Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010

Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.

Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.

Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.

ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna

Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!

Sunday, 28 October 2007

Agar Anak Tidak Berbohong

Lucu rasanya mendengarkan anak kecil bila sedang bercerita. Gaya bicaranya yang polos dan penuh antusias tidak jarang membuat orangtua sulit membedakan antara cerita fakta, fantasi atau cerita bohong.


Pada anak-anak usia enam hingga sembilan tahun, sebagian dari mereka masih ada yang belum dapat membedakan mana cerita nyata dan mana cerita fantasi (khayalan). Kadang-kadang anak membicarakan sesuatu berdasarkan imajinasinya dan menganggap bahwa yang diceritakannya tersebut adalah memang benar-benar terjadi.


Mengajarkan anak untuk dapat membedakan mana yang termasuk cerita nyata dan mana cerita khayalan sejak dini dapat membantu anak mengatakan sesuatu dengan jujur. Sebenarnya, tidak semua anak bermaksud untuk berkata bohong ketika ia sedang menceritakan sesuatu (Rini Utami Aziz, 2006), ada beberapa alasan utama anak berbohong baik ia sadari maupun tidak, yaitu:

  • Dusta putih, anak berbohong karena mengkhayal secara berlebihan, sang anak menganggap ceritanya benar-benar terjadi.
  • Imitasi Kebohongan, anak berdusta karena meniru kebiasaan orang tua atau orang-orang terdekatnya yang suka berbohong.
  • Berbohong karena haus pujian, jika kebutuhan akan pujian tidak terpenuhi maka sang anak akan berusaha berbohong).
  • Berbohong karena takut hukuman, contohnya anak terjebak ketika sedang mengambil kue tanpa permisi.
Apabila orangtua sering mendapatkan anaknya berbohong, bantulah dia untuk belajar selalu berkata jujur, yaitu:
  1. Menanamkan sifat jujur kepada anak perlu contoh (model), tentunya harus diawali oleh setiap individu yang terdekat dengan anak, orangtua dan saudara lain. Berusahalah untuk selalu bersikap jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan, sebab anak selalu mencontoh dari apa yang ia lihat dan ia dengar.
  2. Yakinkanlah kepada anak bahwa orangtua akan selalu mencintai dan menyayangi dia apa adanya, dan biarkan anak mengetahui bahwa orangtua akan lebih bahagia mendengar cerita walaupun kurang berkesan.
  3. Hindarkan memberikan hukuman yang berat kepada anak karena dapat menimbulkan rasa takut sehingga mendorongnya untuk berbohong.
Orangtua perlu memahami bahwa anak butuh waktu untuk belajar supaya menjadi benar. Bantulah dia mengembangkan sifat jujurnya dengan menjadi model terbaik baginya.

0 comments:

Post a Comment