-
SKACI
Sekolah Komputer Anak Cinta Indonesia
Bermain adalah hak anak. Membuatnya hebat dan berprestasi adalah kewajiban orangtua. Membimbing anak bermain agar jadi jago IT/Komputer adalah tugas kami

-
Fahma-Hania
Karya-karya Fahma-Hania
Aplikasi-aplikasi buatan Fahma-Hania

-
SiGokil
Capture beautiful moments, interesting sights, something weird, accidents, crimes, or just yourself and share from your exact position. Sell or find stuff near you, and bid or offer using this app. Track your children, spouse, even your vehicles

-
SiGokil Solutions
Give implementable mobile solutions to accommodate the needs of mobile reporting, mobile surveying, mobile monitoring, mobile tracking, and back-end analyzing, to improve efficiency and effectiveness

-
ACI Corporation
Attentive Creations International is a mobile and web applications developer. We develop perfection in all applications we built. We have been the biggest part of industries solutions.

|
Jan26
Setiap keluarga memiliki gaya pengasuhan yang berbeda pada anak-anaknya. Ada orangtua yang terbiasa menerapkan disiplin dan peraturan secara ketat dan keras, sehingga tidak ada toleransi dalam memberikan hukuman pada anak yang melakukan kesalahan. Ada orangtua yang selalu memanjakan anaknya secara berlebihan, sehingga ketika anak melakukan suatu kesalahan mereka membiarkannya dengan alasan ‘sayang’. Ada juga orangtua yang tidak peduli pada anak, apapun yang dilakukan oleh anaknya, mereka tidak ambil pusing. Selain itu, ada juga orangtua yang selalu membimbing, memperhatikan dan selalu mendiskusikan bersama anak ketika akan menggunakan suatu aturan dalam keluarganya.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Dari beberapa contoh kasus di atas, secara garis besar kita dapat membedakan orangtua berdasarkan gaya kepengasuhannya ke dalam empat kelompok (Aprilina:2011), yaitu:
- Orangtua otoriter. Orangtua seperti ini sering menerapkan peraturan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, kaku. Misalnya, orangtua menetapkan aturan bahwa pada jam 4 sore anak sudah harus ada di rumah, tanpa ada kompromi atau penjelasan apapun mengapa peraturan itu dibuat. Ketika anak pada jam yang telah ditentukan tersebut belum datang, hukuman pasti sudah menanti. Hukuman yang mereka lakukan boleh jadi bukan hanya omelan atau bentakan saja, tetapi boleh jadi disertai hukuman fisik seperti memukul, menjewer atau menampar.
- Orangtua permisif. Orangtua tipe ini sebaliknya dari gaya pengasuhan otoriter. Biasanya orangtua dengan pengasuhan permisif selalu mengikuti kemauan anak, sering melupakan hukuman yang seharusnya anak terima. Mereka lebih memilih memanjakan anak.
- Orangtua otoritatif. Tipe gaya pengasuhan ini adalah tipe ideal. Orangtua seperti ini cenderung memberikan bimbingan kepada anak-anaknya. Peraturan dibuat dan ditegakkan disertai dengan penjelasan dan terbuka untuk didiskusikan bersama anak-anak. Orantua tipe ini tetap tegas dan konsisten dalam menerapkan disiplin. Mereka lebih terbuka dalam mengungkapkan rasa sayangnya pada anak. Selain itu, mereka juga selalu memuji ketika anak mendapatkan prestasi atau melakukan sesuatu yang baik atau positif.
- Orangtua tak acuh. Orangtua dengan tipe ini biasanya tidak peduli pada anak, tidak memberikan bimbingan maupun rasa sayang pada anaknya. Anaknya mau berbuat apa saja, mereka tidak peduli. (yer)

Jan18
Takut atau khawatir adalah perasaan yang dapat membuat jantung seseorang yang merasakannya berdegup kencang. Perasaan takut atau khawatir kadang-kadang juga membuat seseorang mengeluarkan keringat dingin, tangan gemetar atau bulu kuduk berdiri.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Perlu kita sadari, tidak selamanya perasaan takut itu menganggu kita. Perasaan takut itu juga sangat penting dan merupakan anugrah dari Tuhan Yang Maha Penyayang yang harus kita syukuri. Tanpa perasaan takut, diri kita akan lemah dan mudah celaka. Coba bayangkan jika kita tidak memiliki perasaan takut, mungkin kita tidak akan melakukan apapun ketika seekor harimau buas menghampiri dan akan menerkam kita.
Perasaan takut adalah sangat penting untuk kita miliki. Setiap orang pasti pernah merasakan takut atau khawatir. Misalnya, takut nilai ujiannya kecil, khawatir tidak naik kelas, takut salah bicara ketika berpidato nanti, takut salah gerakan ketika sedang menari di atas panggung nanti, dan masih banyak lagi perasaan takut lainnya. Perasaan seperti itu jika terjadi terus menerus tentu akan membuat seseorang merasa tidak nyaman dan tersiksa.
Hal yang dapat kita lakukan agar perasaan takut itu tidak terus menerus ada di dalam pikiran kita, melakukan suatu tindakan positif yang dapat membuat perasaan kita bahagia atau sibuk adalah solusi yang sangat baik. Misalnya, membaca buku cerita, memasak, menonton film lucu, atau mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta (berdzikir). Selain itu, kita juga dapat mengubah pikiran negatif (perasaan takut) tersebut dengan pikiran positif, misalnya jika kita takut salah bicara ketika tampil di depan umum, janganlah berpikir takut salah berbicara, tetapi sebaliknya pengaruhilah pikiran kita dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa ini adalah kesempatan baik untuk menampilkan kemampuanku yang terbaik. Dengan cara memikirkan hal terbaik yang mungkin terjadi, merupakan langkah cerdas untuk mengatasi ketakutan.
Hindarkanlah berpikir takut melakukan kesalahan, percayalah bahwa semua orang juga pernah melakukan kesalahan atau mengalaminya. Hal yang paling penting adalah ketika kita melakukan suatu kesalahan, belajarlah dari kesalahan tersebut dan lakukanlah yang lebih baik di lain waktu (James:2004). (yer)

Jan16
Perilaku tidak menepati janji yang dilakukan sebagian orangtua kepada anak seringkali dianggap hal yang biasa-biasa saja. Banyak orangtua yang berjanji kepada anak misalnya akan memberikan atau membelikan sesuatu tetapi pada akhirnya janji tersebut tidak pernah ditepatinya. Mereka menganggap bahwa tidak menepati janji kepada anak tidak akan menjadi sebuah masalah yang besar, tidak seperti ketika mereka tidak menepati janji kepada temannya, klien atau bosnya, efeknya mungkin akan langsung terasa yaitu akan kehilangan kesempatan, tidak dipercaya lagi dan bahkan mungkin akan kehilangan pekerjaannya.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Perlu orangtua ketahui, tidak menepati janji kepada anak akan sama buruknya dengan tidak menepati janji pada orang dewasa lainnya. Ketika orangtua tidak menepati janji pada anak, perasaan anak akan terluka dan kecewa. Jika orangtua seringkali tidak dapat menepati janji kepada anak, cepat atau lambat anak tidak akan hormat dan tidak percaya lagi kepada orangtuanya.
Tepatilah janji walaupun pada seorang anak yang masih kecil. Walaupun anak kita masih kecil, seringkali daya ingatnya lebih panjang, ia akan selalu mengingat akan janji yang telah diucapkan orangtua kepadanya. Orangtua adalah panutan bagi anak-anaknya. Apabila orangtua berjanji pada anak, misalnya akan membelikan oleh-oleh makanan atau mainan sepulang dari kantornya nanti, orangtua harus menepatinya, karena hal tersebut akan membekas dalam diri anak, selain itu ia juga akan mencontoh atau mengikuti jejak orangtuanya, baik ataupun salah (Umar:2008). (yer)

Jan13
Ketika seseorang berbicara tentang sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan atau fakta, seseorang tersebut sedang berbohong. Bohong itu ada beberapa macam, ada bohong yang dibuat-buat seperti bercerita tentang sesuatu yang seolah-olah terjadi, padahal cerita tersebut tidak pernah terjadi, ada juga bohong ‘putih’, yaitu bohong untuk menutupi sesuatu karena dianggap jika berkata jujur akan membahayakan, misalnya tidak menjawab dengan menceritakan pembicaraan seseorang yang kurang baik kepada orang yang bersangkutan, hal tersebut akan mengakibatkan orang yang bersangkutan membenci orang yang membicarakannya tersebut.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Berkata bohong kadang-kadang dapat membuat suasana menjadi lebih baik, misalnya dengan melakukan berbohong ’putih’, tetapi sekecil apapun berbohong sebaiknya tidak dilakukan, selain berbohong itu adalah dosa juga dapat mempersempit rezeki (Umar Abdul Kafi:2008).
Berbohong jika sering dilakukan akan menjadi kebiasaan. Jika anak terbiasa berbohong dengan hal-hal kecil, lama kelamaan akan menjadi terbiasa berbohong dengan hal-hal besar, akhirnya ia akan terbiasa berbohong untuk banyak hal pada banyak orang, hasilnya orang lain akan sulit mempercayainya.
Ketika kebiasaan berbohong terbawa sampai dewasa, ia akan mendapat kesulitan untuk dipercaya oleh orang lain, sehingga kesempatan mendapatkan rezeki (uang) akan terhambat. Misalnya, karena ia sering berbohong, sedikit sekali orang yang mau menggunakan jasanya atau mempekerjakannya, akhirnya kesempatan mendapatkan rezeki menjadi hilang.
Perlu ditekankan pada anak, berbohong itu selain merugikan juga mempersulit diri sendiri. Ketika satu kali seseorang itu berbohong, biasanya ia harus berbohong lagi. Ia harus berfikir keras untuk menyembunyikan sesuatu yang tidak benar dengan cara berkata bohong lagi, karena satu kebohongan biasanya harus ditutupi dengan kebohongan lain.
Oleh karena itu, penting bagi orangtua menanamkan sikap jujur kepada anak sejak kecil. Menanamkan sikap jujur pada anak dapat dilakukan dengan banyak cara, misalnya dengan memberikan contoh menghindarkan berkata bohong dalam kehidupan sehari-hari, memberikan nasihat dan pengertian bagaimana akibatnya jika seseorang tidak dipercaya karena suka berbohong. Dengan cara seperti itu, diharapkan anak akan mengerti dan memahami pentingnya bersikap jujur dalam menjalankan hidup ini. (yer)

Jan10
Setiap manusia, baik itu orang dewasa maupun anak-anak pasti memiliki perasaan yang sama, yaitu ingin dipahami dan dimengerti. Jika orang dewasa merasa tidak senang ketika dirinya tidak dipahami dan dimengerti dengan banyak kritik, anak-anak juga akan merasakan hal yang sama. Ini terbukti ketika orangtua sering memberikan kritik terhadap apa yang dilakukan anak, ia akan cenderung marah atau tidak mau menerima kritikan tersebut.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Ketika anak melakukan suatu kesalahan, berusahalah untuk tidak cepat memberikan kritik padanya. Bersikaplah mengerti dan empati terhadap apa yang dilakukan anak, tidak langsung mengkritik atau memarahinya. Kesalahan yang dilakukan anak tersebut mungkin saja karena ketidaksengajaan, ada sesuatu yang telah membuatnya panik sehingga ia lupa atau mungkin karena ia sedang mengalami banyak tekanan dan sedih.
Marilah kita mencoba untuk berempati pada kasus berikut ini:
Seorang ibu sedang sibuk memasak dan menyiapkan makan pagi, tiba-tiba sang anak menangis ingin dibuatkan susu. Pada waktu bersamaan, sang ayah meminta sang ibu mencarikan kunci mobil karena ia lupa menyimpannya padahal ia harus segera berangkat bekerja. Kondisi seperti ini akan membuat sang ibu menjadi tidak fokus, ia jadi lupa bahwa pada saat itu ia sedang memasak, akibatnya masakan menjadi gosong.
Pada kasus seperti di atas, sang ibu pasti akan sangat sedih dan bahkan kecewa apabila sang ayah malah mengomentari masakan yang sudah gosong dengan kritikan. Dalam kondisi seperti itu, ibu tentu berharap ayah bisa mengerti dan memahaminya, pagi itu ibu sangat sibuk, banyak hal yang harus dikerjakan dalam waktu yang bersamaan, sehingga masakan menjadi gosong.
Sedih dan kecewa yang dirasakan ibu akan sama dengan yang dirasakan anak ketika ia sedang tidak dimengerti dan dipahami oleh orangtuanya. Tentu akan berbeda situasinya jika dalam kasus di atas sang ayah mau memahami dan mengerti kondisi sang ibu, tidak langsung mengomentari atau mengkritik pekerjaan ibu yang sudah gagal. Dengan pengertian dan empati , ibu mungkin akan lebih mudah menerima kesalahan yang telah dilakukan. Begitu juga pada anak, selain ia akan mampu menerima nasehat dari orangtuanya, ia juga akan memiliki semangat untuk memperbaiki perilaku salahnya dengan senang hati.
Sebagai orangtua, kita perlu mengetahui bahwa di antara hak-hak anak yang paling penting dan harus dilaksanakan orangtua adalah memahaminya, berempati, dan menasehatinya dengan cara bijak, jika ia melakukan suatu kesalahan (Muhammad Rasyid Dimas:2005).(yer)

Jan9
Jika kita sadari, orangtua adalah orang yang sepanjang hidupnya akan selalu mencintai kita dengan sepenuh hati. Bagaimanapun kondisi fisik dan sifat buah hatinya, mereka akan tetap menyayangi dan mencintainya. Hanyalah orangtua yang selalu mampu mencintai buah hatinya tanpa pamrih. Orangtualah yang pertama kali akan merasa sangat sedih dan khawatir ketika buah hatinya sakit atau menderita. Cinta, kasih dan sayang orangtua terhadap buah hatinya tak akan pernah tergantikan. Dalam segala keterbatasannya, orangtua selalu ingin dapat memberikan yang terbaik untuknya. Tetapi mungkin tidak semua anak mampu mengerti dan memahami apa yang dirasakan orangtua sehingga mereka berani dan rela melakukan segalanya untuk membahagiakan sang buah hati.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Dalam perjalanan membesarkan buah hatinya, tidak sedikit orangtua yang akhirnya menerima keluhan, kritik dan bahkan mungkin sikap yang kurang baik dari anak yang dibesarkannya. Keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya menjadi sesuatu hal yang seolah-olah tidak dapat ia terima.
Ketika kita selalu merasa kurang pada apa yang telah orangtua berikan dan lakukan pada kita sebagai anak, marilah kita ingat kembali dan bayangkan kehidupan ayah dan ibu sebelum kita lahir. Bayangkan bagaimana wajah mereka ketika baru memulai semua ini: bahagia, penuh semangat, saling berusaha mengenal satu sama lain. Kemudian, mereka tahu kita sebagai anak akan hadir. Hati mereka sangat senang. Mereka membelikan kita pakaian, merancangkan kamar tidurnya. Mereka ingin melakukan segala sesuatunya dengan baik dan benar untuk buah hati tercintanya. Kemudian, bayi itu lahir. Mereka menggendongnya, membawanya pulang dan memamerkannya pada setiap orang. Ketika kitamasih bayi, kita sangat tidak berdaya, merekalah yang merawat dan menjaganya dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Mereka melepaskan tangan kita di hari pertama sekolah. Mereka menjawab semua pertanyaan yang kita ajukan. Mereka mengantar kita ke tempat-tempat latihan.
Tetapi, kemudian sesuatu terjadi: Kita berubah menjadi seorang remaja. Sekarang dorongan dan nasihat mereka terdengar seperti omelan, kehadiran mereka membuat kita tidak leluasa. Mereka bingung. Mereka melakukan hal yang sama seperti yang dulu biasa mereka lakukan, tapi kini kita tidak menyukainya lagi. Sekarang, tolong bayangkan orangtua kita sebagaimana adanya hari ini. Mereka tetap ingin berbuat yang terbaik untuk kita (anak-anaknya), karena mereka mencintaimu.
Seandainya ada ucap atau sikap salah yang mungkin orantua tidak sengaja melakukannya sehingga melukai perasaan kita, dapatkah kita memaafkannya? bagaimanapun juga orangtua adalah orang yang selalu ingin memberikan yang terbaik dan melihat buah hatinya bahagia (Bobbi:2011). (yer)

Jan6
Belakangan ini banyak sekali anak remaja yang lebih memilih menjalani hidup ini dengan cara ‘mengalir saja bagaikan air’. Mungkin maksud pernyataan tersebut hanya untuk menggambarkan atau mengungkapkan sebuah kondisi saja, bahwa dalam menjalani hidup ini tidak perlu dibuat susah atau rumit, tetapi santai dan jalani saja.
Menanggapi pernyataan remaja di atas, sejatinya orangtua perlu meluruskan pernyataan tersebut. Menjalani hidup dengan sikap tenang dan sabar seperti air yang mengalir adalah baik, tetapi tentu harus mengupayakan terlebih dahulu segala sesuatunya dengan optimal, tidak hanya santai tanpa usaha. Tetaplah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk setiap hal yang sedang kita jalani, supaya kita dapat menjalani hidup ini seperti air ledeng yang bersih, yaitu yang mengalir menuju pipa-pipa yang mengarah ke tempat yang baik dan menjadi air yang bermanfaat bagi banyak orang (Abdul:2011), bukan menjadi air hujan atau air selokan yang kotor, yang mengalir tanpa arah dan suatu saat akan menjadi bencana untuk masyarakat banyak, yaitu banjir. (yer)

Des28
Ulangan sejarah… ulangan geografi… “Buat apa sih aku harus belajar sejarah atau geografi?” itulah pertanyaan yang sering dilontarkan anak remaja setiapkali diminta untuk belajar dan menghafal.
Memang, terkadang orangtua juga suka kebingungan ketika harus menjawab pertanyaan seperti itu. Seringkali para orangtua menjawabnya bahwa belajar dan menghafal itu adalah untuk membuatnya menjadi orang sukses di masa depan. Jawaban seperti itu tentu tidak mudah untuk difahami oleh anak remaja.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Motivasi belajar anak remaja seringkali menurun, apalagi ditambah dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada dirinya. Ia sering menyimpulkan bahwa belajar dan menghafal suatu mata pelajaran adalah hanya untuk mendapatkan nilai atau tanda lulus. Dalam kondisi seperti ini, peran orangtua untuk meningkatkan motivasi belajar anak adalah sangat penting. Merangsang motivasi belajar anak dari dalam dirinya lebih baik daripada hanya menyuruhnya supaya ia rajin belajar.
Adalah penting menerapkan prinsip AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) pada anak (Bobbi:2011) ketika akan mengerjakan sesuatu. Dengan prinsip tersebut ia akan faham dan semakin terpacu untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Ia akan tahu manfaat apa saja yang akan ia peroleh dan rasakan ketika ia belajar dengan sungguh-sungguh.
Untuk memotivasi semangat belajarnya, ingatkan kembali kepadanya bagaimana perasaannya ketika ia mendapatkan sebuah prestasi dalam hidup. Kita percaya bahwa setiap orang pasti pernah mencapai sebuah prestasi dalam hidupnya dan kejadian tersebut tentu sangat membahagiakan dirinya. Misalnya, anak merasa bahagia ketika ia dapat membeli sepeda dari hasil menanbung selama tiga bulan, bahagia karena mendapat juara satu di kelas atau merasa bahagia karena mendapat juara lomba bulu tangkis.
Perasaan bahagia biasanya akan tersimpan baik dalam ingatan seseorang, oleh karena itu ajaklah dan pengaruhilah anak supaya ia mampu mendapatkan lagi kebahagiaan tersebut. Dengan memberikan motivasi, mengajak anak untuk dapat mencapai sebuah prestasi dapat membuat anak lebih bersemangat lagi dalam belajar. Kita percaya bahwa setiap orang pasti ingin kebahagiaan yang pernah diraskannya dapat terulang kembali dalam hidupnya.
Contoh: Ketika orangtua ingin memotivasi anak supaya mau belajar, mintalah ia untuk selalu belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga suatu saat nanti ia dapat diterima di sekolah yang terbaik sesuai dengan yang diinginkannya. Terangkan juga padanya bahwa peluang sukses dari sekolah yang terbaik akan lebih banyak dibandingkan dari sekolah lainnya. Aajaklah anak untuk merasakan betapa bahagianya jika ia dapat diterima di sekolah favoritnya tersebut. (yer)

Des27
Khawatir…., banyak orangtua merasa khawatir secara berlebihan terhadap anak. Rasa sayang dan cinta orangtua terhadap anak seringkali membuat mereka merasa khawatir, terlebih ketika sang buah hatinya sedang tidak berada di dekatnya, misalnya pada saat sang buah hati sedang pergi main dengan teman-temannya atau sedang mengikuti acara bermalam di sekolah. Orangtua merasa khawatir sesuatu terjadi padanya sehingga membuatnya sedih, luka, sakit atau kecewa.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Banyak sekali hal yang sering membuat orangtua merasa khawatir, beberapa diantaranya adalah khawatir anaknya tidak lulus ujian, khawatir anaknya sulit mendapatkan pekerjaan, khawatir anaknya ada yang menyakiti, khawatir memikirkan masa depan anak, khawatir anak kekurangan uang jajan, khawatir anak tidak mempunyai teman bermain di sekolah dan bahkan ada juga orangtua yang selalu merasa khawatir bila cuaca di luar sedang hujan lebat, mereka khawatir anaknya kehujanan.
Kondisi di atas sangat berbeda jika dibandingkan dengan perasaan orangtua zaman dulu. Umumnya para orangtua zaman dulu merasa khawatir terhadap kelangsungan hidup anaknya. Apakah anak mereka mampu bertahan hidup atau tidak, bukan cemas karena takut anak tidak memiliki teman, khawatir anak kehujanan atau khwatir bila sudah besar nanti anaknya sulit mendapatkan pekerjaan.
Merasa khawatir pada sesuatu yang mungkin terjadi pada anak adalah wajar, tetapi jika perasaan khawatir tersebut tidak disertai dengan tindakan, tidak akan memberikan manfaat apapun. Khawatir saja tanda tindakan tidak dapat memecahkan persoalan. Oleh karena itu, cobalah untuk tidak merasa khawatir berlebihan kalau memang tidak perlu. Alihkanlah kekhawatiran tersebut dengan cara melakukan sesuatu yang bernilai positif (Janice Fixter, 2006).
Daripada perasaan khawatir tersebut terus menerus membuat resah orangtua, lebih baik lakukanlah sesuatu yang positif sebelum perasaan khawatir tersebut terjadi. Misalnya, jika orangtua khawatir anak kehujanan, bekalilah ia payung atau jas hujan, pesankan padanya untuk memakainya jika turun hujan. Apabila orangtua khawatir anak tidak lulus ujian, doronglah ia untuk lebih giat lagi belajar. Begitupun bila orangtua sering merasa khawatir anak tidak memiliki teman di sekolah, ajarkanlah ia tentang bagaimana berakhlak baik (berperilaku sesuai dengan nilai-nilai sosial). Dengan demikian, orangtua tidak perlu lagi merasa khawatir yang berlebihan, karena mereka telah memaksimalkan segala kemampuan untuk menghindarkan hal-hal yang mungkin membuatnya khawatir. Selanjutnya, berdo’a dan bersikaplah tawakal kepada-Nya dan percayalah bahwa Alloh SWT selalu memberikan yang terbaik kepada umat-Nya. (yer).

Des26
 Ilustrasi: www.123rf.com
Menanggapi pertanyaan bunda Ida mengenai topik kita yaitu ‘berkomunikasi dengan anak’, berikut saya sertakan beberapa tips dan tricks yang dapat orangtua lakukan agar anak remaja kita mau berbicara terbuka pada orangtua Bobbi (2011), di antaranya adalah:
- Berusahalah untuk dapat memahami sudut pandang anak, walaupun orangtua dan anak sering kali berbicara dengan sudut pandang yang berbeda.
- Dengarkanlah dengan penuh perhatian, tanpa meremehkan dan menghakimi, karena pada dasarnya remaja ingin didengar dan dipahami lebih dari segala-galanya.
- Berusahalah untuk selalu mengasah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan EAR, yaitu:
- Sttentiveness (perhatian)
- Ketika bertindak menjadi pendengar, hindarilah melakukan GABS, yaitu:
- Grabbing the glory (ingin lebih unggul)
- Belittling (menganggap remeh seseorang)
- Sidestepping (menghindar dari menjawab)
Jika anak tidak meminta nasihat, hindarkanlah untu menasihatinya. Pada umumnya orang yang sedang bermasalah tidak ingin orang lain memperbaiki masalahnya, ia hanya ingin seseorang menunjukkan kepedulian kepadanya.
Selain hal di atas, agar anak remaja mau berbicara terbuka, penting bagi orangtua untuk menyediakan waktu santai dan berkualitas kepada anak. Diantaranya adalah dengan cara orangtua mengurangi kesibukannya terutama dalam hal memenuhi kepentingan pribadinya di depan anak. Ketika anak sedang ada di rumah, sebaiknya orangtua tidak sibuk dengan telepon seluler atau BBM nya, tidak sibuk membaca majalah, sibuk nonton sinetron, sibuk arisan, sibuk janjian belanja ke mall, sibuk beres-beres lemari baju atau sibuk dengan internet dan facebook tanpa peduli dengan anak. Banyak orangtua secara fisik ada di rumah, tetapi sebenarnya secara batin ia tidak di rumah, begitu juga yang dirasakan oleh anak remaja.
Kesibukan orangtua yang terlihat oleh anak remaja seringkali membuatnya merasa enggan untuk berbicara kepada mereka. Ia akan berasumsi bahwa berbicara pada orangtua yang sedang sibuk hanya akan mengganggunya saja dan bahkan mungkin akan membuat orangtuanya menjadi marah. Oleh karena itu, berusahalah untuk tenang dan duduk di dekatnya. Mulailah dengan pembicaraan ringan seperti tentang musik kesenangannya atau tentang apa saja yang dapat membuatnya tertarik. Dengan demikian, jika suasana berkomunikasi seperti ini terus terjaga dengan baik, perlahan-lahan anak remaja akan terbuka pada orangtuanya. (yer)

|