Dapat dikatakan, bahwa sesekali anakpun suka mengucapkan perkataan kotor dan kasar. Misalnya, sumpah serapah, mengumpat, dan mengutuk. Biasanya, anak seperti ini akan mengucapkan kata-kata kotor apabila ia dalam keadaan frustrasi, marah, dan merasa sakit yang tiba-tiba.
Hampir setiap orangtua pasti akan marah bila mendengar anak mereka mengucapkan kata-kata kotor. Bahkan merekapun akan segera melarangnya untuk tidak mengulangi lagi perkataan kotor tersebut. Selain tidak pantas untuk diucapkan, mengumpat juga merupakan hal yang tidak menghormati orang lain (tidak sopan).
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan anak menjadi suka berkata-kata kotor. Di antaranya, adalah karena pengaruh pergaulan bersama teman-temannya, karena ia ingin terlihat seperti orang dewasa, mendengar dan belajar dari tayangan di TV (film, CD, dan DVD). Dan bahkan tidak menutup kemungkinan, anak mengetahui dan belajar mengucapkan perkataan kotor tersebut dari kedua orangtuanya.
Menyikapi hal di atas, agar anak terhindar dari kebiasaan buruk mengumpat atau sumpah serapah dengan perkataan kotor dan kasar. Maka, orangtua harus mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak, yaitu dengan cara memberi tahu anak bahwa mengumpat atau mengutuk adalah perilaku yang tidak baik untuk dilakukan. Berikan batasan kepada anak untuk tidak menonton tayangan TV yang banyak menggunakan kata-kata kotor. Selain itu, juga orangtua harus dapat memberikan contoh yang baik kepada anak. Yaitu, tidak mengucapkan perkataan yang kasar atau mengumpat dengan kata-kata kotor di depan anak. Jika orangtua sering mengumpat, anakpun akan mencontoh tindakan tersebut (Ronald C. Heagy MSW).
Demikianlah artikel dari saya. Semoga dengan teladan yang baik dari orangtua, anak-anak dapat selalu menjaga ucapannya. Ia akan semakin mengerti bahwa sikap mengumpat, mengutuk, dan sumpah serapah dengan mengucapkan kata-kata kotor adalah perbuatan yang tidak pantas....
Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010
Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.
Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.
ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna
Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!
Friday, 30 November 2007
Thursday, 29 November 2007
Komunikasi yang Baik Merupakan Gerbang Keberhasilan Anak
Komunikasi yang baik bukan hanya baik dalam berbicara saja, tetapi juga baik dalam mendengarkan. Lancarnya komunikasi merupakan salah satu langkah awal menuju keluarga yang sukses dan bahagia. Sebab, komunikasi yang terjalin dengan baik dapat mempermudah suatu urusan, masalah yang timbulpun akan cepat dapat terselesaikan dengan baik pula. Oleh karena itu, ciptakanlah sesering mungkin komunikasi di antara orangtua dan anak. Sebab, semakin banyak berkomunikasi, semakin anak belajar tentang dirinya sendiri, dunianya, dan persiapan untuk kehidupan dewasa nantinya (Robald C. Heagy MSW).
Sejatinya, di dalam kegiatan sehari-hari banyak sekali kesempatan dan topik bagi orangtua untuk memulai percakapan bersama anak. Misalnya, di dalam mobil ketika sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Orangtua dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkomunikasi dengan anak tentang pertemanannya di sekolah dan berbagai lelucon. Sebelum waktu tidur, orangtua dapat membacakan sebuah buku cerita dan melakukan tanya jawab ringan bersama anak. Bahkan, pada sore haripun orangtua dapat mengajak anak untuk jalan-jalan bersama sambil berbicara santai tentang hobi atau tentang alam di sekitarnya.
Ada beberapa hal yang perlu orangtua perhatikan ketika sedang berbicara dengan anak, yaitu hindarkanlah kesan tidak peduli, banyak menceramahi, mengkritik, dan memotong pembicaraannya. Berikan kesempatan kepada anak untuk berbicara, janganlah orangtua menguasai terus pembicaraan dan memaksa anak unuk selalu mendengarkan pendapat orangtua. Sebab, tindakan seperti itu hanya akan membuat anak menghindari komunikasi.
Tunjukkanlah kepada anak bahwa orangtua sangat tertarik dengan apa yang sedang ia bicarakan. Perhatikan dan berikanlah tanggapan positif kepadanya. Orangtua yang selalu memperhatikan dan mengajak anak untuk berbicara dapat membuatnya merasa bahagia. Ia akan merasa bahwa orangtuanya menerima keberadaannya dan menghargai pemikirannya.
Jadi kesimpulannya, sesibuk apapun orangtua dengan urusan, melakukan komunikasi bersama anak adalah hal yang sangat penting. Anak yang sering diajak berbicara oleh orangtuanya akan cenderung lebih mengetahui banyak hal. Iapun biasanya tidak akan mengalami kesulitan ketika harus berbicara dengan orang lain. Dengan demikian, anak dapat belajar bagaimana melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Anak seperti ini, akan tumbuh menjadi orang yang berhasil dan percaya diri. (yre)
Sejatinya, di dalam kegiatan sehari-hari banyak sekali kesempatan dan topik bagi orangtua untuk memulai percakapan bersama anak. Misalnya, di dalam mobil ketika sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Orangtua dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkomunikasi dengan anak tentang pertemanannya di sekolah dan berbagai lelucon. Sebelum waktu tidur, orangtua dapat membacakan sebuah buku cerita dan melakukan tanya jawab ringan bersama anak. Bahkan, pada sore haripun orangtua dapat mengajak anak untuk jalan-jalan bersama sambil berbicara santai tentang hobi atau tentang alam di sekitarnya.
Ada beberapa hal yang perlu orangtua perhatikan ketika sedang berbicara dengan anak, yaitu hindarkanlah kesan tidak peduli, banyak menceramahi, mengkritik, dan memotong pembicaraannya. Berikan kesempatan kepada anak untuk berbicara, janganlah orangtua menguasai terus pembicaraan dan memaksa anak unuk selalu mendengarkan pendapat orangtua. Sebab, tindakan seperti itu hanya akan membuat anak menghindari komunikasi.
Tunjukkanlah kepada anak bahwa orangtua sangat tertarik dengan apa yang sedang ia bicarakan. Perhatikan dan berikanlah tanggapan positif kepadanya. Orangtua yang selalu memperhatikan dan mengajak anak untuk berbicara dapat membuatnya merasa bahagia. Ia akan merasa bahwa orangtuanya menerima keberadaannya dan menghargai pemikirannya.
Jadi kesimpulannya, sesibuk apapun orangtua dengan urusan, melakukan komunikasi bersama anak adalah hal yang sangat penting. Anak yang sering diajak berbicara oleh orangtuanya akan cenderung lebih mengetahui banyak hal. Iapun biasanya tidak akan mengalami kesulitan ketika harus berbicara dengan orang lain. Dengan demikian, anak dapat belajar bagaimana melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Anak seperti ini, akan tumbuh menjadi orang yang berhasil dan percaya diri. (yre)
Wednesday, 28 November 2007
Memahami Tindakan Mencuri yang Dilakukan oleh Anak
Mencuri merupakan salah satu perilaku yang sangat buruk dan harus segera ditangani dengan serius. Bila tidak, khawatir perilaku buruk tersebut menjadi suatu kebiasaan yang akan terbawa sampai ia dewasa kelak.
Pada umumnya, orangtua pasti akan merasa kaget, kecewa, dan malu bila mengetahui bahwa anak mereka telah mencuri sesuatu milik orang lain. Namun, janganlah orangtua bertindak tergesa-gesa, langsung marah-marah kepada anak, apalagi menghukumnya dengan cara yang berlebihan. Sebab, tidak semua anak mencuri karena niat yang sudah direncanakan. Menurut Rini Utami Aziz (2006) ada beberapa hal yang menyebabkan anak mencuri, di antaranya adalah:
Menyikapi hal di atas, menjadi sangat penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak sejak dini tentang kepemilikan suatu barang. Dengan demikian, anak akan mengerti bahwa ada barang milik orang lain yang tidak boleh diambil tanpa seizin pemiliknya. Selain itu, jika orangtua tidak ingin memiliki anak berperilaku buruk (mencuri) maka berikanlah teladan yang baik kepadanya. Misalnya, tidak mengambil uang dari dompet pasangan tanpa meminta izin terlebih dahulu. Seorang anak yang pernah melihat tindakan seperti itu akan mudah untuk menirunya.
Hal lain yang tidak kalah pentingnnya bagi orangtua untuk menghindarkan anak dari perilaku mencuri, adalah menjelaskan kepadanya bahwa perbuatan mencuri itu sangat buruk dan berdosa hukumnya. Tekankan pula kepada anak dengan cara yang bijak bahwa ada Yang Maha Melihat atas segala yang tidak disembunyian dan disembunyikan makhluk-Nya.
Pada umumnya, orangtua pasti akan merasa kaget, kecewa, dan malu bila mengetahui bahwa anak mereka telah mencuri sesuatu milik orang lain. Namun, janganlah orangtua bertindak tergesa-gesa, langsung marah-marah kepada anak, apalagi menghukumnya dengan cara yang berlebihan. Sebab, tidak semua anak mencuri karena niat yang sudah direncanakan. Menurut Rini Utami Aziz (2006) ada beberapa hal yang menyebabkan anak mencuri, di antaranya adalah:
- Mencuri karena tidak mengerti. Sebagian dari mereka ada yang mengambil barang milik orang lain karena ia belum mengerti tentang maksud dari kepemilikan suatu barang. Ia belum dapat membedakan mana barang milik sendiri dan yang mana barang milik orang lain. Biasanya tindakan ini terjadi pada anak usia 3-5 tahun. Anak di usia ini sering menganggap bahwa semua barang yang ada dihadapannya adalah miliknya sendiri.
- Mencuri karena kebutuhan identitas diri. Anak mencuri karena ia memiliki kebutuhan yang khas akan identitas diri dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya yang ia idolakan.
- Mencuri karena mencontoh yang salah. Anak mencuri karena melihat orangtua (ibu atau ayah) mengambil barang yang bukan miliknya.
- Mencuri karena tekanan. Anak mencuri karena ada tekanan akan kebutuhan dan keinginannya. Anak ini mencuri karena terpaksa. Misalnya, anak ingin makanan tetapi tidak diberi uang jajan oleh orangtuanya. Akhirnya ia terpaksa mencuri uang temannya untuk membeli makanan.
- Mencuri karena gangguan kejiwaan (kleptomania). Anak mencuri karena adanya gangguan kejiwaan. Ia mencuri bukan karena ’kemauannya’. Barang yang dicuri penderita kleptomania sebenarnya mampu ia beli. Namun, ketika mencuri, anak merasa terlepas dari impitan perasaan yang membelenggunya. Setelah itu perasaan bersalah kemudian menderanya.
Menyikapi hal di atas, menjadi sangat penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak sejak dini tentang kepemilikan suatu barang. Dengan demikian, anak akan mengerti bahwa ada barang milik orang lain yang tidak boleh diambil tanpa seizin pemiliknya. Selain itu, jika orangtua tidak ingin memiliki anak berperilaku buruk (mencuri) maka berikanlah teladan yang baik kepadanya. Misalnya, tidak mengambil uang dari dompet pasangan tanpa meminta izin terlebih dahulu. Seorang anak yang pernah melihat tindakan seperti itu akan mudah untuk menirunya.
Hal lain yang tidak kalah pentingnnya bagi orangtua untuk menghindarkan anak dari perilaku mencuri, adalah menjelaskan kepadanya bahwa perbuatan mencuri itu sangat buruk dan berdosa hukumnya. Tekankan pula kepada anak dengan cara yang bijak bahwa ada Yang Maha Melihat atas segala yang tidak disembunyian dan disembunyikan makhluk-Nya.
Tuesday, 27 November 2007
Menghormati Anak, Layaknya Menghormati Orang Dewasa
Di lingkungan kita, masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa sikap hormat itu hanya perlu dilakukan pada saat kita berhadapan dengan orang dewasa saja, tidak dengan anak kecil. Sebab, Orangtua seperti ini percaya bahwa anak kecil belum mengerti apa-apa, ia belum dapat membedakan mana sikap hormat dan tidak hormat. Sehingga, boleh jadi penghormatan yang diberikan oleh mereka tidak akan memberikan pengaruh apa-apa pada diri sang anak.
Anggapan orangtua seperti di atas adalah tidak benar. Anak adalah individu yang memiliki perasaan sama seperti layaknya orang dewasa, salah satunya adalah ingin dihormati. Ia ingin didengar bila sedang berbicara, ingin mendapatkan respon atau jawaban ketika sedang bertanya, ingin dihargai ketika ia melakukan suatu tindakan, dan iapun ingin mendapatkan kepercayaan ketika sedang mengerjakan sesuatu.
Anak yang dihormati di dalam keluarganya akan tumbuh menjadi orang yang percaya diri, optimis, mandiri, dan punya harga diri. Berbeda dengan anak yang selalu disepelekan, dihina, atau bahkan banyak dikecam oleh kedua orangtuanya. Ia akan tumbuh menjadi orang yang lemah, tidak bisa menghargai orang lain, dan selalu memandang rendah terhadap dirinya. Amirul Mukminin as mengatakan,
” Siapa yang memiliki jiwa yang rendah maka tidak bisa diharapkan kebaikannya, dan siapa yang memandang buruk terhadap dirinya, maka tidak ada yang aman dari kejahatannya.” (Tuhaf al-’Uqul, hal. 512).
Oleh karena itu, tetaplah bersikap hormat walaupun kepada anak yang masih kecil. Anak yang dihormati oleh orangtuanya akan belajar menghormati orang lain, ia akan merasa bangga terhadap dirinya, dan termotivasi untuk mempertahankan sifat-sifat baiknya. Sebab, menghormati anak merupakan salah satu strategi untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan ke dalam dirinya (Ibrahim Amini, 2006).
Anggapan orangtua seperti di atas adalah tidak benar. Anak adalah individu yang memiliki perasaan sama seperti layaknya orang dewasa, salah satunya adalah ingin dihormati. Ia ingin didengar bila sedang berbicara, ingin mendapatkan respon atau jawaban ketika sedang bertanya, ingin dihargai ketika ia melakukan suatu tindakan, dan iapun ingin mendapatkan kepercayaan ketika sedang mengerjakan sesuatu.
Anak yang dihormati di dalam keluarganya akan tumbuh menjadi orang yang percaya diri, optimis, mandiri, dan punya harga diri. Berbeda dengan anak yang selalu disepelekan, dihina, atau bahkan banyak dikecam oleh kedua orangtuanya. Ia akan tumbuh menjadi orang yang lemah, tidak bisa menghargai orang lain, dan selalu memandang rendah terhadap dirinya. Amirul Mukminin as mengatakan,
” Siapa yang memiliki jiwa yang rendah maka tidak bisa diharapkan kebaikannya, dan siapa yang memandang buruk terhadap dirinya, maka tidak ada yang aman dari kejahatannya.” (Tuhaf al-’Uqul, hal. 512).
Oleh karena itu, tetaplah bersikap hormat walaupun kepada anak yang masih kecil. Anak yang dihormati oleh orangtuanya akan belajar menghormati orang lain, ia akan merasa bangga terhadap dirinya, dan termotivasi untuk mempertahankan sifat-sifat baiknya. Sebab, menghormati anak merupakan salah satu strategi untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan ke dalam dirinya (Ibrahim Amini, 2006).
Monday, 26 November 2007
Kebaikan dan Keburukan Anak adalah Tanggung Jawab Orangtua
Salah satu hak anak adalah mendapatkan pendidikan yang baik. Memberikan pendidikan kepada anak tidak cukup hanya dengan menyekolahkannya saja. Tetapi, juga perlu peran orangtua. Ada pendidikan lain yang tidak dapat sepenuhnya diberikan dan dilakukan oleh pihak sekolah, salah satunya adalah pendidikan tentang akhlak. Mengajarkan akhlak yang baik kepada anak perlu waktu, kesabaran, dan keteladanan. Pendidikan tersebut akan lebih efektif jika dilakukan oleh orangtua. Sebab, pada umumnya orangtua akan lebih tahu dan paham bagaimana cara yang terbaik mendidik anak mereka, yaitu disesuaikan dengan sifat dan karakteristik anaknya.
Sejatinya, orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan anak adalah orangtua. Imam Sajjad as berkata, ”Adapun yang menjadi hak anakmu atas kamu ialah engkau harus tahu bahwa ia berasal darimu dan dinisbahkan kepadamu, dan kebaikan dan keburukannya di dunia ini dinisbahkan kepadamu. Engkau mempunyai tanggung jawab untuk mendidiknya, menunjukkannya kepada Tuhannya dan membantunya untuk taat kepada-Nya. Oleh karena itu, berbuatlah dalam urusannya seperti perbuatan orang yang tahu jika ia berbuat baik kepadanya maka ia mendapat pahala dan jika berbuat buruk kepadanya maka ia mendapatkan siksa”. (Makarim al-Akhlak, hal.,484).
Oleh karena itu, jika orangtua menginginkan anak yang baik dan berbakti kepada kedua orangtuanya maka mereka harus mendidiknya sejak ia masih kecil. Janganlah orangtua bersikap lalai dan masa bodoh dalam mendidik anak. Sebab, jika demikian berarti mereka telah melakukan pengkhianatan dan tindak kejahatan besar kepada anak. Memberikan pendidikan yang salah berarti orangtua telah menyiapkan berbagai kesengsaraan bagi anak, dan pengkhianatan yang seperti ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan pada hari akhirat. Di samping itu, akibat dari pendidikan yang buruk terhadap anak akan dirasakan juga oleh kedua orangtuanya di dunia ini. Anak yang tidak dididik akan menghancurkan kehormatan ayah dan ibunya (Ibrahim Amini, 2006). (yer)
Sejatinya, orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan anak adalah orangtua. Imam Sajjad as berkata, ”Adapun yang menjadi hak anakmu atas kamu ialah engkau harus tahu bahwa ia berasal darimu dan dinisbahkan kepadamu, dan kebaikan dan keburukannya di dunia ini dinisbahkan kepadamu. Engkau mempunyai tanggung jawab untuk mendidiknya, menunjukkannya kepada Tuhannya dan membantunya untuk taat kepada-Nya. Oleh karena itu, berbuatlah dalam urusannya seperti perbuatan orang yang tahu jika ia berbuat baik kepadanya maka ia mendapat pahala dan jika berbuat buruk kepadanya maka ia mendapatkan siksa”. (Makarim al-Akhlak, hal.,484).
Oleh karena itu, jika orangtua menginginkan anak yang baik dan berbakti kepada kedua orangtuanya maka mereka harus mendidiknya sejak ia masih kecil. Janganlah orangtua bersikap lalai dan masa bodoh dalam mendidik anak. Sebab, jika demikian berarti mereka telah melakukan pengkhianatan dan tindak kejahatan besar kepada anak. Memberikan pendidikan yang salah berarti orangtua telah menyiapkan berbagai kesengsaraan bagi anak, dan pengkhianatan yang seperti ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan pada hari akhirat. Di samping itu, akibat dari pendidikan yang buruk terhadap anak akan dirasakan juga oleh kedua orangtuanya di dunia ini. Anak yang tidak dididik akan menghancurkan kehormatan ayah dan ibunya (Ibrahim Amini, 2006). (yer)
Sunday, 25 November 2007
Menjaga Anak dari Reaksi Seksual Sebelum Waktunya
Di masyarakat kita, masih banyak orangtua yang mengira bahwa anak kecil tidak akan terpengaruh oleh masalah seks, sebab ia belum mengerti apa-apa tentang seks. Pandangan orangtua seperti itu harus segera dirubah. Sebab, sebagian anak ada yang sudah memiliki hasrat seksual lebih cepat. Misalnya, ada beberapa anak yang sudah merasakan kenikmatan ketika kemaluannya tersentuh, ada anak yang suka melihat kemaluan milik dirinya sendiri atau milik orang lain (temannya), ada anak yang tertarik membicarakan masalah seks dengan teman-temannya. Bahkan ada juga anak yang suka mengkhayal, membayangkan hubungan seks dan terbiasa melakukan onani.
Oleh karena itu, Orangtua harus waspada dan tidak boleh membiarkan hal di atas terjadi pada anak. Bila hal tersebut terus dilakukan oleh anak sampai ia dewasa, maka dikhawatirkan akan membuatnya menjadi kecanduan dan menimbulkan masalah yang tidak diharapkan. Seperti, timbulnya reaksi pelecahan seksual dan kesulitan dalam hal memuaskan hasratnya lewat pernikahan resmi.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan orangtua untuk menghindarkan anak dari hasrat seksual sebelum waktunya, di antaranya adalah dengan cara menghindarkan kebiasaan menyentuh alat kelamin anak, mengajarkan rasa malu kepada anak ketika ia sedang tidak memakai baju (tidak membiarkan anak telanjang), melarang anak untuk tidak saling mempertontonkan aurat, tidak membiasakan anak mandi bersama orangtua (ayah atau ibu), tidak membiarkan anak tidur dalam satu kamar bersama saudara beda jenis, tidak membiarkan anak bersembunyi di kamarnya dalam waktu berjam-jam, dan memisahkan ruang tidur anak terutama yang sudah balig untuk menghindarkan terjadinya masalah yang tidak diinginkan, hubungan inses (hubungan sedarah) (Ibrahim Amini, 2006).
Selain upaya di atas, orangtua juga harus memberikan tauladan yang baik kepada anak. Mereka harus menjaga perilaku untuk tidak mempertontonkan kemesraan secara berlebihan. Hindarkanlah kebiasaan mengenakan pakaian yang tidak baik (merangsang), memperlihatkan adegan ciuman, percumbuan, dan melontarkan humor yang tidak pantas diucapkan di depan anak. Sebab, tindakan tersebut dapat merusak mental dan emosi anak.
Curahkanlah kasih sayang dan kemesraan kepada pasangan dengan cara dan di tempat yang tepat. Dengan demikian, anak akan terhindar dari perasaan dan keinginan seksual sebelum waktunya.
Oleh karena itu, Orangtua harus waspada dan tidak boleh membiarkan hal di atas terjadi pada anak. Bila hal tersebut terus dilakukan oleh anak sampai ia dewasa, maka dikhawatirkan akan membuatnya menjadi kecanduan dan menimbulkan masalah yang tidak diharapkan. Seperti, timbulnya reaksi pelecahan seksual dan kesulitan dalam hal memuaskan hasratnya lewat pernikahan resmi.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan orangtua untuk menghindarkan anak dari hasrat seksual sebelum waktunya, di antaranya adalah dengan cara menghindarkan kebiasaan menyentuh alat kelamin anak, mengajarkan rasa malu kepada anak ketika ia sedang tidak memakai baju (tidak membiarkan anak telanjang), melarang anak untuk tidak saling mempertontonkan aurat, tidak membiasakan anak mandi bersama orangtua (ayah atau ibu), tidak membiarkan anak tidur dalam satu kamar bersama saudara beda jenis, tidak membiarkan anak bersembunyi di kamarnya dalam waktu berjam-jam, dan memisahkan ruang tidur anak terutama yang sudah balig untuk menghindarkan terjadinya masalah yang tidak diinginkan, hubungan inses (hubungan sedarah) (Ibrahim Amini, 2006).
Selain upaya di atas, orangtua juga harus memberikan tauladan yang baik kepada anak. Mereka harus menjaga perilaku untuk tidak mempertontonkan kemesraan secara berlebihan. Hindarkanlah kebiasaan mengenakan pakaian yang tidak baik (merangsang), memperlihatkan adegan ciuman, percumbuan, dan melontarkan humor yang tidak pantas diucapkan di depan anak. Sebab, tindakan tersebut dapat merusak mental dan emosi anak.
Curahkanlah kasih sayang dan kemesraan kepada pasangan dengan cara dan di tempat yang tepat. Dengan demikian, anak akan terhindar dari perasaan dan keinginan seksual sebelum waktunya.
Saturday, 24 November 2007
Memberikan Kasih Sayang dengan Ukuran yang Tepat
Pada umumnya, semua orangtua menyayangi anak dengan tulus. Mereka selalu ingin menyenangkan dan membahagiakan sang anak. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang dapat menggambarkan kasih sayang orangtua kepada anak. Mereka sering mengungkapkan kasih sayang tersebut dengan memberikan ciuman, belaian, pelukan, senyuman, perhatian, dan kelembutan nada bicara ketika sedang memanggil atau berkata-kata. Bahkan, ada sebagian orangtua yang saking sayangnya kepada anak, ingin selalu memenuhi segala keinginannya maka mereka rela melakukan apa saja termasuk mengerjakan sesuatu yang negatif.
Kasih sayang orangtua memang penting, tapi jika diberikan secara berlebihan akan mendatangkan akibat yang tidak diharapkan. Anak yang selalu dimanjakan dengan segala kesenangan dan segala keinginannya selalu dipenuhi oleh orangtuanya, selain akan menjadikan anak rentan dengan masalah, kehilangan kepercayaan diri, selalu mengharapkan uluran tangan orang lain, juga kelak kalau ia sudah besar akan tumbuh mejadi manusia yang sombong, suka memaksakan kehendak. Ia tidak akan pernah membuat ayah-ibunya tenang. Selalu merengek-rengek agar mereka selalu memenuhi segala keinginannya (ibrahim Amini, 2006).
Untuk itu, sebagai orangtua yang baik maka mereka harus mendidik anak dengan baik. Orangtua tidak boleh berlebihan dalam memberikan kasih sayang, apalagi membebaskan anak begitu saja dengan alasan sayang, tidak mau membuat anak menjadi sedih dan tersinggung. Orangtua lalu membiarkan anak melakukan kenakalan yang dapat merusak, merugikan, dan menyakiti orang lain.
Justru sebaliknya, kasih sayang kepada anak harus diberikan dengan cara mendidiknya dengan nilai-nilai sosial yang baik. Yaitu, memberitahu anak tentang hal-hal mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, atau mana tindakan yang akan menyakiti orang lain dan mana yang tidak akan membuat orang lain merasa sakit. Dengan demikian, anak akan menjadi orang yang bahagia karena menjadi seseorang yang berperilaku baik, mudah menyesuaikan diri sehingga dapat diterima oleh lingkungannya.
Kesimpulannya: Anak yang dibesarkan dalam ukuran kasih sayang yang tepat (tidak berlebihan) akan menjadi seseorang yang dapat mencintai orang lain, tumbuh menjadi anak yang mandiri, sehat, berprestasi, dan percaya diri.
Kasih sayang orangtua memang penting, tapi jika diberikan secara berlebihan akan mendatangkan akibat yang tidak diharapkan. Anak yang selalu dimanjakan dengan segala kesenangan dan segala keinginannya selalu dipenuhi oleh orangtuanya, selain akan menjadikan anak rentan dengan masalah, kehilangan kepercayaan diri, selalu mengharapkan uluran tangan orang lain, juga kelak kalau ia sudah besar akan tumbuh mejadi manusia yang sombong, suka memaksakan kehendak. Ia tidak akan pernah membuat ayah-ibunya tenang. Selalu merengek-rengek agar mereka selalu memenuhi segala keinginannya (ibrahim Amini, 2006).
Untuk itu, sebagai orangtua yang baik maka mereka harus mendidik anak dengan baik. Orangtua tidak boleh berlebihan dalam memberikan kasih sayang, apalagi membebaskan anak begitu saja dengan alasan sayang, tidak mau membuat anak menjadi sedih dan tersinggung. Orangtua lalu membiarkan anak melakukan kenakalan yang dapat merusak, merugikan, dan menyakiti orang lain.
Justru sebaliknya, kasih sayang kepada anak harus diberikan dengan cara mendidiknya dengan nilai-nilai sosial yang baik. Yaitu, memberitahu anak tentang hal-hal mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, atau mana tindakan yang akan menyakiti orang lain dan mana yang tidak akan membuat orang lain merasa sakit. Dengan demikian, anak akan menjadi orang yang bahagia karena menjadi seseorang yang berperilaku baik, mudah menyesuaikan diri sehingga dapat diterima oleh lingkungannya.
Kesimpulannya: Anak yang dibesarkan dalam ukuran kasih sayang yang tepat (tidak berlebihan) akan menjadi seseorang yang dapat mencintai orang lain, tumbuh menjadi anak yang mandiri, sehat, berprestasi, dan percaya diri.
Friday, 23 November 2007
Sahabat Mempengaruhi Perilaku Anak
Setiap individu pada umumnya memiliki sahabat. Seseorang yang tidak memiliki sahabat akan merasa kesepian, seakan-akan merasakan ada yang hilang dalam hidupnya. Kehadiran sahabat tidak jarang membuat seseorang merasa senang dan bahagia. Kepada sahabat seseorang dapat berbicara tentang rahasianya, dapat berkomunikasi dengan bebas, dan berbagi suka maupun duka. Karena sahabat adalah orang yang dianggap paling dekat yang dapat mengerti segala kondisinya.
Di kalangan anak, menjalin persahabatan biasanya lebih mudah jika dibandingkan dengan orang dewasa. Anak biasanya lebih bebas dalam melakukan komunikasi, sekalipun ia baru kenal atau bertemu. Namun, orangtua harus waspada terhadap persahabatan yang terjadi pada anak. Sebab, minimnya pengalaman yang dimiliki anak sering membuat anak lebih mudah terpengaruh oleh perilaku seseorang. Iapun akan lebih percaya, mudah terkecoh, dan mudah terbujuk oleh pihak lain, sahabatnya.
Jika anak bersahabat dengan seseorang yang berperilaku buruk, maka perilaku buruk sahabatnya tersebut akan menular kepada anak. Begitupun sebaliknya, jika ia memiliki sahabat baik maka iapun akan menjadi baik.
Sebagai orangtua yang peduli, tentu tidak akan membiarkan anak bersahabat dengan seseorang yang berperilaku buruk. Sebab, biasanya anak akan menjadikan sahabat itu sebagai modelnya. Ia akan banyak mencontoh perkataan dan meniru-niru perbuatan sahabatnya tersebut.
Namun, untuk melarang anak agar tidak bersahabat dengan seseorang yang berperilaku buruk tentu tidak selalu mudah. Sikap orangtua yang dianggap terlalu mengekang dan mengatur anak dalam memilih sahabatnya dikhawatirkan membuat anak bersikap negatif. Perasaan takut persahabatannya akan dilarang oleh orangtua, sering mendorong anak berkata bohong. Bahkan, boleh jadi penolakan orangtua terhadap persahabatan anaknya menimbulakan sikap membangkang dan perilaku kasar anak terhadap kedua orangtuanya.
Untuk itu, ada cara yang baik dapat orangtua lakukan dalam upaya membantu persahabatan anak, yaitu menciptakan suatu kondisi lingkungan dimana anak dapat bertemu dan bergaul akrab dengan orang-orang yang baik, memberikan dukungan kepada anak jika ia memiliki sahabat yang baik, menjelaskan kepada anak dengan sikap yang lembut, penuh kasih sayang, dan dengan bahasa yang dapat dipahami olehnya tentang menfaat dan kerugian yang akan menimpanya jika ia bersahabat dengan seseorang yang memiliki perilaku buruk (Ibrahim Amini, 2006).
Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Rasulullah saw, beliau bersabda,
“ Seseorang akan berperilaku sebagaimana akhlak sahabatnya. Maka, hendaklah kalian selektif dalam memilih sahabat”. (HR. At-Tirmidzi, dalam sunahnya, bab Zuhud (45)).
Imam Jawad as mengatakan, “jauhilah persahabatan dengan orang yang jahat, karena ia akan seperti pedang yang terhunus. Indah dilihat tapi bisa melukai” (Ibid., hal., 198).
Di kalangan anak, menjalin persahabatan biasanya lebih mudah jika dibandingkan dengan orang dewasa. Anak biasanya lebih bebas dalam melakukan komunikasi, sekalipun ia baru kenal atau bertemu. Namun, orangtua harus waspada terhadap persahabatan yang terjadi pada anak. Sebab, minimnya pengalaman yang dimiliki anak sering membuat anak lebih mudah terpengaruh oleh perilaku seseorang. Iapun akan lebih percaya, mudah terkecoh, dan mudah terbujuk oleh pihak lain, sahabatnya.
Jika anak bersahabat dengan seseorang yang berperilaku buruk, maka perilaku buruk sahabatnya tersebut akan menular kepada anak. Begitupun sebaliknya, jika ia memiliki sahabat baik maka iapun akan menjadi baik.
Sebagai orangtua yang peduli, tentu tidak akan membiarkan anak bersahabat dengan seseorang yang berperilaku buruk. Sebab, biasanya anak akan menjadikan sahabat itu sebagai modelnya. Ia akan banyak mencontoh perkataan dan meniru-niru perbuatan sahabatnya tersebut.
Namun, untuk melarang anak agar tidak bersahabat dengan seseorang yang berperilaku buruk tentu tidak selalu mudah. Sikap orangtua yang dianggap terlalu mengekang dan mengatur anak dalam memilih sahabatnya dikhawatirkan membuat anak bersikap negatif. Perasaan takut persahabatannya akan dilarang oleh orangtua, sering mendorong anak berkata bohong. Bahkan, boleh jadi penolakan orangtua terhadap persahabatan anaknya menimbulakan sikap membangkang dan perilaku kasar anak terhadap kedua orangtuanya.
Untuk itu, ada cara yang baik dapat orangtua lakukan dalam upaya membantu persahabatan anak, yaitu menciptakan suatu kondisi lingkungan dimana anak dapat bertemu dan bergaul akrab dengan orang-orang yang baik, memberikan dukungan kepada anak jika ia memiliki sahabat yang baik, menjelaskan kepada anak dengan sikap yang lembut, penuh kasih sayang, dan dengan bahasa yang dapat dipahami olehnya tentang menfaat dan kerugian yang akan menimpanya jika ia bersahabat dengan seseorang yang memiliki perilaku buruk (Ibrahim Amini, 2006).
Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Rasulullah saw, beliau bersabda,
“ Seseorang akan berperilaku sebagaimana akhlak sahabatnya. Maka, hendaklah kalian selektif dalam memilih sahabat”. (HR. At-Tirmidzi, dalam sunahnya, bab Zuhud (45)).
Imam Jawad as mengatakan, “jauhilah persahabatan dengan orang yang jahat, karena ia akan seperti pedang yang terhunus. Indah dilihat tapi bisa melukai” (Ibid., hal., 198).
Thursday, 22 November 2007
Dua Tahun Pertama Yang Sangat Penting
Mungkin masih ada sebagian orangtua yang menganggap bahwa memberikan pendidikan kepada anak usia dua tahun pertama adalah tidak penting. Mereka percaya bahwa pendidikan yang diberikan kepada anak usia ini tidak akan memberikan pengaruh apa-apa. Sebab, di usia ini anak belum dapat berkomunikasi dengan baik, belum dapat memahami kata-kata, dan belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan demikian, tidak sedikit orangtua yang mengabaikan masalah pendidikan anak di usia ini, melainkan hanya menekankan pada pemenuhan makanan, minuman, dan pakaian saja.
Cara pandang orangtua seperti di atas adalah tidak benar. Justru sebaliknya, usia dua tahun pertama adalah usia yang paling penting dan mempengaruhi masa depan anak. Pada masa ini, otak dan jiwa anak masih bersih dan belum terbentuk. Ia siap menerima bentuk apa saja yang diberikan oleh orangtuanya, dan kemudian akan disimpan di dalam memorinya dengan baik. Jadi, jika orangtua ingin memiliki anak disiplin, selalu menjaga kebersihan, mandiri, dan percaya diri maka orangtua tersebut harus sudah menerapkannya sejak awal anak lahir dan menyusui (Ibrahim Amini, 2006). Karena, boleh jadi segala hal yang diterima anak ketika ia masih kecil akan terbawa hingga ia dewasa kelak.
Di bawah ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mendidik ’si usia dua tahun pertama’, di antanya adalah:
Mendidik anak disiplin.
Mengatur jadwal makan, menyusui, dan tidur kepada anak dapat memberikan banyak manfaat sekaligus, yaitu selain untuk membiasakan anak agar dapat hidup teratur, juga sangat baik untuk kesehatan alat pencernaan. Sedangkan menyusun jadwal tidur pada anak dapat memberikan manfaat agar syaraf-syaraf anak memperoleh ketenangan .
Mengajarkan anak hidup bersih.
Bila orangtua ingin mengajarkan hidup bersih kepada anak maka mereka harus membiasakan anak agar tetap bersih, misalnya dengan cara mencuci tangan dan mukanya setiap kali terlihat kotor. Dengan demikian, anak akan mengerti bahwa setiap kali tangan atau mukanya kotor maka harus dibersihkan.
Mengajarkan anak hidup mandiri dan percaya diri.
Sikap orangtua yang selalu memberikan kesempatan, bimbingan, dan arahan kepada anak untuk melakukan kebutuhannya sendiri dapat mendorong anak hidup mandiri dan percaya diri. Misalnya, membiarkan anak menggunakan sendok ketika makan sendiri atau membimbing anak membuka kancing bajunya sendiri. Dengan demikian, semakin banyak kemampuan atau keterampilan yang ia miliki, maka rasa percaya diri pada anak akan semakin tumbuh.
Jadi, jelaslah sudah bahwa masa dua tahun pertama kehidupan anak adalah masa yang paling penting untuk mempersiapkan anak agar dimasa yang akan datang ia mampu melakukan sesuatu dengan baik. Anak memiliki fondasi hidup yang teratur dan baik. Bagi orangtua yang menganggap sepele dan mengabaikan masa penting ini, maka akan mendatangkan kerugian yang tidak akan tergantikan.
Cara pandang orangtua seperti di atas adalah tidak benar. Justru sebaliknya, usia dua tahun pertama adalah usia yang paling penting dan mempengaruhi masa depan anak. Pada masa ini, otak dan jiwa anak masih bersih dan belum terbentuk. Ia siap menerima bentuk apa saja yang diberikan oleh orangtuanya, dan kemudian akan disimpan di dalam memorinya dengan baik. Jadi, jika orangtua ingin memiliki anak disiplin, selalu menjaga kebersihan, mandiri, dan percaya diri maka orangtua tersebut harus sudah menerapkannya sejak awal anak lahir dan menyusui (Ibrahim Amini, 2006). Karena, boleh jadi segala hal yang diterima anak ketika ia masih kecil akan terbawa hingga ia dewasa kelak.
Di bawah ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mendidik ’si usia dua tahun pertama’, di antanya adalah:
Mendidik anak disiplin.
Mengatur jadwal makan, menyusui, dan tidur kepada anak dapat memberikan banyak manfaat sekaligus, yaitu selain untuk membiasakan anak agar dapat hidup teratur, juga sangat baik untuk kesehatan alat pencernaan. Sedangkan menyusun jadwal tidur pada anak dapat memberikan manfaat agar syaraf-syaraf anak memperoleh ketenangan .
Mengajarkan anak hidup bersih.
Bila orangtua ingin mengajarkan hidup bersih kepada anak maka mereka harus membiasakan anak agar tetap bersih, misalnya dengan cara mencuci tangan dan mukanya setiap kali terlihat kotor. Dengan demikian, anak akan mengerti bahwa setiap kali tangan atau mukanya kotor maka harus dibersihkan.
Mengajarkan anak hidup mandiri dan percaya diri.
Sikap orangtua yang selalu memberikan kesempatan, bimbingan, dan arahan kepada anak untuk melakukan kebutuhannya sendiri dapat mendorong anak hidup mandiri dan percaya diri. Misalnya, membiarkan anak menggunakan sendok ketika makan sendiri atau membimbing anak membuka kancing bajunya sendiri. Dengan demikian, semakin banyak kemampuan atau keterampilan yang ia miliki, maka rasa percaya diri pada anak akan semakin tumbuh.
Jadi, jelaslah sudah bahwa masa dua tahun pertama kehidupan anak adalah masa yang paling penting untuk mempersiapkan anak agar dimasa yang akan datang ia mampu melakukan sesuatu dengan baik. Anak memiliki fondasi hidup yang teratur dan baik. Bagi orangtua yang menganggap sepele dan mengabaikan masa penting ini, maka akan mendatangkan kerugian yang tidak akan tergantikan.
Wednesday, 21 November 2007
Mengajarkan Anak Agar Terbuka
Setiap manusia hidup pasti memiliki masalah, tidak memandang apakah ia orang kaya atau miskin, apakah ia anak-anak atau orangtua. Namun, bagi orangtua keberadaan masalah hidup sudah dapat dimungkinkan ada. Mungkin yang membedakannya adalah dari jumlah kadarnya saja, yaitu masalah ringan dan parah. Mulai dari masalah sehari-hari seperti jadwal yang padat, kelelahan bekerja hingga masalah kronis tentang anak, keuangan keluarga, konflik dalam keluarga besar, penyakit yang parah, kehilangan pekerjaan, sampai dengan masalah perceraian yang tertunda.
Menyikapi suatu masalah di depan anak memang perlu cara yang tepat. Bersikap tertutup ketika orangtua sedang mengalami masalah serius biasanya tidak mudah. Anak akan merasakan perubahan pada perilaku orangtua seiring dengan suatu masalah yang terjadi.
Pada umumnya orangtua yang sedang mengalami banyak tekanan tidak dapat mengendalikan kesabaran dan emosi mereka dihadapan anak. Perubahan wajah dan tekanan suara orangtua sering membuat anak merasa takut, kecewa, dan khawatir. Bahkan, tidak adanya informasi dan kesempatan untuk bertanya sering membuat anak menyalahkan dirinya sendiri.
Untuk menghindari perasaan anak seperti di atas, bersikap terbuka kepada anak adalah baik. Tetapi tentu harus dilakukan dengan cara yang bijaksana. Tidak semua masalah harus diketahui oleh anak. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan oleh orangtua sebelum menceritakan suatu masalah kepada anak, yaitu sejauh mana anak ingin mengetahui masalah tersebut, selain itu orangtuapun harus menyesuaikan informasi yang akan disampaikan tersebut dengan kondisi usia dan emosi anak.
Melibatkan anak dalam masalah tertentu dapat memberikan pemahaman kepada anak bahwa masalah tidak harus disembunyikan dan adalah hal yang wajar untuk meminta bantuan. Sikap terbuka yang dilakukan orangtua dapat meyakinkan anak bahwa iapun tidak perlu menyimpan masalahnya sendiri dan merasa khawatir bahwa orangtuanya tidak dapat menangani masalahnya tersebut. Anak akan belajar dari contoh yang telah orangtua berikan bahwa masalah tidak perlu disembunyikan (Ronald C Heagy MSW, 2006).
Menyikapi suatu masalah di depan anak memang perlu cara yang tepat. Bersikap tertutup ketika orangtua sedang mengalami masalah serius biasanya tidak mudah. Anak akan merasakan perubahan pada perilaku orangtua seiring dengan suatu masalah yang terjadi.
Pada umumnya orangtua yang sedang mengalami banyak tekanan tidak dapat mengendalikan kesabaran dan emosi mereka dihadapan anak. Perubahan wajah dan tekanan suara orangtua sering membuat anak merasa takut, kecewa, dan khawatir. Bahkan, tidak adanya informasi dan kesempatan untuk bertanya sering membuat anak menyalahkan dirinya sendiri.
Untuk menghindari perasaan anak seperti di atas, bersikap terbuka kepada anak adalah baik. Tetapi tentu harus dilakukan dengan cara yang bijaksana. Tidak semua masalah harus diketahui oleh anak. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan oleh orangtua sebelum menceritakan suatu masalah kepada anak, yaitu sejauh mana anak ingin mengetahui masalah tersebut, selain itu orangtuapun harus menyesuaikan informasi yang akan disampaikan tersebut dengan kondisi usia dan emosi anak.
Melibatkan anak dalam masalah tertentu dapat memberikan pemahaman kepada anak bahwa masalah tidak harus disembunyikan dan adalah hal yang wajar untuk meminta bantuan. Sikap terbuka yang dilakukan orangtua dapat meyakinkan anak bahwa iapun tidak perlu menyimpan masalahnya sendiri dan merasa khawatir bahwa orangtuanya tidak dapat menangani masalahnya tersebut. Anak akan belajar dari contoh yang telah orangtua berikan bahwa masalah tidak perlu disembunyikan (Ronald C Heagy MSW, 2006).
Labels:
anak cerdas,
masalah anak,
perkembangan anak
Tuesday, 20 November 2007
Masa Remaja Mempengaruhi Masa Depan Anak
Masa remaja atau pubertas merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa remaja berada dalam kisaran usia antara 11-19 tahun, namun ada pula yang mengatakan antara 11-24 tahun. Secara garis besar, masa remaja ditandai dengan beberapa perubahan, di antaranya adalah perubahan fisik, perkembangan seksual, cara berpikir, emosi yang meluap-luap, menarik perhatian lingkungan, dan terikat dengan kelompok.
Pada umumnya, masyarakat percaya bahwa masa remaja adalah masa yang paling rentan dan sangat menentukan bagi perjalanan hidup seseorang. Pada masa ini, biasanya anak sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Gejolak emosi dan ketidakseimbangan dalam hidupnya sering membuat anak merasa bingung, khawatir, sedih, malu, takut, sensitif, dan tidak percaya diri. Jika Anak tidak mampu melewati masa remajanya dengan baik atau gagal, dimungkinkan akan menemukan kegagalan dalam perjalanan kehidupan pada masa berikutnya. Sebaliknya, bila anak mampu mengisi masa remaja itu dengan penuh kesuksesan dan kegiatan yang sangat produktif, dimungkinkan manusia itu akan mendapatkan kesuksesan dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya. Untuk itu, masa remaja sering dianggap penting dan dipercaya sebagai kunci sukses dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya (Abdul Razak, 2006).
Menyikapi hal di atas, hendaklah orangtua mengetahui dan memahami beberapa masalah yang sering dialami oleh anak remaja, antara lain perasaan jenuh, sensitif, perasaan ingin menunjukkan diri, sering berkhayal, masalah pertemanan, cinta, dorongan seksual, dan keras kepala. Dengan dukungan dan pengertian dari orangtua maka diharapkan anak dapat terhindar dari perasaan-perasaan negatif yang selama ini sering ia rasakan. Sebaliknya, menjadikan Ia tumbuh menjadi seseorang yang penuh percaya diri, sukses, disiplin, dan bertanggungjawab.
Pada umumnya, masyarakat percaya bahwa masa remaja adalah masa yang paling rentan dan sangat menentukan bagi perjalanan hidup seseorang. Pada masa ini, biasanya anak sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Gejolak emosi dan ketidakseimbangan dalam hidupnya sering membuat anak merasa bingung, khawatir, sedih, malu, takut, sensitif, dan tidak percaya diri. Jika Anak tidak mampu melewati masa remajanya dengan baik atau gagal, dimungkinkan akan menemukan kegagalan dalam perjalanan kehidupan pada masa berikutnya. Sebaliknya, bila anak mampu mengisi masa remaja itu dengan penuh kesuksesan dan kegiatan yang sangat produktif, dimungkinkan manusia itu akan mendapatkan kesuksesan dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya. Untuk itu, masa remaja sering dianggap penting dan dipercaya sebagai kunci sukses dalam memasuki tahapan kehidupan selanjutnya (Abdul Razak, 2006).
Menyikapi hal di atas, hendaklah orangtua mengetahui dan memahami beberapa masalah yang sering dialami oleh anak remaja, antara lain perasaan jenuh, sensitif, perasaan ingin menunjukkan diri, sering berkhayal, masalah pertemanan, cinta, dorongan seksual, dan keras kepala. Dengan dukungan dan pengertian dari orangtua maka diharapkan anak dapat terhindar dari perasaan-perasaan negatif yang selama ini sering ia rasakan. Sebaliknya, menjadikan Ia tumbuh menjadi seseorang yang penuh percaya diri, sukses, disiplin, dan bertanggungjawab.
Labels:
anak cerdas,
masalah anak,
perkembangan anak
Monday, 19 November 2007
Maafkan Anak, Ia Akan Belajar Memaafkan
Sebagian banyak orangtua pasti pernah merasakan bagaimana rasanya ketika menghadapi perilaku anak yang sedang tidak ‘bersahabat’. Ia selalu ingin diperhatikan, membuat kerusakan di dalam rumah, sulit diatur, suka membantah, dan tidak mau peduli dengan nasehat orangtua. Perilaku seperti itulah yang sering membuat orangtua merasa kepalanya seakan-akan mau pecah, frustrasi, jengkel, dan marah kepada anak.
Biasanya, kemarahan orangtua akan semakin menjadi apabila mereka sedang dalam keadaan yang sangat lelah lalu dipicu dengan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan kesalahan perilaku anak, misalnya tanpa disengaja anak menumpahkan sarapan paginya atau anak terus menerus mencari perhatian dengan menangis.
Apabila orangtua sedang marah, segeralah atasi situasi tersebut dengan berusaha menjelaskan bagaimana perasaan orangtua terhadap perilaku salahnya, selanjutnya jadilah fihak pertama yang meminta maaf. Janganlah terpicu untuk menerapkan taktik ‘perang dingin’. Mempergunakan kebisuan sebagai hukuman untuk anak tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, tindakan seperti itu akan membuat anak menjadi semakin bingung. Anak harus berusaha keras untuk menerka-nerka hal yang tidak pasti tentang apa yang menyebabkan ia dikucilkan oleh orangtuanya.
Tindakan orangtua menghukum anak dengan cara diam membisu seperti di atas akan menimbulkan kesedihan yang mendalam pada diri anak. Ia akan merasa sangat tidak berarti, dan putus asa.
Jadi, daripada melakukan tindakan ‘perang dingin’, lebih baik komunikasikanlah bersama anak tentang apa yang menyebabkan orangtua menjadi marah. Berdamailah dengan cara memulai untuk meminta maaf kepada anak. Sebab, boleh jadi marahnya orangtua (emosi) telah membuat luka hati sang anak.
Memulai untuk memaafkan atau meminta maaf kepada anak memang tidak selalu mudah. Namun hal itu adalah penting untuk dilakukan, terlebih jika orangtua ingin memiliki anak yang bersifat pemaaf dan mau meminta maaf. Cara yang terbaik untuk mengajarkan anak tentang memaafkan adalah dengan cara memaafkan kesalahannya, hal tersebut tentu harus dilakukan dengan cara yang baik dan bijaksana (Janice Fixter,2006).
Biasanya, kemarahan orangtua akan semakin menjadi apabila mereka sedang dalam keadaan yang sangat lelah lalu dipicu dengan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan kesalahan perilaku anak, misalnya tanpa disengaja anak menumpahkan sarapan paginya atau anak terus menerus mencari perhatian dengan menangis.
Apabila orangtua sedang marah, segeralah atasi situasi tersebut dengan berusaha menjelaskan bagaimana perasaan orangtua terhadap perilaku salahnya, selanjutnya jadilah fihak pertama yang meminta maaf. Janganlah terpicu untuk menerapkan taktik ‘perang dingin’. Mempergunakan kebisuan sebagai hukuman untuk anak tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, tindakan seperti itu akan membuat anak menjadi semakin bingung. Anak harus berusaha keras untuk menerka-nerka hal yang tidak pasti tentang apa yang menyebabkan ia dikucilkan oleh orangtuanya.
Tindakan orangtua menghukum anak dengan cara diam membisu seperti di atas akan menimbulkan kesedihan yang mendalam pada diri anak. Ia akan merasa sangat tidak berarti, dan putus asa.
Jadi, daripada melakukan tindakan ‘perang dingin’, lebih baik komunikasikanlah bersama anak tentang apa yang menyebabkan orangtua menjadi marah. Berdamailah dengan cara memulai untuk meminta maaf kepada anak. Sebab, boleh jadi marahnya orangtua (emosi) telah membuat luka hati sang anak.
Memulai untuk memaafkan atau meminta maaf kepada anak memang tidak selalu mudah. Namun hal itu adalah penting untuk dilakukan, terlebih jika orangtua ingin memiliki anak yang bersifat pemaaf dan mau meminta maaf. Cara yang terbaik untuk mengajarkan anak tentang memaafkan adalah dengan cara memaafkan kesalahannya, hal tersebut tentu harus dilakukan dengan cara yang baik dan bijaksana (Janice Fixter,2006).
Labels:
keluarga sakinah,
masalah anak,
orangtua bijak
Sunday, 18 November 2007
Mengarahkan Anak Berperilaku Baik Sejak Kecil
Meluruskan batang pohon yang sudah besar tentu akan lebih sulit jika dibandingkan dengan meluruskan batang pohon yang masih kecil. Boleh jadi, batang pohon yang besar tersebut akan menjadi patah jika kita memaksanya agar menjadi lurus. Begitupun dalam proses mendidik anak, biasanya orangtua akan merasa lebih sulit ketika meluruskan perilaku buruk anak yang sudah dewasa bila dibandingkan dengan memperbaiki perilaku buruk pada anak yang masih kecil.
Hanya dengan bujukan, rayuan, dan hadiah yang sederhana saja biasanya anak kecil dapat segera merubah dan meninggalkan sikap buruknya. Berbeda dengan anak yang sudah dewasa, dengan perlakuan yang sama boleh jadi ia tidak akan terpengaruh untuk segera memperbaiki perilaku buruknya. Bahkan sebaliknya, karena yang diinginkan hanya sebuah hadiah, maka dengan akal buruknya ia boleh jadi berpura-pura baik di depan orangtuanya. Padahal di belakang orangtua ia tetap melakukan perilaku buruk.
Anak adalah makhluk yang senang meniru. Tanpa disadari, anak sering meniru perbuatan dan ucapan apa saja yang ada dihadapannya, termasuk perbuatan buruk seperti berdusta, menipu, berbuat curang, dan melakukan kekerasan fisik.
Sebagai orangtua, kita tentu enggan jika suatu saat harus berurusan dengan berbagai masalah yang membuat pikiran dan perasaan menjadi tegang, resah, dan malu karena perbuatan buruk anak.
Untuk itu, agar anak selalu terjaga dari perilaku buruk, maka orangtua harus selalu memantau setiap perkembangan yang terjadi pada anak. Dengan demikian, perilaku buruk yang timbul pada diri anak dapat segera diketahui dan diperbaiki.
Didiklah anak dengan hal-hal yang terpuji sejak ia masih kecil. Sehingga perilaku terpuji yang telah tertanam dalam diri anak tersebut menjadi suatu kebiasaan yang akan terbawa sampai ia dewasa kelak.
Salah satu ciri orangtua yang sukses adalah orangtua yang mampu mengarahkan anaknya menjadi pribadi yang baik. Membimbing dan mengarahkan anak agar dapat berperilaku baik tentu harus dilakukan dengan sikap bijaksana dan penuh kesabaran. Yaitu dengan cara memberikan pengertian, arahan, kasih sayang, dan sikap santun dari orangtuanya.
Beberapa kiat yang dapat dilakukan orangtua dalam usaha mengarahkan anak agar memiliki perilaku terpuji, diantaranya adalah dengan cara membiasakan hal yang baik, memberi hukuman pada anak dengan cara bijak, memberikan keteladanan yang baik kepada anak, menjauhkan anak dari sarana-sarana yang merusak, dan selalu memberikan nasehat dengan cara yang bijak sehingga anak terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik (Prof. Sa’ad Karim, 2006).
Hanya dengan bujukan, rayuan, dan hadiah yang sederhana saja biasanya anak kecil dapat segera merubah dan meninggalkan sikap buruknya. Berbeda dengan anak yang sudah dewasa, dengan perlakuan yang sama boleh jadi ia tidak akan terpengaruh untuk segera memperbaiki perilaku buruknya. Bahkan sebaliknya, karena yang diinginkan hanya sebuah hadiah, maka dengan akal buruknya ia boleh jadi berpura-pura baik di depan orangtuanya. Padahal di belakang orangtua ia tetap melakukan perilaku buruk.
Anak adalah makhluk yang senang meniru. Tanpa disadari, anak sering meniru perbuatan dan ucapan apa saja yang ada dihadapannya, termasuk perbuatan buruk seperti berdusta, menipu, berbuat curang, dan melakukan kekerasan fisik.
Sebagai orangtua, kita tentu enggan jika suatu saat harus berurusan dengan berbagai masalah yang membuat pikiran dan perasaan menjadi tegang, resah, dan malu karena perbuatan buruk anak.
Untuk itu, agar anak selalu terjaga dari perilaku buruk, maka orangtua harus selalu memantau setiap perkembangan yang terjadi pada anak. Dengan demikian, perilaku buruk yang timbul pada diri anak dapat segera diketahui dan diperbaiki.
Didiklah anak dengan hal-hal yang terpuji sejak ia masih kecil. Sehingga perilaku terpuji yang telah tertanam dalam diri anak tersebut menjadi suatu kebiasaan yang akan terbawa sampai ia dewasa kelak.
Salah satu ciri orangtua yang sukses adalah orangtua yang mampu mengarahkan anaknya menjadi pribadi yang baik. Membimbing dan mengarahkan anak agar dapat berperilaku baik tentu harus dilakukan dengan sikap bijaksana dan penuh kesabaran. Yaitu dengan cara memberikan pengertian, arahan, kasih sayang, dan sikap santun dari orangtuanya.
Beberapa kiat yang dapat dilakukan orangtua dalam usaha mengarahkan anak agar memiliki perilaku terpuji, diantaranya adalah dengan cara membiasakan hal yang baik, memberi hukuman pada anak dengan cara bijak, memberikan keteladanan yang baik kepada anak, menjauhkan anak dari sarana-sarana yang merusak, dan selalu memberikan nasehat dengan cara yang bijak sehingga anak terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik (Prof. Sa’ad Karim, 2006).
Labels:
anak cerdas,
masalah anak,
perkembangan anak
Saturday, 17 November 2007
Kehadiran Anak Menambah Kekuatan Cinta Suami-Istri
Waktu 24 jam sehari memang akan terasa kurang terutama bagi ibu yang memiliki bayi. Bagaimana tidak, mulai dari bangun pagi hingga larut malam terkadang tidak berhenti untuk mengurus sang bayi. Ada kalanya bayi setiap satu jam sekali terbangun, menangis, dan ingin digendong. Ada yang karena lapar, merasakan sesuatu yang membuatnya sakit, popoknya penuh, dan ada juga karena ingin ditemani bermain.
Kesibukan ibu mengurus bayi yang tidak ada henti-hentinya memang banyak menyita waktu. Sebagian ibu (istri) sering tidak menyadari bahwa ada seseorang yang harus diperhatikan selain bayi, yaitu suami (pasangan). Karena terlalu sibuk dan lelah, terkadang iapun lupa bahwa suaminya tetap memerlukan perhatian, kasih sayang, dan 'sentuhan cinta' dari seorang istri.
Oleh karena itu, bagi pasangan suami-istri yang tidak memiliki seseorang untuk menjaga bayi maka melibatkan suami untuk bersama-sama mengurus bayi boleh jadi kesempatan yang baik untuk saling mencurahkan kasih sayang, cinta, dan perhatian.
Misalnya, setelah ibu memberikan ASI lalu suami menggendong bayi untuk main bersamanya. Atau mungkin saja ketika istri akan memandikan bayi, suami menyediakan pakaian bayinya. Dengan bekerja sama seperti itu, diharapkan perasaan tertekan, merasa tidak diperhatikan, sedih, dan kelelahan yang dirasakan oleh pasangan akan segera terabaikan.
Sebaliknya, kehadiran anak akan semakin mempererat ikatan bathin suami-istri. Mereka akan saling menyayangi, mencintai, saling menghargai, memberikan perhatian, dan empati satu dengan lainnya.
Kasus lain, apabila pasangan suami-istri memiliki seorang pembantu atau teman yang dapat menjaga bayi, tidak ada salahnya untuk menitipkan bayi dalam waktu sementara. Istri dapat membuat sebuah rencana yang penuh kehangatan bersama suami, misalnya menemani suami makan malam atau untuk berduaan. Hal itu perlu dilakukan agar keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.
Jadi kesimpulannya, sesibuk apapun mengurus bayi dan sesulit apapun membagi waktu, ibu dan pasangan harus tetap dapat menyediakan waktu bersama. Bentuklah sejak dini suatu kebiasaan yang baik untuk saling bercanda, bercengkrama, berbagi kebahagiaan, saling memberikan cinta, dan mencurahkan kasih sayang.
Bagaimanapun juga, hubungan suami-istri merupakan sebuah titik pusat tumpuan keluarga. Jangan sampai hubungan antara ibu dan anak menghalangi apa yang seharusnya menjadi titik tumpuan yang di atasnyalah keutuhan keluarga akan bergerak (Janice Fixter, 2006).
Kuncinya: Sebagaimana bayi akan tumbuh menjadi besar, maka hubungan antara suami dan istripun harus berkembang dengan baik.
Kesibukan ibu mengurus bayi yang tidak ada henti-hentinya memang banyak menyita waktu. Sebagian ibu (istri) sering tidak menyadari bahwa ada seseorang yang harus diperhatikan selain bayi, yaitu suami (pasangan). Karena terlalu sibuk dan lelah, terkadang iapun lupa bahwa suaminya tetap memerlukan perhatian, kasih sayang, dan 'sentuhan cinta' dari seorang istri.
Oleh karena itu, bagi pasangan suami-istri yang tidak memiliki seseorang untuk menjaga bayi maka melibatkan suami untuk bersama-sama mengurus bayi boleh jadi kesempatan yang baik untuk saling mencurahkan kasih sayang, cinta, dan perhatian.
Misalnya, setelah ibu memberikan ASI lalu suami menggendong bayi untuk main bersamanya. Atau mungkin saja ketika istri akan memandikan bayi, suami menyediakan pakaian bayinya. Dengan bekerja sama seperti itu, diharapkan perasaan tertekan, merasa tidak diperhatikan, sedih, dan kelelahan yang dirasakan oleh pasangan akan segera terabaikan.
Sebaliknya, kehadiran anak akan semakin mempererat ikatan bathin suami-istri. Mereka akan saling menyayangi, mencintai, saling menghargai, memberikan perhatian, dan empati satu dengan lainnya.
Kasus lain, apabila pasangan suami-istri memiliki seorang pembantu atau teman yang dapat menjaga bayi, tidak ada salahnya untuk menitipkan bayi dalam waktu sementara. Istri dapat membuat sebuah rencana yang penuh kehangatan bersama suami, misalnya menemani suami makan malam atau untuk berduaan. Hal itu perlu dilakukan agar keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.
Jadi kesimpulannya, sesibuk apapun mengurus bayi dan sesulit apapun membagi waktu, ibu dan pasangan harus tetap dapat menyediakan waktu bersama. Bentuklah sejak dini suatu kebiasaan yang baik untuk saling bercanda, bercengkrama, berbagi kebahagiaan, saling memberikan cinta, dan mencurahkan kasih sayang.
Bagaimanapun juga, hubungan suami-istri merupakan sebuah titik pusat tumpuan keluarga. Jangan sampai hubungan antara ibu dan anak menghalangi apa yang seharusnya menjadi titik tumpuan yang di atasnyalah keutuhan keluarga akan bergerak (Janice Fixter, 2006).
Kuncinya: Sebagaimana bayi akan tumbuh menjadi besar, maka hubungan antara suami dan istripun harus berkembang dengan baik.
Friday, 16 November 2007
Materi Bukan Jaminan Anak Bahagia
Memiliki dua saluran keuangan dalam keluarga adalah tidak salah. Tetapi, upaya mencari karier dan uang sering membuat orangtua lalai akan kewajiban pokok mereka, yaitu mengasuh dan mendidik anak.
Kesibukan mereka mencari kekayaan sering menyita waktu untuk anak. Orangtua sering tidak memiliki waktu lagi untuk bermain bersama anak, mendengarkan curahan hatinya, memberikan perhatian, dan kasih sayang. Pada akhirnya, untuk menutupi ‘kekurangan dan perasaan bersalah’ merekapun berdalih bahwa semua yang mereka lakukan adalah semata-mata demi membahagiakan anak.
Banyak orangtua beranggapan bahwa dengan memberikan banyak materi dalam bentuk uang, mainan, dan pakaian berarti membahagiakan anak. Oleh sebab itu, tak heran jika ada sebagian orangtua yang setiap mingggu atau bahkan setiap kali melihat mainan lalu memutuskan untuk membelinya.
Harga bukan masalah penting bagi orangtua seperti itu. Yang terpenting bagi mereka adalah dengan memberikan setumpuk materi yang disukai anak, maka harapan mereka untuk membahagiakan anak tercapai.
Sejatinya, perlu orangtua fahami bahwa kebahagiaan yang mendasar bagi seorang anak adalah bukan terletak pada tumpukan materi, melainkan terletak pada ‘sikap dan perlakuan’ orangtua terhadapnya. Anak yang dibesarkan dengan cinta yang tulus, curahan kasih sayang, dan perhatian (bukan oleh materi), akan selalu hidup dalam suasana yang penuh kebahagiaan (Prof. Sa’ad Karim, 2006).
Anak yang merasa dirinya dicintai, disayangi dan diperhatikan oleh orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang berprestasi, percaya diri, bertanggung jawab, patuh dan berbakti kepada kedua orangtuanya.
Jadi, kunci untuk membahagiakan anak adalah dengan memberikan sesuatu yang abadi, yaitu cinta, kasih sayang, dan perhatian, bukan sesuatu yang mudah rusak, habis, dan mudah hilang seperti materi (uang atau maianan).
Kesibukan mereka mencari kekayaan sering menyita waktu untuk anak. Orangtua sering tidak memiliki waktu lagi untuk bermain bersama anak, mendengarkan curahan hatinya, memberikan perhatian, dan kasih sayang. Pada akhirnya, untuk menutupi ‘kekurangan dan perasaan bersalah’ merekapun berdalih bahwa semua yang mereka lakukan adalah semata-mata demi membahagiakan anak.
Banyak orangtua beranggapan bahwa dengan memberikan banyak materi dalam bentuk uang, mainan, dan pakaian berarti membahagiakan anak. Oleh sebab itu, tak heran jika ada sebagian orangtua yang setiap mingggu atau bahkan setiap kali melihat mainan lalu memutuskan untuk membelinya.
Harga bukan masalah penting bagi orangtua seperti itu. Yang terpenting bagi mereka adalah dengan memberikan setumpuk materi yang disukai anak, maka harapan mereka untuk membahagiakan anak tercapai.
Sejatinya, perlu orangtua fahami bahwa kebahagiaan yang mendasar bagi seorang anak adalah bukan terletak pada tumpukan materi, melainkan terletak pada ‘sikap dan perlakuan’ orangtua terhadapnya. Anak yang dibesarkan dengan cinta yang tulus, curahan kasih sayang, dan perhatian (bukan oleh materi), akan selalu hidup dalam suasana yang penuh kebahagiaan (Prof. Sa’ad Karim, 2006).
Anak yang merasa dirinya dicintai, disayangi dan diperhatikan oleh orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang berprestasi, percaya diri, bertanggung jawab, patuh dan berbakti kepada kedua orangtuanya.
Jadi, kunci untuk membahagiakan anak adalah dengan memberikan sesuatu yang abadi, yaitu cinta, kasih sayang, dan perhatian, bukan sesuatu yang mudah rusak, habis, dan mudah hilang seperti materi (uang atau maianan).
Thursday, 15 November 2007
Perilaku Anak ditentukan Oleh Peran Ibu
Peran ibu dalam keluarga adalah sangat penting. Bahkan, dapat dikatakan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan keluarga sangat ditentukan oleh peran seorang ibu. Jika ibu adalah seorang wanita yang baik, akan baiklah kondisi keluarga. Sebaliknya, apabila ibu adalah wanita yang bersikap buruk, hancurlah keluarga (Prof. Sa’ad Karim, 2006).
Ibu adalah orang dan tempat pertama di mana anak mendapatkan pendidikan. Apabila ibu paham dan mau melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, akan terlahirlah generasi yang baik. Generasi unggul yang tumbuh menjadi seseorang yang berbudi luhur, bertanggung jawab, dan berbakti kepada kedua orangtuanya.
Namun kendati demikian, pada kenyataannya masih banyak ibu yang tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Sebagian ibu ada yang sibuk dengan kariernya, ada yang malas melaksanakan tanggung jawabnya, dan ada juga yang menyerah untuk mendidik anak karena ia merasa putus asa tidak tahu apa yang harus ia lakukan (tidak memiliki ilmu). Dengan demikian, pendidikan dan perkembangan jiwa anak menjadi terbengkalai dan pada akhirnya rusaklah kepribadian sang anak.
Sejatinya, anak yang tumbuh dari keluarga yang tidak memiliki kepedulian antara satu dengan yang lainnya, tidak mendapatkan kasih sayang, tidak mendapatkan bimbingan serta arahan yang benar dari orangtua dan keluarganya, akan menyebabkan anak tidak mengenal makna dari ikatan keluarga
Bahkan tidak diragukan lagi jika orangtua (ibu) mengabaikan tugas dan kewajibannya maka akan membuat pribadi anak menjadi buruk, baik di mata keluarga maupun di masyarakat. Apabila telah terjadi demikian, orangtua tidak dapat menyalahkan siapapun, kecuali dirinya sendiri.
Dari artikel di atas dapat disimpulkan bahwa buruknya kepribadian anak adalah bukan mutlak kesalahannya. Tetapi, faktor dominan yang menyebabkan ia demikian adalah orangtua (ibu). Ibu yang tidak mendidik, mengarahkan, dan membimbing anak sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai yang dapat diterima oleh masyarakat akan melahirkan generasi yang buruk.
Alloh SWT berfirman,
“Dan hendaklah takut kepada Alloh SWT orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khwatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Alloh SWT dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (an-Nisa:9).
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk segera memulai mendidik anak dengan cara yang baik dan sungguh-sungguh. Jika tidak, maka akan menjadi orangtua (ibu) yang paling merugi, yaitu ibu yang sedang menunggu waktu datangnya kesulitan yang bertubi-tubi. Karena memiliki anak durhaka dan boleh jadi sering merugikan banyak pihak, baik dirinya sendiri, orangtua juga orang lain.
Semoga kita sebagai orangtu maupun sebagai anak tidak menjadi orang yang durhaka. Marilah kita saling mengoreksi dan instropeksi diri agar menjadi manusia yang bahagia di dunia maupun di akhirat. Amin
Ibu adalah orang dan tempat pertama di mana anak mendapatkan pendidikan. Apabila ibu paham dan mau melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik, akan terlahirlah generasi yang baik. Generasi unggul yang tumbuh menjadi seseorang yang berbudi luhur, bertanggung jawab, dan berbakti kepada kedua orangtuanya.
Namun kendati demikian, pada kenyataannya masih banyak ibu yang tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Sebagian ibu ada yang sibuk dengan kariernya, ada yang malas melaksanakan tanggung jawabnya, dan ada juga yang menyerah untuk mendidik anak karena ia merasa putus asa tidak tahu apa yang harus ia lakukan (tidak memiliki ilmu). Dengan demikian, pendidikan dan perkembangan jiwa anak menjadi terbengkalai dan pada akhirnya rusaklah kepribadian sang anak.
Sejatinya, anak yang tumbuh dari keluarga yang tidak memiliki kepedulian antara satu dengan yang lainnya, tidak mendapatkan kasih sayang, tidak mendapatkan bimbingan serta arahan yang benar dari orangtua dan keluarganya, akan menyebabkan anak tidak mengenal makna dari ikatan keluarga
Bahkan tidak diragukan lagi jika orangtua (ibu) mengabaikan tugas dan kewajibannya maka akan membuat pribadi anak menjadi buruk, baik di mata keluarga maupun di masyarakat. Apabila telah terjadi demikian, orangtua tidak dapat menyalahkan siapapun, kecuali dirinya sendiri.
Dari artikel di atas dapat disimpulkan bahwa buruknya kepribadian anak adalah bukan mutlak kesalahannya. Tetapi, faktor dominan yang menyebabkan ia demikian adalah orangtua (ibu). Ibu yang tidak mendidik, mengarahkan, dan membimbing anak sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai yang dapat diterima oleh masyarakat akan melahirkan generasi yang buruk.
Alloh SWT berfirman,
“Dan hendaklah takut kepada Alloh SWT orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khwatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Alloh SWT dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (an-Nisa:9).
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk segera memulai mendidik anak dengan cara yang baik dan sungguh-sungguh. Jika tidak, maka akan menjadi orangtua (ibu) yang paling merugi, yaitu ibu yang sedang menunggu waktu datangnya kesulitan yang bertubi-tubi. Karena memiliki anak durhaka dan boleh jadi sering merugikan banyak pihak, baik dirinya sendiri, orangtua juga orang lain.
Semoga kita sebagai orangtu maupun sebagai anak tidak menjadi orang yang durhaka. Marilah kita saling mengoreksi dan instropeksi diri agar menjadi manusia yang bahagia di dunia maupun di akhirat. Amin
Wednesday, 14 November 2007
Pentingnya Orangtua Menjaga 'Mulut'
Menjaga ‘perkataan’ memang bukan hal yang mudah, terutama bagi orang yang terbiasa berkata-kata kurang baik. Perkataan ‘buruk’ sering terlontar ketika seseorang sedang membicarakan keburukan orang lain, menggerutu dengan kata-kata kasar, menyalahkan orang lain dan bahkan diri sendiri.
Bersikaplah waspada dalam berkata, terutama jika ada anak. Boleh jadi anak mendengarkan apa yang baru saja orangtua ucapkan. Walaupun anak tidak mengerti apa yang sebenarnya orangtua maksudkan, namun ada kemungkinan ia akan mengulangi perkataan yang pernah ia dengar tersebut kepada semua orang. Termasuk mengulangi suatu perkataan yang paling tidak orangtua inginkan, misalnya ’ibuku bilang rambut tante seperti bulu jagung’.
Jadi, apabila orangtua tidak ingin kata-kata ’buruk’ atau semacamnya di ucapkan kembali oleh anak di hadapan semua orang, janganlah orangtua mengucapkannya di depan anak (Janice Fixter, 2006).
Berusaha selalu menjaga perkataan, selain memberi contoh baik kepada anak juga merupakan salah satu upaya orangtua memperbaiki diri supaya menjadi lebih baik.
Bersikaplah waspada dalam berkata, terutama jika ada anak. Boleh jadi anak mendengarkan apa yang baru saja orangtua ucapkan. Walaupun anak tidak mengerti apa yang sebenarnya orangtua maksudkan, namun ada kemungkinan ia akan mengulangi perkataan yang pernah ia dengar tersebut kepada semua orang. Termasuk mengulangi suatu perkataan yang paling tidak orangtua inginkan, misalnya ’ibuku bilang rambut tante seperti bulu jagung’.
Jadi, apabila orangtua tidak ingin kata-kata ’buruk’ atau semacamnya di ucapkan kembali oleh anak di hadapan semua orang, janganlah orangtua mengucapkannya di depan anak (Janice Fixter, 2006).
Berusaha selalu menjaga perkataan, selain memberi contoh baik kepada anak juga merupakan salah satu upaya orangtua memperbaiki diri supaya menjadi lebih baik.
Tuesday, 13 November 2007
Dosa Bukan Monopoli Anak, Orangtua Pun Berdosa Jika Khianat
Sebagaimana anak, orang tua juga dapat berdosa apabila mereka tidak melakukan kewajiban kepada anak. Anak adalah amanah atau titipan dari Alloh SWT yang harus dijaga, dididik, diperlakukan adil, dan dibesarkan dengan penuh cinta, kasih sayang dan kelembutan. Jika orantgua tidak melakukan amanah ini, berarti mereka khianat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda,
“Didiklah anak-anak kalian. Bersikap lemah lembutlah dan jangan bersikap kasar, berilah mereka pengertian agar mendekat dan jangan membuat mereka menjauh. Jika salah seorang kalian dalam kondisi marah, maka diamlah.” (Shahihul Jami' (4027).
Apabila orang tua menjadikan kekerasan sebagai cara melakukan pendidikan terhadap anak maka yang tumbuh dalam diri anak hanyalah kemarahan dan kebencian. Pada akhirnya, anak akan cenderung bersikap buruk kepada orang tua dan juga kepada orang-orang yang ada di sekitarnya (Prof. Sa’ad Karim, 2006). Seperti dalam pepatah mengatakan bahwa anak akan memberi apa yang telah ia terima, termasuk sikap kasar yang diterimanya.
Selain harus bersikap lembut, hal lain yang menjadi kewajiban orang tua terhadap anak adalah bersikap adil. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah berwasiat agar orang tua bersikap adil terhadap anak-anak mereka baik dalam hal pemberian atau pujian. Beliau bersabda,
“Takutlah kalian kepada Alloh SWT dan bersikap adillah kepada anak-anak kalian dalam hal pemberian. Lakukanlah hal yang demikian sebagaimana kalian senang jika mereka bersikap adil kepada kalian dalam pemberian dan kasih sayang.” (HR.Al-Bukhari, dalam bab hibah (12), Ahmad, dalam musnadnya (4/268).
Apabila orang tua meperlakukan anak secara tidak adil baik dalam hal materi maupun pujian, anak akan merasa dianak-tirikan. Perasaan negatif tersebut dapat menumbuhkan sikap tidak peduli, iri, benci, dan tidak patuh. Bahkan, tidak jarang perlakuan tidak adil yang diterima oleh anak akan ia lakukan kembali kepada saudara dan teman-teman di sekitarnya. Tindakan tersebut tentu akan mengundang sikap benci dan marah di antara mereka.
Salah satu faktor dominan yang dapat mempengaruhi baik dan buruknya kepribadian anak adalah orang tua. Seperti disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah saw bersabda,
“ Setiap anak yang terlahir ke alam dunia, terlahir dalam kondisi fitrah. Maka, kedua orang tuanyalah yang mengarahkannya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Ahmad dalam musnadnya (2/233). Muslim dalam bab Al-Qadar (25) Al-Bukhari dalam bab Al-Janaiz (80).
Dari uraian di atas, jelaslah sudah bahwa dosa bagi orang tua karena mereka telah melalaikan kewajibannya (bersikap kasar dalam mendidik dan bertindak tidak adil) terhadap anak, sehingga anak merugikan banyak fihak, termasuk dirinya sendiri (anak) dan orang tua.
Semoga kita tidak menjadi orang tua seperti di atas. Mulai dari saat ini, berikanlah cara yang terbaik dalam mendidik anak dan berusahalah untuk selalu bersikap adil kepada semua anak. Dengan demikian, semoga anak dapat tumbuh menjadi seseorang yang baik, patuh, dan berbakti kepada orang tua. Amin.....
“Didiklah anak-anak kalian. Bersikap lemah lembutlah dan jangan bersikap kasar, berilah mereka pengertian agar mendekat dan jangan membuat mereka menjauh. Jika salah seorang kalian dalam kondisi marah, maka diamlah.” (Shahihul Jami' (4027).
Apabila orang tua menjadikan kekerasan sebagai cara melakukan pendidikan terhadap anak maka yang tumbuh dalam diri anak hanyalah kemarahan dan kebencian. Pada akhirnya, anak akan cenderung bersikap buruk kepada orang tua dan juga kepada orang-orang yang ada di sekitarnya (Prof. Sa’ad Karim, 2006). Seperti dalam pepatah mengatakan bahwa anak akan memberi apa yang telah ia terima, termasuk sikap kasar yang diterimanya.
Selain harus bersikap lembut, hal lain yang menjadi kewajiban orang tua terhadap anak adalah bersikap adil. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah berwasiat agar orang tua bersikap adil terhadap anak-anak mereka baik dalam hal pemberian atau pujian. Beliau bersabda,
“Takutlah kalian kepada Alloh SWT dan bersikap adillah kepada anak-anak kalian dalam hal pemberian. Lakukanlah hal yang demikian sebagaimana kalian senang jika mereka bersikap adil kepada kalian dalam pemberian dan kasih sayang.” (HR.Al-Bukhari, dalam bab hibah (12), Ahmad, dalam musnadnya (4/268).
Apabila orang tua meperlakukan anak secara tidak adil baik dalam hal materi maupun pujian, anak akan merasa dianak-tirikan. Perasaan negatif tersebut dapat menumbuhkan sikap tidak peduli, iri, benci, dan tidak patuh. Bahkan, tidak jarang perlakuan tidak adil yang diterima oleh anak akan ia lakukan kembali kepada saudara dan teman-teman di sekitarnya. Tindakan tersebut tentu akan mengundang sikap benci dan marah di antara mereka.
Salah satu faktor dominan yang dapat mempengaruhi baik dan buruknya kepribadian anak adalah orang tua. Seperti disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah saw bersabda,
“ Setiap anak yang terlahir ke alam dunia, terlahir dalam kondisi fitrah. Maka, kedua orang tuanyalah yang mengarahkannya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Ahmad dalam musnadnya (2/233). Muslim dalam bab Al-Qadar (25) Al-Bukhari dalam bab Al-Janaiz (80).
Dari uraian di atas, jelaslah sudah bahwa dosa bagi orang tua karena mereka telah melalaikan kewajibannya (bersikap kasar dalam mendidik dan bertindak tidak adil) terhadap anak, sehingga anak merugikan banyak fihak, termasuk dirinya sendiri (anak) dan orang tua.
Semoga kita tidak menjadi orang tua seperti di atas. Mulai dari saat ini, berikanlah cara yang terbaik dalam mendidik anak dan berusahalah untuk selalu bersikap adil kepada semua anak. Dengan demikian, semoga anak dapat tumbuh menjadi seseorang yang baik, patuh, dan berbakti kepada orang tua. Amin.....
Monday, 12 November 2007
Jika Orang tua Mendambakan Anak Soleh, Berikanlah Haknya
Kita semua tentu sepakat, tidak ada orang tua di muka bumi ini yang ingin memiliki anak berkepribadian buruk. Setiap orang tua pasti mendambakan anaknya menjadi seseorang yang sopan, jujur, percaya diri, bertanggung jawab, taat, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Hal serupa juga akan sama dirasakan oleh anak, ia ingin memiliki orang tua yang dapat membahagiakannya. Kebahagiaan anak adalah apabila ia mendapatkan haknya yaitu cinta yang tulus, perlakukan adil, perhatian, dan kasih sayang yang penuh kehangatan dari orang tuanya.
Namun, pada kenyataannya masih sedikit orang tua yang mau mengerti dan memberikan kebahagiaan tersebut. Sebagian mereka cenderung menuntut anak menjadi seseorang yang lebih baik, tanpa mau memberikan apa yang menjadi hak anak.
Sejatinya, hak anak adalah kewajiban orang tua yang akan diminta pertanggungjawabannya oleh Alloh SWT. Di dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda,
” Setiap kalian adalah pemimpin. Dan, setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya oleh Alloh SWT. Setiap laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, setiap wanita bertanggung jawab dalam pengaturan rumah suaminya. Dan, sang istri juga memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada di bawah asuhannya.” (HR. Al-Bukhari, dalam bab al-Jum'ah (11), bab-AlWashayaa (9), Muslim, dalam bab Al-Imarat (20).
Anak adalah titipan yang diberika Alloh SWT kepada kedua orang tuanya yang harus dididik dan dirawat dengan baik. Orang tua yang bertanggung jawab adalah orang tua yang selalu memberikan hak anak dengan cara yang paling baik.
Untuk itu, apabila orang tua ingin memiliki anak yang soleh, baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya maka berikanlah apa yang menjadi haknya. Dengan demikian, ia akan melakukan apa yang menjadi kewajibannya (melakukan sesuatu sesuai dengan harapan orang tua).
Hal serupa juga akan sama dirasakan oleh anak, ia ingin memiliki orang tua yang dapat membahagiakannya. Kebahagiaan anak adalah apabila ia mendapatkan haknya yaitu cinta yang tulus, perlakukan adil, perhatian, dan kasih sayang yang penuh kehangatan dari orang tuanya.
Namun, pada kenyataannya masih sedikit orang tua yang mau mengerti dan memberikan kebahagiaan tersebut. Sebagian mereka cenderung menuntut anak menjadi seseorang yang lebih baik, tanpa mau memberikan apa yang menjadi hak anak.
Sejatinya, hak anak adalah kewajiban orang tua yang akan diminta pertanggungjawabannya oleh Alloh SWT. Di dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda,
” Setiap kalian adalah pemimpin. Dan, setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya oleh Alloh SWT. Setiap laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, setiap wanita bertanggung jawab dalam pengaturan rumah suaminya. Dan, sang istri juga memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada di bawah asuhannya.” (HR. Al-Bukhari, dalam bab al-Jum'ah (11), bab-AlWashayaa (9), Muslim, dalam bab Al-Imarat (20).
Anak adalah titipan yang diberika Alloh SWT kepada kedua orang tuanya yang harus dididik dan dirawat dengan baik. Orang tua yang bertanggung jawab adalah orang tua yang selalu memberikan hak anak dengan cara yang paling baik.
Untuk itu, apabila orang tua ingin memiliki anak yang soleh, baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya maka berikanlah apa yang menjadi haknya. Dengan demikian, ia akan melakukan apa yang menjadi kewajibannya (melakukan sesuatu sesuai dengan harapan orang tua).
Sunday, 11 November 2007
Tidak Memperolok Apabila Anak Berbuat Salah
Setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Terutama anak, ia akan cenderung banyak melakukan kesalahan dalam bertindak. Hal tersebut adalah wajar, sebab anak baru saja ’belajar hidup’ sehingga belum banyak memiliki pengalaman. Walaupun, mungkin saja kesalahan yang ia lakukan bukan murni atas faktor kesengajaan. Ada beberapa kemungkinan anak melakukan suatu kesalahan, boleh jadi ia memang 'tidak tahu', merasa penasaran (rasa ingin tahunya tinggi) atau hanya karena ingin coba-coba.
Pada umumnya, sebagian orang tua sering tidak mau peduli dengan apa yang melatarbelakangi anak berbuat salah. Mereka sering menanggapi kesalahan anak dengan sikap negatif. Orang tua mudah memperolok dan mencap anak adalah ’bodoh dan tolol’. Orang tua seperti ini selalu berharap tindakan yang dilakukan anak sama dengan standar kualitas orang dewasa.
Sikap memperolok dapat meninggalkan luka bathin pada diri anak. Ia akan merasa sakit hati, sedih, putus asa dan rendah diri. Pada akhirnya, perasaan anak seperti itu dapat menumbuhkan kebencian kepada orangtuanya. Hindarkanlah sikap memperolok, sesungguhnya Alloh SWT melarang memperolok orang lain, apapun sebabnya.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (pnggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Al-Hujurat:11)
Berikanlah bimbingan, arahan, kasih sayang dan motivasi kepada anak agar ia mampu ’belajar hidup lebih baik’ dari kesalahan yang pernah ia lakukan.
Pada umumnya, sebagian orang tua sering tidak mau peduli dengan apa yang melatarbelakangi anak berbuat salah. Mereka sering menanggapi kesalahan anak dengan sikap negatif. Orang tua mudah memperolok dan mencap anak adalah ’bodoh dan tolol’. Orang tua seperti ini selalu berharap tindakan yang dilakukan anak sama dengan standar kualitas orang dewasa.
Sikap memperolok dapat meninggalkan luka bathin pada diri anak. Ia akan merasa sakit hati, sedih, putus asa dan rendah diri. Pada akhirnya, perasaan anak seperti itu dapat menumbuhkan kebencian kepada orangtuanya. Hindarkanlah sikap memperolok, sesungguhnya Alloh SWT melarang memperolok orang lain, apapun sebabnya.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (pnggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Al-Hujurat:11)
Berikanlah bimbingan, arahan, kasih sayang dan motivasi kepada anak agar ia mampu ’belajar hidup lebih baik’ dari kesalahan yang pernah ia lakukan.
Saturday, 10 November 2007
Peran Orangtua dan Pubertas Anak Perempuan
Puber atau balig adalah fase matangnya kelenjar reproduksi dan bertambahnya pengetahuan seks pada anak yang mengantarkannya menuju kedewasaan (Dr. Akram Ridha,2006). Pada anak perempuan, terjadinya haid (menstruasi) pertama merupakan salah satu tanda bahwa ia sudah puber.
Haid pertama ini biasanya memberikan keistimewaan dan kenangan tersendiri bagi sang anak. Setiap anak akan memiliki perasaan yang berbada-beda tergantung pada pengetahuan yang dimilikinya. Sebagian dari mereka ada yang merasa bingung, sedih, gemetar, tidak peduli, dan ada juga yang merasa bangga dengan dirinya (ia merasa sudah menjadi orang dewasa).
Sebelum masa puber tiba, orangtua sebaiknya sudah membekali anak dengan pengetahuan tentang masalah dan bagaimana menghadapi fase ini. Cara meyampaikannya tentu harus dengan penjelasan yang sederhana dan sesuai dengan pemahaman anak-anak. Hal ini penting, supaya pada waktunya anak tidak merasa kaget, malu, cemas, gelisah, dan tertekan. Anak akan memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya dan tahu bagaimana seharusnya ia bertindak.
Di bawah ini adalah beberapa peran orangtua membantu anak menghadapi masa puber, di antaranya adalah:
Haid pertama ini biasanya memberikan keistimewaan dan kenangan tersendiri bagi sang anak. Setiap anak akan memiliki perasaan yang berbada-beda tergantung pada pengetahuan yang dimilikinya. Sebagian dari mereka ada yang merasa bingung, sedih, gemetar, tidak peduli, dan ada juga yang merasa bangga dengan dirinya (ia merasa sudah menjadi orang dewasa).
Sebelum masa puber tiba, orangtua sebaiknya sudah membekali anak dengan pengetahuan tentang masalah dan bagaimana menghadapi fase ini. Cara meyampaikannya tentu harus dengan penjelasan yang sederhana dan sesuai dengan pemahaman anak-anak. Hal ini penting, supaya pada waktunya anak tidak merasa kaget, malu, cemas, gelisah, dan tertekan. Anak akan memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya dan tahu bagaimana seharusnya ia bertindak.
Di bawah ini adalah beberapa peran orangtua membantu anak menghadapi masa puber, di antaranya adalah:
- Memberikan penjelasan kepada anak bahwa haid adalah hal yang alami yang tidak perlu dikhawatirkan.
- Mengajarkan kepada anak bagaimana cara ’membersihkan darah’ dan menjaga kebersihannya.
- Menjelaskan dengan bijaksana tentang pentingnya menjaga diri dari perilaku pelecehan seksual.
- Membantu memilih atau membeli bra dan pembalut wanita, apabila anak masih merasa risi dan malu untuk melakukannya.
Friday, 9 November 2007
Membantu Anak Melewati Masa Pubernya
Masa puber merupakan waktu bertumbuh dan perubahan pada anak-anak, yang sekaligus penuh tekanan (Ronald C Heagy MSW, 2006). Pada masa ini biasanya anak mengalami beberapa perubahan, baik secara fisik maupun emosional.
Secara fisik, ada beberapa perubahan yang berbeda pada anak perempuan dan anak laki-laki. Pada anak perempuan biasanya ditandai dengan membesarnya bagian dada (payudara), terjadinya haid (menstruasi), dan tumbuhnya bulu pada tubuh (ketiak dan kemaluan). Sedangkan pada anak laki-laki, selain ditandai dengan ‘mimpi basah’, tumbuh bulu-bulu di bagian tubuh seperti kumis, ketiak, bulu dada, dan kemaluan, juga adanya perubahan pada suara.
Pubertas pada setiap anak boleh jadi berbeda-beda, meskipun mereka memiliki angka usia yang sama. Biasanya, pubertas terjadi sesuai dengan ‘kematangan’ sang anak. Sebagian anak ada yang mengalami pubertas lebih cepat dan ada pula yang lambat. Perbedaan tingkat perkembangan inilah yang sering membuat anak merasa khawatir dan tertekan.
Anak yang lebih cepat mengalami pubertas mungkin akan merasa malu dan risi. Perubahan fisik yang tampak begitu jelas sering membuat orang di sekelilingnya memperlakukan dia seolah-olah orang dewasa. Sebaliknya, anak yang mengalami kelambatan dalam pubertas boleh jadi akan merasa kecewa dan iri. Kondisi fisik yang beum 'berubah', mendorong orang di sekitanya memperlakukan dia seperti anak kecil.
Pada umumnya, pubertas dapat mempengaruhi emosional anak. Hal ini terlihat dari sikap anak yang sering merasa minder oleh masalah pertumbuhan fisik dan malu dalam masalah praktisnya.
Anak perempuan akan merasa minder dan tertekan apabila memiliki ukuran buah dada yang terlalu besar atau terlalu kecil. Kondisi seperti itu mungkin dapat memancing teman-temannya untuk menghina atau mengejek dirinya. Sedangkan anak laki-laki, ia akan merasa minder apabila suaranya masih tetap kecil atau bulu-bulunya belum tumbuh.
Secara praktis, anak perempuan sering merasa malu apabila ia harus membeli atau memakai bra dan pembalut wanita. Sedangkan, anak laki-laki biasanya akan merasa malu bila ia harus mencukur bulu-bulu pada bagian tubuhnya. Selain itu, anak laki-laki akan merasa malu dan takut bila ketahuan tempat tidurnya basah karena semalam ia ’mimpi basah’.
Untuk membantu anak melewati pubertas ini, ada beberapa cara yang baik dilakukan orangtua agar anak tetap percaya diri, bertanggung jawab, dan selamat dari informasi yang mungkin dapat menjerumuskan anak, di antaranya adalah:
Demikian artikel dari saya, semoga dapat membantu para orangtua mendampingi anak tercintanya yang sedang mengalami pubertas.
Secara fisik, ada beberapa perubahan yang berbeda pada anak perempuan dan anak laki-laki. Pada anak perempuan biasanya ditandai dengan membesarnya bagian dada (payudara), terjadinya haid (menstruasi), dan tumbuhnya bulu pada tubuh (ketiak dan kemaluan). Sedangkan pada anak laki-laki, selain ditandai dengan ‘mimpi basah’, tumbuh bulu-bulu di bagian tubuh seperti kumis, ketiak, bulu dada, dan kemaluan, juga adanya perubahan pada suara.
Pubertas pada setiap anak boleh jadi berbeda-beda, meskipun mereka memiliki angka usia yang sama. Biasanya, pubertas terjadi sesuai dengan ‘kematangan’ sang anak. Sebagian anak ada yang mengalami pubertas lebih cepat dan ada pula yang lambat. Perbedaan tingkat perkembangan inilah yang sering membuat anak merasa khawatir dan tertekan.
Anak yang lebih cepat mengalami pubertas mungkin akan merasa malu dan risi. Perubahan fisik yang tampak begitu jelas sering membuat orang di sekelilingnya memperlakukan dia seolah-olah orang dewasa. Sebaliknya, anak yang mengalami kelambatan dalam pubertas boleh jadi akan merasa kecewa dan iri. Kondisi fisik yang beum 'berubah', mendorong orang di sekitanya memperlakukan dia seperti anak kecil.
Pada umumnya, pubertas dapat mempengaruhi emosional anak. Hal ini terlihat dari sikap anak yang sering merasa minder oleh masalah pertumbuhan fisik dan malu dalam masalah praktisnya.
Anak perempuan akan merasa minder dan tertekan apabila memiliki ukuran buah dada yang terlalu besar atau terlalu kecil. Kondisi seperti itu mungkin dapat memancing teman-temannya untuk menghina atau mengejek dirinya. Sedangkan anak laki-laki, ia akan merasa minder apabila suaranya masih tetap kecil atau bulu-bulunya belum tumbuh.
Secara praktis, anak perempuan sering merasa malu apabila ia harus membeli atau memakai bra dan pembalut wanita. Sedangkan, anak laki-laki biasanya akan merasa malu bila ia harus mencukur bulu-bulu pada bagian tubuhnya. Selain itu, anak laki-laki akan merasa malu dan takut bila ketahuan tempat tidurnya basah karena semalam ia ’mimpi basah’.
Untuk membantu anak melewati pubertas ini, ada beberapa cara yang baik dilakukan orangtua agar anak tetap percaya diri, bertanggung jawab, dan selamat dari informasi yang mungkin dapat menjerumuskan anak, di antaranya adalah:
- Gunakan setiap kesempatan untuk memperkuat hubungan antara orangtua dengan anak. Salah satu caranya, selalu menjaga komunikasi agar tetap terjalin dengan penuh kehangatan (mendengarkan dan mempertimbangkan sudut pandangnya).
- Berikan dukungan, curahan kasih sayang, arahan, dan pengawasan kepada anak agar ia dapat tumbuh percaya diri dan selalu merasa ’diterima’ oleh orangtuanya.
- Menciptakan situasi yang dapat mempengaruhi anak untuk selalu berkata terbuka dan jujur. Yakinkan anak bahwa orangtuanya adalah dapat dipercaya dan anak boleh bertanya tentang apa saja kepada mereka.
- Apabila membicarakan pubertas dirasakan risi, orangtua dapat memberikan buku atau artikel tentang apa yang ia ingin ketahui.
- Perlakukan anak sesuai dengan perkembangan dan kematangan usianya. Hindarkan sikap memaksakan kehendak, seperti memaksakan anak yang belum masanya berdandan seperti orang dewasa dan membiarkan anak pergi ke tempat-tempat tertentu tanpa pengwasan (dapat membahayakan dan merusak perkembangan anak).
Demikian artikel dari saya, semoga dapat membantu para orangtua mendampingi anak tercintanya yang sedang mengalami pubertas.
Thursday, 8 November 2007
Uang dan Anak Pra-remaja
Banyak anak usia pra-remaja yaitu antara 10 hingga 13 tahun sudah ingin ‘memegang’ keuangannya sendiri. Ia ingin memiliki kebebasan dalam mempergunakan uangnya. Namun, anak usia pra-remaja ini umumnya lebih tertarik mempergunakan uangnya untuk belanja memenuhi apa yang ia inginkan daripada menyimpan uangnya di tabungan.
Membiarkan anak membelanjakan uangnya adalah tidak salah. Anak akan belajar dari pengalaman dan kesalahan apakah dia benar-benar senang dengan apa yang ia beli atau tidak. Tetapi, apabila anak setelah diberi kebebasan ternyata tidak dapat mengendalikan pengeluarannya maka orangtua perlu memberikan batasan dan penjelasan bagaimana pentingnya mengelola dan menyisihkan uang.
Membicarakan masalah ‘uang’ kepada anak tentu harus dengan cara yang bijaksana. Dengarkan sudut pandangnya, mungkin saja anak mempunyai alasan atau pertimbangan lain dalam mempergunakan uangnya. Lakukan pembicaraan tersebut pada saat tenang dan kondisi anak sedang dalam suasana gembira, agar pesan yang kita inginkan dapat tersampaikan dengan baik.
Bagi sebagian orangtua, ada dua hal yang sering membuat mereka sulit untuk bersikap konsisten. Di satu sisi, orangtua ingin membebaskan anak menikmati uang yang dimilikinya (membeli apa saja yang ia inginkan) dan membiarkan anak membuat keputusan sendiri agar memperoleh pengalaman dalam mempergunakan uangnya. Tetapi, di sisi lain orangtua juga ingin anaknya dapat mengelola, merencanakan, dan mempergunakan uangnya dengan tepat.
Untuk membantu anak membuat keputusan atas pengeluarannya maka buatlah bersama-sama rencana pengelolaan uang seperti anggaran belanja mingguan atau bulanan, ajarkan anak bagaimana membelanjakan uang berdasarkan prioritas, dan dukunglah anak untuk menyimpan sebagian uangnya di celengan atau di bank dengan membuka rekening atas namanya sendiri (Ronald C. Heagy MSW, 2006).
Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua berkaitan dengan masalah penggunaan uang ini adalah memberikan kepercayaan kepada anak agar ia selalu berusaha bersikap jujur dan bijaksana dalam mengelola uangnya.
Membiarkan anak membelanjakan uangnya adalah tidak salah. Anak akan belajar dari pengalaman dan kesalahan apakah dia benar-benar senang dengan apa yang ia beli atau tidak. Tetapi, apabila anak setelah diberi kebebasan ternyata tidak dapat mengendalikan pengeluarannya maka orangtua perlu memberikan batasan dan penjelasan bagaimana pentingnya mengelola dan menyisihkan uang.
Membicarakan masalah ‘uang’ kepada anak tentu harus dengan cara yang bijaksana. Dengarkan sudut pandangnya, mungkin saja anak mempunyai alasan atau pertimbangan lain dalam mempergunakan uangnya. Lakukan pembicaraan tersebut pada saat tenang dan kondisi anak sedang dalam suasana gembira, agar pesan yang kita inginkan dapat tersampaikan dengan baik.
Bagi sebagian orangtua, ada dua hal yang sering membuat mereka sulit untuk bersikap konsisten. Di satu sisi, orangtua ingin membebaskan anak menikmati uang yang dimilikinya (membeli apa saja yang ia inginkan) dan membiarkan anak membuat keputusan sendiri agar memperoleh pengalaman dalam mempergunakan uangnya. Tetapi, di sisi lain orangtua juga ingin anaknya dapat mengelola, merencanakan, dan mempergunakan uangnya dengan tepat.
Untuk membantu anak membuat keputusan atas pengeluarannya maka buatlah bersama-sama rencana pengelolaan uang seperti anggaran belanja mingguan atau bulanan, ajarkan anak bagaimana membelanjakan uang berdasarkan prioritas, dan dukunglah anak untuk menyimpan sebagian uangnya di celengan atau di bank dengan membuka rekening atas namanya sendiri (Ronald C. Heagy MSW, 2006).
Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua berkaitan dengan masalah penggunaan uang ini adalah memberikan kepercayaan kepada anak agar ia selalu berusaha bersikap jujur dan bijaksana dalam mengelola uangnya.
Wednesday, 7 November 2007
Bersikap Positif Ketika Tidak Ada PRT
Salah satu kondisi yang paling meresahkan para ibu rumah tangga terutama yang hidup di lingkungan perkotaan adalah ketika harus kehilangan pembantu rumah tangga (PRT). Merasa tidak betah, harus menikah, dijodohkan orangtua, atau tergiur dengan pekerjaan dan gaji di tempat lain yang lebih menjanjikan adalah beberapa alasan mengapa mereka pergi meninggalkan majikannya.
Memiliki PRT yang abadi (tidak gonti-ganti, bertahan dalam waktu lama) memang bukan hal yang mudah. Sangat mungkin, hal ini tergantung dari ‘untung-untungan’ dan ‘cocok-cocokan’ dari kedua belah pihak, yaitu antara majikan dengan PRT.
Kehadiran PRT dalam keluarga ada nilai positif dan negatifnya. Sisi positifnya, tentu ibu rumah tangga akan merasa sangat terbantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya sehingga ia memiliki kebebasan waktu untuk melakukan hal yang lainnya. Apalagi, bagi ibu rumah tangga yang bekerja, keberadaan PRT merupakan keharusan.
Sedangkan sisi negatifnya, terutama dari sisi perkembangan anak, kehadiran PRT akan sedikit-banyak menggangu keharmonisan hubungan antara anak dan orangtua. Terlebih lagi jika orangtua terlalu mempercayakan pengasuhan anaknya kepada PRT dan meluangkan waktu sangat sedikit untuk anaknya. Jika PRT baik, anak akan lebih “dekat” kepada PRT dibanding kepada orangtuanya, sebab secara alamiah anak akan merasa lebih bahagia bersama seseorang yang lebih banyak memberikan waktu dan kasih sayang.
Sebaliknya, jika PRT buruk misalnya pemarah maka kondisi psikologis anak akan banyak terganggu. Kita semua sudah mengetahui bahwa anak akan belajar secara efektif dari apa yang dia lihat, dengar, dan alami, termasuk sifat buruk PRT ini. Selain itu, kehadiran PRT juga sering menimbulkan sikap malas anak. Dia seringkali tidak mau melakukan sendiri kebutuhannya sehingga kemandiriannya terhambat. Kesimpulannya, sisi negatif kehadiran PRT ini dapat ditekan sekecil mungkin jika kita sebagai orangtua dapat menjaga keseimbangan yang baik dalam hal pengasuhan anak.
Untuk menghindari sikap ketergantungan kepada PRT, ada baiknya sedikit demi sedikit orangtua mengajarkan anak untuk melakukan kebutuhannya sendiri, misalnya merapikan tempat tidur sendiri, membereskan bekas main, mencuci sepatunya sendiri, dan merapikan buku atau tempat belajarnya sendiri.
Melibatkan anak dalam melakukan pekerjaan rumah tangga dapat memeberikan banyak manfaat, terutama bagi diri sang anak. Mereka tidak selamanya hidup berdampingan dengan orangtua. Suatu saat nanti mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa dan bergabung dengan masyarakat luas.
Untuk itu, ketidakhadiran PRT dapat dijadikan sebagai kesempatan yang baik bagi orangtua untuk mengajarkan hal-hal yang bermanfaat kepada anak, yaitu:
Anak yang terampil, mudah menyesuaikan diri, dan terbiasa melakukan kebaikan tentu akan membuat dirinya sendiri, orangtua, dan lingkungan di sekelilingnya merasa tenang dan bahagia. Anak tersebut akan lebih mudah diterima oleh lingkungannya atau masyarakat di sekitarnya.
Memiliki PRT yang abadi (tidak gonti-ganti, bertahan dalam waktu lama) memang bukan hal yang mudah. Sangat mungkin, hal ini tergantung dari ‘untung-untungan’ dan ‘cocok-cocokan’ dari kedua belah pihak, yaitu antara majikan dengan PRT.
Kehadiran PRT dalam keluarga ada nilai positif dan negatifnya. Sisi positifnya, tentu ibu rumah tangga akan merasa sangat terbantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya sehingga ia memiliki kebebasan waktu untuk melakukan hal yang lainnya. Apalagi, bagi ibu rumah tangga yang bekerja, keberadaan PRT merupakan keharusan.
Sedangkan sisi negatifnya, terutama dari sisi perkembangan anak, kehadiran PRT akan sedikit-banyak menggangu keharmonisan hubungan antara anak dan orangtua. Terlebih lagi jika orangtua terlalu mempercayakan pengasuhan anaknya kepada PRT dan meluangkan waktu sangat sedikit untuk anaknya. Jika PRT baik, anak akan lebih “dekat” kepada PRT dibanding kepada orangtuanya, sebab secara alamiah anak akan merasa lebih bahagia bersama seseorang yang lebih banyak memberikan waktu dan kasih sayang.
Sebaliknya, jika PRT buruk misalnya pemarah maka kondisi psikologis anak akan banyak terganggu. Kita semua sudah mengetahui bahwa anak akan belajar secara efektif dari apa yang dia lihat, dengar, dan alami, termasuk sifat buruk PRT ini. Selain itu, kehadiran PRT juga sering menimbulkan sikap malas anak. Dia seringkali tidak mau melakukan sendiri kebutuhannya sehingga kemandiriannya terhambat. Kesimpulannya, sisi negatif kehadiran PRT ini dapat ditekan sekecil mungkin jika kita sebagai orangtua dapat menjaga keseimbangan yang baik dalam hal pengasuhan anak.
Untuk menghindari sikap ketergantungan kepada PRT, ada baiknya sedikit demi sedikit orangtua mengajarkan anak untuk melakukan kebutuhannya sendiri, misalnya merapikan tempat tidur sendiri, membereskan bekas main, mencuci sepatunya sendiri, dan merapikan buku atau tempat belajarnya sendiri.
Melibatkan anak dalam melakukan pekerjaan rumah tangga dapat memeberikan banyak manfaat, terutama bagi diri sang anak. Mereka tidak selamanya hidup berdampingan dengan orangtua. Suatu saat nanti mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa dan bergabung dengan masyarakat luas.
Untuk itu, ketidakhadiran PRT dapat dijadikan sebagai kesempatan yang baik bagi orangtua untuk mengajarkan hal-hal yang bermanfaat kepada anak, yaitu:
- Mengajarkan anak agar dapat hidup mandiri.
- Menanamkan sikap saling tolong-menolong atau bekerja sama di antara anggota keluarga.
- Membiasakan hidup saling menghargai dan empati.
- Menanamkan sikap disiplin dan tanggung jawab.
Anak yang terampil, mudah menyesuaikan diri, dan terbiasa melakukan kebaikan tentu akan membuat dirinya sendiri, orangtua, dan lingkungan di sekelilingnya merasa tenang dan bahagia. Anak tersebut akan lebih mudah diterima oleh lingkungannya atau masyarakat di sekitarnya.
Tuesday, 6 November 2007
Mengapa Anak Berperilaku Kasar?
Dalam beberapa kesempatan, kita mungkin pernah melihat atau bahkan mengalami betapa tak berdayanya ketika menghadapi anak yang selalu berperilaku kasar. Tak jarang ucapan dan tindakannya membuat orangtua dan orang-orang yang ada di sekitarnya merasa sebal, benci, marah dan sakit hati.
Membanting, melempar, menendang, membentak dan berucap kasar merupakan perilaku kasar yang perlu segera dikendalikan dan diakhiri. Apabila orangtua tidak meyadari hal tersebut maka perilaku kasar akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan membuat sulit semua fihak baik orangtua, dirinya sendiri (anak), dan juga orang-orang di sekelilingnya.
Perilaku kasar yang mendarah daging dapat membuat keberadaan anak sulit diterima oleh lingkungan di sekitarnya. Ketika ia masih kecil, boleh jadi ia tidak disenangi dan dijauhi oleh teman-temannya. Pada saat ia beranjak dewasa, boleh jadi ia sulit beradaptasi dengan teman kerjanya sehingga ia harus ‘keluar dan masuk’ mencari tempat bekerja yang benar-benar dapat menerimanya.
Timbulnya perilaku kasar pada anak selain diakibatkan oleh pengaruh media seperti TV dan games juga akibat dari sesuatu yang dipelajari atau dicontohkan. Berhati-hatilah orangtua dalam bertindak atau bersikap, sebab jika orangtua mencontohkan sikap kasar (secara disengaja maupun tidak) seperti, membentak, memaksa, dan membanting maka jangan kaget bila anak melakukan hal yang sama (Abubakar Baraja, 2007).
Semua orangtua tentu tidak ingin kondisi buruk di atas terjadi pada diri sang anak. Oleh sebab itu, sebagai upaya mencegah timbulnya perilaku kasar pada anak maka orangtua perlu memperhatikan perkembangan anak sejak dini dan berusaha untuk selalu menjaga sikap dan ucapan terutama ketika sedang berada di dekatnya.
Membanting, melempar, menendang, membentak dan berucap kasar merupakan perilaku kasar yang perlu segera dikendalikan dan diakhiri. Apabila orangtua tidak meyadari hal tersebut maka perilaku kasar akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan membuat sulit semua fihak baik orangtua, dirinya sendiri (anak), dan juga orang-orang di sekelilingnya.
Perilaku kasar yang mendarah daging dapat membuat keberadaan anak sulit diterima oleh lingkungan di sekitarnya. Ketika ia masih kecil, boleh jadi ia tidak disenangi dan dijauhi oleh teman-temannya. Pada saat ia beranjak dewasa, boleh jadi ia sulit beradaptasi dengan teman kerjanya sehingga ia harus ‘keluar dan masuk’ mencari tempat bekerja yang benar-benar dapat menerimanya.
Timbulnya perilaku kasar pada anak selain diakibatkan oleh pengaruh media seperti TV dan games juga akibat dari sesuatu yang dipelajari atau dicontohkan. Berhati-hatilah orangtua dalam bertindak atau bersikap, sebab jika orangtua mencontohkan sikap kasar (secara disengaja maupun tidak) seperti, membentak, memaksa, dan membanting maka jangan kaget bila anak melakukan hal yang sama (Abubakar Baraja, 2007).
Semua orangtua tentu tidak ingin kondisi buruk di atas terjadi pada diri sang anak. Oleh sebab itu, sebagai upaya mencegah timbulnya perilaku kasar pada anak maka orangtua perlu memperhatikan perkembangan anak sejak dini dan berusaha untuk selalu menjaga sikap dan ucapan terutama ketika sedang berada di dekatnya.
Monday, 5 November 2007
Membantu Anak Bersikap Optimis
Para pembaca yang setia…hari ini saya akan mencoba berbagi pengalaman tentang bagaimana menghadapi anak yang selalu ‘apatis’ dalam menghadapi suatu kendala…, semoga bermanfaat ya..:)
Anak yang memiliki sikap apatis biasanya sering mengatakan kalimat-kalimat negatif, seperti ‘Nggak bisa, tidak tahu, tidak mau,’ sebelum ia sendiri berusaha untuk mencobanya. Anak seperti tersebut selalu merasa tidak percaya diri dan khawatir terhadap kemampuan dirinya.
Salah satu penyebab timbulnya sikap apatis pada anak boleh jadi akibat perlakuan dari orang yang terdekat dengan anak, orangtua. Orangtua yang selalu memberikan penjagaan atau perlindungan secara berlebihan dapat membuat anak menjadi semakin ketergantungan dan selalu berharap ada orang lain dapat membantunya.
Setiap orangtua ingin anak mereka tumbuh mandiri, tidak mendapatkan kesulitan terutama jika ia tidak berada disamping orangtuanya. Namun, semua harapan tersebut tidak akan terjadi secara instan. Anak membutuhkan bantuan dan dukungan dari orangtua untuk mengasah potensi dirinya agar ia menjadi optimis dan terampil melakukannya. Beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk menciptakan sikap optimis pada anak, di antaranya adalah;
Anak yang memiliki sikap apatis biasanya sering mengatakan kalimat-kalimat negatif, seperti ‘Nggak bisa, tidak tahu, tidak mau,’ sebelum ia sendiri berusaha untuk mencobanya. Anak seperti tersebut selalu merasa tidak percaya diri dan khawatir terhadap kemampuan dirinya.
Salah satu penyebab timbulnya sikap apatis pada anak boleh jadi akibat perlakuan dari orang yang terdekat dengan anak, orangtua. Orangtua yang selalu memberikan penjagaan atau perlindungan secara berlebihan dapat membuat anak menjadi semakin ketergantungan dan selalu berharap ada orang lain dapat membantunya.
Setiap orangtua ingin anak mereka tumbuh mandiri, tidak mendapatkan kesulitan terutama jika ia tidak berada disamping orangtuanya. Namun, semua harapan tersebut tidak akan terjadi secara instan. Anak membutuhkan bantuan dan dukungan dari orangtua untuk mengasah potensi dirinya agar ia menjadi optimis dan terampil melakukannya. Beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk menciptakan sikap optimis pada anak, di antaranya adalah;
- Mengajarkan anak agar selalu berusaha keras, yaitu dengan terus berlatih dan mencoba setiap sesuatu yang dianggapnya sulit, misalnya membuka kancing baju.
- Mendukung dengan kesabaran, tidak menjadi masalah jika anak melakukan sesuatu hal yang ia anggap sulit dalam waktu yang cukup lama. Berikan pujian atas usahanya dan hindarkan sikap negatif (marah atau memaksa anak).
- Memberikan kesempatan kepada anak sejak dini untuk dapat melakukan kebutuhannya sendiri. Berikanlah waktu kepada anak dengan tidak tergesa-gesa menolong segala kesulitannya.
- Memberikan keyakinan kepada anak bahwa ia pasti bisa atau mampu melakukannya sendiri dengan baik.
Demikian tips dari pengalaman saya membesarkan anak ketika anak sering memperlihatkan sikap apatis, selamat mencoba dan semoga berhasil dengan menyenangkan....
Sunday, 4 November 2007
Tidak Ada Anak 'Bodoh'
Anak yang memiliki nilai kurang dalam suatu mata pelajaran misalnya matematika atau bahasa, belum tentu ia 'kurang' dalam hal lain. Hindarkan tergesa-gesa mencap 'bodoh' pada anak. Menurut teori gardner 1983, pada diri anak terdapat kemampuan lain yang dapat digali oleh pendidik (orangtua dan guru) yaitu, kecerdasan bahasa, matematika, kinestetik, musik, spasial, intrapersonal, interpesonal, dan naturalis.
Di bawah ini adalah beberapa upaya yang dapat orangtua atau guru lakukan untuk menggali kemampuan kecerdasan anak, yaitu:
Di bawah ini adalah beberapa upaya yang dapat orangtua atau guru lakukan untuk menggali kemampuan kecerdasan anak, yaitu:
- Kecardasan Linguistik atau Bahasa
- Kenalkan anak pada buku-buku cerita bergambar.
- Bacakan dongeng dan suruh anak untuk mengulang isi dongeng terebut.
- Mintalah anak untuk menceritakan pengalamannya di sekolah atau tempat bermainnya. - Kecerdasan Logis Matematis
- Mengenalkan bentuk angka, penjumlahan dan pengurangan ringan misalnya berhitung dengan jari atau mainan angka
- Berikan anak permainan yang memerlukan pemikiran, seperti ular tangga
- Ajaklah anak melakukan eksperimen dengan benda padat seperti es bisa berubah menjadi air. - Kecerdasan Spasial
- Untuk melatih imajinasi anak, biasakan ia mendengarkan dongeng tanpa gambar misalnya di radio.
- Beri permainan yang dapat mengasah kecerdasan spasialnya seperti puzzle atau menggambar sesuai dengan minatnya.
- Latih anak ntuk membayangkan suatu benda dengan menutup matanya. - Kecerdasan Kinestetik Jasmani
- Libatkan dalam kegiatan atau pemainan yang membutuhkan aktivitas fisik seperti main tali, mengikat tali sepatu atau masukkan dalam klub olah raga.
- Latih gerak motoriknya misalnya melepas kancing pakaian,membentuk tanah liat dan membangun sesuatu dengan balok-balok. - Kecerdasan Musik
- Ajak anak untuk mengubah syair lagu.
- Menghafal lagu-lagu yang sesuai dengan usianya.
- Motivasi anak agar masuk klub musik.
- Perkenalkan dengan alat-alat musik tertentu. - Kecerdasan Interpersonal
- Agar tumbuh sikap empati ajaklah anak menengok keluarga yang terkena musibah.
- Mengajarkan utuk berbagi dengan saudara ataupun teman (misalnya makanan).
- Membangun kepercayaan diri anak misalnya dengan mengikutsertakan anak dalam berbagai lomba atau tampil di depan umum misalnya di ulang tahun temannya.
- Membiasakan anak untuk menyapa atau memberi salam pada orang lain terlebih dahulu. - Kecerdasan Intrapersonal
- Tanyakan sesering mungkin tentang perasaan anak anda jika ekspresi wajahnya terlihat berubah.
- Berikan pekerjaan yang bisa dikerjakan sendiri oleh anak misalnya mewarnai gambar atau merapikan piring-piring plastik.
- Bimbing anak agar mengenali dirinya sendiri seperti menggambar wajah tentang kondisi perasaannya (wajah sedih, gembira, marah). - Kecerdasan Naturalis (Alam)
- Aja anak untuk elakukan kegiatan di luar rumah seperti berkebun, menyiram tanaman, melihat serangga.
- Kenalkan benda-benda alam yang ada di sekitarnya seperti batu, daun atau nama berbagai jenis tanaman).
- Biarkan anak memelihara binatang seperti kucing, hamster (semacam marmut), ikan, kura-kura.
- Ajaklah anak untuk menonton film flora dan fauna.
Saturday, 3 November 2007
Mengapa Anak Membangkang?
Membangkang adalah salah satu bentuk penolakan yang dilakukan anak terhadap perintah dan panggilan yang ia tidak sukai. Dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa hal yang dapat menimbulkan penolakan anak Anak membangkang), yaitu ketika panggilan atau perintah dilakukan kepada anak yang sedang dalam kondisi serius atau asyik dengan kegiatannya (nonton TV dan bermain game), anak yang memang tidak memahami perintah atau permintaan orang lain pada dirinya, dan ada juga penolakan terjadi dalam bentuk pengendalian emosi pada anak yang sedang menghadapi pencarian jati dirinya (Abubakar Baraja, 2007).
Bentuk penolakan atau pembangkangan yang dilakukan anak dapat diperlihatkan dalam beberapa sikap, di antaranya adalah dengan cara membanting pintu, cemberut, menyentak-nyentakkan kaki, diam atau tidak bereaksi ketika dipanggil, dan cuek ketika sedang diajak bicara. Perilaku penolakan anak seperti tersebut sering menimbulkan perasaan orang lain menjadi ingin marah, menyerang, dan memaksa agar ia melakukan apa yang diperintahkan olehnya.
Orangtua bijaksana tentu tidak akan menanggapi penolakan anak dengan spontan dan tergesa-gesa. Timbulnya perdebatan dan pertentangan di luar kendali akibat penolakan yang dilakukan anak akan membuat situasi semakin tegang dan dapat membahayakan, terutama jika terjadi kontak fisik/kekerasan antara orangtua dengan anak.
Bersikaplah tenang dalam menghadapi penolakan anak, dengan demikian orangtua dapat memahami latar belakang yang menyebabkan anak membangkang atau menolak panggilan dan perintah.
Ada kemungkinan anak menolak perintah atau panggilan orangtua karena ia ingin mendapatkan perhatian, menginginkan sentuhan yang dapat membuatnya merasa tentram dan dimengerti (pelukan, ciuman, dan usapan kepala yang penuh kehangatan), anak sedang marah kepada orangtua karena sesuatu yang ia inginkan tidak dipenuhi, atau mungkin saja penolakan yang ia lakukan hanya sekedar meniru perilaku penolakan seseorang.
Menciptakan suasana yang menyenangkan dengan cara mengganti ucapan yang bernada perintah maupun paksaan menjadi sebuah ’ajakan’ tentu akan lebih menyenangkan. Dengan demikian, anak akan merasa senang melakukan apa yang menjadi harapan dan keinginan orangtuanya dan iapun akan merasa nyaman menerima kehadiran orangtuanya.
Memahami kondisi anak dengan cara pendekatan yang menyenangkan dan sentuhan fisik yang penuh kelembutan sebelum memerintah atau memanggilnya, dapat mengurangi konflik atau ketegangan di antara orangtua dengan anak. (selamat mencoba, semoga sukses..:)).
Bentuk penolakan atau pembangkangan yang dilakukan anak dapat diperlihatkan dalam beberapa sikap, di antaranya adalah dengan cara membanting pintu, cemberut, menyentak-nyentakkan kaki, diam atau tidak bereaksi ketika dipanggil, dan cuek ketika sedang diajak bicara. Perilaku penolakan anak seperti tersebut sering menimbulkan perasaan orang lain menjadi ingin marah, menyerang, dan memaksa agar ia melakukan apa yang diperintahkan olehnya.
Orangtua bijaksana tentu tidak akan menanggapi penolakan anak dengan spontan dan tergesa-gesa. Timbulnya perdebatan dan pertentangan di luar kendali akibat penolakan yang dilakukan anak akan membuat situasi semakin tegang dan dapat membahayakan, terutama jika terjadi kontak fisik/kekerasan antara orangtua dengan anak.
Bersikaplah tenang dalam menghadapi penolakan anak, dengan demikian orangtua dapat memahami latar belakang yang menyebabkan anak membangkang atau menolak panggilan dan perintah.
Ada kemungkinan anak menolak perintah atau panggilan orangtua karena ia ingin mendapatkan perhatian, menginginkan sentuhan yang dapat membuatnya merasa tentram dan dimengerti (pelukan, ciuman, dan usapan kepala yang penuh kehangatan), anak sedang marah kepada orangtua karena sesuatu yang ia inginkan tidak dipenuhi, atau mungkin saja penolakan yang ia lakukan hanya sekedar meniru perilaku penolakan seseorang.
Menciptakan suasana yang menyenangkan dengan cara mengganti ucapan yang bernada perintah maupun paksaan menjadi sebuah ’ajakan’ tentu akan lebih menyenangkan. Dengan demikian, anak akan merasa senang melakukan apa yang menjadi harapan dan keinginan orangtuanya dan iapun akan merasa nyaman menerima kehadiran orangtuanya.
Memahami kondisi anak dengan cara pendekatan yang menyenangkan dan sentuhan fisik yang penuh kelembutan sebelum memerintah atau memanggilnya, dapat mengurangi konflik atau ketegangan di antara orangtua dengan anak. (selamat mencoba, semoga sukses..:)).
Friday, 2 November 2007
Menghadapi Pertengkaran Anak
Terjadinya proses pesahabatan dan pertengkaran merupakan bukti bahwa manusia adalah makhluk sosial. Keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat sosial, oleh sebab itu apabila sesekali terjadi pertengkaran di antara anggota keluarga (kakak-beradik) adalah wajar, asal tidak berlebihan.
Pertengkaran di antara kakak-beradik dapat terjadi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah sikap saling meremehkan dan mengejek, memperebutkan wilayah atau kepemilikkan, ketika suasana hati yang buruk, dan berebut untuk memenangkan suatu persaingan (Don Fleming, 2007).
Di dalam keluarga, ada kalanya pertengkaran di antara kakak-beradik berawal dari sebuah gurauan sekedar bercanda. Cara bercanda anak-anak ada yang lebih menyukai dalam bentuk perkataan seperti saling ledek atau saling ’mengata-ngatai sesuatu’ dan ada juga yang suka usil dengan saling melempar atau menggelitik. Situasi anak seperti tersebut tidak jarang membuat orangtua merasa khawatir jika pada akhirnya terjadi pertengkaran yang membuat suasana menjadi ribut dan kacau.
Apabila pertengkaran di antara mereka benar-benar terjadi, orangtua harus berhati-hati dalam bersikap. Campur tangan orangtua yang tidak tepat seperti melakukan pembelaan pada salah satu di antara mereka boleh jadi menimbulkan rusaknya hubungan di antara kakak-beradik. Anggapan anak bahwa orangtua telah bersikap pilih kasih dalam bertindak dapat menimbulkan rasa iri/cemburu dan bersaing tidak sehat untuk mendapatkan perhatian lebih dari orangtua.
Memberikan kesempatan kepada anak-anak dengan membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri adalah salah satu pelajaran yang baik bagi anak untuk belajar bagaimana bernegosiasi, menghadapi dan menyelesaikan masalah yang terjadi.
Tetapi, apabila pertengkaran yang terjadi sudah di luar kendali, seperti saling memukul, menggigit, menendang dan saling menjambang, turut campur tangan orangtua tentu sangat dibutuhkan, karena situasi sudah membahayakan.
Pertengkaran di antara kakak-beradik dapat terjadi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah sikap saling meremehkan dan mengejek, memperebutkan wilayah atau kepemilikkan, ketika suasana hati yang buruk, dan berebut untuk memenangkan suatu persaingan (Don Fleming, 2007).
Di dalam keluarga, ada kalanya pertengkaran di antara kakak-beradik berawal dari sebuah gurauan sekedar bercanda. Cara bercanda anak-anak ada yang lebih menyukai dalam bentuk perkataan seperti saling ledek atau saling ’mengata-ngatai sesuatu’ dan ada juga yang suka usil dengan saling melempar atau menggelitik. Situasi anak seperti tersebut tidak jarang membuat orangtua merasa khawatir jika pada akhirnya terjadi pertengkaran yang membuat suasana menjadi ribut dan kacau.
Apabila pertengkaran di antara mereka benar-benar terjadi, orangtua harus berhati-hati dalam bersikap. Campur tangan orangtua yang tidak tepat seperti melakukan pembelaan pada salah satu di antara mereka boleh jadi menimbulkan rusaknya hubungan di antara kakak-beradik. Anggapan anak bahwa orangtua telah bersikap pilih kasih dalam bertindak dapat menimbulkan rasa iri/cemburu dan bersaing tidak sehat untuk mendapatkan perhatian lebih dari orangtua.
Memberikan kesempatan kepada anak-anak dengan membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri adalah salah satu pelajaran yang baik bagi anak untuk belajar bagaimana bernegosiasi, menghadapi dan menyelesaikan masalah yang terjadi.
Tetapi, apabila pertengkaran yang terjadi sudah di luar kendali, seperti saling memukul, menggigit, menendang dan saling menjambang, turut campur tangan orangtua tentu sangat dibutuhkan, karena situasi sudah membahayakan.
Thursday, 1 November 2007
Membesarkan Anak Laki-laki
Kita percaya bahwa pada umumnya setiap orangtua tentu mengharapkan anak laki-lakinya tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa yang baik. Sikap percaya diri, bertanggung jawab, penuh cinta, dapat menghormati wanita, tidak kasar, kreatif, tekun dalam melakukan sesuatu sampai tuntas, dan selalu mendatangkan rasa aman, adalah beberapa gambaran sosok laki-laki dewasa yang pada umumnya menjadi dambaan kaum hawa.
Memiliki gambaran mengenai jenis laki-laki seperti apa yang diharapkan orangtua dari anak laki-laki mereka kelak, merupakan sebuah langkah baik dalam membesarkan anak laki-laki agar ia dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan orangtua dan masyarakat pada umumnya.
Sebagai upaya membantu anak agar dapat tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang baik, ada beberapa hal yang dibutuhkan oleh anak dari orangtuanya, yaitu:
Anak laik-laki yang tidak memiliki figur ayah dalam hidupnya, biasanya akan lebih tertarik oleh tokoh-tokoh ‘hipermaskulin’ seperti dalam film, komik dan games. Sedangkan anak laki-laki yang memiliki figur ayah dalam hidupnya akan cenderung
memiliki sikap lebih tenang, komunikatif, dan lebih percaya diri.
Memiliki gambaran mengenai jenis laki-laki seperti apa yang diharapkan orangtua dari anak laki-laki mereka kelak, merupakan sebuah langkah baik dalam membesarkan anak laki-laki agar ia dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan orangtua dan masyarakat pada umumnya.
Sebagai upaya membantu anak agar dapat tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang baik, ada beberapa hal yang dibutuhkan oleh anak dari orangtuanya, yaitu:
- Anak membutuhkan ayah atau pengganti ayah sebagai figur/teladan dalam hidupnya.
Anak laik-laki yang tidak memiliki figur ayah dalam hidupnya, biasanya akan lebih tertarik oleh tokoh-tokoh ‘hipermaskulin’ seperti dalam film, komik dan games. Sedangkan anak laki-laki yang memiliki figur ayah dalam hidupnya akan cenderung
memiliki sikap lebih tenang, komunikatif, dan lebih percaya diri.
- Anak laki-laki perlu belajar untuk bersikap hormat/menghargai kaum wanita (anak perempuan).
- Anak laki-laki perlu belajar untuk mengerjakan suatu pekerjaan dan mampu mengurus dirinya sendiri.
- Anak laki-laki perlu bantuan menumbuhkan sikap menyayangi dan mencintai.
Subscribe to:
Posts (Atom)
