• SKACI

    Sekolah Komputer Anak Cinta Indonesia

    Bermain adalah hak anak. Membuatnya hebat dan berprestasi adalah kewajiban orangtua. Membimbing anak bermain agar jadi jago IT/Komputer adalah tugas kami

    Buton

  • Fahma-Hania

    Karya-karya Fahma-Hania

    Aplikasi-aplikasi buatan Fahma-Hania


    Buton

  • SiGokil

    Capture beautiful moments, interesting sights, something weird, accidents, crimes, or just yourself and share from your exact position. Sell or find stuff near you, and bid or offer using this app. Track your children, spouse, even your vehicles

    Buton

  • SiGokil Solutions

    Give implementable mobile solutions to accommodate the needs of mobile reporting, mobile surveying, mobile monitoring, mobile tracking, and back-end analyzing, to improve efficiency and effectiveness

    Buton

  • ACI Corporation

    Attentive Creations International is a mobile and web applications developer. We develop perfection in all applications we built. We have been the biggest part of industries solutions.

    Buton

0
Feb18

Ada saatnya anak tertarik dan ingin mencoba pengalaman baru bermalam di tempat lain. Misalnya menginap di rumah temannya atau tidur di tempat lain bersama rombongan dari sekolahnya. Anak yang memiliki keinginan kuat untuk ikut menginap di tempat lain biasanya akan berusaha meyakinkan orangtuanya bahwa ia pasti mampu menjaga dirinya dengan baik.

 

Camping : Family Camping Together

Ilustrasi: www.123rf.com

Dalam situasi seperti ini banyak orangtua akan merasa berat untuk memberikan izin kepada anak, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa melepas anaknya tinggal atau menginap di tempat lain, di rumah teman atau saudara. Mengatakan ‘tidak’ kepada anak sebagai bentuk penolakan dan larangan dari orangtua supaya ia tidak ikut bermalam di tempat lain boleh jadi tidak dapat diterima oleh anak. Ia akan merasa kecewa atau bahkan tetap memaksa agar diizinkan oleh orangtuanya.

 

Penting bagi orangtua untuk menyadari bahwa anak tidak akan selamanya tinggal bersama orangtua. Semakin usia anak bertambah dan kedewasaannya pun semakin meningkat, anak akan segera memisahkan diri dari orangtuanya. Dengan demikian, sebagai orangtua sejatinya dapat membantu anak dalam mempersiapkan masa tersebut dengan memberikan izin mendapat pengalaman tinggal bersama orang lain untuk beberapa waktu saja. Dalam hal ini, tentu orangtua juga harus memastikan terlebih dahulu sisi keaman dan kecukupan usia anak tersebut.

 

Menurut Janice (2006) ada beberapa hal yang dapat memberikan nilai positif bagi anak dari pengalaman menginap di tempat lain. Pertama, anak akan belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan orang lain. Kedua, anak akan belajar memahami bagaimana rasanya hidup bersama orang lain terutama ketika ia harus bertahan dalam situasi yang tidak membuat dirinya senang. Ketiga, dengan adanya kesempatan tersebut, anak akan memahami apa arti dari kemandirian. Akhirnya, orangtua akan merasakan manfaat ini dengan adanya peubahan pada diri anak menjadi lebih dewasa dalam bersikap dan mandiri dalam mempersiapkan kebutuhan di masa depannya (. (yre)

continue
0
Jan3

Setiap orang pasti ingin hidup di dalam lingkungan yang penuh dengan kehangatan, bersahabat, nyaman, dan menyenangkan. Tetapi, situasi seperti itu seringkali sulit ditemukan, bahkan di dalam lingkungan kecil keluarganya. Banyak anak remaja yang merasa tidak bahagia hidup di dalam lingkungan keluarganya karena ia seringkali diperlakukan kurang baik oleh orangtuanya. Kebiasaan orangtua yang sering melecehkan kemampuan anak, membanding-bandingkan anak dengan kemampuan anak lain yang lebih hebat darinya, mencaci, memaki, dan memaksakan kehendak kepada anak sering kali membuat anak merasa sedih, kecewa, tertekan, merasa diri tidak berharga, dan bahkan putus asa.

 

Beberapa tindakan orangtua di atas secara fisik memang tidak menimbulkan bekas luka pada diri anak, tetapi secara batin (emosional) anak mengalami luka yang dalam. Sebagai orangtua sangatlah penting untuk dapat memahami bahwa anak akan merasa terluka bukan saja ketika ia menerima siksaan secara fisik seperti dicubit, dijewer, dipukul, atau ditampar, tetapi juga ia akan merasa tersiksa dan terluka secara emosional ketika ia diperlakukan tidak adil, dibanding-bandingkan, ditekan, dan dituntut lebih dari kemampuannya (George:2006).

 

Narcotics : Drug addict during injection Stock Photo

Ilustrasi: www.123rf.com

Untuk dapat ke luar dari perasaan negatif yang dirasakan oleh dirinya, banyak sekali anak remaja yang mencari kebahagiaan dengan cara yang salah. Mereka menggunakan obat-obatan terlarang atau narkoba yang akhirnya berujung pada kematian yang sangat merugikan dan menyedihkan.

 

Sejatinya, membuat anak ‘bahagia’ di lingkungan keluarga adalah tidak sesulit membebaskan anak dari jeratan narkoba. Cukup dengan memberikan perhatian, pengertian, dan kasih sayang tanpa syarat secara konsisten akan membuat anak merasa dihargai, dibutuhkan, dan disayangi. Dengan demikian, anak akan terhindar dari sikap mencari kebahagiaan sesaat di luar rumah. (yer)

 

continue
0
Des26

Banyak sekali orangtua baru menyadari bahwa mereka telah gagal membesarkan anak pada saat mereka telah usia lanjut, yaitu ketika anak-anak sudah menginjak usia dewasa. Orangtua harus menanggung dan ikut merasakan banyak masalah yang diakibatkan oleh perilaku buruk anak, baik yang dilakukannya di dalam lingkungan rumah maupun di masyarakat. Banyaknya masalah yang terjadi tidak jarang membuat orangtua merasa sedih dan putus asa, karena beban masalah yang dilakukan anak tidak kunjung selsesai.

 

Sad Parents : family argument

Ilustrasi: www.123rf.com

Sejatinya menjadi orangtua yang bahagia sampai hari tua nanti adalah impian setiap orang. Namun, membuat masa tua bahagia itu tentu tidak dapat terjadi begitu saja, tetapi harus dirancang, dimanajemeni, dan dihayati sepenuh hati sejak usia dini, paling lambat pada stadium dewasa (George:2006). Untuk mewujudkannya, orangtua dituntut mau berkorban menyediakan waktu yang berkualitas untuk membimbing, mengarahkan dan memotivasi anak sehingga ia tumbuh menjadi seseorang yang mantap akhlak dan perilakunya.

 

Satu hal yang sangat penting bagi orangtua untuk mempersiapkan masa tua bahagia nanti adalah  menghindari sikap yang hanya mengimitasi pola asuh yang diterima dari orangtua kita dulu. Sebagai orangtua bijak, kita harus berupaya untuk selalu mencari ilmunya supaya pola asuh yang kita berikan kepada anak sesuai dengan kondisi zamannya. Sebab, pola asuh yang diberikan orangtua kita dulu belum tentu cocok jika diterapkan pada anak di zaman sekarang. (yer)

 

continue
1
Nov12

Ketika anak melakukan suatu kesalahan atau ketidaksengajaan, misalnya menumpahkan makanan hingga berceceran di lantai atau memecahkan gelas, sering kali orangtua langsung bereaksi menegur dan bahkan memarahinya. Lain halnya ketika anak melakukan sesuatu yang baik, seperti membuang sampah pada tempatnya, membereskan bekas makan, atau membantu menjaga adik,orangtua sering lupa memberikan apresiasi kepadanya.

 

Appreciation To Children : A woman watching her daughter eating a slice of orange.

Ilustrasi: www.123rf.com

Kebanyakan orangtua hanya ‘memperhatikan’ atau bereaksi ketika tahu anaknya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Sebaliknya, ketika anak melakukan hal-hal yang baik, orangtua seringkali tidak memperhatikannya. Mereka menganggap seolah-olah perilaku baik itu memang seharusnya dilakukan oleh anak. Padahal, perilaku baik merupakan sesuatu yang harus diajarkan, dirangsang dan dibiasakan, sehingga untuk dapat berperilaku baik, seorang anak perlu dimotivasi dan diapresiasi.

 

Bentuk apresiasi dapat diberikan dalam bentuk pujian, pelukan dan ciuman atau pemberian hadiah walau dalam bentuk yang sederhana. Sekecil apapun bentuk apresiasi yang diberikan orangtua kepada anak akan memberikan pengaruh yang luar biasa kepadanya. Anak akan merasa senang dan bangga, sehingga ia akan terus termotivasi dan mencoba hal baru untuk melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Selain itu, rasa percaya dirinya pun akan semakin berkembang dengan baik. Ia akan merasa bahwa ia mampu memberikan dan melakukan sesuatu dengan baik. Sebaliknya, jika orangtua pelit memberikan pujian atau apresiasi kepada anak, akan mengakibatkan sang anak putus asa dan membuatnya enggan berbuat dan berperilaku baik. Ia akan beranggapan semua itu sia-sia (Ali Hasan: 2012).

 

Semakin sering orangtua memberikan perhatian atas tindakan yang kurang baik (menegur, menasehati, memarahi), anak akan semakin sering melakukan hal-hal yang tidak orangtua inginkan. Ia akan beranggapan suapaya diperhatikan orangtuanya, ia harus melakukan hal-hal yang buruk yang tidak disukai orangtuanya. Oleh karena itu, suapaya anak semakin sering berusaha melakukan hal-hal yang baik, marilah kita perbanyak ‘memperhatikan’ perilaku baiknya dengan memberikan apresiasi kepadanya. (yer)

1 Komentar

  1. sumardiana udin says:

    sy sependapat dg apresiasi untuk anak,untuk menumbuhkan rasa percya diri.

continue
1
Okt12

Menjaga perkataan atau berhati-hati dalam berbicara adalah tindakan yang sangat bijak dan penting untuk dilakukan. Seperti dalam pepatah mengatakan, mulutmu adalah harimaumu adalah benar sekali, jika kita tidak menjaga mulut, artinya selalu berbicara tanpa difikir terlebih dahulu, akibatnya selain akan melukai perasaan orang lain, juga akan menimbulkan masalah pada diri kita sendiri.

 

Keep Mouth : Portrait of young serious business woman keeping finger on her lips and asking to keep quiet, isolated on white background

Ilustrasi: www.123rf.com

Berhati-hatilah dalam berbicara terutama jika di sekitar kita ada anak. Ia dapat meniru dan merekam apa yang ia lihat dan dengar dengan sangat baik.

 

Walaupun anak tidak mengerti apa yang sebenarnya orangtua maksudkan, tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat ia akan mengulangi perkataan yang pernah ia dengar tersebut kepada orang lain, bahkan mungkin kepada orang yang pada saat itu dibicarakan oleh orangtuanya. Misalnya ia menyampaikan kepada orang yang dimaksud bahwa ibuku bilang rambut tante seperti bulu jagung. Duuh apa jadinya jika hal seperti itu terjadi. Sangat malu dan buruk sekali akibatnya, bukan?

 

Oleh karena itu, jika orangtua tidak ingin kata-kata ’buruk’ atau semacamnya diucapkan kembali oleh anak di hadapan orang lain, berhati-hatilah dalam berbicara, hindarkanlah mengucapkan sesuatu yang tidak baik terutama di depan anak (Janice Fixter:2006).

 

Kita tidak dapat menyalahkan apalagi memarahi anak karena ia sudah mengatakan apa yang ia dengar atau lihat. Hal yang sangat penting untuk kita lakukan adalah lebih menjaga dan berhati-hati lagi dalam berbicara. Berusahalah selalu untuk menjaga perkataan. Dengan demikian, dapat meminimalkan terjadinya suatu masalah dan juga berarti kita memberi contoh yang baik kepada anak. (yer)

 

1 Komentar

  1. Wana says:

    Anak-anak memiliki memory yang sangat kuat...apa yang kita bicarakan dan kita lakukan akan terekam dengan baik, sudah sepantasnya kita menjaga ...

continue
1
Okt3

Negosiasi merupakan sebuah upaya untuk mencapai kesepakatan bersama yang dapat memberikan keadilan bagi semua pihak. Kegiatan negosiasi ini bukan saja diberlakukan kepada orang dewasa saja, tetapi juga kepada anak-anak.

 

Discuss With Kid : Happy mother having conversation with her daughter and give advices isolated on white background

Ilustrasi: www.123rf.com

Ketika sebuah peraturan di dalam keluarga akan diberlakukan, sebaiknya orangtua membicarakannya terlebih dahulu kepada anak.  Berilah anak kesempatan untuk melakukan negosiasi terhadap peraturan tersebut. Mungkin ada hal-hal yang dirasakan memberatkan anak sehingga anak perlu melakukan negosiasi kepada orangtuanya.

 

Di lingkungan kita, banyak sekali orangtua yang tidak peduli dengan pendapat atau keinginan anak. Mereka menetapkan suatu aturan hanya berdasarkan pendapat mereka saja. Sifat egois orangtua yang menganggap diri selalu benar dan cenderung menganggap remeh pendapat anak merupakan sifat buruk yang perlu dihindarkan. Misalnya, orangtua tidak mau mendengarkan pendapat anak, mereka tidak memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan negosiasi dengan mengucapkan ‘Tidak’ atau ‘Sudahlah, pokoknya….’ dengan nada yang tegas.

Sesungguhnya, setiap anak berhak untuk ‘bersuara’, menyampaikan pendapatnya dan melakukan negosiasi (Mathew:2007), karena anak adalah mitra dalam keluarga, ia perlu diikutsertakan dalam pembuatan keputusan terutama yang memiliki dampak terhadapnya.

Anak-anak maupun orang dewasa apabila terlalu dikontrol atau tidak didengar ‘suaranya’, biasanya akan melawan dengan berbagai cara. Bagi anak mungkin ia akan melawan dengan melakukan sikap tidak peduli, melupakan, membantah atau tidak mematuhi peraturan yang dibuat oleh orangtuanya.

Perlu orangtua ketahui, ketika seseorang sudah menyetujui sebuah peraturan melalui negosiasi, biasanya ia akan mematuhinya. Oleh karena itu, apabila orangtua menginginkan anaknya melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diharapkan, negosiasi dengan anak merupakan solusi yang lebih baik (yer).

1 Komentar

  1. Saya sependapat sekali dengan postingan Bu Yusi ini. Menutup pintu negosiasi adalah salah satu jalan masuknya pengingkaran sang anak terhadap ...

continue
0
Sep25

Kewajiban orangtua mendidik anak bukan hanya pada saat anak masih usia bayi hingga pra sekolah saja. Orangtua wajib mendidik anak sepanjang masa sesuai dengan usia dan kebutuhan anak tersebut. Orangtua harus berupaya untuk selalu memperhatikan, mengarahkan, membimbing, dan jika perlu menasihati anak terutama dalam hal yang berhubungan dengan pembentukkan karakter dan akhlak yang baik. Sebab hal tersebut merupakan foundasi bagi anak untuk dapat diterima di lingkungannya, baik saat ini dan juga di masa depan. Anak yang memiliki sifat yang baik, jujur, bertanggung jawab, bersahabat, dan berintegritas tinggi akan selalu dapat diterima oleh setiap lingkungan di manapun ia berada.

 

Good Boy At School : Portrait of asian elementary school student and thumbs-up. shot in studio isolated on white

Ilustrasi: www.123rf.com

Banyaknya sekolah yang dinilai bagus dan terkenal sering kali membuat orangtua memindahkan tanggung jawab mendidik anak kepada fihak sekolah. Banyak orangtua berpendapat dengan memasukan anak di sekolah yang bagus, tanggung jawab mendidik anak menjadi berpindah ke fihak sekolah. Bahkan sering kali orangtua cenderung menyalahkan anak atau fihak sekolah ketika mereka mengetahui anaknya kurang sopan atau berperilaku kurang baik.

 

Tindakan orangtua melepaskan tanggung jawab mendidik anak kepada pihak sekolah tentu kurang bijak. Mendidik anak perlu dilakukan oleh kedua belah fihak, orangtua dan juga sekolah secara seimbang. Anak adalah ibarat sebuah pesawat terbang yang membutuhkan dua sayap yang seimbang dan kokoh. Anak akan memiliki kepribadian yang baik ketika ia dibimbing, dididik, dan dibesarkan oleh orangtua dan juga sekolah dengan baik.

 

Perlu disadari, walaupun anak banyak menghabiskan waktu di sekolah, tetapi itu bukan jaminan anak akan berperilaku baik jika tidak didukung dan diarahkan oleh orangtuanya. Di sekolah banyak sekali hal-hal yang dapat memengaruhi perilaku dan emosi anak. Pergaulan anak dengan teman-teman yang lainnya dapat berpengaruh terhadap perilakunya. Di sekolah guru tidak dapat fokus mendidik atau mengajarkan akhlak dan budi pekerti secara orang perorangan, mengingat dalam satu kelas terdapat banyak anak. Oleh karena itu, campur tangan orangtua dalam mendampingi, mengasuh dan mendidik anak sangatlah penting (Umi Munawaroh:2011). Orangtua harus peduli dan tanggap terhadap pendidikan anak terutama yang berhubungan dengan kebutuhan jiwanya, seperti menanamkan sifat jujur, disiplin, tanggung jawab, mengajarkan bagaimana mengelola emosi dan perasaannya, merasa dicintai dan disayangi. (yer)

 

 

continue
8
Jul5

Terima kasih banyak kepada pak Iwan yang telah singgah di blog ini. Terima kasih juga untuk pertanyaannya.

 

Maksud ‘menuntut’ di sini adalah memaksa anak untuk dapat melakukan sesuatu yang diinginkan orangtua tanpa melihat bakat, minat, dan kemampuan anak tersebut, selain itu orangtua juga tidak memberikan dukungan dan bimbingan terhadap apa yang dituntutkannya tersebut kepada anak.

 

Sad Kid : Teenage student (15 years) carrying bookbag on shoulder, looking down with serious expression Stock Photo

Ilustrasi: www.123rf.com

Kita ambil contoh dari pertanyaan pak Iwan, misalnya, orangtua menuntut anak supaya ia lebih giat belajar sehingga ia dapat ranking I di kelas atau di sekolahnya, padahal orangtua tersebut tidak pernah membimbing anaknya belajar, tidak pernah ikut membantu anak belajar menyelesaikan pekerjaan rumahnya, tidak membimbing anak dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian, tidak mengantarkan anak untuk ikut serta dalam program bimbingan belajar dan bahkan orangtua tidak pernah mau tahu bagaimana kondisi anak tersebut di sekolahnya (tidak pernah meluangkan waktu menanyakan tentang anaknya kepada wali kelasnya). Hal seperti inilah yang seringkali terjadi pada para orangtua di lingkungan kita ini.

 

Perlu kita ketahui, pada dasarnya semua anak lebih suka bermain daripada belajar. Oleh sebab itu, sebagai orangtua sebaiknya kita tidak hanya menuntut anak supaya ia lebih giat belajar sehingga ia dapat meraih ranking I di sekolahnya. Kita sebagai orangtua juga dituntut supaya dapat lebih fokus dan menyediakan waktu untuk anak. Orangtua sebaiknya turun tangan untuk membimbing dan mengarahkan anak supaya anak semangat dalam belajar. Misalnya, dengan cara membuat suasana rumah menjadi nyaman untuk anak belajar, orangtua membantu anak belajar dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.

 

Tuntutan orangtua terhadap anak mungkin dapat berdampak postif jika ada kecocokan dengan bakat, minat, dan kemampuan anak tersebut. Tetapi sebaliknya, jika tidak cocok dan orangtua tetap menuntut anak, hal tersebut akan  membebani pengembangan dirinya. Hal yang lebih buruk mungkin terjadi dari tuntutan orangtua tersebut adalah membuat anak menjadi berontak, melawan orangtua atau bahkan mungkin membuat anak melakukan tindakan nekat yang tidak baik. Oleh karena itu, ketika orangtua menginginkan anaknya dapat melakukan sesuatu atau meraih sesuatu sesuai dengan yang diharapkan, orangtua tersebut perlu memperhatikan dan mempertimbangkan kemampuan, minat dan bakat anak tersebut. Selain itu, orangtua juga perlu memberikan dukungan, bimbingan, dan arahan kepada anak dengan cara turun tangan melakukannya atau membantu anak melakukan hal tersebut dengan konsisten, sabar dan ikhlas. (yer)

 

Demikian diskusi kita mengenai kesalahan orangtua ‘menuntut anak’. Semoga jawaban ini dapat bermanfaat.

 

Salam bahagia,

Yusi

8 Komentar

  1. Error: Unable to create directory /var/www/html/anakhebat/wp-content/uploads/2014/12. Is its parent directory writable by the server? Yusi Elsiano Rosmansyah says:

    Waaah, boleh juga isi comment nya...sangat menghibur, lucu...saya jadi ketawa sendiri niiiih...terima kasih ya...

  2. Dlm says:

    3 orang ibu hamil sedang ngboorl -ibu Nani : ntar kalau anakku lahir,aku kasih nma VANNI..karena nama bapaknya IRVAN dan ...

continue
0
Jul3

Ketika hubungan antara orangtua dengan anak dapat terjalin dengan baik, kedua belah pihak akan merasakan bahagianya hidup ini. Hubungan yang harmonis dapat tercipta jika keduanya saling menjaga sikap, tidak selalu merasa paling benar, tidak selalu menyalahkan, atau tidak mempedulikan satu dengan lainnya.

 

Happy With Kid : happy family silhouette

Ilustrasi: www.123rf.com

Dalam bukunya, Ali Hasan (2011) menyebutkan dua hal yang dapat membuat hubungan antara orangtua dengan anak menjadi harmonis, yaitu:

 

  1. Komunikasi. Ketika hubungan komunikasi antara orangtua dengan anak lancar, anak dapat berbicara lebih terbuka kepada orangtua, masalah yang terjadi akan lebih mudah diselesaikan. Banyak manfaat yang dapat diperoleh anak ketika orangtua mampu berbicara atau berkomunikasi kepadanya dengan cara lemah lembut, sopan dan jelas, yaitu pertama dapat menciptakan rasa percaya diri pada anak, ia akan merasa bahwa dirinya dihargai dan dianggap sudah dewasa. Kedua, sikap orangtua menjadi contoh atau tauladan untuk anak sehingga ia akan lebih mudah diterima oleh lingkungannya dengan baik karena tutur katanya yang baik dan sopan.
  1. Persahabatan. Menjadi orangtua sekaligus menjadi guru dan sahabat untuk anak memang bukan hal yang mudah, tetapi ketika orangtua dapat melakukan ketiga peran tersebut pada anak, orangtua akan lebih mudah dalam mengatur atau mengarahkan anak sesuai keinginan. (yer)

 

 

continue
9
Jun6

Anak menjadi sering membangkang, merusak, tidak bertanggung jawab, dan tidak patuh pada orangtua boleh jadi bukan murni kesalahan anak tersebut. Bagaimana pun juga, baik atau buruknya sikap atau karakter anak ada campur tangan orangtuanya. Artinya bukan saja perilaku baik, perilaku buruk yang timbul pada diri anak juga dapat disebabkan oleh orangtuanya.

Naughty Kid : Naughty little girl over the white background

Ilustrasi: www.123rf.com

 

Perilaku buruk pada anak sering kali menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh banyak pihak. Setidaknya pertanyaan mengarah pada apa yang menyebabkan anak sehingga ia berperilaku kurang baik?

 

Banyak hal yang dapat membuat anak memiliki perilaku kurang baik. Salah satunya adalah disebabkan oleh kesalahan pada pola asuh yang dilakukan orangtuanya. Menurut Ali Hasan (2011), terdapat beberapa kesalahan orangtua yang menyebabkan anak tidak shalih, diantaranya adalah:

 

  1. Membiarkan anak melakukan kesalahan
  2. Kurang apresiatif
  3. Selalu melarang anak
  4. Selalu menuntut anak
  5. Selalu mengabulkan permintaan anak
  6. Tidak mampu menjadi teladan bagi anak
  7. Melakukan kekerasan
  8. Tidak memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup
  9. Tidak sepaham antara ayah dan ibu
  10. Mengklaim buruk
  11. Terlalu memanjakan anak
  12. Terlalu berbaik sangka atau berburuk sangka terhadap anak
  13. Pilih kasih
  14. Mendo’akan buruk terhadap anak
  15. Bertengkar dan berbuat hal yang tidak layak di hadapan anak
  16. Susah memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
  17. Lalai pada bacaan, tontonan, dan pergaulan anak
  18. Membuat anak minder
  19. Tidak mendidik anak untuk bertanggung jawab
  20. Salah mengajarkan disiplin

 

9 Komentar

  1. Error: Unable to create directory /var/www/html/anakhebat/wp-content/uploads/2014/12. Is its parent directory writable by the server? Yusi Elsiano Rosmansyah says:

    Lingkungan dapat mempengaruhi perilaku anak. Ketika anak berada di lingkungan di mana orang-orang di sekitarnya selalu berbicara baik (tidak kasar), ...

  2. widya says:

    terimakasih info yang sangat berharga ibu... sya punya sedikit kesulitan dengan anak saya yang umurnya 2,5 thn...sebelum pindah ketempat baru ini...anak ...

continue
Dua Buku Fahma+Hania Bikin Animasi&Game Telah Terbit

Bagi Pembaca dan Putra-Putrinya yang jauh dari SKACI, silakan bisa belajar mandiri dengan menggunakan buku ini:
* Foto Dua Buku dan Lokasi SKACI Bandung Dago di Peta
* Informasi mengenai Buku dari Penerbit
rss
rss

Hak cipta semua artikel di web ini adalah milik Yusi Elsiano Rosmansyah, kecuali jika ada penulis lain, namanya akan ditulis secara eksplisit di artikel terkait. Jika Pembaca ingin menggunakan artikel-artikel ini untuk tujuan sosial atau nirlaba (misalnya, buletin yayasan, studi kasus), saya hanya mohon SATU etika akademis saja, yaitu: "CANTUMKAN NAMA PENULIS (Yusi Elsiano Rosmansyah) DAN ALAMAT WEB INI (www.PerkembanganAnak.com)". Mari kita sebarluaskan dan amalkan ilmu pengetahuan dengan bijaksana.