuk belajar dan menimba ilmu, baik ilmu pengetahuan (seperti sosial, manajemen, psikologi, filsafat, dan motivasi, termasuk ESQ) maupun ilmu agama. Semakin banyak ilmu yang diperoleh, orangtua semakin sadar akan segala kekurangan diri. Dengan serta merta, akan timbul pula sebuah tekad untuk segera memperbaiki kesalahan yang diperbuat dan berusaha menjadi lebih baik. Dengan demikian, orangtua bukan hanya tua usianya, tetapi yang paling penting adalah luas keilmuannya dan dewasa tingkat kebijakannya. Dengan bertambahnya usia, bertambah pula sikap bijak dan tolerannya, bukan sebaliknya: semakin mudah tersinggung dan ingin selalu dimaklum.
Tidak adanya pendidikan formal untuk menuntut ”ilmu berkeluarga”, ilmu ini dapat diperoleh melalui jalur informal. Orangtua yang selalu mencari ilmu, baik melalui bacaan (buku, surat kabar, majalah, Internet), mendengarkan/menonton dialog/diskusi para pakar, atau mengikuti seminar, akan mengetahui tindakan yang paling ideal dalam membina sebuah keluarga. Ilmu ini mencakup hubungan inter-orangtua, orangtua dengan anak-anak, dan antar-anak.
Tepatlah intisari pepatah yang disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Thalib: ”Jika kita ingin bahagia di dunia, carilah ilmu. Jika kita ingin bahagia di akhirat, carilah ilmu. Jika kita ingin bahagia di dunia dan di akhirat, carilah ilmu”.
Sebagai ringkasan dari dua hal penting yang sangat mempengaruhi keadilan orangtua terhadap anak, yaitu latar belakang dan ilmu yang dimiliki orangtua, hal yang kedualah yang paling penting. Ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang terus dicari dan diterapkan akan memperbaiki dan menyempurnakan ilmu yang diperoleh dari latar belakang orangtua. Alhasil, sebuah keluarga bahagia akan tercipta, dan generasi berikutnya yang lebih baik dari generasi sebelumnya akan terwujud. (yer, yr)
Tuesday, 25 December 2007
Kewajiban Orangtua Membekali Masa Puber Anak
Ketika masa puber tiba, anak remaja biasanya mengalami sebuah fase percintaan yang sering dikenal dengan sebutan ‘cinta monyet’. Anak mulai merasa senang jika bergaul dengan teman lawan jenisnya. Di saat seperti ini di antara mereka biasanya akan timbul perasaan untuk saling memperhatikan, mencintai, dan mengasihi.
Namun, pada umumnya hubungan mereka tersebut baru bersifat sementara saja. Jarang sekali di masa puber seperti ini anak langsung memutuskan untuk mengakhiri percintaannya dengan sebuah pernikahan. Sebab, selain mereka belum begitu mengerti tentang seks sebagaimana orang dewasa, merekapun masih cenderung dalam tahap mencari teman dari lawan jenisnya.
Oleh karena itu, menyikapi hal di atas maka orangtua memiliki beberapa kewajiban yang harus dilakukan. Supaya anak tidak terjerumus kepada hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan juga keluarga. Kewajiban orangtua tersebut di antaranya adalah memberikan pendidikan agama, akhlak, sosial, dan mental kepada anak sebelum ia memasuki masa puber. Orangtua harus membekali anak dengan informasi yang benar dan sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, jelaskan kepada anak tentang dorongan seksualitas secara jelas dan dalam batas-batas yang wajar, serta tidak boleh melakukannya kecuali setelah ada ikatan yang sah, menikah (Dr. Akhram Ridha, 2006). (yer).
Demikian artikel dari saya, semoga dapat memberikan alternatif jawaban kepada orangtua di saat menangani anak yang sedang puber...
Namun, pada umumnya hubungan mereka tersebut baru bersifat sementara saja. Jarang sekali di masa puber seperti ini anak langsung memutuskan untuk mengakhiri percintaannya dengan sebuah pernikahan. Sebab, selain mereka belum begitu mengerti tentang seks sebagaimana orang dewasa, merekapun masih cenderung dalam tahap mencari teman dari lawan jenisnya.
Oleh karena itu, menyikapi hal di atas maka orangtua memiliki beberapa kewajiban yang harus dilakukan. Supaya anak tidak terjerumus kepada hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan juga keluarga. Kewajiban orangtua tersebut di antaranya adalah memberikan pendidikan agama, akhlak, sosial, dan mental kepada anak sebelum ia memasuki masa puber. Orangtua harus membekali anak dengan informasi yang benar dan sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, jelaskan kepada anak tentang dorongan seksualitas secara jelas dan dalam batas-batas yang wajar, serta tidak boleh melakukannya kecuali setelah ada ikatan yang sah, menikah (Dr. Akhram Ridha, 2006). (yer).
Demikian artikel dari saya, semoga dapat memberikan alternatif jawaban kepada orangtua di saat menangani anak yang sedang puber...
Monday, 24 December 2007
Menanggapi Keluh Kesah Anak
Tidak selamanya kehidupan anak dipenuhi dengan suasana kebahagiaan dan kegembiraan. Terkadang anak menemui hari yang penuh dengan tantangan dan kendala yang dapat membuatnya menjadi sedih, resah, dan kesal. Pada saat seperti inilah biasanya anak sangat membutuhkan orangtua. Kepada mereka ia ingin mencurahkan segala keluh kesahnya.
Namun sayang, tidak semua orangtua mengerti dan mau menerima keluh kesah anak. Dalam kondisi seperti itu biasanya anak menjadi bersikap kekanak-kanakan sehingga membuat orangtua menjadi kesal. Misalnya, anak menjadi tidak mau pergi ke sekolah karena mengeluh sering diolok-olok teman. Orangtua yang tidak bijaksana mungkin saja menanggapi masalah anak seperti itu hanya sebagai alasan saja karena ia tidak mau sekolah. Orangtua bukannya membantu menyelesaikan masalah anak tersebut tetapi sebaliknya malah memarahi anak.
Tindakan orangtua di atas adalah tidak baik. Orangtua bijak seharusnya mencari tahu terlebih dahulu cerita anak yang sesungguhnya. Bisa saja apa yang dikatakan anak tersebut adalah benar. Orangtua harus membantu anak menyelesaikan masalah itu misalnya dengan memberitahukan hal ini kepada pihak sekolah. Dengan demikian, anak akan mersa aman dan berharga di mata orangtuanya.
Sejatinya, mendengarkan keluh kesah anak adalah hal yang sangat penting. Sebab, dengan mendengarkan apa yang diungkapkan oleh anak berarti orangtua memberikan waktu kepadanya. Anakpun akan terhindar mencari tempat pengaduan lain yang mungkin saja dapat menjerumuskan dirinya.
Oleh karena itu, berbahagialah orangtua apabila mendapatkan anak mau menceritakan segala keluh kesahnya kepada mereka. Sebab, dengan mendengarkan keluh kesah anak maka orangtua dapat segera memberikan solusi yang tepat bagaimana memecahkan masalah hidup yang sedang atau yang mungkin saja terjadi kepadanya. Semua tanggapan, arahan, bimbingan, nasehat, dan pemecahan masalah yang diberikan orangtua kepada anak akan membuatnya menjadi lebih dewasa dalam bersikap. Selain itu, sikap baik orangtua dalam menerima keluh kesah anak akan selalu menjadi kenangan indah bagi dirinya. Anakpun akan mengenang orangtuanya sepanjang masa (Ferdinan M. Fuad, 205). (yer)
Namun sayang, tidak semua orangtua mengerti dan mau menerima keluh kesah anak. Dalam kondisi seperti itu biasanya anak menjadi bersikap kekanak-kanakan sehingga membuat orangtua menjadi kesal. Misalnya, anak menjadi tidak mau pergi ke sekolah karena mengeluh sering diolok-olok teman. Orangtua yang tidak bijaksana mungkin saja menanggapi masalah anak seperti itu hanya sebagai alasan saja karena ia tidak mau sekolah. Orangtua bukannya membantu menyelesaikan masalah anak tersebut tetapi sebaliknya malah memarahi anak.
Tindakan orangtua di atas adalah tidak baik. Orangtua bijak seharusnya mencari tahu terlebih dahulu cerita anak yang sesungguhnya. Bisa saja apa yang dikatakan anak tersebut adalah benar. Orangtua harus membantu anak menyelesaikan masalah itu misalnya dengan memberitahukan hal ini kepada pihak sekolah. Dengan demikian, anak akan mersa aman dan berharga di mata orangtuanya.
Sejatinya, mendengarkan keluh kesah anak adalah hal yang sangat penting. Sebab, dengan mendengarkan apa yang diungkapkan oleh anak berarti orangtua memberikan waktu kepadanya. Anakpun akan terhindar mencari tempat pengaduan lain yang mungkin saja dapat menjerumuskan dirinya.
Oleh karena itu, berbahagialah orangtua apabila mendapatkan anak mau menceritakan segala keluh kesahnya kepada mereka. Sebab, dengan mendengarkan keluh kesah anak maka orangtua dapat segera memberikan solusi yang tepat bagaimana memecahkan masalah hidup yang sedang atau yang mungkin saja terjadi kepadanya. Semua tanggapan, arahan, bimbingan, nasehat, dan pemecahan masalah yang diberikan orangtua kepada anak akan membuatnya menjadi lebih dewasa dalam bersikap. Selain itu, sikap baik orangtua dalam menerima keluh kesah anak akan selalu menjadi kenangan indah bagi dirinya. Anakpun akan mengenang orangtuanya sepanjang masa (Ferdinan M. Fuad, 205). (yer)
Sunday, 23 December 2007
Menjadi Orangtua yang Baik
Sesungguhnya, mewujudkan keinginan untuk menjadi orangtua yang baik adalah tidaklah terlalu sulit. Dengan kesungguhan untuk selalu belajar, terus mencari ilmu tentang bagaimana berkeluarga yang baik, dan mau menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan keluarga sehari-hari maka besar kemungkinan harapan tersebut menjadi kenyataan.
Walaupun setiap keluarga memiliki cara yang berbeda untuk menjadi orangtua yang baik. Namun, setidaknya ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan orangtua sehingga dalam menjalankan perannya mereka menjadi lebih baik lagi. Tindakan orangtua tersebut di antaranya adalah dengan cara mempersiapkan diri melalui ilmu bagaimana menjalankan peran sebagai orangtua yang baik, bagi orangtua yang sudah memiliki anak maka berusahalah untuk selalu memenuhi kebutuhan bathin anak dengan mendidiknya secara baik, apabila kedua orangtua harus bekerja maka sediakanlah waktu untuk bersama dan mendidik anak, jadilah orangtua yang dapat memberikan tauladan dengan cara menjaga perilaku baik di depan anak, didiklah anak sejak dini tentang hal-hal yang baik dan benar sesuai dengan tingkat usia, daya nalar, dan pengalaman hidupnya. Selain itu, hindarkanlah sikap orangtua yang selalu ingin menang sendiri. Maksudnya, apabila orangtua melakukan kesalahan, akuilah dan segeralah perbaiki kesalahan itu ( Ferdinan M. Fuad, 2005). (yer)
Walaupun setiap keluarga memiliki cara yang berbeda untuk menjadi orangtua yang baik. Namun, setidaknya ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan orangtua sehingga dalam menjalankan perannya mereka menjadi lebih baik lagi. Tindakan orangtua tersebut di antaranya adalah dengan cara mempersiapkan diri melalui ilmu bagaimana menjalankan peran sebagai orangtua yang baik, bagi orangtua yang sudah memiliki anak maka berusahalah untuk selalu memenuhi kebutuhan bathin anak dengan mendidiknya secara baik, apabila kedua orangtua harus bekerja maka sediakanlah waktu untuk bersama dan mendidik anak, jadilah orangtua yang dapat memberikan tauladan dengan cara menjaga perilaku baik di depan anak, didiklah anak sejak dini tentang hal-hal yang baik dan benar sesuai dengan tingkat usia, daya nalar, dan pengalaman hidupnya. Selain itu, hindarkanlah sikap orangtua yang selalu ingin menang sendiri. Maksudnya, apabila orangtua melakukan kesalahan, akuilah dan segeralah perbaiki kesalahan itu ( Ferdinan M. Fuad, 2005). (yer)
Saturday, 22 December 2007
Manfaat Menjalin Persahabatan dengan Anak
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Setiap individu membutuhkan teman untuk dapat ‘berbagi’ dalam hidupnya. Pertemanan yang terjalin dengan akrab dapat menjadi sebuah persahabatan yang sejati. Hubungan persahabatan bukan hanya terjalin di kalangan anak-anak atau orang dewasa saja. Tetapi, dalam sebuah keluargapun hubungan persahabatan dapat terjadi. Bahkan, mungkin lebih ‘abadi’ apabila dibandingkan dengan persahabatan yang lainnya.
Bentuk persahabatan yang dilakukan oleh orangtua kepada anak dapat dikatakan sebagai persahabatan murni. Karena, hampir segala hal yang diberikan oleh orangtua kepada anak adalah tulus dan tanpa pamrih. Mereka selalu ingin membahagiakan anak dengan berusaha memberikan apa yang dibutuhkan olehnya. Misalnya, di saat anak sedang merasa bimbang atau bingung dalam menjalani hidupnya, orangtua bersedia mendengarkan semua curahan isi hatinya, memberikan arahan, bimbingan, dan dukungan kepada anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Dikala anak sedang merasa sedih dan resah karena kegagalan atau mendapatkan suatu kendala dalam hidupnya maka mereka akan berusaha menghibur dan memberikan solusi kepadanya. Begitupun sebaliknya, apabila anak merasa senang karena sesuatu hal maka orangtuapun akan ikut merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh anak.
Menciptakan jalinan persahabatan yang erat antara orangtua dengan anak adalah tindakan yang sangat penting. Dengan demikian, anak akan terhindar dari informasi atau pertimbangan pihak lain yang mungkin saja dapat menjerumuskan dirinya. Selain itu, persahabatan yang akrab antara orangtua dengan anak juga dapat mengubah anak menjadi orang yang bersikap lapang dada. Ia mau menerima nasehat, arahan, dan bimbingan dari orangtua yang menjadi teman karibnya itu. Sebagai upaya untuk menjaga keutuhan persahabatan dengan anak maka penting bagi orangtua menciptakan suasana hubungan yang terbuka, jujur, dan saling percaya. Dengan sikap seperti itu, jarak pemisah antara orangtua dengan anak akan hilang. Kepada orangtuanya anak akan merasa lebih terbuka dan bebas mengungkapkan segala hal yang terjadi pada diri dan perasaannya (Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh, 2007). (yer)
Bentuk persahabatan yang dilakukan oleh orangtua kepada anak dapat dikatakan sebagai persahabatan murni. Karena, hampir segala hal yang diberikan oleh orangtua kepada anak adalah tulus dan tanpa pamrih. Mereka selalu ingin membahagiakan anak dengan berusaha memberikan apa yang dibutuhkan olehnya. Misalnya, di saat anak sedang merasa bimbang atau bingung dalam menjalani hidupnya, orangtua bersedia mendengarkan semua curahan isi hatinya, memberikan arahan, bimbingan, dan dukungan kepada anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Dikala anak sedang merasa sedih dan resah karena kegagalan atau mendapatkan suatu kendala dalam hidupnya maka mereka akan berusaha menghibur dan memberikan solusi kepadanya. Begitupun sebaliknya, apabila anak merasa senang karena sesuatu hal maka orangtuapun akan ikut merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh anak.
Menciptakan jalinan persahabatan yang erat antara orangtua dengan anak adalah tindakan yang sangat penting. Dengan demikian, anak akan terhindar dari informasi atau pertimbangan pihak lain yang mungkin saja dapat menjerumuskan dirinya. Selain itu, persahabatan yang akrab antara orangtua dengan anak juga dapat mengubah anak menjadi orang yang bersikap lapang dada. Ia mau menerima nasehat, arahan, dan bimbingan dari orangtua yang menjadi teman karibnya itu. Sebagai upaya untuk menjaga keutuhan persahabatan dengan anak maka penting bagi orangtua menciptakan suasana hubungan yang terbuka, jujur, dan saling percaya. Dengan sikap seperti itu, jarak pemisah antara orangtua dengan anak akan hilang. Kepada orangtuanya anak akan merasa lebih terbuka dan bebas mengungkapkan segala hal yang terjadi pada diri dan perasaannya (Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh, 2007). (yer)
Friday, 21 December 2007
Pendekatan Ayah Dapat Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Kehadiran ayah bagi sebagian banyak anak merupakan sosok yang paling ‘menakutkan’. Tidak jarang sosok ayah ini dikesankan sebagai orang yang galak, mudah marah, dan kasar. Oleh karena itulah, banyak anak yang akan merasa ketakutan apabila perilaku buruknya akan dilaporkan kepada sang ayah.
Perlu orangtua sadari bahwa mempengaruhi anak agar merasa takut oleh ayahnya adalah tindakan yang tidak bijaksana. Hal tersebut dapat merusak ikatan bathin antara ayah dengan anak. Apabila sudah demikian, anak tidak mau lagi dekat dengan ayahnya. Padahal, untuk menjadi orang yang sukses anak bukan saja memerlukan peran dan figur dari ibu saja, tetapi juga dari ayah. Banyak hal yang dapat mempengaruhi kesuksesan anak berasal dari peran ayah. Seperti dalam rangka menanamkan sikap kepemimpinan, disiplin, tegas, dan tanggung jawab kepada anak tentu diperlukan peran dan kedekatan ayah kepada anak.
Oleh karena itu, supaya kesan ayah negatif seperti di atas tidak terus melekat di benak anak maka ayah perlu melakukan beberapa pendekatan positif kepada anak. Di antaranya adalah dengan cara selalu menjaga komunikasi, menjadi sahabat, menghargai pendapat anak, memenuhi kebutuhan anak, dan bermain bersama anak (dr. Maya & Wido, 2006).
Kesimpulannya, ayah yang selalu melakukan tindakan positif terhadap anak seperti memperhatikan anak, memberikan apa yang dibutuhkan anak, meluangkan waktu untuk bermain bersama anak, dan menghargai pendapat anak akan mampu membuat diri anak mencintai sosok ayah. Ia akan menjadikan sosok ayah sebagai idola dan teladan dalam hidupnya. Dengan demikian, sikap positif yang ada pada diri ayah tanpa sadar akan tertular pada anak. Ia akan menjadi orang yang sukses, bijaksana, dan dapat mengharagai orang lain. (yer).
Perlu orangtua sadari bahwa mempengaruhi anak agar merasa takut oleh ayahnya adalah tindakan yang tidak bijaksana. Hal tersebut dapat merusak ikatan bathin antara ayah dengan anak. Apabila sudah demikian, anak tidak mau lagi dekat dengan ayahnya. Padahal, untuk menjadi orang yang sukses anak bukan saja memerlukan peran dan figur dari ibu saja, tetapi juga dari ayah. Banyak hal yang dapat mempengaruhi kesuksesan anak berasal dari peran ayah. Seperti dalam rangka menanamkan sikap kepemimpinan, disiplin, tegas, dan tanggung jawab kepada anak tentu diperlukan peran dan kedekatan ayah kepada anak.
Oleh karena itu, supaya kesan ayah negatif seperti di atas tidak terus melekat di benak anak maka ayah perlu melakukan beberapa pendekatan positif kepada anak. Di antaranya adalah dengan cara selalu menjaga komunikasi, menjadi sahabat, menghargai pendapat anak, memenuhi kebutuhan anak, dan bermain bersama anak (dr. Maya & Wido, 2006).
Kesimpulannya, ayah yang selalu melakukan tindakan positif terhadap anak seperti memperhatikan anak, memberikan apa yang dibutuhkan anak, meluangkan waktu untuk bermain bersama anak, dan menghargai pendapat anak akan mampu membuat diri anak mencintai sosok ayah. Ia akan menjadikan sosok ayah sebagai idola dan teladan dalam hidupnya. Dengan demikian, sikap positif yang ada pada diri ayah tanpa sadar akan tertular pada anak. Ia akan menjadi orang yang sukses, bijaksana, dan dapat mengharagai orang lain. (yer).
Thursday, 20 December 2007
Bermain Peran Merangsang Kecerdasan Interpersonal Anak
Dalam kesehariannya, anak biasanya sering mengajak orangtua bermain peran bersamanya. Ia akan meminta orangtunya untuk berganti peran menjadi dirinya (anak) dan ia sendiri menjadi orangtua. Pada kesempatan ini, anak akan banyak menirukan perilaku orangtua yang pernah ia terima baik melalui pendengarannya maupun penglihatannya. Segala ucapan dan perbuatan orangtua biasanya ia imitasi dengan sempurna. Misalnya, ketika memerankan orangtua yang sedang marah terhadap anak. Boleh jadi ia akan meperlihatkan ucapan dan perbuatan yang mirip dengan apa yang pernah orangtua lakukan kepadanya. Dengan sikap anak seperti itu tidak jarang membuat orangtua merasa tersindir.
Namun, janganlah orangtua menganggap buruk permainan yang satu ini. Sebab, perlu perlu orangtua ketahui bahwa permainan peran memberikan banyak nilai positif baik kepada anak maupun orangtua. Melalui peran orangtua yang dilakukan oleh anak maka memberikan banyak masukan kepada orangtua tentang hal-hal yang tidak disukai oleh anak. Selai itu, dengan bermain peran maka kecerdasan interpersonal yang terdapat pada diri anak akan semakin terasah. Pada saat anak bermain drama, ia belajar mengamati dan menirukan peran yang sedang dimainkannya. Dengan cara berusaha menjadi orang lain, ia juga belajar hidup bersama dengan orang lain. Jadi, janganlah orangtua merasa bosan atau menolak keinginannya untuk bermain peran bersamanya. Sebab, dengan bermain seperti ini anak akan memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain (dr. Maya & Wido, 2006). (yer)
Namun, janganlah orangtua menganggap buruk permainan yang satu ini. Sebab, perlu perlu orangtua ketahui bahwa permainan peran memberikan banyak nilai positif baik kepada anak maupun orangtua. Melalui peran orangtua yang dilakukan oleh anak maka memberikan banyak masukan kepada orangtua tentang hal-hal yang tidak disukai oleh anak. Selai itu, dengan bermain peran maka kecerdasan interpersonal yang terdapat pada diri anak akan semakin terasah. Pada saat anak bermain drama, ia belajar mengamati dan menirukan peran yang sedang dimainkannya. Dengan cara berusaha menjadi orang lain, ia juga belajar hidup bersama dengan orang lain. Jadi, janganlah orangtua merasa bosan atau menolak keinginannya untuk bermain peran bersamanya. Sebab, dengan bermain seperti ini anak akan memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain (dr. Maya & Wido, 2006). (yer)
Wednesday, 19 December 2007
Jadilah Orangtua 'Penyejuk Mata dan Hati' Anak, Ia Akan Mampu Memikul Beban Kehidupannya
Memperhatikan pola hidup keluarga yang ada di lingkungan kita, ada sebagian keluarga yang suasana kesehariannya dipenuhi dengan kekerasan dan larangan. Orangtua tidak mau peduli terhadap kebutuhan anak, tidak mau kompromi dengan anak, dan cenderung mengabaikan hal-hal yang dianggap penting oleh anak. Orangtua seperti ini biasanya lebih banyak memberikan aturan dan mengekang anak daripada memberikan arahan yang positif.
Anak yang dibesarkan dalam kondisi keluarga seperti ini biasanya lebih banyak merasakan perasaan tertekan, sedih, dan kecewa dalam hidupnya. Ia akan cenderung tidak betah tinggal di rumah, ia ingin segera melepaskan diri dari keluarganya. Sebagian anak perempuan yang sudah besar ada yang lebih memilih menikah dalam usia muda walaupun dengan pasangan hidup yang tidak sepadan. Ia berharap dengan cara seperti itu kondisi keluarga yang lebih baik akan segera ia dapatkan. Bahkan, dengan kondisi keluarga seperti ini tidak jarang membuat anak mendapatkan kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Ia merasa tidak punya harga diri, tidak percaya diri dan sering merasa frustrasi dalam menjalankan kehidupannya.
Menyimak kondisi anak seperti di atas sungguh sangat memprihatinkan. Seyogyanya orangtua menjadi ’penyejuk mata’ dan penenang bagi jiwa sang anak. Untuk mewujudkan hal tersebut maka hargailah anak sebagaimana orangtua menghargai orang dewasa lainnya, berikanlah apa yang dibutuhkan oleh anak, hormatilah kepribadian anak, berikanlah kebebasan kepada anak dalam berpikir dan berpendapat sesuai dengan batasan yang bersifat umum. Cobalah untuk selalu menciptakan kondisi keluarga yang penuh dengan kebersamaan, kasih sayang, dan saling membantu satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab dan mampu memikul beban dalam kehidupannya (Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh, 2007). (yer)
Anak yang dibesarkan dalam kondisi keluarga seperti ini biasanya lebih banyak merasakan perasaan tertekan, sedih, dan kecewa dalam hidupnya. Ia akan cenderung tidak betah tinggal di rumah, ia ingin segera melepaskan diri dari keluarganya. Sebagian anak perempuan yang sudah besar ada yang lebih memilih menikah dalam usia muda walaupun dengan pasangan hidup yang tidak sepadan. Ia berharap dengan cara seperti itu kondisi keluarga yang lebih baik akan segera ia dapatkan. Bahkan, dengan kondisi keluarga seperti ini tidak jarang membuat anak mendapatkan kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Ia merasa tidak punya harga diri, tidak percaya diri dan sering merasa frustrasi dalam menjalankan kehidupannya.
Menyimak kondisi anak seperti di atas sungguh sangat memprihatinkan. Seyogyanya orangtua menjadi ’penyejuk mata’ dan penenang bagi jiwa sang anak. Untuk mewujudkan hal tersebut maka hargailah anak sebagaimana orangtua menghargai orang dewasa lainnya, berikanlah apa yang dibutuhkan oleh anak, hormatilah kepribadian anak, berikanlah kebebasan kepada anak dalam berpikir dan berpendapat sesuai dengan batasan yang bersifat umum. Cobalah untuk selalu menciptakan kondisi keluarga yang penuh dengan kebersamaan, kasih sayang, dan saling membantu satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab dan mampu memikul beban dalam kehidupannya (Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh, 2007). (yer)
Tuesday, 18 December 2007
Manfaat Berkemah Bagi Kecerdasan Natural Anak
Banyak orangtua menjadi bingung ketika anak meminta izin untuk ikut berkemah bersama teman-temannya. Biasanya orangtua akan merasa serba salah bila harus memutuskan hal yang satu ini. Jika diizinkan, mereka takut kalau-kalau nanti terjadi sesuatu yang tidah diharapkan. Tetapi jika dilarang, anak biasanya akan marah dan merasa kecewa. Anak akan beranggapan bahwa orangtua tidak pengertian dan tidak mau memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa bersenang-senang bersama teman.
Memberikan izin kepada anak untuk berkemah memang tidak mudah. Terutama bagi orangtua yang tidak biasa melepaskan anak bermalam di suatu tempat yang baru dan bersama pihak lain. Kondisi seperti ini akan cenderung membuat orangtua ingin melarang anak agar tidak jadi ikut berkemah. Sebab, membiarkan anak pergi berkemah boleh jadi akan membuat perasaan orangtua menjadi terasa sangat tersiksa. Bayangan-bayangan negatif yang mungkin terjadi pada diri anak selama di perkemahan akan terasa sulit sekali untuk dihapuskan.
Menyikapi hal di atas, sebagai upaya untuk menghindarkan perasaan khawatir yang berlebihan maka orangtua seyogyanya meyakinkan terlebih dahulu bahwa anak akan mengikuti acara berkemah bersama orang-orang yang dapat dipercaya dan di lokasi yang tidak membahayakan (aman). Bila semuanya sudah jelas, janganlah orangtua lupa untuk memberikan penjelasan kepada anak tentang apa saja yang harus dilakukan apabila ia mendapatkan kendala saat berkemah. Selain itu, pesankan kepada anak dengan cara yang bijak agar ia selalu menjaga diri dengan baik.
Sejatinya, banyak nilai positif yang dapat diambil oleh anak melalui berkemah ini. Beberapa di antaranya adalah mengajarkan anak bagaimana bertahan hidup, belajar bekerja sama dengan orang lain bila ia membutuhkan bantuan, belajar bagaimana cara membuat tempat untuk beristirahat yang nyaman dan aman. Selain itu, berkemah juga baik untuk merangsang kecerdasan natural (naturalist intelligence) anak. Sebab, membiarkan anak berada di ruang terbuka dapat mendorong anak mengetahui banyak informasi dan pengetahuan tentang bentuk-bentuk alam yang ada di sekitarnya ( dr. Maya & Wido, 2006). (yer)
Memberikan izin kepada anak untuk berkemah memang tidak mudah. Terutama bagi orangtua yang tidak biasa melepaskan anak bermalam di suatu tempat yang baru dan bersama pihak lain. Kondisi seperti ini akan cenderung membuat orangtua ingin melarang anak agar tidak jadi ikut berkemah. Sebab, membiarkan anak pergi berkemah boleh jadi akan membuat perasaan orangtua menjadi terasa sangat tersiksa. Bayangan-bayangan negatif yang mungkin terjadi pada diri anak selama di perkemahan akan terasa sulit sekali untuk dihapuskan.
Menyikapi hal di atas, sebagai upaya untuk menghindarkan perasaan khawatir yang berlebihan maka orangtua seyogyanya meyakinkan terlebih dahulu bahwa anak akan mengikuti acara berkemah bersama orang-orang yang dapat dipercaya dan di lokasi yang tidak membahayakan (aman). Bila semuanya sudah jelas, janganlah orangtua lupa untuk memberikan penjelasan kepada anak tentang apa saja yang harus dilakukan apabila ia mendapatkan kendala saat berkemah. Selain itu, pesankan kepada anak dengan cara yang bijak agar ia selalu menjaga diri dengan baik.
Sejatinya, banyak nilai positif yang dapat diambil oleh anak melalui berkemah ini. Beberapa di antaranya adalah mengajarkan anak bagaimana bertahan hidup, belajar bekerja sama dengan orang lain bila ia membutuhkan bantuan, belajar bagaimana cara membuat tempat untuk beristirahat yang nyaman dan aman. Selain itu, berkemah juga baik untuk merangsang kecerdasan natural (naturalist intelligence) anak. Sebab, membiarkan anak berada di ruang terbuka dapat mendorong anak mengetahui banyak informasi dan pengetahuan tentang bentuk-bentuk alam yang ada di sekitarnya ( dr. Maya & Wido, 2006). (yer)
Monday, 17 December 2007
Memberikan Waktu Bersama Anak
Banyak orangtua sibuk dengan pekerjaan dan kepentingan pribadi sehingga melewatkan masa kanak-kanak anak mereka. Orangtua seperti ini biasanya sulit meluangkan waktu bersama anak dan keluarga. Mereka pulang ke rumah dengan membawa banyak tekanan dan kondisi tubuh yang sudah lelah. Mereka sudah tidak memiliki energi lagi untuk bersantai atau bermain bersama anak.
Bila kita renungkan, sebenarnya kesempatan bersama anak secara efektif adalah tidak lama. Mungkin hanya sampai anak berusia 6 tahun. Setelah itu, boleh jadi anak akan banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di sekolah, tempat bermain, ataupun di tempat-tempat kursus.
Oleh karena itu, manfaatkanlah masa kecil anak dengan sebaik-baiknya. Berikanlah ciuman dan pelukan sesering mungkin sebagai ungkapan bahwa betapa orangtua mencintai dan menyayangi dirinya. Janganlah pernah merasa bosan atau malas untuk bermain dan bercanda bersama anak. Sebab, mungkin kesempatan seperti itu akan sulit untuk diciptakan kembali, terutama ketika anak sudah besar.
Kedua orangtua bekerja adalah tidak salah. Tetapi, jangan sampai kehilangan waktu bersama anak. Sebab, jika orangtua tidak pernah memberikan waktu bersama anak, ia akan merasa tidak diperhatikan. Anak tidak memiliki tempat untuk mencurahkan perasaannya, tidak punya seseorang yang dapat diajak berbicara, tidak mempunyai seseorang yang dapat menentramkan hati dan perasaannya. Bila sudah demikian, anak cenderung mudah terpengaruh oleh sifat dan sikap negatif dari teman atau orang-orang yang berada di luar lingkungannya. Salah satu tindakan negatif yang dilakukan anak akibat kurang perhatian orangtua adalah terjerumus pada obat-obatan terlarang (narkoba).
Intinya, orangtua perlu mengatur waktu sebaik-baiknya agar waktu bersama anak dan keluarga tetap terjaga. Jangan sampai untuk urusan kantor dan arisan orangtua bisa meluangkan waktu berjam-jam. Sedangkan, meluangkan waktu bersama anak dan keluarga sedetikpun orangtua tidak bisa (Maya & Wido, 2006).
Menghabiskan waktu bersama anak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan membacakan cerita sebelum tidur, bercanda, saling berbagi perhatian dan kasih sayang. Selain itu, orangtua juga dapat mengajak anak untuk jalan-jalan dan bermain bersama. Hal demikian tentu akan membuatnya merasa senang dan bahagia.
Bila kita renungkan, sebenarnya kesempatan bersama anak secara efektif adalah tidak lama. Mungkin hanya sampai anak berusia 6 tahun. Setelah itu, boleh jadi anak akan banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di sekolah, tempat bermain, ataupun di tempat-tempat kursus.
Oleh karena itu, manfaatkanlah masa kecil anak dengan sebaik-baiknya. Berikanlah ciuman dan pelukan sesering mungkin sebagai ungkapan bahwa betapa orangtua mencintai dan menyayangi dirinya. Janganlah pernah merasa bosan atau malas untuk bermain dan bercanda bersama anak. Sebab, mungkin kesempatan seperti itu akan sulit untuk diciptakan kembali, terutama ketika anak sudah besar.
Kedua orangtua bekerja adalah tidak salah. Tetapi, jangan sampai kehilangan waktu bersama anak. Sebab, jika orangtua tidak pernah memberikan waktu bersama anak, ia akan merasa tidak diperhatikan. Anak tidak memiliki tempat untuk mencurahkan perasaannya, tidak punya seseorang yang dapat diajak berbicara, tidak mempunyai seseorang yang dapat menentramkan hati dan perasaannya. Bila sudah demikian, anak cenderung mudah terpengaruh oleh sifat dan sikap negatif dari teman atau orang-orang yang berada di luar lingkungannya. Salah satu tindakan negatif yang dilakukan anak akibat kurang perhatian orangtua adalah terjerumus pada obat-obatan terlarang (narkoba).
Intinya, orangtua perlu mengatur waktu sebaik-baiknya agar waktu bersama anak dan keluarga tetap terjaga. Jangan sampai untuk urusan kantor dan arisan orangtua bisa meluangkan waktu berjam-jam. Sedangkan, meluangkan waktu bersama anak dan keluarga sedetikpun orangtua tidak bisa (Maya & Wido, 2006).
Menghabiskan waktu bersama anak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan membacakan cerita sebelum tidur, bercanda, saling berbagi perhatian dan kasih sayang. Selain itu, orangtua juga dapat mengajak anak untuk jalan-jalan dan bermain bersama. Hal demikian tentu akan membuatnya merasa senang dan bahagia.
Sunday, 16 December 2007
Cinta dan Kasih Sayang 'Merobohkan Tembok Pembatas' Antara Orangtua dengan Anak
Salah satu kebutuhan anak yang paling mendasar adalah ingin dicintai dan disayangi oleh kedua orangtuanya. Dengan begitu, ia akan merasa bahwa dirinya berharga di mata kedua orangtuanya. Pada praktiknya, anak biasanya akan merasa kurang puas apabila perasaan cinta dan kasih sayang orangtua tersebut hanya diungkapkan melalui kata-kata saja. Ia menginginkan orangtua dapat menrcerminkan perasaan tersebut dalam tindakan mereka sehari-hari kepadanya. Misalnya, dengan cara selalu memberikan perhatian, pelukan, senyuman, ciuman, dukungan, sikap yang lemah lembut, dan memenuhi kebutuhan serta memahami perasaannya.
Sejatinya, anak yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang akan tumbuh menjadi seseorang yang dapat membahagiakan kedua orangtuanya. Ia akan berusaha memberikan kembali cinta dan kasih sayang yang telah ia terima kepada kedua orangtuanya. Perasaan untuk saling membahagiakan di antara mereka dapat membuat hubungan anak dengan orangtua menjadi semakin erat.
Sebaliknya, apabila orangtua sering memperlihatkan pandangan dan mengucapkan kata-kata kasar kepada anak berarti orangtua telah ’membangun tembok pembatas’ antara anak dengan mereka (Muhammad Fauzi Adhin, 2006). Anak tidak akan percaya lagi dengan apa yang sering orangtua katakan bahwa mereka sangat mencintai dan menyayangi dirinya. Ia akan merasa takut dan bahkan membenci kedua orangtuanya. Bila sudah demikian, ada kemungkinan anak tidak mau lagi membahagiakan kedua orangtuanya. Ia beranggapan bahwa orangtuanya juga tidak membuat dirinya bahagia. Akhirnya, mungkin saja sebagai bentuk protes anak terhadap sikap kasar orangtua, iapun akan sering melakukan tindakan pembangkangan yang dapat membuat mereka kecewa, malu, sedih, dan tidak berdaya. Jika sudah begitu, orangtua biasanya akan merasa sulit untuk mengharapkan anak dapat mematuhi dan melaksanakan apa yang diinginkan oleh mereka. Begitupun sebaliknya, anak tidak dapat lagi mengharapkan cinta dan kasih sayang dari orangtuanya. Sebab, boleh jadi orangtua memutuskan untuk menjauhi dan tidak mau peduli lagi terhadap anak yang dianggap sering membuat mereka kecewa.
Kondisi seperti di atas tentu sangat memprihatinkan. Di antara orangtua dengan anak sudah tidak terjalin lagi ikatan bathin dan perasaan untuk saling membahagiakan. Agar kondisi seperti itu tidak terjadi pada keluarga maka mulailah dari diri orangtua untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepada anak. Apabila seseorang telah jatuh cinta maka ia akan melakukan apa saja demi membahagiakan orang yang mencintainya. Begitupun dengan anak, ia akan patuh, menuruti apa yang disenangi orangtuanya. Dengan demikian hilanglah sudah 'tembok pembatas' yang dapat merusak hubungan baik antara orangtua dan anak. (yer)
Sejatinya, anak yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang akan tumbuh menjadi seseorang yang dapat membahagiakan kedua orangtuanya. Ia akan berusaha memberikan kembali cinta dan kasih sayang yang telah ia terima kepada kedua orangtuanya. Perasaan untuk saling membahagiakan di antara mereka dapat membuat hubungan anak dengan orangtua menjadi semakin erat.
Sebaliknya, apabila orangtua sering memperlihatkan pandangan dan mengucapkan kata-kata kasar kepada anak berarti orangtua telah ’membangun tembok pembatas’ antara anak dengan mereka (Muhammad Fauzi Adhin, 2006). Anak tidak akan percaya lagi dengan apa yang sering orangtua katakan bahwa mereka sangat mencintai dan menyayangi dirinya. Ia akan merasa takut dan bahkan membenci kedua orangtuanya. Bila sudah demikian, ada kemungkinan anak tidak mau lagi membahagiakan kedua orangtuanya. Ia beranggapan bahwa orangtuanya juga tidak membuat dirinya bahagia. Akhirnya, mungkin saja sebagai bentuk protes anak terhadap sikap kasar orangtua, iapun akan sering melakukan tindakan pembangkangan yang dapat membuat mereka kecewa, malu, sedih, dan tidak berdaya. Jika sudah begitu, orangtua biasanya akan merasa sulit untuk mengharapkan anak dapat mematuhi dan melaksanakan apa yang diinginkan oleh mereka. Begitupun sebaliknya, anak tidak dapat lagi mengharapkan cinta dan kasih sayang dari orangtuanya. Sebab, boleh jadi orangtua memutuskan untuk menjauhi dan tidak mau peduli lagi terhadap anak yang dianggap sering membuat mereka kecewa.
Kondisi seperti di atas tentu sangat memprihatinkan. Di antara orangtua dengan anak sudah tidak terjalin lagi ikatan bathin dan perasaan untuk saling membahagiakan. Agar kondisi seperti itu tidak terjadi pada keluarga maka mulailah dari diri orangtua untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepada anak. Apabila seseorang telah jatuh cinta maka ia akan melakukan apa saja demi membahagiakan orang yang mencintainya. Begitupun dengan anak, ia akan patuh, menuruti apa yang disenangi orangtuanya. Dengan demikian hilanglah sudah 'tembok pembatas' yang dapat merusak hubungan baik antara orangtua dan anak. (yer)
Saturday, 15 December 2007
Memberi Hukuman yang Efektif Kepada Anak
Memberi pelajaran kepada anak agar dapat berperilaku baik tidak perlu dengan cara kekerasan, dengan pukulan. Memukul adalah bukan cara yang baik untuk menghentikan perilaku buruk anak. Justru boleh jadi hanya akan membuat anak merasa bingung, kecewa dan terluka bathinnya. Ia tidak akan percaya bahwa orang yang selama ini dianggap sebagai tempatnya berlindung dan mendapatkan kasih sayang ternyata berbuat kasar terhadapnya.
Pukulan yang dilakukan orangtua dapat menghentikan perilaku buruk anak. Tetapi boleh jadi hanya untuk sementara, pada saat itu saja. Anak akan taat kepada orangtua karena perasaan takut dipukul, bukan karena ia memahami permasalahan yang sebenarnya terjadi. Sedangkan untuk jangka panjang mungkin saja anak akan mengulangi lagi perbuatan buruknya, bahhkan boleh jadi lebih buruk dari sebelumnya. Ia akan melakukan pembalasan terhadap orangtuanya dengan cara melakukan tindakan yang dapat membuat orangtua merasa pusing, jengkel, malu dan terganggu aktivitasnya.
Oleh karena itu, hindarilah memberi hukuman anak dengan cara memukul. Ada banyak alternatif hukuman fisik yang lebih efektif daripada pukulan. Di antaranya, memperingatkan dengan kata-kata, menyingkirkan mainan kesukaannya, membatasi penggunaan televisi, komputer, sepeda, atau aktivitas menarik lainnya. Selain itu, bawa dia ke tempat ‘menenangkan diri’ yang berbeda dari kamar tidurnya; bisa di pojok ruangan, kursi khusus, atau dengan cara menidurkannya lebih awal (Deborah K. Parker M.Ed, 2005). (yer)
Pukulan yang dilakukan orangtua dapat menghentikan perilaku buruk anak. Tetapi boleh jadi hanya untuk sementara, pada saat itu saja. Anak akan taat kepada orangtua karena perasaan takut dipukul, bukan karena ia memahami permasalahan yang sebenarnya terjadi. Sedangkan untuk jangka panjang mungkin saja anak akan mengulangi lagi perbuatan buruknya, bahhkan boleh jadi lebih buruk dari sebelumnya. Ia akan melakukan pembalasan terhadap orangtuanya dengan cara melakukan tindakan yang dapat membuat orangtua merasa pusing, jengkel, malu dan terganggu aktivitasnya.
Oleh karena itu, hindarilah memberi hukuman anak dengan cara memukul. Ada banyak alternatif hukuman fisik yang lebih efektif daripada pukulan. Di antaranya, memperingatkan dengan kata-kata, menyingkirkan mainan kesukaannya, membatasi penggunaan televisi, komputer, sepeda, atau aktivitas menarik lainnya. Selain itu, bawa dia ke tempat ‘menenangkan diri’ yang berbeda dari kamar tidurnya; bisa di pojok ruangan, kursi khusus, atau dengan cara menidurkannya lebih awal (Deborah K. Parker M.Ed, 2005). (yer)
Friday, 14 December 2007
Tips Memberikan Pujian Kepada Anak
Bersikap peduli terhadap perilaku anak merupakan salah satu ciri orangtua bijak. Dengan memperhatikan perilaku anak maka mereka dapat dengan mudah meluruskan perilaku negatif yang mungkin terjadi pada diri anak agar menjadi baik. Sebaliknya, orangtuapun dapat dengan segera memberikan dukungan kepada anak atas perilaku baik yang telah dilakukan olehnya agar menjadi suatu kebiasaan baik yang akan terbawa sampai ia dewasa nanti. Banyak cara orangtua memberikan motivasi atas tindakan baik yang dilakukan anak. Salah satunya adalah dengan memberikan pujian.
Hampir semua orang baik dewasa maupun anak-anak mungkin akan merasa senang apabila mendapatkan pujian. Orang yang mendapatkan pujian akan merasa bahwa dirinya adalah berharga. Selain itu, iapun akan memiliki semangat untuk terus berusaha mempertahankan perbuatan baiknya tersebut.
Namun, memberikan pujian kepada anak haruslah dengan cara yang benar. Tidak semua pujian memberikan hasil positif kepada anak. Salah satu dampak dari salah memberikan pujian adalah mendorong anak kepada kesombongan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua ketika akan memberikan pujian kepada anak. Di antaranya, berikanlah pujian tersebut atas perbuatan anak dan bukan karena pribadi anak tersebut, berikan pujian secara proporsional dengan perbuatannya (jangan terlalu berlebihan), hindarkan memuji anak terlalu sering sebab akan menghilangkan nilai pujian tersebut, dan berikanlah pujian tersebut untuk sesuatu yang telah ia raih dengan kerja keras. Misalnya, walaupun ia memiliki IQ biasa-biasa saja, tetapi karena ia rajin belajar dan menjadi juara di kelasnya, maka ia pantas mendapatkan pujian (Ibrahim Amini, 2006). (yre).
Hampir semua orang baik dewasa maupun anak-anak mungkin akan merasa senang apabila mendapatkan pujian. Orang yang mendapatkan pujian akan merasa bahwa dirinya adalah berharga. Selain itu, iapun akan memiliki semangat untuk terus berusaha mempertahankan perbuatan baiknya tersebut.
Namun, memberikan pujian kepada anak haruslah dengan cara yang benar. Tidak semua pujian memberikan hasil positif kepada anak. Salah satu dampak dari salah memberikan pujian adalah mendorong anak kepada kesombongan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua ketika akan memberikan pujian kepada anak. Di antaranya, berikanlah pujian tersebut atas perbuatan anak dan bukan karena pribadi anak tersebut, berikan pujian secara proporsional dengan perbuatannya (jangan terlalu berlebihan), hindarkan memuji anak terlalu sering sebab akan menghilangkan nilai pujian tersebut, dan berikanlah pujian tersebut untuk sesuatu yang telah ia raih dengan kerja keras. Misalnya, walaupun ia memiliki IQ biasa-biasa saja, tetapi karena ia rajin belajar dan menjadi juara di kelasnya, maka ia pantas mendapatkan pujian (Ibrahim Amini, 2006). (yre).
Thursday, 13 December 2007
Bermalam di Tempat Lain, Mengubah Anak Menjadi Dewasa dan Mandiri
Ada saatnya bagi anak tertarik dan ingin mencoba pengalaman baru untuk bermalam di tempat lain. Misalnya di rumah temannya atau tidur di tempat lain bersama rombongan di sekolahnya. Dalam kondisi seperti ini, biasanya anak akan terus mencoba meyakinkan orangtua bahwa di tempat lainpun ia akan baik-baik saja. Anak percaya bahwa ia dapat menjaga dirinya dengan baik.
Menyikapi situasi seperti di atas, sebagian orangtua terutama yang tidak biasa kehilangan anak walaupun hanya semalam tentu hal ini akan membuat mereka merasa khawatir dan sulit untuk memutuskan jawaban mana yang paling baik diucapkan. Apakah mengatakan ‘ya’ sebagai bukti bahwa orangtua percaya kepada anak, walaupun mereka tetap akan mencemaskan dan memikirkannya. Atau lebih baik mengatakan ‘tidak’ karena orangtua terlalu khawatir kepada dirinya. Mengatakan ‘tidak’ kepada anak sebagai bentuk penolakan dan larangan dari orangtua agar ia tidak pergi untuk bermalam di tempat lain boleh jadi tidak dapat diterima oleh anak, ia akan merasa kecewa atau bahkan tetap memaksa agar diizinkan oleh orangtuanya.
Untuk itu, perlu orangtua sadari bahwa anak tidak akan selamanya bersama orangtua. Terutama bagi anak yang sudah mulai menginjak usia dewasa. Seiring dengan kedewasaannya iapun akan mulai melepaskan diri dari orangtuanya. Oleh karena itu, sebagai orangtua yang bijak bantulah ia agar dapat melalui masa tersebut dengan mudah.
Berikanlah kepercayaan kepadanya untuk memutuskan sendiri apakah ia benar-benar akan ikut bermalam atau tidak. Hal tersebut adalah penting agar anak sungguh-sungguh bertanggung jawab terhadap hal-hal yang mungkin saja terjadi. Sebab, bisa saja ia berubah pikiran di tengah-tengah. Karena ia merasa tidak senang maka ia memaksa untuk pulang kembali ke rumah. Hal seperti ini sering terjadi ketika hari mulai gelap, menjelang tidur. Ia akan merasa sedih dan rindu kehangatan malam bersama orangtuanya.
Namun, apabila anak sudah yakin dengan keputusannya maka janganlah lupa untuk mengajarkan bagaimana mempersiapkan segala kebutuhan pokok yang ia perlukan pada saat ia jauh dari orangtua. Membiarkan anak mencoba pengalaman baru bermalam di tempat lain adalah tidak salah. Yang paling penting bagi orangtua adalah memastikan bahwa anak berangkat bersama orang-orang yang dapat dipercaya dengan tempat tujuan yang jelas dan aman.
Sejatinya, ada beberapa hal yang bernilai positif bagi anak dari pengalaman seperti ini. Anak akan belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan orang lain. Anak akan memahami bagaimana rasanya hidup bersama orang lain, terutama ketika ia harus bertahan dalam situasi yang tidak membuat dirinya senang. Selain itu, dengan adanya kesempatan seperti ini, anak akan memahami apa arti dari kemandirian. Akhirnya, orangtua akan merasakan manfaat ini dengan adanya peubahan pada diri anak menjadi lebih dewasa dalam bersikap dan mandiri dalam mempersiapkan kebutuhan masa depannya (Janice Fixter, 2006). (yre)
Menyikapi situasi seperti di atas, sebagian orangtua terutama yang tidak biasa kehilangan anak walaupun hanya semalam tentu hal ini akan membuat mereka merasa khawatir dan sulit untuk memutuskan jawaban mana yang paling baik diucapkan. Apakah mengatakan ‘ya’ sebagai bukti bahwa orangtua percaya kepada anak, walaupun mereka tetap akan mencemaskan dan memikirkannya. Atau lebih baik mengatakan ‘tidak’ karena orangtua terlalu khawatir kepada dirinya. Mengatakan ‘tidak’ kepada anak sebagai bentuk penolakan dan larangan dari orangtua agar ia tidak pergi untuk bermalam di tempat lain boleh jadi tidak dapat diterima oleh anak, ia akan merasa kecewa atau bahkan tetap memaksa agar diizinkan oleh orangtuanya.
Untuk itu, perlu orangtua sadari bahwa anak tidak akan selamanya bersama orangtua. Terutama bagi anak yang sudah mulai menginjak usia dewasa. Seiring dengan kedewasaannya iapun akan mulai melepaskan diri dari orangtuanya. Oleh karena itu, sebagai orangtua yang bijak bantulah ia agar dapat melalui masa tersebut dengan mudah.
Berikanlah kepercayaan kepadanya untuk memutuskan sendiri apakah ia benar-benar akan ikut bermalam atau tidak. Hal tersebut adalah penting agar anak sungguh-sungguh bertanggung jawab terhadap hal-hal yang mungkin saja terjadi. Sebab, bisa saja ia berubah pikiran di tengah-tengah. Karena ia merasa tidak senang maka ia memaksa untuk pulang kembali ke rumah. Hal seperti ini sering terjadi ketika hari mulai gelap, menjelang tidur. Ia akan merasa sedih dan rindu kehangatan malam bersama orangtuanya.
Namun, apabila anak sudah yakin dengan keputusannya maka janganlah lupa untuk mengajarkan bagaimana mempersiapkan segala kebutuhan pokok yang ia perlukan pada saat ia jauh dari orangtua. Membiarkan anak mencoba pengalaman baru bermalam di tempat lain adalah tidak salah. Yang paling penting bagi orangtua adalah memastikan bahwa anak berangkat bersama orang-orang yang dapat dipercaya dengan tempat tujuan yang jelas dan aman.
Sejatinya, ada beberapa hal yang bernilai positif bagi anak dari pengalaman seperti ini. Anak akan belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan orang lain. Anak akan memahami bagaimana rasanya hidup bersama orang lain, terutama ketika ia harus bertahan dalam situasi yang tidak membuat dirinya senang. Selain itu, dengan adanya kesempatan seperti ini, anak akan memahami apa arti dari kemandirian. Akhirnya, orangtua akan merasakan manfaat ini dengan adanya peubahan pada diri anak menjadi lebih dewasa dalam bersikap dan mandiri dalam mempersiapkan kebutuhan masa depannya (Janice Fixter, 2006). (yre)
Wednesday, 12 December 2007
Katakanlah Dengan Jelas Apa yang Diinginkan Ibu dari Dirinya
Sebutan ‘ibu cerewet, galak, dan suka marah-marah’ mungkin bukan hal yang baru bagi kalangan ibu-ibu. Kata-kata tersebut boleh jadi sering mereka dengar manakala anak sedang marah dan menggerutu karena sikap ibu yang terkesan selalu memprotes sikapnya. Memang akan menjadi keniscayaan bahwa ibu akan marah dan ngomel-ngomel apabila menyaksikan perilaku anaknya yang buruk, tidak mau membereskan bekas mainnya, selalu membuang sampah di mana saja, dan melempar barang atau tas di lantai.
Namun, jika ibu marah dan ngomel-ngomel kepada anak tanpa memberikan alasan yang jelas tentang penyebabnya maka hanya akan membuat anak menjadi bingung dan kecewa. Janganlah berharap anak bisa mengetahui apa yang ibu inginkan dari dirinya apabila ibu tidak pernah menjelaskan keinginan tersebut kepadanya.
Agar tidak terjadi keributan yang mungkin dapat menimbulkan luka bathin pada diri anak maka katakanlah dengan jelas sejak dini tentang apa saja yang ibu harapkan dari dirinya. Misalnya, ibu ingin anaknya selalu membereskan bekas bermainnya, ingin anaknya selalu menyimpan sepatu pada tempatnya, dan merapikan tempat tidur setiap pagi. Dengan demikian, anak akan mengetahui bahwa jika ia tidak melakukan hal tersebut maka ibu akan marah atau ngomel-ngomel kepadanya. Biasanya, apabila anak sudah memahami apa yang dapat membuat ibunya menjadi marah, iapun akan berusaha untuk menghindarinya. Iapun akan melakukan apa yang dapat membuat ibunya bahagia.
Kesimpulannya, katakan dengan jelas kepada anak tentang apa yang diinginkan ibu dari dirinya. Sebab, hal seperti itu akan lebih efektif ketimbang memberikan isyarat dan berharap supaya ia bisa memahaminya sendiri (Janice Fixter, 2006). Jadi, apabila ibu menginginkan buku-buku dan mainannya selalu tertata rapi, hindarilah marah-marah dan ngomel-ngomel kepada anak sebelum ibu mengatakan kepadanya apa yang sesunggunhnya ibu inginkan dari diri anak tentang hal tersebut. (yre).
Namun, jika ibu marah dan ngomel-ngomel kepada anak tanpa memberikan alasan yang jelas tentang penyebabnya maka hanya akan membuat anak menjadi bingung dan kecewa. Janganlah berharap anak bisa mengetahui apa yang ibu inginkan dari dirinya apabila ibu tidak pernah menjelaskan keinginan tersebut kepadanya.
Agar tidak terjadi keributan yang mungkin dapat menimbulkan luka bathin pada diri anak maka katakanlah dengan jelas sejak dini tentang apa saja yang ibu harapkan dari dirinya. Misalnya, ibu ingin anaknya selalu membereskan bekas bermainnya, ingin anaknya selalu menyimpan sepatu pada tempatnya, dan merapikan tempat tidur setiap pagi. Dengan demikian, anak akan mengetahui bahwa jika ia tidak melakukan hal tersebut maka ibu akan marah atau ngomel-ngomel kepadanya. Biasanya, apabila anak sudah memahami apa yang dapat membuat ibunya menjadi marah, iapun akan berusaha untuk menghindarinya. Iapun akan melakukan apa yang dapat membuat ibunya bahagia.
Kesimpulannya, katakan dengan jelas kepada anak tentang apa yang diinginkan ibu dari dirinya. Sebab, hal seperti itu akan lebih efektif ketimbang memberikan isyarat dan berharap supaya ia bisa memahaminya sendiri (Janice Fixter, 2006). Jadi, apabila ibu menginginkan buku-buku dan mainannya selalu tertata rapi, hindarilah marah-marah dan ngomel-ngomel kepada anak sebelum ibu mengatakan kepadanya apa yang sesunggunhnya ibu inginkan dari diri anak tentang hal tersebut. (yre).
Tuesday, 11 December 2007
Manfaat Mendongeng Bagi Anak
Dikalangan anak-anak, kegiatan mendongeng atau bercerita merupakan suatu hal yang sangat digemari dan dinanti-nanti. Anak akan mulai tertawa sambil terpingkal-pingkal tatkala kisah lucu mulai diceritakan. Begitupun sebaliknya, iapun akan ikut hanyut dalam kesedihan ketika ia mendengarkan cerita sedih.
Sebagai orangtua yang baik berhati-hatilah dalam memilih suatu cerita. Sebab, tidak semua cerita dapat memberikan manfaat kepada anak. Orangtua perlu menyeleksi cerita yang cocok dan bermanfaat baginya. Kepada anak yang sudah besar, orangtua dapat membimbing dan membantunya mendapatkan cerita yang baik. Ajarkan kepadanya bagaimana memilih buku yang berkualitas. Jelaskan kepadanya supaya dalam memilih buku cerita ia tidak hanya tertarik pada plot cerita, gaya bahasa, dan aksesoris-aksesoris lainnya saja. Tetapi justru yang paling penting adalah isi dari cerita di dalamnya.
Berceritalah kepada anak tentang kisah yang menggambarkan tokoh yang berbudi baik dan sikap-sikap terpuji lainnya yang ingin orangtua tanamkan kepadanya. Gunakan bahasa sederhana dan mudah dicerna oleh anak. Dengan demikian, cerita yang didengar oleh anak dapat meresap ke dalam hati dan perasaannya. Iapun akan dengan mudah menerapkan perilaku baik yang ada dalam cerita tersebut ke dalam kehidupan nyatanya.
Perlu kita ketahui, mendongeng merupakan suatu cara yang paling efektif untuk memberikan nasehat, pesan, pencerahan, dan motivasi kepada anak. Mendongeng sebetulnya mirip dengan memberikan contoh nyata ke dalam imajinasi anak. Dengan perasaan senang anak akan lebih mudah menyerap dan memahami isi cerita yang disampaikan kepadanya. Pilihlah kisah atau cerita yang menarik bagi anak, sesuai dengan umurnya, dikemas dengan cara yang dapat menembus perasaan secara mudah, dan doronglah ia untuk melakukan kebaikan tersebut (Muhammad Rasyid Dimas, 2005). (yre)
Sebagai orangtua yang baik berhati-hatilah dalam memilih suatu cerita. Sebab, tidak semua cerita dapat memberikan manfaat kepada anak. Orangtua perlu menyeleksi cerita yang cocok dan bermanfaat baginya. Kepada anak yang sudah besar, orangtua dapat membimbing dan membantunya mendapatkan cerita yang baik. Ajarkan kepadanya bagaimana memilih buku yang berkualitas. Jelaskan kepadanya supaya dalam memilih buku cerita ia tidak hanya tertarik pada plot cerita, gaya bahasa, dan aksesoris-aksesoris lainnya saja. Tetapi justru yang paling penting adalah isi dari cerita di dalamnya.
Berceritalah kepada anak tentang kisah yang menggambarkan tokoh yang berbudi baik dan sikap-sikap terpuji lainnya yang ingin orangtua tanamkan kepadanya. Gunakan bahasa sederhana dan mudah dicerna oleh anak. Dengan demikian, cerita yang didengar oleh anak dapat meresap ke dalam hati dan perasaannya. Iapun akan dengan mudah menerapkan perilaku baik yang ada dalam cerita tersebut ke dalam kehidupan nyatanya.
Perlu kita ketahui, mendongeng merupakan suatu cara yang paling efektif untuk memberikan nasehat, pesan, pencerahan, dan motivasi kepada anak. Mendongeng sebetulnya mirip dengan memberikan contoh nyata ke dalam imajinasi anak. Dengan perasaan senang anak akan lebih mudah menyerap dan memahami isi cerita yang disampaikan kepadanya. Pilihlah kisah atau cerita yang menarik bagi anak, sesuai dengan umurnya, dikemas dengan cara yang dapat menembus perasaan secara mudah, dan doronglah ia untuk melakukan kebaikan tersebut (Muhammad Rasyid Dimas, 2005). (yre)
Monday, 10 December 2007
Manfaat Bermain Bagi Anak
Pada umumnya, setiap anak pasti suka permainan. Anak bermain tidak hanya untuk beraktivitas atau menghabiskan energi saja. Dengan bermain anak dapat mengekspresikan perasaan dan menggali potensi yang ada dalam dirinya. Ia dapat berkreasi dan berimajinasi sesuai dengan apa yang diinginkannya. Ada berbagai permainan yang sering dilakukan oleh anak seperti bermain rumah-rumahan, mobil-mobilan, catur, membentuk sesuatu dari tanah liat, bermain sekolah-sekolahan, dan dokter-dokteran.
Permainan anak tidak harus selalu menggunakan mainan dengan harga yang mahal. Ada banyak permainan yang tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Salah satunya adalah dengan mengajak anak bermain di kebun, main petak umpet, kejar-kejaran, dan menanam pohon. Bermain bersama anak di kebun selain membuatnya bahagia, orangtuapun dapat mengajarkan kepadanya tentang banyak hal. Misalnya, memperkenalkan kepada anak tentang berbagai jenis tanaman, warna-warna bunga, bentuk benda, nama dan jenis binatang dengan nyata.
Bermain bersama anak merupakan kesempatan yang baik bagi orangtua untuk mendorong kreativitas dan mengajarkan anak tentang sesuatu yang bernilai baik. Ketika anak sedang bermain rumah-rumahan dan boneka. Orangtua dapat memperlihatkan kepada anak bagaimana memperlakukan anak kecil atau bayi dengan baik dan penuh kelembutan. Misalnya ketika sedang memandikan, memakaikan baju, memberi makan, bercerita, dan bercengkrama. Bahkan, ibu juga dapat mengajarkan anak yang sudah besar bagaimana membuatkan baju untuk bonekanya, memasangkan kancing boneka yang lepas, atau menjahit boneka yang robek.
Apabila orangtua bermain dengan anak laki-laki yang sedang main mobil-mobilan, orangtua dapat menggunakan kesempatan ini untuk menggali kreatifitasnya. Salah satunya dengan cara memberikan ide kepadanya bahwa iapun dapat membuat mobil mainan dari alat dan bahan sederhana yang ia miliki, seperti membuat mobil-mobilan dari sandal jepit yang sudah tidak dipakai lagi.
Ada beberapa hal yang perlu ditekankan dan diajarkan kepada anak yang berhubungan dengan mainannya. Yaitu, membereskan kembali mainannya bila waktu bermain sudah selesai dan menjaga mainannya agar tidak cepat rusak. Tindakan seperti itu adalah sangat penting ditanamkan kepada anak sejak dini. Supaya ia menjadi terbiasa hidup disiplin dan tanggung jawab baik terhadap barang miliknya sendiri maupun milik orang lain.
Berikan kebebasan kepada anak untuk bermain sesuai dengan minatnya, selama permainan tersebut tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Dengan permainan maka anak belajar mengembangkan potensi pada dirinya, sikap kerjasama, pergaulan, menghormati hak-hak orang lain, peraturan, dan kehidupan sosial lainnya (Ibrahim Amini, 2006). (yre)
Permainan anak tidak harus selalu menggunakan mainan dengan harga yang mahal. Ada banyak permainan yang tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Salah satunya adalah dengan mengajak anak bermain di kebun, main petak umpet, kejar-kejaran, dan menanam pohon. Bermain bersama anak di kebun selain membuatnya bahagia, orangtuapun dapat mengajarkan kepadanya tentang banyak hal. Misalnya, memperkenalkan kepada anak tentang berbagai jenis tanaman, warna-warna bunga, bentuk benda, nama dan jenis binatang dengan nyata.
Bermain bersama anak merupakan kesempatan yang baik bagi orangtua untuk mendorong kreativitas dan mengajarkan anak tentang sesuatu yang bernilai baik. Ketika anak sedang bermain rumah-rumahan dan boneka. Orangtua dapat memperlihatkan kepada anak bagaimana memperlakukan anak kecil atau bayi dengan baik dan penuh kelembutan. Misalnya ketika sedang memandikan, memakaikan baju, memberi makan, bercerita, dan bercengkrama. Bahkan, ibu juga dapat mengajarkan anak yang sudah besar bagaimana membuatkan baju untuk bonekanya, memasangkan kancing boneka yang lepas, atau menjahit boneka yang robek.
Apabila orangtua bermain dengan anak laki-laki yang sedang main mobil-mobilan, orangtua dapat menggunakan kesempatan ini untuk menggali kreatifitasnya. Salah satunya dengan cara memberikan ide kepadanya bahwa iapun dapat membuat mobil mainan dari alat dan bahan sederhana yang ia miliki, seperti membuat mobil-mobilan dari sandal jepit yang sudah tidak dipakai lagi.
Ada beberapa hal yang perlu ditekankan dan diajarkan kepada anak yang berhubungan dengan mainannya. Yaitu, membereskan kembali mainannya bila waktu bermain sudah selesai dan menjaga mainannya agar tidak cepat rusak. Tindakan seperti itu adalah sangat penting ditanamkan kepada anak sejak dini. Supaya ia menjadi terbiasa hidup disiplin dan tanggung jawab baik terhadap barang miliknya sendiri maupun milik orang lain.
Berikan kebebasan kepada anak untuk bermain sesuai dengan minatnya, selama permainan tersebut tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Dengan permainan maka anak belajar mengembangkan potensi pada dirinya, sikap kerjasama, pergaulan, menghormati hak-hak orang lain, peraturan, dan kehidupan sosial lainnya (Ibrahim Amini, 2006). (yre)
Sunday, 9 December 2007
Orangtua Kompak Memberi Keputusan Kepada Anak
Dalam kehidupannya terkadang anak menghadapi situasi di mana ia sangat mengharapkan persetujuan atau jawaban ’ya’ dari orangtua. Dalam kondisi seperti itu, biasanya ia akan terus berusaha untuk meyakinkan orangtua tentang apa yang diinginkannya. Berbagai cara mungkin saja dilakukan oleh anak agar tidak terjadi penolakan terhadap pendapatnya.
Pada praktiknya, ibu adalah orang yang lebih banyak mendapatkan beban berat dalam hal merespon permintaan anak. Sebab, boleh jadi ibulah yang paling sering menolak atau berkata ’tidak’ terhadap apa yang diinginkan anak. Terutama untuk hal-hal penting, sesuatu yang dapat membahayakan, dan sesuatu yang mungkin akan berdampak buruk terhadap dirinya sendiri maupun orangtua.
Menyikapi hal di atas, berusahalah kompak bersama pasangan dalam memberikan keputusan kepada anak. Cara demikian akan menghindarkan anak dari kebiasaan buruk mendekati salah satu orangtua untuk mendapatkan persetujuan. Maksudnya, apabila anak tidak diperbolehkan untuk melakukan sesuatu oleh ibu maka ia akan lari mendekati ayah untuk mencari persetujuan. Begitupun sebaliknya, anak akan mencari atau mendekati ibu saja ketika ayah tidak meluluskan permintaannya.
Untuk menghindari situasi seperti di atas, orangtua harus meyakinkan kepada anak bahwa keputusan yang diberikan kepadanya adalah sama, hasil kesepakatan ibu dan ayah. Jadi, apabila ibu megatakan ’tidak’ maka ayahpun harus mengatakan hal yang sama. Dengan demikian, anak akan merasa puas, yakin, dan menerima apapun yang dikatakan oleh orangtuanya.
Jika orangtua akan memberikan toleransi (mengubah keputusan) dengan mengatakan ’ya’ kepada anak, lakukanlah dengan cara mendiskusikannya terlebih dahulu bersama pasangan. Bila keputusan sudah berubah, janganlah orangtua lupa memberitahu anak mengapa mereka mengubah alasan pertamanya. Dengan cara demikian, anak akan belajar memahami hal-hal mana yang perinsip dan mana yang masih dapat ditoleransi.
Meminta bantuan pasangan untuk berbagi tanggung jawab memberikan keputusan kepada anak adalah cara yang baik. Sebab, bila ibu saja yang memutuskan kepada anak apalagi nilainya negatif, tidak sesuai dengan harapannya. Maka, boleh jadi anak akan menjauhi ibu karena dianggap selalu menolak permintaannya.
Contoh kasus, ibu maupun ayah akan sama-sama berkata ’tidak’ kepada anak yang ingin pergi ke tempat yang tidak jelas di malam hari. Ketika anak tidak diperbolehkan pergi oleh ibu, anak akan percaya bahwa jika ia mendekati ayahpun tidak akan mengubah keputusan.
Kesimpulannya, anak bisa menjadi sangat pintar dalam hal mempertentangkan antara ayah dan ibunya. Maksudnya, bisa saja anak membela diri dengan mengatakan 'tapi kata ayah boleh....., atau tapi kata ibu boleh kok'. Maka, agar terhindar dari sikap anak seperti itu, berusalah untuk selalu memperlihatkan sebuah kesatuan sikap di hadapan anak (Janice Fixter, 2006). (yre).
Pada praktiknya, ibu adalah orang yang lebih banyak mendapatkan beban berat dalam hal merespon permintaan anak. Sebab, boleh jadi ibulah yang paling sering menolak atau berkata ’tidak’ terhadap apa yang diinginkan anak. Terutama untuk hal-hal penting, sesuatu yang dapat membahayakan, dan sesuatu yang mungkin akan berdampak buruk terhadap dirinya sendiri maupun orangtua.
Menyikapi hal di atas, berusahalah kompak bersama pasangan dalam memberikan keputusan kepada anak. Cara demikian akan menghindarkan anak dari kebiasaan buruk mendekati salah satu orangtua untuk mendapatkan persetujuan. Maksudnya, apabila anak tidak diperbolehkan untuk melakukan sesuatu oleh ibu maka ia akan lari mendekati ayah untuk mencari persetujuan. Begitupun sebaliknya, anak akan mencari atau mendekati ibu saja ketika ayah tidak meluluskan permintaannya.
Untuk menghindari situasi seperti di atas, orangtua harus meyakinkan kepada anak bahwa keputusan yang diberikan kepadanya adalah sama, hasil kesepakatan ibu dan ayah. Jadi, apabila ibu megatakan ’tidak’ maka ayahpun harus mengatakan hal yang sama. Dengan demikian, anak akan merasa puas, yakin, dan menerima apapun yang dikatakan oleh orangtuanya.
Jika orangtua akan memberikan toleransi (mengubah keputusan) dengan mengatakan ’ya’ kepada anak, lakukanlah dengan cara mendiskusikannya terlebih dahulu bersama pasangan. Bila keputusan sudah berubah, janganlah orangtua lupa memberitahu anak mengapa mereka mengubah alasan pertamanya. Dengan cara demikian, anak akan belajar memahami hal-hal mana yang perinsip dan mana yang masih dapat ditoleransi.
Meminta bantuan pasangan untuk berbagi tanggung jawab memberikan keputusan kepada anak adalah cara yang baik. Sebab, bila ibu saja yang memutuskan kepada anak apalagi nilainya negatif, tidak sesuai dengan harapannya. Maka, boleh jadi anak akan menjauhi ibu karena dianggap selalu menolak permintaannya.
Contoh kasus, ibu maupun ayah akan sama-sama berkata ’tidak’ kepada anak yang ingin pergi ke tempat yang tidak jelas di malam hari. Ketika anak tidak diperbolehkan pergi oleh ibu, anak akan percaya bahwa jika ia mendekati ayahpun tidak akan mengubah keputusan.
Kesimpulannya, anak bisa menjadi sangat pintar dalam hal mempertentangkan antara ayah dan ibunya. Maksudnya, bisa saja anak membela diri dengan mengatakan 'tapi kata ayah boleh....., atau tapi kata ibu boleh kok'. Maka, agar terhindar dari sikap anak seperti itu, berusalah untuk selalu memperlihatkan sebuah kesatuan sikap di hadapan anak (Janice Fixter, 2006). (yre).
Saturday, 8 December 2007
Bersikaplah Jujur Kepada Anak, Ia Akan Memahami dan Menghargai Orangtua
Orangtua siapapun tentu akan merasa bahagia bila dapat memenuhi keinginan anak. Namun, mengabulkan dan menyetujui segala hal yang diinginkan oleh anak adalah tindakan orangtua yang tidak bijaksana. Orangtua yang selalu mengabulkan semua keinginan dan memanjakan anak, berarti orangtua tidak mempersiapkan anak apabila suatu saat ia menghadapi kekecewaan dalam kehidupannya.
Orangtua perlu mengajarkan anak bahwa tidak semua hal dalam hidup ini dapat ia peroleh atau ia miliki dengan mudah. Anak perlu diberitahu bahwa untuk meraih atau mendapatkan sesuatu diperlukan pengorbanan, kerja keras, dan perencanaan yang baik. Misalnya, mengajarkan anak untuk menabung. Dengan menabung, ia dapat mendapatkan sesuatu yang ia inginkan tanpa harus menunggu kesanggupan dari orangtua. Sebab, adakalanya orangtua tidak memiliki dana untuk membeli hal-hal yang mungkin dianggap bukan merupakan kebutuhan yang mendesak bagi hidup, seperti mainan anak.
Apabila anak meminta sesuatu dan ternyata orangtua tidak dapat memenuhi keinginannya, lebih baik katakan kepadanya dengan jujur. Misalnya, anak menginginkan mainan robot yang mahal harganya, tetapi orangtua tidak memiliki uang untuk membelinya. Menyikapi situasi seperti itu, katakanlah dengan jujur kepadanya bahwa orangtua sangat menyayangi dan ingin selalu dapat membahagiakannya. Namun, saat ini orangtua benar-benar tidak memiliki dana untuk membeli barang semahal itu. Sebaliknya, apabila orangtua memiliki dana yang cukup untuk membeli sesuatu yang diinginkan anak tetapi gagasan tersebut tidak baik untuk dilaksanakan maka orangtuapun harus menjelaskan alasan kepadanya.
Jika anak memahami alasan orangtua mengapa mereka tidak mengabulkan keinginannya, iapun akan lebih mudah mengatasi kekecewaannya. Anak akan memberikan respon yang baik terhadap kejujuran orangtua, walaupun ia sebenarnya kecewa. Oleh karena itu, janganlah takut untuk menjelaskan kepada anak mengapa orangtua menolak permintaannya. Dengan sikap jujur yang diberikan orangtua maka anak akan mampu memahami kondisi sebenarnya. Selain itu iapun akan menghargai kejujuran orangtuanya (Janice Fixter, 2006). (yre)
Orangtua perlu mengajarkan anak bahwa tidak semua hal dalam hidup ini dapat ia peroleh atau ia miliki dengan mudah. Anak perlu diberitahu bahwa untuk meraih atau mendapatkan sesuatu diperlukan pengorbanan, kerja keras, dan perencanaan yang baik. Misalnya, mengajarkan anak untuk menabung. Dengan menabung, ia dapat mendapatkan sesuatu yang ia inginkan tanpa harus menunggu kesanggupan dari orangtua. Sebab, adakalanya orangtua tidak memiliki dana untuk membeli hal-hal yang mungkin dianggap bukan merupakan kebutuhan yang mendesak bagi hidup, seperti mainan anak.
Apabila anak meminta sesuatu dan ternyata orangtua tidak dapat memenuhi keinginannya, lebih baik katakan kepadanya dengan jujur. Misalnya, anak menginginkan mainan robot yang mahal harganya, tetapi orangtua tidak memiliki uang untuk membelinya. Menyikapi situasi seperti itu, katakanlah dengan jujur kepadanya bahwa orangtua sangat menyayangi dan ingin selalu dapat membahagiakannya. Namun, saat ini orangtua benar-benar tidak memiliki dana untuk membeli barang semahal itu. Sebaliknya, apabila orangtua memiliki dana yang cukup untuk membeli sesuatu yang diinginkan anak tetapi gagasan tersebut tidak baik untuk dilaksanakan maka orangtuapun harus menjelaskan alasan kepadanya.
Jika anak memahami alasan orangtua mengapa mereka tidak mengabulkan keinginannya, iapun akan lebih mudah mengatasi kekecewaannya. Anak akan memberikan respon yang baik terhadap kejujuran orangtua, walaupun ia sebenarnya kecewa. Oleh karena itu, janganlah takut untuk menjelaskan kepada anak mengapa orangtua menolak permintaannya. Dengan sikap jujur yang diberikan orangtua maka anak akan mampu memahami kondisi sebenarnya. Selain itu iapun akan menghargai kejujuran orangtuanya (Janice Fixter, 2006). (yre)
Friday, 7 December 2007
Menerapkan Aturan Kepada Anak Secara Konsisten
Sebagian orangtua ada yang masih berfikiran bahwa dengan memanjakan dan menyetujui segala yang diinginkan oleh anak merupakan salah satu bukti bahwa orangtua menyayangi anak. Hal tersebut adalah tidak benar. Orangtua perlu mengajarkan kepada anak tentang aturan dan batasan-batasan dalam hidup agar ia merasa aman dan tentram. Anak perlu mengetahui bahwa tidak semua hal yang ia inginkan dapat ia lakukan atau ia miliki. Ajarkanlah anak tentang perilaku mana yang dapat ditoleransi dan mana yang tidak.
Sikap konsisten orangtua terhadap aturan yang sedang diterapkan kepada anak merupakan suatu hal yang sangat penting. Apabila orangtua bermaksud mengatakan ‘tidak’, maka lakukanlah sebisanya untuk tetap bersikukuh pada sikap awal, yaitu ‘tidak’. Janganlah menyerah karena tangisan, omelan, dan sikap marah yang dilakukan anak. Sebab, bila orangtua menyerah berarti memberikan isyarat kepadanya bahwa dengan terus menerus rewel akhirnya iapun akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Bila terjadi seperti itu, anak tidak akan memiliki kepastian tentang tindakan dan sifat yang benar, dapat diterima oleh masyarakat umum (Janice Fixter, 2006).
Sebaliknya, apabila orangtua memang bermaksud untuk membolehkan atau membiarkan anak melakukan apa yang ia inginkan, lebih baik biarkan ia mendapatkannya sejak awal. Hindarkan berkata ‘ya’ melalui ‘peperangan’ atau pertengkaran terlebih dahulu, antara orangtua dengan anak. Hal demikian hanya akan memicu perilaku negatif anak. Anak akan terbiasa ‘ngamuk’, marah, dan rewel agar orangtuanya takluk dan membolehkan ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Berikanlah batasan dan aturan kepada anak secara konsisten. Dengan demikian anak akan mendapatkan kepastian dalam melangkah. Anak akan memahami mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh untuk dilakukan. Anak akan belajar tentang sebab dan akibat dari tidakan tegas yang dilakukan oleh orangtua. Iapun akan menjauhi tindakan buruk karena ia tahu hal tersebut akan berakibat negatif bagi hidupnya.
Contoh kasus, orangtua tetap mengatakan ’Tidak’ kepada anak yang suka bermain api atau listrik. Hindarkan memberi toleransi kepada anak untuk bermain hal yang dapat membahayakan dan mencelakakan tersebut. Tetaplah berkata ’tidak’ walaupun ia berusaha terus-menerus membujuk atau bahkan menjerit-jerit. Sekali anak memahami dan yakin bahwa orangtuanya sungguh-sungguh dalam berkata, iapun akan menghargai dan mematuhi orangtuanya. Jadi katakanlah ’Tidak’ jika memang tidak boleh, hindarkanlah merubah aturan ditengah-tengah. (yre)
Demikianlah artikel hari ini dari saya, selamat mencoba dan semoga sukses......
Sikap konsisten orangtua terhadap aturan yang sedang diterapkan kepada anak merupakan suatu hal yang sangat penting. Apabila orangtua bermaksud mengatakan ‘tidak’, maka lakukanlah sebisanya untuk tetap bersikukuh pada sikap awal, yaitu ‘tidak’. Janganlah menyerah karena tangisan, omelan, dan sikap marah yang dilakukan anak. Sebab, bila orangtua menyerah berarti memberikan isyarat kepadanya bahwa dengan terus menerus rewel akhirnya iapun akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Bila terjadi seperti itu, anak tidak akan memiliki kepastian tentang tindakan dan sifat yang benar, dapat diterima oleh masyarakat umum (Janice Fixter, 2006).
Sebaliknya, apabila orangtua memang bermaksud untuk membolehkan atau membiarkan anak melakukan apa yang ia inginkan, lebih baik biarkan ia mendapatkannya sejak awal. Hindarkan berkata ‘ya’ melalui ‘peperangan’ atau pertengkaran terlebih dahulu, antara orangtua dengan anak. Hal demikian hanya akan memicu perilaku negatif anak. Anak akan terbiasa ‘ngamuk’, marah, dan rewel agar orangtuanya takluk dan membolehkan ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Berikanlah batasan dan aturan kepada anak secara konsisten. Dengan demikian anak akan mendapatkan kepastian dalam melangkah. Anak akan memahami mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh untuk dilakukan. Anak akan belajar tentang sebab dan akibat dari tidakan tegas yang dilakukan oleh orangtua. Iapun akan menjauhi tindakan buruk karena ia tahu hal tersebut akan berakibat negatif bagi hidupnya.
Contoh kasus, orangtua tetap mengatakan ’Tidak’ kepada anak yang suka bermain api atau listrik. Hindarkan memberi toleransi kepada anak untuk bermain hal yang dapat membahayakan dan mencelakakan tersebut. Tetaplah berkata ’tidak’ walaupun ia berusaha terus-menerus membujuk atau bahkan menjerit-jerit. Sekali anak memahami dan yakin bahwa orangtuanya sungguh-sungguh dalam berkata, iapun akan menghargai dan mematuhi orangtuanya. Jadi katakanlah ’Tidak’ jika memang tidak boleh, hindarkanlah merubah aturan ditengah-tengah. (yre)
Demikianlah artikel hari ini dari saya, selamat mencoba dan semoga sukses......
Thursday, 6 December 2007
Masa Liburan yang Menyenangkan
Pada umumnya, liburan adalah masa di mana setiap orang sangat menantikan kehadirannya. Masa liburan sering digunakan orang untuk memanjakan diri dan melepaskan diri dari rutinitas yang penuh aturan, disiplin, dan tentunya sangat melelahkan. Namun hal ini tidak berlaku bagi sebagian banyak kaum ibu. Menghadapi masa liburan anak merupakan tantangan yang sangat berat. Bagaimana tidak, dengan liburnya anak dari kegiatan sekolah berarti pekerjaan ibu tujuh hari dalam seminggu menjadi non stop (dari pagi hingga larut malam). Ibu harus mampu menyediakan kebutuhan pokok anak, menghibur, dan memikirkan bagaimana caranya agar anak tidak merasa bosan menghabiskan masa liburannya.
Situasi yang sulit ini bukan hanya akan dirasakan oleh ibu rumah tangga saja. Tetapi juga ibu yang bekerja di luar rumah. Setidaknya, bila masa liburan anak tidak sesuai dengan masa liburan orangtua (ibu bekerja) maka mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk menjaga anak adalah menjadi suatu hal yang wajib dilakukan. Orangtuapun harus meluangkan waktunya untuk mencari siapa yang dapat dipercaya dan sesuai dengan anak. Selain itu juga orangtua harus mempersiapkan uang ekstra untuk membayar pihak lain yang akan menemani sang anak selama masa liburan berlangsung.
Untuk menghindari kekacauana dalam mengisi liburan ini, ibu perlu bersikap lebih cerdik dalam mengatur apa yang akan dilakukan. Ibu yang bekerja mungkin dapat mengambil waktu libur yang sesuai dengan masa liburan anak. Selain itu, ibu dapat membicarakan hal ini dengan pasangan sehingga dapat bekerja sama berbagi tugas dengannya (ayah atau ibu bisa bergantian menemani anak berlibur). Jadikanlah liburan sebagai waktu untuk keluarga. Dengan demikian orangtua tidak akan merasa waktu untuk beristirahat diserobot oleh anak. Berusahalah untuk bergembira bersama, daripada nantinya akan ada anak yang merasa bahwa satu-satunya cara untuk bersenang-senang adalah dengan cara menjauhi orangtuanya (Janice Fixter, 2006).
Perlu orangtua ketahui bahwa setiap orang membutuhkan waktu libur. Berlibur bukan hanya untuk anak saja, melainkan kedua belah pihal (anak dan orangtua). Oleh karena itu, tidak ada salahnya ibu memberikan ide atau motivasi kepada anak untuk dapat menghibur dirinya sendiri. Hal tersebut setidaknya dapat dilakukan anak selama setengah hari atau beberapa jam agar ibu juga dapat bersantai dan menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Bila anak sudah besar, ibu dapat memberikan penjelasan kepadanya dengan cara yang bijak, katakan kepada anak bahwa orangtua juga ingin menikmati waktu libur seperti halnya ia menikmatinya. Dengan demikian anak akan mengerti dan mau menghargai waktu istirahat orangtua.
Banyak cara yang dapat dijadikan ide agar anak dapat bersenang-senang sendiri dalam waktu sementara. Misalnya, dengan cara membiarkan anak melukis di atas kertas besar yang sudah disediakan, bermain air dengan wadah-wadah kecilnya, atau menyewakan film kesukaannya.
Membiarkan anak menghabiskan waktu yang cukup lama sendirian adalah tidak baik. Setelah anak merasa puas dengan waktu sendirinya, orangtua dapat menemaninya kembali. Misalnya dengan cara mengajak anak bermain petak umpet, mengajak anak jalan-jalan ke toko buku, atau sekali-kali orangtua juga bisa mengajak anak nonton di bioskop atau piknik untuk sekedar makan di luar.
Jadikanlah masa liburan anak menjadi waktu yang sangat berkesan dan meninggalkan kenangan yang indah bagi dirinya. Dengan demikian, kehangatan keluarga akan terkenang sepanjang hidup anak. Perasaan anak untuk selalu merindukan orangtuapun akan tercipta dengan sendirinya…… (yre).
Situasi yang sulit ini bukan hanya akan dirasakan oleh ibu rumah tangga saja. Tetapi juga ibu yang bekerja di luar rumah. Setidaknya, bila masa liburan anak tidak sesuai dengan masa liburan orangtua (ibu bekerja) maka mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk menjaga anak adalah menjadi suatu hal yang wajib dilakukan. Orangtuapun harus meluangkan waktunya untuk mencari siapa yang dapat dipercaya dan sesuai dengan anak. Selain itu juga orangtua harus mempersiapkan uang ekstra untuk membayar pihak lain yang akan menemani sang anak selama masa liburan berlangsung.
Untuk menghindari kekacauana dalam mengisi liburan ini, ibu perlu bersikap lebih cerdik dalam mengatur apa yang akan dilakukan. Ibu yang bekerja mungkin dapat mengambil waktu libur yang sesuai dengan masa liburan anak. Selain itu, ibu dapat membicarakan hal ini dengan pasangan sehingga dapat bekerja sama berbagi tugas dengannya (ayah atau ibu bisa bergantian menemani anak berlibur). Jadikanlah liburan sebagai waktu untuk keluarga. Dengan demikian orangtua tidak akan merasa waktu untuk beristirahat diserobot oleh anak. Berusahalah untuk bergembira bersama, daripada nantinya akan ada anak yang merasa bahwa satu-satunya cara untuk bersenang-senang adalah dengan cara menjauhi orangtuanya (Janice Fixter, 2006).
Perlu orangtua ketahui bahwa setiap orang membutuhkan waktu libur. Berlibur bukan hanya untuk anak saja, melainkan kedua belah pihal (anak dan orangtua). Oleh karena itu, tidak ada salahnya ibu memberikan ide atau motivasi kepada anak untuk dapat menghibur dirinya sendiri. Hal tersebut setidaknya dapat dilakukan anak selama setengah hari atau beberapa jam agar ibu juga dapat bersantai dan menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Bila anak sudah besar, ibu dapat memberikan penjelasan kepadanya dengan cara yang bijak, katakan kepada anak bahwa orangtua juga ingin menikmati waktu libur seperti halnya ia menikmatinya. Dengan demikian anak akan mengerti dan mau menghargai waktu istirahat orangtua.
Banyak cara yang dapat dijadikan ide agar anak dapat bersenang-senang sendiri dalam waktu sementara. Misalnya, dengan cara membiarkan anak melukis di atas kertas besar yang sudah disediakan, bermain air dengan wadah-wadah kecilnya, atau menyewakan film kesukaannya.
Membiarkan anak menghabiskan waktu yang cukup lama sendirian adalah tidak baik. Setelah anak merasa puas dengan waktu sendirinya, orangtua dapat menemaninya kembali. Misalnya dengan cara mengajak anak bermain petak umpet, mengajak anak jalan-jalan ke toko buku, atau sekali-kali orangtua juga bisa mengajak anak nonton di bioskop atau piknik untuk sekedar makan di luar.
Jadikanlah masa liburan anak menjadi waktu yang sangat berkesan dan meninggalkan kenangan yang indah bagi dirinya. Dengan demikian, kehangatan keluarga akan terkenang sepanjang hidup anak. Perasaan anak untuk selalu merindukan orangtuapun akan tercipta dengan sendirinya…… (yre).
Wednesday, 5 December 2007
Bila Ibu Harus Kembali Bekerja
Adanya emansipasi membuat kaum wanita semakin kuat mempertahankan persamaan haknya, bekerja dan menghasilkan uang seperti kaum laki-laki. Ada beberapa hal yang dapat mendorong kaum wanita memilih bekerja di luar rumah. Di antaranya, karena ia memang mencintai pekerjaannya, walaupun secara finansial ia tidak kekurangan. Namun, sebagian dari mereka ada juga yang bekerja karena memang suatu keharusan, ekonomi keluarga yang ada tidak mencukupi. Kondisi seperti inilah yang sering menjadi sebuah dilema bagi sebagian kaum wanita yang sudah berkeluarga dan baru saja memiliki anak kecil.
Sejujurnya, boleh jadi ibu hanya ingin bersama anak, membesarkan, dan mendidik anaknya dengan tangan sendiri. Tetapi melihat kondisi ekonomi yang tidak mencukupi membuat ia harus tetap kembali bekerja. Dengan situasi seperti itu banyak kaum ibu yang merasa bersalah kepada anak. Ia merasa telah menelantarkan anaknya. Namun, bila ibunya tinggal di rumah saja, iapun akan tetap merasa bersalah kepada anak. Ibu tidak dapat membantu ekonomi keluarga dan boleh jadi banyak kebutuhan anak yang tidak dapat terpenuhi.
Oleh karena itu, apabila ibu tidak memiliki pilihan lain kecuali harus tetap kembali bekerja maka bersikaplah realistis dalam menjalankan tugas ganda ini, menangani pekerjaan dan anak-anak sekaligus. Berusahalah menerima situasi yang ada, dan berusahalah mengambil manfaat yang terbaik dari situasi tersebut. Pandanglah secara positif segala sesuatu yang sedang dikerjakan. Walaupun ibu tidak dapat mengerjakan perannya dengan sempurna, namun perlu diingat bahwa dengan bekerja ibu dapat menyediakan kebutuhan anak dan keluarga. Satu hal lain yang sangat penting bila ibu harus tetap bekerja adalah berusahalah selalu untuk memprioritaskan anak pada urutan pertama (Janice Fixter, 2006). (yre)
Sejujurnya, boleh jadi ibu hanya ingin bersama anak, membesarkan, dan mendidik anaknya dengan tangan sendiri. Tetapi melihat kondisi ekonomi yang tidak mencukupi membuat ia harus tetap kembali bekerja. Dengan situasi seperti itu banyak kaum ibu yang merasa bersalah kepada anak. Ia merasa telah menelantarkan anaknya. Namun, bila ibunya tinggal di rumah saja, iapun akan tetap merasa bersalah kepada anak. Ibu tidak dapat membantu ekonomi keluarga dan boleh jadi banyak kebutuhan anak yang tidak dapat terpenuhi.
Oleh karena itu, apabila ibu tidak memiliki pilihan lain kecuali harus tetap kembali bekerja maka bersikaplah realistis dalam menjalankan tugas ganda ini, menangani pekerjaan dan anak-anak sekaligus. Berusahalah menerima situasi yang ada, dan berusahalah mengambil manfaat yang terbaik dari situasi tersebut. Pandanglah secara positif segala sesuatu yang sedang dikerjakan. Walaupun ibu tidak dapat mengerjakan perannya dengan sempurna, namun perlu diingat bahwa dengan bekerja ibu dapat menyediakan kebutuhan anak dan keluarga. Satu hal lain yang sangat penting bila ibu harus tetap bekerja adalah berusahalah selalu untuk memprioritaskan anak pada urutan pertama (Janice Fixter, 2006). (yre)
Tuesday, 4 December 2007
Menghindarkan Perasaan Cemas Terhadap Anak
Di zaman sekarang, banyak orangtua yang sering merasakan kecemasan secara berlebihan terhadap anak. Orangtua seperti ini cenderung memikirkan tentang hal-hal apa saja yang mungkin terjadi pada anak, bukan apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada anak saat ini.
Di antara perasaan cemas yang sering dirasakan oleh sebagian banyak orangtua, adalah perasaan khawatir terhadap keamanan anak, takut anak tidak bisa lulus ujian, khawatir bila anak sudah besar nanti akan sulit mendapat pekerjaan, khawatir anak ada yang menyakiti, cemas akan masa depan anak, khawatir anak kekurangan uang jajan, khawatir anak tidak mempunyai teman bermain di sekolah, dan bahkan ada juga orangua yang selalu merasa khawatir bila cuaca di luar sedang hujan, mereka takut anak kehujanan karena lupa memakai atau membawa jas hujan dan payung.
Kondisi di atas akan tampak sangat berbeda apabila dibandingkan dengan perasaan orangtua zaman dulu. Orangtua di masa lampau biasanya hanya mencemaskan anak tentang kelangsungan hidupnya. Apakah anak mereka mampu bertahan hidup atau tidak, bukan cemas karena takut anak tidak memiliki teman, khawatir anak kehujanan, dan takut bila anak sudah besar nanti sulit mendapatkan pekerjaan.
Walaupun merasa cemas terhadap anak adalah sesuatu yang wajar. Tetapi, perasaan cemas tanpa disertai tindakan, tidak akan memberikan manfaat apapun. Kecemasan tidak dapat memecahkan persoalan. Oleh karena itu, cobalah untuk tidak merasa cemas kalau memang tidak perlu. Alihkanlah kecemasan tersebut dengan cara melakukan sesuatu yang bernilai positif (Janice Fixter, 2006).
Contoh kasus, jika orangtua sering merasa khawatir anak kehujanan maka bekalilah ia payung atau jas hujan. Apabila orangtua khawatir anak tidak lulus ujian, doronglah ia untuk lebih giat lagi belajar. Begitupun bila orangtua sering merasa khawatir anak tidak memiliki teman di sekolah, maka ajarkanlah ia tentang bagaimana berakhlak baik (berperilaku sesuai dengan nilai-nilai sosial). Dengan demikian, orangtua tidak perlu lagi merasa cemas. Sebab, mereka telah memaksimal segala kemampuan untuk menghindarkan anak dari hal-hal yang mungkin saja terjadi dan bahkan sering membuat orangtua merasa cemas. Bersikaplah tawakal kepada-Nya dan percayalah bahwa Alloh SWT selalu memberikan yang terbaik kepada umat-Nya. Amin
Semoga artikel ini dapat membantu para pembaca untuk lebih meningkatkan lagi sikap tawakal dalam diri sehingga terhindar dari perasaan cemas yang sering menyiksa hati. Amin... (yre).
Di antara perasaan cemas yang sering dirasakan oleh sebagian banyak orangtua, adalah perasaan khawatir terhadap keamanan anak, takut anak tidak bisa lulus ujian, khawatir bila anak sudah besar nanti akan sulit mendapat pekerjaan, khawatir anak ada yang menyakiti, cemas akan masa depan anak, khawatir anak kekurangan uang jajan, khawatir anak tidak mempunyai teman bermain di sekolah, dan bahkan ada juga orangua yang selalu merasa khawatir bila cuaca di luar sedang hujan, mereka takut anak kehujanan karena lupa memakai atau membawa jas hujan dan payung.
Kondisi di atas akan tampak sangat berbeda apabila dibandingkan dengan perasaan orangtua zaman dulu. Orangtua di masa lampau biasanya hanya mencemaskan anak tentang kelangsungan hidupnya. Apakah anak mereka mampu bertahan hidup atau tidak, bukan cemas karena takut anak tidak memiliki teman, khawatir anak kehujanan, dan takut bila anak sudah besar nanti sulit mendapatkan pekerjaan.
Walaupun merasa cemas terhadap anak adalah sesuatu yang wajar. Tetapi, perasaan cemas tanpa disertai tindakan, tidak akan memberikan manfaat apapun. Kecemasan tidak dapat memecahkan persoalan. Oleh karena itu, cobalah untuk tidak merasa cemas kalau memang tidak perlu. Alihkanlah kecemasan tersebut dengan cara melakukan sesuatu yang bernilai positif (Janice Fixter, 2006).
Contoh kasus, jika orangtua sering merasa khawatir anak kehujanan maka bekalilah ia payung atau jas hujan. Apabila orangtua khawatir anak tidak lulus ujian, doronglah ia untuk lebih giat lagi belajar. Begitupun bila orangtua sering merasa khawatir anak tidak memiliki teman di sekolah, maka ajarkanlah ia tentang bagaimana berakhlak baik (berperilaku sesuai dengan nilai-nilai sosial). Dengan demikian, orangtua tidak perlu lagi merasa cemas. Sebab, mereka telah memaksimal segala kemampuan untuk menghindarkan anak dari hal-hal yang mungkin saja terjadi dan bahkan sering membuat orangtua merasa cemas. Bersikaplah tawakal kepada-Nya dan percayalah bahwa Alloh SWT selalu memberikan yang terbaik kepada umat-Nya. Amin
Semoga artikel ini dapat membantu para pembaca untuk lebih meningkatkan lagi sikap tawakal dalam diri sehingga terhindar dari perasaan cemas yang sering menyiksa hati. Amin... (yre).
Monday, 3 December 2007
Konsekuensi Tidak Perlu Dibiarkan Terjadi Pada Setiap Kesalahan Anak
Orangtua yang kurang sabar biasanya akan cepat kesal dan marah bila menyaksikan anak berperilaku salah. Mereka bisa saja langsung memberikan hukuman atau membiarkan anak menerima konsekuensi dari kesalahan yang telah diperbuat olehnya.
Konsekuensi memang perlu diberikan kepada anak, sebagai suatu upaya orangtua memberikan pelajaran kepadanya agar ia dapat bertanggung jawab terhadap suatu tindakan yang telah ia putuskan atau lakukan. Tetapi, janganlah orangtua selalu membiarkan konsekuensi terjadi pada diri anak. Yakinkanlah terlebih dahulu, apakah ia memang bersalah. Karena, boleh jadi anak melakukan hal yang dianggap ’salah’ oleh orangtua karena lupa atau mungkin karena alasan lain yang membuatnya terpaksa harus melakukan sesuatu yang ’salah’. Misalnya, pada suatu hari tidak biasanya anak membiarkan mainan berserakan di dalam kamar. Selama ini orangtuanya merasa percaya bahwa anak mereka selalu merapikan mainannya bila sudah selesai bermain. Ternyata, dugaan orangtua benar, bahwa yang melakukan semua itu adalah temannya yang sedang bermalam di rumah mereka. Teman anaknya mengaku bahwa ia yang telah membuat semua mainan berserakan dimana-mana.
Dalam kasus di atas sebuah konsekuensi negatif tidak perlu dirasakan oleh anak, kehilangan mainan karena dibuang atau disembunyikan. Bantulah anak untuk membereskan mainannya. Katakan kepada anak, bila suatu hari temannya ikut bermain di rumah, jangan khawatir untuk membuat aturan. Yaitu, bila waktu bermain sudah selesai maka semua mainan harus kembali rapi seperti semula.
Lain halnya, jika anak telah menyebabkan kerusakan atau kesalahan yang merugikan orang lain. Sebab ia telah berperilaku lalai, ceroboh, dan tidak disiplin, maka orangtua harus mendukung anak untuk bertanggung jawab kepada tindakannya tersebut agar menjadi baik lagi, sebaik yang dapat ia lakukan. Misalnya, mengganti barang orang lain dengan barang yang ia suka atau menggantinya dengan uang tabungan atau uang jajan yang ia miliki. Dengan demikian, anak memiliki sebuah pelajaran hidup yang penting. Yaitu, jika ia melakukan kesalahan yang merugikan orang lain maka ia harus bertanggung jawab (Mathew Huge M.Ed, 2007).(yre)
Konsekuensi memang perlu diberikan kepada anak, sebagai suatu upaya orangtua memberikan pelajaran kepadanya agar ia dapat bertanggung jawab terhadap suatu tindakan yang telah ia putuskan atau lakukan. Tetapi, janganlah orangtua selalu membiarkan konsekuensi terjadi pada diri anak. Yakinkanlah terlebih dahulu, apakah ia memang bersalah. Karena, boleh jadi anak melakukan hal yang dianggap ’salah’ oleh orangtua karena lupa atau mungkin karena alasan lain yang membuatnya terpaksa harus melakukan sesuatu yang ’salah’. Misalnya, pada suatu hari tidak biasanya anak membiarkan mainan berserakan di dalam kamar. Selama ini orangtuanya merasa percaya bahwa anak mereka selalu merapikan mainannya bila sudah selesai bermain. Ternyata, dugaan orangtua benar, bahwa yang melakukan semua itu adalah temannya yang sedang bermalam di rumah mereka. Teman anaknya mengaku bahwa ia yang telah membuat semua mainan berserakan dimana-mana.
Dalam kasus di atas sebuah konsekuensi negatif tidak perlu dirasakan oleh anak, kehilangan mainan karena dibuang atau disembunyikan. Bantulah anak untuk membereskan mainannya. Katakan kepada anak, bila suatu hari temannya ikut bermain di rumah, jangan khawatir untuk membuat aturan. Yaitu, bila waktu bermain sudah selesai maka semua mainan harus kembali rapi seperti semula.
Lain halnya, jika anak telah menyebabkan kerusakan atau kesalahan yang merugikan orang lain. Sebab ia telah berperilaku lalai, ceroboh, dan tidak disiplin, maka orangtua harus mendukung anak untuk bertanggung jawab kepada tindakannya tersebut agar menjadi baik lagi, sebaik yang dapat ia lakukan. Misalnya, mengganti barang orang lain dengan barang yang ia suka atau menggantinya dengan uang tabungan atau uang jajan yang ia miliki. Dengan demikian, anak memiliki sebuah pelajaran hidup yang penting. Yaitu, jika ia melakukan kesalahan yang merugikan orang lain maka ia harus bertanggung jawab (Mathew Huge M.Ed, 2007).(yre)
Sunday, 2 December 2007
Memandang Positif Permainan Bergumul
Dalam dunia anak, permainan bergumul atau gegelutan (bahasa Sunda) mungkin sudah merupakan bagian dari masa kanak-kanak mereka. Hampir semua anak, baik laki-laki maupun perempuan menyukai permainan kasar yang satu ini. Anak-anak biasanya merasa senang dengan permainan yang seru dan menantang.
Namun, dibalik kesenangan itu tidak jarang permainan bergumul membuat orangtua merasa pusing. Terutama, jika di antara mereka sudah berlari-lari saling mengejar, berteriak dan menjerit-jerit hingga akhirnya ada salah satu anak yang menangis.
Janganlah orangtua selalu menanggapi permainan bergumul ini dengan sikap yang negatif. Sebab, permainan bergumul sering dijadikan anak sebagai suatu kesempatan untuk menyatakan kasih sayang di antara mereka. Bagi sebagian anak yang lebih besar, kadang-kadang mereka akan merasa tidak nyaman, malu dan kaku bila harus saling berpelukan atau berangkulan. Tetapi, dengan melakukan permainan bergumul seperti ini mereka akan dengan mudah saling dekat secara fisik. Anak akan merasa lebih bebas untuk berpelukan sambil berguling-guling di atas lantai.
Permainan kasar adalah jenis lain dari interaksi ’kontak tubuh’. Permainan ini memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan kesadaran tubuhnya, untuk belajar tentang kekuatan dan keterbatasan fisiknya. Permainan bergumul dipercaya dapat mengurangi stres dan menyatakan perasaan-perasaan, sebab bergumul merupakan salah satu permainan yang menyenangkan (Mathew Huge M.Ed, 2007).
Oleh karena anak sering lepas kontrol ketika sedang bergumul. Maka, untuk menghindarkannya dari hal-hal yang dapat membahayakan, seperti terluka dan terbentur. Orangtua perlu memberikan batasan dan aturan-aturan. Di antaranya, menentukan di mana permainan bergumul diperbolehkan, menentukan sebuah isyarat untuk anak yang lebih lemah kondisinya supaya anak yang lebih besar mengetahui kapan ia harus segera menghentikan permainannya. Selain itu, orangtua juga perlu melarang anak untuk tidak bermain dengan membawa benda-benda yang dapat membahayakan, seperti tongkat, pedang mainan atau benda-benda tajam yang dapat melukai (pisau mainan). (yre)
Namun, dibalik kesenangan itu tidak jarang permainan bergumul membuat orangtua merasa pusing. Terutama, jika di antara mereka sudah berlari-lari saling mengejar, berteriak dan menjerit-jerit hingga akhirnya ada salah satu anak yang menangis.
Janganlah orangtua selalu menanggapi permainan bergumul ini dengan sikap yang negatif. Sebab, permainan bergumul sering dijadikan anak sebagai suatu kesempatan untuk menyatakan kasih sayang di antara mereka. Bagi sebagian anak yang lebih besar, kadang-kadang mereka akan merasa tidak nyaman, malu dan kaku bila harus saling berpelukan atau berangkulan. Tetapi, dengan melakukan permainan bergumul seperti ini mereka akan dengan mudah saling dekat secara fisik. Anak akan merasa lebih bebas untuk berpelukan sambil berguling-guling di atas lantai.
Permainan kasar adalah jenis lain dari interaksi ’kontak tubuh’. Permainan ini memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan kesadaran tubuhnya, untuk belajar tentang kekuatan dan keterbatasan fisiknya. Permainan bergumul dipercaya dapat mengurangi stres dan menyatakan perasaan-perasaan, sebab bergumul merupakan salah satu permainan yang menyenangkan (Mathew Huge M.Ed, 2007).
Oleh karena anak sering lepas kontrol ketika sedang bergumul. Maka, untuk menghindarkannya dari hal-hal yang dapat membahayakan, seperti terluka dan terbentur. Orangtua perlu memberikan batasan dan aturan-aturan. Di antaranya, menentukan di mana permainan bergumul diperbolehkan, menentukan sebuah isyarat untuk anak yang lebih lemah kondisinya supaya anak yang lebih besar mengetahui kapan ia harus segera menghentikan permainannya. Selain itu, orangtua juga perlu melarang anak untuk tidak bermain dengan membawa benda-benda yang dapat membahayakan, seperti tongkat, pedang mainan atau benda-benda tajam yang dapat melukai (pisau mainan). (yre)
Subscribe to:
Posts (Atom)
