Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010

Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.

Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.

Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.

ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna

Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!

Sunday, 16 December 2007

Cinta dan Kasih Sayang 'Merobohkan Tembok Pembatas' Antara Orangtua dengan Anak

Salah satu kebutuhan anak yang paling mendasar adalah ingin dicintai dan disayangi oleh kedua orangtuanya. Dengan begitu, ia akan merasa bahwa dirinya berharga di mata kedua orangtuanya. Pada praktiknya, anak biasanya akan merasa kurang puas apabila perasaan cinta dan kasih sayang orangtua tersebut hanya diungkapkan melalui kata-kata saja. Ia menginginkan orangtua dapat menrcerminkan perasaan tersebut dalam tindakan mereka sehari-hari kepadanya. Misalnya, dengan cara selalu memberikan perhatian, pelukan, senyuman, ciuman, dukungan, sikap yang lemah lembut, dan memenuhi kebutuhan serta memahami perasaannya.


Sejatinya, anak yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang akan tumbuh menjadi seseorang yang dapat membahagiakan kedua orangtuanya. Ia akan berusaha memberikan kembali cinta dan kasih sayang yang telah ia terima kepada kedua orangtuanya. Perasaan untuk saling membahagiakan di antara mereka dapat membuat hubungan anak dengan orangtua menjadi semakin erat.


Sebaliknya, apabila orangtua sering memperlihatkan pandangan dan mengucapkan kata-kata kasar kepada anak berarti orangtua telah ’membangun tembok pembatas’ antara anak dengan mereka (Muhammad Fauzi Adhin, 2006). Anak tidak akan percaya lagi dengan apa yang sering orangtua katakan bahwa mereka sangat mencintai dan menyayangi dirinya. Ia akan merasa takut dan bahkan membenci kedua orangtuanya. Bila sudah demikian, ada kemungkinan anak tidak mau lagi membahagiakan kedua orangtuanya. Ia beranggapan bahwa orangtuanya juga tidak membuat dirinya bahagia. Akhirnya, mungkin saja sebagai bentuk protes anak terhadap sikap kasar orangtua, iapun akan sering melakukan tindakan pembangkangan yang dapat membuat mereka kecewa, malu, sedih, dan tidak berdaya. Jika sudah begitu, orangtua biasanya akan merasa sulit untuk mengharapkan anak dapat mematuhi dan melaksanakan apa yang diinginkan oleh mereka. Begitupun sebaliknya, anak tidak dapat lagi mengharapkan cinta dan kasih sayang dari orangtuanya. Sebab, boleh jadi orangtua memutuskan untuk menjauhi dan tidak mau peduli lagi terhadap anak yang dianggap sering membuat mereka kecewa.


Kondisi seperti di atas tentu sangat memprihatinkan. Di antara orangtua dengan anak sudah tidak terjalin lagi ikatan bathin dan perasaan untuk saling membahagiakan. Agar kondisi seperti itu tidak terjadi pada keluarga maka mulailah dari diri orangtua untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepada anak. Apabila seseorang telah jatuh cinta maka ia akan melakukan apa saja demi membahagiakan orang yang mencintainya. Begitupun dengan anak, ia akan patuh, menuruti apa yang disenangi orangtuanya. Dengan demikian hilanglah sudah 'tembok pembatas' yang dapat merusak hubungan baik antara orangtua dan anak. (yer)

1 comments:

mifzawal said...

Ass. tulisannya menarik dan semoga bermanfaat, izin tulisan mbak saya linkakan ke blog saya. syukron

Post a Comment