Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010

Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.

Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.

Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.

ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna

Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!

Wednesday, 19 December 2007

Jadilah Orangtua 'Penyejuk Mata dan Hati' Anak, Ia Akan Mampu Memikul Beban Kehidupannya

Memperhatikan pola hidup keluarga yang ada di lingkungan kita, ada sebagian keluarga yang suasana kesehariannya dipenuhi dengan kekerasan dan larangan. Orangtua tidak mau peduli terhadap kebutuhan anak, tidak mau kompromi dengan anak, dan cenderung mengabaikan hal-hal yang dianggap penting oleh anak. Orangtua seperti ini biasanya lebih banyak memberikan aturan dan mengekang anak daripada memberikan arahan yang positif.


Anak yang dibesarkan dalam kondisi keluarga seperti ini biasanya lebih banyak merasakan perasaan tertekan, sedih, dan kecewa dalam hidupnya. Ia akan cenderung tidak betah tinggal di rumah, ia ingin segera melepaskan diri dari keluarganya. Sebagian anak perempuan yang sudah besar ada yang lebih memilih menikah dalam usia muda walaupun dengan pasangan hidup yang tidak sepadan. Ia berharap dengan cara seperti itu kondisi keluarga yang lebih baik akan segera ia dapatkan. Bahkan, dengan kondisi keluarga seperti ini tidak jarang membuat anak mendapatkan kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Ia merasa tidak punya harga diri, tidak percaya diri dan sering merasa frustrasi dalam menjalankan kehidupannya.


Menyimak kondisi anak seperti di atas sungguh sangat memprihatinkan. Seyogyanya orangtua menjadi ’penyejuk mata’ dan penenang bagi jiwa sang anak. Untuk mewujudkan hal tersebut maka hargailah anak sebagaimana orangtua menghargai orang dewasa lainnya, berikanlah apa yang dibutuhkan oleh anak, hormatilah kepribadian anak, berikanlah kebebasan kepada anak dalam berpikir dan berpendapat sesuai dengan batasan yang bersifat umum. Cobalah untuk selalu menciptakan kondisi keluarga yang penuh dengan kebersamaan, kasih sayang, dan saling membantu satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab dan mampu memikul beban dalam kehidupannya (Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh, 2007). (yer)

0 comments:

Post a Comment