Aplikasi Ponsel Buatan Anak Saya Pemenang INAICTA 2010

Sabtu lalu (24 Juli 2010) Tim Anak saya: Fahma (12) dan Hania (6) menjadi pemenang INAICTA 2010 tingkat SD. Sejak 2 tahun lalu, Fahma senang membuat aplikasi ponsel untuk adiknya (dan anak usia balita lainnya), agar dapat belajar di ponsel orangtuanya. Silakan coba di ponsel Pembaca.

Bagi Pembaca yang menggunakan komputer untuk membuka web ini, silakan klik kanan, lalu "Save Link As", lalu simpan filenya di komputer, dan pindahkan ke ponsel.

Jika Pembaca membuka halaman ini dengan browser ponsel, langsung klik saja.

ENRICH - English for Children
MANTAP - MAtematika untuk Anak Pintar
BAHANA - Belajar Huruf, Angka, dan Warna

Semoga bermanfaat. Versi yang lebih baiknya sedang dikembangkan oleh Tim Profesional, harap tunggu ya!

Monday, 26 July 2010

Mendedikasikan Waktu untuk Anak

Oleh: Yusep Rosmansyah

Sebagai orangtua, tentunya kita akan merasa sangat bangga tatkala anak-anak kita berprestasi. Bahkan, mungkin kita merasa lebih bangga ketimbang kita sendiri yang mendapatkan prestasi tersebut. Menurut pengalaman kami, salah satu kunci mendapatkan kebanggan tersebut ternyata adalah "mendedikasikan waktu untuk anak".

Dalam kesempatan ini, kami ingin berbagi sedikit cerita mengenai apa yang telah kami lakukan kepada anak-anak kami.  Kebetulan, Tim Anak (Fahma, 12 dan Hania, 6) telah resmi menjadi Pemenang Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA) 2010 untuk kategori Sekolah Dasar dari Menteri Kominfo, Bapak Tifatul Sembiring.  Hadiah berupa piala, piagam, dan beasiswa tiga puluh juta rupiah. Siapa tahu, banyak rekan-rekan orangtua yang dapat mencobanya, dan memberi masukan kepada kami, sehingga pada akhirnya kita semua memiliki "a good practice", dan mudah-mudahan nantinya dapat menjadi "best practices" yang dapat dijadikan rujukan bagi kita semua.

Lebih tepatnya, tulisan ini adalah berbagi cerita bagaimana agar anak berprestasi di bidang IT (Information Technology): agar anak tidak menjadi "ahli main game", tetapi jadi "ahli membuat game".

Pada prinsipnya, kita dihadapkan pada beberapa persoalan untuk kita optimasi (kompromikan):

1. waktu anak sangat sedikit: sekolah full day, pada hari kerja praktis tidak ada waktu tersisia untuk hal lain selain urusan sekolah. Sabtu ada ekskul, yang tersisa tinggal Ahad, yang sudah juga diisi berbagai kegiatan, seperti olah raga, atau rekreasi.

2.  waktu orangtua lebih sedikit lagi, apalagi jika niat orangtua untuk mendedikasikan waktu untuk anak terlalu rendah.  Kedua pihak (anak dan orangtua) yang "super sibuk" ini menjadi sulit untuk bertemu.

3. prestasi hanya dapat diraih jika anak (atau, siapa pun juga) memiliki waktu yang memadai untuk berlatih secara tekun dan berkesinambungan.

4. salah satu hak anak adalah bermain. Jika orangtua terlalu "bernafsu" untuk mendorong anak berprestasi, boleh jadi anak malah overload, stress, dan bahkan depresi. Orangtua perlu menjalankan trik agar anak tetap merasa bermain, padahal menjalankan misi kita agar dia berprestasi.

Salah satu trik yang kami jalankan untuk mengkompromikan hal-hal yang bertentangan di atas adalah menjadi pendengar yang baik, menjadi motivator, dan mencarikan pelatih-pelatih yang cocok dengan anak.  Untuk menjadi pendengar dan motivator yang baik, tentu perlu mendedikasikan waktu kita untuk anak, agar mendapatkan momen-momen yang tepat, sehingga apa yang kita sampaikan kepada anak dapat dimengerti dan dijalankan dengan baik oleh anak.

Demikian dulu berbagi cerita-nya.  Mohon maaf jika tulisannya masih terlalu "berbau tukang insinyur", maklum belum biasa menulis blog..he he.  Apapun kesibukan kita, mari kita dedikasikan sebagian waktu kita untuk anak-anak kita!  Penerus bangsa yang hebat, prosesnya dimulai dari kita dan keluarga kita. Mari kita jadikan setiap hari sebagai Hari Anak Nasional!

Wassalam,
Yusep Rosmansyah

Wednesday, 9 June 2010

Waktu Makan yang 'Menegangkan'

Waktu makan telah tiba. Inilah saatnya di mana sebagian orangtua dan anak terkadang merasa tidak nyaman. Di antara mereka terjadi adu argumentasi. Anak bersikeras tidak mau makan atau tidak mau menghabiskan makanannya, sedangkan orangtua tetap meminta anak menghabiskan makanannya. Pada situasi seperti ini biasanya orangtua dan anak menjadi sama-sama tidak sabar lagi dan bahkan marah.

Berbagai alasan seringkali dijadikan anak sebagai ‘senjata’ untuk menolak makan. Misalnya menunya tidak enak, mengunyah makanan dengan sangat lambat (diemut) atau makanan berceceran (berantakan dan kotor). Menyikapi kondisi anak seperti di atas, ada beberapa tips dari Jacob Azerrad (2005), yaitu:

1. Anak dibolehkan makan hanya pada jam makan. Tidak membiarkan anak makan makanan ringan sebelum waktu makan tiba. Ini membuatnya memilih antara dua pilihan, yaitu ia menjadi lapar (dan ini tidak mungkin), atau ia akan makan bersama dengan keluarganya.

2. Jika anak tidak menghabiskan makanannya, jangan memaksanya untuk menghabiskan. Ia diperbolehkan meninggalkan meja tanpa makanan penutup (kue, juice, dll). Simpanlah sisa makanannya di kulkas. Hindari membujuknya untuk kembali ke meja makan. Jika nanti ia menanyakan makanannya yang tidak habis dan ia akhirnya menghabiskannya, tawari ia makanan ringan kesukaannya, pujilah ia sesuai apa yang ia lakukan. Segeralah ikuti pujian tersebut dengan menghabiskan beberapa menit melakukan sesuatu yang ia sukai. Misalnya main bola, main petak upet, main boneka, atau membacakan buku cerita.

3. Jika ada makanan yang berceceran (mungkin anak mencari perhatian), hindari mengomentarinya. Orangtua tidak dapat mengharapkan perilaku sempurna di meja makan dari anak berusia 5 tahun. Mengatakan secara berulang –ulang kesalahan-kesalahan di meja makan, mungkin akan sedikit sulit bagi anak untuk bengubah secara langsung perilakunya tersebut. Tindakan orangtua tersebut hanya akan mendatangkan kesan pada anak bahwa waktu makan adalah waktu yang tidak menyenangkan. Sebaiknya, anak diberi pengertian sesuai dengan usia dan kedewasaan anak ketika ia waktu makan sudah selesai. Berilah pengertian dan arahan tentang kebiasaan-kebiasaan makan yang baik dan sangat penting untuk dilakukannya. (yer)

Monday, 31 May 2010

Membantu Anak Tumbuh 'Dewasa'

Kenapa sih anak ini, semakin besar malah semakin suka melawan orangtua, bukannya semakin dewasa? Itulah salah satu kalimat yang sering dilontarkan orangtua kepada anak remajanya. Anak yang baru menginjak usia remaja, biasanya ingin selalu menunjukkan bahwa dirinya sudah dewasa. Ia cenderung tidak mau lagi diatur oleh orangtuanya.dan selalu igin membuat keputusan sendiri. Contohnya, ia tetap memutuskan pergi ke toko untuk membeli perekat besi karena ketidaksengajaannya mematahkan mainan adik, atau ia tetap berangkat ke rumah temannya walaupun orangtua melarangnya.

Tindakan perlawanan anak seperti di atas, sebaiknya tidak langsung ditanggapi orangtua dengan sikap negatif (marah). Berikanlah pengertian dan dukungan kepada anak dengan memuji tindakannya yang memang mencerminkan kedewasaan (bertanggung jawab dan menepati janji). Misalnya untuk kasus di atas, ia melawan perkataan orangtua karena ia ingin bertanggung jawab atas kerusakan yang telah ia lakukan terhadap mainan adiknya, atau ia ingin menepati janji yang telah disepakati dengan temannya. Perilaku penyimpangan dan perlawanan anak remaja merupakan salah satu ekspresi karena ia ingin membuktikan bahwa ia telah mandiri atau dewasa.

Jika orangtua tidak berusaha untuk memahami maksud dari ‘perlawanan’ anak tersebut, karena tidak terjalin komunikasi yang baik maka akan terjadi sebuah perselisihan yang mungkin berakhir dengan perasaan yang terluka satu sama lain. Keduanya saling menyalahkan menganggap tidak pengertian. Orangtua menganggap anaknya sudah tidak patuh. Begitu juga anak, boleh jadi ia mengaggap orangtuanya selalu mengatur atau ikut campur urusannya.

Untuk menjadi orang dewasa bukanlah proses yang mudah, tetapi juga bukan hal yang sangat sulit. Butuh dukungan yang harus diikuti dengan proses pembelajaran. Menurut Jacob Azerrad (2005) mengajarkan anak supaya mampu berperilaku mandiri dan dewasa adalah dengan cara mengajarkan anak bagaimana sebaiknya ia berperilaku di dunia luar. Hal tersebut adalah supaya anak mampu menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang mungkin terjadi dalam kehidupannya. Selain itu, anak juga perlu diajarkan supaya tidak mudah dipengaruhi orang lain, karena ia memiliki nilai-nilai dalam dirinya yang kuat, yang menjaga perilakunya, dan membantunya dalam membuat keputusan sendiri. Para orangtua harus mengajarkan kepada anak dan memperaktekannya dalam kehidupan sehari-hari bagaimana berperilaku dewasa, dan mandiri, tidak bergantung, peduli, dan bertanggung jawab. Dengan pembekalan tersebut, diharapkan anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan diharapkan banyak orang. (yer)

Sunday, 30 May 2010

Jangan Biarkan Amarah itu Ada

Ketika kemarahan itu terjadi, orangtua dan remaja biasanya akan saling menyalahkan. Orangtua marah kepada remaja ketika ia melakukan atau mengatakan sesuatu yang dianggap orangtua sebagai perilaku yang tidak bertanggung jawab. Begitupun sebaliknya, remaja marah kepada orangtua saat perilaku orangtua diangggap tidak adil atau mementingkan diri sendiri.

Sebagai orangtua, kita perlu belajar untuk mampu mengendalikan amarah. Jika kita tidak dapat mengendalikan amarah, usaha orangtua dalam melakukan pendampingan terhadap anak akan menjadi rusak. Seorang remaja yang sering menerima perlakuan kasar dari orangtua (marah), akan semakin sulit untuk mengingat lagi kebaikan, cinta, kasih sayang, dan pelayanan yang diberikan orangtua kepadanya, terutama ketika ia masih kecil. Pada umumnya, tidak banyak hal yang dapat diingat anak ketika ia kecil. Sebaliknya, anak yang sudah menginjak remaja biasanya akan merekam jelas segala tindakan yang dilakukan orangtua kepadanya. Jika orangtua sering marah dan bertindak tidak baik dalam bersikap maupun berucap kata, semua tindakan tersebut akan melekat di dalam pikirannya. Hal seperti itu tidak baik untuk pertumbuhan emosionalnya.

Hindarilah terjadi pertengkaran dengan remaja. Berikan arahan dan pengertian kepadanya melalui jalinan komunikasi yang lebih baik lagi. Ketika komunikasi terjalin dengan baik, akan lebih mudah untuk menjadi ‘sehati’.
Menurut Gary Chapman (2007) ada beberapa hal penting dapat orangtua lakukan supaya terrhindar dari amarah:
1. Mengakui Kebenaran
2. Mengembangkan Strategi
3. Menganalisa Amarah dan Memperhatikan Opsi-opsi
4. Ajak Anggota Keluarga dalam Percakapan

Sebagai orangtua, marilah sama-sama untuk belajar mengendalikan amarah. Keliru dalam mengendalikan amarah, akan mengakibatkan efek negative (benci, dendam, sakit hati) kepada orangtua juga anak. Amarah dapat menjadi penyebab di balik retaknya hubungan antara orangtua dan remaja. (yer)

Friday, 28 May 2010

Remaja Depresi

Karier, jabatan, pangkat merupakan sesuatu yang sering dikejar oleh banyak orang. Bukan saja merupakan dambaan kaum laki-laki sebagai seorang kepala rumah tangga, tetapi juga banyak kaum wanita (ibu) yang mendambakan untuk mencapai karir sesuai yang diharapkan.

Sebagai salah satu konsekuensi pencapaian karir tersebut, dibutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.  Hal demikian sering membuat kesempatan untuk 'lebih dekat' dengan anak menjadi semakin berkurang.  Kurangnya komunikasi dan memberikan perhatian kepada anak membuat anak menjadi merasa sepi dan hampa.  Antara orangtua dan anak tidak terjalin ikatan batin.  Tidak ada waktu untuk saling berbagi perasaan. 

Apabila kondisi seperti di atas dibiarkan berlarut-larut, khawatir akan terjadi sebuah penyakit yang dinakan depresi pada anak. Frederic Luskin (2004) menyatakan bahwa depresi merupakan suatu penyakit yang menyebabkan perasaah sedih, hampa, dan putus asa dalam kurun waktu yang lama sehingga mengganggu fungsi kemampuan anak-anak atau remaja.

Ada beberapa ciri yang dapat kita lihat pada anak yang mengalami depresi diantaranya adalah:
1. Acapkali sedih dan menangis
2. Keputusasaan
3. Tidak mampu menikmati aktivitas yang sebelumnya menjadi favoritnya
4. Terus menerus merasa bosan dan kurang energi
5. Kurang menghargai diri dan merasa bersalah
6. Sensitif yang berlebihan, melakukan penolakan atau merasa gagal
7. Cepat marah atau adanya rasa permusuhan
8. Sulit dalam bertaman
9. Sering absent dan sering tidak masuk sekolah
10. Sering mengeluh penyakit-penyakit fisik, seperti sakit kepala dan sakit perut
11. Kurang konsentrasi
12. Berpikir untuk melakukan bunuh diri atau perilaku yang merugikan diri sendiri
13. Alkohol dan drug

Anak yang menderita depresi sangat membutuhkan pertolongan dan dukungan yang serius, baik dari orangtua, dirinya sendiri, dan juga teman atau lingkungannya. Pada kondisi anak sedang depresi, perhatian dan keterlibatan orangtua dan orang-orang yang ada didekatnya sangatlah berarti baginya. Sangatlah penting bagi orangtua untuk segera menyadari bahayanya membiarkan anak dalam kondisi depresi. Orangtua harus mampu memberikan perhatian secara serius sebab jika tidak, risikonya akan lebih besar.

Sebelum terjadi penyesalan yang mendalam, berikanlah yang terbaik untuk buah hati kita. Mulailah memperhatikan anak-anak kita, apakah ada salah satu atau beberapa tanda di atas terjadi pada anak kita?. Jika ya, segeralah orangtua bertindak dan memperbaiki pola pengasuhan pada anak. Bukankah apa yang dikerjakan orangtua selama ini adalah untuk membuat buah hati tercinta bahagia?. (yer)