Wednesday, 31 October 2007

Solusi Pengasuhan Anak Untuk Orangtua 'Sibuk'

Di lingkungan kita, tidak semua orangtua mampu dan mempunyai waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak dengan tangan mereka sendiri. Sebagian orangtua, terutama bagi mereka yang tidak memiliki pilihan lain kecuali harus tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup, menjadi orangtua tunggal, dan mempunyai anak kecil lagi atau anak yang lainnya ’sakit’ keberadaan tempat penitipan anak dan jasa baby sitter tentu akan sangat terasa manfaatnya.


Namun demikian, sebelum orangtua memutuskan siapa yang akan menjadi pengasuh anak, sebaiknya orangtua mempertimbangkan terlebih dahulu kualitas pengasuhan yang akan diberikan kepada anak kita, setidaknya dapat menyerupai pengasuhan orangtua kepada anak. Dengan demikian, selama orangtua tidak ada di samping anak, ia akan tetap merasa tenang, aman dan nyaman.


Menyerahkan tugas pengasuhan anak kepada pihak lain tentu akan menimbulkan dampak positif dan negatif baik kepada anak maupun kita sebagai orangtuanya. Di bawah ini adalah beberapa hal yang mungkin terjadi (dampak positif dan negatif) beserta solusi yang dapat orangtua lakukan apabila pengasuhan anak diserahkan kepda pihak lain, yaitu:


Dampak yang mungkin timbul jika pengasuhan oleh baby sitter (Pengasuh pengganti di rumah) yang baik dan dapat dipercaya.

Positif untuk anak:
Anak akan cepat beradaptasi dengan pengasuhnya dan merasa tenang bersamanya.
Positif untuk orangtua:
Orangtua akan merasa cukup tenang ketika menitipkan anak mereka kepadanya.
Negatif untuk anak:
Anak akan merasa sedih, kehilangan dan frustrasi ketika pengasuhnya pulang tidak kembali.
Negatif untuk orangtu:
Baby sitter yang baik dapat merusak hubungan ibu/orangtua dengan anak. Anak akan lebih memilih ingin selalu dekat dengan pengasuhnya daripada orangtuanya.
Solusinya:
Orangtua harus dapat menyeimbangkan waktu pengasuhan kepada anak (ibu, ayah, baby sitter memiliki waktu yang seimbang dalam mengasuh anak).


Dampak yang mungkin timbul jika pengasuhan anak di serahkan ke tempat penitipan anak (sejak usia anak sebelum satu tahun).
Positif untuk anak:
Anak menjadi lebih mudah menyesuaikan diri (hal sosial), mandiri, dan kreatif.
Positif untuk orangtua:
Orangtua mempunyai waktu lebih leluasa untuk mengerjakan hal lain.
Negatif untuk anak:
Apabila anak terlalu lama dibesarkan di tempat penitipan anak, biasanya ia cenderung memperlihatkan gejala-gejala yang memprihatinkan seperti menarik diri dan menghindar untuk bertemu dengan figur ibu, sikap agresif yang meningkat (kecenderungan anak memukul, menyumpah, berkelahi), Sikap tidak mau patuh/menentang perintah atau permintaan orang-orang dewasa, dan tidak mau berbagi (Steve Biddulph, 2006).
Negatif untuk orangtua:
Anak yang memiliki sikap negatif yang terbawa sampai ia dewasa, akan membuat orangtua ’menderita’.
Solusiya:
Memilih tempat penitipan yang berkualitas dan profesional, baik dari sisi tempat maupun pelayanan petugasnya.


Akhirnya, agar kebutuhan anak dan keluarga dapat terpenuhi dengan baik dan optimal, orangtua harus sungguh-sungguh memperhatikan dan mempertimbangkan kepada siapa pengasuhan anak akan diserahkan. Jika orangtua memutuskan untuk menyerahkan tugas pengasuhan anak kepada tempat penitipan anak, orangtua perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
  • Pilih penitipan yang cukup luas dan resmi.
  • Utamakan tempat penitipan anak yang memiliki petugas tetap (tidak gonta-ganti). P
  • Petugas yang terlatih secara profesional.
  • Ruang bermain beserta aneka ragam perlengkapannya yang aman.
  • Aktivitas yang terencana.
  • Memperhatikan perbandingan jumlah petugas dengan jumlah anak-anak.
  • Kondisi toilet yang selalu terjaga (bersih dan aman).

Namun, apabila orangtua akan menyerahkan pengasuhan mereka kepada Baby sitter (pengasuh pengganti di rumah), orangtua harus betul-betul mengenalnya secara pribadi dan memilih orang yang dapat dipercaya agar anak dan orangtua merasa aman dan tenang.

Tuesday, 30 October 2007

Percaya Diri Membuat Orangtua Bahagia

Sungguh tidak mudah melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Seseorang harus rela mengorbankan waktu untuk hobinya (membaca, nonton, jalan bersama teman), mencapai karier yang lebih tinggi dan bahkan terkadang harus bekerja 24 jam setiap hari (ketika anak masih bayi atau sakit).

Bekerja di rumah memang sering mendatangkan rasa bosan dan kesepian, terutama bagi seseorang yang tidak siap melakukannya. Jenis pekerjaan yang sama dan berulang setiap hari harus ia lakukan, mulai merawat isi rumah sampai mengasuh dan mendidik anak.

Namun jangan khawatir, ada pekerjaan di rumah yang menjanjikan upah yang tak ternilai harganya. Kesempatan itu adalah berhubungan dengan anak. Pekerjaan mengasuh dan mendidik anak dengan cara yang terbaik dapat memberikan banyak manfaat dan kebahagiaan bagi orangtua ketika mereka di dunia maupun di akhirat nanti. Ilmu, niat yang tulus, kesabaran dan kesungguhan dapat membantu anak tumbuh menjadi seseorang yang ‘berkualitas baik’.

Ada alasan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri seseorang ketika ia harus tinggal di rumah bersama anak-anak yang masih kecil, yaitu dengan cara menonjolkan ‘sikap positif aku’ (aku mau semuanya untukku, akulah yang terbaik, akulah orang yang paling hati-hati, dan aku ‘menceburkan diri’ (Steve Biddulph,2002)). Maksud dari ‘sikap positif aku’ tersebut adalah:
  1. Aku mau semuanya untukku, orangtua perlu menyadari bahwa sungguh keputusan yang merugikan jika menyerahkan pengasuhan anak yang masih kecil kepada pihak lain. Orang lain yang mendapatkan perhatian dari anak, menyaksikan kecerdasan anak kita, melihat yang pertama kalinya anak dapat berbicara dan berjalan, sementara kita sebagai orangtua harus pontang-panting mencari uang untuk membayar mereka (pengasuh pengganti).
  2. Akulah yang terbaik, orangtua perlu memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam mengasuh anak. Tidak akan ada yang dapat menggantikan posisi orangtua di mata anak. Cinta, perhatian, dan kasih sayang yang tulus kepada anak hanya dapat diperoleh dari orangtua.
  3. Akulah orang yang paling hati-hati, Orangtua tentu lebih mengetahui bagaimana menjaga anak mereka agar selalu aman, melindungi anak dari perlakuan kasar, dan menjaga perasaan anak. Bersama orangtua anak akan aman.
  4. Aku ’menceburkan diri’, mengasuh anak berarti kita akan mengetahui setiap perkembangannya. Bersama anak orangtua dapat saling memberi perhatian dan kasih sayang. Orangtua yang bekerja di rumah mengasuh anak memiliki keleluasaan mengatur waktu dan irama kerja sendiri.

Monday, 29 October 2007

Berilah Aku Cinta dan Kasih Sayang....

Desakkan ekonomi, status menjadi orangtua tunggal, keinginan orangtua untuk terus meningkatkan karier, dan orangtua yang memang merasa tidak percaya diri dalam membesarkan dan mendidik anak menjadi beberapa alasan penyebab orangtua menyerahkan tugas pengasuhan anak ke pihak lain, yaitu tempat penitipan anak dan baby sitter/pengasuh pengganti di rumah.


Dalam kalangan tertentu, menyerahkan tugas pengasuhan anak kepada pihak lain dipandang sebagai tren orangtua modern yang sukses. Para orangtua seperti itu tidak jarang beranggapan bahwa dengan menyerahkan tugas pengasuhan anak ke tempat penitipan yang bergengsi atau memberikan baby sitter yang terampil, berarti orangtua telah menyenangkan dan melakukan yang terbaik bagi anak-anak mereka.


Perlu orangtua pahami, pada dasarnya kebutuhan anak yang paling mendasar bukan hanya pakaian dan makanan saja, tetapi juga curahan cinta dan kasih sayang yang penuh kehangatan.


Kebutuhan akan cinta dan kasih sayang yang penuh kehangatan dan tulus tidak mungkin anak dapatkan seutuhnya dari pihak lain (orang dewasa di tempat penitipan anak atau baby sitter). Di tempat penitipan anak, biasanya satu orang dewasa menangani lima anak atau lebih, semua anak berebut perhatian dan kasih sayang dari orang dewasa yang ada di tempat penitipan anak tersebut. Sedangkan sebagian para pengasuh pengganti, biasanya hanya sebatas menjalankan tugas ‘agar anak tidak menangis’ dan sisanya adalah fokus pada kepentingan pokoknya yaitu ‘mendapatkan materi’.


Raga anak bisa dilindungi agar tetap aman, pikiran anak bisa terus disibukkan, tetapi kebutuhan yang lebih mendalam dan halus tidak dapat dipenuhi kecuali oleh seseorang yang punya komitmen sangat kuat dan langgeng terhadap mereka/anak-anak yaitu orangtua (Steve Biddulph, 2002).

Anak adalah harapan dan harta yang paling berharga dari semua kekayaan yang orangtua miliki. Oleh karena itu, utamakanlah pengasuhan dan pendidikannya, sebab pola asuh yang salah dapat berakibat buruk bagi anak maupun kita sebagai orangtuanya di masa sekarang atau masa yang akan datang.

Sunday, 28 October 2007

Agar Anak Tidak Berbohong

Lucu rasanya mendengarkan anak kecil bila sedang bercerita. Gaya bicaranya yang polos dan penuh antusias tidak jarang membuat orangtua sulit membedakan antara cerita fakta, fantasi atau cerita bohong.


Pada anak-anak usia enam hingga sembilan tahun, sebagian dari mereka masih ada yang belum dapat membedakan mana cerita nyata dan mana cerita fantasi (khayalan). Kadang-kadang anak membicarakan sesuatu berdasarkan imajinasinya dan menganggap bahwa yang diceritakannya tersebut adalah memang benar-benar terjadi.


Mengajarkan anak untuk dapat membedakan mana yang termasuk cerita nyata dan mana cerita khayalan sejak dini dapat membantu anak mengatakan sesuatu dengan jujur. Sebenarnya, tidak semua anak bermaksud untuk berkata bohong ketika ia sedang menceritakan sesuatu (Rini Utami Aziz, 2006), ada beberapa alasan utama anak berbohong baik ia sadari maupun tidak, yaitu:

  • Dusta putih, anak berbohong karena mengkhayal secara berlebihan, sang anak menganggap ceritanya benar-benar terjadi.
  • Imitasi Kebohongan, anak berdusta karena meniru kebiasaan orang tua atau orang-orang terdekatnya yang suka berbohong.
  • Berbohong karena haus pujian, jika kebutuhan akan pujian tidak terpenuhi maka sang anak akan berusaha berbohong).
  • Berbohong karena takut hukuman, contohnya anak terjebak ketika sedang mengambil kue tanpa permisi.
Apabila orangtua sering mendapatkan anaknya berbohong, bantulah dia untuk belajar selalu berkata jujur, yaitu:
  1. Menanamkan sifat jujur kepada anak perlu contoh (model), tentunya harus diawali oleh setiap individu yang terdekat dengan anak, orangtua dan saudara lain. Berusahalah untuk selalu bersikap jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan, sebab anak selalu mencontoh dari apa yang ia lihat dan ia dengar.
  2. Yakinkanlah kepada anak bahwa orangtua akan selalu mencintai dan menyayangi dia apa adanya, dan biarkan anak mengetahui bahwa orangtua akan lebih bahagia mendengar cerita walaupun kurang berkesan.
  3. Hindarkan memberikan hukuman yang berat kepada anak karena dapat menimbulkan rasa takut sehingga mendorongnya untuk berbohong.
Orangtua perlu memahami bahwa anak butuh waktu untuk belajar supaya menjadi benar. Bantulah dia mengembangkan sifat jujurnya dengan menjadi model terbaik baginya.

Saturday, 27 October 2007

Menangani Anak Ngompol

Anak yang sering ngompol memang membuat repot orang dewasa. Tidak jarang orang dewasa merasa kesal dan kehabisan kesabarannya karena terganggu oleh anak ngompol. Kalau sudah begitu, biasanya anak menjadi sasaran omelan dan kemarahan orang dewasa. Sikap seperti itu tentu tidak bijaksana dan harus segera dihindarkan, sebab dengan sikap tersebut tidak akan menyelesaikan masalah, sebaliknya membuat anak akan merasa tertekan dan semakin sulit untuk mengontrol kencingnya.


Penyebab sulitnya anak mengontrol kencing, ada kemungkinan bukan hanya karena masalah disiplin antara orangtua dengan anak saja, tetapi mungkin juga karena anak memiliki kelainan pada saluran kencing atau infeksi ginjal. Apabila anak berusia lebih dari tiga tahun masih sulit mengontrol kencing (umumnya anak sudah terampil menggunakan toilet dari sejak usia dua sampai tiga tahun), ada baiknya orangtua mengkonsultasikan hal ini dengan dokter.


Namun, apabila secara medis anak dinyatakan normal, hal yang paling penting dilakukan orangtua adalah dengan memberikan sikap positif kepada anak, yaitu:

  1. Memperhatikan perasaan anak. Tidak menyalahkan, mempermalukan, dan mengejek terhadap sesuatu yang anak tidak/belum mampu mengontrolnya (Mathew Huge,2007).
  2. Mengajarkan anak bagaimana menggunakan toilet, tentunya harus dengan kesabaran dan dilakukan secara konsisten.
  3. Mengingatkan dan mengajak anak ke toilet (coba setiap satu jam dan selanjutnya tambahkan waktunya, biasakan anak ke toilet sebelum dan sesudah tidur).
  4. Memotivasi anak dengan memberikan keyakinan bahwa dengan kesungguhan yang besar, ia pasti dapat mengontrol kencing (dapat berhenti dari ngompol).
  5. Sebelum anak dapat berhenti ngompol, upayakan untuk selalu membungkus kasur dengan plastik atau sejenisnya dan menyediakan baju ganti agar mudah menanganinya.

    Semoga niat dan sikap positif orangtua kepada anak yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, pada akhirnya dapat membantu anak tumbuh tanpa ngompol lagi. Amin

Friday, 26 October 2007

Memahami Anak yang Tidak Suka Bergabung

Dari beberapa kepribadian yang dimiliki oleh anak (pendiam, cepat marah, penyabar, agresif), ada sebagian anak yang cenderung tenang dan lebih bahagia dalam kesendiriannya daripada bermain berkelompok bersama teman-temannya.


Tentu bagi sebagian orangtua kondisi anak seperti di atas akan membuat mereka merasa khawatir. Masyarakat umum biasanya akan menilai bahwa anak yang tidak suka bergabung adalah anak yang bermasalah atau menganggap ada sesuatu yang salah pada diri sang anak.


Namun, orangtua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Seseorang tidak selalu dapat dikatakan baik, cerdas atau wajar bila melakukan sesuatu tindakan yang sama seperti anak-anak lainnya.


Menurut Gardner, 1983 dengan teorinya tentang kecerdasan majemuk, ada 8 kecerdasan anak selain kecerdasan yang dinilai dari sisi IQ, salah satunya adalah kecerdasan intrapersonal. Anak yang memiliki tipe ini lebih memilih dalam kesendirian dan lebih memahami tentang kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sendiri.


Para ahli psikologi percaya bahwa anak-anak yang tidak bergabung dengan kelompok tertentu sering berhasil menjadi orang yang sangat kreatif. Anak-anak ini sering menjadi seseorang yang maju saat dewasa nanti yaitu ketika kegiatan yang ia senangi menjadi lebih sesuai dengan kepribadiannya.


Di bawah ini ada beberapa langkah yang dapat orangtua lakukan bila anak cenderung lebih bahagia sendiri (tidak suka bergabung dalam kelompok), yaitu:

  1. Berikan dorongan atau motivasi kepada anak untuk mencoba bergabung dengan teman-temannya. Bisa jadi anak lebih memilih untuk sendiri karena ia merasa ragu-ragu atau tidak berani untuk memulai mendekatkan diri dengan teman-temannya.
  2. Orangtua dapat mencoba untuk mengkondisikan anak supaya dapat bergabung dengan teman-temannya, misalnya mengundang anak-anak lain untuk bermain di rumah atau mengajak anak-anak lain untuk jalan-jalan dan bermalam di rumah. Biasanya kehadiran orangtua dapat membuat anak merasa nyaman.
  3. Bila tahap 1 dan 2 telah dicoba, tetapi anak masih tetap memilih lebih bahagia sendiri, hindarkan untuk memaksakan kehendak. Mungkin saja anak lebih tahu apa yang lebih mereka butuhkan daripada yang kita tahu.

Setelah melaksanakan langkah-langkah di atas, ada baiknya orangtua memberikan dukungan dengan memfasilitasi anak sesuai dengan hobi atau kegiatan yang anak sukai, misalnya dengan mendaftarkan anak ke tempat kursus menunggang kuda, bermain gitar, atau menyediakan alat-alat keterampilan lainnya sehingga dalam mengisi waktu 'kesendiriannya' anak akan terus mengembangkan kreatifitasnya.

Thursday, 25 October 2007

Adil Bersama Orangtua Bijaksana

Sebagai orangtua tentu ingin selalu bersikap adil kepada semua anak. Namun, bersikap adil dengan selalu memberikan sesuatu yang sama tentu akan sulit.


Dalam situasi sehari-hari, ada sebagian orangtua yang lebih dekat dengan anak perempuannya daripada anak laki-lakinya, orangtua merasa bahwa anak perempuan mereka lebih dewasa dalam bertindak dan sering membantu pekerjaan orang tua. Tetapi sebaliknya, ada juga orangtua yang lebih senang kepada anak laki-laki karena ia dianggap lebih rajin belajar dan bertanggung jawab. Perasaan orangtua seperti itu adalah normal, hanya tentu tidak bijaksana jika orangtua tersebut menuruti semua perasaannya. Cinta, perhatian, curahan kasih sayang dan kedekatan orangtua adalah hak semua anak untuk mendapatkannya. Setiap anak memerlukan hubungan positif dengan orangtuanya.


Bersikap adil dengan bijaksana bukan berarti orangtua harus memberikan sesuatu dalam jumlah, bentuk, dan waktu yang sama kepada semua anak. Bersikap adil dengan bijaksana adalah memenuhi kebutuhan anak-anak sesuai dengan keperluannya masing-masing pada saat anak-anak membutuhkannya. Contoh kasus, orangtua akan membelikan sepatu kepada salah satu anak karena sepatu lamanya sudah rusak dan tidak layak pakai, tidak seharusnya orangtua membelikan sepatu juga kepada anak yang lain (kakaknya atau saudara yang lain)) sepatu baru jika sepatu mereka masih bagus untuk dipakai. Dalam kasus ini, orangtua lebih baik membelikan barang dalam bentuk yang lain sesuai dengan kebutuhan anak (kakak atau saudara lainnya) pada saat itu, misalnya membelikan tas baru atau alat tulis karena memang sedang membutuhkannya.


Merupakan salah satu upaya orangtua untuk mengurangi jenis persaingan di antara anak-anak, orangtua harus fokus pada keunikan dari masing-masing anak (Mathew Huge M.Ed., 2007). Maksudnya adalah bahwa orangtua harus menghindarkan sikap membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan anak lainnya dan tetap berusaha untuk selalu mengetahui kebutuhan utama yang sedang diperlukan oleh anak.


Pada umumnya, anak-anak komplain dan merasa diperlakukan tidak adil oleh orangtua jika ia sedang menghadapi kesulitan, merasa tidak diperhatikan dan sedikit disepelekan oleh orangtua. Situasi akan membaik apabila orangtua dapat segera memahami dan memenuhi kebutuhan yang sedang diperlukan anak yang sedang komplain. Pastikan kepada anak-anak dengan kata-kata dan tindakan bahwa orangtua sangat mencintai mereka.


Apabila sang anak komplain, merasa orangtuanya tidak fair, tidak mempehatikan, dan tidak mencintainya lagi maka fokus pada kebutuhan individu (memberikan pelukan dan perhatian) adalah cara yang paling tepat untuk membuat anak tersebut percaya bahwa orangtua selalu berusaha untuk bersikap adil.

Wednesday, 24 October 2007

Penting Bernegosiasi dengan Anak

Masih ada sebagian orangtua yang merasa enggan untuk bernegosiasi dengan anak. Sifat egois orangtua yang menganggap diri selalu benar dalam menilai dan kecenderungan orangtua yang selalu menganggap remeh pendapat anak merupakan sifat buruk yang perlu dihindarkan.


Biasanya, salah satu cara cepat orangtua menghentikan bernegosiasi dengan anak adalah dengan mengucapkan kata ‘Tidak’ atau ‘Sudahlah, pokoknya….’ dengan tegas. Orangtua tidak mau memberikan kesempatan kepada anak untuk ‘bersuara’, seperti menyampaikan keinginan, ide, harapan, dan pendapatnya).


Sejatinya, setiap anak di dalam keluarga berhak untuk bersuara (Mathew Huge M.Ed, 2007). Anak adalah mitra dalam keluarga, ia perlu diikut sertakan dalam pembuatan keputusan terutama yang memiliki dampak terhadapnya. Segala peraturan dan konflik jika dilakukan dengan cara bernegosiasi akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.


Anak-anak maupun orang dewasa apabila terlalu dikontrol atau tidak didengar ‘suaranya’, biasanya akan melawan dengan berbagai cara. Bagi anak mungkin ia akan melawan dengan melupakan, membantah atau tidak mematuhi peraturan yang dibuat oleh orangtuanya.

Perlu orangtua pahami bahwa pada umumnya, apabila seseorang sudah setuju dengan sesuatu peraturan sejak awal, yaitu dengan mengajaknya bernegosiasi terlebih dahulu, biasanya ia jarang sekali menentangnya. Untuk itu, apabila orangtua menginginkan anaknya melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diharapkan, bernegosiasi dengan anak merupakan solusi yang lebih baik.

Tuesday, 23 October 2007

Ringkasan buku: Menghadapi Anak di Saat Sulit, karya Dr. Benyamin Spock

Buku ini membahas tentang bagaimana orangtua menghadapi anak-anak yang memiliki kepribadian dan karakteristik yang berbeda-beda (penurut atau pemberontak) dan bagaimana cara menghadapi anak ketika dalam keadaan sulit seperti bagaimana cara mengontrol anak dan memperlakukan anak dengan hormat.

Penulis berpendapat bahwa di dalam setiap keluarga terdapat berbagai metoda yang berbeda dalam membimbing dan mendidik setiap anak. Ia percaya bahwa hasil bimbingan yang sama belum tentu menghasilkan sesuatu hasil yang sama.


Buku ini membahas juga tentang beberapa hal yang dapat mempengaruhi kepribadian anak, yaitu:

  • Bagaimana menciptakan sikap saling percaya dan pengertian yang tinggi dengan pendekatan kasih sayang dan menyediakan waktu luang berkualitas bersama anak.
  • Menghindarkan sikap orangtua yang terlalu berharap agar anaknya menjadi seseorang yang konformis (mudah menyesuaikan diri) atau konservatif murni, atau menjadi seseorang yang non konformis/radikal murni. Sikap orangtua tersebut dapat membuat anak menjadi kurang fleksibel dan merasa hidup tidak membuatnya bahagia.
  • Bagaimana orangtua meminta tolong kepada anak dengan hormat sehingga anak merasa dihargai dan dapat bersikap lebih dewasa.

Monday, 22 October 2007

Tips Berkomunikasi yang Baik dengan Anak

Berkomunikasi yang baik perlu adanya interaksi antara pembicara dengan lawan bicara. Maksudnya, penyampaian ide, saran atau gagasan tidak hanya dilakukan sepihak saja, begitu juga halnya ketika orangtua melakukan komunikasi dengan anak. Orang tua tidak hanya menyampaikan nasehat dan saran tanpa memberikan kesempatan berbicara kepada anak tetapi orangtuapun harus memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara, orang tua berperan sebagai pendengar. Di bawah ini adalah tips berkomunikasi dengan anak, yaitu,

  1. Bekomunikasilah secara empatik, maksudnya orang tua memahami anak berdasarkan sudut pandang anak dan apa yang dirasakan anak.
  2. Berkomunikasi secara responsif, artinya berkomunikasi dengan pikiran yang tenang dan menghindari sikap emosional dan impulsif.
  3. Terbuka dan saling percaya (tidak menghakimi anak)
    Mendengarkan secara aktif (sungguh-sungguh dengan memberikan umpan balik kepada anak yang baik)

Sunday, 21 October 2007

Menghindari Tindakan Over-protektif terhadap Anak

Anak yang dibesarkan dengan limpahan kasih sayang akan mampu membahagiakan orang yang ada di sekelilingnya dan dirinya sendiri. Sikap kasih yang terpancar dari diri anak adalah refleksi dari orang yang terdekat dengannya, orangtua.


Namun, apakah semua tindakan orangtua bisa dianggap sebagai bentuk kasih sayang? Tentunya ada sebagian tindakan orangtua yang terkadang membuat anak menjadi merasa bosan, kesal dan berontak. Hal ini terjadi terutama bagi orangtua yang over-protektif kepada anak. Mereka cenderung selalu khawatir terhadap tindakan yang dilakukan sang anak, misalnya khawatir anak terluka atau terjatuh. Orangtua sering mengeluarkan kalimat yang bernada melarang, memperingatkan, dan mengatur kepada anak.


Pada dasarnya, melarang, memperingatkan, dan membimbing anak memang harus dilakukan oleh orangtua agar anak dapat memahami sikap disiplin dan mampu membedakan mana yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Namun, tindakan orangtua tersebut tentu tidak perlu dilakukan secara berlebihan atau bahkan membuat situasi menjadi tegang antara orangtua dengan anak.


Dengan pendekatan kasih sayang dan lemah lembut, misalnya dengan cara membujuknya dan langsung memindahkannya dari obyek yang dianggap membahayakan biasanya anak akan mampu menerimanya jika dibandingkan dengan cara melarang menggunakan nada tekanan suara yang keras.


Setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan orangtua untuk mewujudkan perasaan kasih sayang kepada anak, yaitu dengan meminimalkan terjadinya konflik antara orangtua dengan anak, dan memberikan waktu bersama dengan anak agar saling memahami sifat dan sikap masing-masing (Dr. Benyamin Spock, 2004).

Saturday, 20 October 2007

Catatan Mengenai Hak Cipta

Hak cipta semua artikel di web ini adalah milik Yusi Elsiano Rosmansyah, kecuali jika ada penulis lain, namanya akan ditulis secara eksplisit di artikel terkait.

Jika Pembaca ingin menggunakan artikel-artikel ini untuk tujuan sosial atau nirlaba (misalnya, buletin yayasan, studi kasus kuliah), saya hanya mohon SATU syarat, yaitu:

"CANTUMKAN NAMA PENULIS (Yusi Elsiano Rosmansyah) DAN ALAMAT WEB INI (www.PerkembanganAnak.com)".

Tanpa mencantumkan penulis dan web ini, maka Pembaca termasuk plagiator, mengabaikan etika akademis, dan tentunya melanggar hukum. Mari kita sebarluaskan dan amalkan ilmu pengetahuan dengan bijaksana.

Jika artikel-artikel ini ingin Anda gunakan untuk tujuan bisnis atau aktivitas ekonomi, silakan hubungi Penulis dengan mengisi bagian komentar terlebih dahulu.

Friday, 19 October 2007

Hindari membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lainnya

Setiap orangtua tentu mendambakan semua anaknya menjadi orang yang sukses, cerdas, percaya diri dan berbudi baik. Begitupun yang diharapkan oleh setiap anak, mereka ingin selalu mendapatkan kasih sayang, perhatian, pujian dan dukungan dari orangtuanya.



Namun sayang, terkadang harapan dan impian yang diinginkan oleh anak-anak dan orangtua tidak dapat diwujudkan sesuai dengan kemampuan dan dalam waktu yang bersamaan. Tentunya semua itu disebabkan oleh keterbatasan yang dimiliki oleh masing-msing individu.



Menyadari bahwa pada diri setiap manusia terdapat kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda, ada kemungkinan terjadi sesuatu hal yang dapat membanggakan dan sebaliknya menimbulkan rasa sedih, kecewa, marah dan sulit untk menerima sebuah perilaku dan pencapaian yang dilakuka oleh masing-masing pihak (orangtua dan anak).



Walaupun, pada umumnya pihak yang pertama dapat merasakan dan menilai kekurangan dan kelebihan tersebut adalah pihak orangtua. Jarang sekali anak-anak, terutama anak yang belum dewasa dapat melihat diri seseorang dari sisi kelebihan dan kekurangan secara tepat.



Dari sisi usia dan pengalaman yang jauh berbeda antara orangtua dan anak-anak, sebagai orangtua bijaksana seyogyanya selalu berusaha untuk dapat memahami kondisi dan karakteristik setiap anak.



Terciptanya sikap saling memahami yang diawali oleh orangtua dapat menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga. Orangtua akan mampu menerima anak-anak apa adanya dan tidak mengharapkan sesuatu yang melebihi kemampuan yang dimiliki oleh mereka.



Di masyarakat kita, ada satu kesalahan yang kerap dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anak, yaitu sikap orangtua yang selalu membanding-bandingkan secara tidak adil antara kemampuan anak yang satu dengan lainnya. Misalnya, dengan mengatakan kepada anak bahwa saudaranya atau anak-anak lain lebih baik darinya.



Tindakan membanding-bandingkan yang dilakukan orangtua seperti di atas, jika dilakuan secara terus menerus bukan hanya akan membuat anak-anak merasa tertekan (stress), tidak berguna, putus asa dan rendah diri saja, tetapi bahkan dapat menciptakan sikap permusuhan di antara kakak-beradik sehingga meninggalkan sebuah luka batin yang akan terbawa sampai mereka dewasa kelak.



Di dalam hati anak-anak akan cenderung timbul rasa iri, cemburu, dengki, bersaing tidak sehat dan saling menjatuhkan satu dengan lainnya. Perilaku negatif yang mereka lakukan hanya karena ingin menjadi anak yang memiliki nilai ‘lebih’ di mata orangtua sehingga dapat menarik perhatian dan kasih sayang orangtua.



Walaupun sejatinya, kasih sayang, cinta, perhatian, dan pengertian orangtua adalah milik semua anak dan harus dapat dirasakan oleh setiap anak.



Beberapa pencapaian yang diperoleh anak-anak di dalam sebuah keluarga tentu berbeda-beda. Mungkin sebagian dari mereka ada yang memiliki kelebihan di bidang pendidikan sebab ia selalu mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya, ada yang sering mendapatkan kejuaraan di bidang seni atau mungkin juga ada yang berprestasi di bidang olah raga sehingga ia sering mendapatkan penghargaan dan kejuaraan yang membanggakan orangtua.



Dari beberapa kelebihan anak yang dapat membanggakan orangtua, ada sebagian hal yang dianggap negatif dimata orang dewasa karena perilaku anak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial. Misalnya sulit konsentrasi, suka belajar sambil mendengarkan musik keras, harus sering diingatkan, dan tidak peduli pada diri (super cu-ek). Namun, perilaku negatif yang mereka lakukan adakalanya merupakan bagian dari kekurangan yang mereka miliki.



Segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap anak merupakan sebuah tantangan yang sangat berharga bagi orangtua. Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh anak merupakan sarana sekaligus tugas dan tanggungjawab orangtua untuk menciptakan generasi agar menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya, orangtua malah bersikap melecehkan, menghina, dan mengkritik kekurangan yang dimiliki anak dan pelit dalam memuji, mengapresiasi dan memotivasi kelebihan yang dimiliki oleh anak.



Menginformasikan sebuah prestasi atau pencapaian yang diraih oleh orang lain kepada anak adalah perlu, agar anak merasa termotivasi dan selalu berusaha untuk selalu memperbaiki kepribadian dan kemampuannya sehingga ia mampu mencapai apa yang menjadi impian, cita-cita dan harapannya.



Namun, upaya dan tindakan orangtua di atas harus dilakukan dengan tepat dan baik. Maksudnya, sebagai orangtua bukan hanya menuntut agar anaknya menjadi seperti anak lain atau saudara lainnya yang berprestasi, tetapi juga perlu didukung dengan memberikan dukungan secara fisik dan psikis dari orangtuanya.



Muhammad Rasyid Dimas (2006) berpendapat bahwa merangsang anak agar memerhatikan anak lain adalah perlu, namun harus dilakukan dengan dua tujuan yaitu:
Untuk mengingatkan anak bahwa ada orang yang lebih baik akhlaknya, perilakunya, dan capaiannya darinya serta untuk menarik perhatiannya tentang sifat-sifat istimewa yang harus dimilikinya. Itu dimaksudkan agar sedapat mungkin ia terdorong untuk meniru.
Untuk menanamkan rasa percaya diri dan menyadari nilai dirinya saat membandingkan dirinya dengan orang yang lebih rendah prestasinya. Ia juga diharapkan mengetahui apa yang menjadi kelebihannya dan capaian-capaian yang bisa diwujudkannya.



Sikap orangtua yang tidak menuntut anak-anak secara berlebihan dan tidak membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan lainnya tanpa tujuan, mampu menciptakan kerukunan hidup di antara kakak-beradik untuk saling membantu, empati dan menghargai. [ye]

Thursday, 18 October 2007

Orangtua Bijak akan Mencetak Anak-Anak Baik

Hallo rekan-rekan bloggers dan pembaca yang budiman,

Perkenalkan, nama saya Yusi Elsiano, sementara ini berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga, memiliki sepasang anak dan seorang suami, seorang dosen di sebuah PTN di Bandung. Saya hobi membaca buku dan saat ini sedang belajar menulis, atas motivasi dan bantuan suami, keluarga, dan rekan-rekan sesama orangtua siswa.


Ini adalah posting blog kami (saya bersama suami) yang pertama (di http://ortubijakanakbaik.blogspot.com). Saya akan banyak menulis mengenai:
peran orangtua dalam mencetak anak yang baik, cerdas, mandiri, kreatif, santun, jujur, dan bertanggung jawab.
tip dan trik bagi orang tua dalam memaksimalkan potensi kecerdasan majemuk anak (multiple intelligence)
berbagi (sharing) pengalaman dengan pembaca lain dalam menangani berbagai masalah anak.


Blog ini akan saya jadikan sebagai tulisan naratif saya dan keluarga, sebagai pelengkap tulisan yang ditujukan untuk aplikasi di ponsel, terutama ponsel BREW yang akan segera diluncurkan oleh Mobile-8.


Saya akan mulai dengan tulisan ringkas.


Seorang anak adalah ibarat sebuah kertas kosong. Kertas ini tentunya memiliki karakter bawaan yang tidak sama persis dengan kertas lainnya. Demikian pula dengan seorang anak. Dia dilahirkan dengan kemampuan nyaris nihil, tetapi memiliki karakter unik. Lingkungan, termasuk orangtua yang merupakan lingkungan terdekat dan punya potensi mempengaruhi yang sangat tinggi, akan membuatnya menjadi seseorang yang biasa-biasa saja, di bawah rata-rata, atau luar biasa dan unggul. Jika orangtuanya tidak banyak berperan dalam membentuk, lingkungan terdekat berikutnya yang akan.


Dari sisi dinamika pertumbuhan, anak juga ibarat sebuah bibit tanaman. Si bibit ini akan tumbuh dengan baik sesuai harapan pemiliknya jika zat hara yang diperlukan tersedia dengan cukup dan berbagai gangguan selama pertumbuhannya dapat dihindarkan. Sebaliknya, jika si bibit ini dibiarkan saja tumbuh liar dan diganggu serta dipengaruhi berbagai tanaman dan hewan pengganggu lain, tidak usahlah berharap bahwa bibit ini tumbuh subur menjadi pohon besar yang berbunga dan berbuah ranum, memberikan manfaat yang maksimal ke sekelilingnya. Siapa menanam, dia menuai. Demikian pula dengan seorang anak.


Sampai di sini dulu untuk yang pertama, waktu sudah lewat tengah malam.


Wassalam,
Yusi Elsiano

Wednesday, 17 October 2007

Apa yang Harus Dilakukan Agar Anak Berperilaku Terpuji?

Dalam upaya membesarkan anak terkadang orang tua merasa kewalahan dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi anaknya yang sulit diatur, tidak patuh, tidak peduli dan bahkan sering menyakiti perasaan orang tuanya (membentak dan melawan). Padahal mereka sudah merasa telah memberikan segala yang diinginkan anaknya seperti kebutuhan pendidikan, pakaian, mainan, dan makanan. Namun mengapa anak tetap saja tidak mau patuh, sopan, disiplin dan bertanggung jawab?


Perlu kita pahami bahwa seorang anak bukan hanya memerlukan kebutuhan jasmani saja seperti uang untuk membeli mainan dan makanan, sekolah di tempat yang bergengsi, dan pakaian yang mahal. Tetapi, ada kebutuhan lain yang dapat memberikan hidup anak akan menjadi lebih berarti. Kebutuhan tersebut adalah terpenuhinya kebutuhan rohani seperti kasih sayang, cinta, perhatian, dan pujian terutama dari orang-orang terdekatnya, orang tua.


Kita setuju bahwa rumah (keluarga) merupakan sekolah pertama bagi anak. Tempat dimana seorang anak pertama kali mendapatkan pelajaran tentang bagaimana ‘hidup’. Orang tua adalah guru pertama yang mengajarkan dan membimbing anak bagaimana berperilaku. Untuk itu, ada beberapa unsur pokok yang perlu orang tua lakukan agar mudah dalam mendidik anak berperilaku terpuji (Mahmud Al-Khal’wi dan Muhammad Said Mursi 2007), yaitu memberikan kasih sayang, bersikap sabar, dan memberikan tauladan.


Cinta dan kasih sayang.
Pemaksaan dan kekerasan bukan merupakan cara yang baik dalam mendidik anak. Tindakan orang tua tersebut tidak akan mampu menyelesaikan masalah yang terjadi, justru sebaliknya. Pemaksaan atau kekerasan yang dilakukan oleh orang tua sebagai cara untuk mendidik anak dapat mendorong timbulnya masalah baru dalam diri anak. Anak akan mengalami luka bathin atau berperilaku keras dan kasar karena ia akan menganggap bahwa kekerasan dan pemaksaan adalah cara biasa untuk menyelesaikan masalah.

Sebagai orang tua yang mendambakan anak yang berperilaku terpuji, hendaklah mendidiknya dengan kelembutan, cinta dan kasih sayang. Seseorang akan mampu memberi sesuatu jika ia memiliki sesuatu untuk diberikan, begitu juga pada diri anak. Seorang anak akan mampu memberikan cinta, kasih sayang dan kelembutan jika ia memiliki semua itu.

Orang tua yang memberikan segudang cinta kepada anak mampu membuat anak menjadi ’jatuh cinta’ kepada orang tuanya. Kita semua tentu setuju bahwa jika seseorang telah jatuh cinta maka ia akan melakukan segalanya untuk membahagiakan orang yang dicintainya, begitu juga pada anak. Anak yang mencintai orang tuanya akan selalu mendengarkan kata-kata mereka dan tidak melakukan sesuatu yang akan mengecewakan orang tuanya.



Kesabaran.
Pada umumnya, sebuah proses yang dilakukan dengan tergesa-gesa tidak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Contohnya, ketika seorang ibu membuat suatu makanan untuk pesta. Masakan yang dihasilkan sang ibu tersebut bila dilakukan dengan tergesa-gesa dapat menimbulkan beberapa kemungkinan yang membuat tampilan, rasa ataupun warna makanan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Hal di atas akan sama hasilnya, jika orang tua membesarkan anak dengan sikap tidak sabar (terburu-buru). Mendidik, merawat dan membimbing anak selain perlu waktu tentunya memerlukan kesabaran dari pendidiknya, orang tua.

Proses membesarkan anak tidak mungkin dapat dilakukan dengan instan. Ada hal-hal tertentu yang memerlukan kesabaran dalam melaksanakannya, seperti pada saat orang tua menghadapi anak yang melakukan kesalahan atau ketika orang tua sedang menerapkan sikap disiplin kepada anak.

Tindakan menasehati, membimbing dan mengarahkan anak selain memerlukan ilmu dan keterampilan diperlukan juga sebuah kesabaran. Sering kali orang tua perlu mengingatkan, menasehati dan memberikan contoh berulang. Untuk itu, jika orang tua tergesa-gesa dalam bertindak kemungkinan masalah yang terjadi bukannya cepat selesai tetapi sebaliknya akan menimbulkan masalah baru seperti orang tua dan anak mengalami stress dan salah faham.

Teladan yang baik
Pada dasarnya anak senang meniru. Salah satu bentuk perilaku yang ia miliki diperolehnya dengan cara mencontoh dari orang-orang terdekatnya. Untuk itu, orang tua dan anggota keluarga lain perlu berhati-hati dalam bersikap dan bertindak terutama ketika sedang berada di dekat anak.

Anak belajar dari apa yang diperlihatkan kepadanya baik dengan sengaja maupun tidak disengaja. Orang tua tidak mungkin mengharapkan anaknya untuk tidak berbohong jika dalam berbicara orang tua selalu berbohong. Begitu juga dalam hal menanamkan perilaku terpuji pada anak ( Sabar, disiplin dan bertanggung jawab) perlu sebuah tauladan dari orang tua kepada anaknya. [ye]

Tuesday, 16 October 2007

Khawatir Anak Bunuh Diri?

Evaluasi, Introspeksi dan Ilmu Orang tua adalah Obatnya.


Masa remaja adalah masa yang paling indah dan menyenangkan. Hari-hari penuh dengan tawa, canda dan keceriaan. Perhatian, pengertian dan curahan kasih sayang dari orangtua adalah menu utama masa-masa ini. Paling tidak, kondisi inilah yang didambakan setiap anak, dan yang semestinya diwujudkan oleh orangtua.


Namun sayang, justru keadaan sebaliknya yang banyak dialami oleh sebagian anak-anak di lingkungan kita. Kekecewaan, kesedihan, ketakutan, dan kegelisahan lebih sering mendominasi kehidupan mereka. Kehidupan sehari-hari mereka tak ubahnya seperti neraka dunia.


Akhir-akhir ini, berita tentang anak bunuh diri hampir setiap hari muncul di media massa. Berbagai cara mereka lakukan untuk mengakhiri hidup, mulai dari menusukkan pisau dapur ke perut, menyirami seluruh tubuh dengan minyak tanah dan menyulutnya dengan api, sampai menggantung diri.



Faktor Penyebab

Pusat Psikiatri Universitas Texas (2007) dan sumber lain menyebutkan faktor-faktor penyebab bunuh diri pada anak usia belasan tahun, antara lain:
Masalah orangtua (broken home)
Kekerasan dalam keluarga
Dipermalukan teman di sekolah dan tempat bermain (bullying, pelecehan)
Masalah ekonomi keluarga
Diabaikan oleh keluarga dan teman
Putus hubungan dengan kekasih
Depresi


Disebutkan juga bahwa pendorong terjadinya tindakan bunuh diri itu biasanya kombinasi dari beberapa faktor penyebab di atas.


Kasus-kasus bunuh diri anak-anak di masyarakat kita mencerminkan salah satu atau kombinasi dari faktor-faktor penyebab di atas, dengan kecenderungan utama karena rasa malu oleh teman. Misalnya, kasus bunuh diri dua murid SMP akhir-akhir ini di Garut dan Sukabumi (PR, 2 dan 3 Juli 2007) diduga akibat masalah di sekolah, yaitu malu oleh teman-temannya karena nilainya buruk dan tidak naik kelas. Berita surat kabar sebelumnya, seorang murid SD kelas VI di Garut gantung diri karena tidak mampu membayar iuran kegiatan esktra kurikuler. Seorang anak SD kelas V lainnya bunuh diri karena dimarahi habis-habisan oleh ibunya. Dan sekian banyak anak lainnya telah meninggal sia-sia karena berbagai faktor penyebab di atas.


Perlu diingat, bahwa kasus-kasus bunuh diri anak-anak ini boleh jadi merupakan puncak gunung es (the tip of an iceberg). Jumlah anak-anak yang mempunyai masalah tetapi belum sampai nekat melakukan bunuh diri niscaya jauh lebih besar. Permasalahan anak-anak yang masuk kategori ini akan dibahas di tulisan lain.


Perilaku pelecehan, penindasan dan penghinaan yang diterima oleh anak dapat terjadi baik di dalam rumah maupun di lingkungan sekitarnya, seperti sekolah dan tempat bermain. Beban malu dan perasaan tertekan yang terus menerus akan mengarah pada kondisi stress dan depresi, yang akhirnya membuat sang anak merasa lebih baik mengakhiri hidupnya. Pikiran negatif yang timbul di dalam benak anak akan semakin parah bila tidak ada seseorang yang bisa dijadikan tempatnya mengadu dan berlindung.
Sifat Bijak Orangtua merupakan Obat Pencegah Bunuh Diri Anak


Dalam rangka menghindarkan terjadinya tindakan negatif (yang berakhir dengan bunuh diri) yang mungkin dilakukan oleh anak, marilah kita sebagai orangtua berusaha menjadi orangtua bijak, yaitu menjadi orang yang terdekat dengan anak, mencurahkan cinta dan kasih sayang yang adil dan tulus, dan selalu memberikan yang terbaik kepada anak.


Memang, berbagai penyebab anak berpikir dan bertindak negatif (seperti masalah perceraian orangtua, ekonomi keluarga, dan sebagainya) boleh jadi merupakan hal yang tidak dapat dielakkan. Namun demikian, menjadi orangtua bijak merupakan pilihan yang terbuka, yang pasti dapat dilakukan oleh semua orangtua, apapun kondisinya.


Ronald (2006) berpendapat bahwa orangtua harus menjadi orang yang terdekat dengan anak. Dengan kata lain, ikatan batin antara anak dan orangtua terjalin erat. Apabila hal ini terwujud, orangtua dapat mendeteksi secara dini potensi kesulitan dan masalah yang dialami anak.


Berikut ini adalah beberapa ciri tingkah laku anak yang bermasalah dan mengalami stress dan depresi (Pusat Psikiatri Universitas Texas, 2007), yang dapat dengan mudah diketahui oleh orangtua yang dekat dengan anaknya:
merasa tidak berguna, banyak mengeluh dan putus harapan
merasa terabaikan, merasa bersalah tanpa sebab
bersedih berkepanjangan
menangis tiba-tiba
mudah tersinggung
mogok beraktivitas
malas mengingat secara rinci tentang sesuatu
tiba-tiba tidak bernafsu makan, badan menjadi kurus
tidur tidak teratur
tiba-tiba berperilaku jorok (baik atas diri maupun lingkungan sekitar)
bersikap tak-acuh, sembrono, dan cenderung merusak
sesekali berkata ingin cepat meninggal atau mengakhiri hidup


Salah satu kunci kedekatan adalah terciptanya komunikasi yang baik antara anak dan orangtua. Savitri Ramadhani (2006) berpendapat bahwa melalui komunikasi manusia bisa memperoleh kepuasan psikologis seperti terpenuhinya perasaan cinta, perhatian dan kasih sayang.


Cinta dan kasih merupakan salah satu kebutuhan utama setiap manusia. Cinta dan kasih dapat memberikan rasa aman, percaya diri, hidup menjadi berarti, dan berprestasi. Dokter Untung Sentosa, M.Kes dan Aam Amirudin, M.Si. (2006) berpendapat bahwa kasih membuat prestasi seseorang menjadi lebih berarti. Jika berarti, orang tersebut mempunyai harga diri. Orang yang mempunyai harga diri akan percaya diri. Orang yang percaya diri akan berprestasi. Demikian seterusnya.


Pada umumnya, prestasi yang diperoleh anak merupakan salah satu bukti bahwa kebutuhan dasar hidup (baik material maupun spiritual) anak secara prinsip telah terpenuhi. Anak yang bahagia hati dan pikirannya akan terlepas dari pikiran dan tindakan negatif, apalagi bunuh diri.


Namun sebaliknya, bagi anak yang kurang perhatian dan curahan kasih sayang dari orangtuanya, jangankan berharap untuk mendapatkan prestasi yang membanggakan, berpikir positif saja ia akan sulit melakukannya. Kesedihan, kekecewaan, dan hilangnya kepercayaan diri yang sering ia rasakan akan cenderung lebih memicu timbulnya pikiran negatif.


Anak yang memiliki kepribadian dan emosi yang buruk biasanya terlahir dari sebuah keluarga yang memiliki pola asuh yang buruk pula. Oleh karena itu, pola asuh yang baik dalam keluarga merupakan kunci keberhasilan anak, yang otomatis merupakan kunci pencegah anak dari pikiran dan perbuatan negatif, sehingga tindakan bunuh diri menjadi sesuatu yang sangat mustahil dilakukan.


Evaluasi, Introspeksi dan Ilmu Orangtua adalah Obat Pemulih Gejala Bunuh Diri Anak


Orangtua dan keluarga adalah tempat di mana seorang anak semestinya dapat berlindung dan mendapatkan kebahagiaan. Hidup di dalam keluarga yang penuh dengan kehangatan cinta dan kasih sayang akan membuat anak selalu berpikir positif.


Perhatian, pengertian, motivasi, dan curahan kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak akan mampu mengobati beban hidup yang terkadang membuatnya stress dan depresi. Selain itu, juga mampu menciptakan semangat hidup pada anak untuk dapat bertahan dan berjuang mengisi hidup dengan prestasi.


Namun sebaliknya, bagi sebagian orangtua yang sering menyalahkan, memarahi, bahkan menyiksa dan mengusir anak dari rumah biasanya akan mendapatkan kesulitan dalam menangani dan memahami sang anak. Perilaku buruk orangtua tersebut, jika dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang dapat meninggalkan luka batin pada diri anak yang dapat menimbulkan pikiran negatif, bunuh diri.


Bagi sebagian orangtua, merubah atau menghilangkan kebiasaan buruk dalam memperlakukan anak tidak seperti membalikkan telapak tangan. Namun percayalah, dengan tekad dan kesungguhan orangtua tidak ada yang mustahil. Evaluasi, introspeksi, dan berusaha untuk selalu menambah ilmu adalah langkah yang baik untuk memperbaiki situasi buruk dalam keluarga.


Evaluasi diri, menghindarkan orangtua dari sikap menyalahkan sepihak (kesalahan anak) dan membantu orangtua untuk segera dapat menyadari dan memahami segala kekurangan dan kesalahan dalam memperlakukan anak sehingga segera dapat mperbaikinya.


Ilmu, pada umumnya ilmu menginformasikan dan mengajak pembaca untuk melakukan hal-hal yang terpuji dan memberikan solusi terhadap suatu masalah. Untuk itu, dalam rangka memperbaiki kepribadian seorang anak, pendekatan melalui ilmu (dunia, akhirat) juga tak kalah pentingnya.


Steve Biddulph dan Shaaron Bidulph (2006) banyak memberikan ilmu dan petunjuk kepada orangtua agar anak menjadi bahagia. Oleh karena itu yakinlah, sesulit apapun sifat dan sikap seorang anak jika ditangani dengan ilmu pada akhirnya akan berubah sesuai dengan apa yang diharapkan.



Penutup

Akhirnya, marilah kita sebagai orangtua selalu melakukan evaluasi, introspeksi dan menambah ilmu agar dapat mendidik anak-anak dengan rasa cinta dan kasih sayang secara adil dan tulus. Dengan demikian, kedekatan dan ikatan batin dalam keluarga akan terjalin dengan erat. Anak-anak akan tumbuh dengan matang, baik secara fisik maupun psikis dan merekapun akan siap mengatasi setiap kesulitan hidup. Namun demikian, manakala mereka merasa kewalahan, mereka tidak akan segan menceritakan persoalannya kepada kita, orangtuanya, secara terbuka. Jauhlah sudah pikiran negatif itu, apalagi tindakan bunuh diri. [ye]

Monday, 15 October 2007

Mengajarkan anak empati

Menciptakan kerukunan antara kakak- beradik, bukan saja dengan cara menanamkan sikap untuk saling menolong dan memberi. Ada satu hal lain yang sangat penting dan perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak mereka kecil, yaitu sikap saling empati satu dengan lainnya.



Menurut pendapat Azalea E. Tani dan Terry Th. Panomban (2006), empati sering digunakan untuk menunjukkan sikap di mana kita bisa memahami apa yang tengah dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain walaupun kita tidak mengalami hal yang persis dialami orang lain pada saat tersebut.



Di masyarakat kita, konflik antara kakak-beradik sudah sering kita jumpai. Permusuhan, saling menjelekkan dan sikap tak mau peduli satu dengan lainnya bukan merupakan pemandangan yang baru. Hal tersebut menjadi salah satu bukti bahwa sikap empati untuk menciptakan keharmonisan di antara kakak- beradik dalam sebuah keluarga belum tertanam.



Sikap empati yang perlu ditanamkan kepada anak-anak bukan hanya ketika mereka menghadapi atau mendapatkan kekecewaan, kesedihan dan kegagalan saja. Tetapi, anak-anak juga harus diajarkan untuk bisa bersikap sportif dengan memberikan dukungan berupa ucapan selamat, memberikan pujian, senyuman, atau pelukan sebagai tanda ikut bangga dan bahagia atas prestasi yang diperoleh oleh kakak atau adiknya.



Sejatinya, banyak sekali peluang untuk mengajarkan kepada anak bagaimana menumbuhkan sikap empati kepada seseorang. Kebahagiaan dan kesedihan yang datang silih berganti dalam kehidupan setiap individu, dapat dijadikan sebagai pembelajaran yang berharga bagaimana pentingnya bersikap empati kepada orang lain.



Orangtua dapat memperlihatkan kepada anak-anak bagaimana kita dapat mengurangi beban yang sedang dirasakan oleh seseorang dan menambah kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh orang lain dengan sikap empati.



Memberikan pelukan dan mengatakan bahwa kita bisa merasakan dan memahami apa yang menjadi beban dan kesedihan seseorang serta memberikan ciuman, tepukan, pujian kepada seseorang yang mendapatkan prestasi merupakan bukti bahka kita ikut berempati dan mendukung keberhasilannya.



Semua kondisi di atas dapat dijadikan sebagai contoh yang baik oleh anak-anak sehingga pada situasi yang sama mereka dapat bersikap empati dengan benar.



Sikap empati merupakan salah satu dari nilai-nilai sosial. Karena itu, sikap empati yang sudah tertanam dalam diri anak-anak sejak kecil akan memudahkan mereka untuk dapat beradaptasi dan diterima dengan baik oleh keluarga maupun masyarakat di sekitarnya.



Dalam keluarga, sikap empati yang tumbuh dalam diri anak-anak akan menumbuhkan sikap saling menghargai dan merasakan satu dengan lainnya, sehingga hubungan kakak-beradik dalam keluarga akan selalu rukun dan harmonis. [ye]

Sunday, 14 October 2007

Menanamkan sikap saling menolong dalam keluarga

Sifat penolong adalah salah satu sifat yang sangat terpuji. Seorang anak yang memiliki sifat penolong tentu akan banyak yang menyenangi dan menyayangi.


Pada dasarnya, sikap suka menolong pada diri anak sudah tumbuh sejak mereka masih kecil. Beberapa bukti misalnya, anak-anak suka tertarik dan memaksa ingin menolong sang ibu memasak di dapur, mengangkat jemuran atau menyapu lantai walaupun dengan hasil standar anak-anak.



Di dalam banyak kesempatan, sikap suka menolong di antara kakak- beradikpun kerap mereka lakukan secara spontan. Misalnya, sang kakak menggantikan baju adiknya yang basah karena tersiram air atau sebaliknya, sang adik membantu membawakan obat untuk kakaknya yang terluka karena jatuh dari sepeda.


Sebagai orangtua kita perlu memupuk dan mempertahankan sifat penolong yang dimiliki anak tersebut agar dapat terbawa sampai ia dewasa kelak. Salah satu cara mempertahankan Dukungan berupa pujian, penghargaan, pelukan, ucapan terimakasih merupakan tindakan positif orangtua yang mengisyaratkan setuju akan tindakan yang dilakukan anak.


Pada umumnya, anak akan beranggapan bahwa dengan isyarat positif yang dilakukan orangtua seperti di atas adalah berarti orangtua membenarkan sikapnya dan dalam kesempatan lain iapun akan percaya diri melakukannya kembali.


George Prasetya Tembong (2006) berpendapat bahwa anak belajar melalui apa yang dapat dilihat (modalitas belajar visual). Ia akan menirukan perilaku orang yang lebih dewasa atau gerakan-gerakan lainnya.


Interaksi ibu dan ayah dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari dapat dijadikan sebagai tauladan bagi anak-anaknya, misalnya ketika sang ibu menyediakan minum untuk ayahnya sedangkan sang ayah membantu ibu memperbaiki kompor yang rusak. Anak-anak akan mencontoh sikap saling menolong tersebut ketika mereka sedang berinteraksi dengan anak-anak lain atau interaksi kakak-beradik.


Dengan demikian, orangtua memiliki kontribusi yang sangat penting dalam menciptakan kebersamaan dalam keluarga. Diperlukan bimbingan, arahan dan tauladan dari orangtua untuk mennerapkan sikap toleransi, tenggangrasa dan suka menolong pada diri anak-anak. Dengan sikap saling tolong-menolong yang tumbuh di dalam diri anak-anak, akan semakin menambah erat hubungan batin antara kakak-beradik. (ye)

Saturday, 13 October 2007

Jika ingin punya anak baik, mari mulai dari kita orangtuanya!

Pembaca yang budiman,

Blog ini merupakan lanjutan (baca; pindahan) dari blog saya di http://ortubijakanakbaik.blogspot.com.

Saya ganti alamat blog tersebut karena banyak hal, salah satunya karena alamat web yang sulit diingat dan ditulis.

Secara bertahap saya akan pindahkan isi dari blog tersebut ke sini dan saya akan lebih banyak menulis di sini. Mohon maklum.

Wassalam,
Yusi Elsiano

Friday, 12 October 2007

Tips Bagi Orang Tua yang Menginginkan Anaknya Berperilaku Terpuji (patuh, sopan, disiplin dan tanggung jawab)

Kita setuju bahwa setiap orang tua pasti menginginkan anaknya memiliki perilaku terpuji. Di bawah ini ada beberapa tips pokok, yaitu:


Berikan cinta dan kasih sayang. Jika anak telah ‘jatuh cinta’ kepada orang tua maka ia akan patuh (mendengar kata-kata orang tua) dan selalu berusaha untuk tidak melakukan tindakan yang dapat mengecewakan orang tuanya.
Bersabar dalam merawat, membimbing dan mengarahkan anak. Tidak ada suatu pekerjaan yang akan lebih baik hasilnya jika dilakukan dengan terburu-buru, begitu juga dalam mendidik anak.
Berikan tauladan yang baik karena anak belajar dari apa yang diperlihatkan kepadanya. [ye]

Thursday, 11 October 2007

Berbagi (sharing) dapat menciptakan kerukunan antar anak

Ada pepatah mengatakan bahwa tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Maksudnya, memberi (berbagi) lebih mulia daripada meminta (menerima). Oleh karena itu, menerapkan sikap berbagi perlu ditanamkan kepada anak sejak ia masih kanak-kanak agar dapat terbawa sampai ia dewasa kelak. Sistem syaraf pada usia kanak-kanak dipercaya masih fleksibel, cepat terpengaruh, dan mudah untuk dijaga.



Menerapkan sikap berbagi kepada anak diperlukan waktu dan kesabaran sebab pada umumnya seorang anak masih cenderung memiliki sikap mau menang sendiri (egois), ingin menguasai, dan belum dapat memahami arti kepemilikan. Usia anak sebagian besar masih suka beranggapan bahwa apapun yang diinginkan dapat dengan mudah ia peroleh dan miliki. Maka, tak heran jika di antara anak-anak sering terjadi saling berebut.



Berbagi merupakan salah satu perilaku terpuji yang perlu diterapkan secara berulang dan terus-menerus agar menjadi sebuah kebiasaan yang baik dalam hidupnya. Menurut pendapat Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, kebiasaan ialah kecenderungan yang bisa diusahakan, yang mendorong seseorang mengulang-ulang suatu perbuatan fisik atau akal dengan segera dan yakin tanpa berpikir dahulu ketika keadaan menuntut.



Orangtua merupakan sebuah model bagi anak, setiap tindakan yang dilakukan oleh orangtua akan ditirunya. Apabila orangtua menginginkan seorang anak yang suka berbagi maka harus memberikan tauladan kepadanya. Anak akan belajar dari apa yang diperlihatkan kepadanya.



Maka, apabila sikap berbagi sudah menjadi kebiasaan yang sering diperlihatkan orangtua dalam kuarga, otomatis sikap berbagi di dalam hubungan kakak-beradikpun akan tumbuh. Di antara kakak-beradik akan tercipta sikap saling memberi (berbagi). [ye]

Wednesday, 10 October 2007

Pengantar dan Perkenalan Singkat

Pembaca yang budiman,
Update: 25 Februari 2010

Mudah-mudahan kerinduan saya menulis dapat segera terobati dan saya segera mendapatkan waktu yang lebih lapang. Sekarang tinggal satu mata kuliah dan satu penelitian tesis S2.

Secara ringkas, saya adalah pemangku banyak jabatan, di antaranya:

  • guru, pengajar dan pemandu bakat 2 anak: usia 11 (laki-laki) dan 5 tahun (perempuan)
  • babysitter untuk 2 anak yang sama: menyiapkan makan dan bekal sekolah, mengasuh, memandikan, menemani bermain, dan mendongengkan jika mereka inginkan
  • pembantu rumah tangga: dengan tugas mulai dari belanja mingguan, cuci-jemur-setrika pakaian, cuci piring, sampai menyapu dan mengepel lantai, dan mencuci toilet
  • juru masak keluarga: mulai dari gorengan, combro, nasi tutug, nasi lemak, bakakak, sandwich, pizza, steak, kebab koobideh, dan lain-lain (pengalaman ekperimentasi waktu merantau bersama suami di Inggris)
  • tukang taman dan kebun: bersih-bersih, siram-siram halaman depan dan belakang rumah
  • sopir pribadi dua anak dan kadang suami: dengan tugas mulai dari antar-jemput ke sekolah, les renang, les karate, les tenis, sampai suami pergi-pulang kantor, hotel, stasiun, bandara, atau travel
  • menteri keuangan keluarga: bertanggung jawab atas rencana dan realisasi anggaran keluarga
  • partner, penasihat, staf ahli, penggembira, dan tukang pijat suami
  • pemangkas rambut pribadi 2 anak dan suami
  • dan jabatan serabutan lainnya (nanti saya lengkapi jika ingat)
Sementara ini, gaji yang saya terima dari berbagai jabatan ini adalah sebesar penghasilan suami saya.

Saya juga merupakan pensiunan dari beberapa jabatan berikut ini:


  • (asisten) perias pengantin (sejak SMP sampai lulus kuliah, di Bandung)
  • petani di Mushroom Farm Woking (3 bulan, di Inggris)
  • pembuat salad & sandwiches di Debenhams Guildford (1 tahun, di Inggris)
  • juru bayar dan pegawai kas di Tesco Stores Guildford (1 tahun, di Inggris)
  • pegawai pos di Royal Mail Guildford (2 tahun, di Inggris)
  • asisten guru TK di nursery (day care) University of Surrey, Guildford (1 tahun, di Inggris)
  • koreografer, fotografer, sekaligus digital editor di studio foto Zahra (1 tahun, di Bandung)
  • ketua POMG (Persatuan Orangtua Murid dan Guru) sebuah TK di Bandung; pensiun dini karena banyak kegiatan yang kurang sreg dengan hati nurani, terutama yang melibatkan pungutan biaya dari dan penjualan sepihak kepada orangtua murid
Membaca dan menulis adalah kegemaran utama saya. Dengan bertambahnya aktivitas saya tadi tentunya saya sangat senang, karena jika tidak saya akan merasa sepi di rumah. Sekarang kedua anak saya sudah besar dan sekolah full-time.


Sementara ini, saya baru memiliki dan membaca sekitar 100-an buku dan guntingan berbagai artikel mengenai perkembangan anak (dari koran, majalah, tabloid, Internet, dan sumber lain). Jadi, mudah-mudahan apa yang saya tulis di web ini rada-rada akademis, karena selain mengacu pada karya para pakarnya, saya sendiri menerapkannya. Demikian pula dengan sejumlah orangtua yang kebetulan berbagi masalah dan solusinya dengan saya.

Segala masukan, kritik, saran, curhat, sharing, dan kontribusi tulisan sangat saya nantikan!

Wassalam,
Yusi Elsiano Rosmansyah

------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan Mengenai Hak Cipta

Hak cipta semua artikel di web ini adalah milik Yusi Elsiano Rosmansyah, kecuali jika ada penulis lain, namanya akan ditulis secara eksplisit di artikel terkait.



  1. Jika Anda ingin menggunakan artikel-artikel ini untuk tujuan sosial atau nirlaba (misalnya, buletin yayasan, studi kasus kuliah), saya hanya mohon SATU syarat, yaitu:
    "CANTUMKAN NAMA PENULIS (Yusi Elsiano Rosmansyah) DAN ALAMAT WEB INI (www.PerkembanganAnak.com)".
    Tanpa mencantumkan penulis dan web ini, maka Anda termasuk plagiator, mengabaikan etika akademis, dan melanggar hukum. Mari kita sebarluaskan dan amalkan ilmu pengetahuan dengan bijaksana.
  2. Jika artikel-artikel ini ingin Anda gunakan untuk tujuan bisnis atau aktivitas ekonomi, silakan hubungi Penulis dengan mengisi bagian komentar terlebih dahulu.